KAJIAN TEORETIK
C. Kemampuan Berpikir Kritis
1. Pengertian Kemampuan Berpikir Kritis
Kemampuan berpikir kritis adalah sebuah keterampilan yang dimiliki oleh seseorang yang dapat berpikir secara rasional dan analitis.
Menurut Matindas (dalam Zubaidah, 2010:2) berpikir kritis adalah “sebuah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran dalam sebuah pernyataan”. Kemampuan berpikir kritis juga dapat diartikan sebagai “sebuah pemikiran yang logis terhadap persoalan yang dihadapi”, Junicek (dalam Zubaidah, 2010:3) mengungkapkan bahwa “kemampuan berpikir kritis juga dapat diartikan sebagai sebuah proses ataupun suatu kemampuan yang digunakan dalam memahami sebuah konsep, menerapkan, mensistensis, dan mengevaluasi suatu informasi yang diterima agar dapat dijadikan sebagai sebuah panduan dalam melakukan tindakan”.
Dalam kemampuan berpikir kritis juga terdapat dua komponen untuk membentuk keterampilan berpikir kritis seseorang yaitu kemampuan untuk memproses informasi dan kemampuan untuk memiliki kebiasaan komitmen intelektual.
Selain itu pengertian kemampuan berpikir kritis dapat disederhanakan lagi agar mudah untuk dipahami, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Beyer (dalam Zubaidah, 2010:3) di mana Beyer mengungkapkan bahwa “berpikir kritis berarti membuat sebuah penilaian yang masuk akal, serta berpikir kritis itu dijadikan sebagai penggunaan sebuah kriteria dalam menilai kualitas yang dimulai dari kegiatan yang
paling sederhana seperti kegiatan norma sehari-hari sampai menyusun sebuah kesimpulan dari sebuah tulisan yang digunakan untuk mengevaluasi suatu validitas tertentu”. Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Glaser (dalam Sriwulandari, 2020:11) yang mengungkapkan bahwa “berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mempertimbangkan suatu masalah dengan menunjukkan alasan yang logis dengan menggunakan berbagai macam fakta yang mendukung”. Splitter (dalam Mahmuzah, 2015:67) juga mengungkapkan bahwa “peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis adalah peserta didik yang mampu mengidentifikasikan sebuah permasalahan yang ada, mampu mengevaluasi permasalahan tersebut dan mampu untuk mengkonstruksi sebuah argumen untuk dapat memecahkan permasalahan tersebut”. Selain itu dalam berpikir kritis terdapat enam unsur yang dijadikan sebagai sebuah dasar dalam cara berpikir seseorang yang harus dikembangkan yaitu: fokus, alasan, kesimpulan, situasi, kejelasan, dan pemeriksaan secara menyeluruh. Pendapat lain yang diungkapkan oleh Bloom (dalam Sriwulandari, 2020:11) mengatakan bahwa “berpikir kritis adalah sebuah kemampuan dari setiap individu untuk dapat memperoleh sebuah informasi yang sesuai dengan pengalaman sebelumnya, serta informasi tersebut juga dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk menerima informasi baru”. Sehingga peserta didik membutuhkan fasilitas untuk menjembatani informasi yang sudah diterima tersebut dengan informasi yang baru.
Berdasarkan pendapat ahli yang telah diuraikan mengenai kemampuan berpikir kritis, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menemukan sebuah ide dan informasi yang diterima serta menghubungkan informasi tersebut dengan informasi yang dimiliki sebelumnya dalam membuat sebuah kesimpulan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi.
2. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis
Menurut Fisher (2009:8) indikator dalam kemampuan berpikir yaitu terdiri dari:
1) Mampu mengidentifikasikan sebuah bagian dari alasan ataupun kesimpulan dalam kasus yang sedang dipertimbangkan.
2) Mampu mengidentifikasi dan mengevaluasi pendapat
3) Mampu mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan dan gagasan 4) Mampu menilai sebuah akseptabilitas informasi
5) Mampu mengevaluasi argumen
6) Mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan sebuah penjelasan
7) Mampu menganalisis, mengevaluasi dan membuat suatu kesimpulan 8) Mampu menarik sebuah kesimpulan dengan tepat
9) Mampu menghasilkan sebuah pendapat
Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Ennis, Karakteristik berpikir kritis menurut Ennis (dalam Fridanianti, dkk, 2018:12) yaitu orang yang
berpikir kritis idealnya memiliki beberapa kriteria berpikir kritis yang terdiri dari focus, reason, inference, situation, clarify, dan overview yang dapat disingkat dengan FRISCO, sehingga berdasarkan karakteristik tersebut dapat dilihat indikator kemampuan berpikir kritis. Indikator Kemampuan berpikir kritis menurut Ennis yaitu sebagai berikut:
Tabel 2.3
Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Menurut Ennis Kriteria Berpikir
Kritis
Indikator
F (Focus)
1) Peserta didik memahami permasalahan pada soal yang diberikan
R (Reason)
1) Peserta didik memberikan fakta/
bukti sebagai alasan untuk pengambilan keputusan dan kesimpulan
1) Peserta didik menggunakan semua informasi yang sesuai dengan permasalahan
C (Clarity)
2) Peserta didik menjelaskan maksud dari kesimpulan yang telah dibuat
3) Jika terdapat istilah dalam soal, peserta didik dapat menjelaskan istilah tersebut
4) Peserta didik memberikan contoh kasus yang mirip dengan soal tersebut
O (Overview) 5) Peserta didik melakukan penelitian atau pengecekan dari awal hingga akhir (yang dihasilkan FRISC)
Berdasarkan penjelasan mengenai indikator kemampuan berpikir kritis yang telah dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan berpikir kritis jika seseorang tersebut mampu mengidentifikasikan sebuah permasalahan yang dihadapi, serta mampu mencari solusi yang logis terhadap permasalahan yang dihadapi tersebut, selain itu seseorang tersebut juga mampu dalam membuat sebuah kesimpulan yang disertai dengan argumen yang kuat serta didukung dengan informasi yang bersifat faktual.
3. Karakteristik Kemampuan Berpikir Kritis
Karakteristik dalam berpikir kritis menurut Beyer (dalam Sani, 2019:16) yaitu sebagai berikut:
a. Dilihat dari aspek disposisi, pemikir yang kritis adalah seseorang yang skeptis, berpikir secara terbuka, merasa bebas dalam berpikir, menghargai nalar dan melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang, dan berani mengubah sebuah pemikiran jika terdapat suatu alasan tertentu.
b. Dilihat dari aspek kriteria, di mana kriteria harus digunakan dalam berpikir secara kritis sehingga terdapat kondisi-kondisi yang harus dipenuhi agar suatu pernyataan dapat diyakini dan disimpulkan.
c. Dilihat dari aspek argumen, di mana bukti logis harus diberikan untuk mendukung sebuah pernyataan. Adapun seseorang yang berpikir kritis mencakup proses mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengkonstruksi sebuah argumen.
d. Dilihat dari aspek bernalar, seseorang yang berpikir kritis tentunya harus memiliki kemampuan untuk membuat sebuah kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang ada dan membuat hubungan yang logis antara pernyataan yang ada dengan informasi yang dibutuhkan.
4. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berpikir Kritis
Tingkat kemampuan berpikir seseorang tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Jensen (2011:5) faktor yang mempengaruhi tingkat berpikir kritis seseorang yaitu sebagai berikut:
a. Lingkungan
Lingkungan seseorang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik yang dilihat dari tersedianya motivasi dalam situasi pembelajaran yang mendorong seseorang untuk terus maju dan berkembang dalam berpikir, sehingga lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir.
b. Keinginan/Kemauan
Faktor keinginan atau kemauan juga disebut sebagai sebuah motivasi. Motivasi dan lingkungan erat hubungannya dalam mempengaruhi cara berpikir seseorang. Apabila lingkungan tersebut kondusif terhadap pembelajaran, maka tentunya seorang tersebut memiliki motivasi yang positif dalam berpikir, dan berlaku sebaliknya.
c. Pengalaman Hidup
Pengalaman hidup seseorang memberikan sebuah bukti perjalanan dalam ingatan seseorang, sehingga kemampuan otak akan meningkat
seiring bertambahnya pengalaman hidup. Selain itu pengalaman hidup yang telah dilalui seseorang dapat berpengaruh terhadap cara berpikir kritis seorang tersebut, karena seorang tersebut berpikir berdasarkan pengalaman hidup yang telah dilaluinya.
d. Gen
Gen mempengaruhi kesiagaan, memori dan ketajaman indera yang berkaitan dengan cara berpikir, sehingga gen dapat mempengaruhi proses atau cara berpikir seseorang.
e. Pilihan Hidup
Cara berpikir seseorang juga dipengaruhi dari keputusannya dalam kehidupan sehari-hari. Keputusan tersebut bisa berupa keputusan dalam pemilihan makanan, keputusan dalam lingkungan pergaulan dan keputusan dalam memilih kebiasaan tidur. Berdasarkan keputusan yang dipilihnya otak setiap harinya menghasilkan sel-sel baru, sehingga dapat memperbaharui sel-sel otak yang hilang atau rusak, dan cara berpikir seseorang juga dipengaruhi dari sel-sel otak yang terdapat dalam tubuh orang tersebut.