• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis

2.1.4 Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Menurut undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, menjelaskan bahwa pemberhentian buruh atau pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan adalah pengakhiran atas kewajiaban yang ditimpa pekerja terhadap tanggung jawabnya kepada perusahaan atau instansi tertentu yang disebabkan oleh hal-hal tertentu.

Terdapat beberapa pengertian atau istilah dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) (Manulang, 1988:107) yaitu:

1. Termination, yaitu PHK yang terjadi karena selesainya atau berakhirnya kontrak kerja antara pengusaha dan pekerja yang telah disepakati.

2. Dismissal, yaitu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena tindakan indisipliner. Dalam hal ini PHK yang terjadi karena terdapat suatu pelanggaran pekerja yang menyebabkan permalasahan, namun sudah terjadi kesepakatan peraturan sebelum pekerja melakukan kesalahan.

3. Redundancy, yaitu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dikaitkan dengan perkembangan teknologi. Dalam hal ini PHK diakibatkan karena ada pergantian buruh dengan mesin-mesin canggih yang berperan menggantikan jasa buruh, sehingga terjadi kesenjangan antara buruh dengan mesih canggih yang dikembangankan untuk mempercepat pekerjaan dan efisien.

4. Retrenchment, yaitu Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dikatikan dengan masalah-masalah ekonomi sehingga perushaan tersebut tidak dapat/tidak mampu untuk memberikan upah kepada tenaga

kerja/karyawannya. Dalam hal ini PHK yang diakibatkan karena berkaitan dengan masalah-masalah ekonomi yang sedang terjadi, seperti masalah krisis ekonomi, pemasaran perusahaan, atau bahkan tutupnya perusahaan, sehingga perusahan tidak bisa memberi gaji terhadap pekerjanya.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pemutusan hubungan kerja adalah diberhentikannya tenaga kerja/karyawan secara individu atau berkelompok dari suatu perusahaan tempat tenaga kerja tersebut bekerja karena perusahaan sedang mengalami krisis atau pailit.

Menurut Hasan dalam Garaga (2017) adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) berdampak besar bagi kehidupan karyawan beserta keluarganya, adapun dampak PHK yaitu:

a.Dampak terhadap anggota keluarga yang di-PHK. Apabila yang mengalami PHK adalah kepala keluarga pasti akan merasa stres, sedih hingga menjadi kurang percaya diri.

b.Pergeseran peran dan tanggung jawab keluarga. Seseorang yang mengalami PHK mungkin merindukan suasana dan aktivitas pekerjaan. Berdiam diri terlalu lama di rumah akan menimbulkan kejenuhan.

c.Tekanan keuangan. Hal ini membuat masa pengganguran semakin sulit sehingga menimbulkan kecemasan dan dapat mengakibatkan konflik dalam hubungan keluarga.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan pengakhiran hubungan pekerjaan karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja dan pemberi kerja. Dalam dunia kerja, PHK merupakan sesuatu hal yang wajar dan sering ditemui. Pemutusan hubungan kerja seringkali

menimbulkan keresahan maupun kekhawatiran, khususnya bagi para pekerja karena akan berdampak bagi kelangsungan hidup dan masa depan para pekerja yang mengalaminya, menurut Yustisia (2015) menjelaskan terdapat tiga jenis-jenis pemutusan hubungan kerja, yaitu, pemutusan hubungan kerja oleh pihak pemberi kerja, pemutusan hubungan kerja oleh pihak pekerja dan hubungan kerja yang putus demi hokum.

Apa pun penyebab berakhirnya hubungan kerja antara perusahaan dan karyawannya disebut dengan Pemutusan Hubungan Karyawan. Bila kita bekerja pada orang lain, dan diterima sebagai karyawan pada suatu perusahaan. Berarti kita sudah menjalankan hubungan kerja antara karyawan dan perusahaan. Dengan adanya hubungan pekerjaan, karyawan mempunyai hak dan tanggung jawab begitupula dengan pihak perusahaan. Namun setiap orang yang bekerja memiliki waktu pengabdian di perusahaan yang berbeda-beda,ada yang hingga batas ketentuan yang telah disepakati, atau mungkin berakhir di tengah karier. Bagi yang telah mencapai batas perjanjian, tentu saja tidaklah bermasalah. Namun lain halnya dengan yang terpaksa harus berhenti ditengah masa kerjanya. Pemutusan hubungan kerja sangatlah berpengaruh terhadap kondisi perekonomian masyarakat yang sudah mengalami Pemutusan Hubungan Kerja dari perusahaannya.

2.1.4.2 Tenaga Kerja

Di Indonesia batas minimum usia tenaga kerja 10 tahun tanpa batas maksimum. Jadi yang tergolong tenaga kerja adalah seluruh penduduk yang berusia 10 tahun keatas. Penduduk yang berusia kurang dari 10 tahun tergolong sebagai bukan tenaga kerja. Pemilihan batas minimum usia tenaga kerja Indonesia

adalah berdasarkan kenyataan bahwa dalam usia tersebut sudah banyak penduduk terutama di desa-desa, yang sudah bekerja atau mencari pekerjaan.

Didalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan memberikan pengertian tenaga kerja adalah “setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat”. Jadi pengertian tenaga kerja menurut ketentuan ini meliputi tenaga kerja didalam maupun diluar hubungan kerja dengan alat reproduksi utamanya dalam proses produksi adalh tenaganya sendiri, baik tenaga fisik maupun pikiran ciri khas hubungan kerja tersebut diatas ialah bekerja dibawah perintah orang lain dengan menerima upah.

2.1.4.3 Hak – hak Tenaga Kerja

1. Tiap tenaga kerja berhak atas pekerjaan dan penghasilan yang layak bagi kemanusiaan

2. Tiap tenaga kerja berhak memilih atau pindah pekerjaan sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

3 Tiap tenaga kerja berhak atas pembinaan dan keahlian dan kejujuran untuk memperoleh serta menambah keahlian dan keterampilan kerja, sehingga potensi dan daya kerjanya dapat dikembangkan dalam rangka mempertinggi kecerdasan dan keterampilan kerja sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembinaan bangsa.

4. Tiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan, kesehatan, kesusilaan , pemeliharaan moril kerja serta perlakuan yang sesuai dengan martabat manusia dan moral agama.

5. Tiap tenaga kerja berhak mendirikan dan menjadi anggota perserikatan

tenaga kerja.

6. Tiap tenaga kerja berhak atas pembatasan waktu kerja, istarahat, cuti dan libur.

2.1.4.4 Prosedur Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)

Menurut pasal 61 Undang – Undang No. 13 tahun 2003 mengenai tenaga kerja, perjanjian kerja dapat berakhir apabila :

1. Pekerja meninggal dunia.

2. Jangka waktu kontak kerja telah berakhir.

3. Adanya putusan pengadilan atau penetapan lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

4. Adanya keadaan atau kejadian tertentu yang dicantumkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama yang dapat menyebabkan berakhirnya hubungan kerja.

Jadi, pihak yang mengakhiri perjanjian kerja sebelum jangka waktu yang ditentukan, wajib membayar ganti rugi kepada pihak lainnya sebesar upah pekerja/buruh sampai batas waktu berakhirnya jangka waktu perjanjian kerja.

Selain berakhirnya perjanjian kerja sebagaimana yang disebutkan pada pasal 61 Ayat (1) UU. No. 13 Tahun 2003 sebelumnya, PHK dapat dilakukan karena berbagai keadaan yang tidak dicantumkan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama, namun disebutkan dalam UU. 13 Tahun 2003 yaitu:

1. Pekerja/buruh yang mengundurkan diri atas kemauan sendiri (Psl. 162);

2. Perusahaan tutup yang disebabkan perusahaan mengalami kerugian secara

terus menerus selama 2 (dua) tahun (Psl. 164);

3. Keadaan memaksa (force majeur) (Psl. 164);

4. Pekerja/buruh telah melakukan kesalahan berat yang dapat dibuktikan (Psl.156);

5. Pekerja/buruh yang diberikan surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turut karena melakukan pelanggaran ketentuan yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama (Psl. 161);

6. Terjadi perubahan status, penggabungan, peleburan, atau perubahan kepemilikan perusahaan dan pekerja/ buruh tidak bersedia melanjutkan hubungan kerja (Psl. 163);

7. Perusahaan pailit (Psl.165);

8. Pekerja/buruh karena memasuki usia pensiun (Psl. 167);

9. Pekerja/buruh yang mangkir selama 5 (lima) hari kerja atau lebih berturut turut tanpa keterangan secara tertulis yang dilengkapi dengan bukti yang sah dan telah dipanggil oleh pengusaha 2 (dua) kali secara patut dan tertulis (Psl.

168);

Dokumen terkait