• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

3. Keluarga ketiga

“Rumah dijual orang gila. Saya itu sudah beli di Lengkong itu dijual orang. Dipinjam, dijual. Tidak dikembalikan. Sekarang jadi buronan. Iya ada sertifikatnya. Diminta untuk dipinjam. Dijual. Sekarang tidak berani minjam lagi. Tapi orangnya kena akibatnya (kualat). Saya doakan jelek” (KK3 LP, E 19-26)

Mereka memilih untuk tinggal di jalan karena mereka sempat membeli rumah di Yogyakarta tetapi ditipu dan sertifikat rumah tersebut di jual oleh orang lain. Mereka adalah pasangan yang sejak pertama kali tinggal di masyarakat sudah menikah.

“Ya di sana, di Puskesmas itu.” (KK3 L, J 11)

Seperti yang diungkapkan RL 3, dia bekerja sebagai tukang becak yang biasa mangkal di depan Puskesmas Jetis dan RP 3 bekerja sebagai

pengamen di perempatan. Biasanya RP 3 mengamen di perempatan Tugu bagian barat. Hasil dari kerja mereka lumayan tinggi. Rata-rata keluarga ini bisa mendapatkan penghasilan Rp 80.000,00 per hari. Apalagi sejak keluarga ketiga mengadopsi anak perempuan yang diberikan oleh seseorang kepada mereka. Secara ekonomi, sebenarnya mereka merupakan keluarga paling kuat dibandingkan dengan dua keluarga terdahulu.

Biasanya RL 3 mendapatkan penumpang untuk diantarkan ke jalan-jalan di sekitar kecamatan Jetis dan sampai ke Malioboro. Sedangkan RP 3 mengamen sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Biasanya, RP 3 hanya membawa gelas plastik kecil yang disodorkan ke depan mobil atau motor yang berhenti di perempatan jalan.

“ ...becak saya tunggui sambil tidur... ya di atas becak ya seperti itu” (KK3 LP, A 5-9)

Mereka tidur di atas becak dan mangkal di depan pangkalan taksi Centris ketika malam hari. Mereka tidur menggerombol dengan sesama tukang becak. Mereka merasa nyaman tidur di pangkalan taksi karena merasa kenal dengan pegawai di sana.

Mereka melakukan aktifitas pribadi di Sungai Gondolayu.

“...di sungai Gondolayu, itu memang biasanya buat mandi orang banyak...” (KK3 LP, L 22-29)

Hal ini memperlihatkan kebiasaan mereka melakukan aktifitas di sungai. Mereka mandi, mencuci di Sungai Gondolayu. Biasanya mereka mencuci baju sore hari lalu dijemur diatas becak mereka. Ketika mereka memiliki bayi, bayi tersebut juga diajak untuk mandi di Sungai Gondolayu.

Mereka pernah mendapatkan uang yang mereka simpan di kotak becak hilang ketika mereka tidur malam. Ketika mereka tidur, mereka juga pernah didatangi oleh beberapa pemabuk untuk dimintai uang. RL 3 mengaku tidak memberikan uang kepada mereka.

Sebelum turun ke jalan, keluarga ini adalah keluarga yang sudah sering berangkat transmigrasi tetapi selalu kembali lagi ke jalan. Mereka sempat tinggal di PSP YSS selama tiga bulan lalu berangkat transmigrasi ke Kalimantan. Mereka kembali lagi ke Jawa dengan alasan lahan yang harus mereka olah adalah lahan gambut dan tidak bisa ditumbuhi oleh tanaman dengan baik. Setelah itu mereka kembali lagi ke PSP YSS. Hal ini yang mengakibatkan mereka secara tidak langsung memiliki jarak sosial yang tidak terlalu jauh. Selain itu, mereka tinggal di jalanan juga tidak dalam waktu yang lama.

“Alasannya itu sampai sini saya sewa sebulan 200.000, saya tidak mampu. Lalu sama Vincent dan Bu Sum didatangi diminta untuk pulang ke bawah” (KK3 L, P 3-4)

Alasan ini disampaikan oleh keluarga ketiga untuk menetap di PSP YSS. Mereka tidak mampu membayar sewa rumah. Mereka juga menginginkan agar anaknya bisa memiliki tempat yang lebih nyaman untuk tinggal, tidak merasa kedinginan lagi. Kehidupan ya ng lebih baik menjadi motivasi mereka untuk tinggal di masyarakat. Selain itu, mereka ingin agar ketika berada di masyarakat bisa menabung karena ketika di jalanan, mereka tidak bisa menabung.

Ketika mereka berada di masyarakat, ketegangan yang paling menonjol pada keluarga ini adalah ketegangan dengan tetangga. Awal konflik terjadi ketika mereka ingin membeli handphone dan tetangganya menawarkan handphonenya, tetapi ditolak dan keluarga ini memilih untuk membeli dari tempat lain. Tetangganya meminjam uang dan RL 3 meminta waktu untuk bicara dengan istrinya tetapi tetangganya lebih dahulu marah. Masalah ketiga terjadi ketika mereka dimintai nasi oleh tetangga tersebut tetapi tidak diberi karena keluarga ini tidak memasak. Ketika pulang, RP 3 membawa sisa nasi yang dimakan anaknya dan dibuang didepan rumah untuk makan anjing. Hal ini dilihat oleh tetangganya dan menimbulkan sakit hati. Sejak itu, tetangga tersebut membuat opini publik yang menyudutkan keluarga ketiga. Tetangga tersebut juga menggunjingkan dengan orang lain. RP 3 juga sempat merasa sakit hati karena dia tidak mendapatkan balasan yang setimpal. Ketika tetangganya sakit, RP 3 memberikan perhatian yang begitu besar, tetapi ketika anaknya sakit, tetangganya menjenguk saja tidak mau dan mengatakan kalau anaknya menjijikkan.

Keluarga ketiga, walaupun merasa dimusuhi, mereka tetap menyapa orang yang memusuhi walaupaun tidak direspon. Hal ini digunakan sebagai sarana untuk sedikit meredakan ketegangan. Kalaupun itu tidak berhasil, keluarga ketika akan diam dan tidak merespon apapun yang dilakukan oleh orang lain serta menerima perlakuan orang lain. Seperti yang diungkapkan oleh RL 3,

Hal ini dilakukan agar keluarga ini tidak terpengaruh dan terpancing oleh intimidasi orang lain. Akhirnya keluarga ini bersikap cuek terhadapat tetangganya.

Dukungan sosial yang mereka dapatkan dari volunter, staff dan frater PSP YSS berpengaruh positif terhadap keluarga ketiga. Volunter mereka jadikan tempat untuk berbagi cerita dan memecahkan masalah secara bersama.

Walaupun jarang keluar rumah, keluarga ketiga cukup aktif di masyarakat. Seperti yang diungkpakan oleh RL 3

“...ada tarikan sumbangan saya juga menyetor, jimpitan juga berangkat. Kalau Jumat Kliwon saya selalu memberi tiga ribu...” (KK3 L, R 18-20)

Mereka mengikuti siskamling, pertemuan Kliwonan, dan paling rajin melakukan kewajiban menyapu halaman setiap pagi. Ketika ada hajatan atau kematian, mereka juga menampakkan diri ke sana. Sewaktu ada peristiwa kematian, RL 3 menyempatkan diri untuk pulang dari tempat kerja dan melayat. Mereka juga sudah memiliki tabungan uang yang lumayan besar, selain itu mereka menginvestasikan uang mereka ke becak. Mereka sakarang memiliki lima buah becak. Keluarga ini memiliki keinginan yang besar untuk bisa kembali bertransmigrasi.

Saat ini, keluarga ini juga merasa nyaman membesarkan anak mereka di lingkungan masyarakat. Mereka merasa PSP YSS lebih mendukung perkembangan anak mereka dibandingkan dengan di jalanan.

Dokumen terkait