xv
RINGKASAN DISERTASI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia yang sangat majemuk ini dalam membangun bangsa yang berkeadilan adalah mempertautkan kepentingan masyarakat yang berbeda sangat majemuk. Perbedaan etnis, adat istiadat, kebudayaan, perbedaan keyakinan religius, perbedaan pandangan terhadap alam dan lingkungan hidup seringkali menjadi faktor penyebab kegagalan membangun suatu bangsa.1
Dalam realitas kemajemukan itu ada eksistensi Masyarakat Hukum Adat.
Masyarakat Hukum Adat bukanlah perkumpulan biasa sebagaimana dikenal dalam hukum barat, melainkan suatu perkumpulan hukum yang memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk membentuk, melaksanakan, membina dan sekaligus mengevaluasi baik terhadap prilaku anggota masyarakat maupun isi hukum, dan secara yuridis perkumpulan hukum ini bukan hanya bertugas untuk melaksanakan hukum, tetapi sekaligus sebagai subyek hukum. 2
Tentang pengakuan terhadap Masyarakat Hukum Adat ini, secara konstitusional, sebelum amandemen Undang-Undang Dasar 1945 tidak secara tegas disebutkan dan pemakaian istilah hukum adat juga tidak sebutkan secara explisit.
1 Saidin, 2000, Hukum Dan Kemajemukan Budaya, Sumbangan Karangan Untuk Menyambut Hari Ulang Tahun Ke 70 Prof. Dr.T.O. Ihromi, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, hal. 32.
2 Ibid., hal. 86.
xvi Setelah amandemen, hukum adat kemudian secara explisit diakui sebagaimana dinyatakan dalam Undang-undang Dasar 1945 Pasal 18B ayat (2) yang menyatakan:
“Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang”. 3
Memahami rumusan Pasal 18B UUD 1945 tersebut maka menjadi jelas bahwa:
1) Konstitusi menjamin kesatuan masyarakat adat dan hak-hak tradisionalnya;
2) Jaminan konstitusi sepanjang masyatakat hukum adat itu masih hidup;
3) Sesuai dengan perkembangan masyarakat; dan
4) Sesuai dengan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jaminan pengakuan dan penghormatan ini bila masyarakat hukum adat itu memenuhi dua syarat, yakni:
1) Syarat Realitas, yaitu masyatakat hukum adat masih hidup dan sesuai perkembangan masyarakat;
2) Syarat idealitas, yaitu sesuai dengan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia, dan keberlakuan diatur dalam undang-undang. 4
Oleh sebab itu, rumusan hukum kita masih harus terlebih dahulu membuktikan
“keberadaan masyarakat hukum adat” sebagai “prasyarat hukum” pengakuan masyarakat hukum adat. Indikator keberadaan masyarakat hukum adat dijelaskan oleh Mahkamah Konstitusi sebagai masyarakat hukum adat yang hidup secara de facto (actual existence), baik yang bersifat teritorial, genealogis, maupun yang bersifat
3 https://rennymagdawiharnani.wordpress.com/sih/hukum-adat/dasar-perundang-undangan- berlakunya- hukum-adat/, diakses, 20 Februari 2018.
4 Ibid.
xvii fungsional, dengan setidak-tidaknya mengandung unsur-unsur, sebagai berikut:
Pertama, adanya masyarakat yang warganya memiliki perasaan kelompok (in group
feeling), kedua, adanya pranata pemerintahan adat, Ketiga, adanya harta kekayaan dan/atau benda-benda adat, Keempat, adanya perangkat norma hukum adat dan;
Kelima, terdapat unsur adanya wilayah tertentu. Jimly Asshiddiqqie (Ketua
Mahkamah Konstitusi) dalam menjelaskan bahwa kelima unsur tersebut tidak bersifat kumulatif, sehingga pembuktian masyarakat hukum adat bisa menggunakan salah satu unsur atau beberapa unsur dari lima unsur tersebut.
Selanjutnya, pengakuan hukum secara de jure terhadap masyarakat hukum adat dilaksanakan melalui suatu penetapan hukum. Pemerintah Daerah adalah otoritas Negara yang berwenang untuk menetapkan masyarakat hukum sebagai subjek hukum berdasarkan tafsir Mahkamah Konstitusi terhadap pasal 18 b ayat (2) UUD 1945 dalam Putusan MK No. 35 tahun 2012. Mahkamah Konstitusi menyebutkan bahwa penetapan masyarakat hukum adat oleh Pemerintah Daerah adalah bentuk pendelegasian fungsi Negara untuk menetapkan (mengakui) masyarakat hukum adat, yang merupakan upaya menghindari kekosongan hukum pada tingkat perundang- undangan, karena belum dilahirkannya undang-undang khusus tentang masyarakat hukum adat.
Konsepsi bahwa negara mengakui berarti ada pernyataan penerimaan dan pemberian status keabsahan oleh negara dan hukum negara terhadap eksistensi hukum dan hak-hak warga negara baik sebagai perorangan maupun kesatuan masyarakat sebagai perwujudan konstitusional dari negara untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak asasi warga negara.
Konsep “menghormati” berarti mengharuskan negara untuk tidak melanggar
xviii hak-hak masyarakat adat. “Menghormati” termasuk membuat dan memberlakukan hukum-hukum yang menjamin hak-hak masyarakat adat. Konsep “melindungi”
mengharuskan pemerintah mencegah dan menindak pelanggaran-pelanggaran hak-hak masyarakat adat yang dilakukan oleh pihak-pihak bukan negara dengan menegakkan hukum-hukum yang berlaku. Sedangkan konsep “memenuhi” mengharuskan pemerintah mengevaluasi berbagai kebijakan dan peraturan serta merencanakan dan melaksanakan kebijakan untuk dinikmatinya hak-hak masyarakat adat.
Di dalam masyarakat hukum adat, tanah menempati kedudukan yang sangat penting karena dua alasan. Pertama, karena sifat dari tanah yang merupakan satu- satunya benda kekayaan yang bersifat tetap dalam keadaannya sebagai benda yang nyata. Kedua, karena faktanya tanah merupakan tempat tinggal dan memberikan penghidupan bagi masyarakat hukum adat, tempat pemakaman lelulur serta tempat tinggal roh leluhur masyarkat hukum adat tersebut.5
Atas dasar pemikiran inilah penulis melakukan penelitian hukum mengenai revitaliasi model tata laksana penguasaan atas tanah hak milik menurut hukum adat suku Dayak Aoheng berbasis nilai keadilan ini sebagai basis realitas empiris yang memiliki nilai yuridis di dalam masyarakat adat untuk menjadi landasan bagi Negara untuk mengatur regulasi dan menghormati hak milik atas tanah berdasarkan hukum adat. Negara harus mampu mampu menggali untuk menemukan keadilan, termasuk nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat atau living law untuk membuat dan mengimplementasikan peraturan perudang-undangan yang berkeadilan.
5 Suriyaman Mustari Pide A. Prof., Dr., SH., M. Hum. 2014. Hukum Adat Dahulu, Kini dan Akan Datang.
Jakarta: Fajar Interpratama Mandiri, hal. 120.
xix B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebagaimana diuraikan di atas, penulis kemudian merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan hukum adat tanah Suku Dayak Aoheng saat ini?
2. Bagaimana mekanisme tata laksana penguasaan Tanah Hak Milik (Memperoleh, Menguasai dan Mempertahankan) menurut hukum adat Suku Dayak Aoheng saat ini yang berbasis nilai keadilan?
3. Bagaimana merevitalisasi model tata laksana penguasaan tanah menurut hukum adat Suku Dayak Aoheng yang berbasis nilai keadilan?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan maksud dan tujuan untuk:
1. Mengkaji dan menganalisis pelaksanaan tata laksana penguasaan tanah Suku hak milik menurut Hukum Adat suku Dayak Dayak Aoheng.
2. Mengkaji dan menganalisis nilai keadilan dalam tata laksana penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat Suku Dayak Aoheng.
3. Mengkaji dan menganalisis revitalisasi tata laksana penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat tanah suku Dayak Aoheng berbasis nilai keadilan.
C. Manfaat Penelitian
Dengan latar belakang dan tujuan sebagaimana dikemukan di atas, penelitian disertasi ini diharapkan memberikan manfaat:
1. Manfaat Teoritis
a. Indonesia adalah Negara hukum. Negara hukum memiliki dimensi pengertian,
xx 2.
yakni “according” dan “due process of law”. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan kajian baru dalam hukum adat, khususnya bagaimana Negara seharusnya mengakui, menghormati dan manata penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat berbasis nilai keadilan bagi Masyarakat Hukum Adat yang eksistensi dan hak-haknya diakui dan dilindungi oleh Konstitusi.
b. Hasil penelitian ini diharapkan juga menjadi sumber pengetahuan tentang hukum adat tanah suku Dayak Aoheng, khususnya tata laksana penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat suku Dayak Aoheng yang berbasis nilai keadilan.
Manfaat Praktis
a. Secara praktis penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan, rujukan ilmiah dalam membuat peraturan tentang pengakuan dan pelindungan keberadaan masyarakat hukum adat, khusunya tentang tata kelola penguasaan tanah menurut hukum adat yang berbasis nilai keadilan sebagai basis realitas tentang keberadaan, actual existence suatu Masyarakat Hukum Adat.
b. Bagi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan yang berkeadilan bagi masyarakat hukum adat berkaitan dengan tanah hak milik menurut hukum adat.
c. Bagi investor yang bergerak dalam usaha yang akan bersentuhan dengan lahan masyarat adat, penelitian ini diharapkan akan menjadi sumber informasi ilmiah yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan berbagai kebijakan investasi yang berada di sekitar wilayah masyarakat hukum Adat,
xxi terutama dalam menyelesaikan sengketa tanah yang tidak hanya bersifat legalistik dengan menafikan keadilan bagi Masyarakat Adat, melainkan penyelesaian berbasis tata kelola penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat yang berbasis keadilan untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran atas HAM.
d. Bagi pemerintah
1) Bagi Pemerintah Pusat.
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan hukum dalam perancangan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat hukum adat,6 pada Rancangan Undang-Undang pertanahan,7 melakukan amandemen tehadapat undang-undang pokok agrarian, dan Undang-Undang Hak Asasi Manusia.
2) Bagi Pemerintah Daerah.
Pertama, hasil penelitian ini akan menjadi bahan pertimbangan hukum
pembentukan peraturan daerah dan berbagai kebijakan daerah yang ada kaitannya dengan lahan hak milik menurut hukum adat.
Kedua, hasil penelitian ini akan menjadi rujukan dalam mengkaji dan
menetapkan ketentuan dalam peraturan daerah tentang karakteristik tata kelola atas tanah yang menjadi tanah milik menurut hukum adat.
D. Kerangka Konseptual
Judul penelitian ini adalah Revitalisasi Model Tata Kelola Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan, yang
6 Rancangan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat hukum adat atas dasar hak inisiatif DPR RI
7 Rancangan Undang-Undang Pertanahan atas dasar hak inisiatif DPR RI
xxii secara konsep membentuk kerangka sebagai berikut:
Penelitian disertasi ini adalah tentang revitalisasi model tata kelola penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat suku Dayak Aoheng berbasis nilai Keadilan ini diperlukan utamanya karena ada landasan konstitusional untuk pengakuan dan penghormatan Negara atas hak milik atas tanah yang dimiliki menurut hukum adat.
Sementara keadaan de facto masyarakat adat di mana hukum adat tentang penguasaan atas tanah hak milik tersebut haruslah terlebih dahulu terbukti masih ada actually exist.
Sebaliknya untuk membuktikan bahwa masyarakat hukum adat tersebut memang de facto ada, harus melalui adanya bukti de facto sejumlah hal-hal dari lima indicator keberadaan Masyarakat Hukum Adat itu secara de facto masih ada. Dalam hal ini tata
Nilai Keadilan dalam Tata Laksana Penguasaan Tanah Milik
Menurut Hukum Adat
Revitalisasi Tata Laksana Penguasaan Tanah Milik Menurut
Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis
Nilai Keadilan Tata Laksana
Penguasaan Tanah Milik Menurut Hukum
Adat
HUKUM ADAT TANAH SUKU DAYAK AOHENG AOHENG
xxiii laksanaa penguasaan tanah hak milik mennurut hukum adat suku Dayak Aoheng menunjukan beberapa unsur dari lima unsur yang menjadi indikator dari keberadan Masyatakat Hukum Adat Suku Dayak Aoheng, yakni Pertama, adanya masyarakat yang warganya memiliki perasaan kelompok (in group feeling), kedua, adanya pranata pemerintahan adat, Ketiga, adanya harta kekayaan dan/atau benda-benda adat, Keempat, adanya perangkat norma hukum adat dan; Kelima, terdapat unsur adanya wilayah tertentu.
Selanjutnya revitaliasi tata laksanaa penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat suku Dayak Aoheng berbasis nilai keadilan ini sangat penting, vital dilihat dari pihak masyatakat hukun adat suku Dayak Aoheng itu sendiri. Harta terpenting dalam masyarakat hukum adat adalah tanah. Adanya tata laksana penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat suku Aoheng ini adalah pertanda yang jelas dari terpeliharanya pengaturan yang dibuat, baik dan diterima oleh warga masyarakat suku Dayak Aoheng tentang tanah sebagai harta yang sangat penting baik bagi persekutuan maupun perorangan di dalam masyarakat suku Dayak Aoheng. Dengan demikian secara konseptual, logika penelitian disertasi ini dapat dipertanggung baik baik pada tataran teoritis, yuridis maupun empiris.
E. Keranga Teoritis
Penelitian dengan judul Revitalisasi Model Tata Kelola Penguasaan Tanah Hak
xxiv Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini akan dielaborasi dengan kerangka teori sebagai berikut:
Untuk membangun kerangka penelitian disertasi dengan judul Revitaliasi Model Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini secara teoritis maka dipergunakanlah beberapa theory sebagai grand-theory, middle theory dan applied theory maka dipergunakan beberapa teori.
Grand theory dari penelitian ini adalah teori keadilan. Secara khusus teori keadilan Pancasila dan Teori keadilan menurut John Raws.
Sebagai middle theory disertasi dengan Revitaliasi Model Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini
Grand Theory
Midle Theory
Applied Theory
Teori Menguasai Negara N
Teori Hukum Sejarah Hukum
Pembaharuan Hkum
Hukum Progresif Tata Kelola
Penguasaan Tanah Hak Milik Suku Dayak Aoheng Aoheng
Revitalisasi Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng yang berbasis Nilai Keadilan
Keadilan Menurut John Raws
Keadilan Pancasila Teori Keadilan
xxv menggunakan teori menguasai dari Negara.
Sebagai applied theory dalam disertasi dengan judul Revitaliasi Model Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini dipergunakan 3 teori hukum, Teori Sejarah Hukum, Teori Pembaharuan Hukum dan Teori Hukum Progresif.
F. Kerangka Pemikiran
Disertasi dengan judul Revitaliasi Model Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini dikembangkan dalam kerangka pemikiran bahwa terjadi banyak kasus di mana hak milik atas tanah menurut hukum adat pada umumnya, dan dalam konteks khusus disertasi ini adalah Masyarakat Hukum Adat suku Dayak Aoheng.
Maka, berangkat dari keadaan empirik sosial seperti ini penelitian disertasi ini berangkat dari sejumlah teori yang dipergunakan sebagai grand theory, middle theory dan applied theory kemudian melakukan kajian dan analisis tentang revitaliasi model tata laksana penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat Suku Dayak Aoheng yang berbasis nilai keadilan. Dengan demikian pemikiran dari penelitian disetasi ini tampak dalam digram di bawah ini:
xxvi G. Keaslian Penelitian
Penulis telah melakukan penelusuran kepustakaan dan penulis tidak menemukan adanya penelitian sebelumnya yang secara khusus mengkaji tentang rekonstruki penyelesaian sengketa lahan menurut hukum adat Suku Dayak Aoheng berbasis nilai keadilan. Namun untuk menjamin keaslian penelitian ini, penulis mengemukakan beberapa penelitian hukum yang berkenaan dengan penyelesaian sengketa tanah adat, pada tabel berikut:
Tabel 1: Keaslian Penelitian
TATA LAKSANA PENGUASAAN TANAH HAK MILIK YANG BELUM BERBASIS NILAI KEADILAN BAGI
MASYARAKAT ADAT
Tata Laksana Penguasaan Tanah Menurut Hukum Adat Suku Dayak
Aoheng Berbasis Nilai Keadilan 1. Teori Keadilan
2. Teori Sejarah Hukum 3. Teori Pembaharuan Hukum 4. Teori Hukum Progresif 5. Teori Hak Menguasai Negara 6. Teori Alternative Dispute Resolution
Revitalisasi Model Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak
Aoheng Berbasis Nilai Keadilan
xxvii Judul Penyusun Tujuan Penelitian Hasil Penelitian
Eksistensi Yuridis dan Realitas Sosial Hak Kolektif Masyarakat Hukum Adat atas Tanah Pasca Undang- Undang Pokok Agraria
(Universitas Hasanudin Makassar, tahun 2004).
Andi Suryaman Mustari Pide.
Disertasi.
Ada 3 (tiga) hal yang diteliti, yakni:
1) 1) Jumlah criteria eksistensi masyarakat hukum adat secara yuridis harus dapat terpenuhi untuk dapat dipadang masih eksis dalam realitas sosial;
2) 2) Dampak komponen susbtansi dan struktur dari sistem hukum terhadap eksistensi juridis dan hak kolektif masyarat adat atas tanah sehingga tereliminasi atau terlikuidasi dalam realitas sosialnya;
3) 3) Intensif komponen budaya hukum dapat mendorong upaya pemulihan eksistensi yuridis hak kolektif
Hasil penelitian ini adalah bahwa ada persekutuan hukum yang masih eksis secara utuh dalam realitas sosialnya, namun ada pula persekutuan hukum yang criteria eksistensinya mengalami proses eliminasi dan peran kepala suku dalam pengelolaan hak kolektifnya sangat terbatas.
xxviii masyatakat hukum adat
atas tanah sehingga criteria eksistensinya terpenuhi.
Eksistensi Hak Ulayat atas Tanah di Irian Jaya Setelah Berlakunya Undang-
Undang Pokok Agraria
(Universitas Hasanudin Makassar, Tahun 1995)
Marthinus Solossa.
Disertasi.
Ada 3 (tiga) hal yang diteliti, yakni:
1) Pengaruh UUPA terhadap keberadaan dan kewengan masyarakat hukum adat;
2) Dasar hukum keberadaan tanah ulayat;
3) Hubungan hukum antara masyarat hukum adat dengan tanah ulayat.
1) UUPA tidak
memberikan pengaruh positif terhadap keberadaan dan kewenangan
masyarakat hukum adat dalam pengaturan, penguasaan dan penggunaan tanah ulayat, sedangkan masyarakat hukum adat lebih taat kepada kepala suku sebagai kepala pemerintahan setempat daripada kepala desa
yang diangkat
berdasarkan Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1979.
xxix 2) Tanah ulayat
bersumber pada peniggalan/warisan
para leluhur
sebelumnya dan dari perampasan sewaktu perang suku yang berkisar pada tanah ulayat, sebagian besar belum terdaftar sebagaimana
dianjurkan dalam Pasal 19 UUPA, akan tetapi masih ditandai dengan batas alam seperti gunung sungai,
tanjung dan
sebagainya.
3) Hubungan hukum antar masyarakat Adat dengan tanah ulayat disertai aturan hukum adat yang masih kuat dan tingkat kepatuhan
xxx yang tinggi dilakukan atas dasar kesepakatan bersama dan sifatnya tidak tertulis yang mengikat anggota masyarakat hukum adat karena di dalamnya terkadung makna religious.
“Penguasaan Tanah Adat
dan Hak
Ulayat Masyarakat Hukum Adat di Kabupaten Nunukan”
(Kerja sama Pusat Kajian Hukum Agraria dan Sumber Daya Alam
Amier
Sjarifuddin,Ab rar Saleng dan Kahar Lahae.
Penelitian.
1) Struktur, status dan realitas sosial eksistensi masyarakat atau pesekutuan hukum adat berhadapan dengan struktur pemerintahan Negara sekarang;
2) Efektivitas
tatahan hukum adat dalam pengelolaan hak kolektif masyarakat hukum adat (hak ulayat) dan realitas eksistensinya pasca-UUPA;
Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa Masyarakat Hukum Adat masih eksis dalam struktur, status dan realitas sosial, dan adanya keterlibatan pemimpin adat dan ketataan Masyarakat Hukum Adat berdapampak pada efektivitas hak kolektif.
xxxi dengan
Pemerintah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Tahun 2003)
3) Keterlibatan kepada masyarakat atau persekutuan hukum adat dalam pengelolaan tanah dan hutan ulayat, respons dan keataan warganya sebelum serta pasca UUPA.
Dari beberapa disertasi hasil kajian penelitian yang dapat ditelusuri yang ada kaitan dengan topik penelitian ini, tidak ada satupun yang didapati bersinggungan baik secara umum dengan Suku Dayak Aoheng maupun secara khusus bersinggungan dengan revitalisasi tata kelola penguasaan tatanah menurut hukum adat tanah suku Dayak Aoheng. Dengan demikian, penulis menyatakan bahwa penelitian dengan judul ini adalah penelitian pertama, satu-satunya dan adalah asli karya penulis kecuali bagian-bagian yang merupakan acuan dan telah disebutkan sumbernya, baik dalam teks tulisan dan daftar pustaka. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain akan dinyatakan secara jelas dalam teks ini dan dicantumkan, catatan kaki dan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir dari naskah proposal penelitian ini.
H. Metode Penelitian
Penelitian dengan judul Revitalisasi Model Tata Laksana Penguasaan atas Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini dilakukan dengan kajian yuridis-empiris. Peneliti mengumpukan data dari penelitian lapangan, membaca
xxxii kajian pustaka membaca sumber –sumber hukum, baik sumber-sumber hukum primer, sekunder dan tersier (Penelitian lapangan dan Studi ) kemudian mengkaji dan menganalisi hasil penelitian dengan menggukan metode penelitian ilmiah untuk mencapai hasil penelitian ini sebagau pengetahuan ilmiah, dengan tolok ukur sebagai kebenaran dan kenyataan ilmiah.
Dengan demikian secara epistemologis penelitian disertasi ini menggunakan metode induktif, yakni berangkat dari data kepusatakaan dan data lapangan tentang tata laksana Penguasaan atas Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan di dalam masyarakat adat Suku Dayak Aoheng, untuk menarik kesimpulan umum, general conclussion dari actual existence Masyarakat Hukum Adat Suku Dayak Aoheng melalui pokok yang merupakan bagian dari unsur actually exist dari Suku Dayak Aoheng sebagai Masyarakat Hukum Adat.
1. Sumber Data a. Data Primer
Data primer diperloleh dengan melakukan penelitian lapangan, untuk menjawab rumusan masalah disebagaimana dikemukakan di atas.
Data primer dalam penelitian ini adalah data terkait hukum adat tanah suku Dayak Aoheng yang akan diperoleh melalui penelitian lapangan. Data primer ini secara umum terbagi ke dalam tiga kelompok besar, yakni:
1) Hukum Adat Tanah Suku Dayak Aoheng
2) Nilai keadilan dalam tata laksana penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat Suku Dayak Aoheng .
3) Tata laksana model penguasaan tanah hak milik menurut hukum adat Suku Dayak Aoheng yang de facto ada dan dapat direvitaliasi.
b. Data Sekunder
xxxiii 1) Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer terdiri dari berbagai produk perundangan-undangan yang terkait dengan judul penelitian ini secara hierarkis mulai dari UUD 1945 sampai kepada Peraturan daerah, seperti diuraikan secara lengkap dalam disertasi ini.
2) Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder dari data skunder dalam penelitian ini adalah buku- buku, literatur tentang sejumlah teori yang dipakai dalam penelitian disertasi ini, yang berkaitan dengan teori keadilan, teori hukum, teori menguasi Negara dan buku-buku yang relevans sebagaimana dikutip dan dicantumkan pada kepustakaan dari disertasi ini, serta bahan hukum tersier yaitu kamus dan eksikolopedi.
2. Metode Pengumpula Data a. Penelitian Kepustakaan
Studi kepustakaan dilakukan sebagai usaha peneliti untuk menghimpun data sekunder yang relevan dengan topik atau masalah yang akan diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan, ketetapan-ketetapan, ensiklopedia, dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik lain. Secara khusus peneliti akan mengkaji paraturan perundangan-undangangan yang berkaitan dengan Masyatakat Hukum Adat, Hukum Adat, Hukum Adat Tanah, Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat dalam Peraturan dan Perundang-Undangan, dan terakhir tentang Suku Dayak Aohen, yang meliputi pembahasan tentang Asal usul dan migrasi Suku Dayak Aoheng, hukum adat tanah suku Dayak Aoheng.
a. Penelitian Lapangan b. 1) Wawancara
xxxiv Metode wawancara terutama dipergunakan dalam penelitian untuk pengumpulan data primer.
Sejumlah responden yang relevan untuk penelitian ini yang telah diwawancarai adalah:
1) Kepala Adat Besar, Kepala adat kampung dan pengurus Adat Suku Dayak Aoheng yang mengetahui dan menjadi penegak nilai-nilai kearifan lokal hukum adat tanah suku Dayak Aoheng.
2) Tokoh masyarakat, tetua yang mengerti tentang hukum adat tanah Suku Dayak Aoheng.
c. 2) Focus Group Discussion
Masih untuk kepentingan mengumpulkan data primer, peneliti berencana untuk menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) adalah salah satu teknik dalam mengumpulkan data kualitatif; di mana sekelompok orang berdiskusi dengan pengarahan dari seorang fasilitator atau moderator mengenai suatu topic. Dalam penelitian ini, Focus Group Discussion (FGD) dipilih oleh peneliti sebagai salah satu teknik pengumpulan data kualitatif, secara khusus mendapatkan informasi sudut pandang, kepercayaan dan pengalaman peserta tentang suatu topic yang akan diteliti.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Provinsi Kalimantan Timur, Kabupaten Mahakam Ulu, secara khusus di Kecamatan kecamatan Long Apari di mana masyarakat suku Dayak Aoheng berdomisili di kampung-kampung asli suku Dayak Aoheng. 8 Penelitian akan dilaksanakan di 6 (enam) kampung, yakni: 1) Kampung Long Apari; 2) Kampung Noha Silat;3) Kampung Noha Boan; 4) Kampung Tiong
8 Ibid., Hal. 86.
xxxv Ohang; 5) Kampung Tiong Bu’u; dan Kampung Kerioq
6. Penentuan Respondend
Sesuai dengan judul penelitian ini, yakni penyelesaian sengketa tanah menurut hukum adat tanah suku Dayak Aoheng berbasis nilai keadilan, di mana responden yang diperlukan adalah responden yang mengerti tentang hukum adat Dayak Suku Dayak Aoheng, maka untuk penelitian lapangan penulis menentukan respondend dengan tehnik purposive sampling.
Peniliti membagi respondend ke dalam dua kelompok besar, yakni:
Pertama, dalam rangka memperoleh data primer tentang tata lakasan penguasaan atas tanah hak milik menurut hukum adat suku Dayak Aoheng dan nilai keadilan dalam tata laksana penguasaan atas tanah hak milik menurut hukum adat tersebut, yakni Kepala Adat Besar, Kepala adat kampung dan pengurus Adat Suku Dayak Aoheng dan warga Masyarakat yang merupakan warga masyarakat sukuDayak Aoheng yang memiliki tanah hak milik menurut hukum adat tanah Suku Dayak Aoheng.
7. Analisis dan Validasi data a. Analisis Data: Deskripsi-Kwalitatif
Dengan beberapa metode pengumpulan data penelitian sebagaimana dikemukanan/direncanakan oleh penulis di atas, maka akan terkumpul data penelian dari berbagai sumber (Kepustakaan, Wawancara, Focus Group Discussion) yang hakekatnya adalah data kwalitatif. Data-data kwalitatif tersebut dianalisis menggunakan teknik deskriftif-kwalitatif, yang berarti data akan dipaparkan secara deskriftif analisis sesuai dengan pokok, kategori, klasifikasi data yang terkumpul Proses ini adalah proses penyusunan, pengkategorian, klasifikasi data yang selanjutnya dipaparkan secara deskriftif sehingga diperoleh substansi setiap data sesuai dengan
xxxvi tujuan penelitian ini.
b. Pengujian Keabsahan/kredibilitas Data
Peneliti menguji keabsahan/kredibilitas data penelitian dengan beberapa pendekatan berikut:
1) Perpanjangan pengamatan
Peneliti beberapa kali kembali ke lapangan untuk melakukan pengamatan dan wawancara dengan sumber data yang pernah ditemui maupun sumber data yang baru.
Selain untuk menumbuhkan keakraban (tidak ada jarak lagi, semakin terbuka, saling mempercayai) antara peneliti dan narasumber sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi tetapi juga untuk mengecek kembali apakah data yang telah diberikan oleh sumber data selama ini merupakan data yang sudah benar atau tidak.
2) Triangulasi
Triangulasi dalam pengujian kredibilitas data penelitian diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
Dalam konteks penelitian ini peneliti dapat melakukan:
Triangulasi sumber: dilakukan dengan cara mengecek data yang telah
diperoleh melalui beberapa sumber, yang dalam penelitian ini adalah sumber kepustakaan, wawancara.
Triangulasi teknik pengumpulan data: dilakukan dengan cara mengecek data
kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda, yakni dengan peneltian kepustakaan, wawancara.
3) Menggunakan bahan referensi
Bahan referensi di sini adalah adanya pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti.
xxxvii I. Sistematika Penulisan
Disertasi dengan judul Revitalisasi Model Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukun Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan ini di paparkan dengan sistematiasi sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN, di mana secara sistematis diuraikan pokok-pokok tentang Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Kerangka Konseptual, Kerangka Teoritis, Kerangka Pemikiran, Keaslian Penelitian, Metode Penelitian, dan terakhir adalah Sistematika Penulisan.
BAB II: KAJIAN PUSTAKA, di mana secara berturut-turut dibahas secara sistematis pokok-pokok tentang Masyarakat Hukum Adat, Teori Keadilan, Teori Hukum, Teori Menguasai Negara, dan pembahasan terakhir pada bab yang kedua ini adalah Teori Alternative Dispute Resolution atau Alternatif Penyelesaian Sengketa.
BAB III: HUKUM ADAT TANAH SUKU DAYAK AOHENG, di mana secara berturut-turut dibahas pokok-pokok tentang Dayak Aoheng, Hukum Adat Suku Dayak Aoheng, dan terakhir adalah Hukum Adat Tanah Suku Dayak Aoheng.
BAB IV: TATA LAKSANA PENGUASAAN TANAH HAK MILIK MENURUT HUKUM ADAT SUKU DAYAK AOHENG BERBASIS NILAI KEADILAN. Pada bab ini dibahas pokok-pokok tentangg emperoleh Tanah Hak Milik Menurut Huku Adat Suku Dayak Aoheng, Menguasai Kepemilikan Tanah Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng, dan pokok terakhir dari
xxxviii pembahasan pada bab ini adalah tentang Mempertahankan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng.
BAB V: REVITALISASI MODEL TATA LAKSANA PENGUASAAN TANAH HAK MILIK MENURUT HUKUM ADAT SUKU DAYAK AOHENG BERBASIS NILAI KEADILAN. Pada bab ini secara berurut-turut diuraikan pokok-pokok berikut, yakni Pentingnya Revitalisasi Model Tata Kelola Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Dalam Perspektif Indonesia Sebagai Negara Hukum, Revitaliasi Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan, Revitaliasi Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng Berbasis Nilai Keadilan Dalam Perspektif Undang-Undang Pokok Agraria, Revitaliasi Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Berbasis Nilai Kedilan dalam Perpspektif Teori Keadilan, Revitaliasi Tata Laksana Penguasaan Tanah Hak Milik Menurut Hukum Adat Suku Dayak Aoheng dalam Perspektif Teori Hukum,
BAB VI: PENUTUP. Pada bab ini penulis menyampaikan dua pokok yakni Kesimpulan dan Saran.
xxxix
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A Masyarakat Hukum Adat
1. Persekutuan Hukum Masyarakat Hukum adat 1) Memahami Masyarakat Hukum Adat
a. Menurut Para Ahli
Secara teoritis, Masyarakat Hukum Adat dipahami dari dua perspektif, yakni perpersktif historis dan sosio-politis.9
Ada beberapa unsur paling hakiki untuk identifikasi suatu Masyarakat Hukum Adat bila ditinjau dari perspektif historis, yakni:
(1) Adanya komunitas manusia yang merasa bersatu, terikat oleh perasaan kebersamaan karena keturunan dan atau wilayah;
(2) Mendiami wilayah tertentu, dengan batas-batas tertentu menurut konsepsi mereka;
(3) Memiliki kekayaan sendiri baik kekayaan material maupun immaterial;
(4) Dipimpin oleh seorang atau beberapa orang sebagai perwakilan kelompok, yang memiliki kewibawaan dan kekuasaan yang didukukung oleh
kelompok;
(5) Mewakili tata nilai tata nilai sebagai pedoman dalam kehidupan sosial mereka; dan
(6) Tidak ada keinginan dari anggota kelompok untuk memisahkan diri.10
9 Hilman Hadikusuma H, Prof., SH., 2014. Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, C.V. Mandar Maju, Bandung, Hal. 82.
10 Dominikus Rato, Dr., SH., M.Msi, 2014. Hukum Adat di Indonesia – Suatu Pengantar, Laksbang Justitia, Surabaya, Hal. 83.
xl Masyarakat Hukum Adat sosiologis-politis11 terbentuk dari pergaulan hidup di dalam golongan-golongan yang bertingkah laku sebagai kesatuan, terhadap dunia luar, lahir dan bathin.
Unsur utama identifikasi Masyarakat Hukum Adat yang tebentuk secara sosio-politik adalah:
(1) Adanya kesatuan manusia yang teratur;
(2) Menetap disuatu daerah tertentu;
(3) Mempunyai penguasa-penguasa;
(4) Mempunyai kekayaan (berwujud maupun tidak berwujud); dan
(5) Para anggota mengalami kehidupan di dalam kesatuan sebagai hal yang wajar.
Baik di lihat dari perspektif historis maupun perspektif sosiologis-politis dapat dikatakan bahwa suatu Masyarakat Hukum Adat adalah suatu perkumpulan hukum yang memiliki kewibawaan dan kekuasaan untuk membentuk, melaksanakan, membina dan sekaligus mengevaluasi baik terhadap prilaku anggota masyarakat maupun isi hukum, dan secara yuridis perkumpulan hukum ini bukan hanya bertugas untuk melaksanakan hukum, tetapi sekaligus sebagai subyek hukum. 12
b. Menurut Peraturan Perundang-undangan
Undang-undang Dasar 1945 Pasal 18B ayat (2) yang menyatakan : Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara Kesatuan Republik Indonesia, yang
11 Ibid., hal. 85.
12 Ibid., Hal. 86.
xli diatur dalam undang-undang.
Konsitusi ini, memberikan jaminan pengakuan dan penghormatan terhadap Masyarakat Hukum Adat bila memenuhi syarat:
(1) Syarat Realitas, yaitu hukum adat masih hidup dan sesuai perkembangan masyarakat;
(2) Syarat Idealitas, yaitu sesuai dengan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia, dan keberlakuan diatur dalam undang-undang. 13
2) Corak Khas Masyarakat Hukum Adat a. Kelembagaan Masyarakat Hukum Adat
Para ahli menyebut faktor pengikat yang menentukan bentuk kelembagaan Masyarakat Hukum Adat adalah ikatan genealogis, faktor territorial dan faktor genealogis-teritorial.14
i. Persekutuan Hukum Genealogis.
Pada Masyarakat Hukum Adat yang terbentuk dari ikatan genealogis, merupakan persekutuan terbentuk dari persamaan dalam keturunan. Keterikatan para anggota pada satu garis keturunan yang sama ini, bisa karena pertalian hubungan darah (keturunan) atau secara tidak langsung karena pertalian perkawinan atau pertalian adat.15
Secara sistematis persekutuan genealogis ini dapat dibedakan ke dalam tiga jenis, yakni 1) Masyarakat Unilateral; 2) Masyarakat Bilateral; dan 3) Masyarakat Alternerend.16
13 Ibid.
14 Dewi Wulansari, Prof., Dr., SH., MH., SE., MM, 2012. Hukum Adat Indonesia, Suatu Pengantar, Refika Atima, Bandung, Hal. 25-28.
15 Hilman Hadikusuma H, Prof., SH., Op.cit., hal. 105.
16 Tolib Setiady, SH., M.Pd., M.H., Intisari Hukum Adat Indonesia – Dalam Kajian Kepustakaan, Alfabeta, Bandung, hal. 73-75.
xlii ii. Persekutuan Hukum Teritorial
Masyarakat Hukum Adat yang terbentuk menurut persekutuan hukum territorial adalah daerah kelahiran dan menjalani kehidupan bersama di tempat yang sama. 17 Masyarakat hukum territorial ini adalah masyarakat yang tetap teratur, yang anggota masyarakatnya terikat pada suatu daerah kediaman tertentu, baik dalam kaitan duniawi sebagai tempat kehidupan maupun dalam kaitan rohani sebagai tempat permujaan tehadap roh-roh leluhur.18
Masyarakat Hukum Adat yang terbentuk menurut persekutuan hukum territorial dibedakan ke dalam tiga macam, yaitu: 1) Persekutuan desa; 2) Persekutuan daerah; dan 3) Perserikatan desa.
iii. Persekutuan Hukum Genealogis-Teritorial.
Seiring dengan dinamika perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat bangsa dan negara Indonesia hingga saat ini, masyarakat yang murni genealogis tanpa terikat oleh wilayah territorial sangat tidak mungkin. 19 Yang benar-benar nyata adalah masyarakat genealogis tetapi juga terikat oleh wilayah territorial.20
(3) Kepengurusan Masyarakat Hukum Adat
Sebagaimana telah dielaborasi secara teroritis di atas, ada beberapa persekutuan hukum Masyarakat Hukum Adat, baik yang terbentuk atas dasar genealogis, territorial maupun genealogis-territorial. Menurut para pakar hukum
17 Bushar Muhammad, 1984, Asas-asas Hukum Adat, Suatu Pengantar, Pradja Paramita, Jakarta, hal. 37.
18 Ibid.
19 Dewi Wulansari, Loc. Cit.
20 Ibid.
xliii adat, pembagian tersebut lebih merupakan pembagian secara teoritis, sedangkan pada kenyataannya bentuk-bentuk persekutuan hukum Masyarakat Hukum Adat tersebut, secara ketat dan dalam bentuknya yang asli tidak ada lagi saat ini, demikianpun bentuk kepengurusan Masyarakat Hukum Adat tersebut.
2 Hukum Adat
a. Pengertian Hukum Adat
Istilah Hukum Adat pertama kali muncul, dicatat dan dipergunakan dalam kajian ilmiah oleh Christian Snouck Hurgronje saat melakukan penelitian di Aceh pada tahun 1891-192. Ia menggunakan istilah Adatrecht sebagai istilah dalam tulisannya untuk membedakan adat yang dimengerti sebagai kebisaan dengan adat yang mempunyai sanksi hukum.21 Istilah ini kemudian menjadi terkenal ketika dipergunakan oleh Cornelis van Vollenhoven dalam tiga buku karyanya yang berjudul Het Adat-Recht van Nederlandsch Indie (Hukum Adat Hindia Belanda), dan sejak saat itu istilah ini menjadi terkenal dalam studi ilmu pengetahuan tentang adat.22
Masih ada perbedaan pandangan di antara para ahli tentang hal ini, karena ada ahli yang menyamakan saja antara Hukum Adat dengan Hukum Kebiasaan dan menyatakan bahwa dalam kenyataanya batas antara Hukum Adat dengan Adat Kebiasaan itu sebenarnya tidak jelas, sebaliknya yang lain membedakan keduanya secara tegas, namun hal tersebut tidak dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini.23
b. Corak Khas Hukum Adat
21 Hilman Hadikusuma, Op.cit., Hal. 9.
22 Dewi Wulansari, Op.cit., Hal. 2.
23 Hilman Hadikusuma, Loc.cit.
xliv Dari pendapat para ahli hukum adat memiliki corak khas sebagaimana dikemukakan oleh Tolib Setiady, sebagai berikut, yakni:24 Tradisional, Magis- Religius, Kebersamaan, komunal, Kongkrit, Terbuka dan sederhana, Dapat berubah dengan menyesuaikan, Tidak dikodifikasi dan Musyawarah dan mufakat.
Selain corak khas hukum adat, hukum ada juga sifat khas yang umum dari hukum adat,25 yakni bersifat: Religius-magis, komunal, kontan, konkrit.
c. Cakupan Hukum Adat
Ada dua cara memahami apa yang dimaksudkan dengan cakupan hukum adat. Pertama, cakupan hukum adat dalam pengertian space field, yakni wilayah cakupan hukum adat. Kedua adalah cakupan hukum adat dalam pengertian legal field, yakni ruang lingkup wilayah kerja hukum adat secara susbtansi.26 Dalam tulisan ini, cakupan yang dimaksud adalah dalam pengertian legal field, ruang lingkup hukum adat, dalam arti substansi yang menjadi wilayah kerja hukum adat.
Dari sekian banyak pokok yang dibahas oleh para ahli hukum adat dalam menguraikan cakupan hukum adat, terdapat berapa pokok yang dapat menjadi subtansi bahasan tentang cakupan hukum adat sebagaimana akan diuaraikan di bawah ini, yakni:27 1) Hukum Ketatanegaraan; 2) Hukum Perserorangan; 3) Hukum Kekeluargaan; 4) Hukum Perkawinan Adar; dan 5) Hukum Waris Adat.
24 Tolib Setiady, Op.Cit., Hal. 30-36.
25 Ibid., Hal. 36-38.
26 Sally Folk Moore, 1993. Antropologi Hukum. Sebuah Bunga Rampai, Yayasan Obor Indonesia: Jakarta, Hal. 148.
27 Bdk. Tolib Setiady, Op.cit. hal. 187-388 dan Dewi Wulandari, Op.cit., hal. 33-95.
xlv 3. Tanah dalam Hukum Adat
Dalam hukum adat, tanah memiliki kedudukan yang sangat penting karena dua alasan. Pertama, karena sifat dari tanah yang merupakan satu-satunya benda kekayaan yang bersifat tetap dalam keadaannya sebagai benda yang nyata. Kedua, karena faktanya tanah merupakan tempat tinggal dan memberikan penghidupan bagi masyarakat hukum adat, tempat pemakaman lelulur serta tempat tinggal roh leluhur masyarkat hukum adat tersebut.28
a. Tanah Persekutuan: Tanah Ulayat
Ada 6 (enam) ciri dari Hak Ulayat atau hak persekutuan atas sebagaimana dikemukan oleh C. van Vallenhoven seperti dikutip oleh Tolib Setiady, yakni:
a) Persekutuan dan anggotanya berhak memanfaatkan tanah, memungut hasil dari segala sesuatu yang ada di dalam tanah dan yang tumbuh serta hidup di atas tanah.29
b) Hak individu diliputi oleh hak persekutuan. Hubungan atara persekutuan ini dijelaskan oleh B. Ter Haar Bzn di mana digambarkan bahwa dalam hukum adat hubungan antara Hak Persekutuan dan Hak Individu adalah bersifat timbal balik. Dalam hubungan itu semakin kuat hak individu atas sebidang tanah maka semakin lemah hak persekutuan atas tenah tersebut. Sebaliknya semakin lemah hak perseorangan atas sebidang tanah maka semakin kuat hak persekutuan atas bidang tanah tersebut. 30
28 Suriyaman Mustari Pide A. Prof., Dr., SH., M. Hum. 2014. Hukum Adat Dahulu, Kini dan Akan Datang.
Jakarta: Fajar Interpratama Mandiri, hal. 120.
29 Tolib Setiady, Op.cit., hal. 290.
30 Ter Haar Bzn B, Mr. 1991. Asas-Asas dan Susunan Hukum Adat – terjemahan K. Ng. Soebakti Poesponoto. Jakarta: PT. Pradnya Paramita, hal. 50.
xlvi c) Pimpinan persekutuan dapat menentukan untuk menyatakan dan menggunakan
bidang-bidang tanah tertentu ditetapkan untuk kepentingan umum, dan terhadap tanah yang ditetapkan tersebut tidak diperkenankan diletakan hak perorangan.
d) Orang asing yang mau menarik hasil dari tanah-tanah ulayat harus terlebih dahulu meminta ijin dari kepala persekutuan dan harus membayar uang pengakuan dan setelah panen harus membayar uang sewa.
e) Persekutuan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di atas lingkungan ulayat.
f) Berlaku larangan pengasingan atas tanah ulayat, di mana baik persekutuan maupun anggota-anggotanya tidak diperkenankan memutus secara mutlak sebidang tanah ulayat sehingga persekutuan sama sekali tidak hilang wewenang atas tanah tersebut.31
Selain memiliki ciri-ciri tertentu sebagaimana dikemukakan di atas, Hak Ulayat memiliki dua sifat yakni, yakni sifat berlaku ke dalam dan keluar.
Yang dimaksudkan dengan sifat berlaku ke dalam adalah Hak Ulayat menjamin kehidupan anggota-anggotanya yang ada dalam lingkungan ulayat tersebut.32
Hak Ulayat dapat juga berlaku terhadap orang-orang luar, yakni orang- orang yang bukan anggota persekutuan. Orang luar yang hendak memasuki persekutuan terlebih dahulu harus mendapat ijin dari kepala persektuan. Dan biasanya hak yang diberikan bagi orang luar hanyalah hak untuk menikmati, dan tidak dapat menjadi ahli waris. 33
31 Tolib Setiady, Loc.cit.
32 Ibid.
33 Ibid., hal 291.
xlvii b. Hak Perorangan atau Individu
Melaui sifat hak ulayat berlaku ke dalam, maka setiap anggota persekutuan berhak mengadakan hubungan hukum dengan tanah serta dengan semua isi yang ada di atas tanah ulayat tersebut. Melalui hubungan hukum itulah masing-masing anggota persekutuan memiliki hubungan tertentu dengan tanah ulayat yang dapat berupa hak-hak atas tanah, dan ketika hubungan hukum perseorangan tersebut terbangun maka timbullah hak perseorangan atas tanah itu.34 Beberapa bentuk hak perseorangan yang diberikan atas tanah ataupun isi tanah ulayat adalah berupa: Hak milik atas tanah;35 Hak menikmati atas tanah;
36 Hak terdahulu; 37 Hak terdahulu untuk beli; 38 Hak memungut hasil karena jabatan; Hak pakai; 39 dan Hak gadai dan hak sewa.40
B. Teori Keadilan
1. Keadilan Menurut John Rawls
Teori keadilan adalah salah satu pemikiran paling monumental dalam pemikiran John Rawls. Teori keadilan dari John Rawls ini sendiri berkembang dalam dua tahap. Pada tahap pertama teori ini dikemukan dalam bukunya “A theory of Justice” yang diterbitkan pada tahun 1971, dan kemudian disempurnakan dalam “Political Liberalsm” yang diterbitkan pada tahun 1993.41
Pada tahap pertama pemikiran tentang keadilan di dalam “A theory of
34 Dewi Wulansari, Op.cit., hal. 86.
35 Ibid., hal.87.
36 Ibid.
37 Ibid., Hal. 89.
38 Ibid.
39 Ibid.
40 Ibid.
41 Ibid.
xlviii Justice” John Rawls merekonsiliasikan dua prinsip yakni prinsip kebebasan dan prinsip persamaan, yang ia sebut sebagai prinsip keadilan bagi individu-individu dan prinasip keadilan bagi istitusi. Ia berpendapat bahwa keadilan adalah kebajikan utama dari hadirnya institusi-institusi sosial. Akan tetapi kebaikan bagi seluruh masyarakat tidak dapat mengesampingkan atau mengganggu rasa keadilan dari setiap orang yang telah memperoleh rasa keadilan.42
Menurut John Rawls, bidang pokok keadilan adalah susunan dasar masyarakat semua institusi sosial, politik, hukum, dan ekonomi; karena susunan institusi sosial itu mempunyai pengaruh yang mendasar terhadap prospek kehidupan individu.
Selanjutnya, menurut Rawls, jika bidang utama keadilan adalah struktur dasar masyarakat, maka problem utama keadilan adalah merumuskan dan memberikan alasan pada sederet prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh sebuah struktur dasar masyarakat yang adil. Prinsip-prinsip keadilan sosial tersebut akan menetapkan bagaiman struktur dasar harus mendistribusikan prospek mendapatkan barang-barang pokok. Jadi dalam kerangka dasar struktur masyarakat, kebutuhan- kebutuhan pokok (primary goods) terutama dapat dipandang sebagai sarana mengejar tujuan dan kondisi pemilihan yang kritis serta seksama atas tujuan dan rencana seseorang. Jika diterapkan pada fakta struktur dasar masyarakat, prinsip- prinsip keadilan harus mengerjakan dua hal: 43
a. Prinsip keadilan harus memberi penilaian kongkret tentang adil tidaknya institusi-institusi dan praktek institusional.
42 John Rawls “A theory of Justice” (terj: Teori Keadilan, Dasar-dasar Filsafat Politik untuk Mewujudkan Kesejahteraan Sosial dalam Negara), 2011, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hal. 65.
43 Ibid., hal. 24.
xlix b. Prinsip-prinsip keadilan harus membimbing kita dalam memperkembangkan kebijakan-kebijakan dan hukum untuk mengoreksi ketidak adilan dalam struktur dasar masyarakat tertentu.
Rawls kemudian mengembangkan bahawa ada dua prisip keadilan44, yakni:
Pertama, adalah prinsip kebebasan yang sama sebesar-besarnya (principle of greatest equal liberty). Prinsip ini mencakup : 1) Kebebasan untuk berperan serta dalam kehidupan politik (hak bersuara, hak mencalonkan diri dalam pemilihan); 2) Kebebsan berbicara (termasuk kebebasan pers); 3) Kebebasan berkeyakinan (termasuk keyakinan beragama); 4) Kebebasan menjadi diri sendiri (person); dan 5) Hak untuk mempertahankan milik pribadi.
Kedua, prinsip keduanya ini terdiri dari dua bagian, yaitu prinsip perbedaan (the difference principle) dan prinsip persamaan yang adil atas kesempatan (the prinsiple of fair equality of opprtunity).
2. Keadilan Berdasarkan Pancasila
a. Konsep Keadilan di Indonesia sebagai Negara Negara Hukum
Indonesia adalah Negara hukum yang menjunjung tinggi hukum, dan demikian semua tingkah laku orang Indonesia diatur oleh hukum. Hukum memberikan pengayoman bagi bangsa dan Negara Indonesia dalam menjalankan hubungan di dalam dan di luar negeri sebagai sarana untuk mencapai tujuan Negara. Dengan demikian, sebagai Negara hukum, Indonesia harus mempunyai konsep untuk membentuk hukum yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan bangsa Indonesia, yakni Negara hukum Pancasila, di atas
44 Ibid., hal. 10.
l mana dibangun sebuah sistem hukum yang disebut sistem hukum Pancasila.45 Negara hukum Pancasila dengan sistem hukum Pancasila ini adalah kepunyaan Bangsa Indonesia sendiri, bagian dari dari warisan peradaban yang kristalisasinya terdapat di dalam sila-sila dari Pancasila.46
Di dalam konsep Negara hukum Pancasila terdapat dua konsep yakni, rechtsstaat (Negara dengan Undang-Undang tertulis atau biasa juga disebut Negara hukum materiil) dan Rule of Law (Negara-negara dengan sistem Common Law), yakni sama-sama mengakui adanya supremasi hukum47 namun kedua konsep tersebut sekaligus menjelma menjadi bentuk yang berbeda yakni Negara hukum Pancasila, di mana Negara hukum Pancasila lahir dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan bersifat non-sekuler.48
Bagaiamana konsep rechtsstaat dan Rule of Law berpadu dalam konsep Negara hukum modern dijelaskan oleh Jimly Asshiddiqie dengan mengatakan bahwa Gagasan Negara Hukum itu dibangun dengan mengembangkan perangkat hukum itu sendiri sebagai suatu sistem yang fungsional dan berkeadilan, dikembangkan dengan menata supra struktur dan infra struktur kelembagaan politik, ekonomi dan social yang tertib dan teratur, serta dibina dengan membangun budaya dan kesadaran hukum yang rasional dan impersonal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Untuk itu, sistem hukum itu perlu dibangun (law making) dan ditegakkan (law
45 Teguh Prasetyo, 2016. Sitem Hukum Pancasila – Perspektif Kedilan Bermartabat, Bandung: Nusa Media, Hal. 3.
46 Ibid., Hal. 4.
47 Moh. Mahafud MD, 2011. Membangun Politik Hukum, Menegakan Konstitusi, Jakarta: Rajawali Press, Hal. 24.
48 Ferry Irawan Febriansyah, 2016. Keadilan Berdasarkan Pancasila – Dasar Filosofis dan Idiologis Bangsa, Yogyakarta: Deepublis, Hal. 54.
li enforcing) sebagaimana mestinya, dimulai dengan konstitusi sebagai hukum yang paling tinggi kedudukannya. Untuk menjamin tegaknya konstitusi itu sebagai hukum dasar yang berkedudukan tertinggi (the supreme law of the land), dibentuk pula sebuah Mahkamah Konstitusi yang berfungsi sebagai
‘the guardian’ dan sekaligus ‘the ultimate interpreter of the constitution’. 49 Jimly Asshiddiqie selanjutnya menjelaskan bagaimana cita negara hukum tersebut dalam penerapannya untuk situasi Indonesia dewasa ini dapat dirumuskan dalam tiga-belas prinsip pokok Negara Hukum (Rechtsstaat) yang berlaku di zaman sekarang. Ketiga-belas prinsip pokok tersebut merupakan pilar-pilar utama yang menyangga berdiri tegaknya satu negara modern, termasuk Indonesia sehingga dapat disebut sebagai Negara Hukum (The Rule of Law, ataupun Rechtsstaat) dalam arti yang sebenarnya:50 1) Supremasi Hukum (Supremacy of Law); 2) Persamaan dalam Hukum (Equality before the Law); 3) Asas Legalitas (Due Process of Law); 4) Pembatasan Kekuasaan;
5) Organ-Organ Eksekutif Yang Bersifat Independen; 6) Peradilan Bebas dan Tidak Memihak; 7) Peradilan Tata Usaha Negara; 8) Peradilan Tata Negara (Constitutional Court); 9) Perlindungan Hak Asasi Manusia; 10) Bersifat Demokratis (Democratische Rechtsstaat);11)Berfungsi sebagai Sarana Mewujudkan Tujuan Kesejahteraan (Welfare Rechtsstaat); 12) Transparansi dan Kontrol Sosial; dan 13) Berke-Tuhanan Yang Maha Esa.
3) Keadilan yang bersumber dari Pancasila sebagai Falsafah dan
49 Jimly Asshiddiqie, Gagasan Negara Hukum Indonesia, diakses pada
http://www.jimly.com/makalah/namafile/135/Konsep_Negara_Hukum_Indonesia.pdf, 03 Mei 2018, Jam 21:15.
50 Assiddiqie Jimly, Prinsip Pokok Negara Hukum, PDF, diakses pada http://www.jimly.com/pemikiran/view/11, 03 Mei 2018, jam 19:30.
lii Idiologi Bangsa
Pandangan keadilan dalam hukum nasional bangsa Indonesia tertuju pada dasar negara, yaitu Pancasila. Yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah yang dinamakan adil menurut konsepsi hukum nasional yang bersumber pada Pancasila.
Menurut Kahar Masyhur menjelaskan tentang apa yang disebut adil dengan mengatakan bahwa ada tiga pengertian adil.51
(1) “Adil” ialah : meletakan sesuatu pada tempatnya.
(2) “Adil” ialah : menerima hak tanpa lebih dan memberikan orang lain tanpa kurang.
(3) “Adil” ialah : memberikan hak setiap yang berhak secara lengkap tanpa lebih tanpa kurang antara sesama yang berhak dalam keadaan yang sama, dan penghukuman orang jahat atau yang melanggar hukum, sesuai dengan kesalahan dan pelanggaran”.
Bila dihubungkan dengan “keadilan sosial”, maka keadilan itu harus dikaitkan dengan hubungan-hubungan kemasyarakatan. Keadilan sosial dapat diartikan sebagai :
(1) Mengembalikan hak-hak yang hilang kepada yang berhak. (2) Menumpas keaniayaan, ketakutan dan perkosaan dan pengusaha-pengusaha. (3) Merealisasikan persamaan terhadap hukum antara setiap individu, pengusaha- pengusaha dan orang-orang mewah yang didapatnya dengan tidak wajar”. 52
51 Kahar Masyhur, 1985. Membina Moral dan Akhlak, Jakarta: Kalam Mulia, Hal.71.
52 Kahar Masyhur, Loc. Cit.
liii C. Teori Hukum
1. Sejarah Hukum
Friedrich Carl von Savigny dikenal sebagai tokoh yang menggagas mazab sejarah dalam perkembangan sejarah hukum. Friedrich Carl von Savigny menjadi pionir dalam melakukan studi tentang perkembagan hukum dalam hubungannya dengan keadaan sosial.53 Friedrich Carl von Savigny yang menyatakan bahwa hukum itu tidak dibuat melainkan tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan masyarakat. Inti dari teori Von Savigny adalah: “semua hukum pada mulanya dibentuk dengan cara seperti yang dikatakan orang, hukum adat, dengan bahasa yang biasa tetapi tidak terlalu tepat, dibentuk yakni bahwa hukum itu mulai-mula dikembangkan oleh adat kebiasaan dan kepercayaan yang umum”.
Sesungguhnya jejak perkembangan pemikiran hukum Von Saviygni dapat diikuti dalam karya-karyanya. Pandangan ini kemudian menjadi jelas dalam karyanya “Vom Beruf unsrer Zeit Fur Gezetzgebung und Rechtswissenschaft” (On the Calling of Our Time for Legislation and Jurisprudence) di mana ia menjelaskan bagaimana sejarah perkembangan terjadinya hukum.
Savigny menolak teori tentang hukum alam dan postulatnya bahwa akal budi sebagai sumber utama dari hukum, dengan mengatakan bawa hukum selalu terhubung dengan sejarah manusia. Hukum adalah expressi atau ungkapan “roh suatu bangsa” (der Volkergeist), sejenis idiologi hukum dari kebiasaan. Hukum selalu merupakan manisfestasi dari semangat yang tidak kehihatan dari suatu masyarakat, kesadaran dari suatu masyarakat, di mana kesadaran itu yang
53 Luis Kutner, 1972. Legal Philosophers: Savigny: German Lawgiver, 55 Marq. L. Rev. 280, PDF, dapat pada: http://scholarship.law.marquette.edu/mulr/vol55/iss2/5, diakses pada tanggal 20 April 2018, Jam 21:04.
liv merupakan perangkat untuk menghasilkan kekuatan rahasia yang tersembunyi.
Von Savigny mengatakan “…Hubungan alamiah antara hukum dengan hakekat dan karakter dari suatu masyarakat juga mewujudkan diri dari waktu ke waktu dan juga dalam hal ini dapat bandingkan dengan bahasa” (This organic relationship of law with the essence and character of the people also manifests itself over time and also in this is comparable with the language”). Savigny hanya mendefensisikan hubungan yang tidak dapat dipisahkan yang ada antara hukum dan budaya sebuah bangsa sebagai hal yang dia kategorikan sebagai
“Roh/semangat dari suatu masyarakat”. 54
Savigny menentang pembuatan hukum oleh legislative dengan meyakini bahwa legislator tidak menciptakan norma-norma hukum menggunakan penilaiannya sendiri, tugas legislator hanyalah untuk mengungkapkan keyakinan- keyakinan yang ada di dalam masyarakat (Volksuberzeugung), rasa keadilan dari masyarakat. Savigny merumuskannya dengan mengatakan : “Hukum positif hidup dalam kesadaran umum dari masyarakat dan oleh karena itu kita mesti menyebutnya hukum dari masyarakat” ( “Positive law lives in the general consciousness of the people, and, consequently, we must also call it people’s law”). Masyarakatlah yang merupakan subyek sesungguhnya dari hukum dan pencipta dari hukum itu.55
2. Pembaharuan Hukum
54 Ibid.
55 Olga Maratovna Belyaeva, 2017. On the System of German Law in F.C. Savigny’s Doctrine, in The Turkish Online Journal of Design, Art and Communication TOJDAC December 2017 Special Edition, diakses melalui http://www.tojdac.org/tojdac/VOLUME7-DCMSPCL_files/tojdac_v070DSE151.pdf, 30 April 2018, Jam 18:20.
lv Salah satu tokoh paling penting yang menggagas dan mengembangkan teori pembaharuan hukum adalah Roscoe Pound. Roscoe Pound adalah salah seorang tokoh aliran sociological jurisprudence dan fragmatic legal realism. 56
Dalam pemikiran hukumnya Rosecoe Pound banyak mempergunakan teori-teori pemikir hukum lainnya. Salah satu pemikir yang sangat mempengaruhi Roscoe Pound dalam pemikiran hukumnya adalah teori Rudolf Von Jhering.
Rudolf Von Jhering57 dalam teorinya berpendapat bahwa fungsi hukum adalah sarana untuk melindungi kepentingan.58
Bila dikaitkan dengan Roscoe Pound sebagai tokoh sociological jurisprudence, secara historis sebenarnya penggagas awal dari sociological jurisprudence adalah Montesquieu. Montesquieu adalah orang pertama yang menerapkan prinsip dasar tang kemudian dijadikan sebagai asumsi oleh para ahli hukum yang menganut sociological juriprundence kemudian, termasuk oleh Roscoe Pound. Dalam L’Espirit des Lois Montesquieu pertama kali mengemukakan tesis bahwa sebuah sistem hukum adalah sebuah sistem yang bertumbuh dan berkembang dalam hubungan dengan dengan lingkungan alam dan sosial.59
Roscoe Pound membedakan antara sociological jurisprudence dengan
56 Atip Latipulhayat, 2014. Dalam Padjajaran Jurnal Ilmu Hukum, Volume 1, Nomor 2, hal. 413.
57 Rudolf von Jhering lahir di Aurich, Hanover, Jerman pada tanggal 22 Agustus 1818. Rudolf von Jhering kadang disebut sebagai bapak Sociological Jurisprudence, karena ia menggagas dan mengelaborasi dalam pemikirannya tentang hubungan antara hukum dengan perubahan sosial. Hal mana ia tulis dalam karyanya Geist des romischhen Rechts (The Spirit of the Roman Law) 4 Vol (1852-65) Gagasan ini kemudian dipertegas lagi dalam karyanya yang berikut yakni Law As a means to an End, 2 Vol. (1877-83) di mana ia menulis bahwa kegunaan dari hukum adalah untuk melindungi kepentingan individu dan kepentingan sosial dengan mengkoordinasikan kedua kepentingan tersebut sehingga meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik, https://www.britanica.com, akses pada tanggal 14 November 2019, jam 10:33 WITA.
58 Atip Latipulhayat, 2014, Loc.Cit.
59 James A. Gardener, 1961. The Siciological Jurisprudence of Roscoe Pound (Part I), PDF, dalam Villanova Law Review, Vol. 6, Number 1, Hal. 2, diakses melalu warwick.ac.uk, diakses pada tanggal 31 Mei 2018, jam 12:28 WITA.
lvi sociology of law. Sociological jurisprudence adalah istilah yang dipakai oleh Roscoe Pound untuk menunjukan hal-hal yang praktis, yakni hal-hal yang terkait dengan bagaimana hukum itu dilaksanakan. Sedangkan istilah sociology of law adalah istilah yang dipakai untuk menunjukan hal-hal yang merupakan masalah teoritis. Dengan membuat pembedaan ini Roscoe Pound mau mengubah hukum dari tataran teoritis (law in book) menjadi hukum dalam kenyataan (law in action).60
Ia mendefinisikan hukum dengan fungsi utama dalam melakukan kontrol sosial: Hukum adalah suatu bentuk khusus dari kontrol sosial, dilaksanakan melalui badan khusus berdasarkan ajaran yang otoritatif, serta diterapkan dalam konteks dan proses hukum serta administrasi.61
Fungsi lain dari hukum menurut Roscoe Pound adalah sebagai sarana untuk melakukan rekayasa sosial (social engineering). Keadilan bukanlah hubungan sosial yang ideal atau beberapa bentuk kebajikan. Keadillan merupakan suatu hal dari “penyesuaian-penyesuaian hubungan tadi dan penataan perilaku sehingga tercipta kebaikan, alat yang memuaskan keinginan manusia untuk memiliki dan mengerjakan sesuatu, melampaui berbagai kemungkinan terjadinya ketegangan.
Inti teori rekayasa sosial (social engineering) terletak pada konsep “kepentingan”.
Ia mengatakan bahwa sistem hukum mencapai tujuan ketertiban hukum dengan mengakui kepentingan-kepentingan itu, dengan menentukan batasan-batasan pengakuan atas kepentingan-kepentingan tersebut dan aturan hukum yang dikembangkan serta diterapkan oleh proses peradilan memiliki dampak positif
60 Ibid.
61 Ibid.