BAB III. KEPEMIMPINAN RELIGIUS DALAM SUDUT
A. Kepemimpinan
1....Pengerti an Kepemimpinan
Pemimpin berarti orang yang memimpin, mengetuai, atau mengepalai karena diserahi suatu tugas untuk menuntun, menunjukkan jalan, bagi orang-orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah orang yang ditunjuk menjadi pemimpin dalam suatu tugas yang diserahkan kepadanya karena dianggap mempunyai suatu kecakapan dalam mengarahkan dan mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003: 874).
Dalam bahasa Inggris pemimpin disebut leader dan akar katanya adalah to lead. Dalam kata itu terkandung beberapa arti yang erat hubungannya: bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu, memelopori, mengarahkan pikiran pendapat, tindakan orang lain, membimbing, menuntun, mengerakkan orang lain melalui pengaruhnya. Oleh karena itu pemimpin adalah orang yang bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu memelopori mengarahkan, pikiran-pendapat-tindakan orang lain, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya. Tidak mengherankanlah bahwa pemimpin disebut dengan berbagai nama: ulu, pemuka, pelopor, pengarah, pembimbing, penuntun, dan penggerak (Mangunhardjana, 1976: 11). Kepemimpinan dalam pengertian umum menunjuk pada proses kegiatan seseorang dalam memimpin, membimbing, mempengaruhi pikiran, perasaan atau tingkahlaku orang lain melalui kontak pribadi antara seseorang dengan orang lain secara tatap muka.
Menjadi seorang pemimpin berarti, seseorang mendapat kedudukan tertinggi, kekuasaan, fasilitas hidup, dalam lingkungannya. Namun inti kepemimpinan bukan pertama-tama terletak pada kedudukan yang ditempati. Inti dari kepemimpinan adalah fungsi atau tugas. Dia ada demi sesuatu yang lain dan bukan demi dirinya sendiri. Titik perhatiannya adalah tujuan dan cita-cita yang mau dicapai. Tujuan dan cita-cita itu merupakan unsur yang pertama dan paling pokok dalam kepemimpinan.
Seorang pemimpin harus berusaha mempengaruhi, mengajak, mengumpulkan dan menggerakkan banyak orang untuk bersama-sama bekerja mencapai tujuan dan cita-cita itu. Kalau pemimpin beserta seluruh orang yang ada di bawah kepemimpinannya sudah yakin akan kebaikan tujuan dan cita-cita itu bagi kehidupan bersama, mereka dapat membentuk suatu organisasi, untuk kegiatan para anggota dengan membagi-bagi pekerjaan, tugas. Kesediaan pemimpin untuk ikut serta bekerja dan berjuang bersama dengan mereka yang dipimpinnya menjadi bukti dari ketulusan hatinya. Jadi seorang pemimpin adalah petugas yang bersedia bekerja demi tujuan dan cita-cita bersama dengan berusaha mencapai tujuan dan cita-cita bersama mereka yang dipimpinnya melalui suatu organisasi kerja yang teratur.
Sampai saat ini kepemimpinan masih merupakan topik yang hangat dibicarakan. Terjadinya krisis di berbagai negara tidak lain karena pengaruh sedikit orang yang berstatus pemimpin. Menjadi pemimpin tidak mesti mempunyai syarat pendidikan yang tinggi, akan tetapi punya daya pengaruh, kerja keras, cerdas dan memiliki visi yang jelas. Sukses dan berkembangnya suatu organisasi terletak pada kemampuan pemimpin untuk melakukan integrasi secara bersama dengan seluruh komponen yang ada dalam organisasi.
Menurut Robert J. Eaton, berkembang dan suksesnya suatu organisasi merupakan hasil kerja bersama. Namun kendala terbesar yang dihadapi organisasi dalam menghadapi era global adalah terbatasnya sumber daya manusia, dalam suatu organisasi terkait dengan sosok manusia yang disebut sang pemimpin. Melihat tantangan dari kegiatan organisasi yang semakin kompleks, maka seorang pemimpin harus berani memilih diantara dua pilihan yakni: akan terus berkembang atau memilih menutup kegiatannya. Dari dua opsi tersebut, orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah pemimpin organisasi (Bambang, 2005: 14-15). 2....Fungsi
Kepemimpinan
Fungsi utama pemimpin terletak dalam jenis khusus dari perwakilan kelompoknya. Seorang pemimpin harus mewakili kelompoknya melalui saluran-saluran yang khusus direncanakan dan dibuat oleh kelompoknya sendiri. Mewakili mengandung arti, bahwa si pemimpin mewakili fungsi administrasi secara eksekutif. Fungsi pemimpin juga merupakan perantara dari orang-orang dalam kelompoknya dengan orang-orang di luar kelompoknya (Effendy, 1975: 16-21).
Beberapa fungsi kepemimpinan menurut Effendy: a. Pengembangan imaginasi.
Seorang pemimpin memiliki suatu visi yang dapat meneropong apa yang akan terjadi dan mampu melihat kemungkinan yang akan terjadi. Imaginasi yang dikembangkan erat hubungannya dengan kesadaran akan pelanggaran terhadap lingkungan. Benak yang dipenuhi imaginasi mempunyai peranan penting dalam perjumpaan dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul.
b. Pengembangan kesetiaan.
Fungsi kedua ini berarti; tanggung-jawab terhadap pengembangan kesetiaan pada pemimpin dan pada organisasi. Pengembangan kesetiaan ini tidak saja hanya di antara para anggota tetapi secara khusus di antara pemimpin dalam kelompok. Seorang pemimpin harus mampu menciptakan rasa cinta, rasa hormat, kepercayaan dan kepatuhan di hati para anggota.
c. Pemrakarsaan, penggiatan, dan pengawasan rencana.
Fungsi pemimpin di sini ialah memprakarsai dan mempertanggungjawabkan kemajuan rencana bagi pengrealisasian suatu tujuan tertentu, dan mengarahkan suatu kegiatan yang terencana dan selanjutnya melakukan kegiatan berikutnya. Dalam lingkungan pengawasan terdapat analisa yang obyektif terhadap apa yang akan dilakukan, siapa yang melakukannya, di mana dijalankan, dan kapan kegiatan dilaksanakan. Semua ini untuk merealisasikan tujuan yang akan dicapai.
d. Pelaksanaan keputusan.
Fungsi keempat dari kepemimpinan ialah melaksanakan keputusan yang bijaksana dan tepat. Suatu keputusan yang dianggap paling bijaksana bisa menjadi beku sama sekali kalau waktu pelaksanaannya salah. Sebaliknya keputusan yang kadarnya sedang saja bisa menimbulkan hasil yang menguntungkan bila pelaksanaannya tepat. Sebuah organisasi akan beruntung apabila memiliki pemimpin yang benar-benar berkemampuan dalam mengambil keputusan yang baik dan tepat.
Suatu perintah yang jelas dan terang harus diikuti pengawasan yang saksama. Jika terjadi kegagalan, pemimpin harus cepat mengadakan perubahan yang memadai. Sebaliknya jika tujuannya praktis, dan rencananya memang baik. Tujuan akan dapat mudah tercapai dan keuntungan akan dapat diperoleh.
f. Penganugerahan tanda penghargaan.
Pemimpin yang bijaksana tidak akan menganggap pekerjaannya selesai sebelum ia mengucapkan terima kasih kepada anggota yang setia membantu merealisasikan tujuan yang ingin dicapai. Fungsi dari penerimaan tanda jasa ini ialah dalam rangka merealisasikan tujuan. Seorang pemimpin mempunyai tanggung jawab yang besar bagi tercapainya tujuan, karena itu hendaknya diberi tanggung-jawab yang layak.
3.... Prinsip-prinsip Kepemimpinan
Riberu (1978: 10-12) mengemukakan beberapa prinsip kepemimpinan: a. Pemimpin yang prinsipial.
Pemimpin yang prinsipial berarti: pemimpin yang selalu berpegang teguh kepada satu prinsip, satu paham dasar, satu filsafat dasar yang dianutnya. Semua yang sesuai dengan paham dasar tersebut akan diterimanya, dan menolak yang bertentang dengan paham dasar tersebut. Jika paham dasar yang dianut pemimpin merupakan paham yang dapat diterima akal sehat, maka pemimpin yang prinsipial akan dikagumi anggota yang dipimpinnya dan bangga kepada pemimpinnya.
Pemimpin yang fleksibel tahu bahwa ia harus menyesuaikan diri dan mengambil suatu keputusan dengan mempertimbangkan keadaan, iklim, budaya setempat, dan suasana batin bawahannya. Sebab itu pemimpin yang fleksibel selalu berusaha mencapai sasaran dan tidak mengabaikan paham-paham dasar, sekaligus memilih dengan cermat cara-cara yang paling sesuai untuk mencapai sasaran tersebut dengan sebaik-baiknya.
c. Pemimpin plin-plan.
Pemimpin ini tidak mempunyai pendirian yang diyakini, tidak berpedoman kepada pola kebijaksanaan yang jelas. Ia laksana bunglon yang cepat berubah dan berbelok haluan sejauh angin meniupnya. Kepemimpinannya memberi kesan sangat goyah, baik dalam pendirian maupun dalam langkah-langkah kebijaksanaan konkret, sering bertindak gegabah, kurang perhitungan dan tidak konsisten.
d. Pemimpin macchiavelis.
Ciri pemimpin seperti ini adalah pemimpin yang mengejar kuasa, kedudukan dan lebih mementingkan dirinya sendiri. Agar kekuasaannya tetap berdiri tegak ia akan menghalalkan berbagai cara. Siapa saja yang dianggap menghambat atau membahayakan, akan disingkirkan. Kepemimpinan macchiavelis bisa sangat lihai dalam mempertahankan kekuasaannya. Akan tetapi wibawanya tidak tertumpu pada penghargaan dan cinta masyarakat kepadanya, melainkan pada rasa takut, rasa tertekan, rasa terjepit. Hal ini tidak sesuai dengan martabat manusia.
B.Kepemimpinan Religius