BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
1. Keluarga pertama
C. Hasil Penelitian
Hasil penelitian lapangan yang diperoleh dari proses wawancara maupun catatan lapangan (sebagai hasil observasi) kemudian digabungkan dan dikategorisasikan menurut aspek-aspek yang diteliti. Hasil penelitian ini dituliskan dalam bentuk narasi.
Informan laki- laki pertama (RL 1) mengatakan bahwa dia pernah belajar di pondok pesantren. Pendidikan formalnya hanya sampai tingkat STM tetapi tidak tamat. Walaupun secara formal tidak lulus STM, RL 1 sering belajar secara informal.
“ ...Abah Abu itu guru saya. Dia guru magic. Juga guru teluh. Betul. Orangnya pintar, dulu sering berbincang berdua seperti ini...”. (KK 1. L, 2-5)
Keinginan untuk belajar dari RL 1 yang cukup tinggi, terbukti dari perilaku RL 1 banyak belajar tentang mahluk halus dari banyak guru. RL 1 juga suka sekali melakukan lelaku seperti menggelandang tanpa bekal dan berpuasa. Tujuan lelaku dilakukan agar RL 1 bisa mengetahui sesuatu. Harapanya, pengetahuan tersebut akan bisa dimanfaatkan untuk menolong orang lain.
Sekitar tahun 2000, RL 1 memutuskan untuk turun ke jalan.
”Di Solo itu menjadi apa…. Penjudi. Di Solo bekerja mas. Parkir” (KK 1. L, S 8)
Merupakan pekerjaan yang digeluti oleh RL 1. Bekerja sebagai pengamen, tukang parkir, bandar judi, dan pemulung. RL 1 melakukan pekerjaan itu ketika dia merasa senang maka pekerjaan itu akan dijalaninya.
Ketika malam datang, RL 1 mencari tempat tidur yang nyaman dalam kelompok kecil. Beberapa temannya bekerja sebagai pemulung, pengamen, bahkan pencopet. Tempat yang mereka gunakan sebagai tempat tidur juga seringkali berpindah-pindah.
“ ...berkumpul di sana semua dekat dengan realino. Bethesda. Perempatan Bethesda itu. Itu jalan… apa namanya... Dulu
gerombolan itu disana. Ada anak Surabaya”(KK1. L, X 3-5, 7, AF 18-21)
Beberapa tempat yang pernah ditinggali oleh RL 1 antara lain sekitar Purosani, perempatan Bethesda dan juga lapak (tempat pengepul barang bekas) serta pernah menumpang ditempat teman. Ketika berkumpul, mereka saling berbagi cerita, bercanda, bernyanyi bersama dan makan bersama. Mereka melakukan ini sebagai sarana untuk mengurangi beban hidup.
RL 1 mengatakan bahwa dia pernah mengalami perkelahian dengan pengeroyokan, penipuan, garukan dan pencurian. RL 1 mengatakan bahwa perkelahian merupakan hal yang biasa karena emosi yang mudah meluap. Alat yang sering dipakai adalah alat-alat yang dekat dengan keseharian mereka antara lain ganco, dan ketapel.
“...ganco saya sudah makan dua orang mas. Pernah mengenai dua orang. Mengganco orang dua kali. Anjing tiga kali. Ganco itu ganco kenang-kenangan” (KK1. L, AA 19-20)
Tetapi RL 1 mengatakan kalau dia tidak dimulai maka dia tidak akan menyerang lebih dahulu. Penipuan lebih sering dilakukan oleh sesama warga jalanan terhadap teman sendiri. Seperti yang pernah dialami oleh RL 1 ketika hasil memulungnya dijualkan oleh teman, bagiannya lebih sedikit dibandingkan dengan orang yang menjualkannya. Pencurian juga dilakukan kepada sesama warga jalanan, tetapi lebih sering dilakukan kepada masyarakat umum. Biasanya mereka yang suka mencuri adalah pemulung-pemulung yang masih muda. Sedangkan kalau garukan dikenakan kepada orang-orang di jalanan yang tidak memiliki surat-surat identitas diri (KTP, KK).
RL 1 bertemu dengan istrinya ketika berada di jalanan. Pertama kali bertemu dengan informan perempuan 1 (RP 1) di Yogyakarta.
“...sewaktu pertama ya sama Joar itu, duduk-duduk situ, saya tu merasa kasihan, kok saya sama teman saya makan ada perempuan ini kata Pak Pari, Mbak beli nasi Mbak, tolong belikan Mbak” (KK1. L, AQ 9-11)
Merupakan sejarah pertama kali RL 1 bertemu dengan RP 1. RL 1 merasa kasihan melihat perempuan yang ada di dekatnya. Lalu RL 1 meminta bantuan untuk membelikan nasi bungkus. Awal pertemuan dilalui dengan biasa. RL 1 akhirnya memutuskan untuk menikahi RP 1 karena RL 1 mendapatkan mimpi ketika tidur agar menikahi dan menjaga RP 1. Dalam mimpinya, RL 1 merasa bertemu dengan seorang pendeta yang dimaknai sebagai orang tua dari RP 1.
RL 1 mengatakan bahwa salah satu ciri khas pasangan di jalanan, mereka mudah bergonti-ganti pasangan.
“...memang mayoritas memang seperti itu memang bisa dikatakan begitu bisa mas, masalahnya mereka itu seperti yang laki-laki, laki-laki kadang memandang cuman apa sebagai kayak diluar dikatakan sebagai sedotan, digunakan bersama, sedoroyokan (digunakan bersama), sedoroyokan iku yo perempuan seperti itu, tapi yo tidak sampai (tertawa), tidak sampai berkelahi Mas, tapi kalau sudah bersama dengan orang itu , kalau ingin maju pasti tidak mau, diam saja..” (KK1. L, AH 1-14)
Hubungan pasangan lebih didasarkan pada rasa suka, saling berbagi tanpa berpikir tentang administratif. Perempuan bisa dipakai bergiliran asalkan sudah tidak memiliki pasangan seperti yang diungkapkan oleh RL 1. Hanya pasangan-pasangan yang turun ke jalanan dengan pasangannya saja yang cenderung susah untuk berganti pasangan. Hal ini juga terjadi terhadap RL 1 dan RP 1 karena mereka tidak memiliki surat-surat nikah.
RP 1 mengatakan bahwa dia merasa tertarik dengan RL 1 karena RL 1 dimata RP 1 adalah sosok pekerja yang rajin dan penuh perhatian. Selain itu, awal pertemuan mereka ketika berada di jalan, RP 1 pernah disembuhkan ketika stres akibat masalah yang dialaminya oleh RL 1.
Sebelum turun ke jalan, RP 1 pernah memiliki suami dan bekerja sebagai buruh, petani dan pembantu. RL 1 berkata, “...di Jakarta sebagai buruh...”. Ketika masih muda, pernah belajar menari di padepokan Bagong Sudiarjo dan pernah memberi kursus tari. Ketika kecil, RP 1 diadopsi oleh sudara ayahnya.
“...betul itu, makanya saya kalau ingat anak saya seperti orang stres (anaknya pernah dibunuh oleh suami pertamanya)... Ya anak saya, yang tidak ada, setiap ingat anak saya, saya pasti stres...” (KK1. P, B 7-9)
Hal ini merupakan sebab utama RP 1 turun ke jalan. RP 1 turun ke jalan karena RP 1 mengalami stres dengan masalah keluarganya. Suami pertama RP 1 sering selingkuh dengan wanita lain.RP 1 tinggal di jalan kurang lebih dua tahun. RP 1 seringkali tidur berpindah-pindah. Biasanya RP 1 memilih tempat tidur yang bebas dari air hujan. Dia pernah tidur di lapak, daerah sekitar Tugu, emperan toko dan daerah sekit ar Purosani. Alat tidur yang sering digunakan adalah tikar atau karpet kecil bahkan kadang kala tidur di bawah meja. Ketika tidur, RP 1 bergerombol dengan teman-teman sesama pemulung sebagai sarana untuk saling melindungi diri. Sebelum tidur, biasanya mereka bercanda, berbincang-bincang, dan bernyanyi sebagai obat penghilang beban hidup.
Sebelum bertemu dengan suaminya, RP 1 sempat bekerja sebagai pengamen, pemulung, pemijat, tukang cuci baju dan pedagang.
“...sebelum kenal, nanti kalau ada orang yang mencuci, nyuci, saya juga belum mencuci, nyuci. Setelah itu saya memakai icik-icik (tutup botol dipipihkan, beberapa buah lalu dipaku dibagian tengah disebuah kayu) buat mengamen. Pernah beli kentrung (gitar kecil dengan tiga senar), ya beli kentrung satu” (KK1. P, B 21-25, C 10)
Alat yang biasa digunakan untuk mengamen adalah ecek-ecek (tutup botol seng dipipihkan lalu beberapa buah di lubangi di tengah dan dipaku pada sebatang kayu kalau digerakkan maka akan menimbulkan bunyi ecek-ecek-ecek serta kentrung. Penghasilan RP 1 bisa mencapai Rp 40.000-50.000 per hari. Penghasilannya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari dan sebagian sempat ditabungkan di tempat juragan lapak.
Ketika sudah bersama dengan RL 1, mereka tinggal bersama dan bekerja sebagai pemulung. RL 1 memulung menggunakan becak. Ketika mencari sampah, RP 1 tinggal di becak untuk menunggu becaknya, sedangkan RL 1 mengais sampah. RL 1 biasanya menggunakan ganco (besi bergagang dengan ujung runcing agak bengkok seperti huruf L). Rute yang sering mereka tempuh di sekitar jalan Solo, Gejayan. Ketika selesai mencari barang, mereka mengumpulkan barang berdasarkan kelompok dan dijual ke pengepul barang bekas. Uang hasil penjualan ini digunakan untuk hidup keseharian mereka.
Foto 2. Hasil memulung yang sudah di pisah-pisahkan
Motif yang muncul dari RL 1 untuk kembali lagi ke masyarakat karena dia berpikir tidak mungkin terus berada di jalanan karena umur yang semakin tua dan kemampuan yang semakin berkurang.
“...sekarang seandainya punya istri. Andaikata kalau wanita apa tidak kasihan. Apalagi kalau masih anak-anak. Apa tidak kasihan anak-anaknya”. (KK1. L, E 12-14)
Selain itu, perempuan dan anak merupakan alasan utama. Bagi RL 1, perempuan itu seperti ibunya sendiri yang harus di jaga dan lebih mudah menjaga di dalam masyarakat.
Selain itu, kemudahan yang terjadi karena jarak sosial yang tidak terlalu jauh dengan masyarakat. RL 1 dan RP 1 tidak terlalu lama tinggal di jalanan dan dia memiliki konsep tentang masyarakat. RL 1 pernah bekerja di perusahaan dan banyak belajar di pondok sedangkan RP 1 pernah bekerja sebagai pembantu, petani dan buruh.
RP 1 merasa tidak nyaman tinggal di jalanan merupakan motif terkuat. Dia merasa tidak mampu beristirahat di jalan dan karena dia wanita. RP 1 merasa rentan berada di jalanan. Ketika berada di masyarakat, RP 1
memiliki harapan untuk kembali lagi ke Katolik walaupun itu ditentang oleh suaminya. Selain itu semua, motif yang paling mendasar dari keluarga ini karena mereka tidak ingin mendapat cap tidak bermasyarakat.
Konflik yang terjadi pada keluarga pertama ketika mereka membaur dengan masyarakat adalah konflik dengan pasangan dan konflik dengan tetangga. Konflik dengan pasangan biasanya dipicu oleh penghasilan yang sulit dan emosi sesaat. Ketidak-percayaan terhadap pasangan juga menimbulkan ketegangan yang berujung pada adu mulut. Sedangkan ketegangan dengan tetangga disebabkan oleh hutang-piutang yang belum terbayar. Keluarga pertama memberikan hutang kepada keluarga kedua. Ketika keluarga pertama mena gih, ternyata keluarga kedua mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati. Selain itu, kesalahan dalam mengirimkan makanan punjungan (makan dari orang yang memiliki hajat, diberikan kepada orang yang telah menyumbang ke tempatnya). Makanan punjungan tersebut diterima oleh tetangga dari keluarga pertama dan tetangganya tidak memberikan sumbangan. Hal ini juga menimbulkan ketegangan pada keluarga pertama. Selain itu, ketegangan yang dialami oleh RL 1 antara : ketidak hadiran warga lain dalam kerja bakti, sarasehan dan siskamling serta kegemaran warga untuk membicarakan kejelekan orang lain.
Pemecahan masalah dilakukan oleh individu dan pasangannya. RL 1 mengatakan
RL 1 berupaya berupaya memecahkan masalah dengan memahami lebih dahulu akar permasalahan dan membicarakan bersama. Apabila diperlukan, RL 1 akan mendorong orang lain untuk muncul ke permukaan. Tetapi kadangkala tidak perlu menanggapi dan dihadapi dengan akal sehat dan sabar. Biasanya, apabila mereka tidak mampu mengatasi sendiri, mereka akan meminta bantuan dari volunter atau frater yang ada di sana, sebagai tempat berbagi. Dukungan sosial tidak hanya terlihat dari bantuan dalam memecahkan masalah, tetapi juga terlihat dari penerimaan masyarakat terhadap keluarga pertama. RL 1 oleh warga sekitar dipanggil dengan sebutan Pak Dhe, yang memperlihatkan bahwa RL 1 cukup dipandang oleh tetangganya. Penerimaan itu juga tampak ketika warga menerima RP 1 untuk menonton televisi di rumah mereka. Ketika RP 1 sakit, beberapa warga juga membesuknya. Selain itu, seringkali orang-orang yang lewat depan rumah mereka menyapa terlebih dahulu keluarga ini.
Keluarga pertama merupakan keluarga yang aktif di masyarakat. Mereka berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan warga. RL 1 mengatakan bahwa dia aktif dalam pertemuan-pertemuan warga, walaupun seringkali menolak ketika tampil dan memilih berada di belakang layar. RL 1 juga suka membantu tetangga dengan keahliannya sebagai orang tua. RP 1 seringkali datang di hajatan tetangganya ketika mendapatkan undangan. Undangan dari tetangga memperlihatkan bahwa mereka sudah diterima oleh warga yang lain.
Menurut RL 1, kunci untuk bisa membaur dengan masyarakat adalah bisa membawa diri di lingkungan dan tidak berbuat macam- macam.
“...nggak macam-macam, maksudnya nggak macam-macam itu misalkan membikin masalah anda, orang lain, mesti orang lain kan ya berpikir juga kan ya, satu itu, keduanya kalo kita mungkin bisa membaur rukun sama lingkungan di kampung itu sendiri kan ya orang kampung kan ya melihat o ya begini, mungkin itu yang disebut itu, masalahnya kan ya kadang-kadang gitu, kuncinya orang kita sendiri kan masalahnya kadangkala kita, mungkin ya itu tadi lah, menyalahi seseorang, ya nggak, tapi kalo kita mungkin di kampung bisa membawa diri mungkin kita bisa sama mereka kok o... karakternya orang disini mungkin begini-begini-begini, kadang-kadang bisa menyelami, menyadari kita akhirnya ya, bisa menjaga lah ” (KK1. L, BN 17-25)
Hal ini yang mempercepat adaptasi psikologis RL 1. Sedangkan RP 1, sudah merasa tentram, mapan yang tampak dari fisiknya yang lebih gemuk.
RP 1 berencana dalam waktu dekat akan membuatkan KTP untuk RL 1, agar bisa diterima secara administratif oleh negara. Selain itu, mereka sudah bisa menabung untuk masa depan. Tabungan digunakan sebagai sarana untuk berjaga-jaga kalau ada hal-hal mendesak. Mengikuti ronda dan pertemuan secara aktif serta membantu tetangga yang diganggu mahluk halus merupakan tindakan nyata adaptasi sosiologis dari RL 1. Menurut RL 1, ikut aktif dalam kegiatan kemasyarakatan seperti kerja bakti akan mempercepat penerimaan warga lain.