• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Oleh : Maria Joanna Sura Ola PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Oleh : Maria Joanna Sura Ola PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI"

Copied!
192
0
0

Teks penuh

(1)

i

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS HIGHER ORDER THINKING

SKILLS DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Ekonomi

Oleh :

Maria Joanna Sura Ola 171324022

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI BIDANG KEAHLIAN KHUSUS PENDIDIKAN EKONOMI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2021

(2)

ii

SKRIPSI

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS HIGHER ORDER THINKING

SKILLS DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK

Oleh :

Maria Joanna Sura Ola 171324022

Telah disetujui oleh :

Pembimbing

Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed. Tanggal : 18 November 2021

(3)

iii SKRIPSI

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS HIGHER ORDER THINKING

SKILLS DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK

Dipersiapkan dan ditulis oleh : Maria Joanna Sura Ola

NIM : 171324022

Telah dipertahankan di depan Panitia Penguji Pada tanggal 9 Desember 2021

Dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua : Ig. Bondan Suratno, S.Pd., M.Si. ………

Sekretaris : Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed. ………

Anggota : Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed. ………

Anggota : Dr. Indra Darmawan, S.E., M.Si. ………

Anggota : Kurnia Martikasari, S.Pd., M.Sc. ………

Yogyakarta, 9 Desember 2021

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

Dekan,

Dr..

(4)

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan rasa syukur dan tulus hati, karya ini saya persembahkan sebagai rasa terima kasih kepada:

• Tuhan Yesus, Santo Yosef dan Bunda Maria atas berkat, rahmat dan karunia-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini.

• Kedua Orang Tua, Bapak Johanes Golot Eban Nimunuho dan Ibu Yuliana Ose Uran serta kakak dan adik saya Franzisca Tuto Nugi Nimunuho, Patricia Marceline Peni Gunu Tapobali Nimunuho, Patricia Josephine Barek Baba Tapobali Nimunuho, Ina Nathalia Barek Sabon Nimunuho dan Laurenzio Vilnius Josse (Jovil).

• Seluruh pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, yang ikut andil berpartisipasi dalam penyelesaian skripsi ini, semoga selalu diberkati oleh Tuhan.

“Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku:

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tercinta”

(5)

v MOTTO

“Tetapi apalah artinya pandai dalam ilmu yang hendak diajarkan itu, apabila ia tidak dapat menerangkannya secara jelas kepada murid-

murid”

-Raden Ajeng Kartini-

“Segala perkara dapat ku tanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”

-Filipi 4:13-

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 9 Desember 2021 Penulis

(Maria Joanna Sura Ola)

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan dibawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Maria Joanna Sura Ola Nomor Mahasiswa : 171324022

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul

“IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS DALAM

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK”

Beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikannya secara terbatas dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal : 9 Desember 2021 Yang menyatakan

Maria Joanna Sura Ola

(8)

viii ABSTRAK

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS HIGHER ORDER THINKING SKILLS DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK

Maria Joanna Sura Ola Universitas Sanata Dharma

2021

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui proses pengimplementasian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada Mata Pelajaran Ekonomi dan (2) mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik pada Mata Pelajaran Ekonomi saat pengimplementasian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills.

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) dengan dua siklus tindakan yang dilakukan pada bulan April-Juni 2021 di SMA K Sang Timur Yogyakarta. Partisipan dalam penelitian ini adalah kelas X yang berjumlah 30 peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu tes, kuesioner, dan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif dan kuantitatif.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa: (1) implementasi model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik melalui dua siklus tindakan kelas dan (2) pengimplementasian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik: pada kondisi awal terdapat 17% peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kemudian mengalami peningkatan pada siklus I menjadi sebesar 53%, dan pada akhir siklus II juga mengalami peningkatan hingga mencapai 87%.

Kata kunci: problem based learning, higher order thinking skills, kemampuan berpikir kritis, dan PTK.

(9)

ix ABSTRACT

THE IMPLEMENTATION OF PROBLEM BASED LEARNING MODEL BASED ON HIGHER ORDER THINKING SKILLS FOR IMPROVING

STUDENT CRITICAL THINKING SKILLS Maria Joanna Sura Ola

Sanata Dharma University 2021

This study aims to find out: (1) the implementation process of problem based learning model based on higher order thinking skills for improving students critical thinking skills and (2) the level of student critical thinking skills after implementing problem based learning model based on higher order thinking skills.

This research is a classroom action research (CAR) with two cycles of action conducted in April-June 2021 at Sang Timur Catholic Senior High School in Yogyakarta. The research participants were the 10th graders covered 30 students.

The data collection techniques were test, questionnaire, and observation. The data analysis techniques were qualitative and quantitative data analysis.

The results of the data analysis showed that: (1) the implementation of problem based learning model based on higher order thinking skills could improve student critical thinking skills after implementing two cycles of classroom action and (2) the implementation of problem based learning model based on higher order thinking skills could improves student thinking ability which was 17% in the initial conditions. Then, it increased to 53% in the first cycle, and it also increased to 87%

in the end of the second cycle.

Keywords: problem based learning, higher order thinking skills, critical thinking skills, and CAR.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kepada Tuhan yang Maha kasih karena skripsi ini telah selesai tepat pada waktunya. Skripsi ini ditulis dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Pendidikan PS Pendidikan Ekonomi. Penulis menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini mendapatkan masukan, kritik, dan saran dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta;

2. Ibu Dra. C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed. selaku Ketua PS Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta serta sebagai Dosen Pembimbing yang telah banyak meluangkan waktu dalam memberikan bimbingan, memberikan kritik, dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini;

3. Segenap staf pengajar PS Pendidikan Ekonomi yang telah memberikan tambahan pengetahuan dalam proses perkuliahan;

4. Seluruh mahasiswa Pendidikan Ekonomi angkatan 2017 yang juga telah memberi masukan selama proses diskusi dalam mata kuliah Seminar Proposal Penelitian dan kerjasama yang baik selama ini;

(11)

xi

5. SMA K Sang Timur Yogyakarta yang sudah bersedia mengizinkan saya untuk melakukan penelitian, dan menerima saya dengan baik selama proses penelitian berlangsung:

6. Bapak Albertus Purwoko Sunu selaku tenaga administrasi Prodi Pendidikan Ekonomi yang telah membantu kelancaran proses administrasi selama ini;

7. Bruder Sarju dan Bapak Tri selaku LKM yang selalu membantu saya secara finansial melalui Beasiswa Cerdas Humanis, dan memberikan motivasi selama proses perkuliahan;

8. Kedua Orang tua saya Bapak Johanes Golot, dan Ibu Yuliana yang telah memberikan dukungan dan doa selama ini;

9. Saudara kandung saya Franzisca, Marceline, Josephine, Nathalia dan Jovil yang telah memberikan semangat dan motivasi selama perkuliahan saya;

10. Teman-teman seperjuangan saya yang telah mendukung dan memotivasi saya selama perkuliahan mulai dari awal perkuliahan hingga penulisan skripsi ini berakhir yaitu Livi, Mita, Lia, Lisna, Febri dan Paskha.

11. Teman-teman seperbimbingan saya yang sudah memberikan semangat dan saling belajar selama proses penulisan skripsi berlangsung yaitu Putri, Yasinta, Cici, Rena, Mita, Lia, dan Nando.

Yogyakarta, 9 Desember 2021 Penulis

Maria Joanna Sura Ola

(12)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

(13)

xiii

B. Batasan Masalah... 5

C. Rumusan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 5

E. Manfaat Peneltian... 6

F. Definisi Operasional... 7

BAB II KAJIAN TEORETIK ... 8

A. Model Pembelajaran Problem Based Learning ... 8

B. Higher Order Thinking Skills ... 13

C. Kemampuan Berpikir Kritis ... 19

D. Taksonomi Pendidikan ... 25

E. Penelitian yang Relevan ... 29

F. Kerangka Berpikir Teoritik dan Hipotesis Tindakan ... 31

BAB III METODE PENELITIAN... 34

A. Jenis Penelitian ... 34

B. Prosedur Penelitian... 34

C. Siklus Penelitian Tindakan Kelas... 37

D. Tempat dan Waktu Penelitian ... 46

E. Subjek dan Objek Penelitian ... 46

F. Operasionalisasi Variabel... 46

G. Data yang Dicari ... 49

H. Teknik Pengumpulan Data ... 50

I. Teknik Pengujian Instrumen ... 51

J. Teknik Analisis Data ... 55

(14)

xiv

K. Indikator Keberhasilan ... 62

BAB IV GAMBARAN UMUM ... 63

A. Lokasi Penelitian ... 63

B. Sejarah Sekolah ... 63

C. Visi-Misi Sekolah ... 64

D. Tujuan Sekolah... 65

E. Sistem Akademik Sekolah ... 65

BAB V HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 66

A. Deskripsi Karakteristik Responden ... 66

B. Analisis Data ... 68

C. Pembahasan ... 111

BAB VI KESIMPULAN, SARAN, DAN KETERBATASAN ... 119

A. Kesimpulan ... 119

B. Saran ... 120

C. Keterbatasan ... 120

DAFTAR PUSTAKA ... 122

LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 124

(15)

xv

DAFTAR TABEL

2.1. Tahap Pembelajaran dengan Strategi PBL ... 10

2.2. Pengklasifikasian Dimensi Proses Berpikir ... 18

2.3. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Menurut Ennis ... 22

3.1. Kisi-Kisi Tes Kemampuan Berpikir Kritis ... 48

3.2. Kisi-Kisi Kuesioner Persepsi Peserta Didik ... 49

3.3. Hasil Uji Validitas Kuesioner ... 53

3.4. Interpretasi Uji Validitas ...54

3.5. Hasil Uji Reliabilitas ... 55

3.6. Kategori Nilai Interval Persepsi Peserta Didik... 56

3.7. Skala Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis ... 59

3.8. Kategori Kemampuan Berpikir Kritis ... 60

3.9. Klasifikasi Nilai N-Gain ... 61

5.1. Distribusi Responden Berdasarkan Gender ... 66

5.2. Distribusi Responden Berdasarkan Asal SMP ... 67

5.3. Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Orang Tua ... 67

5.4. Hasil Pretest Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik ... 70

5.5. Distribusi Hasil Pretest Kemampuan Berpikir Kritis Pra Tindakan ... 72

5.6. Hasil Posttest Kemampuan Berpikir Kritis Setelah Siklus I ...82

5.7. Distribusi Hasil Posttest Kemampuan Berpikir Kritis Setelah Siklus I ...84

5.8. Rekapitulasi Hasil Kemampuan Berpikir Kritis ………... 85

5.9. Data Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik ...86

5.10 Hasil Kuesioner Persepsi Peserta Didik Pada Siklus I ... 87

(16)

xvi

5.11 Hasil Posttest Kemampuan Berpikir Kritis Setelah Siklus II ... 103 5.12 Distribusi Hasil Posttest Kemampuan Berpikir Kritis Setelah Siklus II..105 5.13 Rekapitulasi Hasil Kemampuan Berpikir Kritis Pada Siklus I dan II ...106 5.14 Data Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik ... 107 5.15 Hasil Kuesioner Persepsi Peserta Didik Siklus II ... 108

(17)

xvii

DAFTAR GAMBAR

2.1 Paradigma Penelitian ... 33 3.1 Tahapan PTK Oleh Kurt Lewin ... 35

(18)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Surat Ijin Penelitian ... 125

Lampiran 2: Surat Keterangan Selesai Penelitian ... 126

Lampiran 3: RPP Tindakan Siklus I ... 127

Lampiran 4: RPP Tindakan Siklus II ... 133

Lampiran 5: Soal Pretest Penelitian Siklus I ... 138

Lampiran 6: Soal Posttest Penelitian Siklus I ... 140

Lampiran 7: Soal Posttest Penelitian Siklus II ... 142

Lampiran 8: Rekapitulasi Nilai Pretest dan Posttest Peserta Didik ... 144

Lampiran 9: Lembar Kuesioner Peserta Didik ... 145

Lampiran 10: Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas ... 148

Lampiran 11: Rekapitulasi Hasil Kuesioner Siklus I ... 151

Lampiran 12: Rekapitulasi Hasil Kuesioner Siklus II ... 153

Lampiran 13: Lembar Hasil Observasi Penelitian Siklus I ... 155

Lampiran 14: Lembar Hasil Observasi Penelitian Siklus II ... 157

Lampiran 15 : Rubrik Penilaian Tes Peserta Didik ……….. 159

Lampiran 16 : Sampel Pekerjaan Peserta Didik ………... 170

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan yang terdapat dalam diri setiap manusia. Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa “pendidikan termasuk bentuk kegiatan yang direncanakan dengan tujuan untuk mewujudkan suasana dan proses pembelajaran yang dilakukan secara aktif dalam upaya mengembangkan kemampuan peserta didik agar memiliki keterampilan yang diperlukan untuk diri sendiri serta masyarakat”.

Pendidikan di Indonesia dalam memasuki revolusi 4.0 ini sekaligus memasuki era pembelajaran abad 21, di mana pada era ini tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kecakapan dalam berpikir kritis dan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern perkembangan ilmu ekonomi dan teknologi juga semakin maju, dengan adanya kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu inilah yang membuat peserta didik di Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk dapat menyeleksi segala informasi yang diterima, dan harus memiliki kemauan untuk terlebih dahulu mencari kebenaran dari informasi yang diperoleh. Seperti yang disampaikan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian dan Kebudayaan Republik Indonesia (Litbang Kemendikbud, 2013) yaitu paradigma pembelajaran abad 21 menekankan peserta didik untuk memiliki kemampuan mencari sumber, merumuskan

(20)

masalah, berpikir analitis, dan kerjasama (kolaborasi) dalam menyelesaikan masalah.

Dalam dunia pendidikan di Indonesia upaya untuk menciptakan kemampuan berpikir kritis peserta didik yaitu dengan adanya pengembangan kurikulum 2013. Kegiatan pembelajaran dalam pengembangan kurikulum 2013 dirancang agar peserta didik mampu meningkatkan keterampilan dalam berpikir kritis melalui pembelajaran yang mandiri sehingga peserta didik terbiasa untuk berpikir secara kritis dalam pembelajaran di kelas. Pada pengembangan kurikulum 2013 kegiatan pembelajaran dirancang untuk peserta didik lebih aktif dibandingkan dengan guru, sehingga guru tidak lagi menjelaskan materi pelajaran secara jelas dan terperinci tetapi peserta didik diminta untuk mencari sendiri dari berbagai sumber yang ada mengenai materi pelajaran tersebut. Hal tersebut mengakibatkan peserta didik harus mencari sendiri informasi mengenai materi pelajaran dan tidak bergantung pada guru, sehingga peserta didik akan memiliki kemampuan untuk menyeleksi seluruh informasi yang ada dan menyesuaikan dengan informasi yang dibutuhkan. Sehingga seiring berjalannya waktu peserta didik akan mampu untuk berpikir secara kritis terhadap setiap persoalan yang dihadapi.

Dalam pengembangan kurikulum 2013 kegiatan pembelajaran yang dirancang tidak hanya menuntut peserta didik untuk dapat belajar secara mandiri saja, melainkan peserta didik juga diajak untuk melihat lingkungan sekitar dan menghubungkan materi pelajaran dengan permasalahan dan kondisi yang ada di lingkungan sekitar. Serta dalam pengembangan kurikulum 2013

(21)

juga mengajak peserta didik untuk memanfaatkan kemajuan teknologi yang semakin modern ini sebagai sarana pembelajaran sehingga tidak terdapat persepsi bahwa satu-satunya sumber belajar adalah guru.

Pada kenyataannya dengan adanya pengembangan kurikulum 2013 yang sudah berjalan masih dijumpai peserta didik yang tidak mampu berpikir secara kritis atau kurang mampu berpikir secara kritis yang dilihat berdasarkan kegiatan pembelajaran dan cara menjawab peserta didik yang masih sangat text book dan tidak menjawab dengan jawaban analisis, sesuai dengan yang diharapkan pada pembelajaran abad 21 khususnya pada mata pelajaran ekonomi di tingkat sekolah menengah atas (SMA)/ sederajat. Hal tersebut didukung dengan data yang diperoleh peneliti melalui hasil tes berbasis higher order thinking skills yang dilakukan di SMA K Sang Timur Yogyakarta yang menunjukkan hanya sebesar 17% peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan permasalahan tersebut peneliti beranggapan bahwa harus segera dicarikan solusi sebagai bentuk perbaikan terhadap kegiatan pembelajaran yang sudah berlangsung tersebut.

Bentuk perbaikan yang ingin dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik adalah implementasi model pembelajaran yang sesuai dengan yang dibutuhkan peserta didik yang mendukung pengembangan kurikulum 2013. Model pembelajaran yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik kelas X di SMA K Sang Timur Yogyakarta yaitu model pembelajaran problem based learning. Model pembelajaran problem based learning merupakan model pembelajaran yang fokus pada keterlibatan

(22)

peserta didik untuk memiliki keterampilan dalam menemukan solusi akan suatu permasalahan, hal tersebut dikemukakan oleh Ward (dalam Fatimah dan Anistyasari, 2020:183). Selain itu item test yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran juga berpengaruh terhadap tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik, karena pemilihan item test yang tepat dapat memancing peserta didik untuk dapat berpikir secara induktif, deduktif dan rasional. Peneliti beranggapan penggunaan item test berbasis higher order thinking skills dapat membantu peserta didik dalam berlatih agar memiliki kemampuan berpikir kritis. Higher order thinking skills adalah keterampilan berpikir yang lebih tinggi atau kemampuan berpikir secara logis, reflektif, dan analitis.

Pengimplementasian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills memberikan banyak manfaat terhadap peserta didik diantaranya peserta didik dapat berlatih untuk berpikir secara kritis dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tes dalam kegiatan pembelajaran dengan keterampilan menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan menciptakan (C6).

Kemampuan berpikir kritis peserta didik akan muncul seiring berjalannya waktu dengan berlatih keterampilan-keterampilan tersebut. Sehingga peserta didik akan siap pada pembelajaran abad 21 dan mampu mencapai kualitas peserta didik yang diharapkan pada pengembangan kurikulum 2013 tersebut.

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan maka peneliti tertarik untuk melakukan perbaikan kegiatan pembelajaran yang berlangsung dengan melakukan tindakan kelas. Sehingga peneliti ingin melakukan tindakan kelas dengan judul “Implementasi model pembelajaran problem based learning

(23)

berbasis higher order thinking skills dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA K Sang Timur Yogyakarta”.

B. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini hanya membatasi proses pembelajaran menggunakan model problem based learning berbasis higher order thinking skills untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X di SMA K Sang Timur Yogyakarta dalam pembelajaran Ekonomi.

C. Rumusan Masalah

1. Bagaimana implementasi model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA K Sang Timur Yogyakarta?

2. Bagaimana tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X di SMA K Sang Timur Yogyakarta pada mata pelajaran ekonomi dalam pengimplementasian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengimplementasian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dalam

(24)

meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA K Sang Timur Yogyakarta.

2. Untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X di SMA K Sang Timur Yogyakarta pada pelajaran ekonomi dalam pengimplementasian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills.

E. Manfaat Peneltian

Manfaat penelitian yaitu sebagai berikut : 1. Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan peneliti mengenai model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills serta dapat menjadi bekal kelak nantinya akan menjadi seorang pendidik dalam menumbuhkan serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang sesuai dengan tuntutan zaman di era pembelajaran abad 21.

2. Bagi Sekolah

Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan atau pedoman sekolah serta pendidik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) agar dapat menumbuhkan serta meningkatkan kemampuan berpikir dalam segala bentuk pembelajaran, serta agar dapat memahami pentingnya memiliki kemampuan berpikir kritis di era pembelajaran abad 21.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

(25)

Penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi dalam melakukan penelitian yang terkait dengan kemampuan berpikir kritis dan konsep dari model problem based learning.

F. Definisi Operasional

1. Model problem based learning berbasis higher order thinking skills adalah model pembelajaran yang kegiatan pembelajarannya berangkat dari permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan materi pelajaran, pembahasan materi, kegiatan menjawab soal-soal yang diberikan, dan membahas sebuah permasalahan yang ada menggunakan pemikiran tingkat tinggi dan berdasarkan pada informasi yang bersifat objektif dan faktual.

2. Kemampuan berpikir kritis

Kemampuan berpikir kritis adalah keterampilan untuk mengevaluasi secara terperinci dan sistematis suatu persoalan berdasarkan fakta-fakta yang objektif. Kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam penelitian ini dilihat berdasarkan tinggi rendahnya nilai tes yang dihasilkan oleh peserta didik pada saat pengimplementasian model problem based learning berbasis higher order thinking skills.

(26)

8 BAB II

KAJIAN TEORETIK

Pada bab ini akan dijelaskan kajian teoretik yang digunakan sebagai dasar penelitian meliputi model problem based learning, kemampuan berpikir kritis, higher order thinking skills, penelitian yang relevan, serta kerangka berpikir dan hipotesis tindakan.

A. Model Pembelajaran Problem Based Learning

1. Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning

Pembelajaran dengan model problem based learning (PBL) dikenal sebagai model pembelajaran yang didalamnya terdapat keinginan pembelajaran yang bermulai dari adanya suatu permasalahan yang ingin ditelusuri secara mendalam. Kegiatan pembelajaran dengan model problem based learning terdiri dari kegiatan pembelajaran yang didalamnya terdapat proses menghubungkan suatu masalah yang terdapat di lingkungan sekitar dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari. Seperti yang dijelaskan oleh Ward (dalam Fatimah dan Anistyasari, 2020:183), model problem based learning adalah “model pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk dapat mempelajari hubungan antara suatu permasalahan dengan ilmu pengetahuan untuk dapat menemukan solusi dari suatu permasalahan yang ada”.

Pembelajaran problem based learning (PBL) juga dapat didefinisikan sebagai model kurikulum yang dirancang dengan permasalahan di dalam kehidupan nyata yang tidak terstruktur, tidak ada

(27)

akhirnya atau ambigu. Pada model pembelajaran problem based learning kegiatan dirancang dengan upaya melibatkan peserta didik dalam penyelidikan intelektual yang menarik, nyata, dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar dari situasi kehidupan nyata. Sehingga dengan adanya pengimplemenasian model pembelajaran problem based learning diharapkan peserta didik dapat belajar dari kehidupan nyata yang ada di lingkungan sekitar dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.

2. Karakteristik Model Pembelajaran Problem Based Learning

Menurut Fogarty (dalam Pansa, 2016:706), model pembelajaran problem based learning memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelas bermulai dari adanya sebuah permasalahan.

2) Kegiatan pembelajaran harus dipastikan bahwa permasalahan yang digunakan dalam proses pembelajaran harus ada hubungannya dengan materi pelajaran.

3) Mengorganisir kegiatan pembelajaran pada seputar permasalahan, bukan seputar disiplin ilmu.

4) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada peserta didik dalam menjalankan proses pembelajaran .

5) Kegiatan pembelajaran menggunakan kelompok-kelompok kecil.

(28)

6) Kegiatan pembelajaran dirancang untuk menuntut peserta didik mampu mendemonstrasikan apa yang telah dipelajarinya melalui sebuah produk atau kinerja.

3. Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Based Learning

Berikut ini adalah langkah-langkah melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning menurut Nuryati (2018) :

1) Mengorientasikan peserta didik pada masalah 2) Mengorganisir peserta didik untuk belajar

3) Membimbing pengalaman individu atau kelompok 4) Mengembangkan dan menyajikan sebuah hasil karya

5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan sebuah permasalahan

Selain itu Rusmono (2012) juga mengungkapkan mengenai langkah- langkah model pembelajaran problem based learning yaitu dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 2.1

Tahap Pembelajaran dengan Strategi PBL Tahap Pembelajaran Perilaku Guru Tahap 1 :

Mengorganisasikan siswa kepada masalah

Guru menginformasikan tujuan – tujuan pembelajaran, mendeskripsikan kebutuhan – kebutuhan logistik penting, dan memotivasi siswa agar terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah yang mereka pilih sendiri

Tahap 2 :

Mengorganisasikan siswa untuk belajar

Guru membantu siswa menentukan dan mengatur tugas belajar yang

berhubungan dengan masalah itu

Tahap 3 :

Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen,

(29)

mencari penjelasan dan solusi

Tahap 4 :

Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karya serta pameran

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan

menyiapkan hasil karya yang sesuai seperti laporan,

rekaman video, dan model, serta membantu siswa dalam berbagi karya

Tahap 5 :

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa melakukan refleksi atas penyelidikan dan proses- proses yang mereka gunakan

Dengan demikian dapat disimpulkan model pembelajaran problem based learning adalah sebuah model pembelajaran yang diterapkan dalam dunia pendidikan, dengan kegiatan pembelajaran yang berdasarkan sebuah permasalahan yang dihadapi dan dikaitkan dengan materi pelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran tidak terpaku pada materi saja. Pada model pembelajaran problem based learning juga melatih peserta didik untuk mampu melihat persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar untuk dijadikan sebuah pembelajaran.

4. Kegiatan Pembelajaran Model Problem Based Learning

Kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran problem based learning yang dikemukakan oleh Nuryati (2018) yaitu terdiri dari:

1) Kegiatan Pendefinisian Masalah (Defining The Problem)

Kegiatan pendefinisian masalah dalam model problem based learning yaitu berupa kegiatan guru menginformasikan permasalahan yang ada kepada peserta didik. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan

(30)

melihat dan menganalisis permasalahan yang diberikan tersebut. Peserta didik secara berkelompok berdiskusi mengenai permasalahan tersebut, dengan cara masing-masing anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap permasalahan yang diangkat dalam kelas tersebut. Melalui kegiatan tersebut akan muncul pendapat yang beragam dari peserta didik, sehingga dalam kegiatan pembelajaran ini peserta didik dapat berperan aktif.

2) Kegiatan Pembelajaran Mandiri (Self Learning)

Kegiatan pembelajaran mandiri mendorong peserta didik untuk aktif belajar dan menguasai suatu kompetensi sebagai bekal untuk menghadapi permasalahan-permasalahan yang terjadi. Pada kegiatan pembelajaran mandiri, peserta didik diajak untuk memiliki empat komponen utama dalam proses belajar, yaitu konstruktivisme, motivasi belajar, aktif dalam belajar, dan kompetensi.

3) Kegiatan Investigasi (Investigation)

Kegiatan investigasi dalam sebuah kegiatan pembelajaran yaitu memiliki tujuan agar peserta didik dapat mencari informasi dan mengembangkannya secara individual dengan menggunakan pemahamannya sendiri dan menghubungkan permasalahan- permasalahan yang sedang didiskusikan dalam forum kelas. Selain itu kegiatan investigasi juga bertujuan untuk menginformasikan hasil temuan yang relevan dengan materi pelajaran.

4) Kegiatan Pertukaran Pengetahuan (Exchange Knowledge)

(31)

Kegiatan pertukaran pengetahuan dalam kegiatan pembelajaran yaitu dilakukan pada saat setelah peserta didik mendapatkan sebuah permasalahan yang harus diselesaikan dengan cara berdiskusi antar peserta didik. Kegiatan diskusi ini untuk berbagi pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh peserta didik satu dengan peserta didik lainnya.

5) Kegiatan Penilaian (Assessment)

Kegiatan penilaian dalam proses pembelajaran dilakukan secara autentik (authentic assessment) dengan memadukan aspek pengetahuan (knowledge), aspek kecakapan (skills), dan aspek sikap (attitude).

Kegiatan penilaian dalam pembelajaran mencakup penugasan selama proses pembelajaran berlangsung, selain itu penilaian juga dilakukan pada karya dan proyek yang dikerjakan oleh peserta didik, selain itu penilaian juga dilakukan diluar proses pembelajaran peserta didik untuk melihat perilaku peserta didik.

B. Higher Order Thinking Skills

1. Pengertian Higher Order Thinking Skills

Higher order thinking skills (HOTS) adalah keterampilan peserta didik dalam berpikir tingkat tinggi. Menurut Krathwohl (dalam Dinni, 2018:172) indikator untuk mengukur keterampilan tingkat tinggi seseorang yaitu “berdasarkan pada keterampilan menganalisis (C4), keterampilan mengevaluasi (C5), dan keterampilan menciptakan (C6)”. Selain itu Lewis

(32)

dan Smith (dalam Ardianingsih, dkk, 2019:142) juga mengungkapkan sebuah definisi mengenai higher order thinking skills yaitu:

“Higher order thinking skills dapat juga diartikan sebagai sebuah keterampilan berpikir yang terjadi pada saat seseorang mengambil sebuah informasi baru dan menghubungkan informasi tersebut dengan informasi yang sudah ada sebelumnya di ingatannya, lalu disampaikan kepada pihak lain untuk mencapai sebuah tujuan atau jawaban yang dibutuhkan”.

Keterampilan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan higher order thinking skills juga merupakan sebuah keterampilan yang sangat sesuai dengan keterampilan yang dibutuhkan peserta didik pada pembelajaran abad 21, di mana peserta didik dituntut untuk mampu berpikir secara kritis terhadap pembelajaran agar dapat menyelesaikan sebuah permasalahan.

Pada pembelajaran abad 21 peserta didik juga harus kompetitif dalam mengembangkan keterampilan yang dimilikinya. Keterampilan yang harus dimiliki pada abad 21 terdiri dari keterampilan berpikir kritis (critical thinking), pemecahan masalah (problem solving), keterampilan berkomunikasi (communication skills), melek teknologi dan informasi (information literacy), dan melek media (media literacy). Keterampilan berpikir kritis menjadi tantangan baru bagi peserta didik dalam era pembelajaran abad 21 yang sudah menjadi kebutuhan bagi peserta didik dalam upaya menemukan solusi-solusi akan permasalahan yang dapat dihubungkan dengan ilmu pengetahuan.

Selain itu pendapat lain juga mengungkapkan mengenai pengertian higher order thinking skills, sebagai suatu keterampilan yang dibutuhkan

(33)

oleh para peserta didik di era pembelajaran abad 21. Higher order thinking skills menurut Widana (2017) yaitu:

“Higher order thinking skills sebagai sebuah instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dimiliki oleh seseorang, di mana kemampuan tersebut tidak hanya sebatas kemampuan untuk mengingat saja (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa pengolahan sebuah informasi (recite). Melainkan sebuah bentuk kegiatan mentransfer konsep satu kepada konsep lainnya dan memproses informasi yang ada untuk menyelesaikan sebuah persoalan”.

Sehingga dapat disimpulkan higher order thinking skills merupakan sebuah instrumen yang digunakan dalam mengukur tingkat kemampuan berpikir tingkat tinggi atau tingkat kemampuan berpikir kritis seseorang dengan cara berpikir yang lebih logis dan menggunakan segala informasi yang ada untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang dihadapi. Selain itu penggunaan instrumen higher order thinking skills juga dapat melatih, menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

2. Karakteristik Soal-Soal Higher Order Thinking Skills

Karakteristik soal-soal higher order thinking skills menurut Widana (2017) yaitu sebagai berikut:

1) Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi

Dalam soal-soal higher order thinking skills harus dapat mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan instrumen penilaian yang disesuaikan. Dengan penggunaan soal-soal higher order thinking skills dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik dapat dilatih. Oleh karena itu, agar peserta didik memiliki tingkat kemampuan berpikir kritis yang tinggi, proses

(34)

pembelajaran harus bersifat terbuka kepada peserta didik untuk dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik agar mampu menemukan konsep dari pengetahuan berdasarkan aktivitas yang dilakukan oleh peserta didik. Aktivitas pembelajaran yang dilakukan peserta didik untuk memperoleh informasi mengenai pengetahuan yang dibutuhkan dapat mendorong peserta didik untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis dalam diri peserta didik.

2) Berbasis permasalahan kontekstual

Pada soal-soal berbasis higher order thinking skills asesmen yang digunakan adalah kondisi sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga peserta didik dapat menerapkan konsep pembelajaran didalam kelas untuk menyelesaikan sebuah masalah kontekstual. Masalah kontekstual tersebut merupakan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini yang berkaitan dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian, dan ruang angkasa serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga dengan menerapkan higher order thinking skills, peserta didik mampu menemukan relasi antara masalah dengan ilmu pengetahuan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply), serta mampu mengintegrasikan (integrate) ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan permasalahan kontekstual yang nyata. Asesmen kontekstual juga memiliki karakteristik yang dapat diuraikan sebagai berikut:

(35)

a) Relating, asesmen yang berkaitan langsung dengan pengalaman kehidupan nyata.

b) Experiencing, asesmen yang ditekankan pada penggalian (explorating), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).

c) Applying, asesmen yang mendorong peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan sebagai dasar penyelesaian suatu masalah nyata.

d) Communicating, asesmen yang meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mampu mengkomunikasikan sebuah kesimpulan berdasarkan konteks permasalahan.

e) Transfering, asesmen yang meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep pengetahuan pada pembelajaran dalam konteks baru yang sesuai dengan situasi.

3) Menggunakan bentuk soal beragam

Bentuk-bentuk soal yang beragam dalam tes soal higher order thinking skills bertujuan untuk dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dan menyeluruh mengenai kemampuan peserta tes. Pemilihan bentuk soal dalam pembelajaran menjadi sangat penting karena berkaitan dengan penilaian yang digunakan untuk melihat tingkat kemampuan berpikir seseorang. Bentuk soal yang biasa digunakan oleh guru untuk melihat tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik adalah dengan menggunakan instrumen tes higher order thinking skills yang merupakan soal berbentuk uraian. Soal berbentuk uraian adalah

(36)

sebuah soal yang jawabannya menuntut peserta didik untuk dapat mengorganisasikan sebuah gagasan, ide atau hal lain yang telah dipelajari dengan cara menjelaskan kembali gagasan tersebut dengan kalimat sendiri.

Pada bentuk soal uraian guru tentunya harus memiliki gambaran yang luas mengenai ruang lingkup materi yang ingin ditanyakan dan jawaban yang diharapkan oleh peserta didik. Ruang lingkup yang digunakan harus tegas dan jelas yang tergambar dalam sebuah rumusan soal yang diberikan. Dengan adanya sebuah batasan dalam ruang lingkup soal, akan meminimalisir kemungkinan terjadinya ketidakjelasan jawaban dari peserta didik, selain itu dengan adanya batasan ini juga membantu guru dalam pembuatan kriteria penilaian.

3. Pengklasifikasian Proses Berpikir Higher Order Thinking Skills

Menurut Anderson dan Krathwohl (dalam Widana, 2017:7) proses berpikir higher order thinking skills dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Tabel 2.2

Pengklasifikasian Dimensi Proses Berpikir

HOTS

Mengkreasi • Mengkreasi ide/gagasan sendiri

• Kata kerja: mengkonstruksi, desain, kreasi, mengembangkan, menulis, memformulasikan.

Mengevaluasi • Menentukkan keputusan sendiri

• Kata kerja: evaluasi, menilai, menyanggah, memutuskan, memilih, mendukung

Menganalisis • Menspesifikasi aspek-aspek/elemen

• Kata kerja: membandingkan, memeriksa, mengkritisi, menguji

(37)

C. Kemampuan Berpikir Kritis

1. Pengertian Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis adalah sebuah keterampilan yang dimiliki oleh seseorang yang dapat berpikir secara rasional dan analitis.

Menurut Matindas (dalam Zubaidah, 2010:2) berpikir kritis adalah “sebuah aktivitas mental yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran dalam sebuah pernyataan”. Kemampuan berpikir kritis juga dapat diartikan sebagai “sebuah pemikiran yang logis terhadap persoalan yang dihadapi”, Junicek (dalam Zubaidah, 2010:3) mengungkapkan bahwa “kemampuan berpikir kritis juga dapat diartikan sebagai sebuah proses ataupun suatu kemampuan yang digunakan dalam memahami sebuah konsep, menerapkan, mensistensis, dan mengevaluasi suatu informasi yang diterima agar dapat dijadikan sebagai sebuah panduan dalam melakukan tindakan”.

Dalam kemampuan berpikir kritis juga terdapat dua komponen untuk membentuk keterampilan berpikir kritis seseorang yaitu kemampuan untuk memproses informasi dan kemampuan untuk memiliki kebiasaan komitmen intelektual.

Selain itu pengertian kemampuan berpikir kritis dapat disederhanakan lagi agar mudah untuk dipahami, sesuai dengan yang diungkapkan oleh Beyer (dalam Zubaidah, 2010:3) di mana Beyer mengungkapkan bahwa “berpikir kritis berarti membuat sebuah penilaian yang masuk akal, serta berpikir kritis itu dijadikan sebagai penggunaan sebuah kriteria dalam menilai kualitas yang dimulai dari kegiatan yang

(38)

paling sederhana seperti kegiatan norma sehari-hari sampai menyusun sebuah kesimpulan dari sebuah tulisan yang digunakan untuk mengevaluasi suatu validitas tertentu”. Hal tersebut juga sejalan dengan pendapat Glaser (dalam Sriwulandari, 2020:11) yang mengungkapkan bahwa “berpikir kritis merupakan kemampuan untuk mempertimbangkan suatu masalah dengan menunjukkan alasan yang logis dengan menggunakan berbagai macam fakta yang mendukung”. Splitter (dalam Mahmuzah, 2015:67) juga mengungkapkan bahwa “peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis adalah peserta didik yang mampu mengidentifikasikan sebuah permasalahan yang ada, mampu mengevaluasi permasalahan tersebut dan mampu untuk mengkonstruksi sebuah argumen untuk dapat memecahkan permasalahan tersebut”. Selain itu dalam berpikir kritis terdapat enam unsur yang dijadikan sebagai sebuah dasar dalam cara berpikir seseorang yang harus dikembangkan yaitu: fokus, alasan, kesimpulan, situasi, kejelasan, dan pemeriksaan secara menyeluruh. Pendapat lain yang diungkapkan oleh Bloom (dalam Sriwulandari, 2020:11) mengatakan bahwa “berpikir kritis adalah sebuah kemampuan dari setiap individu untuk dapat memperoleh sebuah informasi yang sesuai dengan pengalaman sebelumnya, serta informasi tersebut juga dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk menerima informasi baru”. Sehingga peserta didik membutuhkan fasilitas untuk menjembatani informasi yang sudah diterima tersebut dengan informasi yang baru.

(39)

Berdasarkan pendapat ahli yang telah diuraikan mengenai kemampuan berpikir kritis, dapat disimpulkan bahwa kemampuan berpikir kritis adalah sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam menemukan sebuah ide dan informasi yang diterima serta menghubungkan informasi tersebut dengan informasi yang dimiliki sebelumnya dalam membuat sebuah kesimpulan untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang dihadapi.

2. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Menurut Fisher (2009:8) indikator dalam kemampuan berpikir yaitu terdiri dari:

1) Mampu mengidentifikasikan sebuah bagian dari alasan ataupun kesimpulan dalam kasus yang sedang dipertimbangkan.

2) Mampu mengidentifikasi dan mengevaluasi pendapat

3) Mampu mengklarifikasi dan menginterpretasi pernyataan dan gagasan 4) Mampu menilai sebuah akseptabilitas informasi

5) Mampu mengevaluasi argumen

6) Mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan sebuah penjelasan

7) Mampu menganalisis, mengevaluasi dan membuat suatu kesimpulan 8) Mampu menarik sebuah kesimpulan dengan tepat

9) Mampu menghasilkan sebuah pendapat

Pendapat yang berbeda dikemukakan oleh Ennis, Karakteristik berpikir kritis menurut Ennis (dalam Fridanianti, dkk, 2018:12) yaitu orang yang

(40)

berpikir kritis idealnya memiliki beberapa kriteria berpikir kritis yang terdiri dari focus, reason, inference, situation, clarify, dan overview yang dapat disingkat dengan FRISCO, sehingga berdasarkan karakteristik tersebut dapat dilihat indikator kemampuan berpikir kritis. Indikator Kemampuan berpikir kritis menurut Ennis yaitu sebagai berikut:

Tabel 2.3

Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Menurut Ennis Kriteria Berpikir

Kritis

Indikator

F (Focus)

1) Peserta didik memahami permasalahan pada soal yang diberikan

R (Reason)

1) Peserta didik memberikan fakta/

bukti sebagai alasan untuk pengambilan keputusan dan kesimpulan

I (Inference)

1) Peserta didik membuat kesimpulan dengan tepat

2) Peserta didik memilih reason yang tepat untuk mendukung kesimpulan yang dibuat

S (Situation)

1) Peserta didik menggunakan semua informasi yang sesuai dengan permasalahan

C (Clarity)

2) Peserta didik menjelaskan maksud dari kesimpulan yang telah dibuat

3) Jika terdapat istilah dalam soal, peserta didik dapat menjelaskan istilah tersebut

4) Peserta didik memberikan contoh kasus yang mirip dengan soal tersebut

O (Overview) 5) Peserta didik melakukan penelitian atau pengecekan dari awal hingga akhir (yang dihasilkan FRISC)

(41)

Berdasarkan penjelasan mengenai indikator kemampuan berpikir kritis yang telah dikemukakan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan berpikir kritis jika seseorang tersebut mampu mengidentifikasikan sebuah permasalahan yang dihadapi, serta mampu mencari solusi yang logis terhadap permasalahan yang dihadapi tersebut, selain itu seseorang tersebut juga mampu dalam membuat sebuah kesimpulan yang disertai dengan argumen yang kuat serta didukung dengan informasi yang bersifat faktual.

3. Karakteristik Kemampuan Berpikir Kritis

Karakteristik dalam berpikir kritis menurut Beyer (dalam Sani, 2019:16) yaitu sebagai berikut:

a. Dilihat dari aspek disposisi, pemikir yang kritis adalah seseorang yang skeptis, berpikir secara terbuka, merasa bebas dalam berpikir, menghargai nalar dan melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang, dan berani mengubah sebuah pemikiran jika terdapat suatu alasan tertentu.

b. Dilihat dari aspek kriteria, di mana kriteria harus digunakan dalam berpikir secara kritis sehingga terdapat kondisi-kondisi yang harus dipenuhi agar suatu pernyataan dapat diyakini dan disimpulkan.

c. Dilihat dari aspek argumen, di mana bukti logis harus diberikan untuk mendukung sebuah pernyataan. Adapun seseorang yang berpikir kritis mencakup proses mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengkonstruksi sebuah argumen.

(42)

d. Dilihat dari aspek bernalar, seseorang yang berpikir kritis tentunya harus memiliki kemampuan untuk membuat sebuah kesimpulan dari pernyataan-pernyataan yang ada dan membuat hubungan yang logis antara pernyataan yang ada dengan informasi yang dibutuhkan.

4. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Berpikir Kritis

Tingkat kemampuan berpikir seseorang tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Jensen (2011:5) faktor yang mempengaruhi tingkat berpikir kritis seseorang yaitu sebagai berikut:

a. Lingkungan

Lingkungan seseorang dapat mempengaruhi tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik yang dilihat dari tersedianya motivasi dalam situasi pembelajaran yang mendorong seseorang untuk terus maju dan berkembang dalam berpikir, sehingga lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir.

b. Keinginan/Kemauan

Faktor keinginan atau kemauan juga disebut sebagai sebuah motivasi. Motivasi dan lingkungan erat hubungannya dalam mempengaruhi cara berpikir seseorang. Apabila lingkungan tersebut kondusif terhadap pembelajaran, maka tentunya seorang tersebut memiliki motivasi yang positif dalam berpikir, dan berlaku sebaliknya.

c. Pengalaman Hidup

Pengalaman hidup seseorang memberikan sebuah bukti perjalanan dalam ingatan seseorang, sehingga kemampuan otak akan meningkat

(43)

seiring bertambahnya pengalaman hidup. Selain itu pengalaman hidup yang telah dilalui seseorang dapat berpengaruh terhadap cara berpikir kritis seorang tersebut, karena seorang tersebut berpikir berdasarkan pengalaman hidup yang telah dilaluinya.

d. Gen

Gen mempengaruhi kesiagaan, memori dan ketajaman indera yang berkaitan dengan cara berpikir, sehingga gen dapat mempengaruhi proses atau cara berpikir seseorang.

e. Pilihan Hidup

Cara berpikir seseorang juga dipengaruhi dari keputusannya dalam kehidupan sehari-hari. Keputusan tersebut bisa berupa keputusan dalam pemilihan makanan, keputusan dalam lingkungan pergaulan dan keputusan dalam memilih kebiasaan tidur. Berdasarkan keputusan yang dipilihnya otak setiap harinya menghasilkan sel-sel baru, sehingga dapat memperbaharui sel-sel otak yang hilang atau rusak, dan cara berpikir seseorang juga dipengaruhi dari sel-sel otak yang terdapat dalam tubuh orang tersebut.

D. Taksonomi Pendidikan

1. Kategori dimensi pengetahuan

Kategori dimensi pengetahuan yang diungkapkan oleh Bloom (1956:39) yaitu menetapkan pendidikan terdiri dari empat kategori yaitu pengetahuan faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan metakognitif.

(44)

a. Pengetahuan faktual

Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan mengenai elemen- elemen dasar yang harus diketahui peserta didik untuk mempelajari satu disiplin ilmu atau untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam disiplin ilmu tersebut. Pengetahuan faktual yaitu meliputi pengetahuan tentang terminologi, dan pengetahuan tentang detail-detail elemen yang spesifik.

b. Pengetahuan konseptual

Pengetahuan konseptual merupakan pengetahuan mengenai hubungan-hubungan antar elemen dalam sebuah struktur besar yang memungkinkan elemen-elemennya berfungsi secara bersama-sama.

Pengetahuan konseptual yaitu terdiri dari: 1) pengetahuan tentang klasifikasi dan kategori, 2) pengetahuan tentang prinsip dan generalisasi, 3) pengetahuan tentang teori, model, dan struktur.

c. Pengetahuan prosedural

Pengetahuan prosedural merupakan pengetahuan mengenai bagaimana sesuatu, mempraktikkan, metode-metode penelitian, dan kriteria-kriteria untuk menggunakan keterampilan, algoritme, Teknik, dan metode. Pengetahuan prosedural yaitu terdiri dari: 1) pengetahuan tentang keterampilan dalam bidang tertentu dan algoritme, 2) pengetahuan tentang teknik dan metode dalam bidang tertentu, 3) pengetahuan tentang kriteria untuk menentukan kapan harus menggunakan prosedur yang tepat.

(45)

d. Pengetahuan metakognitif

Pengetahuan metakognitif merupakan pengetahuan mengenai kondisi secara umum, dan kesadaran serta pengetahuan mengenai diri sendiri. Pengetahuan metakognitif yaitu terdiri dari: 1) pengetahuan strategis, 2) pengetahuan tentang tugas-tugas kognitif, dan 3) pengetahuan tentang diri.

2. Kategori dimensi proses kognitif

Kategori dalam dimensi proses kognitif adalah sebuah pengklasifikasian proses kognitid peserta didik secara komprehensif yang terdapat dalam tujuan-tujuan di bidang pendidikan. Kategori dalam proses kognitif ini sangat sering dijumpai dalam pembelajaran yaitu mengingat (C1), kemudian memahami (C2), dan mengaplikasikan (C3), selain itu proses kognitif lainnya yang jarang dijumpai pada tujuan pembelajaran meliputi menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan mencipta (C6).

Mengingat merupakan proses mengambil pengetahuan tertentu dari memori jangka panjang. Proses memahami merupakan proses mengkontruksi makna pada materi pelajaran termaksuk apa yang diucapkan, ditulis, dan digambarkan oleh guru. Proses mengaplikasikan adalah menerapkan atau menggunakan suatu prosedur dalam keadaam tertentu. Menganalisis merupakan proses memecah-mecahkan materi dan menentukkan hubungan antar materi tersebut. Mengevaluasi adalah proses mengambil keputusan berdasarkan pada kriteria atau standar yang ada.

Mencipta adalah sebuah proses memadukan bagian-bagian untuk

(46)

membentuk sesuatu yang baru untuk membuat sebuah produk yang orisinal.

Enam kategori pada dimensi proses kognitif dan proses kognitif yang terkait dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.4

Tabel Taksonomi Pendidikan

Kategori Proses Contoh Kata Kerja 1. MENGINGAT (C1) : mengambil

pengetahuan dari memori jangka panjang

1.1 Mengenali

1.2 Mengingat kembali

2. MEMAHAMI (C2) :

mengkontruksi makna dari materi pembelajaran, termaksuk apa yang diucapkan, ditulis, dan digambar oleh guru.

2.1 Menafiskan 2.2 Mencontohkan 2.3 Mengklasifikasikan 2.4 Merangkum

2.5 Menyimpulkan 2.6 Membandingkan 2.7 Menjelaskan 3. MENGAPLIKASIKAN (C3) :

menerapkan dan menggunakan suatu prosedur dalam keadaan tertentu

3.1 Mengeksekusi

3.2 Mengimplementasikan

4. MENGANALISIS (C4) :

memecah-mecah materi menjadi bagian-bagian dari penyusunannya dan menentukkan hubungan- hubungan antar bagianitu secara keseluruhan

4.1 Membedakan 4.2 Mengorganisasi 4.3 Mengatribusikan

5. MENGEVALUASI (C5):

mengambil keputusan berdasarkan kriteria dan standar

5.1 Memeriksa 5.2 Mengkritik 6. MENCIPTA (C6): memadukan

bagian-bagian untuk membentuk sesuatu yang baru untuk membuat suatu produk yang orisinal

6.1 Merumuskan 6.2 Merencanakan 6.3 Memproduksi

(47)

E. Penelitian yang Relevan

Berdasarkan pada tujuan utama dari adanya penelitian yang dilakukan ini, maka perlu adanya penelitian-penelitian yang relevan di waktu sebelumnya, dengan tujuan untuk melihat persamaan dan perbedaan yang terdapat pada penelitian-penelitian sebelumnya dan penelitian yang akan dilaksanakan ini.

Beberapa penelitian sebelumnya yang relevan yaitu sebagai berikut:

(48)

No Peneliti dan Tahun

Judul Penelitian Tempat Penelitian Jenis Penelitian &

Teknik Analisis Data

Temuan / Hasil 1. Yunin Nurun

Nafiah dan Wardan Suyanto (2014)

“Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa”

SMK Islam Terpadu Smart Informatika Surakarta

Jenis Penelitian :

Penelitian Tindakan Kelas Analisis Data :

Statistik Deskriptif

1. Melalui Penerapan PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa

2. Melalui penerapan PBL dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar.

3. Keterampilan berpikir kritis siswa setelah penerapan PBL meningkat sebesar 24,2%

4. Peningkatan hasil belajar siswa sebesar 31,03%

2. Ari Syahidul Shidiq, Mohammad Masykuri, dan Elfi Susanti (2015)

“Analisis HOTS

Menggunakan Instrumen Two-Tier Multiple Choice Pada Materi Kelarutan dan Hasil Kali Larutan untuk Siswa Kelas XI SMA N 1 Surakarta”

SMA Negeri 1 Surakarta

Jenis Penelitian : Studi Pustaka Analisis Data : Deskripsi Kuantitatif

Kelas dengan nilai rata – rata tertinggi memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi dibandingkan dengan kelas yang memiliki nilai rata – rata sedang atau rendah.

3. Hayuna Hamdalia Herxon, Budijanto, dan Dwiyono Hari Utomo (2018)

“Pengaruh Problem Based Learning (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis”

SMA Negeri Barabai Jenis penelitian :

EksperimenAnalisis Data : Deskriptif Kuantitatif

Problem Based Learning dapat membuat pembelajaran geografi efektif dan efisien sehingga keterampilan berpikir kritis peserta didik dapat meningkat.

(49)

F. Kerangka Berpikir Teoritik dan Hipotesis Tindakan

Model problem based learning berbasis higher order thinking skills adalah pembelajaran dengan bentuk kegiatan pembelajaran yang berangkat dari permasalahan-permasalahan di lingkungan sekitar. Dalam kegiatan pembelajaran menggunakan model problem based learning berbasis higher order thinking skills peserta didik dilatih untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis melalui pembelajaran dan item tes yang dirancang berbasis higher order thinking skills. Pada pengimplementasian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills peserta didik diajak untuk berpikir secara rasional dan reflektif, selain itu peserta didik juga diajak untuk melihat persoalan di lingkungan sekitar dan menghubungkannya dengan materi yang sedang dipelajari. Peserta didik tidak difokuskan pada materi yang diberikan guru, melainkan peserta didik diberikan kebebasan untuk mencari sumber lainnya yang relevan. Dalam pengimplementasian model pembelajaran problem based learning peserta didik juga dilatih untuk mengungkapkan gagasan atau pendapatnya, selain itu pada model problem based learning berbasis higher order thinking skills peserta didik juga diajarkan untuk menerima dan mendengar pendapat/gagasan dari orang lain. Hal tersebut dibuktikan dari kegiatan pembelajaran berupa diskusi-diskusi kelompok yang dilakukan didalam kelas.

(50)

Melalui implementasi model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dapat membantu guru dalam menarik perhatian peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran, karena dengan model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills terdapat kegiatan diskusi kelompok dan penugasan kelompok lainnya yang dapat menumbuhkan interaksi antar peserta didik, sehingga kegiatan pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk berlatih berpikir secara kritis melalui diskusi dalam upaya pemecahan suatu masalah. Pada pembelajaran dengan model problem based learning berbasis higher order thinking skills peserta didik juga dituntut untuk mampu dalam membuat sebuah kesimpulan dan disertai dengan argumentasi yang kuat, selain itu peserta didik juga dibiasakan untuk dapat memanfaatkan segala informasi yang ada untuk mendukung kesimpulan yang dibuat. Dengan demikian model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dapat melatih peserta didik untuk menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Berdasarkan uraian tersebut maka perumusan hipotesis tindakan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Implementasi model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berpikir kritis.

Berdasarkan kerangka berpikir dan rumusan hipotesis di atas maka paradigma penelitian ini digambarkan pada skema berikut:

(51)

Gambar 2.1 : Paradigma Penelitian

(52)

34 BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bagian ini akan diuraikan metode yang digunakan dalam penelitian, meliputi jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, subjek dan objek penelitian, operasionalisasi variabel, teknik pengumpulan data, prosedur penelitian, siklus penelitian tindakan kelas, teknik pengujian instrumen penelitian, serta teknik analisis data yang dibantu dengan program SPSS versi 2.5 for Windows.

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Kusumah dan Dwitagama (2012:9) “Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri dengan melakukan tindakan perbaikan untuk meningkatkan hasil belajar”. Tujuan dari dilakukannya penelitian tindakan kelas yaitu untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran ataupun hasil kegiatan pembelajaran berdasarkan permasalahan yang terjadi. Sehingga permasalahan dalam penelitian tindakan kelas diharuskan berasal dari peneliti atau guru yang ingin memperbaiki kegiatan pembelajaran di dalam kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di dalam kelas.

B. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X pada mata pelajaran ekonomi di SMA K Sang Timur Yogyakarta dengan

(53)

menggunakan model pembelajaran problem based learning berbasis higher order thinking skills (HOTS). Penelitian tindakan kelas pertama kali dikembangkan oleh Kurt Lewin pada tahun 1946 dengan memperkenalkan

“penelitian tindakan kelas yang terdiri dari empat (4) tahapan yang terdiri dari tahap perencanaan, tahap tindakan, tahap observasi, dan tahap refleksi.

Tahapan yang terdapat dalam penelitian tindakan kelas juga biasa disebut dengan siklus penelitian tindakan kelas”.

Empat langkah PTK yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3.1 Tahapan PTK oleh Kurt Lewin

Berdasarkan gambar 3.1 terlihat bahwa tahapan atau siklus penelitian tindakan kelas meliputi kegiatan perencanaan, kegiatan tindakan, kegiatan observasi, dan kegiatan refleksi.

(54)

1. Perencanaan (planning)

Tahap pertama dari penelitian tindakan kelas ini adalah perencanaan. Dalam tahap perencanaan ini, peneliti menyusun sebuah rencana yang akan dilakukan dalam penelitian ini. Pada tahapan perencanan ini peneliti membuat perencanaan pembelajaran yang sesuai untuk mengatasi permasalahan pembelajaran yang dihadapi di dalam kelas agar tindakan kelas dapat berjalan dengan baik dan tepat pada sasaran.

2. Tindakan (acting)

Dalam tahap kedua, peneliti melakukan tindakan sesuai dengan rancangan yang sudah direncanakan pada tahap perencanaan. Dalam pelaksanaannya apabila peneliti ingin memberi perlakuan yang lebih untuk menyesuaikan dengan kondisi di dalam kelas tetap diperbolehkan, selama tidak merubah konsep dari perencanaan yang sudah dibuat sebelumnya.

3. Observasi (observing)

Dalam tahap ketiga peneliti melakukan pengamatan terhadap respon atau persepsi dari peserta didik sebagai responden dari tindakan yang diberikan. Pengamatan atau observasi dilakukan pada saat tindakan berlangsung guna untuk melihat kondisi saat tindakan dilakukan mengenai proses pembelajaran dan untuk mengetahui pengaruh yang timbul dengan adanya perlakuan tindakan tersebut.

(55)

4. Refleksi (reflecting)

Dalam tahap keempat peneliti melakukan refleksi dari tindakan yang sudah dilakukan. Pada tahap refleksi ini juga sebagai tahapan peneliti dalam melihat keberhasilan dari tindakan yang telah dilaksanakan.

Dalam tahap refleksi ini peneliti merefleksikan kembali hal-hal yang telah dilaksanakan dalam tindakan kelas baik itu keberhasilan dari tindakan yang dilakukan maupun ketidakberhasilan dalam tindakan yang telah dilakukan. Jika pada tahap refleksi ini dijumpai tindakan kelas yang masih belum terlaksana dengan baik maka peneliti akan membuat siklus kedua untuk memperbaiki tindakan pada siklus pertama.

C. Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Penjabaran rencana penelitian tindakan kelas pada setiap siklus yaitu sebagai berikut :

1. Rencana Tindakan Siklus I a. Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan, peneliti melakukan kegiatan merencanakan tindakan kelas berdasarkan pada permasalahan yang ditemui serta perencanaan yang dibuat juga berdasarkan pada analisis permasalahan yang ditemui sehingga perencanaan dianggap dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi peneliti. Peneliti merencanakan untuk mengimplementasikan model pembelajaran

Referensi

Dokumen terkait

Penerimaan daerah lainnya meliputi Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan (HPKD) dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah (LLPAD) di lingkup

Pada tahap penelitian dilakukan perancangan awal rangkaian pengontrol suhu otomatis untuk memastikan bahwa rangkaian ini dapat diintegrasikan dengan sistem yang

Berkaitan dengan adanya kenaikan nilai pencapaian keterampilan mahasiswa dalam asuhan persalinan, hal ini didukung adanya perbedaan penilaian dari pembimbing

Berdasarkan hasil penelitian dan pemba- hasan diperoleh simpulan sebagai berikut: (1) penelitian pengembangan ini menggunakan mo- del pengembangan Four-D yang

Bab 4 HAM dan Gender Tutorial,Diskusi, Mahasiswa memahami pengertian dasar HAM pengertian dasar HAM  Pengertian Hak Asasi Manusia dan TM= 3x50” dan Gender dan Gender , dinamika

Hal ini berarti, perlakuan mutasi induksi yang dilakukan dalam program perbaikan genetik padi lokal Sumatera Utara dapat mendukung dihasilkannya keragaman genetik yang

Terhadap operator bus non eksisting yang masa berlaku Perjanjian Kerja Sarna sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal12 telah berakhir, dapat diberikan kesempatan untuk

Contoh yang lain adalah orang yang melapor kepada pemerintah atau pihak yang berwenang dengan mengatakan bahwa ada seseorang yang telah melakukan suatu tindakan