BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teoritis
2.1.6 Keluarga
2.1.6.1 Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan rumah tangga yang memiliki hubungan darah atau perkawinan atau menyediakan terselenggaranya fungsi-fungsi instrumental mendasar dan fungsi-fungsi ekpresif keluarga bagi para anggotanya yang berada dalam suatu jaringan, dan merupakan suatu kelompok kecil yang terstruktur dan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi pemeliharaan terhadap generasi baru
(Lestari, 2016:6). Menurut Koerner dan Fitzpatrick (dalam Lestari 2016), definisi tentang keluarga setidaknya dapat ditinjau berdasarkan tiga sudut pandang, yaitu definisi structural, definisi fungsional, dan definisi transaksional. Definisi Struktural, yaitu keluarga didefinisikan berdasarkan kehadiran atau ketidakhadiran anggota keluarga, seperti orang tua, anak, dan kerabat lainnya.
Definisi ini memfokuskan pada siapa yang menjadi bagian dari keluarga. Dari persepektif ini dapat muncul pengertian tentang keluarga sebagai asal usul (families of origin), keluarga sebagai wahana melahirkan keturunan (families of procreation), dan keluarga batih (extended family).
Definisi Fungsional, yaitu keluarga didefinisikan dengan penekanan pada terpenuhinya tugas-tugas dan fungsi-fungsi psikososial. Fungsi-fungsi tersebut mencakup perawatan, sosialisasi pada anak, dukungan emosi dan materi, dan pemenuhan peran-peran tertentu. Definisi ini memfokuskan pada bagaimana keluarga melaksanakan fungsinya.
Definisi Transaksional, yaitu keluarga didefinisikan sebagai kelompok yang mengembangkan keintiman melalui perilaku-perilaku yang memunculkan rasa identitas sebagai keluarga (family identity) berupa ikatan emosi, pengalaman historis, maupun cita-cita masa depan. Definisi ini memfokuskan pada bagaimana keluarga melaksanakan fungsinya.
Pada umumnya, fungsi yang dijalankan oleh keluarga seperti melahirkan dan merawat anak, menyelesaikan masalah, dan saling peduli antar anggotanya tidak berubah substansinya dari masa ke masa (Day,2010). Namun, bagaimana keluarga melakukannya dan siapa saja yang terlibat dalam proses tersebut dapat berubah dari masa ke masa dan bervariasi di antara berbagai budaya.
Secara Histority, keluarga terbentuk paling tidak dari satuan yang merupakan organisasi terbatas, dan mempunyai ukuran minimum, terutama pihak- pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Keluarga sebagai organisasi mempunyai perbedaan dengan organisasi-organisasi lainnya salah satu perbedaan yang cukup penting terlihat dari bentuk hubungan anggota-anggotanya yang lebih bersifat mendalam.
Ciri-ciri kelompok primer antara lain:
1. Mempunyai hubungan yang lebih intim 2. Kooperatif
3. Face to face
4. Masing-masing anggota memerlukan anggota lainnya sebagai tujuan bukannya alat untuk mencapai tujuan.
2.1.6.2 Keberfungsian Keluarga
Keluarga merupakan tempat yang penting bagi perkembangan anak secara fisik, emosi, spiritual, dan social. Karena keluarga merupakan sumber bagi kasih sayang, perlindungan, dan identitas bagi anggotanya. Keluarga menjalankan fungsi yang penting bagi keberlangsungan masyarakat dari generasi ke generasi (Minuchin,1974).
Menurut Berns (dalam Lestari, 2016) keluarga memiliki lima fungsi dasar, yaitu :
1. Reproduksi, keluarga memiliki tugas untuk mempertahankan populasi yang ada di dalam masyarakat.
2. Sosialisasi/edukasi, keluarga menjadi sarana untuk transmisi nilai, keyakinan, sikap, pengetahuan, ketrampilan, dan teknik dari generasi sebelumnya ke
generasi yang lebih muda.
3. Penugasan Peran Sosial, keluarga memberikan identitas pada para anggotanya seperti ras, etnik, religi, social ekonomi, dan peran gender.
4. Dukungan Ekonomi, keluarga menyediakan tempat berlindung, makanan, dan jaminan kehidupan.
5. Dukungan Emosi/Pemeliharaan, keluarga memberikan pengalaman interaksi social yang pertama bagi anak. Interaksi yang terjadi bersifat mendalam, mengasuh, dan berdaya tahan sehingga memberikan rasa aman pada anak.
2.1.6.3 Struktur Keluarga
Dari segi keberadaan anggota keluarga , maka keluarga dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keluarga inti (nuclear family) dan keluarga batih (extended family). Keluarga inti adalah keluarga yang didalamnya hanya terdapat tiga posisi social, yaitu suami-ayah, istri-ibu, dan anak-sibling (Lee,1982). Struktur keluarga yang demilikian menjadikan keluarga sebagai orientasi bagi anak, yaitu keluarga tempat ia dilahirkan. Adapun orangtua menjadikan keluarga sebagai wahana prokreasi, karena keluarga inti terbentuk setelah sepasang laki-laki dan perempuan menikah dan memiliki anak (Berns,2004). Dalam keluarga inti hubungan antara suami istri bersifat saling membutuhkan dan mendukung layaknya persahabatan, sedangkan anak-anak tergantung pada orangtuanya dalam hal pemenuhan kebutuhan afeksi dan sosialisasi.
Keluarga batih adalah keluarga yang didalamnya menyertakan posisi lain selain ketiga posisi diatas (Lee,1982). Bentuk pertama dari keluarga batih banyak ditemui di masyaakat adalah keluarga bercabang (stem family). Keluarga bercabang terjadi manakala seorang anak, dan hanya seorang, yang sudah menikah
masih tinggal dalam rumah orang tuanya. Bentuk kedua dari keluarga batih adalah keluarga berumpun (lineal family). Bentuk ini terjadi manakala lebih dari satu anak yang sudah menikah tetap tinggal bersama kedua orang tuanya. Bentuk ketiga dari keluarga batih adalah keluarga beranting (full extended). Bentuk ini terjadi manakala di dalam suatu keluarga terdapat generasi ketiga (cucu) yang sudah menikah dan tetap tinggal bersama.
Keluarga inti pada umumnya dibangun berdasarkan ikatan perkawinan.
Dimana perkawinan menjadi pondasi bagi keluarga, oleh karena itu ketika sepasang manusia menikah akan lahir keluarga yang baru. Adapun keluarga batih dibangun berdasarkan hubungan antargenerasi, bukan antarpasangan. Keluarga batih biasanya terdapat dalam masyarakat yang memandang penting hubungan kekerabatan.
2.1.6.4 Keluarga Sejahtera
Keluarga sejahtera adalah keadaan keluarga yang hidup makmur, dalam kelompok teratur, berdasarkan sistem nilai, bebas dari penyakit, tidak ada gangguan, dan menyenangkan. Berdasarkan konsep tersebut terdapat beberapa faktor yang perlu dikaji untuk menjelaskan konsep sejahtera, antara lain adalah faktor ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, keamanan, dan hiburan yang saling bertoleransi satu sama lain.
Faktor ekonomi berkenaan dengan kemakmuran yang pada dasarnya meliputi kecukupan sandang, pangan, dan perumahan yang diperoleh melalui kerja keras. Faktor sosial berkenaan dengan hidup berkelompok secara teratur.
Faktor budaya berkenaan dengan pola hidup berdasarkan nilai. Faktor kesehatan berkaitan dengan pola hidup bersih bebas penyakit. Faktor keamanan berkenaan
dengan ketentraman karena tidak ada gangguan fisik dan mental. Faktor hiburan berkenaan dengan kesenangan hidup yang menyegarkan. Apabila kehidupan suatu keluarga telah memenuhi faktor-faktor tersebut.
2.1.7 Definisi Konsep Kesejahteraan Sosial