BERBASIS NILAI KEADILAN
D. Revitaliasi Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng dalam Perspektif Teori Hukum
1. Kepada Dewan Perkawilan Rakyat Republik Indonesia
Mahkamah Konstitusi Putusan MK No. 35 tahun 2012 terhadap Pasal 18 b ayat (2) UUD 1945 menyebutkan bahwa penetapan Masyarakat Hukum Adat oleh Pemerintah Daerah adalah bentuk pendelegasian fungsi Negara untuk menetapkan (mengakui) masyarakat hukum adat, yang merupakan upaya menghindari kekosongan hukum pada tingkat perundang-undangan, karena belum dilahirkannya undang-undang khusus tentang masyarakat hukum adat.
Dengan kata lain, putusan Mahkamah Konstitusi tersebut adalah petunjuk bawa adanya undang-undangan tentang pengakuan dan perlidungan terhadap masyarakat hukum adalah printah prioritas dari konstitusi, yang mana sebelum lahirnya undang-undang tersebut negara telah memberikan delgasi fungsi Negara kepada Pemerintah Daerah untuk menetapkan (mengakui) masyarakat hukum adat. Maka, adalah mendesak bagi Dewan Perwikilan Rakyat Republik Indonesia untuk melahirkan undang-undang pengakuan dan penghormatan terhadap kesatuan-kesatuan Masyarakat Hukum Adat tentu beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana ditandaskan oleh konstitusi.
Amanat konstitusi ini bila dilihat dari perspektif Hak Asasi Manusia nyata bahwa negara yang diwakili oleh pemerintah dengan mengakui, menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak dan masyarakat adat sesungguhnya
cxii membumikan keadilan sosial yang merupakan salah satu sila dari Pancasila dengan butir-butir kekayaannya. Karena dalam pengakuan melalui perundang-undangan maka nyata negara memiliki landasan pernyataan yuridis akan penerimaan dan pemberian status keabsahan oleh negara dan hukum negara terhadap eksistensi hukum dan hak-hak warga negara baik sebagai perorangan maupun kesatuan masyarakat sebagai perwujudan konstitutif dari negara untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak asasi warga negara.
Demikian adanya perundang-undangan pengakuan dan penghormatan terhadap kesatuan-kesatuan Masyarakat Hukum Adat maka Negara kemudian memiliki kewajiban untuk “menghormati” di mana negara melalui kebijakan apapun membuka peluang bagi pelanggran terhadap hak-hak masyarakat adat, termasuk juga dengan cara memberlakukan hukum-hukum yang menjamin hak-hak masyarakat adat. Karenanya, juga kemudian Negara “melindungi”
Masyarakay Hukum Adat dengan mengharuskan pemerintah mencegah dan menindak pelanggaran-pelanggaran hak-hak masyarakat adat yang dilakukan oleh pihak-pihak bukan negara dengan menegakkan hukum-hukum yang berlaku. Inilah sesungguhnya keadilan bagi masyarakat hukum adat, termasuk keadilan bagi masyarakat hukum adat yang menguasai tanah hak milik menurut hukum adat.
Sebagai bahan amandemen Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, khususnya Pasal 2 ayat (2) demi penerapan hak menguasai Negara dalam melakukan pengaturan yang berbasis nilai keadilan bagi untuk masyarakat hukum adat, sebagaimana di jelaskan pada saran kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia pada butir satu
cxiii saran di atas, khususnya dalam mengatur tentang penguasaan tanah sebagai hak milik.
2. Badan Pertanatan Nasional Republik Indonesia.
Pengambil keputusan di bidang penyelesaian sengketa agraria, yakni Badan Pertanahan Nasional (BPN) berbasis nilai keadilan terhadap masyarakat adat yang dalam terminologi konstitusi dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria disebutkan “sejauh masih ada”.
Hasil penelitian ini secara gamblang memperlihatkan bahwa tata laksana penguasaan atas tanah hak milik menurut hukum adat yang merupakan bagian dari cara untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup, yakni sistem ekomi dasar masyarakat hukum adat yang dilakukan menurut tata kelola hukum adat suku Dayak Aoheng yang telah berlangsung berabad-abad dapat menjadi cara penyelesaian sengketa yang berkeadilan bagi masyarakat hukum adat. Secara hukum adat, seluruh proses dan tahap mulai dari memperoleh, menguasai dan mempertahankan tanah hak milik menurut hukum adat dilakukan atas dasar kepastian kepemilikan dan keadilan, tidak merugikan siapapun sejak dari awal.
C. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan di atas, penelitian disertasi dengan judul Revitalisasi Model Tata Kelola Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini akan berimplikasi secara luas bagi perwujudan cita yang semakin baik bagi Indonesia sebagai Negara bukum. Revitaliasi hal-hal yang terkait unsur-unsur dari eksistensi nyata, actual existence dari masyarakat hukum adat akan berimplikasi langsung pada:
Pertama, desakan untuk dilahirkannya peraturan perundang-undangan
cxiv sebagai pelaksanaan dari amanat konstitusi untuk pengakuan dan penghormatan terhadap Masyarakat Hukum Adat dalam Peraturan Perundang-Undangan.
Selanjutnya, akan ada dorong dibentuknya peratruran turunan dan terapan lebih lanjut sehingga keadilan berdasarkan hukum yang memberikan pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat sungguh dapat terwujud.
Kedua, masyrakat hukum adat dapat menikmati keadilan dalam tata laksana hukum adat yang menjamin pemenuhan hak-hak asasi mereka dan juga untuk mencapai kesejahteraan mereka di bawah kewibawaan dan kepastian hukum.
Ketiga, keadilan menjadi praktek hidup dalam susunan dasar masyarakat, dalam semua institusi sosial, politik, hukum, dan ekonomi karena hal-hal yang merupakan unsur-unsur dari actual existence hidup masyarakat yang berbasis keadilan terpelihara di dalam Negara hukum yang berwibawa karena hukum menjadi supreme leader. Hal mana dibenarkan dalam teori keadilan baik Teori Keadilan Pancasila maupun Teori Keadilan dari John Rawls yang menjadi main theory dalam penelian disertasi ini. Menurut John Rawls bidang utama keadilan adalah struktur dasar masyarakat, maka problem utama keadilan adalah merumuskan dan memberikan alasan pada sederet prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh sebuah struktur dasar masyarakat yang adil. Bagi Negara Indonesia Pancasila adalah dasar negara atau falsafah negara (fiolosofische grondslag) maka bangsa Indonesia merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila (subcriber of values of Pancasila). Salah satu nilai utama dari Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Salah satu bentuk perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah hal yang berkaitan dengan hubungan-hubungan
cxv kemasyarakatan, di mana tercakup usaha Negara untuk mengembalikan hak-hak yang hilang kepada yang berhak dan menumpas keaniayaan, ketakutan dan perkosaan terhadap hak-hak asasi mamusia. Penelitian disertasi ini mengungkapkan secara jelas bahwa tata laksana penguasaan atas tanah hak milik menurut hukum adat suku Dayak Aoheng adalah praktek hidup yang melekat pada nilai keadilan yang hidup dalam tata masyarak suku Dayak Aoheng yang seharusnya menjadi bagian dari bentuk keadilan sosial yang dilindungi oleh hukum di Negara yang merupakan pendukung nilai-nilai Pancasila.
Keempat, hasil penelitian disertasi tentang tata laksana penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat suku Dayak Aoheng ini dalam perspektif teori sejarah hukum dari Von Savigny adalah expressi atau ungkapan “roh suatu bangsa” (der Volkergeist) dari suku Dayak Aoheng dalam menghidupi nilai keadilan. Maka hasil penelitian ini secara hukun berimplikasi pada tanggung jawab Negara untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang merupakan manisfestasi dari semangat yang tidak kehihatan dari suatu masyarakat, kesadaran dari suatu masyarakat, di mana kesadaran itu yang merupakan perangkat untuk menghasilkan kekuatan dan ketanahan hidup yang bebasis pada nilai keadilan. Pada Negara hukum keadilan hadir melalui hukum terhubung dengan nasib suatu masyarakat dari suatu bangsanya.
Kelima, di bawah terang teori hukum progresif, penelitian disertasi dengan judul Revitalisasi Model Tata Kelola Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini tentang actual existence tata laksana penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat di dalam masyarakat suku Dayak Aoheng berimplikasi pada studi hukum progresif yang
cxvi bercita-cita untuk menegakan keadilan sebagai tujuan hukum dengan menyertakan komponen struktutal dan cultural dalam pembangunan hukum di Indonesia.
cxvii