Pemerintah Kolonial Belanda sekitar tahuan 1920-an adalah yang pertama-tama memberikan perhatian pada pemukiman di kampung-kampung. Kebersihan dan kesehatan warga kampung barangkali dianggap perlu karena hal ini bisa jadi merupakan sumber tenaga kerja bagi pabrik-pabrik kolonial. Barangkali pula hal ini merupakan salah satu wujud dari tuntutan politik etis yang berkembang pada tahun-tahun itu. Pada masa kolonial, lingkungan tempat tinggal yang teratur, bersih, prasarana yang cukup dan sistem perumahan yang baik hanya berlaku bagi penduduk Eropa. Kini, jejak-jejak pemukiman itu masih bisa dijumpai di Yogyakarta, seperti di daerah Kota Baru dan Baciro. Westerveld sekitar tahun 1914 mencatat “di situ gubuk-gubuk sangat buruk, tidak layak disebut tempat tinggal manusia”. Contoh lain adalah laporan Tilema tahun 1916-1922 mengatakan “banyak yang perlu dikerjakan di kota-kota Hindia Belanda. Semuanya benar-benar masih harus diperbaiki, seperti pelayanan kesehatan masyarakat, penerangan kampung, sanitasi, penataan daerah padat, perbaikan perumahan umumnya, saluran tanah, pembuangan kotoran, pengawasan kebersihan makanan, tidak ada satupun yang layak”.25
Kampong Verbetering (perbaikan Kampung) oleh Pemerintah Kolonial di tahun 1920 berisikan program perbaikan jalan-jalan, gang-gang, selokan, fasilitas
25
Amir Karamoy, “Program perbaikan Kampung: Harapan dan Kenyataan”, prisma 6, Jakarta Barat, 1984 dari H Sepcker, “Low Income Housing Policies and Urban Development – The Role of State: A case study of Kampung Improvement in Indonesia”, The Institute of Social Studies, The Hague, 1981
MCK. Evaluasi yang dilakukan di tahun 1939 memberikan penilaian buruk atas program ini. Bahwa di kota-kota besar kualitas tempat tinggal penduduk miskin semakin tertinggal dan jumlahnya semakin bertambah. Kenyataan ini didorong oleh pesatnya laju urbanisasi di kota. Oleh sebab itu, salah satu rekomendasi untuk program perbaikan kampung adalah mencegah laju urbanisasi. Tapi tidak berhasil juga.
Tahun 1945 adalah masa yang disibukkan dengan perang kemerdekaan. Periode 1945-1950, kota-kota di Indonesia dalam keadaan sepi dan memprihatinkan, yang ditandai dengan sarana dan prasarana umum yang terlantar dan hancur. Mulai tahun 1966, program perbaikan kampung dimulai secara terorganisir oleh pemerintah Indonesia. Awalnya diprakarsai oleh Ali Sadikin di Jakarta dengan program yang dikenal dengan istilah “formula 60:40”, yaitu: warga kampung yang ingin memperbaiki kampungnya harus punya andil sebesar 60 persen. Bisa berupa uang, tenaga kerja, bahan bangunan dan tanah. Sisanya tanggungan pemerintah. Program ini selanjutnya disebut dengan “Proyek Mohammad Husni Tamrin”. Dalam waktu bersamaan di Surabaya berlangsung proyek yang sama yaitu “Proyek WR Supratman”. Banyak kalangan menilai program perbaikan kampung ini berhasil. Selanjutnya keberhasilan Ali Sadikin di Jakarta dan proyek serupa di Surabaya dilanjutkan dalam Pelita I (1966 – 1974), dan dilanjutkan lagi pada periode Pelita II (1974-1979) hanya saja pada Pelita II seluruh pembiayaan menjadi tanggungan Pemerintah seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan hutang Bank Dunia. Lambat laun, keterlibatan warga
kampung terhadap proyek perbaikan kampung semakin memudar. Pada Pelita IV dan V, program ini sudah menjadi semacam “hadiah” belaka.
Program perbaikan kampung sebagian besar didanai dari hutang Bank Dunia. Berisi paket untuk perbaikan jalan kendaraan dan saluran air, perbaikan jalan untuk pejalan kaki, rehabilitasi dan pembuatan selokan pembuangan kampung, pengadaan tempat pembuangan sampah, penyediaan air bersih lewat kran-kran umum, pembuatan MCK, pembangunan Puskesmas, gedung sekolah dasar. Selain bentuk pembangunan fisik, Program perbaikan kampung juga menjangkau perbaikan non-fisik seperti perbaikan sarana pendidikan dan kesehatan ibu dan anak (program UNEP), pembangunan sumberdaya manusia, perbaikan lingkungan, dan pengembangan ekonomi (program oleh Direktorat Cipta Karya dan Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup). Ada juga program-program yang dilakukan oleh perorangan dan organisasi rakyat, seperti yang dikoordinasikan oleh almarhum Romo Mangun di Kali Code di bawah Jembatan Gondolayu (1983-1986), dan telah menginspirasi gerakan-gerakan serupa di tempat-tempat lain.
Program lain yang penting disebut adalah gerakan yang dilakukan oleh warga kampung sendiri, seperti misalnya Babad Kampung sebagai salah satu tema Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tahun 2008 lalu, yang melibatkan kegiatan bersama-sama warga di beberapa kampung di Yogyakarta dalam berkesenian.
Tahun 1997 k borok pertumbuhan Kampung-kampung k dan menjadi tak be memperoleh dana de lebih baik ekonominy pinggir jalan besar, a kesibukannya jarang
Perjalanan pa kolonial yang kemud serupa yang dilakuka merubah wajah kam resik dan apik. Kam saluran pembuangan tembok, jalan-jalan b sebagai tempat pers
Dari kiri ke kanan: Gamb dari Bank Dunia) di kamp Gambar 2. Spanduk Baba Dokumentasi : Yoshi, YPR
krisis ekonomi melanda Indonesia. Peristiw n ekonomi dan pembangunan selama le kehilangan jatah kucuran dana program perb berdaya. Meski demikian program-program
dengan cara meminta partisipasi dari tetang inya, seperti para pemilik toko di muka-muka , atau meminta lebih dari orang kaya kampu g bergaul.
panjang program perbaikan kampung baik v udian dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia kan oleh organisasi-organisasi kemasyarakata mpung yang dulu kumuh dan kotor menjadi ampung-kampung banyak yang terlihat lebi lebih tertata, listrik masuk, rumah-rumah m berkonblok dan bisa dilalui kendaraan. Citra ersembunyian para maling, pelacur, dan s
mbar 1. Papan pengumuman proyek MCK melalui progra ampung Sidomulyo. Dokumentasi: Hagung Hendrawan 20 abad Kampung di Ledhok Tukangan, Festival Kesenian Yo YPR/ Koordinator Babad Kampung, FKY 2008.
iwa ini membuka lebih 25 tahun. erbaikan kampung kampung tetap ngga sekitar yang a kampung dan di pung yang karena
versi pemerintah ia ataupun proyek an telah banyak di kampung yang bih rapi,
saluran-mulai berdinding ra hitam kampung sejenisnya turut ogram P2KP (dana n 2009. n Yogyakarta.
memudar seiring meningkatnya kondisi fisik lingkungan kampung, status ekonomi warganya, termasuk dampak dari proyek keamanan dan tertib umum yang dilancarkan secara sistematis oleh negara.