LABUHANBATU UTARA
2. Kendala Eksternal Yang Dihadapi Oleh Perkebunan Kelapa Sawit a. Pada bidang pertanahan
Mengingat bahwa masalah perkebunan adalah masalah yang sangat sensitif untuk dibahas karena perkebunan terutama kelapa sawit selalu tidak terlepas dari masalah baik tanahnya ataupun yang lainnya yang membawa dampak yang tidak baik bagi masyarakat sekitar dikarenakan kebanyakan perusahaan perkebunan hanya mementingkan dirinya sendiri. meskipun telah dikeluarkannya Undang- Undang No.18 tahun 2004 tentang perkebunan, Pasal 1 Undang-Undang No. 18 Tahun 2002 yang menyatakan bahwa pada Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/ atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.
Namun untuk itu perlu diperhatikan asas, tujuan dan fungsi perkebunan yang diselenggarakan berdasarkan atas asas manfaat dan berkelanjutan, keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan, serta berkeadilan. Sebagaimana disebutkan pada Pasal 3 Undang-Undang No. 18 Tahun 2004 tentang perkebunan bahwa perkebunan diselenggarakan dengan tujuan:
a. meningkatkan pendapatan masyarakat.
b. meningkatkan penerimaan Negara.
c. meningkatkan penerimaan devisa Negara.
d. menyediakan lapangan kerja.
e. meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan daya saing.
f. memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku industri dalam negeri.
g. mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya alam secara berkelanjutan.
Penggunaan tanah untuk usaha perkebunan dalam Pasal 9 Ayat 1 Undang-Undang perkebunan menyebutkan bahwa dalam rangka penyelenggaraan usaha perkebunan, kepada pelaku usaha sesuai dengan kepentingannya dapat diberikan hak atas tanah yang diperlukan untuk usaha perkebunan berupa hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, dan/atau hak pakai sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dalam hal tanah yang diperlukan merupakan tanah hak ulayat masyarakat hukum adat yang menurut kenyataanya masih ada, mendahului pemberian hak sebagaimana dimaksud pada Ayat 1, pemohon hak wajib melakukan musyawarah dengan masyarakat hukum adat pemegang hak ulayat dan warga pemegang hak atas tanah yang bersangkutan, untuk memperoleh kesepakatan mengenai penyerahan tanah dan imbalannya.
Sementara untuk luas tanah perkebunan telah ditentukan luas maksimum dan luas minimumnya sebagaimana yang ditetapkan oleh Menteri, sedangkan pemberian hak atas tanah ditetapkan oleh instansi yang berwenang dibidang pertanahan .
Dalam menetapkan luas maksimum dan luas minimum sebagaimana dimaksud pada diatas Menteri berpedoman pada jenis tanaman ketersediaan tanah yang sesuai dengan agroklimat, modal, kapasitas pabrik, tingkat kepadatan penduduk, pola pengembangan usaha, kondisi geografis dan perkembangan teknologi.
Dilarang memindahkan hak atas tanah usaha perkebunan yang mengakibatkan
terjadinya satuan usaha yang kurang dari luas minimum, pemindahan hak atas tanah sebagaimana dimaksud dinyatakan tidak sah dan tidak dapat didaftarkan.
Hak guna usaha untuk usaha perkebunan diberikan dengan jangka waktu paling lama 35 (tiga puluh lima) tahun. jangka waktu tersebut diberikan perpanjangan waktu paling lama 25 (dua puluh lima) tahun oleh instansi yang berwenang di bidang pertanahan, jika pelaku usaha perkebunan yang bersangkutan menurut penilaian Menteri memenuhi seluruh kewajibannya dan melaksanakan pengelolaan kebun sesuai dengan ketentuan teknis yang ditetapkan.
Setelah jangka waktu perpanjangan berakhir, atas permohonan bekas pemegang hak diberikan hak guna usaha baru, dengan jangka waktu sebagaimana yang ditentukan dan persyaratan yang dientukan, Menteri dapat mengusulkan kepada instansi yang berwenang di bidang pertanahan untuk menghapus hak guna usaha tersebut, apabila menurut penilaian Menteri hak guna usaha yang bersangkutan tidak dimanfaatkan sesuai dengan rencana ayat dipersyaratkan dan ditelantarkan selama 3 (tiga) tahun berturut-turut sejak diberikan hak guna usaha yang bersangkutan.
Sebagaimana yang telah di jalankan oleh KUD SMM-III dalam mengelola perkebunan tidaklah melanggar ketentuan yang telah diatur dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2004 tentang perkebunan, karena KUD SMM-III disini hanyalah sebagai pengelola, dan permohonan pendaftaran hak yang dilakukan bukanlah berdasarkan peruntukan bidang usahanya namun untuk kepentingan anggotanya secara individu dengan memenuhi persyaratan sebagaimana yang telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang pendaftaran tanah.
Setiap usaha apapun yang dikembangkan dalam meningkatkan kesejahteraan di bidang ekonomi, kepastian hukum adalah elemen yang tidak dapat dipisahkan dari berjalannya usaha tersebut. Sehingga wajar kalau setiap investor yang akan menanamkan modalnya selalu melihat elemen hukum dari bangsa itu. Karena pengusaha tidak mau berusaha tanpa jaminan hukum dalam melindungi usahanya.
Apalagi usaha itu bergerak dalam pemanfaatan tanah, maka elemen hukum tanah dalam memberikan kesejukan berusaha adalah yang paling utama.
Sampai saat ini pemerintah masih mempertahankan bahwa tolak ukur penyelenggaraan reformasi bidang pertanahan adalah Undang-Undang Pokok Agrarian (UU No. Tahun 1960). Alasan bahwa dalam Undang-Undang Pokok Agraria itu telah dimuat nunsa kerakyatan dan berpihak kepada golongan ekonomi lemah. Masih memberi arah kepada hal yang esensial bagi pemenuhan penduduk akan tanah dalam kehidupan modern era reformasi dan globalisasi, dengan arah terwujudnya tertib hukum, tertib administrasi pertanahan, tertip penggunaan tanah serta tertip pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup.
Ada dua hal yang relevan untuk disikapi dalam pengembangan usaha perkebunan sehubungan dengan sikap pemerintah tersebut, yakni:69
1. Sejauh manakah ketentuan hukum itu membawa perubahan bagi pengembangan usaha perkebunan dalam era reformasi dan era globalisasi dalam hubungannya dengan tanah.
2. Masih mampukah hukum itu menertibkan gelombang aksi massa rakyat yang selalu mengganggu usaha perkebunan saat ini, sehingga sebagai subjek
69Muhammad Yamin, Beberapa Dimensi Filosofis Hukum Agraria, Cet. I, Pustaka Bangsa, Press 2003, Hal. 47.
hukum dapat berkembang untuk ikut serta sebagai pendukung usaha terwujudnya catur tertib pertanahan demi mencapai kepastian hukum.
Bila dianalisis secara ilmiah maka kedua pandangan ini merupakan sesuatu yang tidak pernah bertemu dalam satu tingkatan, karena perkebunan sebagai badan usaha, disamping dituntut dapat memasukkan peningkatan pendapatan Negara (daerah), juga sebagai subjek hukum dituntut untuk mendukung dan melaksanakan hukum dengan baik.
Masyarakat sekarang ini telah terbiasa memanfaatkan eforia reformasi, sehingga salah satu hasil dari reformasi itu yakni munculnya situasi dimana masyarakat tidak mempunyai rem menggunakan dan malah menguasai tanah yang bukan miliknya. Tanpa mengikuti prosedur hukum langsung menggunakan dan mengusahakan tanah yang bukan miliknya. Apakah karena situasi masa lalu, telah merasa bosan dengan kondisi aturan dan terus mengkritisnya dengan sikap mereka sendiri, bahkan terus berjuang untuk lepas dari cengkraman struktural yang represif tersebut. Disini masyarakat tidak lagi menghormati syarat formal karena mereka menganggap secara sah bahwa secara hukum yang mereka tahu ditanah itu melekat hak mereka secara terus menerus. Sehingga berjuanglah mereka bertamengkan semboyan Pembaruan Undang-Undang Agraria dan reformasi agraria. Bahkan kelihatan gerakannya tanpa menghiraukan hukum tanah yang mereka anggap telah memporak porandakan hak mereka. Artinya bila masyarakat melepaskan diripun dari aturan pertanahan yang ada bisa jadi lebih parah dan lebih kacau bila tetap pada koridor aturan. Sebab pada prinsipnya tidak ada aturan yang menyengsarakan rakyat.
Akibatnya bila ini yang terjadi tentu usaha perkebunan yang menggunakan hak atas tanah sebagai basisnya dalam tugasnya untuk menambah pendapatan Negara serta memanfaatkan tanah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat akan jauh dari harapan karena usahanya didorong te rus oleh kehendak segelintir rakyat.
Perkembangan keadaan ini adalah salah satu hasil reformasi sebagai sisi negatif perkembangan masalah hukum pada hukum pertanahan yang menyangkut usaha perkebunan. Sebab tidak dapat dipisahkan bahwa permasalah yang dihadapi oleh perkebunan dalam bidang pertanahannya juga adalah masalah hukum pertanahannya. Keduanya dilandasi nilai-nilai tertentu yang berisikan teori pokok, konsep, metodologi atau cara pendekatan yang dapat digunakan masing-masing dalam menanggapi sesuatu permasalahan baik dalam kontek pembangunan usaha ke masa depan maupun dalam upaya pemecahan permasalahan bagi kemajuan hidup dan kehidupan usahanya untuk memenuhi tuntutan global.70
Sebagai contoh dalam masalah hukum agraria yang muncul seperti penggarapan liar, penyerobotan/pendudukan tanah oleh rakyat diatas areal yang bukan tanahnya sama sekali terjadi karena ketidakmampuan semua pihak menerapkan hukum dengan baik. Sebagaimana permasalahan pertanahan di Sumatera Utara, secara umum, konflik/sengketa pertanahan yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara terjadi antara masyarakat dengan badan hukum publik maupun privat baik itu milik Negara maupun milik swasta dan masyarakat dengan masyarakat itu sendiri.
70Ibid., Hal. 48.
Permasalahan yang paling spesifik dan dominan terjadi antara masyarakat dengan masyarakat/kelompok tani lainnya dan juga dengan perusahaan perkebunan Negara seperti PTPN II, PTPN III, dan PTPN IV serta perkebunan swasta nasional/asing.71
Banyaknya tuntutan masyarakat terhadap eks HGU PTPN II, III dan IV sebagai tanah ulayat dan tanah garapan yang telah diusahai dan dikuasai secara turun temurun menimbulkan konflik horizontal maupun vertical yang mengarah pada tindakan anarkis.
b. Upaya penanganan yang harus dilakukan
Adapun usaha yang harus dilakuakan dalam penyelesaikan kasus pertanahan adalah:72
1. Menginventarisi, meneliti dan mengklasifikasikan data dan permasalahan yang ada di sumatera utara sehingga dapat diambil jalan penyelesaiannya.
2. Bersama sama dengan pemerintah provinsi Sumatera Utara Kanwil BPN dan perusahaan perkrbunaan terkait menyelesaikan permasalahan yang ada secara bertahap dengan skala prioritas, baik ditingkat kabipaten/kota, peovinsi maupun pemerintah pusat.
71Penanganan Masalah Pertanahan Di Provinsi Sumatera Utara, Dialog Publik Hukum Pertanahan Di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Tanggal 24 September 2011, Hal. 2.
72Ibid., Hal. 5.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN