• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pengumpulan Data

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.5 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Metode observasi

Observasi adalah : suatu penyelidikan secara sitematis menggunakan indra manusia(Edwarsa, 2003: 208). Pengamatan dilakukan ketika terjadi aktivitas budaya.

Observasi dibantu juga dengan foto dan tape recorder. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai instrument, sehingga sedikit banyaknya peneliti bisa mendekripsikan tari Zapin Api.

2. Metode wawancara (interview)

Wawancara merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalu proses tanya jawab, sehingga dapat dikontruksikan makna dari suatu topic tertentu (Sugiyono, 2014: 72). Wawancara digunakan oleh peneliti dalam studi pendahuluan untuk menemukan suatu permasalahan yang harus dilakukan, tetapi digunakan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal responden yang lebih mendalam. Ada beberapa teknik wawancara yang dilakukan peneliti sebagai berikut:

a. Teknik rekam, yaitu merekam informasi atau data-data yang diberikan informan mengunakan alat perekam.

b. Teknik catat, yaitu mencatat semua keterangan mengenai data-data yang diperoleh melalui informan.

3. Metode kepustakaan, yaitu mencari bahan-bahan referensi yang berkaitan dengan pokok penelitian sebagai data sekunder penulis untuk melengkapi data primer dari lapangan.

3.6 Metode Analisis Data

Menganalisis data merupakan suatu langkah yang sangat kritis dalam penelitian.

Penulisan dikelasifikasikan sesui isi dan materi data tersebut dan dianalisis untuk menyederhanakan dan menginterprestasi data secara spesifik dalam rangka menjawab keseluruhan pertanyaan penelitian.

Langkah-langkah analisis dalam penelitian ini sebagai berikut :

1. Data yang sudah ada dipilih terlebih dahulu mana yang berkaitan tentang estetika yang sesui dengan teori yang penulis pakai. Sesui data yang sudah

dikumpulkan maka penulis mendeskripsikan tentang bagaimana nilai-nilai estetika yang terkandung dalam Tarian Zapin Api Rupat Riau.

2. Menginterpretasikan hasil analisis dalam bentuk tulisan yang sistematis sehingga semua data dipaparkan dengan baik.

BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Estetika yang Terkandung dalam Tarian Zapin Api

Tari Zapin Api merupakan salah satu kebudaya Riau berupa tarian yang diiringi dengan musik Melayu. Tarian Zapin Api. Dalam Tari Zapin Api, para penari harus bergoyang di tengah bara api. Menariknya para penari sama sekali tidak merasa panas. Mereka justru terlihat begitu menikmati tarian dan seolah sedang bermain di tengah api yang semakin membara.

Memang kondisi ini tidak dapat dicerna logika, terlebih api yang panas itu tidak mampu melukai kulit penarinya. Berikut estetika yang terkandung dalam prosesi sebelum memulai ritual, busana, alat musik, dan juga gerak tarian Zapin Api.

4.1.1 Estetika yang Terdapat Pada Ritual Buka Panggung

Masyarakat Indonesia sudah mengenal kepercayaan sebelum masuknya agama Hindu Budha dan juga Islam. Pada masyarakat di zaman itu masyarakat menganut kepercayaan animisme. Animisme adalah kepercayaan terhadap adanya roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan dan juga manusia sendiri. Upacara-upacara itu dilakukan dalam rangka menangkal pengaruh buruk dari daya kekuatan gaib yang tidak dikehendaki dan dapat membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia. Berikut merupakan bahasan mengenai ritual yang bersangkutan dengan hal gaib menurut Koentjaramigrat.

Dunia gaib dapat diihadapi dengan berbagai macam perasaan, ialah cinta, hormat, bakti, tetapi jugalah takut, ngerih dan sebagainya. Atau dari campuran dari segala macam prasaan tadi mendorong manusia untuk melakukan hubungan dengan dunia gaib yang kita sebut kelkuan serba religi (Koentjarangrat 1967: 230 dikutip dari Danandjaja james 1989:355)

Keberadaan ritual-ritual di Indonesia tidak lepas dari kepercayaan Animisme dan dinamisme yang dianut masyarakat Indonesia zaman dahulu, begitu pula ketika masuknya agama Hindu Budha ke Indonesia masyarakat juga masih melakukan ritual-ritual seperti adanya sesaji untuk pemujaan kepada dewa-dewa. Ritual sering menjadi hal yang dipandang negatif oleh sebagian kalangan karena sering berkaitan dengan dunia mistis, padahal pada kenyataanya ritual merupakan wujud dari pelestarian kebudayaan.

Kepercayaan dan agama sangatlah berbeda, kedua hal ini tidak dapat disamakan dalam hal apapun. Agama lebih jelas aturanya dan terdapat aturan-aturan agama didalamnya.

Tujuan dari agama tentu tertuju kepada sang pencipta yaitu Tuhan, sedangkan kepercayaan memang belum jelas ditujukan kepada Tuhan atau untuk tujuan tertentu saja, seperti tujuan untuk kepentingan duniawi.

Dapat diketahui bahwa masyarakat mempercayai ritual selain karena sifatnya yang masih berkaitan dengan agama namun juga adanya kebudayaan sebagai karekteristik yang tidak dapat ditinggalkan. Perpaduan budaya dengan agama salah satunya terlihat dalam kehidupan masyarakat Melayu. Perpaduan tersebut dapat terlihat dalam Tari Zapin Api pada masyarakat Pulau Rupat yang penulis teliti. Adapun prosesi/ritual-ritual yang dilakukan sebelum memulai tarian Zapin Api seperti prosesi

1. Prosesi mandi 2. Wudu biasa

3. Sholat sunnah 2 rakaat 4. Wudu batin (Asap)

Berikut penjelasa-penjelasan ritual yang dilakukan sebelum memulai tarian.

1. Prosesi Mandi

Sebelum memulai pertunjukan tari, para pemain dan khalifa harus melakukan mandi terlebibh dahulu guna pembersihan diri. Adapun bahan yang digunakan untuk mandi ialah jeruk limau selain memberikan aroma jeruk limau dipercaya mempunyai makna mistis,

kesucian, dan tradisi. Dan air limau tersebut sudah dibacakan mantra/dzikir guna meminta keselamatan kepada Allah, dan bentuk media membersihkan batin.

2. Wuduh Biasa

Wuduh merupakan aktivitas yang dilakukan oleh orang untuk mensucikan diri dari hadas dan cara membersihkan dari najis kecil dengan menggunakan air yang dilakukan dalam agama islam sebelum melakukan salat.

Prosesi wuduh dalam Tari Zapin Api tidak ada bedanya dengan gerakan-gerakan maupun niat wuduh ketika ingin salat/mengaji. Wuduh digunukan untuk mensucikan kembali diri.

3 Salat sunnah 2 rakaat

Salat sunnah (salat nafilah) adalah salat tambahan di luar salat fardu, bila dikerjakan mendapat pahala bila ditinggalkan tidak mendapat dosa. Tetapi salat sunnah dalam prosesi tari Zapin Api wajib dilakukan karena sholat sunnah ini bagian dari ritual dan memohon keselamatan kepada Tuhan dalam pertunjukan taria Zapin Api dimulai. Setelah melakukan salat sunnah para pemain Zapin Api melakukan zikir dan doa-doa kepada Allah dan arwah leluhur, Syekh, nabi-nabi untuk memohon keselamat dalam atraksi tari Zapin Api.

4.wudu batin (Wudu asap)

Wudu batin ini menggunakan asap kemenyan guna membersihkan diri secara batiniah, sebelumnya asap kemenyan sudah dibacakan mantra oleh pawang, seluruh pemain Zapin Api duduk bersila mengintari kemenyan dan mengambil asap lalu dibasuh ke tubuh seperti gerakan mengambil wudu dan gerakan seolah menelan asap kemenyan. Dalam ritual-ritual yang

dilakukan para pemain Zapin Api harus benar-benar menjaga kesucian diri baik secara lahiriah dan batiniah demi keselamatan para pemain Zapin.

Gambar 2

Dalam melakukan sebuah pertunjukan Tari Zapin Api ada beberapa hal dan ketentuan yang harus dilakukan penari, pawang, penjaga dan pemain musik Zapin. Hal-hal yang perlu disiapkan yaitu:

1. Mempersiapkan Lokasi Tari Zapin Api

Menurut Robby Hidayat (2011: 63), panggung (stage) mempunyai bentuk yang bermacam-macam, seperti panggung yang disaksikan penonton dari segala arah, disebut panggung arena, panggung leter L yaitu panggung yang disajikan dari dua sisi mamanjang dan sisi melebar, panggung tapal kuda adalah panggung yang dapat disajikan oleh penonton dari sisi depan dan samping sisi kiri dan kanan, dan yang paling umum digunakan adalah panggung

prosenium, yaitu bentuk panggung yang tempat penyajianya hanya dapat disaksikan dalam satu arah.

Jenis panggung sebagai media mengekspresikan koreografi dibagi menjadi dua yaitu:

a) Panggung tradisional, adalah tempat turun temurun yang menjadi kebiasaan pada sebuah komunitas atau masyarakat etnis tertentu dalam mengekspresikannya.

b) Panggung modern, jenis panggung ini yang dikenal luas adalah panggung prosenium.

Dalam tarian Zapin Api panggung yang digunakan biasanya lapangan luas ataupun disebut juga pannggung tradisional, panggung Zapin Api ini sudah diberi pembatas tali antara pemain dan penonton. Arena Zapin Api juga diberi mantra terlebih dahulu oleh khalifa agar penonton t dan pemain Zapin Api tetap aman.

2. Memandikan Alat Musik Terutama Gambus

Alat musik yang digunakan dalam Tari Zapin Api harus dimandikan terlebih dahulu menggunakan air limau dan dibacakan matra-matra, prosesi pemandian alat musik harus rutin dilakukan oleh Khalifa Zapin Api setiap malam jumat, dan tidak hanya ketika memulai tarian Zapin Api saja.

3. Khalifa tidur bersama alat musik gambus

Satu hari sebelum tarian dimulai khalifa harus tidur dengan alat musik gambus. Hal ini merupakan prosesi yang tidak boleh dilupakan oleh khalifa karena jika khalifa tidak tidur dengan alat musik maka di hari pementasa tari Zapin Api alat musik gambus dipercaya tidak akan berbunyi. Alat musik gambus ini memiliki keunikan tersendiri, khalifa secara rutin harus tidur dengan alat musik gambus setiap malam jumat, dan alat musik gambus ini tidak dapat disentuh oleh wanita, karena dipercaya masyarakat setempat alat musik gambus yang dipakai pada saat tari Zapin Api ialah sosok gadis cantik yang memiliki suara merdu, jika gambus ini

disentuh wanita maka ia akan cemburu dan tidak mau berbunyi ketika Tarian Zapin Api hendak dilakukan.

4. Puasa Senin Kamis

Satu minggu sebelum acara dimulai para pemain yang terlibat dalam tarian Zapin Api ini seperti khalifa, penari, pawang api, dan pemain musik harus melakukan puasa Senin Kamis.

Puasa ini dilakukan guna melatih diri untuk menahan segala godaan dan kesucian diri tetap terjaga menjelang penampilan Tari Zapin Api.

5. Menghidupkan Api

Petugas penjaga api atau pawang api menghidupkan api pada sabut kelapa yang disediakan. Sebelum api dihidupkan musik Zapin Api dimainkan oleh bidu/Khalifa sebagai pertanda pertunjukan dimulai, dan para penari Zapin Api memasuki arena.

6. Pawang Api

Petugas penjaga api/pawang api juga menjaga penari untuk tidak masuk ke dalam api, jika api belum membesar dan menggumpulkan bara api yang berserakan supaya jangan samapai keluar dan mengenai penonton.

Dari uraian ritau-ritual diatas sangat terlihat jelas perbedaan tari Zapin Api dengan Zapin-Zapin yang ada di Indonesia. Zapin Api memiliki keunikan yang terlihat dari prosesi/ritual-ritual yang dilakukan, nilai religius yang dibawa oleh ritual tari zapin api memunculkan unsur kedekatan dengan nilai islami seperti sholat sunnah, wuduh, dzikir dan harus menjaga kesucian baik lahiriah maupun batiniah.

4.1.2 Nilai-nilai Estetika yang Terkandung dalam Busana

Busana adalah suatu pengertian bahwa yang dimaksud adalah pakaian khusus yang ada kaitanya dengan kesenian. Busana merupakan segala yang dikenakan seseorang, yang terdiri dari pakaian dan perlengkapan (accessories, dan identik dengan kostum (Nuraini, 2011:64).

Busana yang digunakan dalam tarian Zapin Api ini memiliki keunikan dan keindahan tersendiri, berikut penjelasan estetika yang terkandung dalam busana Tarian Zapin Api yang digunakan oleh penari, khalifa, pemain musik, dan pawang api.

1 Estetika yang Terkandung dalam Busana Penari Zapin Api

Para penari Zapin Api tidak menggunakan busana seperti layaknya penari-penari Zapin yang ada, penari Zapin Api hanya mengenakan celana panjang yang berwarna putih dan ikat pinggang yang terbuat dari kain berwarna merah. Warna merah diyakini sebagai wujud keberanian dan putih memiliki makna kesucian. Estetika perpaduan warna merah berani dan putih kesucian ini merujuk pada prosesi ritual yang dikakukan dalam memulai ritual seperti ritual wudu, sholat, dzikir dan berani ini merujuk pada tari Zapin Api menari menggunakan Api.

Gambar 3

2. Estetika yang Terkandung dalam Busana khalifa, pawang dan pemain musik Tari Zapin Api

Busana yang dipakai khalifa, pawang api, dan pemain musik Zapin Api sama dengan busana Melayu pada umumnya. Biasanya busana yang digunakan disebut “Teluk Belanga”.

Baju kurung teluk belanga adalah salah satu dari jenis baju kurung yang digunakan oleh kaum laki-laki Melayu. Baju kurung teluk belanga dipakai dengan baju di luar (menutupi) celana dan kain saping. Baju ini mulai diperkenalkan di Teluk Belenga, Singapura dan tersebar luas sebagai ciri khas Johor khususnya pada abad ke-19.

Gambar 4

Bentuk baju ini mempunyai alas leher berbentuk bulat dan belahan di bagian depan.

Pada keliling leher baju dilapisi dengan kain lain dan dijahit. Bagian pangkal belahan

dibuatkan tempat untuk mengancingkan baju yang disebut “rumah kancing” dengan menggunakan jahitan benang “Insang pari”. Leherny berkerah dan bertepi “kancing tepi”.

Kancing permata tergantung pada tingkat pemakaian dan lengan baju panjang agak menutupi pergelangan tangan yang lebar dan agak longgar. Baju teluk belanga biasanya dengan setelan baju dan celana dan dilengkapi dengan kain samping, kain samping selain dipakai agar terlihat lebih sopan juga memiliki makna yang lain yaitu sebagai penanda apakah pria tersebut masih lajang atau sudah menikah.

Apabila kain dipakai sampai ke bawah lutut itu pertanda pria itu sudah menikah.

Namun sebaliknya, apabila pria itu memakai kain di atas lutut berarti menandakan pria tersebut belum menikah. Sedangkan pemakaian songkok ataupun dalam Islam sering disebut peci, yaitu sebagai simbol ke Islaman dan identitas jati diri masyarakat Melayu.

Jika dikaji dari warna busana yang dipakai, sebenarnya bebas ingin menggunakan busana warna apa saja. Namun, sudah menjadi tradisi zaman dahulu bahwa orang Melayu itu identik dengan warna kuning dan hijau. Warna kuning menandakan keagungan dan kewibawaan khusus bagi raja-raja dan juga bisa kita tarik pada makna mengagungkan keEsaan Tuhan, serta warna hijau melambangkan keIslaman.

Adapun keindahan/keunikan dalan busana Tari Zapin ini terlihat pada ikatan kain merah yang dipakai penari Zapin Api, ikatan ini memberikan makna berani dan menambah energi ketika Api untuk menari Zapin Api dimulai, kain samping yang digunakan kahlifa, pawang, dan pemain musik Zapin Api memiliki keindahan tersendiri, selain dipakai agar terlihat lebih sopan juga memiliki makna yang lain yaitu sebagai penggambaran baju kebangsaan melayu yang dulunya hanya bisa dipakai oleh keluarga bangsawan ataupun yang memiliki darah turunan leluhur Zapin Api.

4.1.3 Estetika yang Terkandung dalam Alat musik Tari Zapin Api

Musik adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan terutama dari suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat menghasilkan irama.

Menurut R. Supanggah (1995;3) Etnomusikologi adalah sebuah musik tradisional yang diajarkan secara turun temurun dan tidak melalui tulisan. Biasanya musik tradisi diajarkan secara turun temurun dari nenek moyang terdahulu, dan berkembang hingga saat ini. Musik penggiring tari Zapin Api didapatkan oleh khalifa dari orang tuanya secara langsung. Musik yang digunakan dalam Tari Zapin Api adalah musik eksternal dengan menggunakan alat musik penggiring tari. Musik sangat berpengaruh penting terhadap tarian sebagai pengatur dalam sebuah tarian.

Seperti yang dikatakan Y. Sumandiyo Hadi (2003: 51) tari sebagai dalam sajianya tidak pernah terlepas dari musik pengiring, karena dalam hal ini antara tari dan musik sangat berhubungan erat, musik sebagai pengiring tari dapat dipahami, pertama, sebagai iringat ritmis gerak tarinya. Kedua sebagai ilustrasi pendukung suasana tari dan yang ketiga dapat terjadi kombinasi keduanya secara harmonis. Berikut nilai estetis yang terkandung dalam alat musik gendang (bebano) dan alat musik gambus.

1 . Alat Musik Gendang (Bebano)

Alat musik bebaano merupakan salah satu alat musik yang dipakai ketika tari Zapin Api, alat musik ini terbuat dari kulit kambing yang telah dibersihkan serta dikeringkan. Bebano dimainkan dengan cara dipukul disekitaran area lunak dengan menggunakan telapak tangan.

Kesenian Malaysia, Brunai, dan Indonesia sering memakai bebano sebagai alat musik penggiring tarian Zapin dipadukan dengan alat musik gambus, bebano ini juga bisa dipakai

sebagai alat musik perkusi yang mengiringi bukoban (koba) artinya tradisi lisan yang biasanya didendangkan.

Gambar 5

2.Alat musik Gambus

Alat musik gambus merupakan sebuah instrument musik yang bisa dimainkan baik secara kelomok maupun tunggal, cara memainkanya sama dengan halnya alat musik berdawai lainya. Gambus adalah alat musik petik yang berasal dari Timur Tengah. Paling sedikit gambus dipasangi 3 senar sampai paling banyak 12 senar. Gambus dimainkan sambil diiringi gendang. Suatu orkes yang mengggunakan alat musik gambus diberi nama orkes gambus atau gambus saja, telah di klaim oleh praktisi musik tradisional Melayu yang ansambel bahwa Zapin tidak akan lengka tanpa gambus, ada peranan penting gambus dalam ansambel.

Pertama, suara dari gambus dikaitkan dengan Islam dan melayu, kedua penggunaan gambus mengidentifikasikan mereka dengan gendre dan spesifik musik tradisional Melayu.

Cara membuat alat musik gambus yaitu pertama siapkan batang pohon dengan masa yang ringan seperti kayu angsa atau nibung. Potong kayu sesuai ukuran gambus yan akan dibuat, setelah itu lubangi bagian tengah kayu tersebut. Bagian lubang ini biasa disebut dengan bakal. Amplas bagian bakal ini untuk membersihkan dan memperhalus kayu tersebut. Untuk menghasilkan gambus yang lebih indah, menarik, dan mengkilap jangan lupa gunakan minyak kelapa lalu oles pada bagian bakal tersebut. Selain kayu bahan yang diperlukan lainya ialah kulit binatang yang sudah direndam, kulit ini berfungsi untuk menutupi lubang tadi.

Jika sudah selesai tahap berikutnya ialah memasang penyiput yang berbentuk tanduk sebanyak 4 buah pada bagian atas gambung. Penyiput ini berfungsi agar senar menjadi tegang dan sama. Pasang senar pada bagian pangkal atas dengan cara diikat kemudian tarik senar kebagian ujung.

Namun alat musik gambus dalam Tari Zapin Api ini sangat berbeda dengan gambus pada umumnya. Alat petik itu hanya dipasang tujuh senar, bukan 12 seperti umumnya. Tujuh senar itu melambangkan pengkajian diri atas tujuh maqam (martabat seseorang di hadapan Allah). Angka tujuh juga merujuk pada tujuh ayat pada Surat Al Fatihah dalam kitab suci Al Quran.

Gambar 6

Pada alat musik ini untuk memainkannya tidak sembarangan khususnya pada masyarakat Pulau Rupat, Bengkalis. Dan keunikan yang terdapat pada alat musik gambus terletak ada ritual yang harus dilakukan khalifa Zapin Api. Karena untuk memaikan alat musik ini khususnya untuk Tari Zapin Api sang khalifa Zapin Api harus melalaui beberapa tahapan lagi yaitu,

a. Yang memainkan harus berpuasa 144 hari

Tujuan berpuasa agar para pemain musik dapat menggunakan alat musik ini dengan lembut secara batiniah.

b. Memandikan alat musik setiap malam jumat

Masyarakat setempat mempercayai bahwasanya alat musik adalah seorang wanita, dan secara khusus diperlakukan selayaknya manusia, sehingga khalifa Zapin Api harus memandikannya secara rutin pada malam jumat.

c. Wudu Asap

Wudu asap ini sama dengan halnya memeberi wewangian terhadap alat musik tersebut.

Dan memberi kesucian mistik terhadap alat musik yang digunakan dalam Tari Zapin Api.

Wudu asap juga dilakukan oleh khalifa Zapin Api.

d. Tidur bersama pada malam jumat

Tahapan – tahapan di atas adalah ritual yang dilakukan untuk alat musik terkhusus gambus, karena dipercayai masyarakat setempat alat musik ini adalah seorang putri yang memiliki suara merdu. Apabila tahapan di atas tidak diikuti maka alat musik tersebut tidak akan berbunyi ketika dimainkan pada saat pertunjukan Tari Zapin Api, yang meniduri gambus ini adalah sang khlifa Zapin Api itu sendiri.

4.1.4 Nilai Estetika yang Terdapat dalam Gerak Tari Zapin Api

Seni tari adalah seni yang menggunakan gerakkan tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu yang berguna untuk mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran, dan merupakan perpaduan antara raga, irama, dan rasa. Menurut pendapat Aristoteles adalah sebuah gerakan ritmis yang bertujuan untuk memberikan visualisasi karakter dan kehidupan yang dijalani oleh manusia sebagaimana mereka bertingkah laku.

Dari hasil suatau pengelolahan gerak yang telah mengalami stilisasi maka terbentuk dua jenis gerak tari, yang pertama gerak tari yang bersifat murni, kedua gerak tari yang bersifat

mankanawi. Gerak murni adalah hasil pengelolahan gerak tidak mempertimbangkan hasil dari gerak tersebut. Disini yan menjadi pertimbangan adalah faktor nilai keindahan gerak tarinya aja. Sedangkan gerak maknawi adalah gerak yang telah dibentuk

menjadi suatu gerakan tari dimana pengungkapanya mengandung pengertian dan maksud disamping keindahan saja (Supardjan dan Suparthan, 1982:8). Ditinjau dari pengungkapanya ada 2 jenis tari yaitu yang bersifat representative dan non-representatif.

Tarian yang bersifat representati adalah tarian yang memiliki makna. Sedangkan tarian yang non representatif adalah bentuk tari yang tidak mengandung makna hanya untuk kepentingan estetika saja (Supardjan dan Suparthan, 1982:10)

Tari Zapin adalah tari adat khas Riau yang jika diruntut dari sejarah merupakan sebuah akulturasi dua kebudayaan, yakni budaya Arab dan budaya Melayu pada masa lalu. Akulturasi ini terjadi karena banyaknya orang-orang yang berasal dari wilayah Arab tinggal di daerah Riau.

Sehingga terjadi perpaduan budaya dengan masyarakat melayu dan dikenang hingga saat ini. Tari Zapin adalah jenis tari berpasangan yang dipertunjukkan dalam berbagai acara

Sehingga terjadi perpaduan budaya dengan masyarakat melayu dan dikenang hingga saat ini. Tari Zapin adalah jenis tari berpasangan yang dipertunjukkan dalam berbagai acara

Dokumen terkait