• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keragaan Kesejahteraan Rumahtangga Petani

KERAGAAN RUMAHTANGGA PERTANIAN DAN KESEJAHTERAAN PETANI

4.2. Keragaan Kesejahteraan Rumahtangga Petani

Secara makro, kesejahteraan masyarakat pertanian diukur melalui produktivitas pertanian, yaitu rasio antara PDB pertanian dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat di sektor pertanian (petani dan buruh). Dalam kurun waktu 2000-2011, produktivitas pertanian cenderung paling rendah dibandingkan sektor lain, seperti terangkum dalam Gambar 4.1. Namun demikian, selama kurun waktu 2000-2011, produktivitas sektor pertanian meningkat dari Rp 5,3 juta/kap/tahun pada tahun 2000 menjadi Rp 8,0 juta/kap/tahun pada tahun 2011, atau peningkatan rata-rata sebesar 3,37 persen/tahun. Produktivitas tertinggi ditunjukkan oleh sektor industri pengolahan yang meningkat dari Rp 33,1 juta/kap/tahun pada tahun 2000, menjadi Rp 43,6 juta/kap/tahun pada tahun 2011, atau peningkatan rata-rata sebesar 2,72 persen/tahun. Sektor lain, di luar pertanian menunjukkan peningkatan produktivitas dalam kurun waktu 2000-2011.

Secara keseluruhan, produktivitas nasional meningkat dari Rp 15,5 juta/kap/tahun pada tahun 2000, menjadi Rp 22,5 juta/kap/tahun pada tahun 2011, atau peningkatan rata-rata sebesar 3,35 persen/tahun (Gambar 4.1 dan Tabel 4.25).

Gambar 4.1. Perkembangan Produktivitas per Sektor, 2000-2011.

Diantara lima sektor terpilih, laju pertumbuhan PDB tertinggi ditunjukkan oleh sektor perdagangan, rumah makan, hotel, yaitu sebesar 6,15 persen/tahun, sedangkan laju pertumbuhan PDB terendah ditunjukkan sektor pertanian, yang hanya mencapai 3,41 persen/tahun. Sektor dengan laju pertumbuhan tenaga kerja tertinggi ditunjukkan oleh sektor bangunan, yaitu sebesar 4,75 persen/tahun, sedangkan sektor pertanian laju pertumbuhan tenaga kerjanya paling rendah, sebesar 0,04 persen/tahun. Produktivitas lima sektor terpilih menunjukkan laju pertumbuhan yang positif (cenderung meningkat), atau sejalan dengan laju pertumbuhan produktivitas nasional. Diantara sektor terpilih, laju pertumbuhan produktivitas sektor jasa adalah terendah dibanding sektor lain. Hal

ini sejalan dengan pertumbuhan tenaga kerja yang terlibat di sektor jasa yang meningkat cukup besar.

Tabel 4.25. Laju Pertumbuhan PDB, Tenaga Kerja, dan Produktivitas Sektor Terpilih, 2000-2011

Sektor Laju Pertumbuhan (Persen/Tahun)

PDB Tenaga Kerja Produktivitas

Pertanian, Kehutanan, Perikanan 3,41 0,04 3,37

Industri Pengolahan 4,50 1,79 2,72

Bangunan 6,99 4,75 2,24

Perdagangan, Rumah Makan, Hotel 6,15 2,70 3,45

Jasa 5,43 4,72 0,72

Total 5,28 1,93 3,35

Sumber: Statistik Indonesia 2001-2012 (diolah).

Peningkatan laju produktivitas pertanian yang tinggi dibanding laju PDBnya sejalan dengan menurunnya beban tenaga kerja di sektor pertanian. Hal ini membawa implikasi penting bahwa tumbuhnya sektor di luar pertanian yang mengalihkan beban tenaga kerja dari pertanian ke non pertanian telah memperbaiki produktivitas pertanian.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh tumbuhnya sektor-sektor pembangunan ternyata belum sepenuhnya mengentaskan kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan. Pertumbuhan ekonomi memang telah menurunkan jumlah penduduk miskin, namun jumlah penduduk miskin masih cukup besar. Dalam kurun waktu tahun 1980-2012 jumlah penduduk miskin Indonesia mengalami peningkatan jumlah, namun persentasenya terhadap total jumlah penduduk menurun.

Dalam tahun 2012 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 29,13 juta jiwa atau 11,96 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah penduduk miskin terbesar masih terdapat di pedesaan, yaitu 18,48 juta jiwa atau 15,12 persen dari jumlah penduduk pedesaan. Sementara jumlah penduduk miskin di perkotaan sebesar 10,65 juta jiwa atau 8,78 persen dari jumlah penduduk perkotaan (Tabel 4.26).

ini sejalan dengan pertumbuhan tenaga kerja yang terlibat di sektor jasa yang meningkat cukup besar.

Tabel 4.25. Laju Pertumbuhan PDB, Tenaga Kerja, dan Produktivitas Sektor Terpilih, 2000-2011

Sektor Laju Pertumbuhan (Persen/Tahun)

PDB Tenaga Kerja Produktivitas

Pertanian, Kehutanan, Perikanan 3,41 0,04 3,37

Industri Pengolahan 4,50 1,79 2,72

Bangunan 6,99 4,75 2,24

Perdagangan, Rumah Makan, Hotel 6,15 2,70 3,45

Jasa 5,43 4,72 0,72

Total 5,28 1,93 3,35

Sumber: Statistik Indonesia 2001-2012 (diolah).

Peningkatan laju produktivitas pertanian yang tinggi dibanding laju PDBnya sejalan dengan menurunnya beban tenaga kerja di sektor pertanian. Hal ini membawa implikasi penting bahwa tumbuhnya sektor di luar pertanian yang mengalihkan beban tenaga kerja dari pertanian ke non pertanian telah memperbaiki produktivitas pertanian.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh tumbuhnya sektor-sektor pembangunan ternyata belum sepenuhnya mengentaskan kemiskinan baik di perkotaan dan pedesaan. Pertumbuhan ekonomi memang telah menurunkan jumlah penduduk miskin, namun jumlah penduduk miskin masih cukup besar. Dalam kurun waktu tahun 1980-2012 jumlah penduduk miskin Indonesia mengalami peningkatan jumlah, namun persentasenya terhadap total jumlah penduduk menurun.

Dalam tahun 2012 jumlah penduduk miskin di Indonesia sebesar 29,13 juta jiwa atau 11,96 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah penduduk miskin terbesar masih terdapat di pedesaan, yaitu 18,48 juta jiwa atau 15,12 persen dari jumlah penduduk pedesaan. Sementara jumlah penduduk miskin di perkotaan sebesar 10,65 juta jiwa atau 8,78 persen dari jumlah penduduk perkotaan (Tabel 4.26).

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa rumahtangga miskin mempunyai sumber penghasilan utama dari sektor pertanian. Sementara rumahtangga tidak miskin mempunyai sumber penghasilan utama di luar sektor formal, seperti jasa.

Tabel 4.26. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, 2000-2012

Tahun 1980 1990 2000 2012*

Pedesaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 32,8 17,8 26,4 18,48

persen thd Penduduk Pedesaan 28,4 14,3 22,38 15,12

Perkotaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 9,5 9,4 12,3 10,65

persen thd Penduduk Perkotaan 29,0 16,8 14,6 8,78

Perdesaan + Perkotaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 42,3 27,2 38,7 29,13 persen thd Penduduk Perdesaan +

Perkotaan 28,6 15,1 19,14 11,96

*Maret 2012.

Sumber: Statistik Indonesia, 1980, 1990, 2000, 2012 (Diolah).

Pada tahun 2012, kelompok rumahtangga miskin yang mempunyai sumber penghasilan utama dari pertanian sebesar 55,51 persen, atau persentase tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode tahun 2010 yang menempati proporsi 57,78 persen. Pada rumahtangga tidak miskin proporsi rumahtangga yang berpenghasilan utama dari pertanian juga menurun (Tabel 4.27).

Tabel 4.27. Sumber Penghasilan Utama Rumahtangga (%)

Karakteristik Rumahtangga Miskin Rumahtangga Tidak Miskin

2010 2011 2012 2010 2011 2012

Tidak bekerja 8,39 11,67 11,50 5,85 11,61 11,29

Pertanian 57,78 56,62 55,51 34,60 32,06 32,69

Industri 8,81 6,27 5,71 10,67 9,04 9,23

Lainnya 25,03 25,4 27,28 48,89 47,29 46,79

Sumber: Statistik Indonesia 2012 (BPS).

Indikator lain yang mencerminkan keragaan kesejahteraan masyarakat dapat dinilai dari struktur pengeluaran rumahtangga. Terdapat indikasi semakin Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa rumahtangga miskin mempunyai sumber penghasilan utama dari sektor pertanian. Sementara rumahtangga tidak miskin mempunyai sumber penghasilan utama di luar sektor formal, seperti jasa.

Tabel 4.26. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, 2000-2012

Tahun 1980 1990 2000 2012*

Pedesaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 32,8 17,8 26,4 18,48

persen thd Penduduk Pedesaan 28,4 14,3 22,38 15,12

Perkotaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 9,5 9,4 12,3 10,65

persen thd Penduduk Perkotaan 29,0 16,8 14,6 8,78

Perdesaan + Perkotaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 42,3 27,2 38,7 29,13 persen thd Penduduk Perdesaan +

Perkotaan 28,6 15,1 19,14 11,96

*Maret 2012.

Sumber: Statistik Indonesia, 1980, 1990, 2000, 2012 (Diolah).

Pada tahun 2012, kelompok rumahtangga miskin yang mempunyai sumber penghasilan utama dari pertanian sebesar 55,51 persen, atau persentase tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode tahun 2010 yang menempati proporsi 57,78 persen. Pada rumahtangga tidak miskin proporsi rumahtangga yang berpenghasilan utama dari pertanian juga menurun (Tabel 4.27).

Tabel 4.27. Sumber Penghasilan Utama Rumahtangga (%)

Karakteristik Rumahtangga Miskin Rumahtangga Tidak Miskin

2010 2011 2012 2010 2011 2012

Tidak bekerja 8,39 11,67 11,50 5,85 11,61 11,29

Pertanian 57,78 56,62 55,51 34,60 32,06 32,69

Industri 8,81 6,27 5,71 10,67 9,04 9,23

Lainnya 25,03 25,4 27,28 48,89 47,29 46,79

Sumber: Statistik Indonesia 2012 (BPS).

Indikator lain yang mencerminkan keragaan kesejahteraan masyarakat dapat dinilai dari struktur pengeluaran rumahtangga. Terdapat indikasi semakin

Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa rumahtangga miskin mempunyai sumber penghasilan utama dari sektor pertanian. Sementara rumahtangga tidak miskin mempunyai sumber penghasilan utama di luar sektor formal, seperti jasa.

Tabel 4.26. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia, 2000-2012

Tahun 1980 1990 2000 2012*

Pedesaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 32,8 17,8 26,4 18,48

persen thd Penduduk Pedesaan 28,4 14,3 22,38 15,12

Perkotaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 9,5 9,4 12,3 10,65

persen thd Penduduk Perkotaan 29,0 16,8 14,6 8,78

Perdesaan + Perkotaan

Jumlah Penduduk Miskin (juta jiwa) 42,3 27,2 38,7 29,13 persen thd Penduduk Perdesaan +

Perkotaan 28,6 15,1 19,14 11,96

*Maret 2012.

Sumber: Statistik Indonesia, 1980, 1990, 2000, 2012 (Diolah).

Pada tahun 2012, kelompok rumahtangga miskin yang mempunyai sumber penghasilan utama dari pertanian sebesar 55,51 persen, atau persentase tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan periode tahun 2010 yang menempati proporsi 57,78 persen. Pada rumahtangga tidak miskin proporsi rumahtangga yang berpenghasilan utama dari pertanian juga menurun (Tabel 4.27).

Tabel 4.27. Sumber Penghasilan Utama Rumahtangga (%)

Karakteristik Rumahtangga Miskin Rumahtangga Tidak Miskin

2010 2011 2012 2010 2011 2012

Tidak bekerja 8,39 11,67 11,50 5,85 11,61 11,29

Pertanian 57,78 56,62 55,51 34,60 32,06 32,69

Industri 8,81 6,27 5,71 10,67 9,04 9,23

Lainnya 25,03 25,4 27,28 48,89 47,29 46,79

Sumber: Statistik Indonesia 2012 (BPS).

Indikator lain yang mencerminkan keragaan kesejahteraan masyarakat dapat dinilai dari struktur pengeluaran rumahtangga. Terdapat indikasi semakin

tinggi pendapatan/kesejahteraan, semakin kecil proporsi pengeluaran untuk makanan. Sementara proporsi untuk konsumsi barang bukan makanan cenderung meningkat. Data tahun 2002-2011 menunjukkan gambaran tersebut. Proporsi pengeluaran rumahtangga untuk makanan menurun dari 58,47 persen menjadi 49,45 persen, atau turun sebesar 1,54 persen/tahun. Sementara proporsi untuk bukan makanan meningkat dari 41,53 persen menjadi 50,55 persen, atau meningkat sebesar 2,17 persen/tahun (Tabel 4.28).

Pada kelompok makanan konsumsi terjadi penurunan pada semua kelompok barang, kecuali makanan dan minuman jadi. Penurunan terbesar terjadi pada padi-padian (makanan pokok), menyusul daging, minuman, dan bumbu-bumbuan. Pada kelompok bukan makanan terjadi peningkatan pengeluaran konsumsi kecuali untuk kelompok barang pakaian, alas kaki, dan tutup kepala serta keperluan pesta dan upacara. Peningkatan pengeluaran terbesar terjadi untuk pajak dan asuransi, disusul barang-barang tahan lama, barang dan jasa, biaya pendidikan, biaya kesehatan, serta perumahan dan fasilitas rumahtangga.

Tabel 4.28. Struktur Pengeluaran Rumahtangga Per Kapita Per Bulan, 2002 dan 2011 (Rp/Kap/Bulan)

Kelompok Barang 2002 2011 Perubahan

(persen/Th Rp/Kap perse )

n Rp/Kap perse n

A. Makanan 120.649 58,47 293.556 49,45 -1,54

Padi-padian 25.722 12,47 44.427 7,48 -4,00

Umbi-umbian 1.329 0,64 3.008 0,51 -2,13

Ikan 10.675 5,17 25.369 4,27 -1,74

Daging 5.903 2,86 10.972 1,85 -3,54

Telur dan susu 6.760 3,28 17.106 2,88 -1,20

Sayur-sayuran 9.750 4,73 25.563 4,31 -0,89

Kacang-kacangan 4.161 2,02 7.500 1,26 -3,74

Buah-buahan 5.868 2,84 12.759 2,15 -2,44

Minyak dan lemak 4.642 2,25 11.342 1,91 -1,51

Bahan minuman 5.589 2,71 10.681 1,80 -3,36

Bumbu-bumbuan 3.202 1,55 6.268 1,06 -3,20

Konsumsi lainnya 2.826 1,37 6.381 1,07 -2,15

Makanan dan minuman jadi 20.012 9,70 81.536 13,73 4,16 Minuman yang mengandung

alkohol 170 0,08 - 0,00

-Tembakau dan sirih 14.041 6,80 30.647 5,16 -2,41

B. Bukan Makanan 85.687 41,53 300.108 50,55 2,17 Perumahan dan fasilitas RT 36.734 17,80 118.218 19,91 1,19

Barang dan Jasa 15.475 7,50 66.757 11,24 4,99

Biaya Pendidikan 5.100 2,47 21.580 3,64 4,71

Biaya Kesehatan 4.333 2,10 18.075 3,04 4,50

Pakaian, alas kaki, dan tutup

kepala 10.692 5,18 11.987 2,02 -6,10

Barang-barang tahan lama 8.470 4,10 44.657 7,52 8,32

Pajak dan asuransi 1.648 0,80 9.731 1,64 10,52

Keperluan pesta dan upacara 3.235 1,57 9.101 1,53 -0,22

TOTAL 206.336 100,0

0 593.664 100 0,00

Sumber: Statistik Indonesia, 2002, 2012 (Diolah).

BAB V