• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT

Dalam dokumen 2015 3458 ped Pedoman Pencacahan SNK 2015 (Halaman 56-60)

Blok ini bertujuan untuk mengukur implementasi nilai-nilai dalam sila keempat dari Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawarahan/perwakilan; mengajak masyarakat untuk bersikap peka dan ikut serta dalam kehidupan politik dan pemerintahan negara, baik secara langsung maupun tidak langsung namun bersama sesama warga atas dasar persamaan tanggung jawab sesuai dengan kedudukan masing-masing. Oleh karena itu setiap orang dituntut berperan aktif dalam melaksanakan berbagai pengambilan keputusan baik di lingkungan keluarga, masyarakat sekitar, maupun dalam kehidupan berbangsa dan berbegara dengan mengutamakan musyawarah untuk mufakat. Hal ini dimaksudkan agar setiap keputusan yang dibuat dapat mencerminkan semangat kekeluargaan dan kebersamaan, adapun butir- butir yang terdapat pada sila ke empat yaitu:

1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.

2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.

3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.

4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.

5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.

6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.

7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.

8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur. 9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada

Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

10. Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

Responden diminta untuk menjawab sesuai dengan pengalaman yang pernah dialami maupun menurut persepsi/sikap responden atas pertanyaan yang diajukan. Pencacah diminta untuk tidak mengarahkan responden untuk memilih jawaban tertentu maupun menjustifikasi jawaban yang diberikan oleh responden.

R. 901a. Penggunaan Hak Pilih

Rincian ini digunakan untuk mengetahui partisipasi politik responden dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satunya ditunjukkan dengan penggunaan hak pilih dalam pemilihan umum. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kejadian pemilihan presiden atau gubernur atau bupati/walikota yang paling terakhir dialami oleh responden. Penggunaan hak pilih dilakukan dengan mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada hari pelaksanaan pemungutan suara dan menggunakan hak pilih untuk menentukan pilihannya. Tanyakan partisipasi responden dalam pemilu terakhir:

Kode 0, Tidak punya hak pilih, Jika responden sampai dengan survei ini

dilaksanakan belum pernah menggunakan hak pilih karena belum cukup umur, narapidana yang dicabut hak pilihnya, tidak terdaftar dalam DPT

Kode 1, Ya, jika responden menggunakan hak pilih

Kode 2, Tidak, jika responden tidak menggunakan hak pilih

R.901b. Tekanan dalam menentukan pilihan pada pemilu atau pilkada terakhir

Salah satu asas dalam Pemilu adalah bebas yang berarti bahwa setiap warga

negara bebas menggunakan haknya untuk memilih pemimpin yang dikehendakinya tanpa adanya pengaruh, tekanan, paksaan, intimidasi dari siapapun dengan jalan apapun. Memberi tekanan dalam menentukan pilihan calon pemimpinnya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila sila ke-4 butir ke-2, tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.Bentuk tekanan dalam menggunakan hak pilih seperti memaksa seseorang untuk memilih salah satu calon pemimpin atau memaksakan untuk tidak menggunakan hak pilih (golput).

Rincian ini digunakan untuk mengetahui adanya pemaksaan kehendak/tekanan yang diterima oleh responden pada saat menggunakan hak pilih dalam pemilu/pilkada terakhir. Lingkari salah satu kode jawaban yang sesuai dengan jawaban responden dan tuliskan kode yang dilingkari tersebut ke dalam kotak yang disediakan.

Kode 1, Ya, jika responden mendapat tekanan dalam menggunakan hak pilih

Kode 2, Tidak, jika responden tidak mendapat tekanan dalam menggunakan hak

pilih

R.902. Keikutsertaan dalam Pertemuan/Musyawarah Warga

Pertemuan/musyawarah merupakan kegiatan berkumpul dalam rangka silaturahim maupun suatu upaya bersama untuk memecahkan persoalan dengan mengutamakan nilai nilai kebersamaan dan kekeluargaan seperti rapat, halal-bihalal, ramah tamah warga, dan sebagainya. Keikutsertaan responden dalam setiap pertemuan/musyawarah warga

menunjukkan sikap responden lebih menjunjung/mengutamakan nilai

demokratis/musyawarah dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

Rincian ini digunakan untuk mengetahui frekuensi keikutsertaan responden dalam pertemuan/musyawarah warga.Tanyakan kepada responden frekuensi keikutsertaan dalam pertemuan/musyawarah warga di lingkungan sekitar tempat tinggal:

Kode 1, Selalu, jika responden tidak pernah absen dalam setiap

pertemuan/musyawarah

Kode 2, Sering, jika responden pernah/sesekali tidak menghadiri/mengikuti

pertemuan/musyawarah karena ada halangan

Kode 3, Jarang, jika responden jarang menghadiri/mengikuti

pertemuan/musyawarah

Kode 4, Tidak pernah, jika responden tidak pernah menghadiri/mengikuti

pertemuan/musyawarah

Catatan: Jika di lingkungan sekitar tempat tinggalnya tidak pernah diadakan pertemuan/musyawarah, berikan kode 9.

R.903. Cara pengambilan keputusan yang paling diinginkan

Ada banyak cara pengambilan keputusan dalam menghadapi sebuah permasalahan. Selain musyawarah untuk mufakat terdapat beberapa cara lain untuk mengambil sebuah keputusan diantaranya melalui pemungutan suara. Adakalanya keputusan tersebut langsung diambil oleh seorang yang dianggap tokoh, baik tokoh masyarakat maupun tokoh agama. Tanyakan cara pengambilan keputusan yang paling disukai oleh responden:

Kode 1, Musyawarah untuk mufakat, lebih suka jika pengambilan keputusan dilakukan dengan musyawarah untuk mufakat

Kode 2, Pemungutan suara, lebih suka jika pengambilan keputusan dengan suara

terbanyak (vooting)

Kode 3, Keputusan tokoh, lebih suka jika keputusan diambil oleh tokoh seperti

ketua RT, ustadz, pendeta, dsb.

Kode 4, Lainnya, jika responden lebih menginginkan cara selain ketiga cara di atas,

termasuk pula jika responden menyatakan tidak peduli dengan cara apa keputusan diambil.

R.904. Sikap terhadap keputusan bersama yang tidak sesuai pendapatnya

Keputusan bersama yang diperoleh dari hasil musyawarah mencerminkan pendapat dari semua peserta musyawarah. Dengan demikian seharusnya setiap peserta musyawarah harus menerima dengan lapang dada setiap keputusan yang sudah diambil dalam sebuah musyawarah. Sikap ini sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sila ke-4 butir ke-4, menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah. Rincian ini digunakan untuk mengetahui sikap saling menghormati responden ketika keputusan yang diambil tidak sesuai dengan yang diinginkan.Tanyakan kepada responden bagaimana sikapnya keputusan yang sudah diambil dalam sebuah musyawarah tidak sesuai dengan pendapatnya:

Kode 1, Menerima dengan lapang dada, jika responden menerima dan

melaksanakan keputusan yang diambil dalam musyawarah secara ikhlas tanpa berkeluh kesah.

Kode 2, Menerima dengan terpaksa, jika responden tidak sepenuh hati

menerima keputusan dan melaksanakan keputusan tersebut dengan terpaksa (tidak ikhlas).

Kode 3, Tidak menerima dan tidak melaksanakan, jika responden menyatakan

tidak menerima hasil keputusan serta tidak melaksanakan hasil keputusan yang sudah diambil.

Kode 4, Menentang/melakukan perlawanan, jika responden berusaha

menggagalkan hasil keputusan tersebut atau berusaha mengajak yang lain untuk tidak menolak hasil.

R. 905. Percaya terhadap pemimpin hasil pilihan warga

Tuliskan sikap responden terhadap pemimpin yang merupakan hasil pilihan warga (baik dengan musyawarah ataupun pemilihan suara) apakah responden percaya bahwa pemimpin tersebut dapat melaksanakan aspirasi mereka. Pilihan jawaban ada 4 kode yaitu

kode bila responden percaya, kode bila sikap responden cenderung percaya, kode

bila sikap responden cenderung tidak percaya, dan kode bila sikap responden tidak

percaya.

R. 906. Frekuensi melakukan musyawarah

Rincian ini digunakan untuk mengetahui seberapa sering responden menerapkan musyawarah untuk mufakat untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Semakin sering seseorang menerapkan musyawarah sebagai cara untuk mengambil sebuah keputusan menunjukkan sikap demokratis seseorang yang peka terhadap aspirasi orang lain di lingkungan sekitarnya. Bacakan pertanyaan sesuai dengan redaksi pada kuesioner kemudian isikan jawaban responden pada kotak yang disediakan. Jawaban rincian ini berkisar antara 0 – 10. Semakin kecil nilainya menunjukkan semakin jarang menggunakan musyawarah untuk mufakat sebagai cara pengambilan keputusan dalam kehidupan sehari- hari. Pertanyaan ini kemungkinan tidak dapat langsung dipahami oleh responden, oleh karena itu pencacah boleh mengajukan pertanyaan tambahan atau probing, dengan cara:

a. Menanyakan apakah responden sering menggunakan musyawarah untuk mufakat sebagai cara untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari, kemudian tanyakan alasannya. Jika alasan yang diberikan menunjukkan pemahaman responden dengan maksud pertanyaan maka mintalah responden untuk memberikan penilaian. b. Jika responden sering maka mintalah responden memberikan penilaian salah satu dari

angka 5 sampai 10. Sebaliknya jika responden merasa jarang mintalah responden memberikan penilaian salah satu dari angka 0 sampai 5.

c. Jika alasan yang diberikan menunjukkan ketidak pahaman responden maka pencacah perlu melakukan probing lanjutan.

d. Jika telah yakin dengan jawaban responden, isikan angka yang disebutkan pada kotak yang tersedia.

Dalam dokumen 2015 3458 ped Pedoman Pencacahan SNK 2015 (Halaman 56-60)

Dokumen terkait