• Tidak ada hasil yang ditemukan

mail: [email protected] Universitas Terbuka UPBJJ Bandung

Dalam dokumen Jurnal PENABUR | Yayasan BPK PENABUR (Halaman 55-59)

Penerapan Model Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar

E- mail: [email protected] Universitas Terbuka UPBJJ Bandung

Opini

A

Abstrak

nak memiliki tiga fungsi perkembangan pada usia 6 – 12 tahun, yaitu usia 6 -8 tahun merupakan periode sintese-fantastis, usia 8 – 10 tahun adalah periode 8 – 10 tahun, dan usia 8 – 10 tahun periode realisme kritis. Tulisan ini membahas 10 model pembelajaran yang sesusai dengan usia dan fungsi perkembangan anak usia SD (6 – 12 tahun). Disimpulkan, model terpadu, model bergalur, dan model jaring laba-laba sesuai untuk anak usia 6 – 8 tahun: model irisan, bergalur, jaring laba-laba, dan terpadu sesuai untuk anak usia 8 – 10 tahun: dan model terpisah, keterhubungan, sarang, pengurutan, irisan, bergalur, jaring laba-laba, terpadu, terbenam dan jaringan kerja sesuai untuk anak usia 10 -12 tahun.

Kata-kata kunci: model pembelajaran tematik, fungsi perkembangan, sekolah dasar.

Application of Thematic Learning Model in Primary School Abstract

The children have three periods of development functions within the age of 6 to 12 years : 6 – 8 years, the priod of synthetic-fantastic; 8 – 10 years, the period of naive realism; and 10 – 12 years, period of critical realism. This article discusses the instructional model suitable for the children of primary school age (6 – 12 years). It is believed integrated thematic instructon can meet the characters and needs of the primary school children. The analysis in this article concludes out of 10 instructional models, the integrated model, threaded model, and webbed model are suitable for the children of 6 – 8 years old; the shared, threaded, webbed, and integrated models for 8 – 10 years old, and fragmented, connected, nested, sequenced, shared, threaded, webbed, integrated, immersed, and networking models for 10 -12 years old.

Penerapan Model Pembelajaran Tematik

Pendahuluan

Pendekatan tematik diberlakukan di Indonesia sejak kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2002 untuk kelas 1 dan 2 SD di sekolah yang dijadikan pilot project. Sejalan dengan bergantinya kurikulum pada tahun 2004, pada era Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diberlakukan pendekatan tematik untuk kelas 1-3 SD di seluruh Indonesia. Pada tahun 2010 dikeluarkan Permendikbud No 22 Tahun 2010 yang menyebutkan antara lain, Sekolah Dasar harus menerapkan pendekatan tematik kelas 1-3 SD di seluruh Indonesia. Tahun 2013 KTSP diganti dengan Kurikulum 13 dan melalui Permendikbud No 54 Tahun 2013 diberlakukan pembelajaran tematik terpadu di kelas 1-6 SD untuk Sekolah Dasar yang ditetapkan sebagai pilot project. Memasuki tahun ajaran 2013/2014 penerapan pembelajaran tematik terpadu dilakukan serentak di Indonesia dan membawa banyak masalah dalam pelaksanaannya. Menteri Pendidikan menghentikan pembel- ajaran tematik terpadu dan kembali ke KTSP pada bulan Januari 2014. Hanya sekolah yang dijadikan pilot project yang menerapkan pembelajaran tematik terpadu. Buku guru dan buku siswa kelas 1-6 SD direvisi lagi sesuai konten dan perkembangan anak oleh pemerin- tah. Tahun ajaran 2016/2017 diberlakukan penerapan pembelajaran tematik-terpadu untuk 30% Sekolah Dasar yang ditunjuk sesuai keputusan Dirjen Pendasmen No: 374/KEP/D/ KR/2016 tanggal 11 Juli 2016 tentang perubahan atas keputusan Direktur Jenderal Pendasmen Nomor 305/KEP/D/KR/2016 tentang penetapan satuan pendidikan pelaksa- naan Kurikulum 2013. Permendikbud No 22 Tahun 2016 diterbitkan oleh Mendikbud yang menyatakan, penerapan pembelajaran tematik terpadu dilaksanakan di kelas 1 dan 4 SD dengan menggunakan buku guru dan siswa yang telah direvisi 2016. Penerapan pembelajar- an tematik terpadu ini akan berlanjut hingga tahun ajaran 2018/2019 secara bertahap mulai dari kelas 1 dan 4 kemudian 2 dan 5 dan terakhir kelas 3 dan 6 SD.

Perjalanan pembelajaran tematik dari 2012 sampai 2016 terus mengalami transformasi dimulai dari penentuan model pembelajaran

tematik yang ditentukan oleh pemerintah kemudian penyediaan buku bahan ajar untuk siswa yang dilengkapi dengan buku guru yang diterbitkan oleh Pemerintah masih terus menuai masalah. Kendala yang dihadapi guru mulai dari distribusi buku yang tidak tepat waktu sehingga saat siswa masuk SD buku belum tersedia. Buku terbaru revisi 2016 yang diterbit- kan pemerintah tidak sejalan dengan Permen- dikbud No 24 Tahun 2016 yang menyatakan matematika dan PJOK dicabut dari pembel- ajaran tematik terpadu. Pernyataan Permendik- bud tsb memberi banyak arti apakah mata pelajaran Matematika dan PJOK berdiri sendiri atau mata pelajaran tsb ditambahkan buku pengayaan? Kebingungan guru menjadi bertam- bah saat Permendikbud tsb dikeluarkan. Padahal guru sudah dibuat bingung untuk melaksanakan pembelajaran model tematik terpadu di kelas baik dari segi administrasi dan segi teknis mengajar di kelas.

Mengapa pembelajaran tematik terpadu sejak 2013 diterapkan di kelas 1-6 SD menuai banyak masalah? Pemerintah hingga kini belum menjawab atau menyelesaikan solusi. Penulis ingin mengkaji lebih dalam masalah tsb melalui kajian pustaka.

Rumusan Masalah

a. Apa alasannya pendekatan tematik cocok diterapkan pada siswa kelas SD?

b. Apakah pembelajaran tematik terpadu (integrated) satu-satunya model tematik yang paling tepat diterapkan di SD?

c. Model tematik seperti apa yang cocok diterapkan di SD sesuai perkembangannya?

Pembahasan

Menurut William Stren dalam Suderajat (2011:3), anak pada usia 4-12 tahun berada dalam stadium keadaan. Artinya, pada masa tersebut pandangan anak terhadap dunia luar masih bersifat global, belum bisa melihat ke arah yang lebih rinci. Contoh seorang anak A melihat seekor gajah di kebun binatang maka anak tersebut akan mengamati secara antusias bagaimana bentuk seekor gajah secara keseluruhan, mereka tidak tertarik untuk mengamati lebih rinci

Penerapan Model Pembelajaran Tematik

misalnya pada bagian kaki dan belalai gajah terdapat apa saja, atau bahkan apa yang terjadi di bagian pencernaan gajah ketika gajah makan, dan seterusnya. Pandangan anak pada masa usia tersebut melihat seekor gajah adalah hewan yang besar badannya memiliki belalai panjang untuk membelai dan mengambil makanan. Itu saja yang ada dalam pikirannya. Semakin usia bertambah maka anak akan berpikir lebih detail dan logis, anak akan antusias untuk mencari tahu, mengapa gajah memiliki telinga yang lebar? Bagaimana gajah menopang tubuh yang besar? Banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam pikiran anak yang memasuki remaja. Semakin tertarik pada gajah, anak tersebut akan mencari tahu lebih banyak mengenai gajah dari berbagai sumber informasi. Mungkin kelak anak tersebut akan masuk ke perguruan tinggi dan mengambil jurusan hewani untuk meneliti lebih jauh mengenai hewan gajah. Dari ilustrasi tersebut, terlihat jelas pola pikiran manusia dari masa kanak-kanak sampai masa dewasa muda akan berubah dari mulai berpandangan global (holistic) secara berangsur-angsur akan terpisah- pisah (fragmented).

Dalam pembahasan ini khusus mengenai anak SD, Oswold Kroh dalam Suderajat (2011:3) membagi 3 periode perkembangan pengamatan yaitu periode sintesis-fantasi pada usia 6-8 tahun. Artinya, pandangan objektif terhadap ciri benda masih global dan samar walaupun sudah dapat mengamati, mengklasifikasi, menghitung dan menghubung-hubungkan. Periode realisime-naif pada usia 8-10 tahun artinya, anak telah mampu membeda-bedakan sifat dan mengenal bagian- bagian dari ciri sebuah benda walaupun hubungan antara bagian itu belum tampak seluruhnya. Peran serta fantasinya mulai berkurang, diganti dengan pengamatan yang nyata (realitas). Pada masa ini anak cenderung menerima apapun tanpa kritik. Periode realisme- kritis pada usia 10-12 tahun artinya, anak sudah mampu melihat dunia nyata lebih jelas karena sudah mampu untuk menganalisis sehingga dia tidak senang dongeng lagi.

Pola pikiran anak usia SD masih bersifat global dan tujuan pembelajaran anak SD adalah pengenalan lingkungan sekitar agar mereka dapat menggunakannya untuk bertahan hidup lebih baik. Dengan demikian, model pembel-

ajaran tematik cocok diterapkan pada masa usia tersebut. Selama ini model fragmented (terpisah- pisah) pembelajaran menjadi kurang bermakna karena informasi yang diterima terpisah-pisah seolah berdiri sendiri-sendiri. Model pembelajar- an tematik yang menggunakan tema dan mengaitkan beberapa mata pelajaran, penilaian, dan komponen lainnya merupakan salah satu upaya memperkecil kebingungan anak saat proses informasi masuk ke sistim otaknya. Mengaitkan ke dalam kehidupan nyata(direct experiences) sebagai sumber belajar saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, akan memberi makna positif dan daya ingat yang lama. Motivasi intrinsik akan mempengaruhi kemam- puan anak menyerap informasi cepat dan tahan lama karena rasa senang anak saat belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Ki Hajar Dewanta- ra, posisi siswa SD sebagai subyek dan pada masa usia tersebut guru/orang tua dapat memberi anjuran/nasihat/dorongan bukan memaksakan kehendaknya (1962:156).

Ada beberapa alasan bahwa pembelajaran tematik cocok diterapkan pada masa usia anak SD antara lain: pola pikir anak holistik, masih senang bermain, rasa ingin tahu yang tinggi, pembelajaran tema mengajak anak untuk belajar bermakna, dan pengadaptasian dari TK ke SD. Pembelajaran tematik adalah suatu pembel- ajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa dengan mengaitkan dengan sebuah tema. Dalam proses belajarnya, model pembelajaran terpadu anak dapat membuat hubungan yang bermakna dan relevan antara berbagai mata pelajaran yang berbeda. Selain menciptakan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi, anak akan mendapat banyak pengalaman langsung Oleh karena itu, model pembelajaran terpadu adalah cara yang layak untuk memungkinkan pembelajaran yang bermakna menjadi kenyataan.

Pendekatan tematik menjadi acuan pemerin- tah untuk diterapkan di SD. Melalui Permendik- bud No 22 Tahun 2010 dan Permendikbud No 54 Tahun 2013 menyatakan, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di SD kelas 1-6 menggunakan model tematik terpadu (Integrated). Pelaksanaannya secara bertahap dari kelas 1-6 dimulai tahun 2014 sampai 2019, tema yang

Penerapan Model Pembelajaran Tematik

diajarkan sudah ditetapkan oleh pemerintah dan buku tematik baik siswa dan guru pun sudah disediakan oleh pemerintah. Banyak keluhan guru kelas 4-6 SD dalam menerapkan model tematik terpadu (integrated). Guru tidak diberi keleluasaan dalam memilih model tematik yang cocok diterapkan sesuai kondisi sekolah dan kemampuan gurunya. Padahal, model pembelajaran suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan pengajaran, tahap kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas (Sukmadinata, 1995: 51). Fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pemilihan model ini sangat dipengaruhi oleh sifat materi yang akan diajarkan, dan juga dipengaruhi oleh tujuan yang akan dicapai dalam pengajaran tersebut serta tingkat kemampuan siswa.Dari penjelasan tersebut, model pembelajaran tematik yang digunakan tidak dapat disamakan antara satu sekolah atau satu guru dengan lainnya.

Dalam hal ini penulis mengacu pada Robin Fogarty dan Brian M. Pete dalam bukunya The Mindful School: How to Integrate the Curricula. Beliau menyatakan, menggabungkan keteram-

Gambar 1

Dimensi Keterkaitan Ide Menurut Fogarty

1. Fragmented: Pembel- ajaran yang mengguna- kan mata pelajaran terpisah dan berdiri sendiri.

2. Connected: Memadu- kan topik bahasan atau konten dalam sebuah tema pada sebuah mata pelajaran.

3. Nested: Memadukan berbagai keterampilan, sikap, pola berpikir dalam sebuah mata pelajaran menjadi sebuah kegiatan yang utuh.

4. Sequenced: Menata ulang dan

mengurutkan konsep atau konten dalam sebuah mata pelajaran.

5. Shared: Memadukan konten atau topik bahasan dalam sebuah tema pada dua buah mata pelajaran menjadi satu kesatuan .

6. Webbed: Memadu- kan konten atau topik bahasan dalam sebuah tema pada beberapa mata pelajaran namun masih berdiri sendiri kekhasan mata pelajarannya.

7. Threaded: Mengguna- kan berbagai keteram- pilan seperti berpikir, sosial, teknologi, kecerdasan majemuk yang tersembunyi dalam kurikulum di munculkan dalam konsep beberapa mata pelajaran yang terkait.

8. Integrated:

Memadukan konten atau topik bahasan dalam sebuah tema pada beberapa mata pelajaran menjadi sebuah satu kesatuan utuh.

9. Immersed: Termoti- vasi untuk mendalami suatu topik,siswa aktif mencari sendiri literasi topik dari pengalaman nara sumber dan buku.

10. Networked: Keingin- an siswa sendiri untuk membuat proyek dengan menggunakan konsep dari beberapa mata pelajaran yang saling terkait dan cara kerja ilmiah.

Gambar 2

Ilustrasi dan Definisi 10 Model Pembelajaran Tematik

Penerapan Model Pembelajaran Tematik

No 1 No 2 No 3

Within single discipline Across several disciplines

No 4 No 5 No 6 No 7 No 8 No 9 No 10

Within and across learners

Gambar 3

Katagori Pembagian Berdasarkan Keterpaduan Mata Pelajaran

pilan, tema dalam kehidupan nyata, konsep, dan topik dalam berbagai mata pelajaran, mengguna- kan keterkaitan ide satu dengan ide lainnya. Keterkaitan ide dapat ditinjau dari dua dimensi, dari jenjang atau kelas menyerupai spiral artinya materi berkesinambungan dari kelas PAUD hingga SMA dan yang lainnya konsep dari berbagai mata pelajaran akan membentuk satu kesatuan utuh pada siswa untuk dapat diterapkan pada kehidupan nyata (Fogarty dan Pete, 2005:5-29). Dimensi keterkaitan ide itu dapat dilihat pada Gambar 1.

Selanjutnya Fogarty dan Pete (2009:1-98) memaparkan ada 10 jenis model pembelajaran tematik dapat dilihat pada Gambar 2. Model- model pembelajaran tematik yang dipaparkan Fogarty dan Pete dapat dikatagorikan menjadi 3 bagian yaitu within single discipline (dalam satu mata pelajaran) artinya proses pembelajaran menggunakan tema dalam sebuah mata pelajaran seperti model fragmented (penggalan), connected (keterhubungan), dan nested (sarang). Katagori kedua adalah across several disciplines (beberapa mata pelajaran) artinya menggabung- kan beberapa mata pelajaran melalui sebuah tema dalam proses pembelajaran di kelas seperti model pembelajaran tematik model sequenced (pengurutan), shared (irisan), webbed (jaring- jaring), dan threaded (bergalur). Katagori ketiga adalah within and across learner menggabungkan beberapa mata pelajaran oleh sipembelajar secara internal karena rasa ingin tahu yang tinggi dari dirinya. Oleh karena itu hal yang dipelajari satu siswa dengan siswa lain bisa berbeda tema seperti model pembelajaran tematik model immersed (terbenam) dan networked (jaringan kerja). Pembagian model pembelajaran tematik dapat dilihat pada Gambar 3.

Dari ulasan 10 model tematik yang sudah dijelaskan, dapat diambil kesimpulan, penggunaan model tematik tersebut disesuaikan

dengan perkembangan siswa, kondisi sekolah/ budaya dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Model pembelajaran tematik sebagai sarana untuk membantu siswa lebih termotivasi belajar. Semua model pembelajaran ada keunggulan dan kelemahannya. Alangkah baiknya seorang guru mempergunakan berbagai macam model pembelajaran di kelas. Menggunakan satu macam model pembelajaran saja akan mempengaruhi motivasi belajar siswa serta perkembangan siswa seperti daya nalar, sikap serta keterampilannya. Sepuluh (10) model pembelajaran tematik tersebut dapat digunakan untuk siswa SD. Gurulah yang berperan penting untuk memilih konten, mata pelajaran, kriteria apa saja yang akan dinilai, tujuan mengajar serta mata pelajarannya yang akan diajarkan sehingga penggunaan tema mempermudah siswa untuk belajar bukan malah menjadi beban guru dan siswa. Model tematik beragam bentuk dan tujuannya. Alangkah bijak jika memberi kebebasan kepada setiap sekolah di Indonesia untuk memilih sendiri model pembelajaran tematik yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan sekolah. Model pembelajaran yang bervariasi akan membuat siswa tidak senang dan antusias dalam belajar.

Dalam dokumen Jurnal PENABUR | Yayasan BPK PENABUR (Halaman 55-59)