• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. SEKILAS TENTANG KONGREGASI FRATER CMM

B. Spiritualitas Kongregasi Frater CMM

4. Spiritualitas “Persaudaraan Berbelaskasih”

Persaudaraan Berbelaskasih merupakan inti Spiritualitas Frater CMM, berdasarkan pengalaman dan penghayatan iman Mgr. Joannes Zwijsen akan Allah lewat Bunda Maria dan St. Vinsensius a Paulo. Kita Hidup dalam keyakinan bahwa Allah memelihara kita hari demi hari, Ia senantiasa setia kepada umat-Nya dan mengingat umat-Nya penuh belaskasih (Konst. Bag. I. Art. 45). Belaskasih adalah pokok dalam penghayatan kehadiran Allah secara kristiani dalam hubungan dengan kenyataan dan semua bentuk rupanya. Inilah proses melihat, mendengar, menangkap, tergerak dan mulai bertindak agar menjadi orang-orang yang berbelaskasih. Panggilan sebagai religius meminta setiap Frater CMM menanamkan rasa tanggung jawab dan membangun sebuah dunia yang berbelaskasih.

Bagi Mgr. Joannes Zwijsen kata kunci Belaskasih terdapat dalam teks Matius 25: 40 yang berbunyi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Bentuk-bentuk karya belaskasih menurut Matius adalah memberi makan yang lapar, memuaskan dahaga yang kehausan, memberi pakaian kepada yang telanjang, memberi tumpangan kepada orang asing, mengunjungi orang sakit, dan menjenguk orang di penjara.

Kisah orang Samaria yang murah hati dalam teks Injil Lukas 10: 25-37 adalah kisah yang sering dirujuk. Orang Samaria adalah teladan manusia yang tergerak oleh belaskasihan. Saat orang lain melewati begitu saja orang yang menderita, orang berbelaskasih memberi pertolongan. Dia melakukannya tanpa pamrih, dengan cara yang melampaui segala harapan. Melampaui segala kewajaran

manusiawi, orang berbelaskasih itu hidup berdasarkan ‘Roh Allah’. Hal ini menjadi titik dasar bagi Vinsensius dan merupakan inti Spiritualitas Kongregasi yang menempatkan diri dalam tradisinya. Orang berbelaskasih menjadi satu dengan Roh Allah karena Allah sendiri merupakan belaskasihnya (Hein & Jos, 1998: 31).

Belaskasih adalah sebuah gerakkan yang dimulai dari hati Allah, bersabda menjadi daging dan darah dalam diri manusia melalui masa dan zaman. Semangat Persaudaraan Berbelaskasih ditandai oleh perhatian penuh kasih sayang dan kepedulian bagi setiap manusia, dan bagi setiap bentuk hidup yang meminta perlindungan. Karya-karya belaskasih yang dianjurkan oleh St. Vinsensius a Paulo, diterjermahkan kembali oleh Mgr. Zwijsen dan juga ke dalam keadaan budaya dan sosial yang berbeda. Tentang belaskasih kita harus berpikir tentang kehidupan, bukan menjatuhkan atau menghukum. Berbelaskasih berarti memberi perhatian kepada setiap orang yang kita jumpai dan yang memerlukan sesuatu di bidang apapun. Belaskasih merupakan janji untuk memberi diri, berbagi milik dan keberadaan kita untuk solider dengan pergumulan dan penderitaan sesama. Hidup di tengah rakyat miskin merupakan tindakan belaskasih.

Mgr. Joannes Zwijsen bermaksud agar setiap pengikutnya siap sedia dan terbuka bagi karya belaskasih agar mempunyai mata dan hati untuk sesama yang miskin, berkekurangan, menderita dan marginal. Dalam dunia ini terdapat permintaan yang amat serius dalam hubungan dengan tugas perutusan kita sebagai saudara Berbelaskasih. Hendaknya setiap frater sadar untuk ikut dalam gerakkan Belaskasih; memberi diri dan melayani tanpa pamrih dan tanpa menonjolkan diri demikian penegasan Mgr. Zwijsen. Lewat Vinsensius, Mgr. Zwijsen mencari bentuk, cara hidup dan struktur persekutuan yang memberi kesempatan kepada

orang untuk mengalami panggilan belaskasih. Usaha untuk berbelaskasih harus didukung oleh kesadaran akan belaskasih Allah yang tak terbatas di satu pihak dan oleh kepekaan hati di pihak lain.

Vinsensius sangat terharu oleh penderitaan orang miskin dan orang cacat. Bersama dengan santo Paulus ia mengeluh: Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya. Dalam renungannya tentang keteladanan Kristus ia melihat Kristus didorong oleh keinginan kuat, sangat tersentuh oleh manusia yang menderita yang ia temui dalam perjalanan-Nya:

Oleh karena Putra Allah tidak bisa memiliki rasa iba di tengah kemuliaan yang dimilikiNya kekal abadi di surga, maka Dia bersedia menjadi manusia dan Imam Agung kita untuk turut menderita dalam kesengsaraan kita. Agar kelak berkuasa di surga, kita sama seperti Dia harus ikut menderita dengan anggota-anggota tubuh-Nya di dunia (Hein & Jos, 1998: 29-30).

b. Sifat Radikal Karya Belaskasih

Belaskasih Allah yang terwujud dalam diri manusia adalah pekerjaan Allah yang dimaksudkan terutama kepada manusia yang kurang mempunyai dasar untuk mengenali dampaknya dalam kehidupannya. Allah bahkan memandang penuh kasih mereka yang membenci dan menolak-Nya. Mgr. Zwijsen memberi contoh tentang keadaan di mana belaskasih melumpuhkan logika. Bila melihat wajah Kristus di dalam orang miskin, maka kita dibawa dalam gerakan yang tidak kita dipahami dan sadari. Orang yang melihat kita terheran-heran mengenai sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Menurut Mgr. Zwijsen salah satu aspek perilaku belaskasih adalah bahwa karya-karya cinta kasih melampaui batas-batas manusiawi, tanpa membedakan agama atau bangsa. Aspek lain adalah bahwa karya cinta kasih terutama meraih mereka yang paling bersikap buruk terhadap dia, yang membenci dia atau bahwa bermusuhan dengannya.

Karya-karya belaskasih pada Mgr. Zwijsen memperoleh sifat yang radikal. Demikianlah ia menganjurkan para religiusnya untuk memberikan bantuan kepada setiap orang yang memerlukan bantuan dengan hati yang riang, sekalipun dengan mempertaruhkan nyawa sendiri. Kehadiran di dunia hendaknya ditandai oleh cinta penuh belaskasih dan dalam memperhatikan sesama kita mengutamakan mereka yang miskin dan yang membutuhkan pertolongan (Bag. I. Art. 50-51).

Sifat radikal tidak bersumber pada sikap negatif terhadap nyawa sendiri, tetapi pada melupakan diri sendiri yang melekat pada panggilan belaskasih. Belaskasih, satu-satunya pedoman bagi perilaku dan tidak memperhitungkan resiko. Mgr. Zwijsen menegaskan hal ini dalam Konstitusi Frater CMM:

Dari pihak kita diminta cinta kasih yang radikal, yang tidak mengecualikan sorangpun, yang tidak mengadili seorangpun, yang percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Siap sedia untuk mengabdi setiap hari berarti: senantiasa bersedia menyangkal diri sendiri. Dengan senang hati kita mengingat sabda tentang belaskasih: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Konst. Bag. I. Art. 198-200). Kesediaan merawat orang yang berpenyakit menular bagi Mgr. Zwijsen mempunyai arti simbolik yang kuat sehingga ia mengundang suster dan fraternya di samping ketiga kaul klasik kehidupan religius, juga mengucapkan kaul keempat, dengan berjanji untuk merawat para penderita penyakit menular (Hein & Jos, 1998: 62). Hal ini diwujudkan dalam kongregasi dengan pendirian balai pengobatan, poliklinik di beberapa daerah terpencil bagi masyarakat yang miskin dan frater atau suster yang berprofesi sebagai perawat.

c. Mengikuti Teladan Sang Belaskasih

Mgr. Zwijsen menegaskan: dengan sederhana hati kita mengarahkan diri pada satu-satunya tujuan: menjadi pengikut Yesus Kristus (Konst. Bag. I. Art. 46).

Berbelaskasih adalah cara mengikuti teladan Yesus karena gaya hidup Yesus sendirilah yang tampak dalam belaskasih. Injil menjadi kata yang hidup di dalam belaskasih dari satu pihak, dan di lain pihak mengantar masuk dalam sekolah belaskasih. Dalam Konstitusi Frater CMM hal ini ditegaskan demikian: Sabda dan teladan Yesuslah yang mengarahkan segenap hidup kita (Bag. I. Art. 4).

Teladan Yesus sering sangat dekat, keibaan-Nya menjadi keibaan kita dalam hidup sehari-hari. Dalam Injil kita dapat membaca: “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat 9: 36). Yesus memanggil banyak orang untuk menggembalakan domba-domba-Nya, yang lelah dan terlantar, karena mereka sering menjadi korban serigala. Banyak anak, perempuan dan laki-laki yang haus akan pengertian dan kasih, rakyat kecil yang tertekan oleh ketidakadilan, orang miskin yang kurang diperhatikan, mereka yang menderita frustrasi atau putus asa, tanpa seorangpun yang mempedulikan mereka. Dalam panggilan-Nya Yesus ingin mengatakan: ‘Aku ingin meminjam hatimu, untuk mengasihi orang dina yang kurang diperhatikan, menolong domba-domba-Ku yang terlantar, memandang penuh kasih orang miskin yang kurang dikasihi dan berada bersama manusia dina dan miskin yang dilupakan’ (Hein & Jos, 1998: 104).

Yesus memanggil banyak orang menjadi saksi akan Kasih-Nya yang penuh belaskasih, agar Ia dapat mengasihi orang lewat hati kita, menolong orang lewat tangan kita, memandang melalui mata kita. Dengan demikian banyak orang, terutama yang miskin disembuhkan dan diselamatkan karena pengabdian kita. Perumpamaan Orang Samaria yang murah hati menjadi pedoman dalam hidup seorang suster dan frater demikian kata Mgr. Zwijsen. Bila anda melihat orang yang

menderita, anda bisa juga berbaliklah dan berkata: Aku tidak tahan melihat keadaan seperti itu. Tetapi anda juga bisa tersentuh sehingga tergerak untuk menolong. Hati tersentuh, bukan karena merasa kasihan, tetapi karena ia adalah sesamamu yang berhak mendapat pertolonganmu.

Belaskasih dalam kongregasi tidak hanya didalami dengan meneladani Yesus, tetapi juga dalam keterkaitan dengan Maria Bunda Berbelaskasih. Berdoa kepadanya menunjukan betapa penting teladannya, dan ia dialami sebagai penopang dalam pembentukan panggilan belaskasih. Mgr. Zwijsen dalam Konstitusi Frater CMM meneguhkan: ‘Maria, hamba Tuhan menjadi suri teladan bagi kita. Dalam perjalanan hidup kita memasrahkan diri, seperti Maria dalam kepercayaan yang bersahaja kepada Allah yang menyertai kita’ (Bag. I. Art. 58-59).

5. Hidup dalam perhimpunan