• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Mencipta Kampung Halaman di Kota

4. Keluarga sebagai Home

Gagasan tenta melainkan erat deng semacam ini, selain mengatur lingkungan sosial yang terjadi di kini, hubungan sosi biasanya dekat deng keluarga sering dipad Kiri ke kanan, atas ke bawa jenis makanan untuk tamu 4. Menyambut si peneliti d milik Mbah Gino di Sidomu

ai Home

tang kampung halaman tidak selalu terikat den ngan hadirnya perasaan kerasan (feeling-at-h

ain dipengaruhi oleh sebuah pengalaman an fisik tempat tinggal, juga terutama oleh ku di dalam lingkungan tersebut. Dalam kebudaya osial yang berkualitas dan memberikan pe ngan gagasan tentang keluarga. Kadang ka adankan sebagai satu-satunya pengalaman hom awah. 1. Sangkar-sangkar burung kicauan di dalam ruma amu di hari lebaran, 3. Kamar tidur dengan kotak-kotak p liti di muka rumah (lahan sewa), 5. Perabotan dan perleng omulyo. Dokumentasi: Hagung Hendrawan, 2009

engan daerah asal,

home). Perasaan mengubah dan kualitas hubungan yaan di kota masa perasaan kerasan kala, pengalaman e itu sendiri. umah, 2. Berbagai ak penyimpanan, rlengkapan dapur

Di Sidomulyo, para mantan gelandangan dan pengemis Karangrejo hampir semuanya telah berkeluarga. Anak-anak mereka (juga para menantu) kadang berbagi rumah dengan orang tua. Ada juga yang lalu menyewa dan membeli lahan untuk didirikan rumah tinggal bagi keluarganya. Para mantan gelandangan dan pengemis di Sidomulyo merawat dan membesarkan anak-anak mereka, bekerja untuknya dan berbagi makanan kepada mereka, menyekolahkan anak-anaknya paling tidak sampai sekolah dasar. Orang-orang ini telah bersusah payah membeli atau menyewa lahan untuk kemudian didirikan rumah untuk ditinggali bersama anak istri dan suami-suami mereka. Kurang lebih demikianlah gambaran umum keluarga-keluarga mantan gelandangan dan pengemis di Sidomulyo, tinggal dalam satu atap rumah bersama-sama dengan anggota keluarga.

Keluarga inti diyakini sebagai komunitas yang paling dekat dan akrab, di mana sesama anggota dibayangkan akan selalu saling menjaga, dan membela dari orang-orang luar yang mengganggu. Ungkapan seperti “sebuas-buasnya Harimau, ia tidak akan memangsa anaknya sendiri” menggambarkan sebuah imajinasi dan keyakinan akan tingginya kualitas hubungan-hubungan antar individu di dalam komunitas keluarga. Sebuah kualitas hubungan sosial di mana individu-individu dapat merasa aman, dilindungi, dipercaya, dan jauh dari usaha penolakan dan interogasi.

“…waktu itu …kapan ya.. sudah lama waktu masih tinggal di Kotabaru, anak-anak saya mau diambil sama orang sana, mau diangkat anak gitu, saya tidak boleh, .. saya milih mati kalau tidak sama anak-anak itu” (Pemulung, eks Karangrejo, Perempuan, 75 tahun)

“…biarpun saya cuma begini, anak-anak saya harus bisa sekolah,.. kalau bisa sampai tinggi… tidak seperti orang-tuanya tidak bisa baca-tulis..

jangan sampailah anak-anak saya nanti keadaan gini” (laki-laki, buruh serabutan, 60-an tahun, mengaku bukan pemulung)

Di Sidomulyo ada juga anggota dari keluarga-keluarga yang tidak kerasan di dalam rumah. Di sana sini dijumpai bentuk-bentuk kekerasan fisik dan verbal oleh orang tua kepada anak, dari suami kepada istri dan sebaliknya. Anak atau istri yang minggat dari rumah juga ada. Anehnya, dalam beberapa kasus keluarga-keluarga yang berantakan, anggota keluarga-keluarga inti dibayangkan seolah-olah mampu memberikan penerimaan yang lebih kuat (dibandingkan misalnya teman). Peluang-peluang anak-anak yang bermasalah dengan keluarga untuk memperoleh kembali perasaan diterima itu jauh lebih besar dibandingkan pengalaman orang-tua mereka yang minggat dan tak kembali ke desa asal. Selama penelitian berlangsung, saya tidak menjumpai satupun anak dari keluarga mantan gelandangan dan pengemis dari Karangrejo yang benar-benar minggat dari rumah dan tak pernah kembali23. Biasanya yang minggat dan tidak kembali adalah perempuan-perempuan yang suaminya kawin lagi.

Separah apapun kualitas hubungan diantara anggota keluarga, anggota keluarga senantiasa dianggap mampu memberikan peluang-peluang peroleh rasa aman dan akrab saat individu mengalami frustasi atau ketidakberdayaan dari lingkungan di luar keluarga akibat gangguan dari luar seperti penolakan,

23

Diceritakan ada satu keluarga pemulung yang mengalami “broken-home”. Hubungan antara anak dan orang tua sungguh-sungguh tidak menunjukan keakraban. Keempat anaknya (tiga laki-laki dan satu perempuan) pergi meninggalkan rumah setelah beranjak remaja. Keempat-empatnya menjadi anak-anak yang bermasalah dan terlibat dengan tindakan kriminal serius. Walaupun demikian, diceritakan hubungan antara adik dan kakak dikatakan dekat dan berusaha melindungi dan membantu sebisanya. Salah satu dari anak-anak tersebut tersebut tewas tertembak petugas polisi, dan seorang lagi tewas tertikam saat perkelahian. Satu lagi adiknya yang laki-laki saat ini adalah buronan kepolisian karena keterlibatan dalam perampokan dan pembunuhan. Kakak perempuannya seorang pekerja seks yang sukses di kota Ambon. Dikabarkan si Adik selalu tahu kapan kakak perempuannya pulang, dan selalu berkunjung saat si kakak pulang. Wawancara dengan penduduk lama, tuan tanah, pengurus RW, di bulan Agustus 2009.

intimidasi dan kekerasan. Dalam keadaan ini, keluarga dapat menjadi tempat bagi mereka untuk menarik diri sejenak dari gangguan-gangguan itu, memulihkan indentitas dirinya, dan perolehan perasaan aman dan hangat di dalam lingkungan keluarga. Ann Oakley mengatakan hadirnya gejala tumbuhnya “ family-orientated” di dalam masyarakat modern24 yang secara visual merujuk pada keberadaan anggota-anggota keluarga inti dalam sebuah ruang fisik rumah, yang mana dicirikan dengan hadirnya sebuah gaya hidup yang privat dan intim. Orang-orang cenderung menarik diri ke dalam lingkungan keluarga dari persoalan dan konflik di ranah-ranah publik. Ada semacam dorongan akibat ketidak-berdayaan individu-individu atas situasi di lingkungan luar (misalnya di lingkungan kerja dan politik) yang selanjutnya dapat diatasi dengan cara menarik diri ke dalam lingkungan keluarga, yang mana di sana mereka memperoleh kembali identitasnya, pengakuan diri dan perasaan aman.

24

David Morley, ”Home Territories: Media, Mobility, and Identity”, Routledge. Place of Publication: New York. Publication Year: 2000. Bagian pendahuluan

1. Terlelap di sudut jalan bersama kakak (sumber: Google image). 2. Menemani istri mencuci (dokumentasi: Hagung Hendrawan, di Sidomulyo, 2009)