TINJAUAN PUSTAKA
II.4. Teori tentang Demografi
Kata demografi berasal dari bahasa Yunani yakni ’demos’ yang berarti rakyat atau penduduk dan ’grafein’ yaitu menulis. Jadi demografi adalah tulisan atau karangan mengenai rakyat atau penduduk. Bogue dalam Yasin (2007: 1) menyatakan bahwa demografi adalah ilmu yang mempelajari secara statistika dan matematika tentang besar, komposisi, dan distribusi penduduk serta perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui bekerjanya 5 komponen demografi yaitu kelahiran, kematian, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial. Barclay dalam Yasin (2007: 2) menyatakan bahwa demografi adalah ilmu yang memberikan gambaran yang menarik dari penduduk yang digambarkan secara statistika. Demografi mempelajari tingkah laku keseluruhan dan bukan tingkah laku perorangan.
Riyanti (2003: 33) menyatakan bahwa demografi sangat penting dikaji karena demografi adalah faktor yang melekat pada wirausaha dan mempengaruhi keberhasilan seorang wirausaha. Mazzarol dalam Indarti et al. (2008) menyatakan
bahwa faktor-faktor demografi seperti jender, umur, pendidikan dan pengalaman bekerja seseorang berpengaruh terhadap keinginan seseorang untuk menjadi seorang wirausaha. Crant dalam Saud et al. (2009) menyatakan bahwa sikap kewirausahaan dipengaruhi oleh jender, tingkat pendidikan dan orang tua yang memiliki bisnis.
Penelitian oleh Mazzarol et al. dalam Saud et al. (2009) menemukan bahwa faktor demografi (etnisitas, status perkawinan, tingkat pendidikan, ukuran keluarga, status dan pengalaman kerja, usia, jender, status sosio-ekonomi, agama dan sifat kepribadian) mempengaruhi minat mendirikan usaha. Penelitian Indarti et al. (2008) pada mahasiswa Indonesia, Jepang dan Norwegia menemukan bahwa jender dan usia yang lebih muda tidak mempunyai pengaruh terhadap minat kewirausahaan mahasiswa, pengalaman kerja mempengaruhi minat kewirausahaan pada mahasiswa Norwegia, tetapi tidak mempunyai pengaruh pada mahasiswa Indonesia dan Jepang. Shapero dalam Basu et al. (2009) menyatakan bahwa minat terhadap kewirausahaan tergantung pada faktor-faktor eksogen seperti demografi, karakter, ketrampilan, budaya, sosial dan dukungan keuangan.
Demografi dalam penelitian ini hanya meneliti variabel latar belakang pendidikan kewirausahaan dan pengalaman kerja yang mempengaruhi minat kewirausahaan. Hisrich (2008: 75) menyatakan bahwa pendidikan sangatlah penting dalam perjalanan wirausaha. Pentingnya pendidikan tidak hanya tercermin dalam tingkat pendidikan yang dicapai, tetapi juga dalam kenyataan bahwa pendidikan
memainkan peranan penting untuk membantu para wirausaha mengatasi masalah-masalah yang mereka hadapi. Studi di India oleh Sinha dalam Indarti (2008) membuktikan bahwa latar belakang pendidikan menjadi salah satu penentu penting minat kewirausahaan dan kesuksesan usaha yang dijalankan. Situmorang (2007) menyatakan bahwa tujuan dari pendidikan kewirausahaan adalah mengembangkan masyarakat berkewirausahaan (entreprising people) dan menanamkan sikap percaya pada diri sendiri melalui proses belajar yang sesuai. Pendidikan kewirausahaan dan program pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bertujuan untuk mendirikan usaha kecil yang independen.
Jones (2009) lebih spesifik menekankan pentingnya pendidikan kewirausahaan. Jones lebih lanjut menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan adalah proses menyiapkan individu dengan kemampuan untuk mengenali kesempatan komersial, meningkatkan penghargaan diri, pengetahuan dan ketrampilan untuk bertindak terhadap kesempatan komersial tersebut. Kourilsky dalam Jones (2009) mendefinisikan pendidikan kewirausahaan sebagai kesempatan untuk mengenali, menyusun sumber-sumber daya dengan kehadiran resiko, dan membangun sebuah perusahaan bisnis. Bechard and Toulouse dalam Jones (2009) mendefinisikan pendidikan kewirausahaan sebagai kumpulan dari pengajaran formal yang memberikan informasi, melatih dan mendidik siapapun yang tertarik untuk mendirikan bisnis atau mengembangkan bisnis kecil. Pendidikan kewirausahaan
dapat memberikan kesempatan untuk melakukan simulasi kegiatan bisnis dan mengamati model peran. Pengalaman ini akan mempengaruhi keputusan mahasiswa untuk memilih karir sebagai wirausaha.
Charney (2000) pada penelitiannya terhadap lulusan Universitas Arizona tahun 1985 – 1999 dengan membandingkan para lulusan yang mendapatkan pendidikan kewirausahaan dengan para lulusan yang tidak mendapatkan pendidikan kewirausahaan menyimpulkan beberapa hal penting berikut ini:
(1) Pendidikan kewirausahaan terbukti meningkatkan minat pendirian perusahaan baru. Lulusan yang mendapatkan pendidikan kewirausahaan tiga kali lebih banyak yang mendirikan perusahaan baru dibandingkan para lulusan yang tidak mendapatkan pendidikan kewirausahaan.
(2) Pendidikan kewirausahaan meningkatkan minat para lulusan tiga kali lebih besar untuk menjadi pekerja mandiri (self - employed) dibandingkan para lulusan yang tidak mendapatkan pendidikan kewirausahaan.
(3) Pendidikan kewirausahaan meningkatkan pendapatan para lulusan yang mendapatkan pendidikan kewirausahaan sebanyak 27 persen lebih tinggi.
(4) Pendidikan kewirausahaan meningkatkan pertumbuhan perusahaan terutama pada perusahaan kecil, pada perusahaan besar pengaruh pendidikan kewirausahaan lebih sulit diukur. Tetapi perusahaan besar memberikan gaji yang lebih besar
kepada para lulusan yang memiliki pendidikan kewirausahaan. Perusahaan yang didirikan para lulusan yang memiliki pendidikan kewirausahaan juga lebih besar. (5) Pendidikan kewirausahaan mempromosikan perpindahan teknologi dari
universitas kepada sektor swasta dan mempromosikan perusahaan dan produk berbasis teknologi. Para lulusan dengan pendidikan kewirausahaan lebih cenderung bekerja para perusahaan dengan teknologi yang lebih tinggi.
Bandura, Hollenbeck dan Hall, Wilson et al. dalam Basu et al. (2009) menemukan bahwa pendidikan kewirausahaan dapat meningkatkan tingkat efikasi diri seseorang. Noel dalam Basu et al. (2009) menemukan bahwa pendidikan kewirausahaan mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan minat kewirausahaan terutama untuk mahasiswi. Wilson et al. dalam Basu et al. (2009) menyatakan bahwa pendidikan kewirausahaan meningkatkan minat mahasiswa terhadap kewirausahan sebagai karier.
Pengalaman kerja menyatakan jenis dan jumlah pekerjaan, lamanya bekerja di sebuah atau beberapa bidang yang dialami oleh seseorang di dalam karirnya. Setiap orang mempunyai pengalaman kerja yang berbeda-beda yang akan mempengaruhi kehidupan dan karirnya selama hidupnya. Evan dan Leighton dalam Colambato dan Melnik (2009) menyatakan bahwa pengalaman kerja biasanya di industri yang sama merupakan prasyarat alami untuk menjadi seorang wirausaha. Colambato (2009) pada penelitiannya terhadap para pengusaha di Italia menemukan bahwa dibutuhkan
pengalaman kerja rata-rata selama 8 tahun sebagai pekerja sebelum seseorang memutuskan menjadi seorang wirausaha. Drennan dalam Basu et al. (2009) menyatakan bahwa pandangan yang positip terhadap pengalaman bisnis keluarga dan pengalaman langsung memulai bisnis baru akan mempengaruhi sikap dan persepsi tentang kewirausahaan sebagai karier.
Timmons dalam Din (1992) menyatakan bahwa ada bukti yang semakin meningkat bahwa wirausaha sukses berasal dari kombinasi pengalaman kerja, studi dan pengembangan ketrampilan yang sesuai. Din (1992) dalam penelitiannya pada populasi mahasiswa sekolah bisnis di Malaysia menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki pengalaman kerja tetap yang lebih banyak memiliki kecenderungan melakukan kegiatan kewirausahaan yang lebih besar dibandingkan mereka yang pengalaman kerjanya lebih sedikit, hal ini berlaku untuk pengalaman kerja di perusahaan bisnis yang besar dan tidak berlaku untuk pengalaman kerja di sektor publik.
Peterman dan Kennedy dalam Frazier (2009) menemukan bahwa pengalaman yang positif dalam kegiatan kewirausahaan pada bisnis kecil mempunyai pengaruh terhadap minat kewirausahaan. Penelitian Reitan dalam Frazier (2009) menemukan bahwa pengalaman kerja pada bisnis keluarga mempunyai pengaruh positif pada minat kewirausahaan.
Penelitian Rotefoss dan Kolvereid dalam Kautonen et al. (2008) menunjukkan bahwa pengalaman kewirausahaan sebelumnya yang positif mempengaruhi kemungkinan mendirikan bisnis dan ada perbedaan antara wirausaha yang baru pertama kali berbisnis (novice entrepreneurs) dengan wirausaha yang sudah memiliki bisnis sebelumnya (serial entrepreneurs). Menurut Ucbasaran et al. dalam Kautonen
et al. (2008) serial entrepreneurs menikmati pengalaman dan manfaat kewirausahaan
dibandingan novice entrepreneurs karena serial entrepreneurs memiliki kesempatan untuk mendapatkan sumber-sumber daya dan belajar dari karir wirausaha sebelumnya.
Penelitian yang dilakukan Indarti et al. (2008) membuktikan bahwa mahasiswa Norwegia yang memiliki pengalaman kerja akan memiliki minat kewirausahaan yang lebih tinggi dibandingkan yang tidak, akan tetapi pendapat ini tidak berlaku untuk mahasiswa Indonesia dan Jepang.