Diterbitkan oleh:
BADAN PENDIDIKAN KRISTEN PENABUR (BPK PENABUR)
I S S N : 1412-2588
Jurnal Pendidikan Penabur (JPP) dapat dipakai sebagai medium tukar pikiran, informasi, dan penelitian ilmiah para pemerhati masalah pendidikan.
Penanggung Jawab Ir. Suwandi Supatra, MT.
Pemimpin Redaksi Prof. Dr. BP. Sitepu, M.A.
Sekretaris Redaksi Rosmawati Situmorang
Dewan Editor Prof. Dr. BP. Sitepu, M.A. Dr. Ir. Hadiyanto Budisetio, M.M.
Dr. Elika Dwi Murwani, M.M. Etiwati, S.Pd., M.M. Ir. Budyanto Lestyana, M.Si.
Alamat Redaksi :
Jln. Tanjung Duren Raya No. 4 Blok E Lt. 5, Jakarta Barat 11470 Telepon (021) 5606773-76, Faks. (021) 5666968
Jurnal Pendidikan Penabur
Nomor 27/Tahun ke-15/Desember 2016ISSN: 1412-2588
Daftar Isi, i
Pengantar Redaksi, ii - v
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran Menulis Surat Pribadi dengan Model Writing Process, Sakila, 1-17
Pengaruh Perhatian Orang Tua dan Interaksi Teman Sebaya Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Kimia, Lida Betsaida Sipayung, 18-29
Pemetaan Profil Guru BPK PENABUR Jakarta Berdasarkan Kriteria PENABURS, Djudjun Djaenudin, 30-47
Penerapan Model Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar, Hilda Karli, 48-66
Sumbangsih Karya Nabi Perjanjian Lama Bagi Guru Pendidikan Agama Kristen, Maria Evvy Yanti, 67-85
Memperkuat Rasa Kebangsaan Melalui Bahasa Indonesia, I. Praptomo Baryadi, 86-97
Big Data Dalam Dunia Pendidikan, Mudarwan, 98-107
Isu Mutakhir: Program Belajar Seharian di Sekolah (Full Day School), Hotben Situmorang, 108-112
Resensi buku:Pendidikan Karakter di Sekolah, Harun D. Simarmata, 113-118
Pengantar Redaksi
anusia merupakan mahluk ciptaan Tuhan yang paling unik dibandingkan dengan berbagai mahluk lainnya. Manusia bukan hanya memiliki jiwa dan raga, tetapi juga memiliki perasaan serta kemampuan berpikir yang tinggi. Wajarlah, kalau Tuhan menugasi manusia menguasai seluruh ciptaan-Nya. Sedemikian unik dan rumitnya manusia sehingga sampai sekarang ini pemahaman atas manusia belum lengkap dan penelitian tentang manusia masih terus dilakukan dari berbagai aspek. Salah satu contoh, pengetahuan tentang prilaku dan proses belajar manusia belum diketahui secara utuh dan tepat walaupun sudah banyak penelitian dan kajian untuk melengkapi pengetahuan.
Sebagai contoh teori behaviourisme menjelaskan, prilaku manusia pada hakikatnya merupakan reaksi atau respons terhadap stimulus yang kemudian juga terbukti tidak selalu benar. Dalam konteks belajar, aliran ini beranggapan prilaku manusia dapat dibentuk sesuai dengan keinginan lingkungannya. Kemudian, penelitian lebih lanjut menemukan prilaku manusia tidak terjadi secara reaktif dan spontan akibat stimulus yang diterimanya. Manusia adalah mahluk berpikir sehingga prilakunya bukan semata-mata merupakan perilaku mekanistik tetapi didasari oleh proses berpikir dalam dirinya. Dengan demikian, dalam proses belajar, manusia tidak boleh diperlakukan semena-mena dan kemampuan berpikirnya perlu diperhatikan. Aliran yang kemudian disebut kognitivisme ini berkembang dengan meneliti bagaimana sebenarnya manusia membangun pengetahuannya melalui proses belajar. Aliran konstruktivisme menjelaskan bahwa manusia membangun pengetahuan serta membentuk persepsinya dengan mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Dalam proses pembelajaran, pengetahuan awal peserta didik perlu diketahui serta pengetahuan baru dikaitkan dengan pengetahuan awalnya. Cara ini akan mempermudah peserta didik memahami dan menguasai pengetahuan baru. Lebih lanjut lagi, interaksi antara pengetahuan baru dengan pengetahuan lama dapat menghasilkan pengetahuan atau gagasan baru sama sekali sebagai akibat kemampuan manusia berpikir atau bernalar. Kajian terhadap teori belajar dan membelajarkan berkembang terus.
Lama diyakini, manusia memiliki kemampuan belajar yang dibatasi oleh usia sehingga anak tidak boleh dipaksa mempelajari sesuatu yang di luar batas kemampuan berpikirnya. Pendapat ini benar dalam banyak hal, misalnya anak sulit memahami konsep yang abstrak sebelum mengenal konsep yang kongkrit. Akan tetapi, tidak jarang terjadi kemampuan berpikir dan belajar anak dibatasi dan tidak dioptimalkan karena kekhawatiran keterbatasan kemampuan berpikir anak. Lev Vygotsky (1896 – 1934) ahli perkembangan sosial dari Rusia mengemukakan, interaksi sosial memainkan peranan mendasar dalam proses perkembangan kognitif anak. Berbeda dengan teori Jean Piaget yang berpendapat perkembangan anak mendahului belajar. Interaksi
sosial anak dengan lingkungannya, khususnya dengan orang dewasa, membantu kemampuan belajar anak. Dia mengemukakan kesenjangan kemampuan anak belajar dengan masalah yang harus dia pecahkan, dapat difasilitasi dan dijembatani melalui interaksi dengan orang dewasa. Kesenjangan itu disebut oleh Vygotsky sebagai The Zone of Proximal Development (ZPO). Di wilayah inilah sebenarnya proses belajar terjadi dan di sinilah antara lain diharapkan peranan guru, orang tua dan lingkungan membantu anak mengoptimalkan kemampuan belajarnya.
Dalam interaksi dengan lingkungannya, anak menggunakan bahasa verbal dan tulisan untuk memediasi lingkungan sosial mereka. Dengan demikian, mengembangkan kemampuan anak berbicara dan menulis akan membantu anak belajar dan meningkatkan kemampuannya melalui komunikasi dengan orang dewasa sehingga hasil belajarnya menjadi optimal serta melebihi kemampuannya yang semula diperkirakan. Akan tetapi tidak jarang terjadi orang dewasa membatasi kemampuan anak karena menganggap belum sesuai dengan kemampuan fisik atau mentalnya. Vygotsky percaya internalisasi kemampuan berbicara dan menulis yang selama ini dianggap sebagai alat komunikasi sosial anak, dapat dipergunakan sebagai alat untuk menuntun anak ke kemampuan berpikir tingkat lebih tinggi. Oleh karena itu dapat dimaklumi mengapa membaca, menulis, dan berhitung menjadi kemampuan dasar yang perlu dimiliki oleh setiap orang untuk dapat belajar lebih lanjut sepanjang hayat.
Sejalan dengan pendapat Vygotsky dalam mengoptimalkan belajar, melalui teori belajar sosial, Bondura (1977) mengemukakan pada hakikatnya manusia belajar satu sama lain melalui mengamati, meniru, dan mencontoh. Teori yang menjembatani aliran behaviorisme dan kognitivisme ini mengakui belajar dapat terjadi melalui interaksi sosial. Oleh karena itu, belajar dalam kelompok atau beregu dapat mendorong anak untuk saling belajar dan membelajarkan serta dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi anak.
Pengalaman menunjukkan, tidak ada suatu pendekatan, strategi, metode, atau teknik belajar yang dapat dipergunakan secara efektif dan efisien untuk semua keperluan/tujuan dan semua situasi. Teori belajar yang ada perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi yang nyata dihadapi. Oleh karena itu, guru diharapkan memperhatikan karakteristik peserta didik, kompetensi yang hendak dicapai, bahan pelajaran, sumber belajar, serta lingkungan belajar. Kemudian, guru memilih strategi, metode, dan teknik pebelajaran yang sesuai. Hal ini juga yang mendorong guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan yang hendak dicapai serta anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan. Di samping itu, penelitian tindakan kelas akan melibatkan peserta didik lebih aktif mulai dari mengenali serta mengatasi masalah belajar yang dihadapinya, serta mendorong guru lebih kreatif memfasilitasi peserta didik belajar.
sebelumnya berbagai pengaruh perlu dipertimbangkan dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik serta memudahkan mereka belajar. Penelitian dan kajian akan bergulir terus sesuai dengan kondisi belajar yang terus menerus juga berubah dan berkembang. Dalam hubungannya dengan interaksi sosial dalam proses pembelajaran seperti yang dikemukakan Vygotsky dan Bondura, dalam Edisi ini juga dimuat tulisan tentang pengaruh orangtua dan teman sebaya terhadap kemampuan memecahkan masalah dalam mata pelajaran Kimia. Di samping itu, dapat juga dibaca tentang kreatifitas guru dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa SD, khususnya menulis surat pribadi melalui model proses menulis.
Masih dalam kaitannya dengan teori belajar dan membelajarkan, anak pada hakikatnya berhadapan dengan dan menghadapai lingkungannya secara utuh bukan secara terpisah-pisah atau parsial. Dalam berinteraksi sosial, anak menggunakan berbagai kemampuan dan pengetahuan seperti kemampuan berbahasa, berhitung, pengetahuan alam dan sosial. Dengan demikian, belajar juga seharusnya dilakukan secara terintegrasi mencakup berbagai kemampuan dan pengetahuan. Pemikiran ini melahirkan pendekatan belajar secara tematik. Pembelajaran tematik, khususnya di SD, dikaji secara lengkap dalam salah satu tulisan dalam Edisi ini.
Data atau informasi sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan. Akan tetapi sering sulit mendapatkan data yang lengkap, akurat, dan valid sehingga terpaksa pengambilan keputusan ditunda atau keputusan tetap diambil tanpa dukungan data yang lengkap sehingga keuputusan yang diambil bisa keliru. Di lembaga pendidikan juga terkumpul berbagai data dan informasi, khususnya berkaitan dengan peserta didik, seperti latar belakang, nilai, serta perkembangan kepribadian setiap peserta didik sejak ia masuk sampai keluar dari lembaga pendidikan itu.
Dewasa ini data dan informasi dapat dikumpulkan, diolah, dan disimpan secara on-line menggunakan komputer dan berbagai jenis gadget. Data dan informasi juga dapat disimpan sebagai data base yang dengan sistem tertentu dapat diakses dan dipergunakan oleh orang/ pihak yang berkepentingan. Berbagai kesulitan dalam mendata dan mengolah hasil penilaian peserta didik dapat diatasi dengan menggunakan teknologi informasi serta disajikan dan dimanfaatkan dengan menggunakan teknologi komunikasi. Tulisan berjudul Big Data Dalam Pendidikan menjelaskan bagaimana Big Data dipergunakan tidak hanya menggambarkan hasil belajar peserta didik, menentukan kelulusan, atau melakukan pemetaan mutu pendidikan, tetapi dapat dipergunakan menganalisis lebih detail tentang keadaan/kondisi peserta didik, serta menganalisis tingkat kesulitan soal. Untuk meningkatkan mutu manajemen pendidikan di sekolah serta membantu guru mengadministrasikan penilaian atas peserta didik, pemanfaatan dan pengembangan Big Data ini perludi pertimbangkan oleh pengelola sekolah.
BPK PENABUR memiliki karakter yang melandasi tindakan mereka dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik atau tenaga kependidikan. Oleh karena itu, sebagai acuan, BPK PENABUR Jakarta merumuskan karakter itu dengan singkatan PENABURS: Profesionalitas, Entusias, Nurture, Ability To Learn, Believe In God, Unselfishness, Respect, Satisfaction. Karakter ini diharapkan dapat memotivasi semua pendidik dan tenaga kependidikan di BPK PENABUR Jakarta untuk melaksanakan visinya “Menjadi Lembaga Pendidikan Kristen Yang Unggul dalam Iman, Ilmu dan Pelayanan” dengan misi “Mengembangkan Potensi Peserta Didik Secara Optimal Melalui Pendidikan dan Pengajaran Bermutu Berdasarkan Nilai Kristiani.”
Dalam pendidikan agama Kristen, guru menggunakan berbagai sumber untuk tidak semata-mata memberikan pengetahuan agama Kristen kepada siswa, tetapi menanamkan nilai-nilai Kristiani dalam diri siswa untuk diwujudkan dalam prilakunya sehari-hari. Di samping aneka sumber yang biasa dipakai oleh guru, ada baiknya juga dikaji dan ditelisik apa yang dapat dimanfaatkan oleh guru Agama Kristen dari pesan para Nabi Perjanjian Lama. Tulisan yang berkaitan dengan topik ini memberikan kajian yang cukup mendalam serta dapat memperluas wawasan guru dan memperkaya bahan pelajaran Agama di kelas.
Belakangan ini isu berkaitan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila ramai diperbincangkan. Sejak awal pendiri bangsa ini menyadari benar kemajemukan yang dimiliki masyarakat Indonesia seperti berbagai suku, agama, ras, dan golongan. Kemajemukan itu harus dilestarikan dan dipertahankan dengan memegang teguh Sumpah Pemuda yang intinya ‘Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa’. Bagaimana bahasa Indonesia dapat memperkuat rasa kebangsaan Indonesia menjadi salah satu ulasan dan memberikan pemahaman dalam konteks pendidikan.
Keinginan meningkatkan mutu pendidikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa memunculkan berbagai gagasan seperti perubahan kurikulum dan belakangan ini juga terdengar gagasan ‘Full Day School’ yang menimbulkan polemik di kalangan pendidik dan masyarakat awam. Salah satu tujuan program ini ialah memberikan pendidikan karakter kepada siswa yang mungkin efektif di daerah tertentu tetapi belum tentu di daerah lain karena perbedaan situasi, lingkungan, dan budaya. Tetapi diakui, betapa pentingnya pendidikan karakter, sebagaimana juga dibahas dalam risensi buku Pendidikan Karakter di Sekolah dalam edisi ini. Untuk melengkapi isi Edisi Desember 2016 ini, dimuat pula profil BPK PENABUR Indramayu sebagai bahan informasi kepada pembaca. Semoga tahun 2017 memberikan harapan dan semangat baru bagi kita semua dalam limpahan rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Amin.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran
Menulis Surat Pribadi dengan Model
Writing Process
Sakila
E-mail: [email protected]
SMP Negeri 2 Singkawang Kalimantan Barat
Penelitian
P
Abstrak
enelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis surat pribadi dengan menggunakan model writing process (proses menulis) pada siswa kelas 7 D SMPN 2 Singkawang. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi. Subjek penelitian adalah guru dan siswa kelas 7 D pada SMPN 2 Singkawang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah lembar obervasi dan lembar tes. Teknik pengumpulan data teknik analisis dan data tes kemampuan menulis surat pribadi dengan menggunakan model proses menulis. Data observasi dianalisis menggunakan rata-rata skor dan kriteria skor, sedangkan data hasil tes dianalisis dengan menggunakan rata-rata nilai persentase ketuntasan belajar klasikal. Dari analisis data menunjukkan bahwa persentase peningkatan hasil belajar siswa menulis surat pribadi pada tiap siklus dapat dilihat dari persentase ketercapaian siswa yang diperoleh pada siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata siswa yang diperoleh pada siklus I sebesar 79,46. Dan nilai rata rata siswa yang diperoleh pada siklus II sebesar 82,35. Hal ini menunjukkan terjadinya peningkatan hasil belajar menulis surat pribadi siswa pada tiap siklus. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model writing process dapat meningkatkan hasil belajar menulis surat pribadi di kelas 7 pada SMPN 2 Singkawang.
Kata-kata kunci: kemampuan menulis, surat pribadi, model writing process.
Improving Student Learning Outcomes In Learning Personal Letter Writing With Model Writing Process
Abstract
This study aims to improve student learning outcomes in writing a personal letter using the model writing process (writing) in grade 7 D SMPN 2 Singkawang. This research is a classroom action research. This research was conducted in four phases: planning, implementation phase of action, observation and reflection stages. The subjects were teachers and students in grade 7 D at SMPN 2 Singkawang.The research instrument used is the observation sheet and test sheet. Data collection techniques and data analysis techniques test the ability to write a personal letter using the writing process model. Observation data were analyzed using the average score and the criterion score, while the test data were analyzed by using the average value of the percentage of completeness classical study. From the analysis of the data showed that the percentage increase in student learning outcomes wrote a personal letter to each cycle can be seen from the percentage of student achievement obtained in the first cycle and the second cycle. The average value of students obtained in the first cycle of 79.46. and the average score of students who obtained the second cycle of 82.35. This shows an increase learning outcomes students write personal letters to each cycle. From these results it can be concluded that by using a model of the writing process can improve learning outcomes wrote a personal letter in the 7th grade at SMPN 2 Singkawang.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Pendahuluan
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 41 ayat (3) mengamanatkan kepada pemerintah dan pemerintah daerah untuk memfasilitasi satuan pendidikan dengan pendidik dan tenaga kependidikan yang diperlukan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang berfungsi untuk menyiapkan peserta didik agar dapat menghadapi tantangan dan perubahan dalam kehidupan lokal, nasional dan global melalui pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan (Kemendikbud, 2013:1)
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, guru sebagai salah satu subsistem dalam sistem pendidikan nasional memiliki peran strategis dalam mempersiapkan peserta didik untuk menjadi manusia Indonesia yang cerdas, antara lain cerdas spiritual, emosional, sosial, intelektual, maupun kinestetik. Selain itu, peran strategis juga diwujudkan dalam bentuk sebagai motor penggerak perubahan di dunia pendidikan.
Untuk mewujudkan peserta didik yang cerdas dan kompetitif tersebut, guru dituntut untuk senantiasa melakukan berbagai penyesuaian dan inovasi dalam pembelajaran. Salah satunya adalah menggunakan model atau metode pembelajaran di kelasnya.
Menurut Darliana dalam Alawiyah (2015:55) keberhasilan peningkatan hasil belajar siswa bergantung pada keterlibatan aspek-sikap, minat belajar, keterampilan berpikir, pengetahuan, dan psikomotor dalam pembel-ajaran. Keberhasilan siswa menguasai pengeta-huan bergantung pada tinggi rendahnya ketiga aspek- lainnya yang dimiliki siswa tersebut. Selanjutnya, menurut Herawati (2015:89) keberhasilan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang nyata dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun, sekolah/lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan nyata apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalam lembaganya.
Lebih lanjut, menurut Herawati (2015: 89) guru dalam melaksanakan tugasnya perlu memaksimalkan kemampuan inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu kemampuan inovatif yang perlu dimaksimalkan guru dalam inovasi pendidikan yaitu inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran perlu dilakukan agar terciptanya program pembelajaran yang inovatif. Sudah seyogyanya program pembelajaran yang inovatif didesain menjadi sebuah kegiatan yang menarik agar suasana pembelajaran di dalam kelas tidak membosankan.
Pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas 7 dengan materi menulis surat pribadi, seorang guru yang mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia pada dasarnya mengharap-kan materi yang disampaimengharap-kan kepada siswanya dapat membuahkan hasil maksimal. Kenyataannya, setelah proses pembelajaran berakhir, masih banyak siswa mendapatkan nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Fenomena ini mengindikasikan, guru kurang kreatif menggunakan berbagai teknik dan metode pembelajaran yang inovatif. Guru masih terbiasa dengan cara konvensional, yaitu dengan banyak ceramah dalam penyam-paian materi. Sedangkan siswa secara individu menyimak bahan ajar masing-masing mengenai bentuk surat pribadi dan guru menyampaikan bagian-bagian surat sesuai dengan apa yang diamati oleh siswa (Haryanto, 2014).
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
inovatif dapat menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif.
Model pembelajaran menulis yang akan penulis terapkan dalam penelitian ini adalah model menulis berbasis writing process. Model ini mengacu pada kegiatan pembelajaran menulis yang menekankan aktivitas siswa menulis sesuai dengan tahapan menulis itu sendiri. Dengan demikian, siswa harus mampu secara mandiri menemukan, mengorganisasi, dan menyajikan ide dalam sebuah tulisan. Menggunakan model menulis berbasis writing process diharapkan dapat merangsang siswa kreatif dalam menulis surat pribadi dan menumbuhkan kegemaran anak menulis.
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan dan berkaitan dengan kegiatan menulis surat pribadi pada siswa kelas 7 D SMPN 2 Singkawang serta alternatif pemecahan masalah yang ditawarkan, maka penelitian ini mengangkat judul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Menulis Surat Pribadi dengan Model Writing Process”.
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah disebutkan di atas, maka masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menulis surat pribadi dengan Model Writing Process ?
Tujuan dan Manfaat
Tujuan penelitian ini ialah meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis surat pribadi dengan menerapkan model Writing Process. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat pertama kepada guru. Dengan dilaksanakannya penelitian ini, guru dapat dengan baik mempunyai kemampuan untuk menerapkan model Writing Process. Guru dapat mening-katkan kualitas pembelajarannya yang sangat berpusat pada siswa. Kedua, penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam menulis surat pribadi bukan suatu hal yang membosankan, melainkan merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Ketiga, bagi sekolah penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik kepada sekolah dalam rangka
perbaikan pembelajaran pada khususnya dan sekolah pada umumnya.
Pengertian Menulis
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:1079) mendefinisikan menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Selanjutnya menurut Tarigan (1994:4) mengatakan, keterampilan menulis tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan, menulis adalah suatu keterampilan melahirkan suatu pikiran atau perasaan melalui latihan/praktik yang banyak dan teratur.
Menurut Dewi (2010:36) surat adalah suatu sarana atau alat komunikasi untuk menyampai-kan informasi atau pernyataan secara tertulis dari pihak yang satu kepada pihak yang lain. Surat memiliki format penulisan dan gaya bahasa tersendiri yang berbeda dengan gaya bahasa karangan pada umumnya. Selanjutnya surat pribadi adalah surat yang dibuat oleh seseorang yang isinya menyangkut kepentingan pribadi. Surat pribadi biasanya dipakai dalam pergaulan hidup sehari-hari dan terjadi dalam komunikasi antara anak dan orang tua, kerabat atau teman (Dewi, 2010:37)
Model Proses Menulis Writing Process
Menurut Abidin (2012:198) proses menulis pada dasarnya adalah model pembelajaran menulis yang menekankan aktivitas siswa menulis sesuai dengan tahapan menulis itu sendiri. Dengan demikian siswa harus mampu secara mandiri menuangkan ide, mengorganisasi ide, dan produksi ide dalam sebuah tulisan. Sejalan dengan proses menulis, pelaksanaan model pembelajaran proses menulis adalah sebagai berikut.
Tahap Pramenulis
1. Siswa menentukan topik dan mengumpul-kan informasi.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
menjadi sebuah karangan. Aktivitas yang dapat dilakukan sangat beragam seperti pengamatan diluar kelas, wawancara dengan nara sumber, membaca berbagai teks, dan curah pendapat.
2. Siswa menentukan maksud dan tujuan penulisan
Siswa menentukan maksud dan tujuan penulisan. Penentuan maksud dan tujuan ini sangat penting karena akan menentukan jenis tulisan yang akan dibuatnya.
3. Siswa membuat kerangka karangan Siswa mulai membuat kerangka karangan. Kerangka yang dibuat bisa kerangka kalimat, kerangka kata kunci, ataupun kerangka topik terstruktur. Model kerangka yang dipakai bisa kerangka biasa ataupun menggunakan peta konsep.
Tahap Menulis
Pada tahap ini siswa mulai mengembangkan kerangka karangan menjadi draf karangan. Selama menulis ia tidak boleh membaca, memperbaiki tulisannya sebelum selesai. Dengan kata lain siswa harus mengabaikan kesalahan yang dibuatnya untuk sementara
Tahap Pascamenulis
Pada tahap ini siswa secara individu atau dengan bantuan temannya ataupun guru mengoreksi isi tulisan yang dibuatnya. Berbagai kesalahan ditandai dan ditulis serta kemudian diperbaiki. Menurut Montague dalam Zainurrahman (2011: 8) model proses menulis yaitu suatu model yang menekankan aspek proses seorang penulis menciptakan tulisannya. Proses tersebut tidak bersifat linier melainkan rekursif yaitu proses yang meniscayakan adanya perulangan di beberapa bagian. Dengan proses rekursif ini, maka seorang penulis akan mampu mereview kembali tulisannya dan mengoreksi kesalahan dan menutupi kekurangan-kekurangan dalam tulisannya.
Langkah-langkah proses menulis
Menurut Ghofur (2013), proses menulis terdiri dari beberapa langkah yang harus dilalui oleh seorang penulis. Tanpa langkah-langkah ini, tidak mungkin sebuah tulisan yang baik bisa
diciptakan. Oleh karenanya, model ini menolak bahwa tulisan merupakan sebuah produk instan, atau sekali tulis langsung jadi. Menurut Hyland dalam Zainurrahman (2011: 9) ada beberapa langkah dalam proses menulis, yaitu : (1) pemilihan topik, (2) pra-tulis, (3) tulis, (4) respon atas tulisan (5) revisi, (6) pengeditan, (7) evaluasi, dan (8) publikasi.
Melihat langkah-langkah yang disebutkan oleh Ken Hyland diatas, Clark dalam Zainurrahman (2011: 11) menyederhanakan langkah-langkah tersebut dalam tiga langkah rekursif, yaitu pra-tulis, tulis, dan kembali menulis (prewriting, writing, rewriting) atau dengan formulasi lain : perencanaan, penulisan dan revisi (planning, writing, revising). Dua formula proses menulis yang disederhanakan oleh Irene Clark ini pada hakikatnya sama dengan apa yang disebutkan oleh Ken Hyland sebelumnya. Hanya saja penyederhanaan ini lebih memungkinkan kemudahan dalam memahami konsep menulis sebagai proses dari pada formulasi yang memuat lebih banyak unsur yang pada dasarnya berfungsi sama.
Selanjutnya menurut Suparno dkk (2010:14) menulis sebagai suatu aktifitas yang berproses, tidak tercakup dalam berbagai pendekatan. Sebagai proses, menulis merupakan serangkaian aktivitas yang terjadi dan melibatkan beberapa fase yaitu fase prapenulisan (persiapan), penulisan (pengembangan isi karangan) dan pascapenulisan (telaah dan revisi atau penyempurnaan tulisan). Adapun penjelasan tahap-tahap tersebut sebagai berikut.
1. Tahap Pramenulis, tahap ini merupakan fase persiapan menulis. Menurut Proett dan Gill dalam Suparno dkk (2010:16) tahap ini merupakan fase mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dan diperlukan penulis. Pada fase ini terdapat aktivitas sebagai berikut (Suparno dkk: 2010: 17 – 22) a. Menentukan topik. Topik adalah pokok persoalan atau permasalahan yang menjiwai seluruh karangan.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
menghibur, memberi tahu atau mengin-formasikan, mengklarifikasi atau membuktikan, atau membujuk. c. Memperhatikan sasaran karangan
(pembaca). Kita harus memperhatikan dan menyesuaikan tulisan kita dengan level sosial, tingkat pengalaman, pengetahuan, kemampuan dan kebu-tuhan pembaca.
d. Mengumpulkan informasi pendukung. Sebelum menulis kita perlu mencari, mengumpulkan, dan memilih infor-masi yang dapat mendukung, memper-luas, memperdalam, dan memperkaya isi tulisan kita yang berasal dari bacaan, pengamatan, wawancara serta pengetahuan dan pengalaman sendiri atau orang lain.
e. Mengorganisasikan ide dan informasi. Kita pilah dan tata gagasan-gagasan atau informasi yang saling berkaitan atas bagian-bagian yang tersusun secara sistematis yang disebut kerangka karangan. Sebagai panduan, kerangka karangan dapat membantu penulis untuk mengumpulkan dan memilih bahan tulisan yang sesuai.
2. Tahap penulisan. Pada tahap ini kita mengembangkan butir demi butir ide yang terdapat dalam kerangka karangan, dengan memanfaatkan bahan atau informasi yang telah kita pilih dan kumpulkan.
3. Tahap pascapenulisan, merupakan tahap penghalusan dan penyempurnaan buram yang kita hasilkan yang terdiri atas penyuntingan dan perbaikan.
Keunggulan dan Kelemahan Model Writing Process
Valdes dalam Andika (2016) mengemukakan sembilan kebaikan atau keunggulan pengguna-an strategi proses menulis dippengguna-andpengguna-ang dari kepentingan siswa. Kebaikan-kebaikan/keung-gulan itu ialah:
(a) anak dapat menyatakan gagasannya serta menyadari gagasan yang disampaikannya itu, (b) anak dapat mengetahui bahwa ia dapat bel-ajar dari gagasan teman atau yang lainnya,
(c) anak dapat belajar bahwa gagasan yang akan ditulisnya dapat diperoleh dalam beberapa jalan/cara,
(d) anak dapat mulai menulis dengan tidak benar atau tidak sempurna,
(e) anak dapat belajar menerima, mengevaluasi dan menerapkan gagasan yang diperoleh-nya dari teman lain,
(f) anak dapat memonitor dan memperbaiki tulisannya sendiri,
(g) anak dapat merasa bangga akan pekerjaan-nya dan kesenangan itu dikomunikasikan dalam kegiatan menulis, membaca, menyimak, dan berbicara,
(h) anak dapat mengembangkan kemandirian dalam berpikir, dan
(i) anak dapat merealisasikan apa yang telah diinginkan melalui pemusatan gagasan yang telah dipilihnya sendiri.
Sebagai suatu keterampilan, menulis sebagai-mana keterampilan berbahasa lainnya perlu dilatihkan secara kontinyu. Menulis sebagai suatu keterampilan yang berproses, mempunyai berapan keunggulan dan kelemah-an. Adapun keunggulan pendekatan keteram-pilan proses menurut Sagala, (2010:74) adalah: (a) memberi bekal cara memperoleh
pengetahu-an, hal yang sangat penting untuk mengem-bangkan pengetahuan dan masa depan; dan
(b) pendahuluan proses bersifat kreatif, siswa aktif, dapat meningkatkan keterampilan berfikir dan cara memperoleh pengetahuan.
Selanjutnya kelemahan pendekatan keterampilan proses (Sagala, 2010:74) adalah: (a) memerlukan banyak waktu sehingga sulit
untuk menyelesaikan bahan pengajaran yang ditetapkan dalam kurikulum;
(b) memerlukan fasilitas yang cukup baik dan lengkap sehingga tidak semua sekolah dapat menyediakannya; dan
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Pengertian Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2010: 22) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Selanjutnya Warsito dalam Depdiknas (2006:125) mengemu-kakan bahwa hasil dari kegiatan belajar ditandai dengan adanya perubahan perilaku ke arah positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Sedangkan Menurut Slameto (2008:7) hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemaju-an siswa. Dalam penelitikemaju-an tindakkemaju-an kelas ini, yang dimaksud hasil belajar siswa adalah hasil penilaian yang mengacu pada tujuan pembel-ajaran yang terdapat pada rencana pelaksanaan pembelajaran. Penilaian dilakukan setelah siswa mengikuti langkah-langkah pembelajaran yang sudah dirancanakan selama dua kali pertemuan. Hasil belajar digunakan sebagai acuan atau patokan guru untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap bahan ajar atau materi dengan melakukan evaluasi setiap akhir proses pembelajaran.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Singkawang. Dimulai bulan Juli sampai bulan Oktober 2016.
Jumlah siswa kelas 7D adalah 37 orang. Faktor yang diteliti dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai lis surat pribadi khususnya dan sastra pada
umum-nya. Faktor guru, cara guru merencanakan pembelajaran serta bagaimana pelaksanaannya di kelas. Penelitian ini menggunakan pendekatan paradigma kualitatif, berangkat dari permasalahan pembelajaran di kelas, ditindak lanjuti dengan penerapan suatu tindakan pembelajaran kemudian direfleksi, dianalisis dan dilakukan penerapan kembali pada siklus berikutnya, setelah dilaksanakan revisi berdasarkan temuan saat refleksi. PTK ini menggunakan model Stephen Kemmis dan Mc Taggart (dalam Suranto, 2002:49), sistem spiral refleksi diri yang dimulai dari rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu rancangan pemecahan masalah.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Kondisi Awal Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas 7D
Materi Pembelajaran bahasa Indonesia pada pokok bahasan menulis surat pribadi pada siswa kelas 7D SMP Negeri 2 Singkawang akan dipaparkan berdasarkan tiga siklus yaitu: kondisi awal, siklus I, dan siklus II. Hal ini dilakukan untuk mengevaluasi setiap kegiatan yang dilaksanakan setiap siklus, sehingga
Tabel 1
Indikator Pencapaian Kompetensi Menulis Surat Pribadi
No Indikator Deskripsi Skor
Maksimum
Menggunakan bahasa yang baik dan benar Penggunaan bahasanya sopan dan santun Menggunakan bahasa yang dimengerti pembaca
30
2 Bentuk Surat
- Terdapat tanggal, alamat, salam pembuka, isi, salam penutup, tanda tangan dan nama terang.
20
3 Ejaan - Menggunakan EYD 20
4 Isi Surat
-Isi surat sesuai dengan tema yang telah ditentukan.
Topiknya mampu dikembangkan secara optimal sehingga menjadi lengkap
Isi harus , jelas, terarah
30
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
pelaksanaan siklus selanjutnya dapat lebih baik daripada siklus sebelumnya. Tabel 1 menyajikan indikator pencapaian kompetensi menulis surat pribadi yang meliputi : bahasa yang digunakan, bentuk surat, ejaan dan isi surat.
Kondisi Awal
Pada kondisi awal, proses pembelajaran menulis surat pribadi membuat siswa merasa bosan, ramai, mengobrol sendiri tidak memperhatikan materi yang diajarkan oleh guru, dan tidak bersemangat. Hal ini terjadi karena guru tidak melakukan upaya yang dapat membuat siswa bersemangat mengikuti pembelajaran. Pada saat penugasan, siswa tidak bersemangat, lamban dalam mengerjakan tugas karena merasa bosan, dan tidak ada yang dapat mengubah suasana hati siswa, juga tidak ada sesuatu yang dapat membantu mereka untuk menemukan ide untuk membuat surat pribadi. Hal ini dapat mengaki-batkan hasil belajar yang diperoleh siswa kurang memuaskan. Tes pada kondisi awal yang dilaku-kan adalah menulis surat pribadi dengan topik pengalaman pribadi dengan tujuan surat bebas. Hasil observasi menunjukkan, guru masih banyak menggunakan metode ceramah. Hal ini dapat dilihat dengan tidak adanya siswa yang dapat menjawab pertanyaan pada saat tanya jawab dengan guru. Kebanyakan siswa masih asyik mengobrol sendiri yang ditunjukkan dengan jumlah siswa yang mencatat penjelasan guru pada saat menyampaikan materi hanya 17 siswa atau 46% dari 37 siswa keseluruhan. Siswa masih banyak yang tidak fokus pada saat proses pembelajaran. Akan tetapi, keaktifan siswa dalam menulis surat pribadi sangat baik, terlihat dari jumlah siswa yang mengumpulkan tugas mencapai 37 siswa atau 100 %.
Topik ini dipilih untuk membebaskan siswa mengkreasikan segala bentuk perasaannya ke dalam menulis surat pribadi. Dari hasil tes kemampuan menulis surat pribadi siswa pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata 73,14. Dari jumlah ke seluruhan siswa 37 siswa, hanya 20 siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal atau sebanyak 54%,17 siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal atau sebanyak 46%.
Uraian sebelumnya menunjukkan, keterampilan dalam menulis surat pribadi pada
Tabel 2
Pencapaian Hasil Belajar Siswa Menulis Surat Pembaca dengan Topik Pengalaman Pribadi dengan Tujuan Surat Bebas pada Kondisi Awal
No Nama Siswa
Aspek yang dinilai Bahasa
(30)
Bentuk surat (20)
Ejaan (20)
Isi surat (30)
Nilai
1 AT 20 15 15 20 70
2 AA 20 14 15 21 70
3 ARR 20 15 15 25 75
4 ANP 20 20 20 30 90
5 ANS 25 15 15 30 85
6 AH 21 20 15 19 75
7 BNMM 21 15 20 19 75
8 CW 22 20 15 18 75
9 DS 25 15 15 18 73
10 DA 25 15 15 20 75
11 DD 22 15 15 20 72
12 DSL 22 15 15 20 72
13 EAN 22 15 15 20 72
14 GDS 22 15 15 20 72
15 JP 20 15 15 20 70
16 LBB 20 18 15 20 73
17 MS 20 15 15 20 70
18 MA 20 15 15 20 70
19 MH 20 15 15 20 70
20 NA 22 15 15 20 72
21 NS 25 15 15 26 81
22 NU 25 12 15 15 67
23 NH 20 15 15 20 70
24 NAI 20 15 15 16 66
25 RV 20 15 15 19 69
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
kondisi awal belum berhasil yakni masih banyak siswa yang nilainya di bawah ketuntasan kriteria minimal. Hasil observasi menunjukkan, hasil belajar siswa pada kondisi awal belum berhasil. Keaktifan, respon, dan hasil menulis surat pribadi siswa terhadap pembelajaran masih kurang, masih banyak siswa yang belum memperhatikan dan mengobrol sendiri pada saat guru menyampaikan materi. Pada siklus selanjutnya peneliti akan menggunakan model writing process. Diharapkan dengan menggunakan model ini keaktifan, respon, dan hasil menulis surat pribadi terhadap pembelajaran meningkat sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 menunjukkan pencapaian hasil belajar siswa pada kondisi awal sebagai berikut .
a. Pada aspek bahasa yang digunakan, telah mencapai hasil nilai rata-rata sebesar 70,63 b. Pada aspek bentuk surat, telah mencapai
hasil nilai rata-rata sebesar 77,57
c. Pada aspek ejaan, telah mencapai hasil nilai rata-rata sebesar 77,03
d. Pada aspek isi surat, telah mencapai hasil nilai rata-rata sebesar 70,09
e. Total Nilai rata-rata kelas yang diperoleh pada kondisi awal sebesar 73,14.
Dari jumlah keseluruhan, hanya 20 siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimal atau sebanyak 54%, 17 siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal atau sebanyak 46%. Selanjutnya berdasarkan indikator aspek yang dinilai maka dari data tersebut ternyata belum memenuhi harapan peneliti untuk mencapai target yang diinginkan yakni tercapainya nilai ketuntasan 71 (pada aspek bahasa yang digunakan dan isi surat). Hal ini diperlihatkan pada grafik Gambar 1.
Siklus I
Tahap pembelajaran siklus I menggunakan model writing process. Sesuai rencana pelaksanaan pembelajaran pada siklus I dirancang dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 4 x 40 menit. Tahap pendahuluan diawali dengan apersepsi. Guru mengondisikan suasana kelas agar tenang, lalu mendata kehadiran siswa. Guru berdialog dengan siswa Tabel 2
Pencapaian Hasil Belajar Siswa Menulis Surat Pembaca dengan Topik Pengalaman Pribadi dengan Tujuan Surat Bebas pada Kondisi Awal
No Nama Siswa
Aspek yang dinilai Bahasa
(30)
Bentuk surat (20)
Ejaan (20)
Isi surat (30)
Nilai
27 RHS 20 15 15 19 69
28 RA 20 15 15 28 78
29 SP 20 15 15 20 70
30 SY 20 15 15 18 68
31 SW 20 15 15 19 69
32 TAS 20 15 15 19 69
33 VN 20 15 15 19 69
34 VJ 25 15 15 25 80
35 WSA 20 20 15 25 80
36 WZ 20 15 20 25 80
37 OP 20 15 15 20 70
Jumlah skor 784 574 570 778 2706
Jumlah skor maksimal
1110 740 740 1110 3700
Nilai rata-rata per-aspek
70,63 77,57 77,03 70,09 73,14
Bahasa yang digunakan
Bentuk surat
Ejaan Isi surat 70.63
77.57 77.03
70.09
Gambar 1
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, kemu-dian diarahkan kepada materi pembelajaran, dan tujuan pembelajaran menulis surat pribadi. Tahap inti, guru membentuk kelompok beranggotakan 4-5 anak secara heterogen yang sudah ditentukan. Setelah setiap siswa masuk ke dalam kelompoknya, guru menjelaskan materi tentang surat pribadi dan bagian-bagiannya yang terdapat dalam buku paket bahasa Indone-sia. Siswa mendengarkan dan menyimak bentuk contoh surat pribadi dan surat resmi pada buku paket bahasa Indonesia. Bagian surat tersebut didiskusikan oleh setiap kelompok secara bersama-sama. Guru tetap membimbing serta mengarahkan semua siswa dengan baik. Selan-jutnya, setiap kelompok diberi waktu 10 menit untuk mengamati keadaan lingkungan sekolah untuk mengaitkan pengalamannya dan mengin-spirasi siswa dalam menulis surat pribadi.
Guru memberikan tugas individu kepada siswa menulis surat pribadi kepada teman barunya di kelas lain tentang kondisi kelas dengan menggunakan bahasa Indonesia yang komunikatif dan meminta balasan suratnya. Selanjutnya, guru mengamati dan mencermati siswa mengerjakan tugas menulis surat pribadi. Guru membimbing siswa menulis surat pribadi dengan langkah-langkah model writing process yang meliputi tiga tahap berikut.
a. Tahap pramenulis, tahap ini merupakan fase persiapan menulis dengan kegiatan mencari, menemukan, dan mengingat kembali pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dan diperlukan untuk menulis, yang meliputi menentukan topik, mempertimbangkan maksud dan tujuan penulisan, sasaran pembaca, informasi pendukung dan mengorganisasikan ide dan informasi.
b. Tahap penulisan, tahap ini siswa mengembangkan butir demi butir ide dalam kerangka karangan, dengan memanfaatkan bahan atau informasi yang telah dipilih dan kumpulkan.
c. Tahap pasca penulisan, melakukan penyuntingan dan perbaikan.
Ketika pekerjaan siswa telah selesai, guru meminta siswa menukarkan kertas pekerjaannya dengan teman satu kelompok. Kemudian,
dilanjutkan dengan saling memeriksa serta mengoreksi hasil pekerjaan yang telah mereka buat. Semua siswa mengoreksi dan menganalisis pekerjaan yang telah didapat dengan memperhatikan petunjuk guru dan materi yang telah diberikan sebelumnya. Alokasi waktu tahap inti adalah 60 menit.
Sebelum pertemuan pertama selesai, guru merefleksi kegiatan pembelajaran dan siswa serta guru menyimpulkan penulisan surat pribadi. Alokasi waktu tahap inti adalah 10 menit. Pertemuan berikutnya, tahap awal sama dengan pertemuan pertama. Pada tahap inti pertemuan kedua, guru menyuruh salah satu perwakilan kelompok menulis hasil kerjanya di papan tulis.
Siswa lain mencermati hasil kerja siswa yang ditulis di papan tulis. Siswa kelompok lain secara bergantian dengan dipandu guru memberikan saran dan kritik terhadap hasil kerja siswa yang ditulis di papan tulis. Guru memberikan penegasan tentang kekurangan surat pribadi berdasarkan komposisi, isi, dan bahasa yang ditulis oleh siswa yang meliputi ketentuan isi surat, kelengkapan isi surat, kejelasan pengantar, isi, dan penutup, ketepatan pemilihan kata, ketepatan pemilihan kalimat, ejaan dan tata tulis. Alokasi waktu tahap inti adalah 60 menit. Tahap penutup, siswa dan guru melakukan refleksi dan menyimpulkan pembelajaran menulis surat pribadi. Alokasi waktu tahap inti adalah 10 menit.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Tabel 3
Pencapaian Hasil Belajar Siswa Menulis Surat Pembaca dengan Model Writing Process pada Siklus I
No Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Bahasa (30)
Bentuk surat (20)
Ejaan (20)
Isi surat (30)
Nilai
1 AT 24 15 15 24 78
2 AA 24 14 15 25 78
3 ARR 24 15 15 25 79
4 ANP 22 20 20 30 92
5 ANS 28 15 15 30 88
6 AH 24 20 15 19 78
7 BNMM 24 15 20 19 78
8 CW 24 20 15 18 77
9 DS 24 20 15 18 77
10 DA 22 15 20 20 77
11 DD 22 15 20 20 77
12 DSL 25 18 15 20 78
13 EAN 24 15 20 20 79
14 GDS 23 20 15 20 78
15 JP 24 15 20 20 79
16 LBB 24 19 15 20 78
17 MS 24 15 19 20 78
18 MA 24 15 19 20 78
19 MH 24 20 15 20 79
20 NA 24 19 15 20 78
21 NS 28 15 20 26 89
22 NU 28 12 20 15 75
23 NH 24 15 18 20 77
24 NAI 20 15 15 16 66
25 RV 24 20 15 19 78
26 RAA 25 15 20 25 85
guru, dan keaktifan mencatat penjelasan guru. Kualitas pembelajaran menulis surat pribadi tersebut masih perlu ditingkatkan dari segi keaktifan siswa dalam memahami dan mencatat penjelasan guru. Oleh karena siswa belum dapat memanfaatkan waktu dengan baik, guru perlu memberi batasan waktu bila memberi tugas pada siswa sehingga semua berjalan sesuai dengan rencana.
Menurut Haryanto (2014), pada saat menyampaikan materi guru tidak harus selalu berada di depan kelas, agar anak yang berada di belakang mendengar dengan jelas dan menghin-darkan anak dari berbicara sendiri dengan teman sebangkunya, sehingga anak dapat lebih memperhatikan dan mencatat penjelasan guru. Keterampilan menulis surat pribadi dari aspek ketentuan isi surat, kelengkapan isi surat, kejelasan pengantar, isi, dan penutup, ketepatan pemilihan kata dan ketepatan penggunaan kalimat, mengalami peningkatan. Keterampilan menulis, aspek ejaan dan tata tulis sejumlah siswa juga masih perlu ditingkatkan.
Dalam pembelajaran siswa siklus I, terdapat dua orang siswa yang belum mendapat nilai 71, dan belum mencapai nilai ketuntasan 71, maka harus ditingkatkan. Penyebabnya adalah siswa masih banyak yang bingung dan tidak mengerti dengan tahap pembelajaran serta pemanfaatan metode writing process belum optimal sehingga siswa belum sepenuhnya memperhatkan pelajaran dengan baik. Adapun dalam menulis surat pembaca, indikator pencapaian kompe-tensi masih kurang tepat. Bahasa yang diguna-kan, bentuk surat, ejaan dan isi surat pada surat pembaca yang dibuatnya masih perlu ditingkat-kan. Hasil siklus 1 terlihat pada Tabel 3.
Berdasarkan Tabel 3 dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Pada aspek bahasa yang digunakan, telah mencapai nilai rata-rata sebesar 80,27 b. Pada aspek bentuk surat, telah mencapai nilai
rata-rata sebesar 84,73
c. Pada aspek ejaan, telah mencapai nilai rata-rata sebesar 85,95
d. Pada aspek isi surat, telah mencapai nilai rata-rata sebesar 70,81
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Tabel 3
Pencapaian Hasil Belajar Siswa Menulis Surat Pembaca dengan Model Writing Process pada Siklus I
No Nama Siswa
Aspek yang dinilai Bahasa
(30)
Bentuk surat (20)
Ejaan (20)
Isi surat (30)
Nilai
27 RHS 24 20 15 19 78
28 RA 25 15 20 28 88
29 SP 24 20 15 20 79
30 SY 20 15 15 18 68
31 SW 24 20 15 19 78
32 TAS 24 20 15 19 78
33 VN 24 15 20 19 78
34 VJ 25 15 20 25 85
35 WSA 25 20 20 25 90
36 WZ 25 20 20 25 90
37 OP 24 15 15 20 74
Jumlah skor 891 627 636 786 2940
Jumlah skor maksimal
1110 740 740 1110 3700
Nilai rata-rata
per-aspek
80,27 84,73 85,95 70,81 79,46
Pembelajaran siswa pada siklus I, dari jumlah keseluruhan siswa 37 siswa, terdapat 35 siswa atau 95% yang mencapai kriteria ketuntas-an minimal, 2 siswa atau 5% belum mencapai kriteria ketuntasan minimal.
Selanjutnya berdasarkan indikator aspek yang dinilai maka dari data tersebut ternyata belum memenuhi harapan peneliti untuk mencapai target yang diinginkan yakni tercapainya nilai ketuntasan 71 (pada aspek isi surat). Hal ini digambarkan pada Gambar 2.
Siklus II
Siklus II merupakan perbaikan siklus I. Pada siklus I kelemahan pada pembelajaran menulis
surat pribadi perlu ditingkatkan pada keaktifan
siswa dalam memperhatikan dan mencatat
penjelasan guru. Keterampilan menulis surat pribadi juga perlu ditingkatkan pada aspek isi surat. Usaha perbaikan ini menyangkut hal-hal pelaksanaan yang belum sempurna yakni guru belum mendampingi dan membimbing serta mengarahkan siswa dalam mengerjakan tugas. Guru juga belum memberikan motivasi setiap kelompok agar bekerjasama dan memberikan pengarahan kepada teman sekelompoknya yang belum mengerti.
Siklus II dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Dalam siklus ini dirancang satu kali pertemuan 2 x 40 menit. Tahap pendahuluan dilaksanakan diawali dengan apersepsi. Guru menginforma-sikan kembali tujuan pembelajaran menulis surat pribadi. Waktu yang dialokasikan pada tahap pendahuluan 10 menit. Kegiatan berikutnya yaitu kegiatan inti, guru membentuk kelompok yang beranggotakan 4-5 anak secara heterogen yang sudah ditentukan sesuai dengan kelompok dalam siklus I. Setelah setiap siswa masuk ke kelompoknya, guru menjelaskan kembali materi tentang surat pribadi dan bagiannya pada layar slide power point yang sudah disiapkan oleh guru. Pada saat guru menampilkan contoh bentuk surat pribadi, guru lebih menegaskan penjelasan pada komposisi, isi, dan bahasa yang meliputi ketentuan isi surat, kelengkapan isi surat, kejelasan pengantar, isi, penutup, ketepatan pemilihan kata, ketepatan pemilihan kalimat, ejaan dan tata tulis dalam menulis surat pribadi.
Bahasa yang digunakan
Bentuk surat
Ejaan isi Surat 80.27 84.73 85.95
70.81
Gambar 2
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Sebelum memberikan tugas menulis surat pribadi kepada siswa, guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok mendiskusikan keadaan sekolah. Setiap anggota kelompok berdiskusi untuk mengaitkan pengalamannya dengan dunia nyata yang terjadi dengan keadaan sekolah sehingga menemukan sesuatu yang baru tentang keadaan sekolah yang mereka jumpai sehari-hari. Hasil diskusi menjadi bahan bagi setiap anggota untuk ditulis pada isi surat.
Selanjutnya, guru memberikan tugas kepada siswa menulis surat pribadi kepada teman barunya di sekolah lain, menceritakan kondisinya di sekolah ini dengan bahasa Indonesia yang komunikatif dan meminta balasan suratnya. Selanjutnya, guru mendampingi, membimbing, serta mengarahkan siswa mengerjakan tugas. Sambil berkeliling, guru memotivasi setiap kelompok agar bekerja sama dan memberi pengarahan kepada teman sekelompoknya yang belum mengerti. Satu kelompok saling mengisi kekurangan pada setiap anggotanya. Guru membimbing siswa dalam menulis surat pribadi dengan langkah-langkah dalam model writing process yang meliputi tiga tahap berikut.
a. Tahap pramenulis, tahap ini merupakan fase persiapan menulis. Tahap ini merupa-kan fase mencari, menemumerupa-kan, dan meng-ingat kembali pengetahuan dan pengalam-an ypengalam-ang diperoleh dpengalam-an diperlukpengalam-an untuk menulis yang meliputi menentukan topik, mempertimbangkan maksud dan tujuan penulisan, sasaran pembaca, informasi pendukung dan mengorganisasikan ide dan informasi.
b. Tahap penulisan, tahap ini siswa mengem-bangkan butir demi butir ide yang terdapat dalam kerangka karangan, dengan memanfaatkan bahan atau informasi yang telah dipilih dan kumpulkan.
c. Tahap pascapenulisan, melakukan penyun-tingan dan perbaikan.
Pada saat pekerjaan siswa telah selesai, guru meminta siswa untuk menukarkan kertas pekerjaannya dengan teman satu kelompok. Dilanjutkan saling memeriksa serta mengoreksi
Tabel 4
Pencapaian Hasil Belajar Siswa Menulis Surat Pribadi dengan Writing Process pada Siklus II
No NamaSiswa
Aspek yang dinilai
Bahasa (30)
Bentuk surat (20)
Ejaan (20)
Isi surat (30)
Nilai
1 AT 25 15 15 25 80
2 AA 25 15 15 25 80
3 ARR 25 15 15 25 80
4 ANP 25 20 20 30 95
5 ANS 30 15 15 30 90
6 AH 25 20 15 20 80
7 BNMM 25 15 20 20 80
8 CW 25 20 15 20 80
9 DS 25 20 15 20 80
10 DA 25 15 20 20 80
11 DD 25 15 20 20 80
12 DSL 25 20 15 20 80
13 EAN 25 15 20 20 80
14 GDS 25 20 15 20 80
15 JP 25 15 20 20 80
16 LBB 25 20 15 20 80
17 MS 25 15 20 20 80
18 MA 25 15 20 20 80
19 MH 25 20 15 20 80
20 NA 25 20 15 20 80
21 NS 30 15 20 25 90
22 NU 25 15 20 20 80
23 NH 25 15 20 20 80
24 NAI 20 15 16 20 71
25 RV 25 20 15 20 80
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
hasil pekerjaan yang telah mereka buat. Semua siswa mengoreksi dan menganalisis pekerjaan yang telah didapat dengan memperhatikan petunjuk guru dan materi yang telah diberikan sebelumnya. Waktu yang dialoksikan pada tahap inti 60 menit. Sebelum pembelajaran berakhir, guru dan siswa menyimpulkan, dan melakukan refleksi terhadap kegiatan pembel-ajaran menulis surat pribadi. Pada tahap inti alokasi waktunya adalah 10 menit. Hasil I siklus II terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4 menunjukkan hal-hal berikut. a. Pada aspek bahasa yang digunakan, telah
mencapai hasil nilai rata-rata sebesar 85,59 b. Pada aspek bentuk surat, telah mencapai
hasil nilai rata-rata sebesar 85,81
Tabel 4
Pencapaian Hasil Belajar Siswa Menulis Surat Pribadi dengan Writing Process pada Siklus II
No Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Bahasa (30)
Bentuk surat (20)
Ejaan (20)
Isi surat (30)
Nilai
27 RHS 25 20 15 20 80
28 RA 30 15 20 25 90
29 SP 25 20 15 20 80
30 SY 20 15 16 20 71
31 SW 25 20 15 20 80
32 TAS 25 20 15 20 80
33 VN 25 15 20 20 80
34 VJ 30 15 20 25 90
35 WSA 30 20 20 30 100
36 WZ 30 20 20 30 100
37 OP 25 15 15 25 80
Jumlah skor 950 635 642 820 3047
Jumlah skor maksimal
1110 740 740 1110 3700
Nilai rata-rata
per-aspek
85,59 85,81 86,76 73,87 82,35
c. Pada aspek ejaan, telah mencapai hasil nilai rata-rata sebesar 86,76
d. Pada aspek isi surat, telah mencapai hasil nilai rata-rata sebesar 73,87
e. Total nilai rata-rata kelas yang diperoleh sebesar 82,35.
Data tersebut menunjukkan telah tercapai harapan peneliti mencapai target yang diinginkan yaitu nilai ketuntasan 71 pada semua siswa dan pada semua aspek yang dinilai. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 3.
Pembahasan
Hasil observasi atas aktivitas guru pada saat pembelajaran pada awal, siklus I, dan siklus II menunjukkan guru telah berhasil membangkit-kan semangat dan keaktifan siswa dalam berdiskusi, mereka banyak memberikan komen-tar atau bertanya dalam penulisan surat pribadi maupun hasil tulisan teman, dan siswa dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Perubahan prilaku siswa itu terjadi karena model writing process mampu menggali kompetensi siswa dan menuntut proses belajar dalam diri siswa serta memberikan ruang gerak bagi siswa dalam belajar. Hal ini didukung pula dengan suasana pembelajaran yang menyenangkan, dibanding-kan metode pembelajaran yang konvensional. Menurut Gipayana (1994), peningkatan itu disebabkan oleh pemberian pengalaman kepada siswa melakukan proses eksplorasi gagasan pada tahap prapenulisan, sharing dan
penyun-Bahasa Yang digunakan
Bentuk surat Ejaan Isi surat 85.59 85.81 86.76
73.87
Gambar 3
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
tingan serta melakukan evaluasi diri terhadap tulisan yang dibuatnya. Selanjutnya, perubahan perilaku siswa tersebut berakibat meningkatnya kompetensi dan hasil belajar siswa dalam menulis surat pribadi. Hal ini selaras dengan yang dikemukakan Warsito dalam Depdiknas (2006:125), hasil kegiatan belajar ditandai deng-an addeng-anya perubahdeng-an perilaku ke arah positif yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Sedangkan menurut Slameto (2008:7), hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh dari suatu proses usaha setelah melakukan kegiatan belajar yang dapat diukur dengan menggunakan tes guna melihat kemajuan siswa.
Pembelajaran menulis surat pribadi pada siklus I terdapat dua orang siswa yang belum mendapat nilai 71, dan belum mencapai nilai ketuntasan 71, maka harus ditingkatkan pada siklus II. Penyebabnya adalah terdapat beberapa siswa yang masih bingung dan tidak mengerti dengan tahap pembelajaran serta pemanfaatan metode writing process belum optimal sehingga siswa belum sepenuhnya memperhatikan pelajaran dengan baik. Dalam menulis surat pembaca, siswa masih kurang dapat mencapai indikator kompetensi terlihat dari bahasa yang digunakan, bentuk surat, ejaan dan isi surat pada surat pembaca yang dibuatnya.
Pada Siklus I, aspek isi surat belum mencapai kriteria ketuntasan, sehingga harus dilakukan upaya peningkatan pada siklus II. Siswa belum menulis isi surat sesuai dengan tema yang telah ditentukan, topiknya belum dikembangkan secara optimal dan isi belum jelas dan terarah. Dengan demikian kualitas pembelajaran menulis surat pribadi tersebut masih perlu ditingkatkan khususnya berkaitan dengan keaktifan siswa dalam memahami dan mencatat penjelasan dari guru. Di samping itu, siswa ternyata belum dapat memanfaatkan waktu dengan baik sehingga guru perlu memberi batasan waktu bila memberi tugas pada siswa.
Pada siklus II kemampuan menulis surat pribadi siswa meningkat lagi. Sebanyak 37 siswa sudah memenuhi (KKM) nilai di atas 70 atau ketuntasan klasikal 100%. Dengan demikian, peningkatan ketuntasan klasikal kemampuan menulis surat pribadi dari kondisi awal ke siklus I mengalami peningkatan dari nilai rata-rata 73,14 menjadi 79,46. Sedangkan
dari siklus I ke siklus II meningkat dari 79,46 menjadi 82,35. Data kemampuan menulis surat pribadi siswa menunjukkan, dari jumlah keseluruhan 37 siswa sudah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) dengan nilai di atas 71. Hal ini mengalami peningkatan dari siklus I dengan nilai rata-rata kelas 82,35 pada siklus II. Hasil tersebut menunjukkan, proses pembel-ajaran pada siklus II sudah berjalan dengan baik. Evaluasi dan refleksi menunjukkan, siswa sudah dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Sehingga semua berjalan sesuai dengan rencana. Perubahan yang ditemukan terjadi karena siswa sudah terbiasa menggunakan model writing process serta langkah-langkah (step) penerapan model writing process sudah dikuasai oleh siswa sehingga berakibat meningkatnya kemampuan siswa dalam menulis surat pribadi. Peningkatan itu disebabkan oleh pemberian pengalaman kepada murid untuk melakukan proses eksplorasi gagasan pada tahap prapenu-lisan, sharing dan penyuntingan untuk melaku-kan evaluasi diri terhadap tulisan yang dibuatnya (Gipayana, 1994).
Penelitian ini menemukan, pada saat menyampaikan materi guru sebaiknya tidak harus selalu berada di depan kelas, agar anak yang berada dibelakang mendengar dengan jelas dan menghindari anak dari berbicara sendiri dengan teman sebangkunya. Dalam mengerja-kan tugas kelompok, peran guru sangat dibutuh-kan untuk membimbing, memotivasi, dan mengarahkan siswa mengerjakan tugas. Siswa tidak dapat dilepaskan begitu saja dalam mengerjakan tugas kelompok kalau pembelajar-an ypembelajar-ang diinginkpembelajar-an tercapai.
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Keterampilan menulis surat pribadi pada siklus I meningkat. Siswa yang memenuhi KKM sebanyak 35 siswa dari 37 siswa atau ketuntasan klasikal 95% dan sisanya, sebanyak dua siswa belum mencapai KKM. Pada siklus II kemam-puan menulis surat pribadi siswa meningkat lagi sebanyak 37 siswa yang sudah memenuhi (KKM) nilai di atas 71 atau ketuntasan klasikal 100%. Berdasarkan hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa pada kondisi awal, siklus I dan siklus II ternyata menunjukkan adanya peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4.
Setelah diadakan tindakan pada siklus II maka beberapa aspek pada siklus I yang masih belum memenuhi harapan peneliti ternyata pada siklus II sudah memenuhi harapan dan semua
Bahasa yang digunakan
Bentuk surat Ejaan Isi surat
70.63 77.57 77.03 70.09
80.27 84.73 85,95
70.81
85.59 85.95 86.76
73.87
Kondisi Awal Siklus I
Gambar 4
Pencapaian Hasil Belajar Siswa Menulis Surat Pribadi dengan Writing Processpada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Tabel 4
Peningkatan Persentase Pencapaian Hasil Belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Bahasa (30)
Bentuk surat (20)
Ejaan (20)
Isi surat (30)
Nilai
1 Pra Siklus 70,63 77,57 77,03 70,09 73,14
2 Siklus I 80,27 84,73 85,95 70,81 79,46
3 Siklus II 85,59 85,81 86,76 73,87 82,30 4 Peningkatan
Siklus I ke Siklus II
5,32 1,08 0,81 3,06 2,84
aspek mengalami peningkatan. Kondisi ini dapat digambarkan dalam Tabel 4.
Gambar 4 dan Tabel 4 menunjukkan, penggunaan model writing process dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis surat pribadi. Mutu proses dan hasil pembelajaran siswa meningkat terlihat dari kemampuan menulis surat pribadinya. Peningkatan ini terlihat mulai kegiatan pada kondisi awal, siklus I dan siklus II.
Penelitian ini telah membuktikan peningkatan yang signifikan pada kemampuan
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
kolaboratif. Proses menulis meliputi perencana-an, penulisperencana-an, serta perevisian. Dengan demi-kian, pembelajaran menulis bertujuan menga-rahkan siswa agar memiliki kemampuan menulis dilaksanakan guru dalam bentuk pembelajaran yang menekankan kegiatan menulis pada proses. Selanjutnya, tindak lanjut hasil penelitian ini dapat diterapkan untuk pembelajaran menulis yang lain seperti menulis surat dinas, surat pembaca, dan sebagainya.
Simpulan
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, model pembelajaran writing process dapat meningkatkan keaktifan siswa dan mengubah sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran, seperti mengobrol sendiri, tidak memperhatikan penjelasan dari guru, dan kurang antusias siswa mengikuti pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan presentase rata-rata aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Kedua, model pembelajaran writing process dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis surat pribadi. Nilai rata-rata kemampuan menulis surat pribadi dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II mengalami peningkatan sehingga disimpulkan, model pembelajaran writing process terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa, terutama dalam pembelajaran menulis surat pribadi.
Saran
Dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa pada pembelajaran Menulis Surat Pribadi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia menggunakan model writing process disarankan untuk melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif dalam kelas dan mampu mengembangkan pola pikir kreatif agar siswa tidak merasa bosan. Peran guru dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya menulis suratpribadi hendaknya dimulai menggunakan model writing process, mengingat metode pembelajaran tersebut mampu menggali kompetensi siswa menuntut proses belajar
dalam diri siswa dan memberikan ruang gerak bagi siswa dalam belajar apalagi didukung suasana pembelajaran yang menyenangkan dibandingkan metode pembelajaran yang konvensional.
Daftar Pustaka
Abidin, Y. (2012). Pembelajaran bahasa berbasis pendidikan karakter. Bandung: Refika Aditam
Alawiyah, Tuti. (2015). Pengembangan Instru-men Penilaian Praktikum di Laborato-rium Kimia SMA pada Kurikulum 2013. Jurnal Guru Dikmen, Vol 1, No. 1 November 2015, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud Andika, Reka (2016). 5 Tahapan dalam proses
menulis di Sekolah Dasar” https:// biasamembaca.blogspot.co.id/2016/11/ 5-tahapan-dalam-proses-menulis-di.html diakses pada tanggal 25 Desember 2016 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1995). Kamus besar bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka
Depdiknas (2006). Bunga rampai keberhasilan guru dalam pembelajaran (SMA, SMK dan SLB), Jakarta: Depdiknas
Dewi, Wendi Widya Ratna. (2010). Bahasa Indonesia untuk SMP/MTs kelas VII semester I, Klaten : PT Intan Pariwara
Ghofur, Abdul. (2013). Proposal penerapan model writing Process,”http://aghofurtea23. blogspot.co.id/2013/10/proposal-penerapan-model-writing-proses.html diakses pada tanggal 09 September 2016 Gipayana, M. (1994). Pengaruh PBM dengan pendekatan step terhadap keberhasilan pengajaran keterampilan menulis siswa Sekolah Dasar. Dalam Sekolah Dasar: Kajian teori dan praktik pendidikan, Th.3, NO. 2, November 1994, hal. 156-157 Haryanto, Slamet. (2014). Peningkatan
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Tahun Pelajaran 2011/2012,” Universitas Muhammadiyah Surakarta http:// e p r i n t s . u m s . a c . i d / 3 1 4 8 6 / 1 6 / 02._NASKAH_ PUBLIKASI.pdf diakses pada tanggal 09 September 2016
Herawati, Indah. (2015). Pengaruh Imbalan dan Efikasi Diri terhadap Inovasi Guru SMA Negeri di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu. Jurnal Guru Dikmen, Vol 1, No. 1 November 2015, Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud Kemendikbud. (2013). Pedoman lomba inovasi pembelajaran bagi guru SMP Tahun 2013. Jakarta : Direktorat Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
Sagala, Syaiful (2010). Konsep dan makna pembelajaran. Bandung : Alfabeta
Slameto, (2008). Proses belajar mengajar. Jakarta : Bumi Aksara
Sudjana, Nana. (2010). Penilaian hasil proses belajar mengajar (cetakan XV), Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Suranto, Basowi, Sukidin. (2002). Manajemen penelitian tindakan kelas.Insan Cendekia Suranto, Mohamad Yunus. (2010). Keterampilan
dasar menulis Modul 1, Jakarta : Universitas Terbuka
Tarigan, Hendri Guntur. (1994). Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa. Bandung : Angkasa
Wiriaadmadja. Rochiati. (2005). Metode penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kinerja guru dan dosen.Bandung : Rosda Karya Zainurrahman. (2011). Menulis: Dari teori hingga
Pengaruh Perhatian Orangtua dan Interaksi Teman Sebaya
Pengaruh Perhatian Orang Tua dan Interaksi Teman
Sebaya Terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Kimia
Lida Betsaida Sipayung E-mail: [email protected] SMAK Tirtamarta BPK PENABUR
Penelitian
T
Abstrak
ujuan penelitian ini untuk mengetahui : (1) Pengaruh langsung perhatian orang tua terhadap kemampuan pemecahan masalah Kimia, (2) Pengaruh langsung interaksi teman sebaya terhadap kemampuan siswa dalam pemecahan masalah Kimia,(3) Pengaruh langsung perhatian orang tua terhadap interaksi teman sebaya, dan (4) Pengaruh tidak langsung perhatian orang tua terhadap kemampuan pemecahan masalah Kimia melalui interaksi teman sebaya. Metode penelitian adalah metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan tes tertulis dan angket. Analisa data dengan metode statistika deskriptif koefisien korelasi dan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Terdapat pengaruh langsung yang signifikan perhatian orangtua terhadap kemampuan pemecahan masalah kimia siswa dibuktikan dengan nilai th 2,838 > tt 1,980 (2) Terdapat pengaruh langsung yang tidak siqnifikan Interaksi teman sebaya terhadap kemampuan pemecahan masalah kimia siswa dibuktikan dengan nilai th 0,290 < tt 1,980 (3) Terdapat pengaruh langsung yang signifikan perhatian orang tua terhadap Interaksi teman sebaya siswa dibuktikan dengan nilai th 2,370 > tt 1,980. Dan (4) Terdapat pengaruh tidak langsung yang tidak signifikan perhatian orangtua terhadap kemampuan pemecahan masalah kimia melalui interaksi teman sebaya siswa dibuktikan dengan nilai th 0,073 < tt 1,980. Hasil penelitian ini direkomendasikan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah kimia di SMA.
Kata-kata kunci: perhatian orangtua, interaksi teman sebaya, kemampuan pemecahan masalah kimia.
Influences of Parents’ Attention and Interaction with Peers on Problem Solving in Chemistry Abstract
The objective of this study is to examine: (1) the direct influence of parents’ attention on problem-solving in Chemistry, (2) the direct influence of interaction with peers on problem-solving in Chemistry, (3) the direct influence of parents on interaction with peers, and (4) the indirect influence of parents’ attention on problem-solving in Chemistry through interaction with peers. The methodology used in this study was survey. Data collection was performed by means of a written test and a questionnaire. The data was analyzed using descriptive coefficient correlation statistics and Path Analysis. The findings that the study revealed are as follows: (1) the study showed a significant direct influence between parents’ attention and students’ problem solving in Chemistry proven by the value th 0.2090 < tt 1,980 (2) the study showed a non-significant direct influence between peers interaction on students’ problem-solving in Chemistry as proven by th 0.290 < tt 1.980 (3) the study showed a significant direct influence between parents’ attention and peer interaction as proven by the value th 2.370 > tt 1.980. And (4) the study showed non-significant indirect influence between parents’ attention on problem-solving in Chemistry through peer interaction as proven by the value th 0.073 < tt 1.980. The findings of this study can be recommended to solve problems related to chemistry at the high-school level.