BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
KAWASAN PENELITIAN
5.3 Kenyamanan pada Vitalitas Lingkungan Kawasan
Pada bagian ini akan dibahas bagaimana penilaian dan kondisi ruang luar di kawasan komplek ruko Asia Mega Mas berdasarkan aspek kenyamanan pada vitalitas lingkungan kawasannya. Aspek kenyamanan juga sangat penting di dalam meningkatkan kualitas fisik lingkungan dan vitalitas kawasan (Nurgianto, 2013).
Faktor aksesibilitas, kondisi jalur pejalan kaki, kondisi parkir, dan kondisi penghijauan sebagai faktor penting dalam aspek kenyamanan di dalam vitalitas lingkungan suatu kawasan (Saputri dkk, 2009). Pembahasan meliputi sub variabel sebagai pembentuknya antara lain aksesibilitas, parkir, jalur pejalan kaki, serta ruang terbuka dan penghijauan.
5.3.1 Aksesibilitas
Akses masuk komplek Asia Mega Mas ini lumayan banyak walaupun untuk akses utamanya (lebar jalan kurang lebih 17 m) terdapat dari 2 arah, yaitu dari jalan A.R. Hakim dan juga dari jalan Asia (Gambar 5.1). Selain dari kedua jalan ada juga dari jalan Kapt. Jumhana, tetapi akses masuk paling banyak terdapat pada jalan A.R.
Hakim yang terdapat 4 akses, dapat disimpulkan orientasi akses masuk pada komplek ini terdapat pada jalan A.R. Hakim. Aksesibilitas merupakan kemudahan dalam mencapai lokasi yang dituju menggunakan sitem transportasi tertentu (Geurs, 2004).
Semakin banyak jaringan jalan yang mengelilingi kawasan lebih menarik orang untuk datang karena mudahnya aksesibilitas.
Adapun tingkat aksesibilitas pada kawasan ini terbilang tinggi karena banyaknya jaringan jalan yang tersedia sebagai akses masuk ke kawasan tersebut (Gambar 5.1). Lokasi kawasan juga diapit oleh dua jalan yang merupakan jalur angkutan umum sehingga aksesibilitas pada kawasan terbilang cukup tinggi (Gambar 5.1). Walaupun aksesibilitas terbilang tinggi namun hal ini tidak didukung oleh material jalan yang baik. Material pada jalan merupakan conblock yang permukaannya sangat kasar dan kondisinya yang rusak membuat pengendara tidak nyaman ketika melaluinya (Gambar 5.2).
Gambar 5.1 Aksesibilitas dan potongan jalan pada kawasan
1
3 2
4
Jalur angkutan umum Akses masuk
Gambar 5.2 Kondisi aksesibilitas pada kawasan
Lokasi komplek Asia Mega Mas yang diapit oleh 4 akses masuk ini sangat memudahkan orang datang ke kawasan tersebut baik menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Aksesibilitas adalah ukuran kenyamanan dan kemudahan bagi seseorang untuk mencapai lokasi menggunakan transportasi tertentu (Black dalam Suthanaya, 2009). Data yang didapat berdasarkan hasil survey terdapat 44 % (22 orang) pengunjung datang ke kawasan menggunakan kendaraan pribadi roda 4 sedangkan sisanya menggunakan roda dua, angkutan umum, becak dan berjalan kaki (Gambar 5.3). Hal ini memperlihatkan bahwa lokasi penelitian sangat mudah diakses
Kondisi material yang rusak Permukaan material jalan sangat kasar
Salah satu akses jaringan jalan di komplek Asia Mega Mas
Terdapat banyak genangan air ketika musim hujan
1 2
3 4
oleh moda transportasi yang ada. Mudahnya aksesibilitas ke kawasan merupakan salah satu alasan pengunjung datang ke kawasan tersebut. Sarana transportasi juga menunjukkan bahwa responden didominasi kalangan menengah kebawah.
Gambar 5.3 Sarana transportasi pengunjung
Banyaknya jaringan jalan yang tersedia sebagai akses masuk ke kawasan tersebut, sehingga hal ini menyebabkan tingginya jumlah pengunjung yang datang ke kawasan. Hal ini terlihat dari jumlah pengunjung yang datang ke kawasan dengan jumlah pengunjung 25 orang / menit dan aktifitas ruko yang tinggi. Dapat dikatakan bahwa kepadatan pengunjung tinggi pada kawasan. Kepadatan pengunjung yang tinggi akan menciptakan vitalitas kawasan yang tinggi. Tingkat aksesibilitas dalam kawasan akan maksimal sehingga pergerakan pengunjung juga minim akan hambatan yang berpengaruh pada efektifitas pergerakan pada saat beraktifitas di dalam kawasan sehingga berdampak pada kenyamanan pengunjung dalam menjalani aktifitas di dalamnya (Hadiansyah, 2017).
5.3.2 Parkir
Lokasi parkir pada kawasan penelitian berada di sepanjang jalan yang berada didepan ruko. Selain parkir yang berada didepan ruko pada kawasan juga terdapat 2 kantong parkir yang berada di sisi selatan. Kantong parkir ini biasanya dipenuhi oleh kendaraan pada malam hari. Parkir yang ada pada kawasan kurang lebih dapat menampung 1.085 kendaraan roda empat. Sedangkan untuk kendaraan roda dua tidak ada area parkir yang khusus sehingga kendaraan roda dua yang parkir mengambil ruang parkir kendaraan roda empat. Hasil observasi menunjukkan bahwa persentase kendaraan yang parkir pada kawasan adalah 79,2 % dari total keseluruhan area parkir yang ada (Tabel 5.1).
Tabel 5.1 Perbandingan jumlah kendaraan dan area parkir
Volume Kendaraan Persentase Kapasitas Parkir / m2
(13.563 m2)
Roda 2 Roda 4 Roda 2 Roda 4
1.000 700 14,7 % 64,5 %
Total 79,2 %
Melihat data yang ada dapat dikatakan bahwa vitalitas lingkungan dari sektor parkir dinyatakan tinggi. Persentase parkir sebenarnya bisa melebihi 79,2 % khususnya pada malam hari, tapi hal ini tidak dapat tercapai karena banyaknya pedagang kaki lima yang berada di area parkir pada malam hari sehingga banyak kendaraan yang memarkir mobilnya di tempat yang tidak seharusnya yaitu di badan jalan (Gambar 5.4). Parkir kendaraan yang berada di badan jalan juga mengakibatkan
mengurangi lebar lebar efektif jalan yang berpengaruh terhadap kinerja ruas jalan dan mengakibatkan kemacetan (Hadijah dan Sriharyani, 2016).
Gambar 5.4 Area parkir siang (atas) dan malam hari (bawah) pada kawasan
3
1 4
2
Gambar 5.5 Kondisi parkir pada siang dan malam hari
Kebutuhan akan parkir merupakan fungsi dari kegiatan. Kemudahan dan kenyamanan untuk mencapai tujuan suatu kawasan adalah hal yang diharapkan para pengguna fasilitas parkir (Wahdan dkk, 2014). Data yang didapat berdasarkan hasil kuesioner bahwa sebesar 68 % (34 orang) merasa nyaman dengan kondisi parkir yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa para pengunjung yang ada tidak terlalu memikirkan kondisi, material maupun dimensi parkir yang ada. Sedangkan 32 % (16 orang) mengatakan bahwa lokasi parkir yang ada sudah nyaman (Tabel 5.2). Memang pada
Kendaraan yang memarkir mobilnya di badan jalan
Parkir pada badan jalan (on street) Kantong parkir yang berada di sisi
selatan
Banyaknya pedagang kaki lima yang berada di area parkir
1 2
3 4
siang hari para pengguna parkir dapat mengakses langsung ruko-ruko yang ada tetapi pada malam hari lokasi parkir terbilang jauh dari tempat yang akan dituju para pengguna parkir karena parkir yang ada telah digunakan untuk pedagang kaki lima (Gambar 5.5). Fasilitas parkir harus ditempatkan dalam jarak berjalan kaki yang nyaman dari area aktivitas yang tinggi (Chu, dkk., 2001). Tetapi para pengunjung tidak terlalu memikirkan hal ini bila dilihat dari jawaban kuesioner para responden.
Walaupun lokasi parkir cukup jauh tetapi para pengunjung tetap merasa nyaman untuk datang ke kawasan penelitian.
Tabel 5.2 Kenyamanan kondisi dan lokasi parkir
Frequency Percent
Tingginya jumlah pengunjung yang datang ke kawasan tersebut menyebabkan tingginya jumlah kendaraan yang parkir di kawasan, meskipun dalam hal ini pengguna parkir tidak mendapatkan kenyamanan saat mereka memarkirkan kendaraannya, namun mereka tetap menikmati waktu kunjungannya di kawasan penelitian terutama pada malam hari. Pemilihan lokasi tempat parkir yang tepat akan mempengaruhi tingkat keputusan pengunjung. Penerapan lokasi parkir yang baik, tempat yang nyaman dan kawasan yang aman akan membuat konsumen merasa akan lebih tertarik untuk mengunjungi suatu kawasan (Moningka dan Loindong, 2016).
Kondisi fisik parkir yang ada serta lokasi parkir tidak terlalu berhubungan dengan vitalitas kawasan yang ada. Hal ini terlihat walaupun kondisi fisik dan lokasi parkir yang terbilang buruk tetapi para responden tetap merasa nyaman serta datang berkunjung ke kawasan penelitian, yang penting bagi para pengunjung adalah mereka mendapatkan lokasi parkir walaupun lokasi parkir jauh dan kondisi parkir yang ada tidak ideal.
5.3.3 Jalur pejalan kaki
Kenyamanan fisik jalur pejalan kaki dipengaruhi oleh 4 (empat) kakater fisik yaitu wujud, dimensi, warna dan tekstur (Prijadi dkk, 2014). Jalur pejalan kaki akan memudahkan orang ataupun pengunjung dalam mencapai semua fungsi pada kawasan dengan berjalan kaki. Jalur pejalan kaki pada komplek Asia Mega Mas hanya memiliki lebar 1 meter sehingga tidak memenuhi lebar ideal jalur pejalan kaki yaitu 1,5 sampai 2 meter (Gambar 5.6). Jalur pejalan kaki harus memiliki lebar ideal untuk
dilalui oleh pejalan kaki (Shirvani, 1997). Lebar ideal 1,5 sampai 2 meter memungkinkan para pejalan kaki untuk berpapasan.
1 4
3
2
Jalur pejalan kaki pada kawasan juga terputus di beberapa titik serta material dan level jalur pejalan kaki banyak yang berbeda di antara ruko yang satu dengan yang lainnya sehingga membuat orang tidak nyaman untuk berjalan kaki (Gambar 5.7). Hal ini menyebabkan banyak pengunjung yang berjalan di badan jalan ataupun di jalur parkir kendaraan.
Gambar 5.7 Kondisi jalur pejalan kaki pada kawasan
Sirkulasi yang tidak jelas dan tidak teratur pada kawasan serta membahayakan Hambatan pada jalur pedestrian
Level dan material jalur pedestrian yang berbeda di tiap unit ruko
Banyaknya hambatan pada jalur pedestrian
Lebar jalur pedestrian yang tidak ideal, 1 meter
1 2
3 4
Level jalur pejalan kaki yang sedikit tertata hanya di sisi selatan kawasan namun kondisinya juga banyak yang rusak serta pemakaian material keramik yang cukup licin dapat membahayakan pejalan kaki ketika waktu hujan. Banyaknya benda atau halangan berupa pot bunga juga mengurangi kenyamanan pejalan kaki. Jalur pejalan kaki harus didesain dengan memenuhi kriteria kenyamanan (Shirvani, 1997). Dapat dikatakan bahwa sektor jalur pejalan kaki terbilang buruk karena kondisi jalur pejalan kaki yang ada tidak ideal untuk pengunjung berjalan kaki.
Tabel 5.3 Kenyamanan mencapai fungsi dengan berjalan kaki
Dari data yang didapat kenyamanan jalur pejalan kaki yang ada sekarang tidak membuat pengunjung merasa tidak nyaman. Sebanyak 78 % (39 orang) responden mengatakan nyaman atau sangat nyaman mencapai fungsi-fungsi kawasan dengan berjalan kaki (Tabel 5.3). Jika dilihat secara observasi kondisi jalur pejalan kaki yang ada terbilang buruk dari sisi dimensi dan material. Jalur pejalan kaki yang terputus dan banyaknya hambatan serta perbedaan ketinggian jalur pejalan kaki menambah buruk jalur pejalan kaki yang ada. Faktor yang mempengaruhi kenyamanan jalur pejalan kaki adalah akses yang jelas dan tidak terputus, tidak ada halangan, iklim,
keamanan, kebersihan dan keindahan (Iswanto, 2006). Secara observasi yang dilakukan banyak pengunjung memang tidak menggunakan jalur pejalan kaki untuk mencapai fungsi-fungsi kawasan, para pengunjung banyak yang berjalan di badan jalan maupun parkir kendaraan khususnya pada malam hari. Kecepatan kendaraan yang rendah serta lokasi parkir yang bukan berada di jalan umum kemungkinan membuat para pengunjung tetap nyaman walaupun harus berjalan kaki di badan jalan area parkir. Keberadaan lalu lalang kendaraan dan kendaraan yang parkir tidak membuat pengunjung tidak merasa nyaman untuk mencapai fungsi-fungsi kawasan.
Pejalan kaki membutuhkan kenyamanan ketika berjalan di jalur pedestrian sehingga mereka dapat memberikan kesempatan untuk berkeliling menikmati perjalanan yang dapat meningkatkan gairah aktifitas mereka di kawasan yang mereka datangi. Fasilitas pedestrian yang dikembangkan lebih optimal dapat meningkatkan aspek keamanan, keselamatan dan kenyamanan serta keindahan suatu kawasan (Kiswari dan Susanti, 2014). Hal ini dapat meningkatkan kepadatan pengunjung yang datang ke kawasan. Maka dapat disimpulkan bahwa kondisi jalur pejalan kaki tidak berhubungan langsung terhadap vitalitas kawasan. Kondisi fisik jalur pejalan kaki yang buruk dan jalur yang terputus tidak membuat para pengunjung untuk tidak datang ke kawasan, justru berjalan di badan jalan dan area parkir dirasa nyaman oleh pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa yang terpenting bagi pengunjung adalah tujuan mereka datang ke kawasan dan tidak perduli harus berjalan di area yang tidak semestinya ataupun yang membahayakan diri mereka.
5.3.4 Ruang terbuka dan penghijauan
Saat ini ruang terbuka dan penghijauan pada kawasan belum sesuai dengan harapan yakni terwujudnya kawasan yang nyaman dan asri. Penilaian terhadap ruang terbuka dan penghijauan berdasarkan kepada kondisi ruang yang ada serta vegetasi pada kawasan. Ruang terbuka hijau hanya berada pada pulau jalan dan di sisi selatan kawasan dengan luas kurang lebih 1.150 m2 sedangkan vegetasi hanya berada di pulau jalan (Gambar 5.8). Luas ruang terbuka hijau pada kawasan penelitian tidak ideal karena tidak mencapai 30 % dari luas lahan yang ada yaitu 20 % publik dan 10
% privat. Pulau jalan pada kawasan berupa material cornblock bukan alami seperti rumput sehingga mengurangi fungsi resapan pada kawasan. Ruang tebuka hijau sangat penting fungsinya untuk mendukung peran kawasan. Ruang terbuka hijau juga bukan hanya sekedar ruang interaksi didalam kawasan tetapi juga sebagai wadah bagi ekosistem kawasan. Ruang terbuka hijau tidak hanya berfungsi untuk mengembangkan interaksi sosial namun berperan penting dalam menjaga ekologis lingkungan secara keseluruhan di samping membentuk estetis pada lingkungan (Hidayah dalam Santoso dkk, 2012).
Vegetasi didominasi dengan pohon palem pada pulau jalan sedangkan pohon akasia hanya berada di satu segmen saja (Gambar 5.9). Pohon palem pada kawasan hanya memberi nilai estetis tetapi tidak dapat meneduhkan pengguna jalan dan kawasan. Vegetasi didalam suatu ruang kota berupa tanaman hijau dan tanaman bunga yang ditanam mengelilingi dengan jarak tertentu berfungsi sebagai peneduh
dikatakan buruk karena tidak ideal dan tidak dapat menjadi daya dukung ekologis dan lingkungan serta vegetasi yang tidak dapat memberi keteduhan dan kondisinya yang tidak terawat. Tajuk pohon juga banyak yang berjuntai sehingga membahayakan para pengemudi kendaraan.
Gambar 5.8 Sebaran ruang terbuka hijau dan vegetasi pada kawasan
1 2
3
4
Gambar 5.9 Kondisi ruang terbuka hijau dan vegetasi pada kawasan
Beberapa faktor yang mempengaruhi kenyamanan ruang terbuka hijau di suatu kawasan adalah keteduhan, jumlah pohon, dan ruang terbuka yang sempit (Weshaguna dan Safitri, 2003). Melihat data yang didapat 78% (39 orang) pengunjung nyaman akan kondisi ruang terbuka dan vegetasi yang ada (Tabel 5.4).
Ruang terbuka yang tidak memadai serta vegetasi yang tidak terawat dan tidak teduh tidak terlalu mempengaruhi pengunjung untuk datang ke kawasan. Ruang interaksi
Vegetasi yang tidak terawat Vegetasi yang tidak terawat
sehingga menghalangi pengendara
Vegetasi yang tidak teduh pada pulau jalan
Vegetasi kecil sehingga tidak meneduhkan kawasan
1 2
3 4
pengunjung tidak terjadi pada ruang terbuka hijau pada kawasan, interaksi banyak terjadi di pinggir jalan ataupun parkir-parkir kosong serta lapak pedagang kaki lima.
Tabel 5.4 Kenyamanan ruang terbuka dan penghijauan
Frequency Percent
Valid Percent Sangat tidak setuju 10 20,0 20,0
Tidak setuju 6 12,0 12,0
Setuju 7 14,0 14,0
Sangat setuju 19 38,0 38,0
Sangat setuju sekali 8 16,0 16,0
Total 50 100,0 100,0
Idealnya ruang terbuka hijau yang memadai mampu mendukung kegiatan pengunjung menikmati fasilitas yang ada di kawasan, namun hal ini tidak sepenuhnya berlaku di kawasan penelitian. Ruang terbuka hijau yang seadanya tidak sepenuhnya memberikan pengaruh terhadap kepadatan pengunjung. Sehingga dapat dikatakan ruang terbuka dan vegetasi tidak berhubungan dengan vitalitas kawasan. Ruang terbuka dan vegetasi yang tidak membuat pengunjung enggan datang ke kawasan.
Walaupun ruang terbuka dan vegetasi tidak ideal bahkan di beberapa titik tajuk dari vegetasi dapat membahayakan pengendara tetapi kepadatan pengunjung yang datang ke kawasan cukup tinggi. Bahkan pada saat terik matahari dan tidak ada keteduhan dari vegetasi yang ada pengunjung tetap melakukan aktifitasnya di kawasan. Para pengunjung lebih mengutamakan alasan mereka datang ke kawasan tanpa menghiraukan kondisi ruang terbuka dan vegetasi yang ada.