• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

4.2. Kinerja Kawasan Agropolitan

4.2.3. Keragaan Usahatani

a. Kawasaan Agropolitan Pacet Kabupaten Cianjur

Lokasi kajian kawasan agropolitan Kabupaten Cianjur difokuskan di Kecamatan Pacet dan Sukaresmi. Sesuai dengan kondisi topografi dan agroklimatnya, tanaman yang dominan dikembangkan di kawasan ini adalah tanaman hortikultur atau tanaman sayuran. Berbeda dengan sistem usahatani di lokasi kajian lainnya, petani di daerah ini cenderung melakukan sistem tumpang sari atau polikultur. Dalam satuan luas lahan ditanami beragam jenis komoditas. Sistem pertanian tumpang sari atau sering disebut pula diversifikasi merupakan upaya untuk mengurangi resiko pasar berupa perubahan harga ketika panen. Perubahan harga yang merugikan salah satu komoditas akan dikompensasi dengan kenaikan harga komoditas lainnya.

Pola tanam polikultur ini mempersulit pe nghitungan atau analisis usahatani jika fokus utama ditujukan kepada mencari biaya produksi per unit komoditas.

Penggunaan faktor produksi cenderung bersifat joint cost. Pemakaian faktor

produksi ditujukan untuk semua komoditas. Seperti aplikasi pupuk tidak khusus untuk satu tanaman tapi juga digunakan untuk tanaman lain. Di samping sulit menghitung tingkat biaya per unit juga kesulitan memperkirakan produktivitas per satuan luas.

Untuk melihat sejauh mana usahatani di lokasi kajian menguntungkan atau tidak digunakan analisis R/C rasio. Bagi kasus di Cianjur rasio R/C bersifat gabungan. Secara metodologis, komoditas yang menjadi acuan sampling hanya lima jenis. Namun dalam wawancara petani sampel menanam beragam jenis sayuran dalam satuan luas yang sama. Dengan demikian analisis usahatani dilakukan dengan memperhitungkan semua tanaman yang ada dalam lahan tersebut. Petani di kawasan agropolitan Cianjur diidentifikasi menanam sayuran seperti wortel, brokoli, bawang daun, cabai, sawi, daun mint, caisin, kol dan pastly. Dari sudut penerimaan, cabai, bawang daun dan wortel merupakan produk utama petani di kawasan ini. Nilai penerimaan untuk ketiga tanaman tersebut adalah Rp. 11.200.000,- , Rp. 2.877.600,- dan Rp. 2.580.000,-. Total rata-rata penerimaan usahatani di Cia njur sebesar Rp. 19.441.822,- selama satu musim tanam.

Luas tanaman bervariasi dari 500 m2 sampai 4.000 m2. Jarang ditemukan petani dengan pengusahaan luas lebih dari 10.000 m2. Dengan demikian petani di kawasan agropolitan Cianjur termasuk petani kec il. Pengusahaan lahan yang terbatas disebabkan oleh adanya fragmentasi lahan. Di samping itu tekanan penggunaan lahan untuk tujuan lain, misalnya properti, mempercepat proses fragmentasi lahan tersebut.

Beragamnya tanaman yang diusahakan memperlihatkan kemampuan petani dalam merespon pasar. Tanaman seperti brokoli, mint dan pastly bukan merupakan tanaman asli Indonesia. Tanaman ini memiliki harga jual yang relatif tinggi. Namun petani tidak mau berspekulasi menamam secara monokultur karena pertimbangan resiko dan daya serap pasar yang masih rendah. Tanaman ini dijual bukan untuk kalangan masyarakat biasa atau berpendapatan rendah. Konsumen targetnya adalah konsumen perkotaan yang memiliki pendapatan yang tinggi. Oleh karena itu pasar yang ditujunya adalah supermarket atau restoran.

Dari sudut biaya, total biaya produksi yang diperhitungkan sebesar Rp. 11.994.654,-. Pe nghitungan biaya yang diperhitungkan dimaksudkan untuk melihat seberapa jauh petani melakukan proses kompensasi atas sumberdaya yang dimilikinya. Analisis yang menihilkan biaya yang diperhitungkan akan memberikan

informasi yang salah. Hasil analisis akan bersifat over-estimate. Secara finansial

dalam keluarga, biaya sewa lahan dan bibit/benih yang cenderung berasal dari tanaman terdahulu diperhitungkan maka keuntungan petani akan berkurang. Kelemahan lainnya adalah analisis usahatani tidak dapat mendeteksi berapa besar kontribusi biaya pengelolaan. Dalam system usahatani, biaya pengelolaan tidak dapat diperhitungkan seperti halnya sektor industri. Sebagai pendekatan digunakan konsep keuntungan merupakan balas jasa terhadap pengelolaan usahatani. Dari hasil analisis

rasio R/C diperoleh nilai sebesar 2.48 (Lampiran 9). Nilai R/C tersebut

menunjukkan bahwa usahatani sayuran di kawasan agropolitan Cianjur mampu memberikan balas jasa kepada petani sebesar 148 persen, sudah termasuk

biaya-biaya yang diperhitungkan. Jika hanya memperhitungkan biaya-biaya tunai (cash

expenditure) nilai rasio R/C mencapai 5.96. Angka ini memberikan informasi yang salah karena banyak faktor produksi yang tidak diperhitungkan.

Dari struktur biaya produksi, benih wortel dan pestisida jenis curacron merupakan biaya yang paling dominan. Di kawasan ini ditemukan sekitar 12 jenis pestisida yang digunakan. Dari sudut pandang ekonomi jumlah yang cukup besar ini menciptakan disefisiensi sistem produksi. Peningkatan jumlah pemakaian faktor produksi tidak selalu berarti akan terjadi peningkatan produksi. Dengan demikian akan terjadi penurunan marjin keuntungan yang didapat oleh petani. Dari sudut pandang ekologi dan kesehatan, aplikasi pestisida berlebih berdampak terhadap kualitas produk sayuran. Secara visibilitas tektur atau penampilan komoditas sayuran memang menarik konsumen, karena tidak ada bekas kerusakan akibat serangan hama atau penyakit. Akan tetapi dalam jangka panjang akan berdampak terhadap kepercayaan konsumen karena kandungan pestisida yang cukup tinggi.

Petani cenderung bersikap over preventif dalam menanggulangi hama dan

penyakit. Aplikasi pestisida cenderung tidak memperhatikan batas ambang ekonomi serangan hama dan penyakit. Dampaknya terjadi pemborosan biaya perawatan tanaman yang tidak hanya biaya pembelian bahan pestisida juga biaya tenaga kerjanya. Penyuluhan bagaimana menangani hama penyakit secara efisien masih perlu dilakukan. Kalau memungkinkan penanganan hama penyakit dengan cara yang

ramah lingkungan (environmentally friendly). Sekarang sudah banyak

dikembangkan metode penanganan hama penyakit secara biologis dengan memanfaatkan musuh alami atau pestisida nabati.

b. Kawasaan Agropolitan Brebes-Larangan Kabupaten Brebes

Di kabupaten Brebes tepatnya di lokasi kajian hanya dua jenis komoditas yang menjadi fokus studi karena merupakan komoditas unggulan wilayah, yaitu bawang merah dan cabai. Kedua jenis komoditas ini merupakan ciri khas kabupaten Brebes. Pemasaran kedua komoditas ini sudah lintas propinsi. Rata -rata produksi petani responden bawang merah adalah 10.800 kg dengan harga jual saat kajian adalah Rp. 1.320 per kg. Harga bawang merah dan juga komoditas pertanian lainnya sangat berfluktuatif tergantung kepada pasokan. Pada saat musim panen besar harga akan turun secara drastis. Sebaliknya pada saat permintaan tinggi ditambah dengan pasokan terbatas harga akan cenderung meningkat. Rata -rata pendapatan per petani

sampel bawang merah adalah sekitar Rp. 14.256.000 (Lampiran 10a).

Tanaman bawang merah dan cabai merupakan tanaman yang sangat sensitive terhadap perlakuan atau budidaya. Sehingga tidak mengherankan kebutuhan pupuk dan obat cukup besar. Nilai pupuk yang digunakan untuk tanaman bawang merah mencapai Rp. 1.887.965 sementara untuk obat-obatan mencapai Rp. 4.592. 700. Besarnya biaya pemupukan dan perawatan berdampak terhadap besarnya biaya tenaga kerja yang diperhitungkan, yaitu Rp. 2.945.300, yang terdiri atas Rp. 2.689.100 pria dan Rp. 256.200 wanita. Namun demikian usahatani atau budidaya bawang merah di kabupetan Brebes masih menguntungkan baik ditinjau dari biaya tunai maupun biaya yang diperhitungkan. Dari hasil analisis diperoleh bahwa nilai rasio RC untuk komoditas bawang merah adalah 1,25. Dalam jangka panjang nilai ini dapat ditingkatkan lagi mengingat hasil penelitian lain menunjukkan bahwa pemakaian obat-obatan di kabupetan Brebes kebanyakan sudah melebihi dosis rekomendasi sehingga dipertanyakan tingkat efektivitasnya. Disamping itu secara ekologis akan berdampak terhadap lingkungan dan kualitas bawang itu sendiri.

Usahatani cabai terlihat lebih menguntungkan dibandingkan dengan usahatani bawang merah jika dilihat dari indikator rasio R/C-nya. Untuk biaya tunai setiap seribu rupiah biaya yang dialokasikan ke usahatani cabai akan memberikan dampak penerimaan sebesar Rp. 4.732 rupiah. Dengan kata lain terdapat keuntungan bersih sebesar Rp. 3.732,-. Demikian juga dilihat dari sudut biaya yang harus

demikian balas jasa pengelolaan usahatani cabai dua kali lebih besar dibandingkan dengan biaya yang digunakan untuk produksi cabai.

Sama halnya dengan kasus bawang merah, pemakaian pupuk dan obatan-obatan merupakan kontribusi utama terhadap total biaya. Biaya yang digunakan untuk pupuk mencapai sekitar Rp. 2.261.430. Sedangka n untuk pestisida Rp.776.750,- untuk skala usahatani seluas 1 ha. Sementara itu, untuk kebutuhan benih sekitar Rp. 450.000,-.

Nilai rasio R/C yang cukup tinggi pada cabai merah sebenarnya lebih ditentukan oleh pendapatan yang relatif tinggi sebagai akibat tingkat harga per satuan hasil yang tinggi, yaitu mencapai Rp 5000,- per kg saat kajian dilakukan. Jika dilihat dari tingkat produksinya yang hanya 2.94 ton/ha sebenarnya masih sangat rendah. Oleh karena itu, nilai rasio R/C tersebut masih bisa ditingkatkan jika tingkat produksi bisa lebih ditingkatkan. Di kabupaten Brebes pada umumnya petani lebih mengutamakan bawang merah. Cabai merah seringkali digunakan sebagai tanaman rotasi untuk memutus siklus hama dan penyakit sehingga teknik budidaya yang diterapkan tidak cukup intensif.

Berdasarkan pada nilai total penerimaan dan total pembiayaan dari kedua jenis komoditas tersebut maka dapat dihitung nilai rasio R/C yang representatif untuk usahatani komoditas yang diusahakan. Hasil analisis diperoleh nilai rasio R/C usahatani komoditas unggulan di kawasan agropolitan Brebes-Larangan Kabupaten

Brebes adalah 1,56 (Lampiran 10c). Nilai tersebut menunjukka n bahwa balas jasa

yang diperoleh petani dalam mengusahaan komoditas bawang merah dan cabai merah sebesar 56% dari total biaya yang dikeluarkan.

c. Kawasaan Agropolitan Belik -Pulosari Kabupaten Pemalang

Produksi petani bervariasi antara 7 ton sampai 47 ton sesuai dengan luas lahan garapan yang berkisar antara 1 hektar dan 7 hektar. Seperti halnya di lokasi lain, dalam usahatani cabai merah, biaya untuk pupuk merupakan biaya yang paling dominan. Di kawasan agropolitan Pemalang, biaya yang dibutuhkan untuk pupuk mencapai Rp. 6.345.375,- yang meliputi pupuk kandang, N, P, K, pupuk lengkap dan pupuk daun. Berda sarkan keragaman sarana produksi yang digunakan, teknik budidaya yang diterapkan petani sudah sangat intensif. Namun demikian

penggunaan pupuk yang tinggi cenderung menimbulkan inefisiensi dalam usahatani dan akan menurunkan marjin keuntungan. Selain itu, penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan akan menyebabkan usahatani menjadi tidak lestari karena dapat menimbulkan pencemaran akibat residu yang ditinggalkan pupuk. Oleh karena itu peran lembaga tenaga teknis penyuluh pertanian sangat diperlukan untuk memberikan penyuluhan bagaimana menerapkan praktek usahatani yang efisien dan tidak merusak lingkungan. Aplikasi pupuk kandang hingga 15 ton/ha merupakan langkah yang baik guna mempertahankan tingkat kesuburan tanah. Praktek seperti ini perlu dilestarikan untuk menekan degradasi lahan akibat penanaman yang terus- menerus.

Hasil analisis usahatani cabai merah di kawasan ini menunjukkan bahwa tingkat penerimaan usahatani cabai merah dapat mencapai Rp. 57.120.000,-. Penerimaan yang tinggi ini terutama disebabkan oleh tingkat harga cabai ketika kajian dilakukan mencapai Rp.8.000,- per kg. Jika dilihat dari biaya tunai yang dikeluarkan, maka dalam budidaya cabai merah setiap Rp. 1000,- biaya tunai dapat menghasilkan penerimaan hingga Rp. 5.609,- atau menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 4.609,-. Akan tetapi jika dihitung seluruh biaya yang dikeluarkan, baik tunai maupun biaya yang diperhitungkan, maka penerimaan yang diperoleh sekitar 300%

dari total biaya yang dikeluarkan, atau rasio R/C -nya mencapai 3,1 (Lampiran 11a).

Pada komoditas kubis, rata -rata produksi kubis di kabupaten Pemalang adalah 26.760 kg dengan harga jual sekitar Rp. 520,-/kg. Dengan demikian nilai penjualan rata-rata petani adalah Rp. 13.915.200,-. Dari sudut biaya produksi, pupuk dan biaya tenaga kerja masih merupakan biaya yang paling besar yang harus dikeluarkan oleh petani walaupun secara tunai petani tidak mengeluarkan biaya tenaga kerja secara penuh. Petani akan menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga jika kebutuhan tenaga kerja untuk budidayanya melebihi pasokan tenaga kerja dari dalam keluarga. Seperti halnya pada tanaman cabai, petani juga cenderung menggunakan beragam pupuk dan obat-obatan untuk tanaman kubis, sekalipun dalam jumlah yang relatif lebih kecil. Agar hasil panen berhasil petani cenderung melakukan diversifikasi atau beragam pupuk dan obat-obatan mengingat kemampuan tanah menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman tidak lengkap tersedia. Di samping itu petani melakukan ekspektasi dengan beragam pupuk dan obat-obatan

produksi tanaman akan lebih banyak dibandingkan dengan pemakaian pupuk atau obat-obatan yang terbatas. Sebagai contoh biaya pupuk untuk tanaman kubis sebesar Rp. 4.826.042,- atau hampir 90 persen dari biaya tunai. Dalam ekspektasi meningkatka n kualitas produksi panen, petani juga menggunakan pupuk mikro.

Hasil analisis usahatani menunjukkan bahwa usahatani kubis yang dilakukan petani di dataran tinggi Kabupaten Pemalang sangat menguntungkan, sekalipun tidak sebesar cabai merah. Penghitungan nilai rasio R/C untuk komoditas ini adalah 2,3 (Lampiran 11b).

Hasil manfaat usahatani di Kabupaten Pemalang dilihat dari nilai perbandingan antara penerimaan kotor dan biaya , baik biaya tunai maupun biaya yang diperhitungkan, untuk usahatani kubis dan cabai secara keseluruhan. Hasil analisis gabungan kedua komoditas tersebut diperoleh nilai rasio R/C sebesar 2,90 (Lampiran 11c). Hasil tersebut menunjukkan bahwa imbalan yang diperoleh petani dalam mengusahakan kubis dan cabai adalah sebesar 290% dari total biaya yang digunakan. Oleh karena tingkat keuntungan yang cukup besar inilah maka wajar jika kedua jenis komoditas pertanian tersebut mendominasi kawasan agropolitan Pemalang.

d. Kawasaan Agropolitan Turi-Pakem-Cangkringan Kabupaten Sleman

Di kabupe tan Sleman, komoditas yang menjadi fokus kajian adalah salak dan cabai yang merupakan komoditas unggulan. Khusus untuk tanaman salak, Kabupaten Sleman dikenal dengan salak pondohnya. Bagi sebagian petani usahatani salak sekarang lebih menguntungkan karena biaya perawatan baik pemupukan dan pemberantasan hama penyakit lebih rendah dibandingkan pada saat awal penanaman. Bahkan pada saat kajian petani tidak melakukan pemberantasan hama dan penyakit. Petani melakukan pemupukan dengan biaya yang relatif rendah dan hanya dua jenis pupuk saja yaitu pupuk kandang dan pupuk NPK. Biaya lain yang cukup besar adalah biaya bibit yaitu sebesar Rp. 8.000.000,- pada saat awal tanam. Selalin itu juga biaya untuk tenaga kerja yang perlu diperhitungkan yaitu sebesar Rp. 7.535.000,- yang terdiri dari Rp. 5.535.000 upah pria dan Rp. 2.000.000 upah wanita selama satu tahun. Oleh karena itu, jika hanya berdasarkan pada biaya yang tunai, maka akan diperoleh nilai rasio R/C sangat tinggi, yaitu mencapai 14.15. Sementara

itu jika memperhitungkan seluruh biaya yang dikeluarkan, termasuk untuk bibit dan

tenaga kerja, maka diperoleh nilai rasio R/C 1.99 (Lampiran 12a). Nilai tersebut

termasuk cukup baik dalam usahatani, karena berarti imbalan yang diterima petani adalah 99% dari modal yang dikeluarkan.

Untuk komoditas cabai merah, nilai rata -rata penjualan petani dalam satu hektar selama satu musim tanam cabai adalah Rp. 30.534.000,- Luas panen petani cabai di Sleman bervariasi antara 0,15 hektar sampai 4 hektar demikian pula produksinya antara 0,5 ton sampai 32 ton bergantung luas lahan yang ditanam. Besarnya nilai penjualan tidak identik dengan besar nisbah manfaat biaya yang dihasilkannya. Nilai rasio R/C biaya total untuk usahatani tanaman cabai hanya 1, 6 (Lampiran 12b). jauh lebih kecil dibandingkan dengan rasio R/C tanaman salak. Namun dari sudut keuntungan nominal keuntungan usahataninya hampir sama jika dihitung dalam waktu usahatani.

Jika dihitung berdasarkan analisis gabungan dari kedua komoditas unggulan tersebut untuk mewakili nilai rasio R/C usahatani di kawasan agropolitan, maka akan

diperoleh nilai rasio R/C sebesar 1,78 (Lampiran 12c). Nilai tersebut menunjukkan

bahwa budidaya komoditas unggulan di kawasan agropolitan Turi-Pakem-Cangkringan Kabupaten Sleman secara ekonomis relatif menguntungkan. Balas jasa dari modal usahatani yang digunakan petani untuk menanam kedua jenis tanaman unggulan, yaitu salak dan cabai, adalah sebesar 78%.