• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5. Keragaan Tanaman Padi

Amelioran berupa tanah mineral, kompos, dan terak baja yang diarahkan untuk memperbaiki kualitas tanah bertekstur pasir mempunyai pengaruh sangat nyata secara statistik terhadap pertambahan tinggi tanaman, tetapi mempunyai koefisien keragaman sangat tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa ada beberapa perlakuan tidak mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi gogo., Perlakuan tersebut adalah jumlah dosis yang diberikan, bisa terlalu tinggi tapi bisa juga terlalu rendah.

Pada Gambar 19 dapat dilihat dengan jelas, bahwa penambahan clay dari tanah mineral mampu mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman, makin banyak clay makin baik tanamannya. Pengaruh perlakuan

45 kompos sejalan dengan pemberian tanah mineral, sedangkan perlakuan terak baja memberikan pengaruh sebaliknya. Penambahan dosis terak baja yang diberikan ke dalam media tanam tanah berpasir memberi pengaruh jelek pada pertumbuhan tanaman padi. Pertumbuhan tanaman padi terhambat pada perlaluan terak baja sejumlah 8 ton.ha-1 disebabkan oleh terhambatnya penyerapan hara dari dalam media tanam oleh perakaran tanaman.

4.5.2. Jumlah anakan

Parameter jumlah anakan tanaman padi merupakan parameter yang baik untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman di rumah kaca dibandingkan dengan parameter tinggi tanaman. Sampai dengan 12 MST jumlah anakan padi gogo Kalimutu belum bertambah, banyaknya sama dengan ketika ditanam. Pada minggu ke 16 MST jumlah anakan padi gogo pada pot tertentu bertambah banyak sehingga menghasilkan perbedaan sangat nyata pada taraf kepercayaan 99% secara statistik.

Gambar 19. Keragaan tanaman padi gogo pada umur 10 MST (A: tanah mineral 0, 20, 40, 80 ton ha-1 ditambah 20 ton kompos ha-1 dan 8 ton terak baja ha-1, B: kompos 0, 5, 10, 20 ton ha-1 ditambah 80 ton tanah mineral ha-1 dan 8 ton terak baja ha-1, C: terak baja 0, 2, 4, 8 ton ha-1 ditambah 80 ton tanah mineral ha-1 dan 20 ton kompos ha-1)

Padi gogo varietas Kelimutu mempunyai sifat jumlah anakan produktif 6 - 8 buah jika ditanam pada tanah subur, berumur pendek yaitu 90-95 hari. Sifat tanaman tersebut berubah ketika ditanam pada media tanam yang bertekstur pasir diantaranya umurnya bertambah menjadi 120 hari. Pada saat tanaman berumur 95 hari, kulit buah padi masih terlihat hijau dan belum terisi

46 penuh, menjelang berumur 16 MST sebagian besar bulir (> 80%) terlihat kuning dan menunjukkan sudah saatnya dipanen.

Pemberian tanah mineral ditambah campuran kompos 10 ton ha-1 dan terak baja 4 ton ha-1 (Gambar 20) tidak memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah anakan produktif padi gogo, tetapi jumlah anakan tanaman padi gogo meningkat sesuai dengan meningkatnya jumlah pemberian tanah mineral.

Gambar 20. Jumlah anakan dan anakan produktif padi gogo pada per-lakuan tanah mineral + 10 ton kompos ha-1 dan 4 ton terak baja ha-1.

Gambar 21. Jumlah anakan dan anakan produktif padi gogo pada per-lakuan kompos (K) + 40 ton tanah mineral ha-1 dan 4 ton terak baja ha- 1

.

Respon tanaman padi gogo terhadap perlakuan pemberian kompos disajikan pada Gambar 21. Jumlah anakan meningkat sesuai dengan meningkatnya jumlah kompos yang diberikan jika perlakuan kompos ditambah dengan campuran 40M + 4T. Hal ini memberikan petunjuk bahwa semua

47 komponen ameliorant akan memperoleh respon positif dari tanaman hanya jika media tanam mengandung 40M+4T. Jika jumlah kompos lebih rendah atau lebih tinggi pengaruh kompos terhadap jumlah anakan tidak dominan.

Tanaman padi varietas Kalimutu memberikan respon negatif terhadap pemberian terak baja mulai pada dosis 4 ton ha-1 walaupun dicampur dengan tanah mineral mencapai 40 ton ha-1 atau pun kompos 10 ton ha-1. Pemberian perlakuan terak baja sebanyak 8 ton ha-1 memberikan anakan dan anakan produktif yang tumbuh paling sedikit jumlahnya (Gambar 22).

Gambar 22. Jumlah anakan dan anakan produktif padi gogo pada per-lakuan terak baja + diberi 40 ton tanah mineral ha-1 dan 10 ton kompos ha-1.

Terak baja memberikan pengaruh positif setelah diinkubasikan lebih dari 3 bulan (12 MST), sebab pada 16 MST semua perlakuan yang mendapat terak baja tumbuh tunas baru dan memperbanyak jumlah anakan, walaupun jumlah anakan produktifnya tetap sama dengan ketika 12 MST. Terak baja yang telah diinkubasikan > 3 bulan tidak menjadi penghambat pertumbuhan tanaman padi gogo. Tanaman induk sebetulnya sudah berhenti tumbuh pada umur 12 MST karena malai yang terbentuk mencapai fase matang fisiologis. tetapi belum mencapai fase matang sempurna karena kulit gabah masih berwarna hijau, sehingga muncul anakan baru yang nantinya sering dikenal sebagai turiang.

4.5.3. Kondisi tanaman menjelang panen

Dari benih sejumlah 3 butir yang ditanam, sampai umur 12 MST tidak menambah jumlah anakan lebih dari jumlah yang ditanam, tanaman ini tidak membentuk tunas baru sampai tanaman berumur 16 MST. Jumlah anakan

48 tidak bertambah karena tanaman memerlukan masa adaptasi yang lebih lama. Anakan yang tumbuh setelah tanaman padi berumur 12 MST, mampu mengeluarkan malai tetapi tidak menghasilkan gabah bernas saat dipanen (Gambar 23D, E). Terdapat dua kemungkinan yang menyebabkan perilaku tanaman padi bertunas setelah berumur 12 MST, yaitu (1) penambahan terak baja memperlambat kematangan gabah tanaman padi tetapi mempercepat terbentuknya anakan baru, dan (2) adaptasi tanaman padi sangat lambat terhadap keberadaan bahan-bahan amelioran yang dikandung terak baja. Beberapa tanaman yang tumbuh pada pot dengan terak baja 8 ton ha-1 dan tanah mineral 80 ton ha-1 walaupun diberi kompos menunjukkan gejala keracunan besi (Gambar 23B), dan menunjukkan gejala defisiensi unsur hara (Gambar 23A, 23C).

Gambar 23 Daun padi mengalami kekurangan/kelebihan hara (A, B, C), malai yang tidak sempurna (D, E) serta walang sangit pada buah padi gogo (F).

4.5.4. Bobot kering tanaman

Bobot kering tanaman berupa jerami, malai dan gabah bernas berbeda sangat nyata secara statistic, namun mempunyai keragaman yang tinggi (Tabel 6). Perbedaan tersebut disebabkan oleh kombinasi perlakuan tanah

A

B

C

49 mineral, kompos, dan terak baja yang digunakan dalam merehabilitasi lahan pasir bekas penambangan. Terdapat amelioran yang bisa dimanfaatkan langsung oleh tanaman dan ada juga yang memerlukan inkubasi dalam waktu lebih lama untuk dapat dimanfaatkan oleh padi Kalimutu.

Gambar 24 menunjukkan bahwa malai hasil panen memberikan respon yang tidak sama terhadap perlakuan tanah mineral, kompos dan terak baja. Tanah mineral dicampur dengan 20 ton ha-1 kompos dan terak baja 8 ton ha-1 menghasilkan malai padi yang lebih seragam (Gambar 24A). Respon tanaman terhadap pemberian kompos sangat baik, makin banyak kompos diberikan makin banyak gabah bernas pada malainya (Gambar 24B), sebaliknya peningkatan jumlah terak baja menurunkan hasil (Gambar 24C).

Gambar 24. Malai pada perlakuan (A): tanah mineral + 20 ton kompos ha-1 dan 8 t terak baja ha-1, (B): kompos + 80 ton tanah mineral ha-1 dan 8 t terak baja ha-1, (C): terak baja + 80 ton tanah mineral ha-1 dan 20 ton kompos ha-1

Media tanam tanah mineral dengan 10 ton ha-1 kompos dan 4 ton ha-1 terak baja, atau perlakuan peningkatan clay mencapai 3.2 % dengan pemberian 40 ton ha-1 tanah mineral memberikan bobot kering jerami dan gabah bernas paling rendah (Gambar 25). Hal tersebut terlihat juga pada media tanam dengan amelioran tanah mineral yang ditambah 20 ton ha-1 kompos dan 8 ton ha-1 terak baja (Gambar 25) hanya bobot kering jerami dan daun yang jumlahnya meningkat menjadi 8 - 9 gram. Perlakuan dengan tanah mineral 20 ton ha-1 menghasilkan bobot kering jerami terendah.

Secara umum peningkatan jumlah clay sebanyak 0.34%, 0.67%, dan 1.33% yang berasal dari tanah mineral 20 ton ha-1, 40 ton ha-1, dan 80 ton ha-1, tidak menunjukkan adanya pengaruh positif terhadap peningkatan bobot kering gabah bernas. Jumlah clay yang diberikan ke dalam tanah berpasir masih terlalu sedikit, sehingga belum mampu memperbaiki kualitas tanah bertekstur pasir.

50 Gambar 25. Bobot kering brangkas (jerami + tangkai buah) padi gogo pada

perlakuan tanah mineral (0, 20, 40, 80 ton ha-1)

Gambar 26. Bobot kering gabah bernas pada perlakuan tanah mineral (0, 20, 40, 80 ton ha-1)

Bobot kering jerami yang mencapai 6 – 8 gram pada pasir tailing yang diberi tanah mineral ditambah 20 ton ha-1 kompos dan 8 ton ha-1 terak baja disebabkan tumbuhnya tunas-tunas baru yang tidak peroduktif setelah tanaman berumur > 12 MST. Penggunaan terak baja sebanyak 8 ton ha-1 memperlambat kematangan gabah, tetapi merangsang pertumbuhan tunas baru atau turiang lebih cepat. Respon tanaman yang lambat terhadap penambahan terak baja karena terak baja memerlukan inkubasi lebih lama untuk proses degradasi. Terak baja yang telah mengalami degradasi mampu memberikan pengaruh yang dapat direspon oleh tanaman dengan menumbuhkan tunas-tunas baru (turiang). Jadi setelah terak baja mengalami degradasi, unsur hara yang dikandungnya menjadi tersedia bagi tanaman padi.

51 Semua perlakuan amelioran yang tidak menggunakan kompos, tanaman padi hanya menghasilkan bahan hijauan dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan pada perlakuan yang diberi tambahan kompos (Gambar 27). Walaupun amelioran dalam bentuk tanah mineral dan terak baja masing- masing ditingkatkan menjadi 80 ton ha-1 dan 8 ton ha-1, tanpa pemberian kompos, tanaman padi tidak menghasilkan gabah (Gambar 28). Padi akan menghasilkan gabah jika kompos ditambahkan ke dalam formula pembenah tanah. Jumlah gabah yang dihasilkan oleh tanaman padi akan meningkat sesuai dengan meningkatnya jumlah kompos yang diberikan. Amelioran kompos dapat digantikan oleh amelioran lain yang berasal dari bahan organik.

Gambar 27. Bobot kering brangkas padi gogo pada perlakuan kompos (0, 5, 10 20 ton ha-1)

Gambar 28. Bobot kering gabah bernas pada perlakuan kompos (0, 5, 10, 20 ton ha-1)

Bahan organik berupa kompos, pupuk kandang, humus, dan lain-lain menjadi bahan yang tidak boleh dikesampingkan dalam merehabilitasi pasir

tailing. Percobaan ini meneguhkan hasil penelitian terdahulu bahwa bahan organik mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam mencapai keberhasilan rehabilitasi lahan. Hamparan pasir tailing yang hanya

52 mempunyai 0.12% C-organik tidak mampu untuk mendukung pertumbuhan padi gogo, apalagi sampai menghasilkan gabah. Rehabilitasi akan memberikan pengharapan keberhasilan jika ditambahkan bahan organik, paling tidak untuk mendekati 0.5% C-organik, namun sebaiknya ditingkatkan menjadi > 1%. Sutono (1999) menyatakan bahwa tanaman jagung turun produksinya jika ditanam pada tanah yang mengandung bahan organik < 1%.

Terak baja dibutuhkan sebagai sumber Ca bagi tanah bertekstur pasir, walaupun jumlahnya paling tinggi 3 ton ha-1 karena jika lebih banyak akan menjadi penghambat kecepatan dan kematangan buah. Selain itu, pemberian terak baja mempunyai potensi menurunkan bobot kering hasil panen berupa brangkas dan gabah (Gambar 29 dan 30).

Gambar 29. Bobot kering brangkas padi gogo pada perlakuan terak baja (0, 2, 4, 8 ton ha-1)

Gambar 30. Bobot kering gabah bernas pada perlakuan terak baja (0, 2, 4, 8 ton ha-1)

Persamaan regresi dengan metode stepwise disajikan pada Tabel 11, menunjukkan bahwa jumlah bobot bahan kering hasil panen sangat dipengaruhi oleh pemberian kompos dan terak baja. Makin banyak pemberian

53 kompos makin banyak hasil panen jika tidak dihambat oleh penggunaan terak baja, karena terak baja memberikan indikasi menghambat perolehan hasil panen biomas atau brangkas kering.

Tabel 11. Persamaan regresi pengaruh pembenah tanah terhadap bobot kering hasil panen tanaman padi gogo.

Model Persamaan regresi Nilai R

Biomas kering

K y = 3.137 + 0.400K 0.618**

K, T y = 6.040 + 0.466K – 0.870T 0.840**

Malai kering

K y = 2.425 + 0.059K 0.218**

Gabah kering giling (GKG)

K y = 1.745 + 0.072K 0.272**

Keterangan: **) = sangat nyata

Peningkatan hasil gabah kering giling sangat dipengaruhi pembe-rian kompos (Table 11). Hal ini menunjukkan bahwa pembenah tanah yang diformulasikan dari tanah mineral, kompos, dan terak baja sebaiknya menggunakan proporsi dari hasil penelitian ini sebagai acuan karena peningkatan clay sangat diperlukan dalam memperbaiki sifat fisika tanah sekaligus membangun lingkungan perakaran tanaman.

Memperbaiki tingkat kesuburan fisik dan kimia tanah pasir tailing bekas penambangan timah dengan meningkatkan kandungan clay dan bahan organik masih memerlukan penelaahan lebih lanjut terutama hubungan antara tanah – air – tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah hara yang diberikan ke dalam tanah masih dapat disimpan oleh tubuh tanah, tetapi pemanfaatanya oleh tanaman padi gogo masih terkendala.

Tingginya BD tanah yang mencapai > 1.5 g.cm-3 menghambat per- tumbuhan dan produksi biomassa tanaman karena buruknya kapasitas air tersedia dan aerasi, sehingga pertumbuhan akar terganggu dan menga- kibatkan terhambatnya serapan hara dan air oleh tanaman (Shrestha and Lal, 2011). Selanjutnya dikemukakan bahwa perubahan BD akibat adanya penambangan dan reklamasi juga bergantung kepada kedalaman tanah. Peningkatan BD pada kedalaman 0-15 cm lebih tinggi (6 - 54%) dibandingkan pada kedalaman 30-45 cm (1 - 18%) hal ini disebabkan pada lapisan permukaan intensitas pemadatan saat reklamasi berlangsung lebih intensif dibandingan dengan lapisan bawahnya.

54

Dokumen terkait