• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Masyarakat Melayu Terhadap Tarian Zapin Api

BAB IV PEMBAHASAN

4.2 Sikap Masyarakat Melayu Terhadap Tarian Zapin Api

Persepsi merupakan proses terjadinya penafsiran atau interpretasi suatu individu untuk memahami lingkungan di sekitarnya melalui indera. Persepsi yang ada pada seseorang berbeda-beda walau dalam satu objek pengamatan, peristiwa, dan kejadian yang sama.

Persepsi mempengaruhi tingkah laku seseorang. Apabila suatu persepsi negatif yang timbul tentunya akan mengakibatkan tingkah laku yang kurang baik pula, begitu juga sebaliknya apabila kita memilki persepsi yang baik/positif maka tingkah laku kita akan menjadi tingkah laku yang baik pula.

Masyarakat merupakan suatu kelompok manusia yang menempati suatu wilayah tertentu, memiliki suatu keterikatan dengan norma-norma, memiliki tujuan, dan cita-cita yang sama untuk suatu keinginan, dan harapan bersama dalam membangun kehidupan suatu kelompok manusia.

Pengaruh kebudayaan yang menyamakan mereka. Seni adalah timbulnya ekspresi jiwa manusia di dalam keberlangsungan hidup manusia disertai proses kreatif manusia.Ekspresi jiwa manusia tersebut meliputi gerak, lukisan, suatu karya kerajinan, dan lain sebagainya.

Tentunya dalam mengekspresikan jiwa manusia tersebut disertai proses kreatif yaitu, berbeda dengan yang sudah ada atau yang belum pernah diciptakan sebelumnya.

Kesenian adalah bagian dari kebudayaan, termasuk di dalamnya seni tari yaitu Tari Zapin Api Pulau Rupat Riau. Kebudayaan sangat erat hubunganya dengan masyarakat. Bahwa segala sesuatu yang ada dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Dalam halnya masyarakat melayu yang memiliki tarian Zapin Api menjadi salah satu hasil kebudayaan yang sampai saat ini menjadi kebangggan dan sudah menjadi warisan tak benda dan sudah terkenal di mana-mana dan secara tidak langsung telah memperkenalkan

identitas Melayu. Banyak hal yang dilakukan masyarakat pulau Rupat Riau dalam menyikapi tari Zapin Api ini. diantaranya digunakan untuk penyebaran agama Islam dulunya dan sekarang sebagai pengisi di acara mandi safar, dan digunakan untuk acara memeriahkan berbagai kegiatan yang mengandung unsur budaya, ditilik lebih jauh lagi tarian Zapin Api ini sudah menjadi warisan budata tak benda dan menajdi ciri khas dari Pulau Rupat maupun Indonesia.

Sejak dihidupkan kembali oleh sang khalifa M. Hafis pada tahun 2006, Zapin Api dipandang sebagai suatu kebudayaan yang turun temurun dari satu generasi kegenerasi berikutnya, masyarakat setempat sangan gembira dengan dihidupkanya kembali tarian ini karena dalam tarian ini mengandung keseluruhan pengertian nilai religius, etika, norma sosial, nilai estetika dan lain-lainya.

Begitulah cara masyarakat Melayu di Pulau Rupat menyikapi tari Zapin Api, tidak ada hal negatif dalam tarian ini, tarian ini juga sebagai tonggak awal untuk melawan masuknya budaya asing, dan sudah menjadi WBTB (warisan budaya tak benda).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN

Dari Dari hasil pembahasan yang telah disampaikan pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa:

Tari Zapin Api merupakan salah satu kesenian tari tradisional dari desa Teluk Rhu Kecamatan Rupat Utara, Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau. Tarian Zapin Api hadir di tengah masyarakat sebagai tradisi yang terus dilestarikan secara turun temurun sampai saat ini.

Fungsi Tari Zapin Api dari masa pertama sekali dibentuk Seni pertunjukan tari Zapin Api di Rupat Utara bukanlah sebagai pertunjukan hiburan, tetapi lebih kepada pengembangan atau pengenalan Islam. Seorang pengembara dari Bangsa Aceh yang bernama Said Jafar, dialah orang yang pertama sekali menggubah Tari Api menjadi Zapin Api. Setelah itu diubah lirik lagu yang memuja-muji Nabi, maka Zapin Api digunakan untuk mengembangkan Agama Islam di Pulau Rupat.

Berhubung dengan perkembangan zaman dan kebutuhannya Tari Zapin Api berubah fungsi menjadi pertunjukan hiburan bagi masyarakat. Seni pertunjukan dapat dibagi kedalam 2 (dua) kelompok utama, yaitu fungsi primer dan sekunder dari seni pertunjukan. Fungsi primer yang ada dalam pertunjukan Tari Zapin Api yaitu:

1) sebagai sarana ritual, dahulunya Tari Zapin Api dijadikan sarana untuk memanggil jin api yang berguna untuk melindungi daerah rupat dari mara bahaya,

2) sebagai sarana hiburan pribadi, penikmatnya adalah pribadi-pribadi yang melibatkan diri dalam pertunjukan. Dalam pertunjukan tari Zapin Api melibatkan banyak penari dan tergolong dari berbagai jenis usia, menurut para penari dan pemusik alasan mereka menjadi pemain Tari Zapin Api untuk mengembangkan hobi mereka dan menajadi sarana hiburan, untuk berkumpul dengan teman-teman setelah letih bekerja dan mereka bermain Tari Zapin Api,

3) sebagai presentasi estetis yang pertunjukannya harus disajikan kepada penonton. Dalam hal ini Tari Zapin Api juga memiliki banyak penonton dan penikmat disetiap pertunjukannya.

Dalam hal ini estetis musik tari Zapin Api terlihat dari alat musiknya yang bernuansa tradisional, cara memainkanya, dan ritual yang dilakukan untuk alat musik Zapin Api, selain itu musik Zapin Api sebagai pelengkap suasana dramatis(mistis) pada saat pertunjukan dan beberapa fungsi musik Zapin Api sebagai berikut.

1) pengungkapan emosional, bagi pemain musik yang mengiringi penari dengan bermain musik dapat mengungkapkan emosional atau perasaan mereka yang dituangkan melalui musik,

2) hiburan, dengan adanya musik dalam Tari Zapin Api dapat menghibur banyak orang yaitu, penonton yang menyaksikan pertunjukan tersebut,

3) sarana komunikasi, dalam hal ini musik sangat berperan penting untuk sarana komunikasi si penari dan si pemusik dalam pertunjukannya,

4) perekat masyarakat, dengan hadirnya kembali Tari Zapin Api membuat masyarakat di Rupat Utara berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan ini dan mereka akan saling berinteraksi satu sama lainnya.

5) Nilai religius yang dibawakan oleh ritual tari Zapin Api memunculkan unsur kedekatan dengan hal-hal islami seperti: puasa, sholat sunnah, wudu, dzikir.

Perbedaan fungsi, nilai, ragam gerak, dan proses ritual yang dilakukan dalam tarian Zapin Api inilah yang membuat tari Zapin Api mengandung nilai keunikan dan keindahan tersendiri, terlihat jelas perbedaanya dengan tarian Zapin yang ada di Riau sendiri maupun di penjuru wilayah nusantara.

5.2 SARAN

Sebagai bangsa Indonesia, kita patut banggga akan kekayaan dan keanekaragaman budaya yang kita miliki. Jangan sampai terjadi “pengklaiman budaya “oleh bangsa lain berulang kali. Apalagi oleh Negara-negara serumpun yang notabenya dulu dipersatukan oleh kawasan Nusantara. Daerah Pulau Rupat secara geografis sangat dekat dengan Negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura.

Untuk itu mari kita lestarikan kebudayaan bangsa khususnya tari Zapin Api karena tarian ini sudah menjadi aset besar kebudayaan Melayu di Indonesia. Diharapkan juga kepada pemerintah agar memberi dukungan baik secara moril dan material kepada pelaku Zapin Api serta lebih bersemangat lagi untuk membuat even - even bertajuk kebudayaan. Kemudian apresiasi terhadap seniman atau budayawan hendak ditingkatkan lagi. Selain itu harus dicari formula bagaimana agar generasi muda lebih mencintai kebudayaan daerah dan tidak ada rasa malu untuk melestarikan kebudayaanya sendiri.

Penelitian ini berusaha menyajikan tentang nilai estetika dalam tari Zapin Api. Penulis sangat menyadari betul banyaknya kesalahan dalam penulisan dan dalam melakukan penelitian ini, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritikan dari pembaca untuk membangun dalam penelitian ini. Selanjutnya kepada Fakultas Ilmu Budaya, khususnya Sastra Melayu penulis berharap adanya praktik lapangan yang lebih intens lagi dalam pembelajaran tentang kebudayaan Melayu, misalnya tradisi lisan seperti pantun, umpama dll, kemudian tarian-tarian yang mencerminkan kebudayaan dan aset budaya yang sangat besar. Jadi setelah tamat

mahasiswa memiliki nilai plus maupun keahlian dibidang kebudayaan, apalagi diera sekarang representasi nilai budaya bagi anak muda sangat minim.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 1993. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

_______. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Alwi, Hasan. 1995.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :Balai Bahasa

Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Edwarswara, suwardi. 2003. Metodologi penelitian dan Kebudayaan. FBS UNY: Gadjah Mada Unversity Press.

Hadi, Sumandiyo.2005. “Sosiologi Tari:. Yogyakarta: Pustaka

Hadi, Y, Sumandiyo. Koreografi Kelompok, Yogyakarta: Cipta Media, 2012

Hidayat, Robb. 2011. Koreografi dan kreatifitas Pngetahuan dan Petunjuk Praktikum

Jazuli , M. 1994. Telaan Teoritis Seni Tari. Semarang : IKIP Pres.

Koreografi . Yogyakarta: Kendil Media Pustaka Seni Indonesia.

Koegjaranigrat. Sejarah Antropologi I. Jakarta: University Indonesia Press, 2009.

Nasrudin, Ghose. 1994. Tarian Melayu. Kuala Lumpur. Dewan Bahasa Dan Pustaka Kementrian Pendididkan Malaysia.

Nawawi, Handari. 1987. Metode penelitian Bidang Sosial. FES Universitas Negri Medan.

Panji (2010) Etika Pergaulan Pemuda-Pemudi Melayu dalam Tarian Serampang XII : Tinjauan Sosiologi Sastra Universitas Sumatra Utara.

Rahayu (2015) Karya Estetis KoreografisTari Gamyong Retno Kusomo.Universitas Negri Malang.

Rizanti (2016) Nilai Estetis Tari Renggang Manis di Kabupateng Pekalongan. Universitas Negeri Semarang.

Sudjana, 1998. Pengantar Penalitian Ilmiah. Bandung.

Sugiono. 2014. Memahami Penalitian Kualitatif. Bandung. CV. Alfabeta

Supanggah, R. Etnomusikolog. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1995.

Susetyo, Bagus. Pengkajian Seni Pertunjukan. Semarang: Sendratasik FBS UNNES 2007.

Takari, M, Fadlin. 2014. Ronggeng dan Serampang Dua Belas. Medan: USU Press

LAMPIRAN

A. DOKUMENTASI

Gambar 11 (dokumentasi Piagam Penghargaan kepada Khalifa Zapin Api)

Gambar 12 (dokumentasi Piagam Penghargaan kepada Sanggar Sake)

Gambar 13 (dokumentasi Pemusik Zapin Api Sedang berlatih )

Gambar 14 (dokumentasi Pemain musik Zaipin Api pada saat tarian Zapin Api berlangsung)

Gambar 15 (dokumentasi bersama salah satu tokoh adat di pulau Rupat Utara)

Gambar 16 (Dokumentasi bersama salah satu tokoh adat di pulu Rupat Utara)

Gambar 17 (Dokumentasi bersama pemain Tari Zapin Api)

Gambar 18 (Dokumentasi wawancara dengan Khalifa Zapin Api)

DAFTAR INFORMAN

1. NAMA : M. Hafis USIA : 34 Tahun

PEKERJAAN : Seniman (Khalifa Zapin Api)

2. NAMA : Muhammad Syawuden USIA : 23 Tahun

PEKERJAAN : Penjaga Api

3. NAMA : Azlan USIA : 30 Tahun PEKERJAAN : Penari Api

4. NAMA : Muhammad Rahmi USIA : 20 Tahun

PEKERJAAN: Penari Api

Dokumen terkait