• Tidak ada hasil yang ditemukan

(dua) Pasal dengan Adat dan Agama

Krisis Air dan Fenomena Global

Kontekstualisasi 2 (dua) Pasal dengan Adat dan Agama

Dua pasal yang dimaksud adalah salah kepada bumi (tanah) dan salah kepada air. Dua isu ini menjadi isu sentral tidak hanya untuk masyarakat Krui di masa lalu, Tetapi isu itu masih aktual, karena isu itu menyangkut kebutuhan dasar setiap individu. Masyarakat Lampung mempunyai 5 (lima) falsafah hidup. Pi’il senggiri, Sakai sembayan, nemui nyimah, Nengah nyappur dan bejuluk beadek, 2 (dua) dari yang lima itu yaitu pi’il senggiri dan Sakai sembayan ada relevansinya dengan dua pasal di atas (salah kepada bumi dan air). Pi’il senggiri adalah prinsip yang mengedepankan harga diri dalam berperilaku untuk menegakkan nama baik dan martabat pribadi maupun kelompoknya Sakai sembayan adalah prinsip hidup yang mengedepankan gotong royong, tolong menolong, bahu membahu dan saling memberi.

Falsafah pi’il senggiri dan Sakai sembayan adalah hasil cipta karsa dan olah rasa masyarakat Lampung melalui proses pembiasaan yang berulang-ulang hingga diyakini sebagai nilai-nilai luhur (kebudayaan) dan diyakini sebagai doktrin kebenaran. Keyakinan dan kebenaran adalah merupakan kekuatan agama yang bersifat universal, dengan keyakinan

bahwa pi’il senggiri dan Sakai sembayan adalah sebuah kebenaran maka ia dijadikan falsafah hidup oeh masyarakat Lampung. Di sinilah teori sosiologi agama Thomas F. Odea menemukan relevansinya (agama sebagai sentral kebudayaan).

Kerja sama antara pemilik lahan dan penggarap dengan pola bagi hasil adalah merupakan sifat terpuji yang sangat dianjurkan Allah dan ini selaras dengan filosofi orang Lampung, yaitu Sakai sembayan yang mengedepankan budaya gotong royong, saling bahu membahu dan saling memberi. Pengkhianatan terhadap akad transaksi yang dilakukan oleh salah satu mereka yang bertransaksi yaitu pemilik lahan dan penggarap, hanya akan menjatuhkan harga diri (pi’il senggiri). Perbuatan tersebut dalam agama termasuk dalam kategori perbuatan tercela. Pengkhianatan terhadap perjanjian itu (akad kerja sama) dipicu oleh sikap tamak (rakus).

Dalam konteks pemakaian air untuk kepentingan irigasi pertanian. Krui merupakan daerah pesisir, ketersediaan air tawar mungkin terbatas maka sikap saling tolong menolong sesama petani dalam pembagian air (Sakai sembayan), tradisi yang harus ditumbuhkan. Mengapa harus ada aturan? Kejahatan ada di dunia ini seiring dengan adanya manusia. Keinginan melakukan kejahatan inheren dalam diri setiap individu. Karena manusia memiliki nafsu dalam konteks manuskrip ini “tamak”. Sifat tamak ini dapat menjerumuskan manusia melakukan pelanggaran baik terhadap bumi (tanah) maupun terhadap air (salah kepada bumi dan salah kepada air).

Penutup

Manuskrip merupakan warisan leluhur, tidak sedikit di dalamnya terdapat ajaran leluhur yang mempunuai nilai luhur. Sangat disayangkan jika kita sebagai pewaris tidak bisa mengambil manfaat dari warisan tersebut.

Lampung termasuk wilayah yang kaya akan manuskrip, namun sayang informasi tentang manuskrip Lampung sangat minim. Hal itu disebabkan oleh: (1) Pemilik manuskrip yang masih memandang manuskrip sebagai benda keramat. Sehingga ia tidak mau membukanya untuk orang lain; (2. Sedikitnya orang yang bisa membaca manuskrip Lampung yang ditulis menggunakan aksara Ka-ga-nga.

Kajian terhadap manuskrip “Oendang-Oendang Adat Krui” bagian dari upaya mempublikasikan manuskrip Lampung yang secara substantif punya basik lokal yang sangat kental dan tema yang diangkat juga masih tetap aktual. Manuskrip ini ditulis oleh seorang petani pisang di daerah Batu berak, salah satu wilayah di Lampung Barat. Lampung hingga saat ini termasuk daerah perodusen pisang. Disamping itu dia juga sebagai seorang Muslim yang taat dan seorang guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak.

Isu yang diangkat dalam manuskrip ini yang dikaji baru dua pasal dari 41 pasal yang ada di dalam manuskrip ini. Dua pasal tersebut pasal salah kepada bumi dan pasal salah kepada air. Dua pasal ini menggambarkan kehidupan masyarakat Krui yang bergerak di bidang pertanian. Hal tersebut peneliti simpulkan setelah melihat beberapa pasal, seperti yang telah dijelaskan dalam pembahasan. Dua isu ini masih aktual hingga saat ini. Karena dua hal ini merupakan kebutuhan mendasar setiap individu.

Manuskrip ini mencerminkan prilaku masyarakat Lampung yang menjunjung nilai nilai luhur yang dirangkum dalam 5 falsafah hidup orang Lampung. Lima prinsip hidup yang menjadi falsafah hidup kedua masyarakat adat tersebut, yaitu pi’il senggiri, Sakai sembayan, nemui nyimah, Nengah nyappur dan bejuluk beadek (Danardana, 2008: 19-18).

Pi’il senggiri adalah prinsip yang mengedepankan harga diri dalam berperilaku untuk menegakkan nama baik dan martabat pribadi maupun kelompoknya. Sakai sembayan

adalah prinsip hidup yang mengedepankan gotong royong, tolong menolong, bahu membahu dan saling memberi. Nemui nyimah adalah prinsip hidup yang mengedepankan kemurahan hati dan ramah tamah terhadap semua pihak yang berhubungan dengan mereka. Nengah nyappur adalah prinsip hidup yang mengedepankan keterbukaan dan bejuluk beadek adalah pemberian gelar kepada masyarakat Lampung yang didasarkan pada tata ketentuan pokok yang selalu diikuti (Titei Gemattei).

Ketentuan tersebut menghendaki agar seseorang di samping mempunyai nama yang diberikan orang tuanya, juga diberi gelar oleh orang dalam kelompoknya sebagai panggilan terhadapnya. Bagi orang yang belum berkeluarga diberi juluk (bejuluk) dan setelah ia menikah akan diberi adek (beadek). Nilai-nilai Islam yang terkandung di dua pasal yang dikaji adalah: konsisten dengan perjanjian, bekerjasama dalam kebaikan, dan larangan bersifat tamak (rakus).

Daftar Pustaka

Asy- Syurbasi, Ahmad. (2008). Sejarah dan Biografi Empat Imam Madzhab. (terj). Amzah: Jakarta.

Abu Amar, Imron. (1983). Fathul Qarib (terj). Kudus: Menara Kudus.

Agama, Departemen. (2006). Al-Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Dirjen Bimas Islam.

Agama, Kementerian. (2011). Air dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains. Jakarta: LPMQ Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Anwar, Marzani, (2008). Peran Lembaga Adat dalam Pelestarian Nilai-Nilai Keagamaan. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta.

Danardana, Agung Sri., (2008). Persebaran Bahasa-Bahasa di Provinsi Lampung. Lampung: Kantor Bahasa Provinsi Lampung.

Djazuli, A., (2000). Fiqih Jinayah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

F. Odea, Thomas., (1996). Sosiologi Agama Suatu Pengenalan Awal. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Habib, Hislat dkk. (2019). Alih Aksara Undang-Undang Krui. Lampung.

Hisyam, M. (2012). Sejarah Kesultanan Paksi Pak Skala Brak. Jakarta: Puslibang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI

Iswanto, Agus. (2017). Nilai-Nilai Keagamaan dan Kerukunan dalam Tradisi Warahan di Lampung. Jakarta: Balai Litbang Agama Jakarta.

Misliani, Lisa. (2012). “Suntingan Teks dan Gejala Bahasa Melayu Pada Manuskrip Beraksara Lampung NLP97N69”. Dalam, Tesis. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Lampung.

Pujiastuti, Titik. (1996). Aksara dan Manuskrip Lampung dalam Pandangan Masyarakat Lampung Kini. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rosadi. Muhamad. (2009). ”Manuskrip Keagamaan pada Masyarakat Lampung: Sebuah Inventarisasi Awal”. Jakarta: PENAMAS, Vol. XXII, No. 3 Tahun 2009

Subandi, Agit Yogi. (2019). Larangan-Larangan Masyarakat Krui di dalam Masyarakat Krui dalam Manuskrip Undang-Undang Adat Krui Ditinjau dari Perspektif Hukum. Lampung.

Naskah Ajaran Timbangan: Fungsikan