• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

2. Keluarga kedua

Setiap hari, RL 2 bekerja sebagai penyapu jalan sebelah selatan alun-alun Utara. RL 2 mengatakan bahwa pagi hari setelah subuh dia sudah mulai bekerja. Dia membawa gerobak miliknya, sapu berganggang kayu

panjang, sapu tanpa ganggang dan serok. Dengan pakaiannya yang terlihat lusuh, dia mulai menyapu jalanan.

Foto 3. RL 2 sedang menyapu jalanan serta perlengkapan

Ketika hari mulai siang dan banyak masyarakat berlalu lalang, RL 2 kembali ke Kandang Macan (nama tempat bak sampah di sebelah utara alun-alun Utara) dengan gerobak penuh sampah. RL 2 sempat mampir ke warung untuk makan dan beristirahat. Setelah itu, dia mulai mengeluarkan sampah dari gerobaknya dan mulai memilah barang yang masih memiliki nilai jual untuk di jual ke pengepul yaitu mantan istri pertamanya. RL 2 mengatakan bahwa dia memiliki penghasilan perbulan Rp 350.000,00 dan masih mendapat tambahan dari penjualan barang yang di pilah serta pemberian dari kantor-kantor yang sampahnya dia ambil.

RL 2 pernah tinggal di Kandang Macan bersama dengan RP 2 (istri kedua) menempati grobok (arti harfiah, kotak tempat menyimpan makanan, beras dan alat pecah belah, disini diartikan sebagai rumah sangat sederhana beratap terpal). Mereka tinggal dengan seorang anak perempuannya yang nomor dua. Anak pertama mereka di angkat anak oleh istri pertama. RL 2 berkata,

”...ya di depan grobok (rumah kecil) itu, menggunakan alat. Itu kan sudah diangkat ke Janabadra dan sudah diambil semua” (KK2. L, A 14-18)

Mereka memasak di samping grobok dan membersihkan diri di sumur atau berjalan agak jauh di Candi Kemetiran, Masjid Kauman atau Candi Patuk. Di samping mereka juga terdapat banyak orang-orang yang senasib dengan mereka yang juga tidur di sana.

Pekerjaan RP 2 selain membantu memilah sampah juga sebagai pengamen di perempatan Kentungan dengan menggendong anak kedua mereka.

“...ngamen setelah punya anak. Di Ringroad utara”(KK2. P, A 10)

Setiap hari mereka mengamen, bahkan sampai mengenal secara dekat orang-orang yang bekerja di sana dan sering diberi tahu oleh polisi bila akan ada penertiban. Kedekatan antar sesama pengamen terlihat begitu jelas. Mereka makan bersama, ketika salah satu membawa makanan dan minuman, mereka saling berbagi. Walaupun tidak memiliki uang, RP 2 mengatakan bahwa mereka tetap bisa makan karena ada teman yang memberi. Ketika ada teman sakit, mereka akan mengumpulkan uang untuk menyumbang. RP 2 mendapatkan penghasilan rata-rata bisa mencapai Rp 80.000,00.

Menurut penuturan RL 2, sebelum turun ke jalan, RL 2 pernah bekerja sebagai tukang batu. Dia mengalami kecelakaan sehingga mengakibatkan fisiknya lemah, sehingga dia memutuskan menjadi pengumpul sampah.

RL 2 dan RP 2 bertemu di salah satu pengepul sampah. Proses perkenalan mereka sangat singkat. Mereka saling mengenal selama satu minggu lalu RL 2 mengajak RP 2 untuk menikah. RL 2 ingin memiliki istri kembali karena dia ingin memiliki keturunan yang kelak bisa merawatnya di hari tua.

Sebelum tinggal di Kandang Macan, RP 2 pernah mengontrak dan tinggal di lapak.

“Pindahnya ke Kandang Macan. Kan itu dah bekerja ke THR. THR itu kan rumahnya di bangun terus pindah ke gerobak itu (mereka memiliki gerobak di Kandang Macan)”(KK2. P, C 2-4)

Dia tinggal dengan pemulung-pemulung yang lain. Hal yang sama juga pernah di alami oleh RL 2.

“Kalau sedang minum-minum (minuman keras) kalau ada yang ingin berkelahi tidak jadi. Walaupun begitu saya tetap memilih untuk untuk menyingkir. Jelek” (KK2. L, D 1-3)

Seperti diungkapkan oleh RL 2 kebiasan-kebiasaan yang dilakukan di jalanan makan, tidur. Berkelahi, minum- minuman keras, dan berjudi merupakan hal yang biasa. Perkelahian mudah muncul karena emosi orang yang berada di jalanan lebih mudah terpancing. Garukan (penertiban) merupakan makanan sehari- hari bagi para pengamen. RL 2 sempat mengatakan bahwa di jalanan, pasangan-pasangan yang memiliki anak tidak bisa dikatakan sebagai suami istri. Mereka hanya sebagai pasangan rukun awor (kumpul kebo).

Setelah RL 2 pernah tinggal di jalanan selama delapan tahun dan RP 2 tinggal di jalanan selama dua tahun, akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke PSP YSS. Mereka merasa bahwa tempat tinggal di Kandang Macan bau dan tidak sehat. Seperti yang diungkpkan oleh RL 2

“Berhubung anak saya sudah agak besar lalu mencari kontrakan karena sering bau, anak juga suka nakal” (KK2. L, A 23-24)

Selain itu, RL 2 tidak memiliki KTP, sehingga harapanya dengan bergabung dengan masyarakat, dia bisa memperoleh KTP. Satu hal yang penting, mereka tinggal bersama dengan mantan istri pertama dan menantu dari istri pertama. Hal ini menimbulkan perasaan tidak nyaman yang cukup besar. Sedangkan menurut RP 2, dia memilih menetap di masyarakat dengan alasan agar anaknya bisa belajar dengan tenang. Selain jalanan sangat ramai, RP 2 mengatakan kalau lingkungan jalanan cukup rawan bagi anak gadis. Serta tertarik dengan promosi seorang teman yang sudah tinggal di PSP YSS bahwa setiap bulan akan mendapatkan bantuan.

Jarak sosial yang dialami oleh keluarga ini tidak terlalu jauh. Terutama untuk RP 2, dia tidak terlalu lama tinggal di jalanan sehingga internalisasi budaya jalanan tidak terlalu dalam dan dia pernah tinggal di masyarakat. Sedangkan RL 2 walaupun cukup lama tinggal di jalanan, dia pernah juga tinggal di masyarakat sebelum turun ke jalan.

Keluarga kedua mengalami konflik didalam relasi dengan pasanganya dan dengan tetangganya. Ketegangan dengan pasangan disebabkan karena kurangnya komunikasi. RL 2 berkata,

”...jadi kesalahan pada saya itu sering meremehkan di desa, kepentingannya dia itu pulang tidak pernah bilang sama saya. Masih sering meremehkan sama saya, jadi kalau rejeki itu tidak ada sisa, saya makan sendiri ya tidak saya berikan” (KK2. L, K 3-6 )

RL 2 merasa bahwa RP 2 tidak pernah menghormatinya karena segala sesuatu tidak pernah dibicarakan dulu dengan RL 2 (RP 2 meminjamkan uang tanpa sepengetahuan RL 2). Hal ini menimbulkan ketegangan. Di sisi lain, RP 2 merasa bahwa RL 2 tidak bertanggung jawab karena tidak pernah memberikan nafkah kepada RP 2 dan anaknya. RL 2 memberikan uang kepada anaknya tetapi beberapa hari kemudian uang tersebut diminta kemblai. Hal ini mengakibatkan RP 2 marah. RL 2 beralasan karena dia tidak pernah dilayani oleh RP 2 sehingga nafkah yang didapat juga hanya untuknya saja. Hal ini terjadi karena RL 2 jarang pulang dengan alasan lembur sedangkan RP 2 selalu pulang ke rumah. Konflik dengan orang lain terjadi karena RP 2 mengangkat seorang ibu menjadi ibunya. Sedangkan dari RP 2, dia merasa bahwa warga atas menganggap rendah warga bawah dan merasa jauh dengan warga atas. Penilaian ini didasarkan atas peristiwa yang pernah dialami oleh keluarga kedua. Mereka tidak mendapatkan undangan hajatan, padahal halaman rumah yang mereka tempati dipakai sebaga i tempat untuk memasak. Masalah dengan tetangga juga disebabkan karena kenakalan anak. Biasanya orang tua akan ikut campur perkelahian yang dilakukan oleh anaknya.

Keluarga kedua mengatasi masalah dengan cara preventif, yaitu menyingkirkan anaknya sebelum membuat masalah. Seperti yang diungkapkan oleh RP 2,

“Kalau anak nakal itu kan repot, repot mas. Nanti kalau ini berantem, kan bikin masalah. Kalau tahu ya anaknya di ajak menepi, pergi”. (KK2. P, H 13-14, 18)

Kalaupun sudah terjadi, maka dia akan mengakui kesalahannya sebelum orang lain tahu. Hal ini dilakukan agar orang lain tidak marah lebih dahulu.

Keluarga kedua mengatakan bahwa mereka mendapatkan dukungan yang besar dari volunter, frater dan staff PSP YSS. Setiap dua hari sekali dalam seminggu mereka akan mendapatkan kunjungan. Waktu berkunjung ini biasanya mereka gunakan untuk berbagi tentang berbagai hal, kekawatiran, kecemasan dan rencana-rencana yang akan mereka lakukan.

Keluarga ini termasuk keluarga yang aktif berpartisipasi. Seperti yang diungkapkan oleh RL 2,

“... kalau dulu rapat rejekan, lalu rapat kamis itu kumpul Jumat kliwonan. Lalu kalau bisa menabung...” (KK2. L, I 29, J 1-3)

Hal ini memperlihatkan bahwa mereka aktif mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh warga RT dan melakukan kewajiban sebagai warga PSP YSS. Mereka mengikuti sarasehan Jumat Kliwonan. Istrinya biasanya akan dengan senang hati menyediakan kebutuhan orang-orang yang bekerja bakti seperti menyiapkan minuman, makanan kecil.

Hal yang membuat mereka merasa nyaman tinggal di PSP YSS karena mereka tidak dibebani oleh biaya sewa. “...gak bayar...”. Penghasilan yang mereka dapatkan baru cukup untuk makan, belum termasuk kontrak rumah. Selain itu, RP 2 merasa bahwa anaknya mendapatkan teman belajar yang selalu didampingi oleh volunter.

Adaptasi sosiologis yang sudah dilakukan oleh keluarga ini, mereka mengikuti kegiatan-kegiatan di kampung seperti sarasehan, kerja bakti dan melakukan kewajiban sebagai warga. Mereka juga ikut menyumbang ke tetangga yang memiliki hajat. Saat ini, mereka memiliki tabungan. Bahkan mereka berencana untuk mencari uang agar bisa mendapatkan kontrakan yang lebih nyaman lagi.

Dokumen terkait