• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Kemiskinan

2.5.1 Pengertian Kemiskinan

Berbicara tentang kemiskinan berarti berbicara tentang harkat dan martabat manusia. Hal ini berarti kemiskinan merupakan topic yang sangat penting dan krusial. Oleh karena itu tidaklah heran jika banyak yang sering menjadikan kemiskinan sebagai topic kajian dalam berbagai kesempatan, seperti diskusi, seminar, workshop dan media lainnya.

Kemiskinan identik dengan suatu penyakit. Oleh karena itu, langkah pertama penanggulangan masalah kemiskinan adalah memahami kemiskinan sebagai suatu masalah. Cara berpikir seperti ini mengikuti alur berpikir dalam manajemen perencanaan strategic. Secara manajemen, memahami suatu masalah berarti telah menapaki 50 persen jalan penyelesaian tersebut. Untuk memahami masalah kemiskinan, kita perlu memandang kemiskinan itu dari dua aspek, yakni kemiskinan suatu kondisi dan kemiskinan sebagai suatu proses.

Sebagai suatu kondisi, kemiskinan adalah suatu fakta dimana sesorang atau sekelompok orang hidup dibawah atau lebih rendah dari kondisi hidup layak sebagai manusia disebabkan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara sebagai suatu proses, kemiskinan merupakan proses menurunnya daya dukung terhadap hidup sesorang atau sekelompok orang sehingga pada gilirannya ia atau kelompok tersebut tidak mampu memnuhi kebutuhan hidupnya dan tidak pula mampu mencapai taraf kehidupan yang dianggap layak sesuai dengan haarkat dan martabat manusia.

Secara umum istilah kemiskinan dapat dengan mudah kita artikan sebagai suatu kondisi yang kurang atau minim. Dalam hal ini konsep kurang maupun

minim dilihat secara komparatif antara kondisi nyata kehidupan pribadi atau sekelompok orang di satu pihak dengan kebutuhan pribadi atau sekelompok orang di lain pihak. Pengertian minim disini bersifat relative, dapat berbeda dengan rentang waktu yang berbeda. Dapat pula berbeda dengan lingkungan yang berbeda.

Beberapa ahli mengemukakan kemiskinan :

• Mencher (dalam Siagian, 2012: 5) mnemukakakn, kemiskinan adalah gejala penurunan kemampuan sesorang atau ssekelompok orang atau wilayah sehingga mempengaruhi sekelompok orang tersebut, dimanna pada suatu titik waktu nyata mereka tidak mampu mencapai kehidupan yang layak.

• Pearce (dalam Siagian, 2012; 7) mengemukakan, kemiskinan merupakan produk dari interaksi teknologi, sumber daya alam dan modal dengan sumber daya manusia serta kelembagaan.

• Castells ( dalam Siagian, 2012: 10) mengemukakan kemiskinan adalah suatu tingkat kehidupan yang berada dibawah standart kebutuhan hidup minimum agar manusia dapat bertahan hidup.,.

Sementara sebagai suatu proses, kemiskinan merupakan proses menurunnya daya dukung terhadap hidup seseorang atau sekelompok orang sehingga pada gilirannya ia atau kelompok tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak pula mampu mencapai taraf kehidupan yang dianggap layak sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Kata kunci dalam kajian kemiskinan sebagai suatu proses adalah daya dukung. Konsep

daya dukung dalam kaitannya dengan kehidupan manusia menunjukkan bahwa kondisi kehidupan yang dihadapi dan sedang dijalani manusia merupakan produk dari proses dimana dalam prose situ terlibat berbagai unsur.

Cara berpikir yang melakukan kajian kemiskinan sebagai suatu proses yang sering dinamakan dengan cara berpikir sistemik, yang didasarkan pada suatu kerangka berpikir, bahwa kehidupan manusia merupakan suatu sistem. Bagaimana pun, keadaan yang dijalani manusia bukan hanya ditentukan oleh diri sendiri, melainkan ditentukan juga oleh banyak faktor, baik internal maupun eksternal.

Dalam konteks ini, ada kalanya faktor internal, seperti pengetahuan, keterampilan, atos kerja dan atau prinsip hidup seseorang atau sekelompok orang yang memiliki daya dukung yang cukup untuk menjadikannya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak masuk kedalam perangkap kemiskinan. Kondisi yang sebaliknya mungkin pula terjadi dimana faktor internal, seperti pengetahuan, keterampilan dan etos kerja atau prinsip hidup seseorang atau sekelompok orang tidak memiliki daya dukung yang cukup untuk menjadikannya mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga pada satu titik waktu masuk ke dalam perangkap kemiskinan.

Demikian halnnya dengan faktor eksternal, seperti keadaan dan kualitas alam, struktur sosial maupun kebijakan pemerintah ada kalanya memiliki daya dukung yang cukup untuk menjadikan seseorang atau sekelompok orang itu mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak masuk ke dalam perangkap kemiskinan. Keadaan yang berbeda dapat pula terjadii, dimana faktor eksternal, seperti keadaan dan kualitas alam, struktur sosial maupun kebijakan pemerintah justru memiliki daya saing yang cukup untuk menjadikan seseorang

atau sekelompok orang itu mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga masuk ke dalam perangkap kemiskinan.

2.5.2 Aspek-aspek Kemiskinan

Aspek-aspek kemiskinan yaitu: a. Kemiskinan itu multi dimensi

Sifat kemiskinan sebagai suatu konsep yang multi dimensi berakar dari kondisi kebutuhan manusia yang beraneka ragam. Ditinjau dari segi kebijakan umum, maka kemiskinan itu meliputi aspek-aspek primer seperti miskin akan aset, organisasi sosial, kelembagaan sosial, berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dianggap dapat mendukung kehidupan manusia. Sedangkan aspek sekundernya antara lain adalah miskinnya informasi, jaringan sosial dan sumber keungan yang semuanya merupakan faktor-faktor yang dapat digunakan sebagai jembatan memperoleh suesuatu fasilitas yang dapat mendukung upaya mempertahankan, bahkan meningkatkan kualitas hidup.

b. Aspek-aspek kemiskinan saling berkaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung

Sebagai konsekuensi logisnya, kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek dapat mengakibatkan kemajuan atau kemunduran pada aspek lainnya. Justru kondisi seperti inilah yang mengakibatkan tidak mudahnya menganalisis kemiskinan itu menuju pemahaman yang komprehensif. Hal lain yang juga harus dipahami sebagai konsekuensi logis dari kondisi kemiskinan seperti ini adalah, pemahaman tentang kemiskinan hanya dapat diperoleh jika kita menganalisis

kemiskinan itu secara agregat. Menganalisis kemiskinan secara parsial akan membawa pada pemahaman yang salah tentang kemiskinan itu sendiri.

c. Kemiskinan itu adalah fakta yang terukur

Fenomena yang sering kita temui adalah, pendapatan yang diperoleh sekelompok yang bermukim di tempat yang sama boleh sama, namun kualitas individu atau keluarga yang dimiliki mungkin saja berbeda. Keadaan yang demikian sering mengkondisikan kita untuk mengidentifikasik kemiskinan sebagai suatu yang serba abstrak dan tidak mungkin diukur. Ada pula yang cenderung menyatakan kemiskinan itu sebagai abstraksi dari perasaan sehingga mustahil untuk diukur.

Kemiskinan dapat diklasifikasikan kedalam berbagai tingkatan, seperti: a. Miskin

b. Sangat miskin c. Sangat miskin sekali

Demikian halnya dengan BKKBN sering mengklasifikasikan kondisi kehidupan masyarakat ke dalam berbagai tingkat, seperti:

a. prasejahtera b. sejahtera 1 c. sejahtera 2

d. Bahwa yang miskin adalah manusianya, baik secara individual maupun kolektif

Kita sering mendengar istilah kemiskinan pedesaan (rural poverty), kemiskinan perkotaan (urban poverty) dan sebagainya. Berbagai istilah tersebut bukanlah berarti bahwa yang mengalami kemiskinan itu adalah desa atau kotanya.

Kondisi desa dan kota itu merupakan penyebab kemiskinan bagi manusia. Dengan demikian pihak yang menderita miskin hanyalah manusia, baik secara individual maupun kelompok dan bukanlah wilayah.

2.5.3 Ciri-Ciri Kemiskinan

Pemahaman lebih mendalam dan komperehensif tentang kemiskinan oleh banyak ahli juga sering diupayakan melalui kajian tentang cirri-ciri kemiskinan. Sulit memperoleh informasi secara jelas dan akurat berkaitan dengan indikasi-indikasi seperti apa yang dapat digunakan sebagai pegangan untuk menyatakan secara akurat, bahwa orang-orang seperti inilah yang disebut orang miskin, sementara orang-orang seperti itu disebut tidak miskin. Namun demikian, suatu studi menunjukkan adanya lima cirri-ciri kemiskinan, yakni :

a. Mereka yang hidup dibawah kemiskinan pada umumnya tidak memiliki factor produksi sendiri, seperti tanah yang cukup luas, modal yang memadai, ataupun keterampilan yang memadai untuk melakukan suatu aktivitas ekonomi sesuai dengan mata pencahariannya. Sebagai contoh, kemiskinan itu bercirikan, antara lain bahwa factor produksi yang dimiliki pada umumnya sedikit atau bahkan tidak ada, sehingga kemampuan untuk mempertahankan apalagi meningkatkan produksi pun tidak mungkin

b. Mereka pada umumnya tidak mempunyai kemungkinan atau peluang untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri. Sebagai contoh, keluarga petani dengan perolehan pendapatan yang hanya cukup untuk konsumsi. Merek tidak berpeluang untuk memperoleh tanah garapan, benih, ataupun pupuk sebagai factor-faktor produksi.

c. Tingkat pendidikan pada umumnya rendah, misalnya tidak sampai tamat SD, atau hanya tamat SD. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap wawasan mereka. Beberapa penelitian antara lain menyimpulkan bahwa waktu mereka pada umumnya habis tersita semata-mata hanya untuk mencari nafkah sehingga tidak ada lagi waktu untuk belajar ataumeningkatkan keterampilan. Demikian juga dengan anak-anak mereka, mereka tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, karena harus membantu orang tua mencari tambahan pendapatan

d. Pada umumnya mereka masuk ke dalam kelompok penduduk dengan kategori setengah menganggur. Pendidikan dan keterampilan yang sangat rendah mengakibatkan akses masyarakat miskin ke dalam berbagai sector formal bagaikan tertutup rapat. Akibatnya mereka terpaksa memasuki sector-sektor informal. Bahkan pada umumnya mereka bekerja serabutan maupun musiman. Jika dikaji secara totalitas, mereka sesungguhnya bukan bekerja sepenuhnya, bahkan mereka justru lebih sering tidak bekerja e. Banyak di antara mereka yang hidup di kota masih berusia muda, tetapi

tidak memiliki keterampilan atau pendidikan yang memadai. Sementara itu kota tidak siap menampung gerak urbanisasi dari desa yang makin deras. Artinya, laju investasi di perkotaan tidak sebanding dengan laju pertumbuhan tenaga kerja sebagai akibat langsung dari arus derasnya urbanisasi. Kondisi ini tentu tidak terlepas dari sifat statis desa dalam mendukung kehidupann penduduknya. Dalam keadaan demikian, masyaralat desa cenderung melakukan migrasi ke kota, karena dianggap sebagai alternative dalam upaya mengubah nasib. Tidak heran jika banyak

ahli mengemukakan bahwa kemiskinan pedesaan membuahkan fenomena urbanisasi dari desa ke kota. Denggan demikian lengkaplah sudah, bahwa kemiskinan masyarakat perkotaan terus meningkat juga diperparah dengan pindahnya kaum miskin pedesaan, sehingga angka masyarakat miskin perkotaan meningkat secara tajam.

2.5.4 Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan

Secara umum factor-faktor kemiskinan secara kategoris dengan menitikberatkan kajian pada sumbernya terdiri dari dua bagian besar, yaitu :

1. Faktor Internal,yang dalam hal ini berasal dari dalam individu yang menngalami kemiskinan itu secara substansial adalah dalam bentuk kekurangmampuan yang

meliputi :

a. Fisik misalnya cacat, kurang gizi atau sakit-sakitan

b. Intelektual, seperti : kurangnya pengetahuan, miskin informasi.

c. Mental Emosional atau temperamental seperti : malas, mudah menyerah atau putus asa.

d. Spritual, seperti : tidak jujur, penipu, serakah atau tidak disiplin

e. Sosial psikkologis, seperti : kurang motivasi, kurang percaya diri, depresi,, stress atau kurang mampu mencari dukungan

f. Keterampilan, seperti : tidak memiliki keahlian sesuai tuntutan lapangan kerja

2. Faktor Eksternal, yakni bersumber dari luar individu atau kelompok yang mengalami atau menghadapi kemiskinan itu, sehingga pada suatu titik waktu menjadikannya miskin, meliputi :

a. Terbatasnya pelayanan sosial dasar

b. Tidak dilindunginya hak atas kepemilikan tanah sebagai asset untuk alat memnuhi kebutuhan hidup

c. Terbatanya lapangan pekerjaan formal dan kurang terlindunginya usaha-usaha informal

d. Kebijakan perbankan terhadap layanan kredit mikro dan tingkat bunga yang tidak mendukung usaha mikro

e. Belum terciptanya system ekonommi kerakyatan dengan priorotas sector riil masyarakat banyak

f. System mobilisasi dan pendayagunaan dana social masyarakat yang belum optimal

g. Dampak sosial negatif dari program penyesuaian structural h. Budaya yang kurang mendukung kemajuan dan kesejahteraan i. Kondisi geografis yang sulit, tandus, terpencil atau daereah bencana

Dokumen terkait