• Tidak ada hasil yang ditemukan

5.6 Respon Masing-Masing Stakeholder Terhadap PKBM

5.6.1 Kelompok Tani Hutan Puspa Lestari

Kelompok Tani Hutan (KTH) Puspa Lestari merupakan suatu organisasi yang beranggotakan para petani di Dusun Gunung Putri. Jumlah total anggota KTH Puspa Lestari sebanyak 300 orang. Kelompok besar ini kemudian dibagi lagi kedalam 9 sub kelompok yang terdiri atas Sub Kelompok Rasamala, Cantigi, Walen, Sari Tani, Ki Hujan, Edelweiss, Malasari, Saninten, dan Jamuju. Sub kelompok merupakan kumpulan dari petani yang tinggal dalam satu Rukun Tetangga (RT). Hal ini untuk memudahkan komunikasi dan penyebaran informasi. KTH Puspa Lestari mempunyai struktur organisasi yang meliputi ketua umum, sekretaris, bendahara, seksi kegiatan, seksi humas, seksi rohani, dan perwakilan dari setiap sub kelompok.

Dalam pelaksanaan kegiatan KTH umumnya hanya diikuti oleh anggota aktif. Anggota aktif ini yang kini menjadi kader bagi anggota-anggota lainnya. Pengkaderan anggota KTH aktif dilakukan secara acak dan bersifat sukarela. Siapapun yang ingin ikut dan berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan KTH serta memiliki motivasi tinggi terhadap kelestarian hutan dapat bergabung dalam anggota aktif tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah arus penyebaran informasi dan dinilai lebih efisien. Kegiatan rutin yang dilakukan oleh anggota aktif KTH Puspa Lestari adalah pertemuan mingguan setiap hari Jum’at yang membahas segala hal yang berkaitan dengan kelompok itu sendiri. Pertemuan tersebut dijadikan sarana untuk menerapkan PKBM melalui pemberian materi mengenai konservasi dan desa model oleh Dinas PKT (Perhutanan dan Konservasi Tanah) dan ESP (Environmental Services Program). Pertemuan rutin ini bersifat informal dan menyerupai sekolah alam. Seringkali kegiatan tersebut diselingi dengan mendengarkan jejak pendapat atau curahan hati dari para petani, bahkan diadakan semacam arisan agar suasana akrab diantara petani dengan tim pemberi materi lebih terjaga. Diharapkan dengan metode pembelajaran seperti itu para petani dapat menerapkan dan mengadopsi seluruh materi dalam kehidupannya sehari-hari.

Kegiatan-kegiatan yang pernah dilakukan oleh KTH Puspa Lestari antara lain RHLP (Rehabilitasi Hutan dan Lahan Partisipatif), budidaya jamur dan tanaman hias, pembuatan kompos dan pupuk organik, pelatihan pemetaan, PRA (Participatory Rural

Tabel 11 Respon masyarakat terhadap Pengelolaan Konservasi Bersama Masyarakat

No Aspek Pernyataan Jawaban Jml %

1 Tindakan Kegiatan PKBM yang pernah diikuti

a. pelatihan budidaya tanaman hias b. pelatihan budidaya jamur

c. pelatihan pembuatan pupuk organik d. pelatihan pemandu wisata

e. pelatihan pemetaan f. teori dan praktek PRA g. RHLP 26 21 12 6 3 8 24 26 21 12 6 3 8 24

2 Sikap Adanya kegiatan PKBM dan RHLP a. setuju b. tidak setuju 25 5 83 17 Motivasi menanam

tanaman pohon di areal RHLP

a. kesadaran sendiri b. ajakan petugas TNGP

c. kesadaran sendiri dan ajakan petugas TNGP 10 7 13 33 23 44

Pemilihan jenis Puspa dan Rasamala sebagai tanaman RHLP a. setuju b. tidak setuju 28 2 93 7

3 Pengetahuan Mengetahui areal RHLP termasuk kedalam wilayah kerja a. TNGP b. Perhutani 28 2 93 7 Mengetahui tentang manfaat hutan

a. sumber air bersih b. pemasok udara bersih c. pencegah banjir dan erosi d. sumber kayu bakar e. lahan untuk bertani

21 8 7 6 8 42 16 14 12 16

Mengetahui akan manfaat PKBM

a. Menambah penghasilan

b. Memberikan kesempatan berperan aktif mengelola hutan

c. Menambah wawasan (aspek pengetahuan, sikap dan tindakan) d. Mempererat hubungan masyarakat

2 7 27 10 4 15 59 22

Tindakan nyata sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap PKBM adalah dengan berperan serta dalam kegiatan RHLP yang diikuti oleh sebagian besar anggota kelompok tani. Respon yang ditunjukkan sebagian besar masyarakat tersebut bersifat positif, karena hampir seluruh petani terdorong untuk ikut serta dalam pelaksanaan kegiatan PKBM. Pemberdayaan masyarakat sebagai pelaksana kegiatan di dalam kawasan akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian hutan sebagai bagian dari tanggung jawab masyarakat tersebut.

Respon negatif yang diberikan sebagian masyarakat (26%) yang tidak ikut kegiatan RHLP adalah bentuk penolakan dari penyerahan lahan garapannya kepada TNGP (Tabel 11). Golongan petani ini merasa sangat dirugikan dengan pengambilalihan lahan karena investasi yang telah ditanam untuk mengelola lahan tersebut relatif besar. Kerugian ekonomi yang begitu besar menyebabkan mereka berusaha mempertahankan lahannya untuk terus ditanami sayuran hingga Desember 2009.

Sikap positif masyarakat terhadap PKBM tercermin dari banyaknya anggota kelompok tani yang setuju dengan adanya kegiatan PKBM (83%). Sebagian besar petani (44%) termotivasi menanam di areal RHLP atas kesadaran pribadi dan adanya ajakan dari petugas. Meskipun demikian, tingkat kesadaran masyarakat akan kelestarian hutan masih rendah. Hal ini tercermin dari 33% petani yang memiliki kesadaran sendiri untuk menanam tanaman kehutanan di areal RHLP. Sikap penduduk pedesaan tersebut ditentukan oleh tingkat ketergantungan mereka terhadap hutan untuk pakan ternak, kayu bakar, bahan bangunan, dan hasil hutan lainnya (Mackinnon et al, 1990). Semakin tinggi tingkat ketergantungannya terhadap hutan, maka semakin besar pula keinginan untuk ikut melestarikan hutan.

Secara ekologis, jenis tanaman yang cocok ditanam di atas lahan RHLP adalah puspa dan rasamala. Sebanyak 93% petani setuju bahwa puspa dan rasamala adalah jenis asli yang sesuai untuk merehabilitasi lahan, dan 7% petani mengusulkan tanaman selain kedua jenis tersebut, yaitu kaliandra dan suren (Tabel 11). Petani yang mengusulkan jenis tersebut mempertimbangkan fungsi hutan secara ekonomis harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kaliandra dimanfaatkan untuk kayu bakar, sedangkan suren digunakan sebagai bahan baku bangunan. Pengetahuan masyarakat akan kawasan konservasi dan manfaat TNGP dalam kehidupan sangat besar. Sebanyak 93% responden

menyatakan bahwa areal RHLP termasuk kedalam wilayah kerja TNGP dan sebagian kecil (7%) menyatakan areal RHLP masih merupakan bagian dari wilayah Perhutani. Ketidaktahuan sebagian kecil masyarakat ini merupakan indikasi dari alur informasi yang belum menyeluruh mengenai perubahan fungsi kawasan dan atau penyangkalan masyarakat terhadap perubahan tata guna lahan yang akan dihutankan kembali. Adapun penyampaian informasi dan penyuluhan hanya terpusat kepada anggota kelompok tani yang aktif dan intensitas pertemuan petugas TNGP dengan masyarakat tidak bersifat rutin. Umumnya segala macam informasi yang akan diberikan kepada masyarakat disampaikan dahulu kepada ketua kelompok dan ketua sub-sub kelompok tani untuk diberitahukan lagi kepada anggota-anggota lainnya. Dengan cara demikian, efektifitas penyampaian informasi rendah. Penjelasan individu kepada individu lainnya menyebabkan beragamnya pemahaman yang diterima oleh masyarakat.

Masyarakat memahami akan manfaat hutan dalam kehidupannya. Sebagian besar masyarakat mengetahui manfaat hutan sebagai pemasok air. Manfaat lainnya yang diketahui oleh masyarakat adalah pemasok udara bersih, sumber kayu bakar, lahan bertani, pencegah banjir dan erosi. Pengetahuan ini muncul akibat tingginya interaksi masyarakat dengan kawasan hutan. Interaksi antara masyarakat dengan hutan telah berjalan sangat lama dan berlangsung secara terus menerus. Keberadaan hutan yang berbatasan langsung dengan penduduk menjadikan masyarakat terus bergantung pada sumberdaya alam yang berada di dalam kawasan hutan. Masih adanya sebagian kecil masyarakat yang mengetahui manfaat hutan sebagai lahan bertani dapat menjadi suatu ancaman bagi keberhasilan rehabilitasi hutan.

Menurut Mackinnon et al (1990) kawasan yang dilindungi dapat memberikan manfaat yang berharga bagi masyarakat di wilayah tersebut melalui penyediaan fasilitas pendidikan dan menciptakan kesempatan kerja (keuntungan ekonomis). Manfaat PKBM yang dirasakan langsung oleh sebagian besar petani di sekitar TNGP yaitu menambah wawasan (manfaat edukatif) yang mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat yang mengikuti kegiatan PKBM, sedangkan manfaat secara ekonomis (menambah penghasilan) hanya dirasakan oleh sebagian kecil dari responden (Tabel 11) . Manfaat ekonomis ini berupa penghasilan dari penjualan tanaman hias. Besarnya modal usaha yang dibutuhkan menyebabkan sedikitnya jumlah petani yang melakukan usaha

tersebut. Bila kondisi ini terus terjadi, maka kegiatan PKBM yang bertujuan untuk melestarikan hutan dengan upaya memberikan lapangan usaha baru untuk para petani akan terhambat, karena petani tetap memilih untuk bertani sayuran. Pemerintah akan menghadapi kemungkinan kerusakan hutan yang jauh lebih besar di masa depan. Resiko tersebut bisa dihindari apabila pemerintah / pengelola TNGP bersedia meminjamkan modal usaha bagi para petani.

Dokumen terkait