• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kawasan pesisir (coastal zone) adalah daerah pertemuan antara ekosistem laut dan darat, yang merupakan tempat atau habitat bagi berbagai mahluk hidup serta mengandung berbagai sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Kawasan ini pada umumnya merupakan tempat konsentrasi pemukiman penduduk beserta segenap aktivitas pembangunannya. Menurut Cicin-Sain and Knecht (1998), lebih dari separuh jumlah penduduk dunia bermukim di kawasan pesisir, dan sekitar dua pertiga kota-kota besar dunia juga terletak di kawasan ini. Sementara itu, laju pertumbuhan penduduk di kawasan pesisir lebih besar ketimbang yang terjadi di daerah hulu (upland areas). Oleh karena itu, berbagai persoalan sosial ekonomi muncul di kawasan pesisir sebagai akibat dari banyaknya kegiatan manusia di tempat ini. Salah satu persoalan pokok adalah kemiskinan. Studi komprehensif Bank Dunia memperkirakan dari enam milyar penduduk bumi, sekitar 1,2 milyar orang berpenghasilan kurang dari US$ 1 setiap hari. Dengan kata lain, mereka hidup dalam kemiskinan total. Sedangkan 2,8 milyar orang memiliki penghasilan kurang dari US$ 2 per hari. Artinya, sekitar 4 milyar orang penduduk bumi hidup dalam kemiskinan (Sutjipto, 2006).

Kemiskinan merupakan masalah sosial utama umat manusia saat ini. Ada yang mengatakan nelayan itu miskin, bahkan termiskin diantara orang miskin. Menurut Dahuri (2000), salah satu ciri utama masyarakat pesisir adalah masalah kemiskinan. Sulit untuk dipungkiri bahwa kemiskinan adalah sebagai problem yang multidimensional. Bahkan banyak pihak beranggapan bahwa kemiskinan adalah akar dari segala akar persoalan kemanusiaan, karena kemiskinan dapat menimbulkan kriminalitas, radikalisme dan terorisme. Para ilmuwan sosial melihat kemiskinan dari tiga pendekatan definisi secara luas (Njeru, 2004)

1) Kemiskinan Absolut

Kemiskinan absolut berkenaan dengan keperluan untuk nafkah hidup berdasarkan perkiraan syarat nafkah hidup minimum, meliputi kebutuhan dasar manusia dan sumber kebutuhan untuk memelihara kesehatan dan ketangkasan fisik. Sumber kebutuhan yang dimaksud meliputi kualitas dan kuantitas makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Semua ini diperlukan sebagai kebutuhan untuk hidup sehat. Kebutuhan dasar hidup tersebut kemudian dihitung dan nilainya merupakan garis kemiskinan. Mereka yang penghasilannya dibawah garis kemiskinan tersebut adalah orang miskin. Penerapan dan ukuran kemiskinan absolut didasarkan pada beberapa indikator seperti, tingkat indek kehidupan (level of living index), diarahkan kepada kebutuhan dasar seperti: makanan, tempat tinggal, dan kesehatan. Kebutuhan dasar manusia ini telah diperluas untuk memasukkan kebutuhan dasar sosial dan budaya seperti kebutuhan untuk pendidikan, keamanan, waktu luang dan rekreasi.

2) Kemiskinan Relatif

Kemiskinan relatif berkenaan dengan penggunaan ukuran relatif baik dalam hal waktu maupun tempat dalam penaksiran kemiskinan. Kemiskinan relatif dipandang sebagai perbaikan dari konsep ukuran absolut. Dalam penerapan kemiskinan relatif berdasarkan pada pertimbangan dari anggota masyarakat tertentu, sehubungan dengan apa yang mereka lihat sebagai ukuran mata pencaharian yang layak dan dapat diterima. Oleh karena itu, kemiskinan relatif sangat fleksibel dan cepat berubah. Dalam beberapa kasus seseorang bisa dianggap miskin jika tidak mempunyai mesin cuci, fasilitas kesehatan yang modern, pendidikan tinggi, fasilitas hiburan, dan mobil pribadi. Akan tetapi untuk orang lain ini semua dianggap mewah.

Kemiskinan relatif merupakan kondisi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan distribusi pendapatan. Standar minimum disusun berdasarkan kondisi hidup suatu negara tertentu dan perhatian terfokus pada golongan penduduk "termiskin", misalnya 20 persen atau 40 persen lapisan terendah dari total penduduk yang telah diurutkan menurut

pendapatan/pengeluaran. Kelompok ini merupakan penduduk relatif miskin. Dengan demikian, ukuran kemiskinan relatif sangat tergantung pada distribusi pendapatan/pengeluaran penduduk sehingga dengan menggunakan definisi ini berarti "orang miskin selalu hadir bersama kita".

Dalam praktek, negara kaya mempunyai garis kemiskinan relatif yang lebih tinggi dari pada negara miskin seperti pernah dilaporkan oleh Ravallion (1998). Paper tersebut menjelaskan mengapa, misalnya, angka kemiskinan resmi (official figure) pada awal tahun 1990-an mendekati 15 persen di Amerika Serikat dan juga mendekati 15 persen di Indonesia (negara yang jauh lebih miskin). Artinya, banyak dari mereka yang di kategorikan miskin di Amerika Serikat akan dikatakan sejahtera menurut standar Indonesia.

Tatkala negara menjadi lebih kaya (sejahtera), negara tersebut cenderung merevisi garis kemiskinannya menjadi lebih tinggi, dengan kekecualian Amerika Serikat, dimana garis kemiskinan pada dasarnya tidak berubah selama hampir empat dekade. Misalnya, Uni Eropa umumnya mendefinisikan penduduk miskin adalah mereka yang mempunyai pendapatan per kapita di bawah 50 persen dari median (rata-rata) pendapatan. Ketika median/rata-rata pendapatan meningkat, garis kemiskinan relatif juga meningkat.

Dalam hal mengidentifikasi dan menentukan sasaran penduduk miskin, maka garis kemiskinan relatif cukup untuk digunakan, dan perlu disesuaikan terhadap tingkat pembangunan negara secara keseluruhan. Garis kemiskinan relatif tidak dapat dipakai untuk membandingkan tingkat kemiskinan antar negara dan waktu karena tidak mencerminkan tingkat kesejahteraan yang sama.

3) Kemiskinan Subjektif

Kemiskinan subjektif berhubungan dekat dengan kemiskinan relatif, tetapi lebih banyak menggunakan perasaan individu maupun kelompok apakah benar-benar merasa miskin.

Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia merumuskan konsep kemiskinan sebagai suatu keadaan dimana ketidak berdayaan atau ketidak mampuan seseorang memenuhi kebutuhan dasarnya sebagai manusia. Ukuran garis

kemiskinan bermacam-macam tergantung pada institusi yang mengeluarkannya. BPS menerapkan garis kemiskinan dengan ukuran kalori, dimana masyarakat dikatakan miskin jika tingkat pengeluaran untuk makan kurang dari 2.100 kalori per orang per hari. Pada tahun 2002, untuk memenuhi kebutuhan pangan minimum diperlukan biaya Rp 82.328 per orang per bulan, sedangkan untuk kebutuhan non pangan diperlukan biaya Rp 28.957 per orang per bulan, maka jumlah garis kemiskinan ditetapkan sebesar Rp 111.285 per orang per bulan (BPS; BAPPENAS dan UNDP, 2004). Sementara itu, Bank Dunia menggunakan ukuran pendapatan. Orang yang memiliki pendapatan kurang dari US$ 2 per orang per hari digolongkan miskin. Sedangkan Sajogyo menggunakan ukuran pengeluaran setara beras. Orang yang tingkat pengeluaran beras kurang dari 320 kg per tahun digolongkan miskin.

Jika ukuran garis kemiskinan hanya berdasarkan kalori atau tingkat pengeluaran untuk makan saja menurut pendapat saya kurang tepat, karena manusia selain makan perlu pakaian, tempat tinggal, kesehatan dan pendidikan sebagai kebutuhan dasar untuk hidup normal. Ukuran yang ditetapkan oleh Bank Dunia lebih tepat karena dengan pendapatan US$ 2 per orang per hari bisa digunakan untuk kebutuhan makan dan bukan makan. Jadi penduduk miskin didefinisikan sebagai mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan pokok pangan dan non pangan.

Berdasarkan faktor penyebabnya, dalam studi kemiskinan dikenal adanya kemiskinan struktural, kemiskinan kultural, dan kemiskinan alamiah.

1) Kemiskinan Struktural

Kemiskinan struktural merupakan kemiskinan yang disebabkan oleh kondisi struktur sosial-ekonomi dan politik yang ada. Golongan nelayan tertentu tidak memiliki akses terhadap modal atau kegiatan ekonomi produktif akibat pola institusional yang diberlakukan. Menurut Dahuri (2005a), bahwa kemiskinan yang menggelayuti sebagian besar rakyat kita disebabkan terutama karena problem struktural. Artinya kebijakan pemerintah sejak era Orde Baru sampai sekarang cenderung membuat rakyat kecil (kelompok usaha mikro, kecil dan menengah) memiliki akses yang sangat terbatas atau tidak memiliki akses

sama sekali terhadap aset ekonomi produktif. Sementara pengusaha besar menikmati akses yang boleh dikatakan berlimpah dan mudah terhadap aset ekonomi produktif (permodalan, informasi, teknologi, manajemen, infrastruktur, dan perlindungan usaha). Masyuri (1999), juga menyimpulkan bahwa kemiskinan nelayan lebih disebabkan oleh struktur ekonomi nelayan dan bukan oleh sumberdaya yang terbatas. Pola hubungan nelayan dengan jurangan (patron-client) dan sistem bagi hasil yang tidak seimbang mengakibatkan kemiskinan struktural nelayan menjadi lestari. Hal ini disebabkan ketergantungan nelayan kepada juragan, dan nelayan tidak memiliki mata pencaharian alternatif dan sumber keuangan lainnya untuk menutupi biaya hidup pada saat kondisi dimana nelayan tidak bisa beraktivitas sama sekali (paceklik). Guna mencukupi kebutuhan hidupnya, mereka mengutang pada juragan (pemilik faktor produksi) dengan prasyarat hasil tangkapan saat kondisi alam membaik harus dijual pada juragan dengan harga ditentukan oleh juragan. Kusnadi (2003) menjelaskan bahwa, dua pranata sosial ekonomi yang dimiliki oleh masyarakat nelayan, seperti pranata penangkapan dan pemasaran hasil tangkapan, dipandang sebagai hal-hal krusial yang menjadi penyebab timbulnya kemiskinan struktural.

2) Kemiskinan Kultural

Kemiskinan Kultural dipandang sebagai kemiskinan yang terjadi akibat kultur atau budaya yang tidak produktif, seperti perilaku malas, cepat puas diri, konsumtif yang bersumber pada nilai-nilai lokal yang memang tidak kondusif untuk suatu kemajuan. Akibatnya tingkat pendidikan rendah, susah menerima inovasi baru, keterampilan rendah dan akhirnya berlanjut pada produktivitas rendah, pendapatan rendah, gizi keluarga rendah dan seterusnya. Kemiskinan kultural diduga terjadi karena kekayaan sumberdaya laut yang sangat berlimpah sehingga mereka tidak tertantang untuk mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

3) Kemiskinan Alamiah

Kemiskinan alamiah dipahami terjadi akibat faktor alam, bahwa kondisi sumberdaya alam yang ada tidak mendukung mereka untuk melakukan kegiatan ekonomi produktif. Pada periode waktu tertentu nelayan tidak bisa

melaut karena angin kencang, gelombang besar, arus kuat sehingga kondisi ini sangat mempegaruhi pendapatan mereka (musim paceklik). Disamping itu, mereka tidak mempunyai alternatif pekerjaan lain karena rendahnya kualitas sumberdaya manusia nelayan, mereka tidak memiliki keterampilan lain selain menjadi nelayan. Kelangkaan sumberdaya perikanan dapat terjadi akibat kerusakan ekosistem laut karena faktor alam maupun aktivitas manusia. Hal ini terjadi karena sumberdaya pesisir secara “de-facto” bersifat akses terbuka dan dipengaruhi kondisi lingkungan dan musim (Dahuri, 2002). Ketergantungan terhadap lingkungan dan musim itu mengakibatkan setiap kegiatan pembangunan yang mengganggu atau mencemari lingkungan akan menekan ketersediaan sumberdaya perikanan dan menyebabkan aktivitas produksi menjadi fluktuatif. Kerusakan ekosistem laut juga tidak terlepas dari akibat langsung maupun tidak langsung dari aktivitas sosial-ekonomi di kawasan daratan dan pesisir. Pabrik-pabrik atau pertambangan di kawasan hulu yang sering membuang limbah ke laut melalui sungai-sungai terdekat sangat membahayakan kelangsungan ekosistem laut, pencemaran yang terjadi akan menyebabkan sumberdaya hayati rusak dan punah. Untuk mendapatkan hasil tangkapan nelayan harus berlayar jauh ke laut lepas dan hal ini tentunya meningkatkan biaya operasional, sedangkan hasil tangkapan yang diperolah belum tentu bisa menutupi biaya operasional. Jadi jelas secara sistematis, kerusakan lingkungan baik oleh faktor alam maupun aktivitas manusia dapat menimbulkan proses pemiskinan masyarakat nelayan.

Penyebab kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi dikalangan masyarakat nelayan dilaterbelakangi oleh sebab-sebab yang kompleks. Menurut Kusnadi (2003), sebab-sebab yang kompleks tersebut dapat dikategorikan menjadi dua bagian, yaitu sebab yang bersifat internal dan sebab eksternal. Kedua kategori sebab kemiskinan tersebut saling berinteraksi dan melengkapi.

1) Sebab kemiskinan yang bersifat internal, berkaitan dengan kondisi didalam sumberdaya manusia nelayan dan aktivitas kerja mereka. Sebab-sebab internal ini mencakup masalah: (1) keterbatasan kualitas sumberdaya manusia nelayan, (2) keterbatasan kemampuan modal usaha dan teknologi penangkapan, (3) hubungan kerja antara pemilik perahu dengan nelayan buruh

dalam organisasi penangkapan yang dianggap kurang menguntungkan nelayan buruh, (4) kesulitan melakukan diversifikasi usaha penangkapan, (5) ketergantungan yang tinggi terhadap okupasi melaut, dan (6) gaya hidup yang dipandang ”boros” sehingga kurang berorientasi ke masa depan.

2) Sebab kemiskinan yang bersifat eksternal, berkaitan dengan kondisi diluar diri dan aktivitas kerja nelayan. Sebab-sebab eksternal ini mencakup masalah: (1) kebijakan pembangunan perikanan yang lebih berorientasi pada produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi nasional dan parsial, (2) sistem pemasaran hasil perikanan yang lebih menguntungkan pedagang perantara, (3) kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran, praktek penangkapan dengan bahan kimia, perusakan terumbu karang, dan konvensi hutan bakau di kawasan pesisir, (4) penggunaan peralatan tangkap yang tidak ramah lingkungan, (5) penegakan hukum yang lemah terhadap perusak lingkungan, (6) terbatasnya teknologi pengolahan hasil tangkapan pascapanen, (7) terbatasnya peluang-peluang kerja di sektor nonperikanan yang tersedia di desa-desa nelayan, (8) kondisi alam dan fluktuasi musim yang tidak memungkinkan nelayan melaut sepanjang tahun, dan (9) isolasi geografis desa nelayan yang mengganggu mobilitas barang, jasa, modal, dan manusia.

Sehubungan dengan sebab-sebab kemiskinan yang dikemukakan Kusnadi (2003), maka kemiskinan struktural dan kemiskinan alamiah dapat disebut sebagai kemiskinan yang disebabkan oleh faktor eksternal, sedangkan kemiskinan kultural disebabkan oleh faktor internal yang ada dalam diri masyarakat nelayan itu sendiri.