• Tidak ada hasil yang ditemukan

Data yang dikumpulkan dari lapang selanjutnya akan diproses kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Langkah pertama adalah menyusun tabel frekuensi guna mengetahui lebih dahulu pola distribusi variabel- variabelnya. Sedangkan analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.6.1 Analisis Status Pemanfaatan Sumber Daya Ikan

Metode yang digunakan untuk menganalisis status pemanfaatan sumberdaya ikan (Zona Penangkapan, Jenis Alat Tangkap, dan Jenis Ikan) adalah menggunakan Metode Surplus Production Model (Schaefer, 1954; 1957).

1) Zonasi wilayah laut di Kabupaten Cirebon

Berdasarkan pada perspektif manajamen (UU No. 3/2004 tentang Pemerintahan Daerah), wilayah laut Kabupaten Cirebon dibagi menjadi 3 zona yaitu :

• Zona I (0 – 4 mil)

• Zona II (4 – 12 mil)

• Zona III (> 12 mil)

Untuk mengetahui status tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pada masing-masing zona tersebut dilakukan analisis pendugaan nilai MSY dan upaya tangkap maksimum. Penentuan nilai potensi lestari maksimum (MSY) dan upaya tangkap maksimum dilakukan pada masing-masing zona wilayah perairan laut Kabupaten Cirebon melalui data hasil tangkapan tiap alat tangkap yang beroperasi pada masing-masing zona tersebut.

Penangkapan ikan di satu zona bisa saja terdiri dari berbagai alat tangkap. Sebaliknya, satu jenis alat tangkap dapat beroperasi di beberapa zona. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi lokasi operasi masing-masing alat tangkap pada zona yang ada di perairan Kabupaten Cirebon, sehingga dapat diketahui jenis- jenis alat tangkap yang beroperasi di masing-masing zona tersebut. Jenis-jenis alat tangkap yang beroperasi pada masing-masing zona disajikan dalam matriks berikut ini.

Zona Jumlah Alat Tangkap (unit)

Payang Dogol Jaring Insang Trammel Net Bubu Pancing Lainnya

I (0 - 4 mil)

II (4 - 12 mil)

III (>12 mil)

Selain jumlah unit jenis-jenis alat tangkap yang beroperasi pada masing- masing zona, perlu diketahui juga jumlah hasil tangkapan masing-masing jenis alat tangkap tersebut yang ditangkap pada masing-masing zona sehingga dapat diduga nilai MSY dan upaya maksimumnya untuk masing-masing zona. Penentuan nilai MSY dan upaya tangkap maksimum melalui standarisasi upaya terlebih dahulu.

Zona Jumlah Hasil Tangkapan (kg)

Payang Dogol Jaring Insang Trammel Net Bubu Pancing Lainnya

I (0 - 4 mil)

II (4 - 12 mil)

III (>12 mil)

2) Analisis sumberdaya perikanan

Dalam analisis ini sebelumnya dilakukan standarisasi upaya penangkapan dari setiap alat tangkap dengan cara membandingkan rata-rata hasil tangkapan per unit upaya (CPUE) tahunan dari masing-masing alat tangkap karena setiap jenis alat tangkap memiliki faktor daya tangkap atau Fishing Power Index (FPI) yang berbeda. Jenis alat yang memiliki CPUE rata-rata tahunan yang paling besar dijadikan standar. Kemudian nilai CPUE salah satu alat yang dijadikan standar tersebut digunakan sebagai pembagi bagi rata-rata CPUE tahunan alat tangkap lain. Selanjutnya, CPUE relatif tiap alat tangkap per tahun didapatkan dengan

cara membagi CPUE masing-masing alat per tahun dengan nilai CPUE standar tesebut.

Setelah dilakukan standarisasi, perkiraaan besarnya potensi perikanan di daerah studi dilakukan dengan pendekatan fungsi lestari dari model Schaeffer. Tingkat upaya optimum (fopt) dan hasil tangkapan optimum (MSY) dari unit penangkapan dapat diketahui melalui persamaan berikut:

a) Hubungan antara CPUE dengan upaya penangkapan (f),

CPUE = a-bf

b) Hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya penangkapan (f),

C = af + bf 2

c) Upaya penangkapan optimum (fopt atau fmsy) diperoleh dengan cara menyamakan turunan pertama hasil tangkapan (C) terhadap upaya penangkapan (f) dengan nol:

C = af + bf 2

C = a + 2bf

C’ = 0

a = -2bf

fmsy = -a/2b

d) Maximum Sustainable Yield (MSY) atau merupakan hasil tangkapan optimum diperoleh dengan mensubstitusikan nilai upaya penangkapan optimum, (fopt) atau (fmsy) ke persamaan pada butir 2 di atas,

C = af + bf 2

Copt = (a)fopt + (b)fopt2

MSY = -a2/4b

Pada model Schaefer, untuk mendapatkan gambaran pengaruh dari upaya penangkapan (f) terhadap hasil tangkapan per unit upaya penangkapan (CPUE) dan untuk mendapatkan nilai konstanta a dan b pada rumus di atas digunakan analisis regresi.

Analisis terhadap hubungan antara upaya tangkap relatif (relative effort) dengan CPUE relatif dilakukan menggunakan analisis kuadrat terkecil, yaitu dengan cara meminimumkan error (simpangan). Hubungan tersebut adalah:

e x Y =α+β + .

Keterangan:

Y : Peubah tak bebas (CPUE) (ton/unit);

x : Peubah bebas (effort) (jumlah unit);

e : Simpangan; dan

β

α, : Parameter regresi penduga nilai a dan b.

Kemudian diduga dengan fungsi dugaan, yaitu:

Y = a + bx

Jika hasil tangkapan yang didapatkan lebih kecil dari MSY, maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah upaya yang dilakukan lebih kecil dari upaya yang dikehendaki untuk mendapatkan nilai MSY. Kemungkinan kedua adalah upaya yang dilakukan melebihi upaya yang dikehendaki agar tetap lestari, sehingga hasil tangkapan yang didapatkan lebih kecil.

Penentuan MSY dan upaya optimum hanya dapat dilakukan jika parameter b pada persamaan Y = a + b X bernilai negatif, yang artinya penambahan upaya akan menyebabkan penurunan CPUE. Jika diperoleh slop b bernilai positif maka tidak dapat ditentukan besarnya pendugaan stok maupun upaya optimum, tetapi hanya dapat disimpulkan bahwa penambahan jumlah upaya masih dapat ditingkatkan untuk memperbesar produksi. Dengan kata lain stok masih dalam keadaan underfishing.

Analisis surplus produksi juga dapat menentukan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Total Allowable Catch/TAC) dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan (TP). Besarnya TAC biasanya dihitung berdasarkan nilai tangkapan Maksimum Lestari atau MSY (Maximum Sustainable Yield) suatu sumberdaya perikanan yang perhitungannya didasarkan atas berbagai pendekatan/metoda (Boer dan Aziz, 1995). Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) adalah 80 % dari potensi maksimum lestarinya (MSY) (FAO Code of Conduct for Responsible Fisheries, 1995 in Dahuri, 2008). Tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dapat diketahui setelah didapatkan MSY. Tingkat pemanfaatan dihitung dengan cara mempersenkan jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu terhadap nilai TAC, yaitu:

TP = (C/TAC) x 100 %

Keterangan:

TP : Tingkat pemanfaatan (%);

C : Hasil tangkapan (ton); dan

TAC : Total Allowable Catch (80 % dari MSY).

Nilai upaya maksimum yang didapat dari perhitungan tersebut merupakan jumlah upaya total dari seluruh alat tangkap yang dibakukan. Artinya, jumlah upaya tangkap tidak dapat menunjukkan jumlah upaya yang sebenarnya karena terdiri dari berbagai jenis alat tangkap yang berbeda. Untuk mengetahui jumlah upaya tangkap maksimum untuk masing-masing alat tangkap, harus dilakukan destandarisasi yaitu menghitung jumlah upaya yang sebenarnya untuk masing- masing alat tangkap dengan cara membagi proporsi jumlah upaya masing-masing alat tangkap dengan fishing power-nya masing-masing. Proporsi masing-masing alat tangkap didapatkan dari jumlah rata-rata tiap alat tangkap setiap tahunnya dibagi dengan jumlah total rata-rata per tahun seluruh alat tangkap.

3.6.2 Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kemiskinan Nelayan

Metode analisis data yang digunakan dalam menelusuri faktor-faktor yang menyebabkan kemiskinan nelayan (struktural, kultural, alamiah) di daerah penelitian adalah dengan menggunakan metode deskriptif – kualitatif, yaitu membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir 1999: Babbie 2004) .

4

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

Sebagaimana yang telah diuraikan bahwa, daerah penelitian dari Disertasi ini mencakup wilayah kecamatan dan desa pesisir serta laut dari Kabupaten Cirebon. Oleh sebab itu, deskripsi tentang keadaan umum daerah penelitian ini juga meliputi segenap aspek fisik, sosial-ekonomi dan budaya dari wilayah Kabupaten Cirebon yang relevan dengan tema dan tujuan dari penelitian disertasi ini.