• Tidak ada hasil yang ditemukan

kelulusan peserta didik.

Dalam dokumen Jurnal PENABUR | Yayasan BPK PENABUR (Halaman 107-109)

khususnya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dapat dianalisis dan diolah lebih detail untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh tentang keadaan dan kondisi peserta didik. Rekam jejak peserta didik dalam mengerjakan soal-soal UN, seperti: soal-soal yang mudah dikerjakan, soal yang menjadi momok, pola dan cara menjawab peserta didik dan lainnya dikumpulkan dan diolah. Akan lebih baik, apabila ruang ujian dilengkapi dengan CCTV, dan peserta didik menggunakan wearable device untuk memantau denyut jantung, tekanan darah, volume pernapasan, dan kondisi fisiologi atau internal tubuh lainnya, maka apabila dilakukan pengolahan dan analisis data serta memban- dingkan dengan

data rekam jejak peserta didik untuk hal-hal di atas, maka dapat dihasil- kan masukan yang lebih detail, menda- lam dan akurat tentang kondisi setiap peserta didik dalam menghadapi ujian seperti halnya

UN. Data-data hasil analisis tersebut selanjutnya diberikan kepada sekolah-sekolah yang bersang- kutan, sebagai masukan bagi guru di sekolah tersebut untuk memperbaiki dan membuat pembelajaran yang lebih sesuai dengan kondisi peserta didik di sekolah yang bersangkutan.

Dari Data, Informasi, Pengetahuan, Pemahaman, dan Bijaksana menujuBig Data

Apakah big data itu dan bagaimana aplikasinya dalam dunia pendidikan?. Tulisan ini mencoba mendalaminya, namun sebelum melangkah lebih jauh dengan big data, mari mencermati apa yang dimaksud dengan informasi, data, dan pengetahuan sebagai langkah awal menuju dunia big data.

Dalam era teknologi informasi, seringkali sukar membedakan atau memilah-milah mana yang disebut dengan data, informasi, dan pengetahuan. MenurutBennet & Bennet(2004, 8) data adalah fakta-fakta objektif dalam bentuk

simbolyang mewakili sifat-sifat suatu objek atau peristiwa. MenurutBellinger, Durval Castro, & Anthony Mills (2004) data dapat berada dalam bentuk apapun, dapat digunakan atau tidak. Data ada dan tidak memiliki signifikansi di luar keberadaannya baik dari dalam dan dari dirinya sendiri. Data tidak memiliki makna sendiri. Beberapa hal yang dapat digolongkan sebagai data adalah angka, huruf, dan gambar tanpa konteks.

Informasi adalah data yang telah diberi makna dengan cara dihubungkan secara relasional. Informasi dapat menjawab pertanya- an-pertanyaan seperti apa, siapa, dimana, dan kapan. Informasi terdiri dari data-data yang telah diolah, dimana pengolahan dimaksudkan untuk m e n i n g k a t k a n kegunaan data tersebut. Misal- nya, petugas sen- sus mengumpul- kan data. Biro Sensus mempro- ses data, mengu- bahnya menjadi informasi yang disajikan dalam berbagai tabel yang diterbitkan dalam abstrak statistik. Seperti data, informasi juga mewakili sifat-sifat benda dan peristiwa, tetapi tidak begitu kompak dan berguna dari data. Pengetahuan merupakan aplikasi atau penerapan dari data dan informasi yang dimanfaatkan oleh setiap individu. Menurut Ackoff (1989) pengetahuan dapat menjawab tipe pertanyaan bagaimana (how). Turban, McLean, & Wetherbe (2004) menyatakan bahwa pengetahuan adalah informasi yang telah dianalisis dan diorganisasikan, sehingga dapat dimengerti dan digunakan untuk memecahkan masalah serta bermanfaat dalam pengambilan keputusan. Berikut contoh tentang pengetahuan pada peserta didik tingkat Sekolah Dasar (SD), dimana mereka sedang mempelajari tabel perkalian 1 x 1 s.d. 10 x 10. Ketika diberikan soal 8 x 8 = ?, mereka segera dapat dijawab dengan mudah, yaitu 64. Mari cermati lebih lanjut. Soal perkalian 8 x 8 masuk dalam tabel perkalian yang harus dipelajari dan dihapalkan. Namun, respon yang berbeda diperoleh, ketika soal

Data UN dapat dimanfaatkan lebih

dari sekedar untuk pemetaan

sekolah atau sebagai penentu

Big Data dalam Dunia Pendidikan

perkalian yang ditanyakan 356 x 24 = ?. Tidak serta merta mereka dapat menjawabnya, apalagi menjawabnya dengan benar. Soal perkalian itu tidak masuk dalam daftar yang harus dipelajari dan dihapalkan, walaupun di dalam soal tersebut terkandung satuan angka perkalian 2, 3, 4, 5 dan 6. Untuk menjawab benar soal matematika seperti itu dibutuhkan kemampuan kognitif dan analitis yang tingkatannya lebih tinggi daripada sekedar mempelajari dan menghapalkan tabel perkalian 1 sampai 10.

Dari pembahasan di atas, maka dapat dika- takan bahwa data akan membentuk informasi ketika sudah dikelola atau diorganisasi. Ketika informasi itu digunakan untuk memecahkan masalah atau bermanfaat dalam pengambilan keputusan, maka informasi itu menjelma menjadi pengetahuan. secara umum, pengetahu- an dapat diartikan sebagai justified true belief - kepercayaan atau keyakinan yang telah dinyatakan benar. Tahapan berikutnya adalah pemahaman. Menurut Bellinger, Durval Castro, & Anthony Mills (2004) pemahaman atau understanding merupakan proses yang bersifat interpolatif dan probabilistik. Hal tersebut tergolong pada ranah kognitif dan memerlukan kemampuan analitis. Sebuah proses mengguna- kan pengetahuan dan mensintesis atau menciptakan pengetahuan baru dari pengetahu- an yang dimiliki sebelumnya. Perbedaan antara pemahaman dan pengetahuan dapat dianalogikan seperti belajar dengan menghafal.

Orang yang memiliki pemahaman dapat melakukan tindakan-tindakan yang berguna, karena mereka mensintesis pengetahuan baru, atau setidaknya informasi baru dari apa yang sebelumnya telah dikenal dan dipahaminya. Artinya, ia membangun pemahaman dari informasi dan pengetahuan yang digunakannya sehari-hari. Tingkatan tertinggi adalah kebijaksanaan atau wisdom. Menurut Bernstein (2009, 69) bijaksana merupakan kemampuan untuk melihat konsekuensi jangka panjang dari tindakan yang dilakukan dan mengevaluasinya secara relatif terhadap kontrol total ideal atau yang disebut sebagai omnicompetence, maka bijaksana adalah area unik milik manusia. Manusia yang bijaksana memiliki jiwa, mampu mengendalikan hati dan pikirannya agar senantiasa berpikir, berkata, bertindak dan mengambil keputusan yang paling baik, adil serta bijaksana. Contoh Raja Salomo yang mengambil keputusan bijak, ketika diperhadap- kan kepada dua ibu yang mengakui satu bayi. Masing-masing ibu itu sudah melahirkan seorang bayi, namun saat tertidur salah seorang ibu menindih bayinya hingga meninggal. Ibu yang bayinya meninggal itu kemudian menukar bayinya dengan bayi ibu yang lainnya, karena mereka tinggal dalam satu rumah. Maka kedua ibu itupun bertengkar, menginginkan dan merebutkan satu bayi yang masih hidup. Perkara itu akhirnya dibawa ke hadapan Raja Salomo, untuk diputuskan. Demi keadilan, maka raja

Keterhubungan Pemahaman Infomasi Pengetahuan Kebijaksanaan Memahami relasi Memahami pola Memahami prinsip Data Bagan 1 Data-Informasi-Pengetahuan-Pemahaman-Kebijaksanaan

Big Data dalam Dunia Pendidikan

bermaksud untuk memenggal dan membagi bayi itu menjadi dua bagian menggunakan pedang. Sang ibu palsu senang mendengarnya, karenanya setuju dengan maksud Raja Salomo, namun sang ibu asli, demi kasihnya kepada anaknya supaya tetap hidup, rela memberikan bayi itu kepada sang ibu palsu. Dengan demikian terbongkarlah siapa ibu asli dan yang gadungan dari bayi yang diperebutkan itu.

Agar pemahaman kita menjadi lebih utuh dan lengkap, maka perhatikan Bagan 1 tentang alur Data-informasi-pengetahuan-pemahaman- kebijaksanaan menurut Bellinger, Durval Castro, & Anthony Mills (2004).

Untuk menyederhanakan alur di atas, maka menurut Robertson (2013, 5) dibuatlah metafora berikut. Data dapat diumpamakan sebagai bahan baku untuk

membuat roti panggang, seperti tepung, telur, garam, ragi, air, gula, dsb. Infor- masi dapat diang- gap seperti roti panggang yang dibuat meng- gunakan bahan-

bahan di atas. Sementara itu, pengetahuan dianalogkan dengan proses mengkonsumsi dan mencerna roti panggang tersebut. Pada bagian akhir, kebijaksanaan diumpamakan seperti kegiatan atau aktivitas yang dilakukan menggunakan energi yang berasal dari roti panggang yang telah dikonsumsi itu. Contoh lain diungkapkan oleh Bellinger G., Durval Castro, & Anthony Mills (2004) tentang peristiwa hujan. Data merupakan fakta atau pernyataan tanpa ada kaitannya dengan hal-hal lain. Contoh: Ini adalah hujan. Informasi mewujudkan pemahaman hubungan dari beberapa macam variable. Di dalamnya dapat terkandung muatan sebab dan akibat. Contoh: ketika suhu udara di atmosfer turun 15o, hujan

akan mulai turun. Pengetahuan dapat diibaratkan pola yang menghubungkan dan umumnya merujuk kepada tingkat prediktif yang lebih tinggi sebagai wujud penjelasan apa yang akan terjadi selanjutnya. Contoh: Jika kelembaban udara sangat tinggi dan suhu udara

turun secara signifikan di atmosfer, maka kelembaban tidak mampu ditahan, akibatnya turunlah hujan. Kebijaksanaan merupakan perwujudan lebih dari pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar yang terkandung dalam pengetahuan yang pada dasarnya menjadi landasan pengetahuan. Pada dasarnya kebijaksanaan adalah sistemik, utuh, dan menyeluruh. Contoh: Hujan terjadi karena hujan. Bijaksana dalam hal ini harus mencakup pemahaman utuh dari hulu sampai hilir kesemua interaksi yang terjadi di alam yang mencakup semua unsur dari hujan, penguapan, arus udara, gradien perubahan suhu, dan kembali kepada hujan.

Menurut yayasan TechAmerica (2012, 9) pada tahun 2011, lebih kurang 1,8 zetabytes i n f o r m a s i diciptakan secara global, dan jumlah itu diperkirakan bertambah dua kali lipat setiap tahun.

Volume data

tersebut setara dengan 200 miliar film dalam format High Definition (HD) yang berdurasi 2 jam, dimana orang yang menontonnya secara terus-menerus membutuhkan waktu selama 47 juta tahun. Lebih lanjut yayasan TechAmerica (2012, 10-11) menyatakan bahwa big data merupakan istilah yang menggambarkan data dalam volume besar, berkecepatan tinggi, kompleks dan data variabel yang memerlukan teknik canggih dan teknologi yang memungkinkan untuk melakukan pengum- pulan, penyimpanan, distribusi, manajemen, dan analisis informasi. Definisi dari volume big data adalah relatif dan berbeda-beda karena beberapa faktor seperti waktu dan jenis data. Apa yang hari ini dianggap sebagai big data mungkin esok sudah kedaluwarsa, karena tidak dapat memenuhi ambang batas di masa depan mengingat kapasitas penyimpanan akan semakin meningkat, sehingga data yang dikumpulkan juga menjadi makin besar. Selain itu, jenis data menentukan apa yang dimaksud dengan “besar” dalam terminologinya. Dua kumpulan data besar dengan ukuran yang sama

...big data merupakan istilah yang

menggambarkan data dalam

Dalam dokumen Jurnal PENABUR | Yayasan BPK PENABUR (Halaman 107-109)