• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV GAMBARAN AJARAN AGAMA ISLAM DALAM NOVEL

4.2 Syariat

Dalam novel itu terdapat nilai syariat. Syariat merupakan hukum yang mengatur kehidupan manusia di dunia dalam rangka mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ruang lingkup syariat itu ada dua, yaitu ibadah dan muamalah.

4.2.1 Ibadah

Dalam ajaran agama Islam, ibadah merupakan hal yang sangat penting.

Ibadah merupakan kegiatan yang dilakukan umat Islam guna untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan bekal untuk akhirat kelak. Ibadah meliputi rukun Islam dan hal-hal yang berhubungan dengan rukun Islam seperti wudu, mandi, tayamum, azan, ikamah, iktikaf, istigfar, dan lain-lain. Dalam ajaran agama Islam, bukan hanya ibadah wajib seperti shalat aja, tetapi ibadah sunah juga merupakan bagian dari

ibadah. Ajaran agama Islam berupa ibadah dalam novel Tuhan maha Romantis sebagai berikut:

1. Ibadah Wajib

Ibadah wajib dalam ajaran agama Islam berupa syahadat, salat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu sebagaimana yang dijelaskan dalam rukun Islam.

Melaksanakan ibadah wajib merupakan hal yang wajib dikerjakan umat Islam, apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan akan mendapatkan dosa yang telah ditentukan oleh Allah. Seperti dalam firman Allah:

‖Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).‖ (QS. Al-Bayyinah:5)

Wujud ibadah wajib yang terdapat dalam novel Tuhan Maha Romantis sebagai berikut:

‖Wamaa kholaqtul jinna, wal’insa illaa liya’buduun... Tidak diciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepada Allah.

Inilah hakikat penciptaan kita yang sebenarnya, bukan yang lain. Apa maksudnya beribadah? Mengabdikan diri menurut ajaran Allah.‖

(Ala:130)

‖Setiap bangunan butuh fondasi, juga butuh tiang untuk membuatnya tetap tegak berdiri dan tetap kokoh, sehingga ketika terkena guncangan, ia masih tetap berfungsi. Sekarang Aa‘ bayangkan kandang ini adalah Islam, dan tiangnya adalah salat. Ketika salat sebagai tiang ini tidak ada, apa yang akan terjadi pada Islam yang kita jalani? Apa yang akan terjadi dengan hidup kita?‖(Ala:24)

Pentingnya salat bagi keutuhan agama Islam sangat terlihat ketika sang bapak mengumpamakan salat sebagai tiang sebuah bangunan dan Islam adalah bangunannya, ketika tiang tidak ada maka hancurlah bangunan tersebut. Begitu juga dengan agama Islam, apabila salat tidak dikerjakan sebagaimana yang sudah diperintahkan Allah, maka Islam akan hancur seperti bangunan tanpa tiang. Rijal

selalu mengingat petuah yang diberikan bapaknya itu, ia selalu melaksanakan ibadah seperti salat sebagaimana dalam kutipan berikut:

‖Sesampainya di kosan A Nda‘, aku langsung mengambil air wudhu untuk kemudian salat ashar, dilanjutkan dengan rebahan untuk meregangkan otot setelah berdiri cukup lama plus beberapa langkah perjalanan. Rupanya A Nda‘ belum pulang, untung saja ia memberikanku kunci duplikat. Hari ini, begitu banyak hal baru dan pelajaran penting yang aku dapatkan, tapi satu-satunya yang kuingat dan sangat ingin kuingat adalah perempuan puisi itu: Kak Laras.‖

(Ala:67)

‖Kami beranjak dari tempat duduk masing-masing untuk mengambil wudhu, kemudian salat berjamaah di ruang salat.‖ (Ala:38)

‖Sudah adzan maghrib, tuh. Hayuk siap-siap salat maghrib jama‘ah.‖

(Ala:38)

Dalam kutipan tersebut terlihat jelas bagaimana Rijal dan keluarganya menaati perintah Allah dengan beribadah. Sesampainya Rijal di kosan, dia tidak berlama-lama atau beristirahat dahulu tetapi Rijal langsung mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu salat ashar. Begitu juga dengan keluarganya, mereka sangat menaati aturan Allah, begitu suara azan berkumandang mereka segera mengambil wudu dan melakukan salat yang merupakan kewajiban seorang muslim. Azan dan wudu merupakan ibadah yang berhubungan dengan rukun Islam. Dengan demikian, terlihat jelas bagaimana keluarga Rijal sangat menaati perintah Allah dengan menjalankan ibadah wajib.

2. Ibadah Sunah

Selain mengerjakan salat wajib, dalam ajaran agama Islam juga terdapat ibadah sunah, yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa sesuai dengan ketentuan Allah. Dalam Tuhan Maha Romantis, beberapa tokoh di dalamnya juga mengerjakan salat sunah tahajud, puasa

Senin-Kamis, salat istikharah, dan membaca Alquran dalam kesehariannya. Kegiatan tersebut terlihat dari kutipan berikut:

‖Bapak, juga ibu, mungkin nggak bisa lagi tiap malam bangunkan Aa‘ untuk shalat tahajud, atau bangunkan Aa‘ untuk sahur tiap Senin-Kamis. Bapak dan ibu juga mungkin nggak bisa lagi tiap hari ingatkan Aa‘ untuk baca dan mempelajari Quran. Tapi, bapak dan ibu percaya Aa‘ sudah dewasa, sudah bisa mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas diri sendiri. Malam ini bapak nggak akan kultum lama-lama, Aa‘ lanjutkan beres-beres aja untuk berangkat besok pagi. Baju ada yang belum disetrika, kan? Belum lagi Aa‘ harus istirahat supaya besok fit di perjalanan.‖ (Ala:39)

‖Bapak berdiri untuk shalat sunnah. Aku dan ibu juga. Kemudian kami pergi ke kamar masing-masing.‖ (Ala:40)

‖Saat itulah bapak mengajariku shalat istikharah. ‗Tak kan menyesal orang yang istikharah, tak kan rugi dia yang bermusyawarah,‘ katanya menyampaikan pesan Rasulullah. Maka malam itu, setelah bapak meninggalkanku untuk tidur, aku langsung menghafalkan doa shalat istikharah dan langsung mempraktikkannya.‖ (Ala:179)

Kutipan di atas membuktikan seberapa besar ketaatan keluarga Rijal dalam melaksanakan perintah Allah. Mereka rajin melakukan ibadah sunnah, seperti tahajud, shalat istikharah, dan puasa Senin-Kamis, maka bisa dipastikan mereka pasti melakukan ibadah wajibnya dengan baik dan tidak melalaikan perintah Allah.

4.2.2 Muamalah

Muamalah merupakan peraturan yang mengatur tentang hubungan manusia dengan sesamanya dalam hal tukar menukar harta benda, seperti: dagang, pinjam-meminjam, utang piutang, warisan, wasiat, titipan, dan lain-lain.

Gambaran ajaran muamalah terlihat ketika Rijal berjanji kapada Laras untuk membelikannya buah kiwi kesukaan Laras. Seperti dalam kutipan berikut ini:

‖Kalau gitu gini aja deh. Saya mungkin belum bisa belikan tiket liburan ke New Zealand. Saya beliin kakak buah kiwi aja deh, gimana?‖ (Ala:96)

Dalam kutipan di atas, terdapat sebuah janji yang diucapkan oleh Rijal kepada Laras yaitu akan membelikan buah kiwi untuk Laras. Seperti yang dijelaskan di atas, muamalah mengatur tentang hubungan manusia dengan sesamanya, salah satunya adalah hutang piutang. Janji merupakan hutang yang harus dibayar oleh orang yang membuat janji kepada orang yang dijanjikan. Setelah berjanji membelikan buah kiwi untuk Laras, Rijal menepati janjinya seperti dalam kutipan berikut ini:

‖Assalamualaikum Kak Laras, hari ini ada di kampus jam berapa?

Ada hutang yang harus segera dibayar nih, takut ditagih nanti di akhirat. Repot.” (Ala:106)

Dalam kutipan di atas, Rijal menyadari bahwa janji merupakan hutang yang harus ia bayar, walaupun hanya buah kiwi yang ia janjikan. Ia paham betul bahwa jika tidak menepati janji yang ia buat, maka nanti di akhirat akan ditagih juga. Rijal membayar hutangnya yaitu membelikan buah kiwi untuk Laras yang sudah ia janjikan. Sikap yang dilakukan oleh Rijal merupakan ajaran agama Islam berupa muamalah, yaitu membayar hutang.