• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

KAWASAN PENELITIAN

4.3 Komplek Ruko Asia Mega Mas

Lokasi penelitian berada di komplek Asia Mega Mas. Komplek ini merupakan kawasan pertokoan yang berada di kelurahan Sukaramai II. Luas kawasan komplek Asia Mega Mas ± 7 ha. Kawasan ini berbatasan dengan rel kereta api di sisi utara, rumah susun dan Jalan A.R Hakim di sisi timur, Jalan Kapten Jumhana di sisi Barat dan Pasar Sukaramai di sisi Selatan. Kawasan ini merupakan kawasan pertokoan yang didominasi oleh bangunan ruko. Pada awalnya kawasan ini dibangun pada tahun 1992 secara bertahap sampai dengan selesai pada tahun 1996. Pembangunan kawasan pertokoan Asia Mega Mas sebenarnya dimaksudkan untuk mendukung kegiatan rumah susun yang ada sisi Timur yang juga dibangun hampir bersamaan (Gambar 4.3).

Gambar 4.3 Lokasi penelitian RusuRusun

Pada awal pembangunan, lokasi ini mulanya hanyalah kawasan kumuh dengan petak-petak rumah yang tidak teratur. Bagi masyarakat, mengalami peralihan kawasan pemukiman menjadi kawasan perdagangan bukanlah hal yang mudah.

Karena mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan yang jauh berbeda dari sebelumnya. Seperti jalanan yang semakin sering mengalami kerusakan karena seringnya truk-truk konteiner pemasok barang yang melewati jalanan depan rumah mereka. Banyaknya pertokoan membuat semakin banyak kendaraan yang belalu-lalang. Baik kendaraan pembeli, maupun pegawai toko. Karena dahulunya tempat tersebut adalah pemukiman, sehingga lebar jalannya tidak sesuai dengan lebar jalan untuk kawasan perdagangan.

Setelah pembangunan komplek Asia Mega Mas selesai, kawasan ini merupakan kawasan yang mati dan gelap. Sebagain besar ruko tidak berpenghuni karena orang enggan untuk tinggal dan membuka usaha disana. Kawasan ini juga rentan akan tindak kejahatan pada awalnya. Tetapi lama kelamaan kawasan ini mulai ramai. Keramaian pada awalnya bermula di area rumah susun yang berada di ujung komplek (Gambar 4.3). Sebab di area tersebut ada beberapa warung kopi yang buka sampai tengah malam. Keramaian yang ada kemudian meluas sampai ke area komplek Asia Mega Mas. Sepuluh tahun yang lalu kawasan ini mulai ramai dikunjungi orang dan semakin bertambah karena kawasan ini merupakan simpul dari dua jalan yang intensitasnya sangat tinggi yaitu jalan A.R Hakim di sisi timur dan jalan Asia (Gambar 4.4). Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh para penghuni ruko

Gambar 4.4 Sirkulasi pada kawasan

Kawasan yang semakin ramai memicu munculnya para pedagang kaki lima di komplek Asia Mega Mas. Masih banyaknya ruko yang tidak beraktifitas pada malam hari dimanfaatkan oleh pedagang kaki lima untuk berjualan di area depan ruko yang biasanya pada siang hari difungsikan sebagai area parkir. Kemunculan pedagang kaki lima makin menghidupkan kawasan khususnya pada malam hari (Gambar 4.5). Para pedagang kaki lima awalnya adalah para penghuni rumah susun yang mencari uang tambahan dengan membuka lapak di area depan ruko. Warung-warung jajanan ala kaki lima tersusun sepanjang jalan utama. Para pedagang kaki lima di kawasan Asia Mega Mas tidak hanya bersifat non permanen tetapi ada juga yang bersifat permanen (Gambar 4.5). Tak hanya makanan, para pedagang batu akik cukup tampak cukup sigap mengambil kesempatan turut berdagang. Hal ini memberikan efek kepada ruko

Jl. A.R. Hakim Jl. Asia

Jl. Kapt. Jumhana

operasional toko dikarenakan banyaknya pengunjung di kawasan tersebut. Akibatnya banyak dari pedagang yang menempati ruas jalan untuk lapang berdagang yang membuat jalan semakin sempit dan semrawut.

Tidak bisa dipungkiri keramaian kawasan Asia Mega Mas diawali oleh adanya rumah susun yang bersebelahan dengan kawasan tersebut. Rumah susun ini awalnya dibangun oleh pengembang yang sama dengan komplek Asia Mega Mas dengan meminjam tanah Perumnas selama 20 tahun. Kondisi rumah susun yang memprihatinkan membuat Perumnas meredesain kembali rumah susun yang ada dengan menambahkan fungsi komersial didalamnya. Mungkin saja nantinya kawasan semakin ramai dan padat dikarenakan pembangunan rumah susun yang baru dan modern ini (Gambar 4.5).

Gambar 4.5 Pedagang kaki lima dan redesain rumah susun 1

3

2 2

1

4 4

3

Dari pengamatan yang dilakukan bahwa di dalam komplek ruko Asia Mega Mas terdapat 421 unit ruko, sebanyak 320 unit ruko aktif dan terdapat aktifitas sedangkan 101 unit ruko tidak aktif maupun tidak berpenghuni (Gambar 4.6). Ruko yang tidak aktif kebanyakan berada disisi selatan komplek yang memang jarang dilalui dan dikunjungi orang.

Gambar 4.6 Diagram ruko aktif dan tidak aktif pada kawasan

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Vitalitas Kawasan

Melihat dari teori-teori pada landasan teori dapat diambil kesimpulan bahwa vitalitas suatu kawasan dibentuk oleh beberapa aspek. Vitalitas kawasan terbentuk dari 4 (empat) aspek vitalitas yaitu vitalitas ekonomi, vitalitas sosial, vitalitas lingkungan dan vitalitas budaya. Empat aspek vitalitas tersebut mendukung kawasan untuk memiliki vitalitas. Aspek-aspek tersebut merupakan hal yang saling berkaitan satu sama lain yang menciptakan suatu kawasan yang vital dan merupakan aspek yang saling memberikan efek satu sama lainnya. Penilaian vitalitas kawasan komplek ruko dapat diukur berdasarkan 4 (empat) indikator, yaitu: tingkat isian, kondisi penjualan, kepadatan pengunjung pada siang dan malam hari, waktu kegiatan, dan nilai modus (Susiyanti, 2003). Berdasarkan hal tersebut, bahwa yang berkaitan dengan vitalitas dari segi lingkungan atau fisik adalah tingkat isian, kepadatan pengunjung pada siang dan malam hari, dan waktu kegiatan. Tingkat isian dapat ditunjukkan dengan melihat banyaknya ruko-ruko yang aktif dan tidak aktif di kawasan. Intensitas kepadatan pengunjung yang datang ke kawasan dapat dilihat berdasarkan nilai penggunaan jalur pejalan dan jumlah kendaraan yang parkir di kawasan. Lamanya waktu kegiatan berlangsung di suatu kawasan dapat ditunjukkan berdasarkan lamanya toko beroperasi.

5.2 Vitalitas Lingkungan Kawasan

Mengacu pada landasan teori atau kajian pustaka yang telah dibahas maka dapat dilihat bahwa ada 4 (empat) faktor yang berhubungan dengan vitalitas lingkungan kawasan yaitu kenyamanan, keselamatan, keamanan dan kesenangan.

Masing-masing dari 4 (empat) faktor ini memiliki sub faktor atau sub variabel sebagai pembentuknya antara lain aksesibilitas, parkir, jalur pejalan kaki, ruang terbuka dan penghijauan, proteksi kebakaran, struktur bangunan, aktifitas perdagangan, penerangan, tata guna lahan, keragaman fungsi komersial, daya tarik kawasan dan tampilan bangunan (arsitektur). Pembahasan dilakukan dengan melihat kondisi eksisting fisik kawasan juga data frekuensi hasil kuesioner yang telah didapat.