• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kepustakaan Yang Relevan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan Yang Relevan

Dalam penulisan karya ilmiah diperlukan kajian pustaka sebagai acuan dan menjadi bukti keautentikan sebuah karya ilmiah. Kepustakaan yang relevan juga merupakan langkah yang penting dimana setelah seorang peneliti menempatkan topik penelitian, atau melakukan kajian yang berkaitan dengan teori yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam pencarian teori, peneiltian akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan dari kepustakaan yang berhubungan dengan objek penelitian dan sumber-sumber kepustakaan dapat di peroleh dari buku, jurnal, atau hasil-hasil dari penelitian (tesis atau desertasi), dan sumber-sumber lainnya yang sesuai.

Bila kita telah memperoleh kepustakaan yang relevan, maka segera kita susun secara teratur untuk di gunakan dalam penelitian. Kepustakaan yang relevan atau sering juga disebut kajian pustaka ialah salah satu cara untuk mendapatkan referensi yang lebih tepat dan sempurna tentang informasi/data yang ingin kita teliti. Tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, dan pendapat (Najir, 1998:112).

Studi kepustakaan meliputi proses umum seperti: mengidentifikasi teori secara sistematis penemuan pustaka, dan analisis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian (Najir, 1998:115). Kajian yang dimaksud adalah penelaahan terhadap penelitian lain yang relevan dengan judul proposal ini, antara lain:

Eliza Rizanti (2016) dalam sebuah jurnal dengan judul Nilai Estetis Tari Regga Manis dikabupaten Pekalongan. Dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa tari Rengga Manis

merupakan tarian tunggal putri yang biasanya ditarikan oleh lebih dari satu penari. Tarian ini mempunyai nilai keindahan dari segi gerak, rias busana, serta iringan.

Dari gerak lembut yang ditarikan, ada gerak-gerak dengan tekanan yang tegas serta cepat terdapat pada gerakan silat atau bela diri yang memiliki pesan tertentu. Semula Renggang Manis menceritakan legenda gadis cantik dari Desa Lolong, Kecamatan Karang Anyar, Kabupaten Pekalongan.

Penelitian yang dilakukan oleh Panji Pratama (2010) yang berjudul Etika Pergaulan Pemuda Pemudi Melayu dalam Tarian Serampang XII: Suatu tinjauan Sosiologi. Dalam

penelitian ini peneliti menjelaskan bahwa tarian mencerminkan identitas bangsa dan tarian ini mengisahkan cinta suci pemuda-pemudi sejak pandangan pertama yang diakhiri dengan akad nikah. Dalam kajian ini peneliti menggunakan dua teori yaitu teori etika dan teori estetika.

Rahayu (2015) yang berjudul Kajian Estetis Koreografis Tari Gembayong Retno Kusumo. Dalam skripsi ini dijelaskan bahwa tari Gembayong Retno Kusumo merupakan

perkembangan tari dari tari Tladek yang hidup dan berkembang di lingkungan rakyat. Dalam skripsi ini, tarian ini diteliti menggunakan teori estetika koreografis.

Walaupun penelitian ini sama-sama membahas tentang tarian, namun akan berbeda dengan yang akan peneliti lakukan. Karena peneliti akan meneliti tentang “Nilai Estetika Pada Tari Zapin Api Rupat Riau”.

2.2 Gambaran Umum Tentang Tari Zapin Api

Tari Zapin Api terdapat di kecamatan Bengkalis, kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau.

Tari Zapin Api masih sangat langka dibahas maupun dikaji, bahkan pembahasan tentang teks Tari Zapin Api yang terkait dengan konteksnya belum pernah diungkap. Tarian ini merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Melayu Bengkalis.

Tari Zapin Api merupakan representasi nilai adat dan kebudayaan Bengkalis. Tari ini adalah hasil kebudayaan Bengkalis yang memiliki hubungan erat dengan bahasa, mata pencaharian, alam, lingkungan, dan agama masyarakat Bengkalis.

Tari merupakan simbol dari berbagai ekspresi. Baik itu ekspresi senang maupun ekspresi sedih. Hadi (2005: 25) mengatakan bahwa seni tari dipandang sebagai simbol atau lambing untuk mengatakan sesuatu tentang sesuatu, yaitu makna dan pesan untuk diresapkan.

Simbol ekspresi tersebut bisa tersampaikan oleh orang lain.

Tari Zapin dan Zapin api sangat berbeda. Zapin adalah tarian yang sangat mengandalkan gerakan kaki yang lincah dan dinamis yang dibawakan perempuan ataupun laki-laki mengikuti irama gendang kecil yang biasa disebut kompang ataupun marwas dan alat petik gambus.

Penari Zapin haruslah melalui latihan yang cukup panjang sebelum dapat menampilkan tarian yang indah dan selaras. Zapin Api menggunakan irama gendang dan petikan gambus.

Namun bedanya Zapin Api ditarikan tanpa kesadaran diri. Penari baru bergerak setelah masuk pada fase tidak sadarkan diri (kesurupan), maka penari Zapin Api tidak pernah berlatih sebelum tampil di arena. Zapin Api ini hanya ditemukan di Pulau Rupat.

Karena itu peneliti mengkaji tarian ini dengan teori estetika. Peneliti beranggapan tarian ini memiliki keunikan dibanding tarian Zapin lainnya.

2.3 Sejarah Singkat dan Perkembangan Tari Zapin Api

Kemajemukan masyarakat Indonesia mengakibatkan kemajemukan budaya Indonesia.

Salah satu kebudayaan tersebut berbentuk kesenian daerah. Ada banyak sekali kesenian yang ada di Indonesia. Kesenian adalah bagian dari budaya dan merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Kesenian adalah salah satu di antara ketujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal.

Tari Zapin Api merupakan salah satu kesenian tari tradisional dari desa Teluk Rhu Kecematan Rupat Utara Kabupatesn Bengkalis Provinsi Riau. Tari Zapin Api hadir di tengah masyarakat sebagai tradsi yang terus dilestarikan secara turun temurun. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan M. hafis selaku Khalifaj Zapin Api (23 Oktober 2019) sejarah Zapin Api berawal dari tarian bernama Tari Api. Tari ini berawal ketika Pulau Rupat diduduki oleh bangsa Melayu pelarian dari Melaka. Pada saat itu banyak peristiwa dan bencana alam yang terjadi di Pulau Rupat, melalui 4 (empat) unsur alam yaitu, api, air, tanah, angin. Pada saat itu ada 4 (empat) orang pawang besar yaitu, pawang air, pawang tanah, pawang angin, dan pawang api. Mereka setuju untuk menjaga Pulau Rupat dan melakukan perundingan dengan jin yang menguasai 4 (empat) unsur alam tersebut.

Pada saat pertama kali perundingan dilakukan, salah satu unsur yang dikawal oleh jin api tidak mau melakukan perundingan dengan pawang api, Jin api akan datang apabila dia disambut dengan sebuah tarian. Dengan inisiatif cepat, pawang api memanggil masyarakat yang hadir pada waktu itu untuk berdiri dan membuka baju melakukan gerakan bebas dengan menepuk tangan untuk menyambut kehadiran jin api. Setelah itu terjadilah perundingan dengan pawang api dan jin api untuk menghindari bencana-bencana di Pulau Rupat. Saat pertama kali tarian api dilakukan dengan tari biasa tidak menggunakan api. Seiring waktu berjalan dikarenakan jin api, dia meminta pawang api agar penyambutan jin api dilakukan dengan menggunakan api. Jin api melewati pawang sebagai perantaranya memberi syarat dan mantra yang harus diamalkan oleh masyarakat yang ingin menari api.

Setelah pertengahan abad ke-15 pengaruh Islam masuk ke Pulau Rupat melalui bangsa Aceh berketurunan Arab, maka Tari Api diubah bentuknya menjadi tarian yang menggunakan musik yang berunsurkan Zapin dengan alasan dalam Zapin Api banyak menggunakan sholawat nabi, sejarah nabi dan kebesaran ilahi. Kemudian para penari-penarinya setelah masuknya Islam tidak diperbolehkan lagi menggunakan mantra-mantra yang berunsurkan dari Jin Api.

Para penari Zapin diberi amalan yang tidak bertolak belakang dengan syariat Islam, biasanya para penari Zapin Api dianjurkan untuk membuat amalan yang berunsurkan Islam seperti puasa, zikir, sholawat, dan apabila para penari Zapin Api melakukan langgaran atau pantangan yang bertentangan dengan syariat Islam dia tidak akan bisa menari di atas Api.

Pada awal perkembanganya Tari Zapin Api mulai dikenal oleh masyarakat sekitar tahun 1950. Berdasarkan hasil wawancara dengan M. Hapis pada tahun 1980-1990-an Tari Zapin Api ini sempat tidak dimainkan karena tidak adanya penerus. Akan tetapi, setelah mendapatkan mimpi M.Hapis merasa ada panggilan untuk dirinya agar meneruskan sangggar atau kelompok Tari Zapin Api yang telah dibina oleh orang tuanya.

Menurut Muhammad Syawuden (Wawancara 23 Oktober 2019) Tari Zapin Api kembali lagi pada tahun 2006, tetapi baru mulai eksis dan aktif kembali pada tahun 2008. Tari Zapin Api dimainkan atau diperkenalkan kembali oleh Abdul Jafar, Ayah dari M.Hafis yang menjadi bidu atau khalifa Zapin Api saat ini. Tari Zapin Api mulai dikenal oleh masyarakat setempat maupun di luar Pulau Rupat.

Indonesia memiliki banyak jenis tarian. Tarian-tarian tersebut sudah dikenal sejak dulu, baik yang sudah berkembang di kalangan masyarakat ataupun yang sudah dikenal di lingkungan istana. Menurut Susetyo (2007:1-23) seni pertunjukan merupakan sebuah ungkapan budaya, wahana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan perwujudan norma-norma estetik-artistik yang berkembang sesui zaman, dan wilayah di mana bentuk seni pertunjukan itu tumbuh dan berkembang.

Seni tari adalah sebuah ekspresi jiwa yang manusia yang diwujudkan melalui gerak keseluruhan tubuh yang indah. Gerak ini ditata dengan musik pengiring sesui watak dan tema tari. Tari Zapin Api adalah salah satu seni pertunjukan yang sangat terkenal di Kabupaten

menggabungkan tari dan musik dalam penampilannya. Pertunjukan Tari Zapin Api menggandung unsur-unsur tari atau elemen-elemen tari seperti gerak, musik, desain latar, dinamika, penonton, dll.

2.4 Teori yang Digunakan

Teori merupakan suatu prinsip dasar yang terwujud di dalam bentuk yang berlaku secara umum dan akan mempermudah seorang penulis memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Teori berguna untuk membimbing dan memberi arahan sehingga bisa digunakan untuk langkah-langkah kerja bagi penulis. Setiap penelitian selalu menggunakan teori yang sesuai dengan objek penulisan. Penelitian akan lebih praktis metode kerjanya apabila teori yang di gunakan mempunyai hubungan langsung dengan peneliti yang di lakukan. Berdasarkan judul ini, maka teori yang digunakan untuk mengkaji tarian yaitu teori estetika

2.4.1 Gambaran Umum Tentang Estetika

Ilmu estetika adalah suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan. Mempelajari dari semua aspek apa yang kita sebut sebagai keindahan (Djelantik, 2001: 7). Secara ringkas dapat digolongkan hal-hal yang termasuk kategori indah yaitu keindahan alami dan keindahan yang diciptakan dan diwujudkan oleh manusia. Sedangkan menurut Agus Schari, Estetika adalah filsafat ilmu yang membahas esensi dari totalitas kehidupan estetika.

Bruce Allsop (1977) berpendapat bahwa estetika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari proses-proses penikmatan dan aturan-aturan dalam menciptakan rasa kenyamanan. Dari defenisi yang dikemukakan oleh Bruce Allshop (1977), ia mengartikan bahwa estetika adalah ilmu pengetahuan. Allshop juga menjelaskan bahwa estetika merupakan suatu kegiatan edukasi atau pembelajaran mengenai proses dan aturan tentang penciptaan

sebuah karya yang nantinya akan menimbulkan perasaan nyaman bagi yang melihat dan merasakannya.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) definisi estetika terdiri dari dua poin:

1. Cabang filsafat yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya.

2. Kepekaan terhadap seni dan keindahan.

A.A. Djelantik (1999) mendefinisikan eestetika sebagai suatu ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan keindahan, mempelajari semua aspek yang disebut keindahan. Jakob Sumarjo (2000) menjelaskan estetika mempersoalkan hakikat keindahan alam dan karya seni, sedangkan filsafat seni mempersoalkan hanya karya seni atau benda seni, atau yang disebut seni.

“Estetika dapat didefenisikan sebagai susunan bagian dari sesuatu yang mengandung pola. Pola mana mempersatukan bagian-bagian tersebut yang mengandung keselarasan dari unsur-unsurnya, sehingga menimbulkan keindahan (Effendy, 1993)”.

2.4.2 Teori Estetika

Estetika adalah sebuah keindahan yang akan tercipta dalam sebuah karya seni, nilai estetika dalam tarian merupakan kemampuan dari seluruh elemen tari untu menciptakan sebuah nilai estetika. Setiap tarian pasti mnciptakan nilai estetika tersendiri yang perlu diulas dan dijelaskan secara cermat. Hal yang perlu dipahami dalam mengamati karya seni tari ialah adanya faktor subjektif dan faktor objektf. Terciptanya estetika tarian itu karena adanya proses relasi antara karya seni tari dengan tanggapan orang yang menggamati.

Masing-masing gerak tari disetiap daerah memiliki keunikan tersendiri, yang mana tidak bisa lepas dari pengaruh budaya yang terikat dalam daerah tersebut. Menurut Alwi (1995:

270). Estetis mempunyai arti indah atau keindahan. Konsep tentang nilai estetis inilah yang

dijadikan peneliti sebagai acuan untuk membantu mengungkapkan nilai keindahan pada tari.

Ada dua macam penilaian keindahan, yaitu keindahan bersifat objektif dan subjektif, yaitu:

a. Teori Objektif: Menilai karya seni lebih detail, yaitu unsur-unsur objektif itu nyata, yang dapat dilihat, dapat dirasakan, serta dapat didengar (Djelantik 1999: 165). Keindahan objektif merupakan keindahan yang dapat dilihat bentuk, teknik, dan biasanya mengabaikan latar budaya dari mana tarian/penata tari berasal.

b. Teori Subjektif: Menilai keindahan karya seni dari cara kita dalam menangkap, merespons, atau menanggapi keindahan. Kita mampu menemukan, merasakan keindahan sekurang-kurangnya daya tarik dari karya seni itu sebatas kemampuan diri (Jajuli 2008: 110). Keindahan subjektif berasal dari interpretasi dan evaluasi, di mana penikmat seni melakukan penilaian karya lebih dekat dengan murni seperti bentuk, ukuran dan warna.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Dasar

Metode dasar penelitian yang penulis lakukan adalah metode kualitatif bersifat deskriptif. Metode kualitatif deskriptif adalah prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan atau melukiskan keadaan objek atau subjek penelitian (seseorang, lembaga masyarakat, dan lainnya) pada saat sekarang berdasarkan fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi, 1987: 63).

Penelitian kualitatif bersifat deskriptif lebih mengutamakan proses daripada hasil, analisis data cenderung induktif, dan makna merupakan hal yang esensial (Semi, 1993: 59).

Proses dalam penelitian kualitatif lebih diutamakan karena hubungan antar bagian-bagian yang sedang diteliti jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses. Dalam pelaksanaannya, metode deskriptif kualitatif menuntut peneliti untuk menangkap aspek penelitian secara akurat serta memperhatikan secara cermat apa saja yang menjadi fokus penelitian sehingga pemberian interpretasi dapat lebih mendalam.

Metode deskriptif ini menggunakan lingkungan alamiah sebagai sumber data.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sosial dijadikan objek kajian utama penelitian.

Pada metode ini pengamatan terhadap objek dilakukan pada suatu waktu, peneliti pergi ke lokasi penelitian, memilih data yang dijadikan objek penelitian, memahami dan mempelajari peristiwa yang terjadi, menguraikannya, serta memeroleh suatu kesimpulan.

3.2 Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian pada penelitian nilai estetika pada Tari Zapin Api ini adalah di Desa Tanjung Medang, Teluk Rhu, Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis. Karena

hanya di lokasi ini yang mempertunjukan tarian Zapin Api. Peneliti akan langsung terjun ke lapangan agar penelitian ini benar-benar menyentuh masyarakat yang terlibat di dalamnya guna mendapatkan hasil penelitian yang maksimal.

3.3 Instrumen Penelitian

Pada penelitian kualitatif pada awalnya di mana prmasalahan belum jelas dan pasti, makayang menjadi instrument adalah peneliti sendir. Tetapi setelh maslah yang ada sudah dipelajari secara jelas, maka dapat dikembangkkan suatu instrument (Sugiono, 2014: 16).

Adapun instrumen penelitian/alat penelitian yang peneliti gunakan ialah rekaman suara melalui perekaman suara (Recorder), buku tulis untuk mencatat informasi, video untuk mendokumentasikan gambar yang bergerak serta bersuara, dan menyediakan daftar-daftar pertanyaan yang akan ditanyakan kepada warga.

3.4 Sumber Data

Data merupakan bahan yang sesuai untuk memberi jawaban terhadap masalah yang dikaji (Subroto dalam Al-Ma’ruf, 2009: 11). Sumber data dari penelitian ini adalah wawancara mendalam kepada informan yang terkait dengan judul skripsi ini. Selanjutnya penulis menggunakan buku-buku yang berhubungan dengan judul skripsi ini.

3.5 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Metode observasi

Observasi adalah : suatu penyelidikan secara sitematis menggunakan indra manusia(Edwarsa, 2003: 208). Pengamatan dilakukan ketika terjadi aktivitas budaya.

Observasi dibantu juga dengan foto dan tape recorder. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai instrument, sehingga sedikit banyaknya peneliti bisa mendekripsikan tari Zapin Api.

2. Metode wawancara (interview)

Wawancara merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalu proses tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dari suatu topic tertentu (Sugiyono, 2014: 72). Wawancara digunakan oleh peneliti dalam studi pendahuluan untuk menemukan suatu permasalahan yang harus dilakukan, tetapi digunakan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal responden yang lebih mendalam. Ada beberapa teknik wawancara yang dilakukan peneliti sebagai berikut:

a. Teknik rekam, yaitu merekam informasi atau data-data yang diberikan informan mengunakan alat perekam.

b. Teknik catat, yaitu mencatat semua keterangan mengenai data-data yang diperoleh melalui informan.

3. Metode kepustakaan, yaitu mencari bahan-bahan referensi yang berkaitan dengan pokok penelitian sebagai data sekunder penulis untuk melengkapi data primer dari lapangan.

3.6 Metode Analisis Data

Menganalisis data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian.

Penulisan dikelasifikasikan sesui isi dan materi data tersebut dan dianalisis untuk menyederhanakan dan menginterprestasi data secara spesifik dalam rangka menjawab keseluruhan pertanyaan penelitian.

Langkah-langkah analisis dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Data yang sudah ada dipilih terlebih dahulu mana yang berkaitan tentang estetika yang sesui dengan teori yang penulis pakai. Sesui data yang sudah

dikumpulkan maka penulis mendeskripsikan tentang bagaimana nilai-nilai estetika yang terkandung dalam Tarian Zapin Api Rupat Riau.

2. Menginterpretasikan hasil analisis dalam bentuk tulisan yang sistematis sehingga semua data dipaparkan dengan baik.

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Estetika yang Terkandung dalam Tarian Zapin Api

Tari Zapin Api merupakan salah satu kebudaya Riau berupa tarian yang diiringi dengan musik Melayu. Tarian Zapin Api. Dalam Tari Zapin Api, para penari harus bergoyang di tengah bara api. Menariknya para penari sama sekali tidak merasa panas. Mereka justru terlihat begitu menikmati tarian dan seolah sedang bermain di tengah api yang semakin membara.

Memang kondisi ini tidak dapat dicerna logika, terlebih api yang panas itu tidak mampu melukai kulit penarinya. Berikut estetika yang terkandung dalam prosesi sebelum memulai ritual, busana, alat musik, dan juga gerak tarian Zapin Api.

4.1.1 Estetika yang Terdapat Pada Ritual Buka Panggung

Masyarakat Indonesia sudah mengenal kepercayaan sebelum masuknya agama Hindu Budha dan juga Islam. Pada masyarakat di zaman itu masyarakat menganut kepercayaan animisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap adanya roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan dan juga manusia sendiri. Upacara-upacara itu dilakukan dalam rangka menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki dan dapat membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia. Berikut merupakan bahasan mengenai ritual yang bersangkutan dengan hal gaib menurut Koentjaramigrat.

Dunia gaib dapat diihadapi dengan berbagai macam perasaan, ialah cinta, hormat, bakti, tetapi jugalah takut, ngerih dan sebagainya. Atau dari campuran dari segala macam prasaan tadi mendorong manusia untuk melakukan hubungan dengan dunia gaib yang kita sebut kelkuan serba religi (Koentjarangrat 1967: 230 dikutip dari Danandjaja james 1989:355)

Keberadaan ritual-ritual di Indonesia tidak lepas dari kepercayaan Animisme dan dinamisme yang dianut masyarakat Indonesia zaman dahulu, begitu pula ketika masuknya agama Hindu Budha ke Indonesia masyarakat juga masih melakukan ritual-ritual seperti adanya sesaji untuk pemujaan kepada dewa-dewa. Ritual sering menjadi hal yang dipandang negatif oleh sebagian kalangan karena sering berkaitan dengan dunia mistis, padahal pada kenyataanya ritual merupakan wujud dari pelestarian kebudayaan.

Kepercayaan dan agama sangatlah berbeda, kedua hal ini tidak dapat disamakan dalam hal apapun. Agama lebih jelas aturanya dan terdapat aturan-aturan agama didalamnya.

Tujuan dari agama tentu tertuju kepada sang pencipta yaitu Tuhan, sedangkan kepercayaan memang belum jelas ditujukan kepada Tuhan atau untuk tujuan tertentu saja, seperti tujuan untuk kepentingan duniawi.

Dapat diketahui bahwa masyarakat mempercayai ritual selain karena sifatnya yang masih berkaitan dengan agama namun juga adanya kebudayaan sebagai karekteristik yang tidak dapat ditinggalkan. Perpaduan budaya dengan agama salah satunya terlihat dalam kehidupan masyarakat Melayu. Perpaduan tersebut dapat terlihat dalam Tari Zapin Api pada masyarakat Pulau Rupat yang penulis teliti. Adapun prosesi/ritual-ritual yang dilakukan sebelum memulai tarian Zapin Api seperti prosesi

1. Prosesi mandi 2. Wudu biasa

3. Sholat sunnah 2 rakaat 4. Wudu batin (Asap)

Berikut penjelasa-penjelasan ritual yang dilakukan sebelum memulai tarian.

1. Prosesi Mandi

Sebelum memulai pertunjukan tari, para pemain dan khalifa harus melakukan mandi terlebibh dahulu guna pembersihan diri. Adapun bahan yang digunakan untuk mandi ialah jeruk limau selain memberikan aroma jeruk limau dipercaya mempunyai makna mistis,

kesucian, dan tradisi. Dan air limau tersebut sudah dibacakan mantra/dzikir guna meminta keselamatan kepada Allah, dan bentuk media membersihkan batin.

2. Wuduh Biasa

Wuduh merupakan aktivitas yang dilakukan oleh orang untuk mensucikan diri dari hadas dan cara membersihkan dari najis kecil dengan menggunakan air yang dilakukan dalam agama islam sebelum melakukan salat.

Prosesi wuduh dalam Tari Zapin Api tidak ada bedanya dengan gerakan-gerakan maupun niat wuduh ketika ingin salat/mengaji. Wuduh digunukan untuk mensucikan kembali diri.

3 Salat sunnah 2 rakaat

Salat sunnah (salat nafilah) adalah salat tambahan di luar salat fardu, bila dikerjakan mendapat pahala bila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Tetapi salat sunnah dalam prosesi tari Zapin Api wajib dilakukan karena sholat sunnah ini bagian dari ritual dan memohon

Salat sunnah (salat nafilah) adalah salat tambahan di luar salat fardu, bila dikerjakan mendapat pahala bila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Tetapi salat sunnah dalam prosesi tari Zapin Api wajib dilakukan karena sholat sunnah ini bagian dari ritual dan memohon

Dokumen terkait