• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keluarga dalam Naskah Ibu di dalam Rumahnya

Membaca naskah ini membuat penulis merasa sedang membaca wejangan-wejangan dari dokter sekaligus ulama. Ilmu pengetahuan masih minim pada tahun penentuan “Kebangkitan Nasional—Mei 1908” itu, namun tidak disangka apa yang ditulis dalam naskah benar-benar relevan dan terjadi apabila mengalaminya sendiri sebagai seorang ibu. Padahal, pengarang naskah merupakan seorang laki-laki yang tidak mengalami sendiri peristiwa menakjubkan seperti hamil, melahirkan, menyusui, serta menjalani golden age phase pada anak. Berikut ringkasan isi transliterasi naskah IDR dalam bahasa Indonesia yang lebih sederhana.

Bab ke-0, yakni Pendahuluan. Bab ini merupakan

tambahan dari penulis karena bab pertama sudah masuk ke materi. Bab Pendahuluan ini berisi judul naskah, ringkasan isi dalam satu kalimat, kolofon, dan doa.

Bab ke-1, yakni Memelihara Kanak-kanak. Bab ini berisi

preambul (mukadimah):

a. Memelihara kesehatan fisik (badan) anak-anak adalah dengan melakukan perbuatan yang benar dan sehat sejak dalam kandungan agar ketika dewasa, sehat dan kuatlah tubuh anak tersebut.

b. Memelihara kesehatan mental (akal) anak-anak adalah dengan membiasakan anak-anak berperilaku yang terpuji dan elok agar dapat menerima segala pelajaran.

Kedua hal tersebut dimulai dari Ibu.

Bab ke-2, yakni Memelihara Kanak-kanak ketika Mengandung. Bab ini berisi tentang Kesehatan fisik dan

mental bayi dalam kandungan bergantung pada kesehatan fisik dan mental sang ibu hamil, sebagaimana kata Hakim Buqrath “Bahwa hidup kanak-kanak pada kegiatan ia di dalam perut ibunya itu bergantung dengan hidup ibunya”.

Bab ke-3, yakni Makanan Orang yang Mengandung.

Bab ini berisi agar Ibu hamil seyogianya meminum air yang sejuk (bukan dingin dan bukan panas) memakan buah-buahan yang masak maupun dimasak, serta kuah daging kambing muda agar tidak mudah sakit kepala, sesak napas, dan insomnia. Ibu hamil juga seyogianya menjauhi makanan yang sulit hancur di dalam perut dan makanan panas/pedas (lada), makanan yang mengandung terlalu banyak lemak, makanan yang terlalu masam, serta minuman yang keras (kopi dan teh). Jika ibu hamil merasa demam, hendaknya ia minum susu hangat dan menggunakan selimut.

Bab ke-4, yakni Pakaian Orang yang Mengandung. Bab

ini berisi tentang pakaian ibu hamil hendaknya yang besar dan tidak ketat terutama pada bagian dada dan perut agar tidak sesak napas dan menghambat peredaran darah. Ibu hamil juga hendaknya menggunakan kaus kaki apabila merasa dingin pada musim hujan atau angin sedang kencang. Adapun peredaran darah yang terhambat ditandai dengan terasa dingin pada kedua kaki dan kepala pusing dan panas. Apabila

ini terjadi, utamanya pada bulan-bulan akhir kandungan, hendaknya ibu hamil melakukan pekerjaan ringan.

Bab ke-5, yakni Bersih Orang yang Mengandung.

Bab ini berisi tentang Ibu hamil wajib untuk mandi agar badan tetap bersih dan terbebas dari kuman. Hendaknya mandi dengan air hangat suam kuku. Kuantitas mandi boleh diperbanyak saat bulan pertama dan bulan terakhir. Namun, durasi mandi dengan air hangat tidak boleh lama-lama sebab dapat mengakibatkan keguguran.

Bab ke-6, yakni Membiasakan Tubuh Orang yang Mengandung. Bab ini berisi dua bagian, yaitu: 1) Hal yang

sebaiknya dilakukan ibu hamil: melakukan pekerjaan rumah yang ringan dan bersenang-senang (dalam arti mencari hiburan setelah lelah bekerja). 2) Hal yang sebaiknya tidak dilakukan ibu hamil: naik kendaraan yang rentan guncangan (seperti kereta, motor), melakukan pekerjaan berat, tertawa terbahak-bahak, dan bernyanyi dengan suara tinggi.

Bab ke-7, yakni Tempat Kediaman yang Mengandung.

Bab ini berisi agar Ibu hamil hendaknya tidak berdiam di rumah yang sempit dan panas karena yang seperti itu mengandung hawa jahat dan dapat mengakibatkan keguguran. Ibu hamil juga hendaknya dijauhkan dengan lopak-lopak (tempat pembuangan tembakau) dan paya-paya (tempat pembuangan bekas makan sirih merah). Ibu hamil juga hendaknya tidur di kasur yang nyaman, dan terdapat sirkulasi udara serta terkena sinar matahari.

Bab ke-8, yakni Tidur yang Mengandung. Bab ini berisi

tentang Ibu hamil cenderung malas dan suka tidur, namun hal ini mesti dihindari. Cukuplah ibu hamil tidur selama delapan jam pada malam hari. Jika memang terasa sangat mengantuk, diperkenankan tidur sebentar pada siang hari, namun setelah jam 12 atau selepas sembahyang zuhur.

Bab ke-9, yakni Bersenang-senang Orang yang Mengandung. Bab ini berisi agar Ibu hamil hendaknya

menjauhi perasaan seperti marah, takut, terperanjat, cemburu, dan sedih. Ibu hamil hendaknya merasa senang, lapang hati, melihat yang elok-elok dan rupa yang indah-indah agar anaknya memiliki rupa yang indah dan elok perangainya.

Bab ke-10, yakni Setengah daripada Penyakit yang mengenai akan yang Mengandung. Bab ini berisi tentang

ibu hamil biasanya akan sensitif terhadap rasa dan bau. Juga kadang-kadang tiba-tiba muncul sesuatu yang diidamkan. Oleh karena itu, beberapa ibu hamil mengalami mual-mual dan muntah. Untuk menghilangkannya, ibu hamil boleh memakan apa pun keinginannya selama tiada memberi mudharat akan kesehatannya. Jika mual dan muntahnya cukup parah, ibu hamil dapat meminum air jeruk limau/nipis, air es, atau air zamzam.

Bab ke-11, Beberapa Penyakit yang Memberi Bekas kepada yang Mengandung. Bab ini berisi tentang Penyakit

yang dapat memberi bekas kepada bayi dalam kandungan lantaran ibu hamil, antara lain terpukul pada bagian perut atau jatuh duduk yang dapat mengakibatkan kecederaan bahkan kematian. Apabila ibu hamil mengidamkan kopi, daging merah, atau “jeroan”, ini hendaknya tidak diturutkan karena dapat mengakibatkan kebas (kram) perut.

Bab ke-12, yakni Anak yang Baharu Diperanakkan. Bab

ini berisi peristiwa persalinan. Setelah ibu hamil melahirkan dan bayinya keluar, hendaklah diputuskan tali pusatnya sepanjang dua inci. Lalu bayi pun dibersihkan dan dioleskan minyak zaitun ke tubuhnya. Cara lain adalah mencampurkan putih telur dan air dengan suhu 28o lalu diusapkan ke tubuh bayi. Alternatif lain, tubuh bayi dicelupkan ke dalam bejana yang berisi air panas hingga sedada, dan dibersihkan lemak dan darah di kepala bayi (kecuali muka) oleh bidan dengan tangan satunya. Kemudian, hendaknya menyusui bayi tidak sesegera mungkin dan tidak selambat mungkin. Susui setiap satu jam sekali. Setelah 24 jam, plasenta (ari-ari) akan keluar.

Bab ke-13, yakni Makanan Kanak-kanak. Bab ini berisi

tentang makanan bayi yang sudah diatur oleh Tuhan, yaitu susu yang keluar dari payudara (dalam naskah: tetek) ibunya. Adapun menyusu itu ada lima jenis: 1) menyusu ASI “Air Susu Ibu” 2) menyusu ASI + campuran 3) menyusu oleh ibu susu 4) menyusu susu binatang 5) menyusu susu yang diperbuat.

Bab ke-14, yakni Wajib Ibu Menyusukan Anaknya. Bab

ini berisi bahwa ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi dan menjadi perintah Allah agar setiap ibu menyusui anaknya. Jika seorang Ibu malas menyusui anaknya, ia patut dicerca dan dihukum Allah dengan penyakit seperti demam dan puting mengeras. Ibu hamil juga hendaknya berdiam diri di rumah selama masa nifasnya sekurang-kurangnya enam minggu. Makanan yang baik bagi ibu menyusui adalah roti, kentang, susu, telur, kacang, buah-buahan, daging ayam, daging merpati, daging kambing muda. Minuman yang baik bagi ibu menyusui adalah air sejuk, air gula, susu, cokelat, kopi susu, teh susu. Makanan yang sebaiknya dihindari ibu menyusui adalah lada, bawang, jeruk, acar, mentimun, lobak, lemak, keju. Minuman yang sebaiknya dihindari ibu menyusui adalah air soda, minuman kemasan.

Jika bayi enggan menyusu, kemungkinan ada yang menghambat di puting payudara ibu. Ibu dapat memijat atau menggosoknya perlahan dengan air hangat. Menyusui haruslah pada waktu tertentu, tidak lebih dan tidak kurang. Kisarannya adalah 6 sampai 8 kali dalam 24 jam. Jangan menyusui setiap kali anak menangis (kebanyakan ibu yang belum tahu langsung menyusui anak apabila anak menangis, padahal belum tentu anak itu menangis karena haus/lapar). Patutlah di cek apakah bayi menangis karena tidak nyaman dengan pakaian, tempat tidur, udara di ruangan, atau perutnya sakit. Larangan bagi ibu menyusui: jangan terlalu banyak duduk, jangan bekerja terlalu berat, jangan menyusui ketika hati marah/susah. Ketika anak menangis pada malam hari,

janganlah ibu mendatangi dan memberinya susu. Perhatikan hal lain yang mungkin mengganggu bayi. Jika bayi menangis karena haus, berikan air putih masak atau air tajin dengan sedikit garam.

Bab ke-15, yakni Rupa Menyusukan. Bab ini berisi cara

menyusui bayi yang benar adalah dengan memangku anak dengan lengan dan mengawasi agar payudara tidak menutup hidung bayi. Jika bayi sudah terlelap, baiknya dilepaskan payudaranya dan jangan dibiarkan untuk menyusu sambil tidur karena dapat mengakibatkan muntah (gumoh). Beberapa ibu yang jahil memberi makanan pada bayi yang baru lahir, namun ini sangatlah salah karena bayi hanya baru bisa mencerna susu dan segala yang cair-cair.

Bab ke-16, yakni Ibu Tetek. Bab ini berisi tentang seorang

ibu yang jika susunya tidak keluar atau tidak dapat menyusui karena sakit, hendaknya dicarikan ibu susu pengganti bagi bayi. Dalam mencari ibu susu, janganlah langsung menyerahkannya kepada bidan, tetapi harus mengajak tabib untuk mengecek kesehatan calon ibu susu tersebut, karena kesehatan ibu susu akan memengaruhi kesehatan bayi. Bahkan disebutkan perbandingan kalau di Eropa, calon ibu susu harus memperoleh surat kesehatan dari Kemenkes.

Bab ke-17, yakni Beberapa Penjagaan Bagi Memilih Seorang Ibu Susu. Bab ini berisi tentang kriteria yang dapat

menjadi ibu susu (selain sehat yang disebutkan di atas):

• Berumur 20—30 tahun, tidak boleh kurang, tidak boleh lebih.

• Proporsi badan ideal, tidak kurus dan tidak gemuk. Apabila kurus, dikatakan sedikit susunya, apabila gemuk, malas dan lembek payudaranya.

• Payudaranya bulat, putingnya menonjol, dan kulit payudaranya bersih tidak ada luka atau bekas luka.

• Wajahnya jernih • Bibirnya kemerahan.

• Matanya bersih. • Giginya putih.

• Tubuhnya tegap dan sejahtera. • Bebas dari penyakit dada, hati, kulit.

Hal lain yang patut diperhatikan dalam memilih ibu susu, yakni riwayat penyakit ibu susu, bahkan kalau perlu dicek terlebih dahulu susu yang akan diberikan kepada bayi. Ciri-ciri susu yang bagus untuk bayi yaitu: alirannya deras, warnanya putih, rasanya manis, tidak berbau, tidak keruh, dan kental. Sedangkan kriteria lain (dari segi agama) adalah: elok tingkah lakunya, mempunyai adab dan malu, rajin, dan lemah lembut. Orang tua asli bayi pun harus memperhatikan kesejahteraan ibu susu bagi anaknya, seperti kenyamanan dan kebersihan tempat tidur, serta kesenangan hati ibu susu. Makanan ibu susu pun harus diperhatikan, jangan terlalu banyak memberi makan daging karena menajamkan rasa dan membusukkan bau susu. Juga jangan terlalu banyak memberi makan buah-buahan karena dapat menyebabkan sering buang air.

Bab ke-18, yakni Menyusu Susu Binatang. Bab ini berisi

tentang apabila ibu si bayi sakit dan tidak dapat menyusui, dan sulit mencari ibu susu yang sesuai bagi bayi, susu binatang menjadi alternatif lain agar bayi tidak kelaparan. Susu binatang yang baik adalah susu keledai, susu sapi, dan susu kambing betina. Adapun syarat hewan yang susunya boleh diberikan ke bayi yaitu: baru melahirkan, tidak tua, warnanya putih, dan segera setelah di perah langsung diberikan ke bayi.

Bab ke-19, yakni Balang Susu. Bab ini berisi tentang cara

memberikan susu binatang kepada bayi, gunakan balang susu (semacam botol dan dot bayi). Campurkan air hangat dengan susu. Takarannya sebagai berikut:

• Untuk bayi baru lahir 2:1 air dan susu. • Untuk bayi 2—3 bulan 1:1 air dan susu. • Untuk bayi 4 bulan: 1:2 air dan susu. • Untuk bayi 5—6 bulan: 0:2 air dan susu.

Setelah 6 bulan, boleh diberi makanan, seperti roti yang dicampur air dan susu, atau kuah sup. Adapun kesalahan lain yang suka dilakukan ibu kepada anaknya adalah dengan mengunyahkan terlebih dahulu makanan yang keras lalu diberikan kepada bayi. Hal ini salah dan dapat menimbulkan kemudaratan bagi kesehatan bayi. Seharusnya dihancurkan dahulu makanan tersebut dengan tulang, kayu, atau tanduk (alat yang keras) baru disuapkan ke bayi.

Bab ke-20, yakni Mencungkil Ketumbuh Kanak-kanak. Bab ini berisi tentang suntikan vaksin. Sejak dahulu,

ternyata sudah dikenal suntikan vaksin bagi bayi. “Mencungkil ketumbuh” berarti ‘menyuntikkan vaksin kepada bayi’. Hal ini dikatakan akan memeliharakan kesehatan bayi dari penyakit jahat. Biasanya, setelah dicungkil, bayi akan mengalami demam. Ibu seyogianya tidak menyelimuti anak. Ibu harus menjaga kebersihan dirinya. Ibu juga boleh memberikan air garam atau param di tempat bekas luka suntikan tersebut.

Bab ke-21, Berganti Gigi. Bab ini berisi tentang gigi

pertama bayi. Pada umumnya, gigi pertama bayi akan muncul pada usia tujuh atau delapan bulan. Namun, dapat juga lebih cepat atau lebih lambat karena setiap bayi berbeda. Pada masa tumbuh gigi ini, bayi biasanya akan mengalami demam. Ibu tidak perlu panik, tetapi harus mencari ikhtiar agar demam cepat turun. Caranya adalah dengan tidak menutup kepala bayi, tidak menyelimutinya, ajak agar bayi terkena angin (sejuk), serta menjaga kebersihan diri dan memperhatikan asupan bagi bayi.

Bab ke-22, yakni Tanda-tanda Berganti Gigi. Bab ini

berisi tentang tanda-tanda bayi akan tumbuh gigi, antara lain mudah resah, mudah marah, mudah menangis, dan banyak mengeluarkan air liur. Pipi kemerahan dan badan sedikit panas. Ia juga cenderung banyak memasukkan benda ke dalam mulutnya. Oleh karena itu, bolehlah ibu memberikannya jari

sang ibu yang sudah bersih atau kain perca putih yang diberi air dan madu untuk digigit/digosokkan ke gusinya.3

Bab ke-23, yakni Bercerai Susu. Bab ini berisi tentang

penyapihan. Hendaknya seorang ibu menyusui anaknya selama dua tahun. Apabila ibu telah dua tahun menyusui anaknya, ibu harus menceraikan anak dengan payudara ibu tersebut secara halus dan perlahan-lahan. Jangan disudahi ketika anak tersebut sakit. Agar anak itu lupa untuk menyusu, anak itu dapat diajak pergi jalan-jalan atau diberi makanan karena susu sudah tidak wajib lagi, melainkan makananlah yang utama.

Bab ke-24, yakni Kanak-kanak yang dalam dua tahun Umurnya Makanannya. Bab ini berisi tentang makanan

yang dapat diberikan kepada anak setelah ia bercerai susu (disapih), yakni makanan yang berkuah, daging tanpa lemak yang dipotong kecil-kecil, buah-buahan, dan makanan yang sedikit pedas. Waktu untuk memberikan makanan adalah pagi setelah mandi, hampir waktu zuhur, dan hampir waktu magrib. Di sela-sela itu apabila anak merasa lapar, boleh diberikan camilan seperti buah atau roti kukus. Minuman yang diperbolehkan bagi anak ialah air sejuk. Kopi dan teh tidak diperbolehkan, kecuali sudah dicampur dengan susu (hanya 1:6 takaran kopi/teh dan susu).

Bab ke-25, yakni Mandi dan Mencucikan Kanak-kanak.

Bab ini berisi agar Seorang ibu hendaknya memandikan anaknya setiap hari dengan air hangat (suam-suam kuku) dengan cara menggosokkannya dengan kain yang lembut ke tubuhnya dan bagian-bagian lipatan. Durasi mandi sebaiknya 10—15 menit. Hendaknya dibersihkan pula rambut anak-anak itu dengan air hangat, sabu, dan merah telur pada sore hari sebelum tidur. Juga dibersihkan bagian mata dari tahi mata dengan air hangat menggunakan kain perca.

3 Pada zaman sekarang, nama benda ini disebut teether. Teether terbuat dari silikon dan kadang-kadang ada yang berisi air di dalamnya.

Bab ke-26, yakni Segala Pakaian yang Bersetuju Bagi Kanak-kanak. Bab ini berisi tentang pakaian. Pakaian yang

baik untuk anak-anak ialah pakaian yang berbahan dasar katun dan tidak berlengan. Pakaian yang tebal saat musim dingin, dan tipis saat musim panas. Seyogianya juga dipakaikan celemek sebagai penadah air liur agar pakaian anak tidak basah dan menyebabkan sakit, serta tidak indah dan harum juga penampakannya.

Bab ke-27, yakni Tidur dan Tempat Tidur dan Tempat Kanak-kanak. Bab ini berisi tentang bayi yang baru lahir

mestilah banyak tidur karena itu akan menyuburkan badannya dan menyehatkan tubuhnya. Setelah berumur dua tahun lebih, anak-anak biasanya tidur siang sebelum zuhur. Tempat tidur anak haruslah dijauhkan dari segala yang bising, suara keras seperti benda jatuh atau apa pun yang dapat membuat anak terperanjat ketika tidur karena hal tersebut dapat mengakibatkan ia merasa trauma dan gagap atau hidup penuh dengan rasa was-was.

Adapun tempat tidur anak-anak memiliki 3 jenis, yakni buai, kereta, dan ranjang. Buai4 tidak direkomendasikan untuk digunakan karena gerakan buai memberi bekas kepada otak dan tulang anak-anak, dan gerakannnya pula tidak membuat anak menjadi tidur. Kereta merupakan yang paling banyak digunakan oleh orang-orang sebagai tempat tidur anak-anak pada siang maupun malam hari. Ranjang terbuat dari kayu dan cukup tinggi. Keadaan ranjang harus selalu bersih, kering, dan tidak berbau, oleh sebab itu ranjang harus dijemur setiap pagi.

Bab ke-28, yakni Bagaimana Menidurkan Kanak-kanak.

Bab ini berisi bahwa anak-anak yang sedang tidur tidak boleh dikejutkan, digerakkan badannya, atau dibangunkan dengan sengaja. Biarkan anak tidur pada waktu yang dia inginkan

4 Kemungkinan pada zaman sekarang buai disebut bouncer karena berdasarkan penjelasan dalam naskah, buai adalah tempat tidur yang bergoyang.

dan hingga waktu yang dia inginkan juga. Memaksa anak untuk tidur atau bangun dapat berakibat pada sifat anak yang menjadi pemarah dan penyedih. Apabila ini terjadi, biasanya ibu akan kehilangan kesabaran dan justru akan memarahi atau meneriakkan anak tersebut. Namun, itu bukanlah hal yang baik. Sebagaimana kutipan dalam naskah berikut:

“Maka terkadang ibu itu tiada dapat sabar oleh pekik anaknya maka dipukulnya atau memekik ia pada muka anaknya ... padahal semakin jadi menangis dan menjerit. Inilah setengah daripada jahil dan bodoh itu. Maka hendaklah dijauhkan daripada yang demikian itu.”

Juga jangan sesekali memberi anak sesuatu yang dapat membuatnya tidur karena hal ini dapat merusak organ tubuh anak. “Obat” yang tepat untuk menidurkan anak pada malam hari ialah memandikannya dengan air hangat. Hal ini akan membuat anak merasa nyaman dan hilang penyakit angin atau sawan. Anak sebaiknya jangan dibiasakan tidur larut malam sebab hal tersebut dapat melemahkan badannya dan membuat wajahnya terlihat pucat.

Bab ke-29, yakni Bilik Tidur Kanak-kanak. Bab ini berisi

agar kasur anak hendaknya cukup tinggi dari lantai agar dapat angin dan panas matahari masuk ke dalamnya. Celah ini juga dapat digunakan sebagai tempat kain basah atau sebagainya (mungkin ketika anak sakit, celah ini dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan wadah kompresan, agar airnya tidak tumpah dan membasahi kasur apabila ditaruh di dekat bantal anak). Jangan pula ditaruh buah atau bunga di kamar anak. Dinding anak sebaiknya berwarna putih atau biru muda. Kamar anak sebaiknya jauh dari jalan raya. Lokasi kasur hendaknya jangan di dekat dinding atau pintu.Di dekat kasur juga jangan ditaruh benda-benda yang berkilat-kilat rupanya atau dapat berbunyi nyaring, seperti jam beker lucu. Hal ini karena dapat membuat anak tertuju pada benda tersebut dan tidak tidur atau terkejut dengan bunyinya.

Bab ke-30, yakni Membiasakan Kanak-kanak dengan bawakan dia ke luar pada angin yang baik. Bab ini berisi

agar ibu seyogianya mengajak anak keluar untuk jalan-jalan dengan menaruhnya pada kereta dorong atau kendaraan. Karena hal ini baik bagi kesehatannya dan apabila hanya di rumah saja akan membuat anak memiliki perasaan malas dan lemah. Sebaiknya membawa keluar anak pada waktu yang baik (cuacanya) dan sedikit-sedikit waktu keluarnya semakin lama. Jangan membawa anak ke tempat yang sempit, ramai, basah, atau bau, seperti tempat perdagangan atau perkotaan yang sibuk, namun hendaknya dibawa ke tempat yang banyak pohon, tanaman, seperti di perdesaan karena hal ini dapat menajamkan penglihatan anak serta menyehatkan fisik dan mentalnya.

Bab ke-31, yakni Tangis Kanak-kanak. Bab ini berisi

bahwa sesungguhnya tangisan anak-anak itu sedang mengetes paru-paru dan menguatkan lambung dan usus. Jadi, ibu tidak perlu cemas pada tangisan anak. Namun, hal yang harus ibu lakukan adalah memperhatikan hal yang salah pada anak, apakah lapar, terlalu dingin, basah, kotor, sakit,