• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI A. Perpajakan

E. Kepatuhan Wajib Pajak 1.Wajib Pajak 1.Wajib Pajak

Pengertian Wajib Pajak menurut UU No. 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan berbunyi:

“Wajib Pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan

kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.”

Wajib Pajak Orang Pribadi menurut Pandiangan (2014, 20) adalah semua orang yang telah memperoleh penghasilan, yaitu penghasilan yang merupakan objek pajak dan dikenakan tarif umum yang jumlahnya diatas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP).

2. Kepatuhan Wajib Pajak

Menurut Abdul Rahman (2010: 32) kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan sebagai keadaan dimana Wajib Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya, sedangkan menurut Nasucha (2004) dalam Nurhidayah (2015) Kepatuhan Wajib Pajak dapat diidentifikasi dari Kepatuhan Wajib Pajak dalam mendaftarkan diri, kepatuhan untuk menyetorkan kembali Surat Pemberitahuan, kepatuhan dalam penghitungan dan pembayaran pajak terutang dan kepatuhan dalam pembayaran tunggakan.

3. Syarat Menjadi Wajib Pajak Patuh

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 192/PMK.03/2007 tentang Wajib Pajak dengan Kriteria Tertentu dalam Rangka Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak, Wajib Pajak dengan kriteria tertentu disebut sebagai Wajib Pajak Patuh apabila memenuhi beberapa syarat sebagai berikut:

a. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan; tepat waktu dalam penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan

dalam tiga tahun terakhir yaitu akhir bulan ketiga setelah tahun pajak.

b. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali tunggakan pajak yang telah memperoleh izin menganggur atau menunda pembayaran pajak. Tunggakan pajak adalah angsuran pajak yang belum dilunasi pada saat atau setelah tanggal pengenaan denda.

c. Laporan keuangan harus diaudit oleh Akuntan Publik atau Lembaga Pengawas Keuangan Pemerintah dengan pendapat Wajar Tanpa Pengecualian selama tiga tahun berturut-turut. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian diberikan oleh auditor apabila tidak ditemukan kesalahan material secara menyeluruh dalam laporan keuangan yang disajikan, dengan kata lain laporan keuangan tersebut sudah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

d. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan keputusan pengauditan yang mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu lima tahun terakhir. 4. Upaya Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak

Reformasi perpajakan memiliki tujuan utama, yaitu meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak, seperti yang diungkapkan Guillermo Perry dan John whalley dalam Nurhidayah (2015), ketika sistem perpajakan suatu negara telah maju, pendekatan reformasi diletakkan pada peningkatan dalam

kepatuhan dan administrasi perpajakan. Hadi Purnomo dalam Nurhidayah (2015) menyatakan terdapat tiga strategi dalam meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak melalui administrasi perpajakan, yaitu:

a. Membuat program dan kegiatan yang dapat menyadarkan dan meningkatkan kepatuhan secara sukarela.

b. Meningkatkan pelayanan terhadap Wajib Pajak yang sudah patuh supaya dapat mempertahankan atau meningkatkan, kepatuhannya. c. Dengan menggunakan program atau kegiatan yang dapat

memerangi ketidakpatuhan. 5. Indikator Kepatuhan Wajib Pajak

Indikator kepatuhan wajib pajak menurut Sri dan Ita (2009) adalah sebagai berikut:

a. Kepatuhan untuk mendaftarkan diri.

Wajib Pajak yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif wajib mendaftarkan diri pada KPP yang wilayah kerjanya terdiri dari tempat tinggal dan tempat kegiatan usaha Wajib Pajak untuk kemudian mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). NPWP digunakan sebagai identitas bagi Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya.

b. Kepatuhan dalam penghitungan dan pembayaran pajak terutang. Pajak yang telah dihitung kemudian disetorkan ke kas negara melalui bank atau kantor pos dengan menggunakan formulir Surat Setoran Pajak (SSP).

c. Kepatuhan dalam pembayaran tunggakan pajak.

Tunggakan pajak merupakan pajak terutang yang belum dilunasi oleh Wajib Pajak setelah jatuh tempo tanggal pengenaan denda. d. Kepatuhan untuk menyetorkan kembali Surat Pemberitahuan.

Menyetorkan kembali Surat Pemberitahuan adalah Wajib Pajak yang dimaksud adalah menyerahkan SPT yang telah diisi oleh Wajib Pajak baik secara langsung ke Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) di Kantor Pelayanan Pajak (KPP), dikirim melalui pos atau jasa ekspedisi maupun secara online. Wajib Pajak diwajibkan untuk mengisi dan menyampaikan SPT kepada KPP dengan batas waktu penyampaian untuk SPT Masa paling lambat 20 hari setelah akhir masa pajak, sedangkan untuk SPT tahunan paling lambat 3 bulan untuk Wajib Pajak Orang Pribadi dan 4 bulan untuk Wajib Pajak Badan setelah akhir tahun pajak.Wajib Pajak akan dikenakan sanksi administrasi apabila terlambat atau tidak menyampaikan SPT.

F. Persepsi

Walgito (2010: 99) dalam Theresia (2016) menyatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga disebut proses sensoris. Namun proses itu tidak berhenti begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi. Slameto (2010: 102) dalam Theresia (2016) menyatakan

bahwa persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium. Persepsi didefinisikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) sebagai tanggapan atau penerimaan langsung dari suatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca indra. Persepsi bersifat sangat subjektif dan situasional karena bergantung ada suatu kerangka ruang dan waktu. Persepsi ditentukan faktor personal (sikap, motivasi, kepercayaan, pengalaman, dan pengharapan) dan faktor situasional (waktu, keadaan sosial, dan tempat kerja).

Berdasarkan definisi yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu proses seseorang dalam memberikan penilaian, kesan, dan pendapat terhadap suatu objek berdasarkan informasi yang diterima. Persepsi dalam penelitian ini adalah proses penilaian Wajib Pajak terhadap sistem e-Filing.

1. Persepsi Kebermanfaatan

Davis (1989) dalam Prabowo (2015) menyatakan bahwa persepsi kebermanfaatan adalah tingkatan sejauh mana seseorang yakin bahwa menggunakan sebuah sistem akan meningkatkan kinerjanya. Persepsi kebermanfaatan sistem bagi penggunanya berkaitan dengan produktivitas dan efektvitas sistem tersebut dari kegunaan dalam tugas secara menyeluruh.

Persepsi kebermanfaatan dalam konteks e-Filing pada penelitian ini diartikan sebagai seberapa besar manfaat sistem e-Filing bagi Wajib Pajak dalam menyampaikan SPT. Besarnya manfaat yang diperoleh mempengaruhi perilaku Wajib Pajak dalam menggunakan sistem tersebut, sehingga pada penelitian ini indikator yang digunakan meliputi:

a. Mengembangkan kinerja. b. Manfaat sistem.

c. Menambah produktivitas. d. Mempertinggi efektivitas. 2. Persepsi Kemudahan

Davis (1989) dalam Prabowo (2015) menyatakan, persepsi kemudahan didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha. Maksudnya adalah bahwa jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan maka orang tersebut akan meggunakannya. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur persepsi kemudahan yaitu:

a. Menggunakan teknologi tidaklah menyulitkan pengguna.

b. Pengguna merasa yakin bahwa untuk mengerjakan apa yang diperlukan dengan teknologi yang tersedia.

c. Pengguna merasa yakin bahwa belajar menggunakan teknologi tidaklah memerlukan usaha yang keras.

3. Persepsi Kepuasan

Seddon dan Kiew (1994) dalam Prabowo (2015) menyatakan, kepuasan pengguna adalah keseluruhan evaluasi dan pengalaman dalam menggunakan sistem informasi dan dampak potensial dari sistem informasi.

User satisfaction dapat dihubungkan dengan persepsi manfaat (usefulness)

dan sikap pengguna terhadap sistem informasi yang dipengaruhi oleh karakteristik personal. Kepuasan pengguna akan mempengaruhi niat untuk menggunakan sistem informasi dan penggunaan aktual.

Kepuasan pengguna ini berhubungan dengan kesuksesan kualitas sistem informasi dan kualitas informasi yang dihasilka oleh sistem informasi. Keduanya diasumsikan dapat mempengaruhi kepuasan pengguna sistem informasi. Semakin baik kualitas sistem dan kualitas informasi yang dihasilkan maka kepuasan pengguna atas sistem informasi tersebut juga akan semakin meningkat. Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur persepsi kepuasan:

a. Efisiensi (efficiency), dimana kepuasan pengguna dapat tercapai jika sistem informasi membantu pekerjaan pengguna secara efisien.

b. Keefektifan (effectiveness), dimana keefektifan sistem informasi dalam memenuhi kebutuhan pengguna dapat meningkatkan kepuasan pengguna terhadap sistem informasi tersebut.

c. Kepuasan (satisfaction), dimana kepuasan pengguna dapat diukur melalui rasa puas yang dirasakan pengguna dalam menggunakan sistem e-Filing.

d. Kebanggaan menggunakan sistem (proudness), dimana kepuasan pengguna dalam sistem infomasi dapat ditunjukkan dengan prilaku pengguna yang merasa bangga menggunakan sistem informasi.

G. Sistem e-Filing

Dokumen terkait