• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suku Dayak Aoheng

Dalam dokumen RINGKASAN DISERTASI BAB I PENDAHULUAN (Halaman 51-70)

HUKUM ADAT TANAH SUKU DAYAK AOHENG

A. Suku Dayak Aoheng

1. Asal Usul Keberadaan dan Migrasi Suku Dayak Aoheng

Dumont L. dalam hasil penelitian etnologinya yang tulis dalam Critique, dengan judul “Identites collectives et idiologie universalite: Leur interaction de fait”

menguraikan tentang bagaimana sejarah keberadaan suku bangsa Dayak Aoheng di Kalimantan. Menurutnya, suku Dayak Aoheng terbentuk dan muncul sebagai sebuah entitas etnik atau suku melalui sebuah proses cukup panjang.75 Suku bangsa Dayak Aoheng terbentuk menjadi sebuah entitas eknis melalui perpaduan berbagai kelompok nomaden/peramu yang berbeda (kebiasaan dan dialek) pada awal mulanya dan terus terjadi demikian pada periode berikutnya saat kelompok-kelompok tersebut mulai bercocok tanam/berladang. Dengan demikian, proses munculnya sub-etnik suku Dayak Aoheng adalah proses yang tidak sekali jadi, melainkani terlebih dahulu melalui fase terbentuknya kelompok-kelompok pra-Suku Aoheng yang otonom, dan demikian terus berkembang lalu teritegrasi dan membentuk sebuah entitas etnik, dengan kebudayaan dan bahasa tunggal yang sebut sebagai suku Dayak Aoheng. 76

Nama Aoheng menurut para ahli adalah nama yang bermula dari cara sub-etnis ini menyebut diri, atau memberi identitas atas diri sendiri di hadapan suku lainnya yang kemudian perlahan-lahan menjadi itentitas entitas etnik ini atau autonym.

Proses autonym ini terjadi secara etimologis, di mana kata Aoheng berasal dari gabungan dua kata, yakni kata ’a dan Oheng atau Uheng. Kata ‘a adalah kata ganti

75 Dumont L., , Identites collectives et idiologie universalite: Leur interaction de fait, Dalam Critique 51: 506-518.

76 Sellato, B. 1986. Les nomades forestier de Borneo et la sedentaristion, unpubliheshed Ph.D. thesis, Paris. Hal. 289-453.

lxvi tidak tentu untuk menunjukan “seseorang” atau “orang”, dan dapat dipakai sesuai dengan koteks tertentu sebagai bentuk halus sebagai “kami/kita”, “anda” atau

“mereka”. 77 Kata Oheng menujuk pada kayu nama kayu khas Kalimantan yakni kayu ulin (oheng), sementara Uheng adalah nama satu wilayah/tempat di ulu sungai Kapuas. Jadi, dapat diduga bahwa nama etnonym Aoheng/Auheng merujuk kepada nama salah satu sub-kelompok suku dayak yang termasuk salah satu cikal-bakal suku bangsa dayak Ahoeng yang mempraktekan taboo atau tabu tertentu dalam rangka pemanfatan kayu ulin. Kemudian, kelompok sub-suku yang datang dari daerah hulu kapuas, yang juga menyebut mereka sebagai kelompok Uheng karena berasal dari daerah yang disebut Uheng di daerah ulu sungai Kapuas, ketika melebur bersama dengan sub-suku yang mempraktekan tabu terhadap kayu ulin (oheng), sehingga terbentuklah intergasi kedua nama ini menjadi Aoheng, sebagaimana yang di kenal sekarang sebagai sebuatan bagi suku bangsa Dayak Aoheng.78

2. Penyebaran dan Tenorial Suku Bangsa Dayak Aoheng

Catatan tertulis tentang suku Dayak Aoheng baru dapat disajikan pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Pada masa ini suku Bangsa Dayak Aoheng bermukim daerah di sekitar Pegunungan Muller bagian barat. Dalam perkembangan selanjutnya mereka meninggalkan daerah ini dan sebagian besar dari Suku Bangsa Dayak Aoheng kini kemudian bermukim wilayah Kalimantan Timur di daerah ulu Sungai Mahakam, terutama di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, sebagian di Kecamatan Long Bangun, dan ada sekelompok kecil mendiami kampung Enab, Kabupaten Putus Sibau dan lainnya lagi mendiami beberapa daerah

77 Ibid.

78 Sellato B. 2002. Innermost Borneo – Studies in Dayak Culture, Singpore University Press. Hal. 171-172.

lxvii Serawak, Malaysia Timur. 79

Proses migrasi dari daerah di sekitar Pegunungan Muller ke ulu Sungai Mahakam terjadi sekitar tahun 1760-1820.80 Migrasi dalam kelompok kelompok kecil inilah yang kemudian memuncukan pembagian Suku Dayak Aoheng kedalam kelompok sebagaimana di kenal sekarang ini, yakni 1) Kelompok Suku Dayak Aoheng Long Apari; 2) Kelompok Suku Dayak Aoheng Long Kerioq; 3) Kelompok Suku Dayak Aoheng Tiong Bu’u; 4) Kelompok Suku Dayak Aoheng Tiong Ohang, 5) Kelompok Suku Dayak Aoheng Huvung. Pada waktu migrasi mamasuki wilayah Ulu Sungai Mahakam, di kenal hanya kelompok Suku Dayak Aoheng, yang dalam perkembangan kemudian masing masing-masing kelompok ini ada yang berpindah ke kampung atau daerah lain, sehingga pada saat ini, Suku Dayak Aoheng didapati bermukim di kampung-kampung dalam beberapa kecamatan, yakni:

 Di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu, meliputi: Kampung Long Apari, Kampung Naha Silat, Kampung Kampung Baru, Kampung Tiong Ohang, Kampung Tiong Buu, Kampung Long Kerioq,

 Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, yang meliputi: Kampung Long Bagung Ilir, Kampung Ujoh Bilang Ilir dan Kampung Long Hurai.

 Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Mahakam Ulu, yang meliputi: Kapung Long Hubung Ilir.

3. Karakter Etnografis Suku Dayak Aoheng a. Stratifikasi Sosial

79 Dumont L., Loc.cit.

80 Bernard Sellato, 1986. Le Nomades Forestiers de Borneo et la Sedentarisation (Ph.D Dissertarion), Unpublished, Hal. 416.

lxviii Suku bangsa Dayak Aoheng memiliki stratifikasi sosial asli, yang secara umum terbagi ke dalam tiga strata, yakni kelompok aristoktat atau bangsawan yang disebut supi, kelompok warga biasa yang disebut kovi, dan kelompok budak yang disebut dipon.

Pada saat ini stratifikasi seperti di kemukakan di atas hampir tidak ada lagi, dan desa, kampung tidak serta merta dipimpin oleh strata supi karena penyelenggaraan pemerintahan kampung dan desa dilaksanakan menurut ketentuan Undang-undang desa, di mana yang mengepalai dan menyelenggarakan pemerintahan kampung atau desa adalah kepada desa atau kempala kampung sebagaimana di atur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2014 tentang Desa. Nanum dalam hal yang menyakut adat, dan symbol-simbol adat dan upacara adat perbedaan stratifikatif ini masih masih berlaku dengan cukup ketat. Dengan kata lain, dalam tata Masyarakat Hukum Adat stratifikasi ini masih diakui dan dilaksanakan.

b. Sistem Kekerabatan dan Sistem Perkawinan

Suku bangsa Dayak Aoheng menganut sistem kekerabatan parental, yakni mengatur penyebutan identitas keturunan dengan menggunakan nama pihak bapak.

Hal ini ditandai, dengan cara penyebutan nama seseorang yang lalu disusul oleh nama ayah, dan tidak oleh nama pihak ibu. Sedangkan sistem perkawinan di kalangan suku bangsa Dayak Aoheng menganut adat utrolokal, yakni bahwa pasangan yang baru menikah bebas untuk tinggal di lingkungan keluarga ibu atau keluarga ayah.

c. Religiositas dan Ritual Terpenting

Suku bangsa Dayak Aoheng memiliki satu ritual kehidupan terpting yang tidak ada pada suku-suku bangsa dayak yang lainnya yang disebut Pengosang. Ritual pengosang adalah ritual yang terpenting dan dan juga tersuci. Secara tradisional atau

lxix turun temurun upacara ritual pengosang hanya dilakukan situasi yang kritis yang dinilai berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup komunitas seperti terjadinya paceklik karena gagal panen secara beruntun atau ketika terjadi epidemik penyakit tertentu. Dengan demikian, pengosang sebagai sebuah ritual kehidupan masyarakat suku bangsa Dayak Aoheng yang paling penting pada prinsipnya bertujuan untuk menjamin kesuburan atas tanah dan kesejahteraan hidup umat manusia.81 Selain ritual utama ini suku Dayak Aoheng juga memiliki ritual lain yang terkait peristiwa-peristiwa dalam siklus kehidupan manusia dan peristiwa-peristiwa-peristiwa-peristiwa dalam siklus kehidupan ekonomi sebagai petani peladang.

B. Hukum Adat Suku Dayak Aoheng

Apa yang dipahami sebagai hulkum adat di dalam masyarakat Suku Dayak Aoheng serupa dengan pemahahaman tentang hukum adat pada umumnya sebagamana telah di kemukakan sebelumnya. Sebagaimana telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya, dikatakan bahwa masih ada perbedaan pendapat di antara para ahli tentang adat dan hukum adat. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Hukum Adat adalah adat yang mempunyai sanksi, sedangkan istilah adat merujuk kepada kebisaan yang berwujud aturan tingkah laku yang berlaku di dalam masyarakat. Ada ahli yang menyamakan saja antara Hukum Adat dengan Hukum Kebiasaan dan menyatakan bahwa dalam kenyataanya batas antara hukum adat dengan adat kebiasaan itu sebenarnya tidak jelas, sebaliknya yang lain membedakan keduanya secara tegas. Pada masyarakat suku Dayak Aoheng, memang sulit keduanya dibedakan. Dalam tulisan ini penulis sendiri cendrung mengambil posisi untuk tidak membedakan secara tajam, karena memang hukum adat merupakan

81 Ibid.

lxx kebiasaan yang bersifat dinamis.

1. Hukum Ketatanegaraan

Di dalam masyarakat suku Dayak Aoheng sebagaimana dimaksudkan oleh para ahli82 terdapat aturan-aturan hukum adat yang mengatur tentang tata susunan masyarakat adat, bentuk-bentuk masyarakat adat atau persekutuan hakum adat (desa), alat-alat perlengkapan (desa), susunan jabatan dan tugas masing-masing anggota perlengkapan desa, dan harta kekayaan desa yang disebut sebagai hukum ketatanegaraan adat.

Dari hasil penelitian, penulis mendapati bahwa di dalam masyarkat adat Suku Dayak Aoeng terdapat susunan masyarakat adat, bentuk-bentuk masyarakat adat atau persekutuan hakum adat, alat-alat perlengkapan, susunan jabatan dan tugas masing-masing anggota perlengkapan desa, dan harta kekayaan desa sebagai berikut:

a. Kelembagaan Masyarakat Adat Suku Dayak Aoheng

Dalam teori tentang Masyarakat Hukum Adat di kenal ada tigas jenis persekutian Masyarakat Hukum Adat, yakni 1) Persekutuan Genealogis; 2) Persekutuan Terriorial dan 3) Persekutuan Genealogis Territorial.

i. i. Persekutuan Genealogis.

Pada masyarakat Suku Dayak Aoheng di dapati jejak bahwa pada masa migrasi sebelum menempati di perkampungan-perkampungan di ulu Sungai Mahakam saat ini sebagaimana telah dikemukakan di atas, Masyarakat Hukum Adat Suku Aoheng bermigrasi dalam bentuk ikatan genealogis, yakni persekutuan yang terbentuk dari persamaan dalam keturunan.83 Sebagaimana dalam dalam Masyarakat Hukum

82 Himan Hadikusuma, Op.cit., hal. 163.

83 Hilman Hadikusuma H, Prof., SH., Op.cit., hal. 105.

lxxi Genealogis yang menitik beratkan pada faktor keturunan atau pertalian darah, dan pertalian darah selalu diturunkan melalui dua orang yakni laki-laki dan perempuan, maka dalam masyarakat Suku Dayak Aoheng secara secara spesifik didapati bahwa persekutuan genealogis pada masyarakat Suku Dayak Aoheng adalah persekutuan genealogis bilateral, dan tidak di kenal bentuk persetuan unilateral dan altenerend.

Dalam masyarakat Suku Dayak Aoheng hubungan kekerabatan antara pihak bapak dan pihak ibu berjalan seimbang dan sejajar.84 Maka kemudian dalam masyarakat suku Dayak Aoheng didapati;

Masyarakat Bilateral yang bersendikan pada kesatuan rumah tangga (gezins). Titik berat dari masyarakat itu terletak pada rumah tangga.

Masyarakat bilateral yang bersendikan pada rumpun-rumpun (tribe). Titik berat dari masyarakat ini terletak pada rumpun.85

ii. Persekutuan Terriorial

Berpegang pada pendapat para ahli yang bermula dari pendapat R. van Dijk yang yang kemudian diikuti para ahli hukum adat lainnya bahwa pengikat utama anggota Masyarakat Hukum Adat yang terbentuk menurut persekutuan hukum territorial adalah daerah kelahiran dan menjalani kehidupan bersama di tempat yang sama. Suku Dayak Aoheng dalam perkembangan setelah migrasi nomaden hidup dalam persekutuan terriorial. Hal ini terjadi setelah akhir tahun 1700-an di mana kelompok-kelompok yang semula bermigrasi sendiri-sendiri mulai membentuk

84 Untuk jelasnya, pada masyarkat suku Dayak Aoheng, sebagaimana dimana dijelaskan sebelumnya bahwa dalam proses migrasi maupun pada saat telah bermukim di wilayah ulu riam sungai Mahakam saat ini, didapati bahwa di dalam masyarat suku dayak Aoheng dianut sistem eksogami (perkawinan antar etnis, klan, suku, kekerabatan dalam lingkungan yang berbeda). Perkawinan eksogamis dilaksanakan dalam berbagai bentuknya baik heterogami (antar kelas sosial yang berbeda) maupun homogami (antar golongan sosial yang sama).

85 Ibid.

lxxii persekutuan tetap dan teratur, yang anggota masyarakatnya terikat pada suatu daerah kediaman tertentu, baik dalam kaitan duniawi sebagai tempat kehidupan maupun dalam kaitan rohani sebagai tempat permujaan tehadap roh-roh leluhur. Dasar daripada ikatan anggota persekutuan hukum territorial ini ialah hubungan bersama terhadap suatu daerah yang sama dan tertentu, dimana para anggota tinggal bersama, mendapatkan penghidupan, dan memuja roh/dewa. Mereka merasa bersatu atas suatu keyakinan bahwa mereka terikat oleh suatu daerah asal yang sama atau tempat tinggal yang sama. Pada masyarakat persekutuan territorial ini terdapat ikatan emosional yang sangat erat antara manusia sebagai penghuni dengan wilayah atau tanah tempat tinggalnya, dan ini menjadi azas yang sangat kuat dan menentukan suatu bentuk persekutuan teritorial.86

Dari hasil riset yang penulis lakukan, di dapati bahwa bentuk persektuan territorial masyarakat Suku Dayak Aoheng adalah persektuan desa. Sedangkan persekutuan daerah dan perserikatan desa tidak di kenal dalam masyarakat Suku Dayak Aoheng.

iii. Persekutuan Genealogis-Terriorial.

Di atas telah diuraikan hasil penelitian bahwa di dalam masyarakat Suku Dayak Aoheng di kenal, baik bentuk persekutuan genealogis dan juga persektuan territorial, namun kedua bentuk persetuan tersebut dalam masyarakat suku Dayak Aoheng, dalam arti tertentu kedua bentuk persekutuan itu sudah tidak berlaku murni lagi di dalam masyarakat suku Dayak Aoheng. Demikianpun pada masyarakat Suku Dayak Aoheng.

Dalam masyarakat Suku Dayak Aoheng saat ini berlaku persekutuan

86 Dominikus Rato, Op.Cit., Hal, 88.

lxxiii hukum genealogis-territorial. Sebagai Masyarakat Hukum Adat Masyarakat suku Dayak Aoheng diikat secara genealogis tetapi sekaligus juga terikat oleh wilayah territorial sebagai pengikat utama para anggota kelompok masyarakat suku ini. Pada persekutuan ini para anggotanya tidak hanya terikat pada tempat kediaman daerah tertentu tetapi juga terikat pada hubungan keturunan dalam ikatan pertalian daerah dan atau kekerabatan.

b. Stratifikasi Masyarakat

Suku Dayak Aoheng mengenal stratifikasi sosial asli yang secara umum terbagi ke dalam tiga strata, yakni aristoktat atau bangsawan yang disebut supi, kelompok warga biasa yang disebut kovi, dan kelompok budak yang disebut dipon.

Stratifikasi ini secara sosilogis dalam pemerintahan masyarakat suku Dayak Aoheng sudah tidak ada, nanum dalam hal yang menyangkut adat, dan symbol-simbol adat dan upacara adat perbedaan stratifikatif ini masih masih berlaku dengan cukup ketat.87

Di dalam masyarakat suku Dayak Aoheng Strata bangsawan terbagi lagi ke dalam dua kelompok menurut tingkat kekuasaan kepempimpinan yang ditandai dengan besar-kecilnya rumah yang mereka pimpin, sebagai berkut:

1. Supi Hauq : adalah raja atas seluruh kampung dan memimpin seluruh kampung.

2. Supi Okiq`: adalah raja kecil yang memimpin warga yang menghuni satu rangkaian rumah panjang.

87 Dalam struktur masyarakat suku Dayak Aoheng saat ini stratifikasi sosial masyarat yang dibagi ke dalam golongan strata supi, kovi dan dipon karena struktur kepempinan desa dilaksanakan menurut ketentuan Undang-undang desa, di mana yang mengepalai dan menyelenggarakan pemerintahan kampung atau desa adalah kepada desa atau kempala kampung sebagaimana di atur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2014 tentang Desa. Namun de facto masyarakat suku dayak Aoheng dalam kehidupan sehari-hari masih menghidupi kehidupan mereka menurut hukum adat, termasuk dalam hal yang menyangkut tanah.

lxxiv Kalangan yang dikategorikan sebagai warga biasa atau kovi juga di bagi ke dalam sub-stratifikasi yang terdiri dari: Kovi maum, Kovi cian dan Kovi ca’at. Yang dimaksudkan dengan kovi maum adalah kelompok warga yang berperan penting dalam ritual dan upacara-upcara penting suku bang Dayak Aoheng. Kovi cian adalah warga biasa yang keadaan mereka tergolong kelompok yang kehidupan sosial mereka cukup sejahtera. Sedangkan Kovi Ca’at adalah warga biasa yang di dalam masyarak dipadang sebagai warga yang keadaan mereka miskin dan, dan walaupun mereka adalah orang bebas namun mereka bekerja bagi kelompok bangsawan.

Kategori warga yang disebut dipon adalah kaum tawanan.88 Para tawanan ini adalah para tawanan perang antar suku dan keurunan mereka. Dipon hanya dimiliki oleh kelompok bangsawan. Para dipon ini yang melaksakan semua jenis perkerjaan untuk kesejahteraan kaum bangsawan. Mereka mengabdi penuh kepada keluarga-keluarga bangsawan.89 Hal yang paling penting diperhatikan adalah bahwa pembagian anggota warga biasa ke dalam kelompok kovi cian dan kovi ca’at terutama di dasarkan pada alasan perbedaan status sosial ekonomi. Sedangkan covi maum lebih merujuk kepada peran sosio-religius yang dimainkan oleh warga yang termasuk stratifikasi ini.90

2. Hukum Kekeluargaan

Mengacu pada pendapat para ahli hukum adat, penulis dalam melakukan

88 Sebanarnya kalangan yang disebut dipon bukanlah bagian dari stratifikasi masyarakat di kalangan suku Dayak Aoheng. Para tawanan ini adalah para tawanan perang antar suku dan keurunan mereka. Dipon hanya dimiliki oleh kelompok bangsawan. Setelah Pertemuan Tumbang Anoi pada tada tahun 894, di mana salah satu butir kesepakatan suku-suku dayak se Kalimantan untuk menghentikan perang antar suku, maka golongan dipon ini dihapus dari masyarakat Dayak pada umumnya, termasuk dalam masyarakat Dayak Aoheng.

89 Sellato B., Op.cit., Hal. 175-176.

90 Ibid.

lxxv penelitian mengumpulkan, mengolah dan membahas secara terpisah hukum kekeluargaan dengan hukum perkawinan. Dalam hukum kekeluargaan, pada umumnya pokok-pokok yang dibahas di bawah topik hukum keluargaan akan meliputi hal keturunan, hubungan anak dengan orang tua, hubungan anak dengan keluarga, memelihara anak piatu serta tentang mengadopsi anak. Sedangkan dalam hukum perkawinan, umumnya pokok yang dibahas adalah topic yang berkaitan dengan aturan-aturan hukum adat yang mengatur tentang bentuk-bentuk perkawinan, cara pelamaran, upacara perkawinan dan putusnya perkawinan.

a. Hukum Adat tentang Keturunan

Dalam hukum adat, akibat hukum yang berkaitan dengan hukum keturunan91 akan dihubungkan dengan dua hal yang sangat penting dalam hukum kekeluargaan, yakni (1) Garis keturunan dan; (2) Tingkat atau derajat keturunan. Tentang garis keturunan, dikenal adanya garis keturunan lurus dan garis keturunan menyamping.

Garis keturunan lurus, artinya seseorang itu merupakan keturunan langsung dari keturunan orang tuanya, dan terkena pada siapapun yang mempunyai bersifat lurus baik ke atas maupun ke bawah. Sedangkan yang dimaksudkan dengan garis keturuan menyamping adalah apabila antara kedua orang atau lebih terdapat ketunggalan leluhur. 92

b. Hukum Adat tentang Hubungan Anak dengan Orang Tua

91 Ibid.

92 Ibid.

lxxvi Di dalam hukum adat kekeluargaan masyarakat suku Dayak Aoheng, ada berbagai bentuk hubungan anak dengan orang tua: Anak kadung; 93 Anak yang lahir di luar perkawinan; Anak yang lahir karena zinah; 94 dan Anak yang lahir setelah perceraian.

c. Hukum Adat Hubungan Anak dengan Keluarga.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa persekutuan masyarakat hukum adat suku Dayak Aoheng menganut sistim bilateral, di mana garis keturunan ditarik dari garis keturunan orang tuanya, yaitu bapak dan ibu bersama-sama sekaligus. Dalam sistem bilateral ini hubungan anak dengan keluarganya, baik dari pihak bapak maupun pihak ibu akan sama eratnya. Sebagai sistem bilateral dalam hal-hal yang terkait dengan perkawinan, warisan, kewajiban memelihara dan hubungan hukum lainnya akan sama kuatnya pada kedua belah pihak dari orang tua anak. Namun dalam masyarakat suku Dayak Aoheng adat satu faktor yang menentukan eratnya hubungan anak dengan keluarga di dalam masyarakat suku Dayak Aoheng, yakni bentuk perkawinan dari kedua orang tuanya.95

3. Hukum Adat Perkawinan

Sebagaimana dalam pengertian umum teori hukum adat, dalam masyarakat Suku

93 Dalam masyarakat Aoheng anak

94 Dalam masyarakat hukum adat Dayak Aoheng zinah terjadi pada pihak yang telah terikat perkawinan, bisa salah satu dari kedua orang yang memiliki hubungan gelap atau kedua-keduanya. Dalam hal anak yang lahir dari zinah sebagaimana dijelaskan di atas, pihak yang bezinah dikenai denda adat yang harus dibayarkan kepada suami atau istri dari pasangan zinahnya, dan juga kepada suami atau istrinya sendiri kalau ia telah menikah.

95 Pada umumnya dalam masyarakat dayak sebagai masyarakat dengan sistem parental bentuk utama perkawinan yang dianut adalah perkawinan mandiri, di mana keluarga atau kerabat tidak banyak lagi ikut campur tangan dalam keluarga atau rumah tangga suami istri setelah mereka menikah. Namun soal kedekatan anak dengan keluarga dari kedua orang tuanya, terutama terkait dengan warisan dan kewajiban memelihara akan ditentukan oleh apa yang disebut sebagai perkawinan masuk atau perkawinan keluar yang disebut ngevan. Kawin masuk artinya, bahwa kedua keluarga bersepakat tentang pihak mana yang masuk ke dalam perkawinan dari salah satu pihak. Anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut kemudian memiliki hak waris dari kedua orang tuanya di dalam dari lingkungan keluarga pihak orang tuanya yang dimasuki oleh salah satu dari orang tuanya.

lxxvii Dayak Aoheng Hukum Perkawinan Adat dimengerti sebagai aturan-aturan hukum adat yang mengatur tentang bentuk-bentuk perkawinan, cara pelamaran, upacara perkawinan dan putusnya perkawinan.

Sebagai masyarakat adat dengan sistem kekerabatan parental, suku Dayak Aoheng secara umum mengenal bentuk perkawinan mandiri, dengan suatu model perkawinan mandiri yang dikombinasikan dengan praktek yang mirip dengan perkawinan jujuran96 di mana jujuran dapat diberikan baik oleh pihak laki-laki maupun pihak perempuan97 tergantung siapa yang masuk ke dalam keluarga salah satu pihak. Praktek ini disebut sebagai kawin masuk (ngevan). Dalam pelaksanaan perkawinan ini keluarga kedua belah pihak berunding untuk bersepakat tentang pihak mana yang akan masuk ke dalam keluarga salah satu pihak. Keluarga yang disepakati

Sebagai masyarakat adat dengan sistem kekerabatan parental, suku Dayak Aoheng secara umum mengenal bentuk perkawinan mandiri, dengan suatu model perkawinan mandiri yang dikombinasikan dengan praktek yang mirip dengan perkawinan jujuran96 di mana jujuran dapat diberikan baik oleh pihak laki-laki maupun pihak perempuan97 tergantung siapa yang masuk ke dalam keluarga salah satu pihak. Praktek ini disebut sebagai kawin masuk (ngevan). Dalam pelaksanaan perkawinan ini keluarga kedua belah pihak berunding untuk bersepakat tentang pihak mana yang akan masuk ke dalam keluarga salah satu pihak. Keluarga yang disepakati

Dalam dokumen RINGKASAN DISERTASI BAB I PENDAHULUAN (Halaman 51-70)

Dokumen terkait