BAB II. SEKILAS TENTANG KONGREGASI FRATER CMM
A. Sejarah Berdirinya Kongregasi Frater CMM
Pendiri Kongregasi Frater CMM lahir pada tanggal 28 Agustus 1794, di kampung Kerkdriel dengan nama Joannes Zwijsen. Ia anak laki-laki sulung dari bapak Petrus Zwijsen dari istrinya yang kedua, Wilhelmina van Herpen. Joannes menerima komuni pertama pada usia 11 tahun dan mengikuti pendidikan di Sekolah Latin di Uden, Helmond di biara Norbertin Prancis (Leirop, 1993: 17).
a. Menjadi Imam
Zwijsen melanjutkan pendidikan ke seminari tinggi tahun 1813-1817. Beberapa catatan dari arsip seminari menunjukan bahwa Joannes Zwijsen termasuk pandai, suka bernyanyi dan mempunyai kesalehan yang sehat (sangat menghormati Bunda Maria). Joannes Zwijsen juga seorang pengkhotbah yang baik, mempunyai kemampuan mengarang sedang, peka akan sejarah terutama sejarah Gereja.
Joannes Zwijsen ditahbiskan menjadi diakon di Jerman tanggal 19 Januari 1817. Pada tanggal 20 Desember 1817 ditahbiskan menjadi imam. Joannes Zwijsen menjadi pastor pembantu di Paroki ‘t-Heike di Tilburg. Selain membantu di Paroki, Zwijsen juga terlibat dalam menyelesaikan masalah-masalah saat itu, dan mengajak banyak orang ke Gereja. Pernah ia dipanggil seorang perampok yang sekarat untuk mengembalikan selimut yang dicuri dari pastoran. Zwijsen menerimanya dan menggantinya dengan selimut yang lebih baik. Tahun 1828-1832 Zwijsen pindah dan menjadi pastor paroki di Best dan mengembangkan talentanya untuk organisasi
dengan mengadakan kunjungan ke seluruh umat, memperhatikan peningkatan mutu pendidikan, liturgi paroki dan koor, menjalin relasi dengan Raja Willem II (Lie Petronela, 1997: 5).
Tanggal 11 Mei 1832 Zwijsen diangkat menjadi pastor paroki St. Dionisius ‘t-Heike di Tilburg. Pada tahun-tahun inilah Zwijsen menemukan kemiskinan sosial yang memprihatinkan antara lain: buruh anak di bawah usia 12 tahun, penduduk yang mati kelaparan di daerah pinggiran, angka kematian balita yang sangat tinggi, buruh bekerja 12 jam sehari, upah kerja seminggu maximum £ 4,5, perumahan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan yang sangat buruk dan hanya sedikit anak berumur 6-12 tahun yang sekolah. Pengalaman ini menggerakkan Pastor Zwijsen mengumpulkan tiga (3) putri untuk mengatur pendidikan bagi anak-anak wanita di parokinya (Lie Petronela, 1997: 6). Awal yang sederhana ini akhirnya berkembang pesat dan bertumbuh menjadi sebuah Kongregasi yakni Kongregasi Suster SCMM. b. Menjadi Uskup
Zwijsen ditahbiskan menjadi uskup di Gerra pada tanggal 17 April 1842. Ketika diangkat menjadi uskup Zwijsen mendapat dukungan dari Raja Willem II, karena untuk diangkat menjadi uskup perlu persetujuan dari pemerintah yang mayoritas beragama Protestan. Tahun 1847 Mgr. Zwijsen ditunjuk Roma untuk mewakili Tahta Suci dalam urusan dengan pemerintah Belanda. Sebelas (11) tahun sesudah ditahbiskan menjadi uskup, Mgr. Zwijsen diangkat menjadi Uskup Agung pertama Utrecht yakni pada tahun 1853. Setelah pengangkatan itu banyak hal yang dibuat Mgr. Zwijsen di antaranya: berhasil membangun wilayah keuskupan yang luas, mengorganisir paroki-paroki dan menentukan batas-batasnya. Ia membantu membuat peraturan-peraturan untuk dewan paroki, mendirikan seminari untuk
pendidikan calon Imam Projo, membentuk Dewan Keuskupan dan Dewan untuk pemeliharaan orang-orang miskin (Lie Petronela, 1997: 6).
Kunjungan pertama Mgr. Zwijsen ke Roma untuk urusan Gereja dan menghadiri pengumuman oleh Paus Pius IX tentang “Dogma St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa” di depan Basilika St. Petrus tahun 1854. Di sebelah kiri Basilika tertulis nama-nama uskup yang hadir saat itu, termasuk Mgr. Joannes Zwijsen. Tahun 1862 Mgr. Zwijsen berkunjung ke Roma untuk mengurus pengangkatan uskup pembantu atau penggantinya.
Sebagai seorang uskup Mgr. Zwijsen mengalami percobaan pembunuhan di Gerra. Pada malam, tanggal 14-15 Juli 1863 seorang pembunuh masuk ke kamar, menembaknya dan mencuri uang 5000 gulden. Mgr. Zwijsen mengalami luka pada lengan, lambung sebelah kanan dan mengalami banyak pendarahan tetapi luka-lukanya dapat sembuh dengan cepat. Selama proses penyembuhan Mgr. Zwijsen pindah ke rumah induk Frater CMM di Tiburg dan penyambutannya menjadi suatu manifestasi kehormatan baginya dan bagi Gereja Katolik. Rumah keuskupan yang resmi dipindahkan ke ‘s-Hertogenbosch sampai sekarang (Leirop, 1993: 29.31).
Pada tahun 1865 Mgr. Zwijsen memimpin Konsili Provinsi Gereja di Katedral St. Jan di ‘s-Hertogenbosch dan mengeluarkan dokumen “Acta et
Decreta” yang sangat berpengaruh besar dalam pembangunan dan perkembangan
Gereja Belanda. Mgr. Zwijsen dibebastugaskan sebagai Uskup Agung Utrecht pada tahun 1868 dan digelari “Uskup Agung-Uskup. Pada tahun yang sama juga dikeluarkan “Mandemen” atau dokumen penegasan para uskup tentang pendidikan Katolik dengan memakai rumusan yang dibuat Mgr. Zwijsen.
Tahun 1877 adalah akhir hidup Mgr. Zwijsen. Tanggal 16 Agustus, untuk pertama kalinya beliau tidak sanggup lagi mempersembahkan Ekaristi. Tanggal 27 Agustus Mgr. Zwijsen diantar ke rumah induk Frater CMM di Tilburg untuk merayakan Hari Ulang Tahunnya yang ke 83 tepatnya tanggal 28 Agustus. Beliau menerima sakramen Minyak Suci dua kali pada tanggal 10 dan 13 Oktober. Pada tanggal 16 Oktober Mgr. Zwijsen menghembus nafas terakhir (Leirop, 1993: 35). 2. Pendirian Kongregasi
a. Latar Belakang Pendirian Kongregasi
Masalah sosial di Eropa memuncak pada abad 19, dengan pecahnya revolusi industri. Gejala Proletarian (kaum buruh) dan Pauperisme (kemiskinan) dengan kondisi kerja amat buruk menimpa kaum buruh, sungguh menimbulkan masalah keadilan, perikemanusiaan dan martabat manusia dalam masyarakat. Terjadi kemiskinan sosial yang memprihatinkan antara lain buruh anak-anak di bawah umur 12 tahun, banyak orang mati kelaparan, tingginya angka kematian balita, dan sedikit anak yang mendapat pendidikan (Lie Petronela, 1997: 1).
Dalam tahun 1832 Joannes Zwijsen menjadi pastor di Tilburg. Ia melihat bahwa pada umumnya kaum muda kekurangan dalam banyak hal, terutama bidang keagamaan. Joannes Zwijsen segera bertindak dengan mengumpulkan beberapa wanita sebagai pembantunya. Ia membangun bagi mereka sebuah rumah, dan kelompok itu mulai memberikan pelajaran agama dan pekerjaan tangan yang berguna bagi anak-anak putri. Demikianlah awal dimulainya kongregasi SCMM yang didirikan pastor Joannes Zwijsen sehingga pada tahun 1844 jumlah suster terdiri dari 200 orang yang tersebar di 15 komunitas.
Setelah diangkat menjadi Uskup tahun 1842 Mgr. Zwijsen memikirkan kemungkinan untuk mempergunakan pengaruhnya juga demi mengembangkan pendidikkan para pemuda di parokinya. Kecemasan terhadap perkembangan dan pendidikan kaum muda khususnya anak laki-laki ditambah dengan kesulitan para suster SCMM dalam mendidik anak laki-laki yatim-piatu mendorong Mgr. Zwijsen untuk mendirikan Kongregasi Frater Santa Perawan Maria Bunda yang Berbelaskasih. Mgr. Zwijsen kemudian mengumpulkan tiga calon yaitu Petrus van der Ven seorang tukang sepatu, Laurentius Klaassen seorang tukang tambang dan Yohanes van Drunen seorang pembuat bir. Tanggal 25 Agustus 1844 para calon diantar ke biara Trapis untuk pendidikan, bimbingan rohani dan menjalani masa novisiat. Peristiwa ini menandai berdirinya Kongregasi Frater Santa Perawan Maria Bunda Yang Berbelaskasih yang diakui secara resmi oleh Paus dengan nama latin
“Congregatio Fratrum Beatae Mariae Virginis, Matris Misericordiae” yang
disingkat menjadi CMM.
Mgr. Zwijsen merupakan seorang pendiri kongregasi dengan gaya tertentu. Ia tidak berdiri pada awal gerakkan tertentu, melainkan merupakan suatu perwujudan dalam gerakan yang sudah ada. Fr. Harrie van Geene dalam Seri Kongregasi 4 (1998: 91) menegaskan bahwa:
Mgr. Zwijsen tidak saja mendirikan kongregasi suster dan frater secara gerejani tetapi sungguh mendirikannya secara spiritual. Ia adalah seorang uskup yang tidak saja penting dalam menata Gereja di Belanda tetapi juga penting sebagai pendiri gerakkan internasional berbelaskasih.
b. Tujuan Pendirian Kongregasi
Mengenai pendirian Kongregasi, Mgr. Zwijsen meletakkan suatu dasar kharisma, visi dan misi yang bernuansa HAM (Hak Azasi Manusia). Diinspirasikan
oleh gambaran Allah sebagai Bapa Penyelamat yang Berbelaskasih, dan dalam rangka mengikuti Yesus Kristus secara lebih dekat, Mgr. Zwijsen tergerak oleh suatu rasa iba hati, kepedulian dan keprihatinan mendalam oleh keadaan umatnya yang menyedihkan. Ditopang oleh iman dan kepribadian yang kuat, dengan penuh semangat dan keberanian ia menjadi jalan dan sarana untuk meringankan kebutuhan mereka (Lie Petronela, 1997: 10).
Keprihatinan terhadap kemiskinan, upah minimum, kesenjangan sosial dan terlantarnya pendidikan anak-anak, membuat Mgr. Zwijsen tergerak membuka suatu medan baru berbekal kepercayaannya akan Penyelenggaraan Ilahi (ia selalu menyebut “Penyelenggaraan Kasih”) dan kekuatan penyertaan Roh Kudus. Dijiwai semangat kesederhanaan Mgr. Zwijsen mendirikan Kongregasi SCMM dan CMM dengan tujuan meningkatkan taraf hidup umatnya, mengangkat martabat kemanusiaannya dan mewujudkan cita-cita luhur yakni belaskasih kepada orang muda yang miskin, kecil dan terlantar. Mgr. Zwijsen berkeinginan seperti tercantum dalam nama yang diberikannya pada lembaga itu, untuk memberikan tempat utama pada “Belaskasih” dalam hidup dan karya para frater.
B.Spiritualitas Kongregasi Frater CMM