• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepuasan Konsumen dan Upaya Mempertahankan Pelanggan

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.3 Kepuasan Konsumen dan Upaya Mempertahankan Pelanggan

Menurut Simamora (2004), sesudah terjadinya pembelian terhadap suatu

produk, konsumen akan mengalami kepuasan atau ketidakpuasan. Konsumen

mendasarkan harapannya kepada informasi yang diterima tentang produk. Jika

konsumen mendapatkan kenyataan yang ternyata berbeda dengan harapannya,

maka konsumen merasa tidak puas. Sebaliknya, jika produk tersebut memenuhi

harapan, maka konsumen akan merasa puas.

Kotler (2002) mendefinisikan kepuasan sebagai perasaan senang atau

kecewa seseorang sebagai hasil perbandingan antara prestasi atas produk yang

dirasakan dan yang diharapkan. Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1995),

setidaknya memenuhi atau melebihi harapan konsumen. Sedangkan ketidakpuasan

adalah hasil dari harapan yang diteguhkan secara negatif.

Sementara itu, menurut Rangkuti (2006) kepuasan pelanggan adalah

respon pelanggan terhadap ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan

sebelumnya dan kinerja sosial yang dirasakannya setelah pemakaian. Mengukur

kepuasan pelanggan sangat bermanfaat bagi perusahaan dalam rangka

mengevaluasi posisi perusahaan saat ini dibandingkan dengan pesaing dan

pengguna akhir, serta menemukan bagian mana yang membuahkan peningkatan.

Umpan balik dari pelanggan secara langsung atau dari fokus group dari keluhan

pelanggan merupakan alat untuk mengukur kepuasan pelanggan. Bagan yang

membentuk kepuasan pelanggan dapat dilihat dari Gambar 2.

Gambar 2 Diagram Konsep Kepuasan Pelanggan Sumber : Rangkuti, 2006

Tujuan Perusahaan

Produk

Nilai produk bagi pelanggan Tingkat kepuasan pelanggan Harapan pelanggan terhadap produk Kebutuhan dan keinginan pelanggan

Perusahaan menciptakan produk sebagai tanggapan dari adanya kebutuhan

dan keinginan konsumen akan suatu produk. Harapan-harapan dari pelanggan

akan produk untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginnnya direspon oleh

perusahaan dengan menambahkan nilai- nilai tertentu pada produk tersebut yang

bertujuan untuk memberikan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan

namun juga bernilai bagi pelanggan. Umpan balik yang baik dari perusahaan akan

dapat menciptakan kepuasan bagi pelanggan.

Dalam menilai tingkat kepuasan konsumen, Oliver dalam Engel,

Blackwell, dan Miniard (1995) membagi bentuk penilaian yang berbeda, yaitu :

1. Pengakuan Positif

Pengakuan positif menggambarkan prestasi yang telah dijalankan oleh

perusahaan lebih baik dari apa yang diharapkan konsumen. Pengakuan positif

dapat memberikan kepuasan kepada konsumen.

2. Pengakuan Sederhana

Situasi ini menunjukkan bahwa prestasi perusahaan sama dengan apa yang

diharapkan oleh konsumen. Pengakuan sederhana akan memberikan kepuasan

kepada konsumen dan memungkinkan terjadinya pembelian ulang.

3. Pengakuan Negatif

Pengakuan negatif menunjukkan bahwa prestasi perusahaan lebih buruk dari

apa yang diharapkan oleh konsumen. Hal ini mengakibatkan ketidakpuasan

konsumen terhadap toko.

Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1995), upaya mempertahankan

pelanggan harus mendapat prioritas yang lebih besar dibandingkan dengan upaya

dikeluarkan untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada lebih murah

daripada biaya untuk menarik pelanggan baru. Alasan lainnya adalah kehilangan

pelanggan dapat membahayakan pasar yang sudah stabil namun menga lami

pertumbuhan yang lambat dan tidak signifikan. Oleh karena itu, loyalitas

pelanggan berdasarkan kepuasan yang murni dan terus- menerus merupakan salah

satu aset terbesar yang dapat diperoleh perusahaannya.

Terdapat beberapa upaya mempertahankan pelangga n menurut Engel,

Blackwell, dan Miniard (1995) yaitu :

1. Membangun Harapan yang Realistis

Kepuasan didasarkan pada suatu penilaian bahwa harapan sebelum pembelian

terpenuhi. Perusahaan sebaiknya menghindari tindakan melebih- lebihkan,

karena konsumen mungkin sangat percaya dengan apa yang dikatakan

perusahaan dan menuntut tanggung jawab dari perusahaan tersebut.

2. Memastikan Kualitas Produk dan Jasa Memenuhi Harapan

Suara layanan konsumen menjadi alat yang penting untuk mengetahui apakah

kualitas produk atau jasa telah memenuhi harapan konsumen.

3. Memberikan Garansi yang Realistis

Perusahaan hendaknya memberikan jaminan yang benar-benar dapat

dipertanggungjawabkan. Bila jaminan tersebut tidak dapat

dipertanggungjawabkan, konsumen akan merasa kecewa.

4. Memberikan Info rmasi Tentang Pemakaian Produk

Perusahaan harus menyadari apakah konsumen dapat menggunakan suatu

rupa sehingga kinerja akan memadai dalam kondisi yang benar-benar dialami

di rumah.

5. Mengukuhkan Loyalitas Pelanggan

Salah satu cara untuk mengukuhkan loyalitas pelanggan adalah dengan

meyakinkan konsumen bahwa perusahaan amat membutuhkan konsumen dan

ingin tetap menjalin hubungan baik dengan konsumen.

6. Menanggapi Keluhan Secara Serius dan Bertindak dengan Tanggung Jawab

Perusahaan hendaknya menanggapi setiap keluhan konsumen secara serius

dan melaksanakan tindakan yang bertanggung jawab untuk memulihkan

kepercayaan konsumen.

3.1.4 Jasa

Jasa didefinisikan sebagai setiap tindakan atau perbuatan yang dapat

ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya bersifat

intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan apapun. Produk jasa bisa berhubungan dengan produk fisik maupun tidak (Kotler, 2002).

Berdasarkan definisi tersebut produk yang ditawarkan perusahaan dapat

dibedakan secara umum ke dalam lima kategori, yaitu produk fisik murni, produk

fisik yang disertai jasa pendukung, produk hibrid dimana porsi barang dan jasa relatif berimbang, jasa utama yang didukung oleh barang dan jasa murni.

Menurut Zeithaml dan Bitner dalam Hurriyati (2005), jasa pada dasarnya

adalah seluruh aktivitas ekonomi dengan output selain produk dalam pengertian

dan secara prinsip tidak berwujud (intangible) bagi pembeli pertamanya. Perbedaan dasar antara barang dan jasa adalah sebagai berikut :

1. Pelanggan tidak memperoleh kepemilikan atas jasa

2. Produk jasa bersifat tidak berwujud

3. Pelanggan lebih terlibat dalam proses produksi

4. Orang lain dapat menjadi bagian dalam produk

5. Adanya keragaman yang lebih besar dalam input ataupun output operasional

6. Banyak jasa sulit dievaluasi pelanggan

7. Umumnya tidak mempunyai persediaan

8. Faktor waktu relatif lebih penting

9. Sistem pemberia n dapat menggunakan saluran fisik maupun elektronik

Rangkuti (2006) mendefinisikan kualitas jasa sebagai penyampaian jasa

yang akan melebihi tingkat kepentingan pelanggan. Jenis kualitas yang akan

digunakan untuk menilai kualitas jasa adalah sebagai berikut :

1. Kualitas Teknik (outcome), yaitu kualitas hasil kerja penyampaian jasa itu sendiri

2. Kualitas Pelayanan (proses), yaitu kualitas cara penyampaian jasa tersebut

Salah satu cara agar penjualan jasa satu perusahaan lebih unggul

dibandingkan para pesaingnya adalah dengan memberikan pelayanan yang

berkualitas dan bermutu, yang memenuhi tingkat kepentingan konsumen. Tingkat

kepentingan konsumen terhadap jasa yang akan diterima dapat dibentuk

berdasarkan pengalaman dan saran yang konsumen peroleh. Konsumen memilih

tersebut konsumen cenderung akan membadingkannya dengan yang konsumen

harapkan (Rangkuti, 2006).

Bila jasa yang konsumen nikmati ternyata berada jauh di bawah jasa yang

konsumen harapkan, para konsumen akan kehilangan minat terhadap pemberi jasa

tersebut. Sebaliknya, jika jasa yang mereka konsumen nikmati memenuhi atau

melebihi tingkat kepentingan, konsumen akan cenderung memakai kembali

produk jasa tersebut. Tingkat kualitas pelayanan tidak dapat dinilai berdasarkan

sudut pandang`perusahaan tetapi harus dipandang dari sudut pandang penilaian

pelanggan. Oleh sebab itu, perusahaan dalam merumuskan strategi dan program

pelayanan, harus berorientasi pada kepentingan pelanggan dengan memperhatikan

komponen kualitas pelayanan (Rangkuti, 2006).

Tujuan dari manajemen jasa pelayanan adalah untuk mencapai tingkat

kualitas pelayanan tertentu. Hal ini disebabkan oleh eratnya kaitan dengan

konsumen dimana tingkat ini dihubungkan dengan tingkat kepuasan konsumen.

Manajemen kualitas jasa pelayanan tidaklah semudah manajemen kualitas produk

dan manufaktur. Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Simamora

(2004), terdapat beberapa faktor yang diperhatikan dalam konsep manajemen jasa

pelayana n :

1. Merumuskan suatu strategi pelayanan, dimulai dengan merumuskan suatu

tingkat keunggulan yang dijanjikan kepada konsumen. Perumusan strategi

pelayanan ini pada dasarnya dilakukan dengan merumuskan apa bidang usaha

perusahaan, siapa konsumen perusahaan, dan apa yang bernilai bagi

2. Mengkomunikasikan kualitas kepada konsumen, berangkat dari strategi yang

telah dirumuskan lalu dikomunikasikan kepada konsumen. Hal ini membantu

konsumen agar tidak salah dalam menafsirkan tingkat pelaksanaan pelayanan

yang akan diperolehnya.

3. Menetapkan suatu standar kualitas secara jelas. Walaupun penetapan suatu

standar kualitas pelayanan dalam bidang jasa pelayanan tidaklah mudah, hal

ini perlu diusahakan agar setiap orang baik pihak manajemen perusahaan dan

konsumen mengetahui dengan jelas tingkat kualitas yang harus dicapai.

4. Menetapkan sistem pelayanan yang efektif, dalam menghadapi konsumen

tidaklah cukup hanya dengan senyuman dan sikap yang ramah, tetapi perlu

lebih dari itu, yaitu dengan suatu sistem yang terdiri dari metode dan prosedur

untuk dapat memenuhi kebutuhan konsumen secara tepat.

5. Karyawan yang berorientasi kepada kualitas pelayanan, merupakan setiap

karyawan yang terlibat dalam jasa pelayanan harus mengetahui standar

kualitas pelayanan itu sendiri. Karena itu, perusahaan harus jeli dalam

penyeleksian karyawan yang tepat dan kontinyu dalam mengevaluasi

pelayanan yang disampaikan yang salah satunya dengan empowerment.

6. Survei tentang kepuasan dan kebutuhan konsumen, merupakan sumber

perolehan informasi tentang kepuasan dan ketidakpuasan konsumen yang

dibutuhkan perusahaan. Hal tersebut disebabkan karena pihak yang

menentukan kualitas pelayanan adalah konsumen. Informasi tersebut dapat

Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Kotler (2002) memformulasikan

bahwa terdapat lima kesenjangan yang menyebabkan penyajian pelayanan yang

tidak berhasil yaitu :

1. Kesenjangan antara harapan konsumen dan persepsi manajemen

Manajemen tidak selalu merasakan dengan tepat apa yang diinginkan oleh

konsumen atau bagaimana penilaian konsumen terhadap komponen

pelayanan.

2. Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi mutu pelayanan

Manajemen mungkin tidak menetapkan standar mutu yang jelas dan hal itu

mungkin jelas tapi tidak realistis, atau ia mungkin jelas dan realistis tetapi

manajemen tidak berusaha keras untuk memperkuat tingkat mutu pelayanan.

3. Kesenjangan antara spesifikasi mutu pelayanan dan penyampaian pelayanan

Banyak faktor yang mempengaruhi sajian pelayanan. Misalnya adalah

karyawan yang kurang terlatih atau bekerja terlalu banyak. Kondisi mental

mereka mungkin rendah atau adanya peralatan yang rusak. Hal tersebut

membuat karyawan bekerja tidak efisien dan kadang-kadang bertentangan

dengan keinginan konsumen.

4. Kesenjangan antara penyampaian pelayanan dan komunikasi eksternal

Kehendak konsumen dipengaruhi janji-janji yang dibuat oleh pemberi

pelayanan melalui komunikasi.

5. Kesenjangan pelayanan yang dinikmati oleh konsumen dengan pelayanan

yang diharapkan konsumen

Kesenjangan ini timbul karena satu atau lebih kesenjangan-kesenjangan

kesulitan dalam upaya menyerahkan mutu pelayanan sesuai dengan harapan

konsumen. Kesenjangan ini terjadi apabila pelanggan mengukur kinerja atau

prestasi perusahaan dengan cara yang berbeda, atau apabila pelanggan keliru

mempersepsikan kualitas jasa tersebut.

Dokumen terkait