• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN AJARAN AGAMA ISLAM DALAM NOVEL

4.1 Akidah

4.1.1 Iman kepada Allah

Dalam kehidupan umat Islam terdapat beberapa ajaran yang harus diyakini dan diamalkan, seperti rukun iman yang menjadi pokok ajarannya. Iman kepada Allah merupakan salah satunya. Iman kepada Allah yaitu meyakini dengan sepenuh hati tanpa adanya keraguan akan adanya Allah. Iman kepada Allah merupakan pokok dari segala keimanan, karena merupakan dasar dari keimanan setelahnya. Jika seorang muslim beriman kepada Allah, maka segala sesuatu yang datang dan berkaitan dengan Allah juga akan diyakininya. Bukan hanya meyakini akan adanya Allah saja, setiap muslim juga wajib meyakini sifat-sifat Allah, serta menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Wujud iman kepada Allah dalam novel Tuhan Maha Romantis sebagai berikut:

1. Allah Maha Mengetahui

Salah satu iman atau percaya kepada Allah yang terdapat dalam novel Tuhan Maha Romantis yaitu meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui. Allah memiliki sifat Maha Mengetahui, artinya Allah akan selalu mengetahui apa saja yang telah umat-Nya lakukan, walaupun hanya sekecil kerikil. Seperti dalam firman Allah SWT:

‖Katakanlah (Muhammad), ‖Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi...‖ (QS. Al-Ankabut:52)

Pandangan pemahaman itu dapat dilihat melalui kutipan berikut:

‖Bapak selalu maklum dengan kondisi seperti ini, selain karena orang tua Teh Zaenab bukan satu-satunya yang mengalami kondisi tersebut, bapak juga sadar betul menyampaikan ilmu adalah kewajiban setiap muslim bahkan ketika ia tak mendapat ucapan terima kasih sekalipun.

Bapak selalu mengingatkan pada guru-guru yang mengajar di SD An-Nur bahwa mengajar adalah ibadah, biar Allah yang membalas dengan Jannah-Nya kelak.‖ (Ala:33-34)

Iman kepada Allah dalam novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala tergambarkan ketika orang tua Rijal meyakini bahwa apa saja yang telah mereka lakukan, Allah akan mengetahuinya tanpa harus diberitahu. Orang tua Rijal yang bekerja sebagai seorang guru tidak mengharapkan imbalan apapun, ia meyakini bahwa mengajar adalah ibadah, dan ia meyakini bahwa Allah mengetahuinya dan Allah yang akan memberikan balasan dengan jannah-Nya. Mereka dengan ikhlas membagikan ilmu yang mereka punya kepada sesama manusia sebagai kewajiban seorang muslim. Contoh lain iman kepada Allah dengan mempercayai bahwa Allah Maha Mengetahui terlihat dalam kutipan berikut:

‖Tapi bukankah keikhlasan lah yang telah mengantarkanku ke sini?

Maka hal yang perlu kulakukan saat hal menakutkan itu terjadi adalah dengan mengikhlaskannya juga, sebab Allah lah yang lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya.‖ (Ala:195)

Dalam kutipan tersebut, Rijal meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui. Rijal mengikhlaskan apapun yang akan terjadi dengan kehendak Allah, ia menyakini bahwa apapun yang terjadi Allah selalu mengetahui apa saja yang terbaik bagi umat-Nya.

2. Allah Maha Mengawasi

Setiap muslim juga harus menyakini bahwa segala nikmat yang Allah berikan tidak seharusnya membuat manusia lupa akan kehadiran Allah dalam setiap kegiatannya, manusia senantiasa harus mempercayai bahwa mereka selalu dalam pengawasan Allah. Sesuai firman Allah SWT:

‖...Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.‖ (QS.Al-Ahzab:52) Adanya pengawasan Allah dapat dilihat melalui kutipan berikut:

‖Pintu ini cuma dikunci kalau udah pada mau tidur. Kampung ini Insya Allah aman.‖ (Ala:176)

Dalam kutipan di atas, Rijal mengucapkan ―Insya Allah‖ yang merupakan wujud kepercayaan kepada sifat Allah yang Maha Mengawasi apa yang akan terjadi.

Rijal mempercayai bahwa segala sesuatu yang sudah terjadi dan yang akan terjadi hanya dengan kehendak Allah.

Perbuatan yang mencerminkan keyakinan Rijal terhadap sifat Allah Maha Mengawasi tersebut juga dapat dilihat dalam dialog berikut:

‖Saya dilarang buat pacaran, Syev.‖

Syevi kebingungan untuk kesekian kalinya.

‖Siapa yang larang kamu pacaran?‖

‖Allah.‖

‖Maksudmu?‖

‖Saya sudah putuskan untuk menunda perasaan ini sampai akhirnya saya siap.‖

‖Siap? Siap bagaimana?‖

‖Siap meresmikannya dengan institusi yang resmi, Syev. Siap nikah.‖

(Ala:139-140)

Dalam ajaran agama Islam, pacaran merupakan sesuatu yang dilarang, jika seorang pemuda menyukai seorang gadis, maka mereka harus memutuskan untuk segera menikah agar terhindar dari fitnah dan zina. Dalam kutipan di atas, Rijal menjauhi larangan Allah yaitu berpacaran, dan memilih untuk menjalankan perintah Allah yaitu menahan perasaannya hingga saat yang tepat untuk melamar Laras.

Dalam dialog di atas, Rijal mempercayai bahwa Allah Maha Mengawasi apa saja yang umat-Nya lakukan walaupun hanya sekecil kerikil. Oleh karena itu, Rijal menghindari apa saja yang dilarang oleh Allah dan mematuhi perintah-Nya.

3. Allah Pemberi Petunjuk

Meyakini bahwa Allah memiliki sifat Maha Pemberi Petunjuk ialah mempercayai bahwa segala yang terjadi, dirasakan, didapatkan, dan dialami merupakan kehendak dan datang dari Allah dengan segala keistimewaan-Nya.

Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah berikut:

‖Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia kebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.‖ (QS. Al-Qashash:56)

Dalam novel Tuhan Maha Romantis, contoh iman kepada sifat Allah yaitu Maha Pemberi Petunjuk terlihat dalam kutipan berikut ini:

”Apapun yang terjadi nanti, aku serahkan pada-Mu ya Allah. Aku lemah dan Engkau Maha Kuat. Aku bodoh dan Engkau Maha Tahu.

Aku buta dan Engkau Maha Melihat. Dan Engkau Maha Pemberi Petunjuk, maka tunjukkanlah mana yang baik bagiku.” (Ala:195)

Dalam kutipan di atas, terlihat bagaimana Rijal meyakini bahwa Allah Maha Pemberi Petunjuk dan segala sifat-sifat yang dimiliki-Nya. Rijal sangat yakin bahwa segala sesuatu yang akan terjadi sesuai dengan petunjuk Allah. Rijal meyakini dirinya sendiri bahwa Allah Maha Pemberi Pentunjuk, dan ia berharap Allah akan memberikan petunjuk untuknya agar segala yang akan ia kerjakan berjalan dengan baik sesuai dengan keinginannya.