BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Setelah melakukan penelitian ini, penulis menemukan banyaknya nilai yang terkandung dalam novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala ini. Selain mengandung ajaran agama Islam seperti hasil penelitian yang telah penulis lakukan, ada banyak hal menarik yang dapat dijadikan bahan penelitian. Penulis menyarankan agar penelitian berikutnya bisa membahas novel Tuhan Maha Romantis karya Azhar Nurun Ala dari sisi yang berbeda, seperti kehidupan sosial, hubungan baik antara orang tua dan anak, nilai persahabatan, dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
AF, A. Toto Suryana, dkk. 1996. Pendidikan Agama Islam. Bandung: Tiga Mutiara.
Ali, Zainuddin. 2012. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Daradjat, Zakiah, dkk. 1996. Dasar-Dasar Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: MedPress.
Ishomuddin. 2012. Pengantar Sosiologi Agama. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.
Ismail. Faisal. 1997. Paradigma Kebudayaan Islam: Studi Kritis dan Refleksi Historis. Yogyakarta: Titial Ilahi Press.
Kementrian Agama RI. 2016. Al-Quran Terjemah dan Penjelasan Ayat tentang Wanita Yasmin (Diterjemahkan oleh Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Quran). Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Kosasih, E. 2016. Apresiasi Sastra Indonesia. Jakarta: Perca.
Ala, Azhar Nurun. 2016. Tuhan Maha Romantis. Depok: Azharologia.
Mardhiah, Rodhiatam. 2011. ―Nilai Agama dalam Novel Ayat-Ayat Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy‖ (Skripsi). Jakarta: FITK Universitas Islam Negeri.
Soekanto, Soerjono. 1985. Sosiologi: Ruang Lingkup dan Aplikasinya. Bandung:
Remadja Karya.
Strauss, Anselm dan Juliet Corbin. 2003. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tantawi, Isma, 2015. Bahasa Indonesia Akademik. Bandung: Cipta Pustaka Media.
Tirtarahardja, Umar dan S.L.La Sulo. 2005. Pengantar Pendidika. Jakarta: Rineka Cipta.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989. Teori Kesusastraan (Diterjemahkan oleh Melani Budianta). Jakarta: Gramedia.
LAMPIRAN: 1 SINOPSIS Tuhan Maha Romantis
Karya Azhar Nurun Ala
Novel ini menceritakan tentang kisah seorang anak muda bernama Rijal Rafsanjani. Rijal berasal dari keluarga taat agama dan tinggal di Bandar Harapan, Lampung. Rijal adalah anak satu-satunya keluarga tersebut yang dengan berat hati harus meninggalkan ayah dan ibunya untuk menuntut ilmu di ibu kota. Diterima sebagai seorang mahasiswa di Universitas Indonesia adalah suatu kebanggaan bagi seorang Rijal. Namun, dibalik kebahagiaannya Rijal menyimpan kecemasan karena harus berpisah dengan orang tua yang sangat dicintainya. Demi cita-cita, Rijal harus pergi.
Ia diterima sebagai mahasiswa di Universitas Indonesia, jurusan Sastra Indonesia. Dan di kampus inilah kisah cintanya dimulai. Sebelum berangkat ke Depok untuk memulai aktifitasnya sebagai seorang mahasiswa, ia dibantu oleh seorang senior yang bernama Annisa untuk melengkapi berkas apa saja yang ia perlukan untuk mendaftar ulang dan kuliah di UI melalui sambungan telepon.
Hingga beberapa saat Rijal berada di Depok dan memulai kuliahnya, ia belum juga bertemu dengan seniornya tersebut.
Di hari pertama ia menginjakkan kakinya di UI, ia terpana dengan seorang perempuan yang sedang membacakan puisi yang bernama Laras. Ia mengagumi Laras yang berparas cantik, cerdas, berpendidikan, humoris dan juga taat agama.
Hari demi hari, Rijal dan Laras menjadi semakin akrab, ditambah lagi ketika Rijal terpilih sebagai perwakilan angkatannya untuk membacakan sebuah puisi di acara Petang Puisi. Rijal meminta bantuan Laras untuk memberikan masukan karena Laras
kebetulan juga menjadi perwakilan angkatannya pada acara tersebut tahun lalu, dan Laras memenangkan perlombaan itu. Maka tidak ada alasan untuk Rijal mencari orang lain lagi untuk menjadi gurunya. Semenjak saat itu mereka menjadi semakin dekat. Bak gayung bersambut, Laras juga mempunyai perasaan yang sama kepada Rijal, tetapi tidak ada satu orang pun dari mereka yang mengungkapkannya.
Karena perasaan yang terus saja membesar kepada Laras, Rijal memustuskan untuk menceritakannya kepada sang ayah yang sangat ia hormati. Ayahnya berpesan untuk meredamkan perasaan tersebut sampai waktu yang tepat untuk mengungkapkannya. Merasa masih tidak cukup, Rijal menjumpai seorang ustad yang merupakan guru mentoringnya untuk mencari solusi untuk masalahnya saat ini. Sang ustad memberikan saran untuk Rijal mengurangi interaksi dengan Laras, karena walaupun tidak bersentuhan, dengan hanya memandang Laras saja Rijal sudah zina mata. Berbekalkan dengan dua nasehat tersebut, Rijal memutuskan untuk tidak terlalu menjalin inteaksi dengan Laras. Namun, seolah dimanja takdir, mereka selalu dipertemukan dengan cara yang tidak diduga dan waktu yang tidak diduga pula.
Sampai akhirnya, pada saat sidang yudisium Laras, Rijal bertekad untuk melamar gadis pujaannya tersebut. Namun, konflik kembali terjadi karena tiba-tiba Laras menghilang tanpa ucapan selamat tinggal. Semua akses yang biasa digunakan Laras seperti nomor handphone, media sosial, dan sebagainya seolah hilang ditelan bumi. Rijal putus asa mencari Laras.
Setelah lima tahun tanpa kabar, Laras tiba-tiba datang membawa kenangan yang hingga saat ini masih menghantui Rijal. Ia menjelaskan semua yang menjadi pertanyaan-pertanyaan Rijal selama ini. Namun, pada saat itu Rijal telah melamar seorang gadis bernama Aira, gadis cantik dan juga taat agama pilihan ibunya.
Mengetahui hal tersebut, Laras yang kecewa memutuskan untuk kembali ke New Zealand dan mencoba mengikhlaskan Rijal.
Rijal kembali dihantui oleh pikirannya tentang Laras, yang selama ini belum benar-benar mampu dilupakannya. Kebimbangannya bertambah ketika salah seorang kakak kelasnya dulu yang bernama Aldi menghubunginya, dan mengabarkan bahwa sebelum Laras pergi 5 tahun yang lalu, Laras sempat menitipkan sebuah surat untuk Rijal. Namun, karena Aldi juga menyimpan perasaan terhadap Laras, dia tidak menyampaikan surat tersebut.
Kebimbangan demi kebimbangan datang menghampiri Rijal, ia tidak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya ketika bertemu kembali dengan Laras yang sudah 5 tahun ia rindukan. Namun, disisi lain ia juga memikirkan bagaimana Aira—
gadis cantik pilihan ibunya—yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Rijal memutuskan untuk tidak menyusul Laras ke bandara dan mencoba berdamai dengan keadaan dimana ada Aira di antara mereka.
Keesokkan harinya, Rijal pulang ke Bandar Lampung untuk mengurus keperluan pernikahannya yang hanya tinggal hitungan hari. Namun, pertemuannya dengan Laras yang tidak disengaja membuat ia semakin bingung, ia ingin menceritakannya kepada sang ibu, tetapi ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan ibunya saat itu.
H-4 pernikahannya dengan Aira, Rijal masih dihantui oleh bayangan-banyangan Laras yang terus muncul di pikirannya. Kerinduannya terhadap Laras membuatnya kembali membuka foto-foto lama yang masih ia simpan. Ibunya melihat Rijal memandangi foto Laras, ibunya—yang tidak tahu pertemuannya dengan Laras—kembali mengingatkan bahwa Laras tidak diketahui keberadaannya,
mengingatkan kembali bahwa Aira yang akan dinikahinya sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka yang hanya tinggal menghitung hari saja.
Rijal mencoba menjelaskan bagaimana ia kembali bertemu dan bagaimana perasaannya yang masih tetap sama terhadap Laras. Namun, sang ibu mencoba menyakinkannya bahwa Aira lah yang seharusnya ia bahagiakan, biarkan Laras suatu saat bertemu dengan orang yang mencintainya pula.
Rijal semakin bingung, ia tidak tahu harus bagaimana. Ia teringat pesan bapaknya yang mengatakan bahwa apapun yang ia lewati jangan lupa untuk bermusyawarah dengan Allah, dan ia memutuskan untuk shalat istikharah. Namun, keesokan harinya ketika ia bangun, tida ada sepotong mimpi pun yang hadir kepadanya, meski Rijal tahu betul bahwa jawaban dari shalat istikharahnya bukan hanya disampaikan lewat mimpi, namun ia menyimpulkan bahwa tidak ada satu isyarat pun yang mengharuskannya mengejar Laras, dan bertekad untuk menerima Aira setulus hatinya. Hari itu ia mencoba menjadi laki-laki yang terbaik untuk Aira.
Namun, tanpa disangka sang ibu juga melakukan shalat istikharah dan bermimpi, Rijal dibelikan seekor merpati cantik oleh sang ibu, Rijal sangat menyukainya.
Namun, tiba-tiba merpati itu hilang, terbang entah kemana, dan Rijal sangat sedih.
Karena melihat kesedihan yang luar biasa dari Rijal, sang ibu membelikannya seekor merpati lagi, tetapi Rijal tak sebahagia sebelumnya. Ketika merpati pertamanya kembali, Rijal kembali bahagia seperti sebelumnya. Dari mimpinya itu, ibunya menyimpulkan bahwa yang terbaik bagi Rijal adalah mencari Laras, karena ibunya yakin kebahagiaan Rijal adalah Laras, dan Aira mempunyai kebahagiaan lain nantinya. Setelah berbicara dengan Aira, ibunya menyuruh Rijal untuk segera menyusul Laras ke New Zealand dan membekalkannya dengan sekeping emas 20 gram yang awalnya ingin dijadikan mahar untuk menikahi Aira. Setelah melalui
perjalanan dengan kisah yang sangat panjang, Rijal dan Laras dipersatukan dengan rasa haru di New Zealand dan kemudian menikah.
LAMPIRAN: 2
DAFTAR RIWAYAT HIDUP AZHRAH NURUN ALA
Azhar Nurun Ala mewarisi dara Sunda dari kedua orang tuanya. Lahir di Lampung Tengah, 16 Maret 1993. Setelah tamat SMA, Azhar kemudian melanjutkan kuliah jurusan ilmu gizi di Universitas Indonesia dan ia lulus pada tahun 2015. Pada tahun 2014, di usianya yang masih sangat muda yaitu 20 tahun, Azhar menikah dengan Vidia Nuarista Annisa Larasaty. Niat Azhar untuk menikah di usia muda sempat menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi orang tuanya, terutama masalah ekonomi. Namun setelah pemuda asal Lampung ini berhasil membuktikan kesanggupannya, orang tua akhirnya mendukung penuh niatnya itu dan akhirnya tanggal 8 Maret 2014 ia mengucap ijab qabul. Azhar yang memutuskan untuk menikah di semester sembilan kuliahnya mengaku merasakan banyak manfaat setelah menikah. Setelah menikah, mereka tinggal di Depok. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Muhammad Salman Nurun Ala.
Tiga bulan setelah kelahiran putranya, ayahnya dipanggil oleh Allah. Sejak saat itu, Azhar beserta istri dan anaknya pindah ke kampung halaman di Bandar Harapan Lampung Tengah untuk menemani ibunya sekaligus menggantikan ayahnya mengajar Bahasa Indonesia di SMP Doa Bangsa Banda Harapan, sekolah yang ayahnya ikut mendirikan.
Berawal dari menulis rutin di blog azharologia.com, kini Azhar sudah menerbitkan lima buku, diantaranya antologi prosa Ja(t)uh (2013), novel Tuhan Maha Romantis (2014), novel Seribu Wajah Ayah (2014), memoar Cinta Adalah Perlawanan (2015), dan novel Konspirasi Semesta (2016), memoar Pertanyaan Tentang Kedatangan (2017), dan novel Mahar Untuk Maharani (2017).
Berinteraksi dengan Azhar Nurun Ala
Instagram : @Azharnurunala
Facebook : facebook.com/azharnurunala Email : [email protected].