• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kemampuan Pemecahan Masalah

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh Hilmia Azhar NIM (Halaman 34-40)

D. Manfaat Penelitian

5. Kemampuan Pemecahan Masalah

Asal dari kata kemampuan yaitu mampu yang berarti kuasa (bisa, sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan berarti, kecakapan, kesangggupan maupun kekuatan (Tim Penusun Kamus Besar bahasa Indonesia, 1989: 552-553). Menurut Dahar, (Sundayana R, 2016) mengemukakan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu kegiatan manusia yang menggabungkan konsep-konsep dan aturan-aturan yang telah diperoleh sebelumnya.

Menurut Hudoyo (Fatmala, dkk. 2016: 28) menyatakan bahwa

“Mengajar siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah memungkinkan siswa itu menjadi lebih analitis di dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan”.

Menurut Suwarjono, (Fatmala, dkk. 2016: 28) kemampuan pemecahan masalah adalah kemampuan seseorang untuk menemukan solusi melalui suatu proses untuk melibatkan pemerolehan dan

pengorganisasian informasi. Karena itu masalah yang disajikan kepada peserta didik harus sesuai dengan kemampuan dan kesiapannya serta proses penyelesaiannya tidak dapat dengan prosedur rutin.

Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dikatakan bahwa pemecahan masalah ialah suatu proses untuk menyelesaikan soal-soal nonrutin dengan langkah-langkah yang tidak sama dengan yang telah dipelajari. Pada umumnya kemampuan pemecahan masalah siswa yang satu dengan yang lain memiliki perbedaan karena langkah-langkah penyelesaian yang digunakan untuk mencari solusi permasalahan tergantung bagaimana siswa menerapkan konsep yang telah dipahami masing-masing siswa.

Adapun langkah-langkah pemecahan masalah menurut Polya (1973) ada empat yaitu: memahami masalah (understand the problem), membuat rencana pemecahan masalah (make a plan), melaksanakan rencana (carry out our plan), dan memeriksa kembali jawaban (look back at the completed solution). Secara rinci empat langkah itu dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Memahami masalah (understand the problem)

Dalam tahap ini, permasalah dibaca secara berulang-ulang sehingga dapat membedakan hal-hal yang diketahui maupun ditanyakan atapun hubungan kedua hal tersebut.

b. Membuat rencana (make a plan)

Pada langkah ini, akan diperoleh rumus dan unsur yang akan digunakan dalam pemecahan masalah sehingga dalam menentukan rencana perlu aturan-aturan yang harus dipahami terlebih dahulu.

c. Melaksanakan rencana (carry out our plan)

Dengan menggunakan rumus dan unsur yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya maka rumus dan unsur dapat digunakan pada tahap ini hasil dari tahapan ini merupakan solusi dari masalah tersebut.

d. Memeriksa kembali jawaban (look back at the completed solution) Memastikan kebenaran dan meninjau ulang apakah sesuai solusi dengan permasalahan sehingga jawaban yang diperoleh harus diperiksa terlebih dahulu.

Kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki semua siswa agar siswa memiliki sifat keingintahuan yang tinggi, ketekunan dalam menyelesaikan masalah, serta percaya diri saat menemui masalah non-rutin. Pemecahan masalah juga melatih siswa agar mampu mengasah keterampilan menganalisis informasi, mengumpulkan informasi, mengambil keputusan serta meneliti kembali hasil yang diperoleh.

Adapun indikator yang digunakan peneliti dalam megukur kemampuan pemecahan masalah pada penelitian ini yaitu

a. Fokus pada masalah

Menuliskan unsur-unsur yang diketahui maupun ditanyakan dalam masalah.

b. Menggambarkan fisik

Membuat unsur-unsur yang diketahui dan ditanyakan kedalam bentuk simbol, atau model matematika dari permasalahan.

c. Merencanakan penyelesaian

Menyusun rancangan penyelesaian atau tahapan-tahapan penyelesaian masalah.

d. Melaksanakan rencana

Menyelesaikan masalah sehingga dapat menemukan jawaban dari permasalahan.

e. Evaluasi hasil

Memeriksa kembali serta menarik kesimpulan dari apa yang telah diperoleh.

6. Tabel 2. 1 Tahapan Pembelajaran Model KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi dan Refleksi) dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.

Tahapan Deskripsi Pembelajaran Model KADIR dalam kemampuan pemecahan masalah siswa

Koneksi  Peserta didik mengaitkan konsep-konsep baru yang diperoleh

 Peserta didik menarik kesimpulan mengenai konsep sehingga dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah.

Aplikasi  Peserta didik mengidentifikasi masalah.

 Peserta didik membuat diagram, simbol, maupun gambar untuk mempresentasikan permasalahan.

 Peserta didik membuat model matematika.

 Peserta didik menentukan, mendesain serta menerapkannya sebagai cara penyelesaian.

 Peserta didik mengoprasikan penyelesaian masalah.

Diskursus  Peserta didik bertanya dan menjawab berdasarkan informasi yang diperoleh dari pengalaman.

Improvisasi  Peserta didik membuat permasalah baru yang mirip dengan permasalah sebelumnya.

 Peserta didik menyelesaikan bermasalahan yang telah dibuat.

Refleksi  Peserta didik memeriksa kembali kebenaran dari yang didapatkan.

 Peserta didik menarik kesimpulan dari permasalahan.

23

1. Penelitian Andre Veliana Verry (2017) yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Berfikir Reflektif Matematis Siswa Melalui Model Pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi)” yang menunjukkan bahwa model pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi) mampu meningkatkan kemampuan berfikir reflektif matematis dan aktivitas siswa. Hal ini dapat dilihat dari presentase berfikir reflektif siswa yang lulus sebesar 50% dengan rata-rata sebesar 55,36 pada akhir siklus I dan presentase siswa yang lulus sebesar 73,08% dengan rata-rata 70,27 pada akhir siklus II,dan juga presentase aktivitas belajar siswa meningkat menjadi 77,78% pada siklus II dari 66,42% disiklus I.

Selain itu respon positif dari siswa sebesar 70,19% pada siklus I dan meningkat menjadi 82,05% pada siklus II dengan menggunakan Model Pembelajaran KADIR (Koneksi, Aplikasi, Diskursus, Improvisasi, dan Refleksi).

2. Penelitian Arif Budi Purnomo, dkk (2019) dengan judul “Kemampuan Koneksi dan Pemecahan Masalah Matematis Menggunkan Model Pembelajaran KADIR Pada Materi Persegi Panjang dan Persegi Kelas VII MTsN Batu” yang menunjukkan bahwa: (1) Pencapaian indikator kemampuan koneksi dan pemecahan masalah peserta didik kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol karena kelas eksperimen sebagian besar peserta didik telah memenuhi indikator dari dua kemampuan yang diukur. Sedangkan pada kelas kontrol hanya sebagian kecil yang memenuhi indikator dari dua kemampuan koneksi dan pemecahan

masalah matematis. Sehingga, tidak terdapat perbedaan hasil kualitatif dan kuantitatif yang artinya hasil kualitatif mendukung, melengkapi dan memperkuat hasil kuantitatif pada tahap pertama. (2) Kemampuan koneksi dan pemecahan masalah matematis peserta didik kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol dengan membandingkan thitung dan ttabel dengan nilai thitung = 2,726 > 2,00488 dan thitung = 3,570 > 2,00488; (3) terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran KADIR dan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional dengan nilai Sig (2-tailed) = 0,009 < 0,025 dan Sig (2-tailed) = 0,001 < 0,025;

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh Hilmia Azhar NIM (Halaman 34-40)

Dokumen terkait