• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Gelandangan sebagai the Object of Fear

3. Terasing dari ruang-ruang simbol modernitas kota

Sebagian besar arsitektur dan ruang-ruang kota menjadi menara-menara panoptik11 yang senantiasa mengawasi dan melakukan kategori-kategori kelas.

10

Belakangan ini ada perda yang memberikan sanksi kepada orang-orang yang memberikan sedekah kepada Pengemis di Jakarta. Perda ini dipandang sebuah bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia, dan didasarkan atas pelarangan miskin kota mencari penghidupan di Jakarta. Keberadaan mereka secara fisik di kota, seolah-olah sudah merupakan tindakan pidana.

11

Menara panoptik pertama-tama diperkenalkan oleh Jeremy Bentham (1748-1832), yaitu semacam menara pengawas yang berada di tengah-tengah komplek bangunan penjara. Menara ini menyorotkan lampu yang terang ke arah sel-sel penjara, maksudnya, agar sipir penjara senantiasa dapat mengawasi sel-sel tahanan, dan sebaliknya orang yang berada di sel tahanan tidak dapat melihat orang yang ada di menara pengawas (karena keberadaan lampu sorot yang menyilaukan mata). Selanjutnya, Michel Foucault, “Discipline & Punish: The Birth of the Prison 1975)”, menjelaskan bahwa “pendisiplinan diri” merupakan efek dari panoptik.

Menara-menara ini menjelma dalam wujud bangunan-bangunan sekolah, rumah-rumah sakit, pos-pos keamanan, kantor-kantor pemerintah, pusat-pusat perbelanjaan, perkantoran, bahkan pasar. Bagi kebanyakan warga-kota, bangunan, dan ruang-ruang kota tidak bermasalah, kadang malah berkah. Tempat-tempat itu, terutama pusat-pusat perbelanjaan dan hiburan dikunjungi tanpa ada perasaan minder, malu, atau was-was. Bagi gelandangan dan pengemis ruang-ruang itu adalah the other, asing, tak tersentuh, dan barangkali menakutkan. Bagi mereka, arsitektur kota dan segala bentuk fasilitas moderen yang ada barangkali merupakan pengalaman akan sebuah keterasingan (kekerasan) simbolik.12

Tidak sedikit orang-orang marjinal ini ditolak di rumah-rumah sakit, sekolah atau gagal mendapatkan pekerjaan di toko gara-gara “salah nulis” surat lamaran dengan alamat rumah di kampung Badran13. Dahulu emperan toko dan

tempat-tempat umum seperti taman-taman kota, tempat parkiran bus, rerindangan pohon di pusat-pusat kota cukup nyaman untuk beristirahat, duduk-duduk, bahkan untuk tidur. Dahulu, tempat-tempat umum itu tidak mengasingkan siapa saja yang berada di sana termasuk para gelandangan dan pengemis. Tetapi karena sekarang razia petugas juga mengarah ke tempat-tempat seperti itu, lama-lama mereka harus selalu waspada. Perempatan-perempatan jalan tempat mengamen dan mengemis juga harus diwaspadai. Mereka harus selalu siap lari, bilamana ada

12

Kekerasan simbolik pertama kali dikemukakan oleh Pierre Bourdieu, yaitu sebuah mekanisme komunikasi yang ditandai dengan relasi kekuasaan yang timpang dan hegemonik di mana pihak yang satu memandang diri lebih superior entah dari segi moral, ras, etnis, agama ataupun jenis kelamin dan usia. Tiap tindak kekerasan pada dasarnya mengandaikan hubungan dan atau komunikasi yang sewenang-wenang di antara dua pihak. Dalam hal kekerasan simbolik hubungan tersebut berkaitan dengan pencitraan pihak lain yang bias, monopoli makna, dan pemaksaan makna baik secara tekstual, visual, warna, dan unsur-unsur simbolik lainnya

13

Kusen Alipah Hadi, “Upaya Menghadirkan “Citra-Lain” dari Ledok Badran, Jurnal Kampung Menulis Kota, Yayasan Pondok Rakyat, hal 40.

informasi akan ada razia. Tidak jarang bahwa informasi semacam ini diketahui sehari atau dua hari sebelumnya. Sehingga pada saat hari razia itu tiba, mereka akan menghindari perempatan-perempatan jalan, emperan-emperan toko di jalan-jalan utama, dan tempat-tempat umum lain seperti taman kota dan depan kantor Bank Indonesia.

Bangunan Mall juga sosok panoptis yang lain. Pencitraan mall memberikan efek panoptikon yang memberitahu calon pengunjung, “siapa yang sesungguhnya layak dan siapa yang seharusnya tahu-diri untuk tidak belanja di sana”14. Tidak satupun dari angkatan tua mantan gelandangan Karangrejo pernah

berkunjung dan belanja di Ambarukkmo Plaza (mungkin karena mereka sudah tua).15 Selain gedung-gedung megah dan mewah seperti pusat-pusat perbelanjaan,

penolakan juga dirasakan di gang-gang, pos ronda, gedung kelurahan di kampung-kampung gedongan karena keberadaan papan bertuliskan “pemulung dilarang masuk”. Begitu pula dengan perumahan-perumahan dengan satpam di muka gerbang. “Rumah berpagar” merupakan fenomena rumah-rumah di kota besar, yang membatasi mana orang-dalam, dan mana orang-luar. Di luar pagar adalah

14

Bahri, Samsul, “Orang biasa di tempat luar biasa, kajian terhadap mall Ambarukkmo Plaza”, Tesis S2, 2009, Ilmu Religi dan Budaya Sanata Dharma, Bab V.

15

Wawancara dengan beberapa pemulung angkatan tua baik laki-laki dan perempuan, juga dengan anak pemulung yang kini menjadi ketua RT. Dalam wawancara itu, ditanyakan pula (sambil lalu) tentang tempat-tempat yang biasa mereka kunjungi ketika “piknik”. Salah satu dari mereka, saat masih mengembara dan tinggal di Blok Sudirman, ia biasa duduk-duduk bersama teman-teman di jalan Malioboro sepulang kerja memulung, kadang nonton wayang, juga film di bioskop Indra. Pada masa sekarang, mereka bilang tidak pernah “plesiran”, paling-paling mengunjungi anak, teman dan kerabat di kampung-kampung lain. Walaupun demikian, ketika saya tanya tentang anak-anak muda kampung sekarang, mereka bisa menyebut JJ (Jogja-Jogja) juga Bunker: sebuah klub malam anak-anak remaja persis di sebelah Selatan pintu masuk ke kampung Kricak Kidul di Jalan Magelang.

orang-asing. Gelandangan dan pengemis yang masuk ke dalam pagar rumah berubah dari sosok yang asing menjadi sosok yang menakutkan.

Infrastruktur fisik kota dan fasilitas-fasilitas publik seperti gedung-gedung perkantoran dan perbelanjaan ibarat menara pengawas yang menyorotkan matanya kepada siapa saya yang lewat. Seolah-olah bangunan-bangunan itu benda hidup, yang berpikir dan berbicara kepada golongan miskin kota untuk tidak memasuki tempat-tempat itu. Bangunan-bangunan itu turut menjadi sosok pengasing yang menghasilkan pembedaan sosial, dan turut menjauhkan miskin kota dari wilayah-wilayah publik kota ke tempat-tempat yang tidak mewakili kota seperti bantaran-bantaran kali dan sepanjang lintasan rel-rel kereta api.