DAFTAR LAMPIRAN
I.5. Kerangka Berpikir
Jalal dalam Napitupulu (2009) mengatakan bahwa tingginya angka pengangguran pada lulusan perguruan tinggi menunjukkan proses pendidikan di perguruan tinggi kurang menyentuh persoalan-persoalan nyata di dalam masyarakat. Lebih lanjut Jalal menyatakan bahwa persoalan ini harus serius diatasi, salah satunya dengan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan di kampus-kampus agar para sarjana tidak berpikir hanya menjadi pencari pekerjaan, tetapi mereka bisa menciptakan peluang usaha baik bagi diri sendiri maupun orang lain karena mereka sudah dilatih di kampus. Ciputra dalam Siswoyo (2009) menyatakan agar mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu jangan hanya diajarkan bagaimana bisa bekerja dengan baik, tetapi harus dipacu untuk bisa menjadi pemilik dari usaha-usaha yang sesuai dengan latar belakang ilmu yang mereka miliki. Lebih lanjut Ciputra menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan seharusnya membekali mahasiswa untuk menjadi mandiri dan tidak berorientasi menjadi pencari kerja ketika para mahasiswa menyelesaikan studinya. Siswoyo (2009) menyatakan bahwa di luar negeri banyak universitas yang kewalahan memenuhi permintaan mahasiswa terhadap mata kuliah kewirausahaan yang terus meningkat dan hal ini mengindikasikan bahwa meningkatnya minat lulusan perguruan tinggi untuk menjadi wirausaha.
Siswoyo (2009) menyatakan bahwa di negara maju pertumbuhan jumlah wirausaha telah menyebabkan peningkatan perekonomian yang luar biasa. Para
wirausaha baru ini telah memperkaya pasar dengan produk-produk baru yang inovatif. Siswoyo lebih lanjut menyatakan setidaknya terdapat dua manfaat besar yang diberikan wirausaha terhadap pembangunan bangsa, yakni pertama sebagai pengusaha mereka memberikan sumbangsih dalam melancarkan proses produksi, distribusi dan konsumsi, ikut mengatasi kesulitan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kedua, sebagai pejuang bangsa dalam bidang ekonomi, para wirausaha meningkatkan ketahanan nasional dan mengurangi ketergantungan kepada bangsa asing.
Menurut Siswoyo (2009) pentingnya peranan kewirausahaan dapat dilihat dari kenyataan bahwa pada tahun 1980-an di Amerika telah lahir sebanyak 20 juta wirausaha baru yang menciptakan banyak sekali lapangan pekerjaan baru. Bahkan wirausaha mulai bermunculan di Negara-negara Eropa Timur yang dulunya mempunyai paham sosialisme yang kuat. China, yang menganut paham komunis pun mulai membuka diri terhadap lahirnya wirausaha-wirausaha di negaranya sehingga menyebabkan negara tersebut saat ini perekonomiannya tumbuh dengan sangat cepat dan mengagumkan. Pentingnya pengembangan kewirausahan juga ditunjukkan oleh Chang (2009) yang menyatakan bahwa pemerintahan Inggris menerbitkan buku putih nasionalnya yang berjudul “Our Competitive Future: Building the Knowledge Driven
Economy 1997”, yang berisi alasan mengapa kewirausahaan bergitu penting dan
pengembangan perekonomian, keduanya dapat meningkatkan produktivitas dan kesempatan kerja. Di Amerika Serikat para wirausaha berhasil menciptakan 34 juta kesempatan kerja baru.
McClelland dalam Ciputra (2008) menyatakan bahwa agar suatu negara bisa menjadi makmur dibutuhkan minimum 2% jumlah wirausaha dari total jumlah penduduknya. Amerika Serikat pada tahun 2007 telah memiliki 11,5% jumlah wirausaha, Singapura telah memiliki 7,2% wirausaha sampai pada tahun 2005 sementara Indonesia diperkirakan hanya memiliki 0,18% wirausaha atau sekitar 440.000 orang dari yang seharusnya berjumlah 4,4 juta orang. Oswari (2005) menyatakan bahwa kurangnya jumlah wirausaha di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor yakni kurangnya pengetahuan tentang kewirausahaan, etos kerja yang kurang menghargai kerja keras, cepat merasa puas dengan hasil kerja yang telah dicapai, pengaruh penjajahan negara asing yang terlalu lama terhadap rakyat Indonesia dan kondisi ekonomi yang buruk.
Shastri (2009) menyatakan bahwa setiap wirausaha yang sukses memberikan manfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga memberikan manfaat kepada komunitas, daerah dan negaranya. Manfaat-manfaat yang bisa diberikan adalah sebagi berikut:
1. Manfaat keuangan.
3. Menciptakan perkembangan bagi dunia industri.
4. Mendukung pemanfaatan sumber daya lokal menjadi produk-produk jadi untuk konsumsi domestik dan ekspor.
5. Menciptakan pendapatan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 6. Menciptakan produk dan jasa yang lebih banyak dan inovatif. 7. Menciptakan pasar yang lebih besar.
8. Merangsang perkembangan lebih banyak riset, mesin-mesin dan peralatan yang baru.
9. Meningkatkan pendapatan bagi pemerintah melalui pembayaran pajak.
Yohnson (2003) menyatakan bahwa universitas berperan penting dalam memotivasi lulusannya menjadi wirausaha muda. Dengan meningkatnya wirausaha dari kalangan sarjana, maka jumlah pengangguran akan berkurang dan menambah jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Pentingnya peranan perguruan tinggi didukung oleh Zimmerer dalam Yohnson (2003) yang menyatakan bahwa salah satu faktor pendorong pertumbuhan kewirausahaan adalah pendidikan kewirausahaan. Gray dalam Yohnson (2003) menyarankan untuk memulai usaha atau kegiatan kewirausahaan sejak dini misalnya pada waktu masih kuliah.
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk meneliti variabel-variabel yang bisa meningkatkan minat kewirausahaan bagi mahasiswa. Indarti et al. (2008) menyatakan bahwa minat kewirausahaan dipengaruhi oleh sejumlah faktor yakni kepribadian,
lingkungan atau kesiapan instrumen dan demografis. Scarborough dan Zimmerer (1993) menyatakan bahwa kepribadian merupakan salah satu hal yang dimiliki wirausaha sukses. Lebih lanjut Scarborough dan Zimmerer mengemukakan delapan karakteristik kepribadian yang merupakan ciri-ciri kepribadian dari seorang wirausaha sukses yang membedakannya dari orang lain. Pentingnya variabel kepribadian juga didukung oleh Scriber dalam Alma (2001) yang menyatakan bahwa keberhasilan seseorang yang ditentukan oleh pendidikan formal hanya sebesar 15% dan selebihnya (85%) ditentukan oleh sikap mental atau kepribadian orang tersebut. Muhyi (2007) menyatakan bahwa kepribadian yang mempengaruhi kewirausahaan adalah motif berprestasi, komitmen, nilai-nilai kepribadian, pendidikan dan pengalaman.
Crant dalam Saud et al. (2009) menemukan bahwa minat kewirausahaan dipengaruhi oleh variabel demografis seperti jender, tingkat pendidikan dan orang tua yang memiliki bisnis. Pentingnya variabel demografis juga ditunjukkan oleh Mazzarol et al. yang menyatakan bahwa variabel jender, umur, pendidikan dan pengalaman bekerja seseorang berpengaruh terhadap keinginannya untuk menjadi seorang wirausaha.
Muhyi (2007) menyatakan bahwa variabel lingkungan mempengaruhi minat kewirausahaan, dari faktor lingkungan ini yang mempengaruhi faktor lingkungan adalah peluang, model peran dan aktivitas. Pengaruh kepemilikan jaringan sosial
terhadap minat kewirausahaan ditunjukkan oleh Mazzarol et al. dalam Indarti et al. (2008).
Dari berbagai hasil penelitian dan pendapat para ahli di atas terlihat bahwa minat kewirausahaan dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu kepribadian, lingkungan dan demografis.
Gambar I.1. Kerangka Berpikir I.6. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka dibuat hipotesis sebagai berikut: 1. Variabel kepribadian, lingkungan dan demografis berpengaruh terhadap variabel
minat kewirausahaan pada mahasiswa Strata-1 Universitas Sumatera Utara. 2. Variabel kebutuhan akan prestasi dan efikasi diri berpengaruh terhadap variabel
3. Variabel ketersediaan informasi kewirausahaan, kepemilikan jaringan sosial dan akses kepada modal berpengaruh terhadap variabel lingkungan pada mahasiswa Strata-1 Universitas Sumatera Utara.
BAB II