• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS

3.2. Kerangka Konsep

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah

Variabel Bebas Variabel Terikat

Gambar 3.2. Kerangka Konsep

Variabel dalam penelitian ini adalah IMT dan kebugaran fisik. Karena penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif maka yang menjadi variabel bebas adalah IMT dan yang menjadi variabel terikat adalah kebugaran fisik.

Indeks Massa Tubuh Kebugaran Fisik

Denyut Jantung Dipengaruhi oleh Inervasi Saraf Otonom Hormon Refleks Atrial

Ambilan Oksigen Maksimum (VO2max)

Dipengaruhi oleh Volume Sekuncup Jumlah Otot

Jumlah Hemoglobin Tes pengukuran

Harvard Step Test

3.3 Hipotesis

Berdasarkan teori yang telah dijabarkan pada tinjauan pustaka, hipotesis dari penelitian ini adalah: Adanya hubungan antara IMT dengan kebugaran fisik dimana semakin tinggi IMT maka semakin rendah kebugaran fisik.

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik korelatif yang bertujuan menilai hubungan antara dua variabel, yaitu IMT dan kebugaran fisik (diwakili dari nilai Indeks Kebugaran Fisik), pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah potong lintang, dimana pengumpulan data atau pengukuran variabel yang akan diteliti dilakukan hanya satu kali tanpa dilakukan tindak lanjut atau pengulangan pengukuran.

4.2 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan selama bulan Oktober sampai November 2016 di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pemilihan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara sebagai lokasi penelitian karena lokasi mudah dijangkau untuk mendapatkan subjek penelitian.

4.3 Populasi dan Subjek 4.3.1 Populasi Penilitian

Populasi penelitian pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013 dan 2014.

4.3.2 Subjek Penelitian

Subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013 dan 2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

4.3.3 Kriteria Inklusi a. Bersedia menjadi subjek.

b. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013- 2014.

c. Sehat, tidak berada pada kondisi yang kontraindikasi terhadap Harvard Step Test.

d. Memiliki nadi awal diantara 60-100 detak/menit.

4.3.4 Kriteria Eksklusi

a. Berolahraga secara teratur, yaitu frekuensi ≥3 kali/minggu dan durasi 20-30 menit.

b. Memiliki nadi awal diatas 100 detak/menit.

c. Wanita dalam keadaan hamil.

d. Wanita dalam keadaan menstruasi.

e. Memiliki penyakit jantung kronis.

Besar minimal subjek pada penelitian ini adalah 48 orang berdasarkan rumus berikut:

{

[( ) ( )]} Keterangan

n = besar subjek yang dibutuhkan

Zα = tingkat kemaknaan pada 0.05 yaitu 1.960 Zβ = kekuatan uji pada 0.1 yaitu 1.280

r = koefisien korelasi dari penelitian sebelumnya yaitu 0.45

4.3.5 Teknik Pengambilan Sampel

Dalam penelitian ini, subjek yang digunakan adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah dipilih secara consecutive sampling, yaitu setiap populasi yang memenuhi kriteria pemilihan (inklusi dan eksklusi) dimasukkan dalam penelitan sehingga jumlah subjek yang dibutuhkan terpenuhi.

4.4 Teknik Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer ini meliputi berat badan, tinggi badan dan denyut nadi setelah melakukan Harvard Step Test. Semua data ini diperoleh dengan melakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur timbangan Camry Mechanical Personal Scale ISO 9001: 200 model BR 9015B buatan Cina, stadiometer Stature Meter 2 M buatan Cina. Nilai IKF ditentukan dengan rumus estimasi setelah diperoleh denyut nadi dari Harvard Step Test. Ada sejumlah alat yang digunakan dalam penelitian ini. Sejumlah peralatan yang dimaksud ada yang digunakan saat penyaringan subjek, pemeriksaan IMT maupun pemeriksaan kebugaran fisik.

Beberapa peralatan penting yang digunakan adalah:

Pengukuran IMT:

1. Timbangan Camry Mechanical Personal Scale ISO 9001: 200 model BR 9015B buatan Cina

2. Stadiometer Stature Meter 2 M buatan Cina Pengukuran IKF

1. Bangku setinggi 50 cm 2. Metronom

3. Stopwatch

4.5 Prosedur Kerja

Sebelum ditetapkan menjadi subjek penelitian, calon subjek penelitian yang merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mengisi informed consent dan kuisioner terlebih dahulu. Kuisioner berisi pertanyaan yang meliputi tentang data diri, IMT, kebiasaan berolahraga serta kebiasaan merokok.

Pertanyaan dalam kuisioner bertujuan untuk menyaring populasi sehingga memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Bila terpilih maka subjek akan diukur kembali lagi IMT-nya dan menjalani tes kebugaran fisik. Untuk menentukan IMT maka prosedur pengukuran berat badan dan tinggi badan akan dilakukan.

Prosedur pengukuran berat badan terdiri dari:

1. Jalannya prosedur diawasi oleh pengawas.

2. Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan dewasa.

3. Sebelum dilakukan pengukuran, pasien diwajibkan berkemih terlebih dahulu.

4. Pada saat pengukuran berat badan, subjek tidak menggunakan aksesoris layaknya jam, topi dan aksesoris lainnya serta subjek diminta untuk mengosongkan kantong celana.

5. Subjek naik ke atas timbangan.

6. Subjek dalam keadaan diam, tegak lurus dan pandangan menghadap kedepan.

7. Melihat berapa berat badan subjek yang ditunjukkan jarum timbangan yang dilakukan oleh peneliti.

Prosedur pengukuran tinggi badan terdiri dari:

1. Jalannya prosedur diawasi oleh pengawas.

2. Tinggi badan diukur dengan menggunakan stadiometer yang dipasang di dinding.

3. Pada saat pengukuran tinggi badan, subjek tidak menggunakan topi atau peralatan apapun pada kepalanya dan tidak menggunakan alas kaki.

4. Subjek berdiri tegak lurus dengan pendangan menghadap ke depan 5. Tarik stadiometer, letakkan ujungnya tepat dipuncak kepala (verteks) 6. Melihat berapa tinggi badan subjek yang dilakukan oleh peneliti Prosedur Harvard Step Test19

1. Subjek melangkah ke atas dan ke bawah pada bangku dengan ketinggian 20 inci atau sekitar 50 cm selama maksimal 5 menit atau sampai subjek merasa tidak mampu untuk melanjut prosedur.

2. Subjek melangkah sesuai dengan metronom yang sebelumnya sudah dicek ketelitiannya dengan irama 120 kali/menit

3. Selama prosedur, subjek diminta untuk tetap dalam posisi tegak dan untuk tetap mengikuti irama detikan metronom

4. Setelah selesai (setelah 5 menit atau setelah kelelahan) subjek diminta untuk tetap berdiri dan denyut nadi radialis dihitung dari 1 sampai 1,5 menit, 2 sampai 2.5 menit dan 3 sampai 3.5 menit (sejak masa pemulihan). Denyut nadi radialis diukur oleh peneliti.

5. Lakukan perhitungan nilai indeks kebugaran fisik yang dilakukan oleh peneliti

4.6 Pengolahan dan Analisis Data

Setelah dikumpulkan, data diolah, disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan dianalisis secara bivariat. Dalam menganalisis data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji statistik korelasi untuk mengetahui sejauh mana kekuatan hubungan Indeks Massa Tubuh dengan kebugaran fisik. Pengolahan data dengan menggunakan program komputer SPSS 23.0. Bila kedua variabel berdistribusi normal, dilakukan uji Pearson. Bila kedua variabel tersebut tidak terdistribusi normal maka dilakukan uji transformasi Fisher's untuk menormalkan distribusi kedua variabel tersebut. Bila hasil tetap tidak terdistribusi normal maka dipakai uji Spearman (nonparametrik).

4.7 Definisi Operasional

1. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah indikator berat seseorang yang ditentukan menggunakan rumus ( )( )

Cara pengukuran : Observasi

Alat Ukur : Timbangan dan stadiometer Hasil Ukur : IMT dalam kg/m2

Skala Ukur : Numerik

2. Kebugaran fisik adalah suatu parameter yang diukur dengan indeks kebugaran fisik yang akan dihitung menggunakan rumus

I.K.F = Lama naik turun (dalam detik) x 100 2 x jumlah ketiga nilai nadi tiap 30 detik Cara pengukuran : Harvard Step Test

Alat Ukur : Bangku 30 cm dan metronom Hasil Ukur : IKF

Skala Ukur : Numerik

BAB 5

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di salah satu ruangan kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang beralamat di Jalan Dr. Mansyur No 5. Luas tempat penelitian kira-kira 6 x 4 m, tersedia kursi, stopwatch, metronome, stadiometer, dan timbangan.

5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sampel

Sampel penelitian ini merupakan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013-2014, dengan rentang usia 19-22 tahun. Responden terdiri dari 48 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini telah menandatangani Informed Consent (persetujuan setelah penjelasan). Penelitian dilakukan selama Oktober – November 2016. Berikut ini adalah karakteristik dari subjek penelitian :

a. Angkatan, Umur, Jenis Kelamin, Kebiasaan Olahraga dan Merokok Tabel 5.1 Distribusi Subjek Berdasarkan Angkatan, Umur Jenis Kelamin,

Kebiasaan Berolahraga dan Merokok

2013 (n= 41) 2014 (n = 7)

21

Berikut merupakan data distribusi subjek berdasarkan IMT mahasiswa/i FK USU pada penelitian ini :

Tabel 5.2 Distribusi Subjek Berdasarkan IMT

IMT Jumlah (n=48) Persentasi (%)

Berdasarkan tabel diatas, subjek dengan IMT yang normal merupakan jumlah terbanyak (47.9%) dan subjek dengan IMT yang overweight menempati tempat kedua (35.4%).

c. Indeks Kebugaran Fisik

Berikut merupakan data distribusi subjek berdasarkan IKF mahasiswa/i FK USU pada penelitian ini :

Tabel 5.3 Distribusi Subjek Berdasarkan IKF

IKF Jumlah (n=48) Persentasi (%)

Berdasarkan tabel diatas, subjek dengan IKF cukup merupakan jumlah terbanyak (31.3%) dan subjek dengan IKF baik memiliki jumlah terbanyak kedua (27.1%)

d. Hubungan IMT dengan IKF

Penelitian ini bertujuan untuk menilai adanya hubungan IMT dengan IKF.

Melalui penelitian dapat ditemukan 22 subjek berberat badan normal dari 48 subjek penelitan dimana 6 subjek diantaranya memiliki kebugaran fisik yang baik dan 6 subjek memiliki kebugaran fisik yang sangat baik. Dari hasil penelitian juga ditemukan bahwa subjek yang memiliki kebugaran fisik yang kurang berasal dari subjek yang memiliki IMT overweight ataupun obesitas.

Tabel 5.4 Distribusi Subjek Menurut IMT dan IKF

IMT(n=48)

IKF

Kurang Sedang Cukup Baik Sangat Baik

n % n % n % n % n %

Underweight 0 0 0 0 1 100 0 0 0 0

Normoweight 0 0 3 13 8 34.8 6 26.1 6 26.1

Overweight 4 235 0 0 5 29.4 6 35.3 2 11.8

Obese 1 14.3 4 57.1 1 14.3 1 14.3 0 0

5.1.4. Hasil Analisis Statistik

Penelitian ini ingin menilai hubungan antara IMT dengan kebugaran fisik yang dapat dievaluasi berdasarkan nilai IKF. Untuk mengetahui kekuatan hubungan diantara kedua variabel tersebut dilakukan uji Pearson. Adapun hasil uji Korelasi Pearson dalam penelitian ini dapat ditanyakan dalam tabel berikut :

Tabel 5.5 Hubungan IMT dengan IKF

Variabel Penelitian Rerata(±SD) r p value

IMT 23.46(4.16) -0.416 0.03

IKF 77.76(19.0)

Tabel 5.6 Hubungan IMT dengan IKF sesuai Jenis Kelamin

Variabel Penelitian Rerata(±SD) r p value Laki-laki IMT

IKF

76.59(4.14) 24.74(22.28)

-0.483 0.006

Perempuan IMT IKF

79.89(3.43) 21.12(11.42)

-0.146 0.557

Penelitian ini menggunakan hipotesis dua arah (two-tailed) dengan tingkat kepercayaan 95%, yang berarti jika didapati nilai p < 0.05 berarti hipotesis nol penelitian ditolak. Setelah dianalisis, dalam penelitian ini didapati nilai p = 0.03 . Karena nilai p yang diperoleh lebih kecil dari 0.05, maka hipotesis nol dalam penelitian ini ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara Indeks Massa Tubuh dengan kebugaran fisik (p < 0.05). Untuk menentukan kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut, dilakukan interpretasi dari nilai koefisien korelasi Pearson penelitian ini r = -0.41 Tanda minus menyatakan arah hubungan, yakni semakin tinggi IMT maka semakin rendah nilai IKF. Sedangkan 0.41 menyatakan besarnya kekuatan hubungan antara IMT dan IKF. Besamya kekuatan hubungan antara IMT dengan kebugaran fisik dalam penelitian ini adalah sedang. Sedangkan pada tabel kedua menunjukkan perbandingan antara laki-laki dan perempuan dimana hanya pada laki-laki terdapat hubungan yang bermakna yang dapat kita lihat dari p value dan korelasi Pearson. Pola hubungan antara dua variabel numerik juga dapat dilihat dalam suatu diagram tebar (scatter plot). Data IMT ditampilkan pada sumbu X (aksis) sementara kebugaran fisik disajikan pada sumbu Y (ordinat), sedemikian sehingga semua data yang terkumpul dapat ditampilkan melalui

diagram tebar berikut:

Gambar 5.1 Diagram Tebar Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran Fisik

Keterangan

IMT : Indeks Massa Tubuh IKF : Indeks Kebugaran Fisik

Gambar 5.2a dan 5.2b Diagram Tebar Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan

Kebugaran Fisik pada Laki-laki dan Perempuan

Keterangan

IMT : Indeks Massa Tubuh IKF : Indeks Kebugaran Fisik

Gambar 5.1 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang linier antara IMT dengan kebugaran fisik. Selain itu, Gambar 5.1 juga menujukkan korelasi negatif antara IMT dengan kebugaran fisik. Dengan kata lain, semakin tinggi IMT maka semakin rendah kebugaran fisik. Gambar 5.2 dan 5.3 menunjukkan perbandingan hubungan antara laki laki dan perempuan dimana melalui diagram dapat kita lihat adanya hubungan linier pada diagram laki-laki yang menunjukkan signifikansi yang tidak dapat kita lihat pada diagram perempuan.

5.2. Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 dari 48 subjek memiliki IMT dengan berat normal (47.9%) dan 17 dari 48 subjek memiliki IMT yang overweight (35.4%). Hal ini diikuti dengan mayoritas dari subjek yang meiliki kebugaran fisik yang cukup (31.3%) dan kebugaran fisik yang baik (27.1%). Hasil penelitian juga menunjukkan, bahwa sebagian besar dari subjek yang memiliki IMT obesitas dan overweight menunjukkan performa dari IKF yang cukup dan kurang , sedangkan subjek yang memiliki IMT normoweight memiliki hasil IKF yang dominan baik dan sangat baik melebihi kelompok IMT lainnya. Hal ini

sesuai dengan penelitian So dan Choi (2010) yang mengemukakan bahwa tingginya lemak tubuh pada orang obesitas akan menjadi penghalang dan memberikan beban tambahan terhadap fungsi kardiorespirasi selama latihan.

Berkurangnya fungsi ini akan berdampak pada rendahnya ambilan oksigen yang digunakan untuk metabolisme intrasel, terutama sel-sel muskuloskeletal. Karena deposisi lemak yang tidak proporsional, sistem muskuloskeletal gagal untuk memperoleh jumlah oksigen yang cukup selama melakukan latihan yang mengakibatkan menurunnya kebugaran fisik.26

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi IMT maka semakin rendah nilai dari IKF dengan kekuatan hubungan sedang (r = 0.41, p = 0.03) yang memiliki hasil yang sejalan dengan penelitian sejenis yang dilaksanakan oleh Laxmi (2008) yang mendapat hasil r = -0.45, p < 0.01.27 Selain dari itu, penelitian ini menunjukkan perbedaan jenis kelamin menunjukkan nilai dari korelasi yang berbeda, dimana hubungan IMT dengan IKF laki-laki memiliki nilai yang lebih signifikan dan hubungan yang sedang (r = -0.48, p = 0.006) dibanding hasil hubungan perempuan (r = 0.146, p = 0.557) yang menunjukkan tidak adanya signifikansi dan kekuatan hubungan yang rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian Yong Jun Lu di Taiwan pada tahun 2012 bahwa adanya pengaruh kuat oleh budaya sekitar, film maupun hiburan TV modern yang mengakibatkan perempuan menginginkan badan ideal melalui diet. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan dari massa otot, lemak dan mineral tulang yang tidak proporsional sehingga bukan saja berefek terhadap penurunan IMT, kebugaran fisik juga dapat mengalami penurunan akibat diet yang tidak seimbang ini.7

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain metode yang digunakan. Kebugaran fisik, khususnya kebugaran fisik terkait kesehatan, mencakup banyak hal yaitu, kebugaran kardiorespiratori, komposisi tubuh, fleksibilitas, kekuatan otot, dan ketahanan otot. Sementara dalam penelitian ini hanya dinilai kebugaran kardiorespirasi saja. Protokol yang digunakan dalam menilai kebugaran kardiorespirasi juga tidak secara langsung. Hal ini dapat menyebabkan tidak akuratnya hasil yang diperoleh. Namun sejauh ini hasil

penelitian ini masih menunjukkan hasil yang sesuai dengan penelitian-penelitian lainnya. Dalam penelitian ini didapati bahwa terdapat hubungan terbalik antara IMT dengan kebugaran fisik dengan kekuatan hubungan sedang. Namun demikian, perlu dipahami bahwa IMT bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang dapat mempengaruhi kebugaran fisik seseorang. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kebugaran fisik seseorang selain IMT (ukuran dan komposisi tubuh) adalah jenis kelamin, umur, faktor genetika dan kebiasaan berolahraga.5 Selain itu kebugaran fisik seseorang (IKF) pada dasarnya ditentukan oleh curah jantung, jumlah hemoglobin, jumlah otot yang terlibat dan kemampuan otot untuk memanfaatkan oksigen yang dipasok. Semua faktor-faktor tersebut perlu diperhatikan baik oleh mahasiswa kedokteran sebagai responden maupun praktisi kesehatan pada umumnya mengingat rendahnya kebugaran fisik seseorang maupun tingginya IMT berhubungan erat dengan risiko penyakit kardiovaskular.22

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi IMT maka semakin rendah IKF, dengan tingkat kekuatan hubungan sedang

(r = -0.41, p = 0.03).

2. Rata-rata IMT dalam penelitian ini adalah 23.46 kg/m2 ±4.16.

3. Rata-rata nilai IKF dalam penelitian ini adalah 77.7 ±19.0, berada pada tingkat kebugaran cukup.

6.2 Saran

Beberapa hal yang dapat direkomendasikan dari hasil penelitian ini diantaranya: Peningkatan IMT dan rendahnya kebugaran fisik berhubungan dengan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular, oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah preventif yang dapat membuat IMT dalam batasan yang normal dan kebugaran dalam tingkatan yang sesuai. Hal yang dapat dilakukan antara lain:

1. Untuk mahasiswa, tingkatkan aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik dan pola hidup yang baik dapat menyebabkan terjadinya obesitas.

2. Untuk mahasiswa, berolah raga secara teratur, 3-5 kali/minggu. Olah raga yang teratur akan meningkatkan kebugaran fisik dan memberikan dampak positif dalam semua aspek kesehatan tubuh.

3. Untuk peneliti, perhatikan faktor nutrisi. Nutrisi yang seimbang adalah yang terbaik untuk tubuh. Untuk penelitin selanjutnya, parameter yang digunakan dalam menentukan kebugaran fisik hendaknya diperbanyak karena kebugaran fisik terkait kesehatan terdiri dari komponen kebugaran kardiorespiratori, komposisi tubuh, fleksibilitas, kekuatan otot dan ketahanan otot. Semakin banyak parameter yang digunakan dalam menentukan kebugaran fisik maka hasil yang diperoleh semakin akurat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ortega F, Tresaco B, Ruiz J, Moreno L, Martin-Matillas M, Mesa J.

Cardiorespiratory Fitness and Sedentary Activities Are Associated with Adiposity in Adolescents. Obesity 2007; 15: 1589-90

2. Wei M. Relationship between Low Cardiorespiratory Fitness and Mortality in Normal-Weight, Overweight and Obese Men. JAMA 1999;

282: 1547

3. Thang SH, Sattar N, Lean M. Assesment of Obesity and Its Clinical Implication. BMJ 2006; 333: 696-8

4. World Health Organization. Obesity and overweight. Diunduh dari:

http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs311/en [di akses tanggal 6 Mei 2016]

5. American College Of Sports Medicine. Dalam: ACSM's Health-Related Physical Fitness Manual edisikedua. Philadelphia: Lippincott Williams &

Wilkins; 2008. h. 2-4

6. Zhao YQ, Wang YF, Zhu P, Liu R, Hao JH. Association between body mass index and physical fitness index among children and adolescent.

Zhonghua Liu Xing Bing XueZaZhi 2012; 33: 265-8

7. Yong-Jun Lu, Xiao-Dong Zheng, Fu-Shen Zou, Xian-Bo Zuo. BMI and physical fitness in Chinese adult students: a large school-based analysis.

Int J ClinExp Med 2014; 7: 3630–6

8. American College of Sports Medicine. Dalam: ACSM's Health-Related Physical Fitness Manual.edisikedua. Philadelphia:Lippincott Williams &

Wilkins; 2008. h. 44-6

9. World Health Organization. Appropriate body-mass index for Asian populations and its implications for policy and intervention strategies.

Diunduh dari

www.who.int/nutrition/publications/bmi_asia_strategies.pdf [ di akses tanggal 27 mei 2016]

10. Shakher J, McTernan PG, Kumar S. Obesity. Dalam: Tomlinson S, Heagerty AM, Weetman AP, Malik RA, dkk. Mechanism of Disease: An Introduction to Clinical Science. edisi kedua. New York: Cambridge University Press, 2008. h. 69-78

11. American College of Sports Medicine. Dalam: ACSM's Advance Exercise Physiology. Edisi ke 2. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2012. h: 313-4

12. Anonim. All About Heart Rate (Pulse). Diunduh dari:

http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/MyHeartandStrokeN

ews/All-About-Heart-Rate-Pulse_UCM_438850_Article.jsp#.V1TXlPl97IU [ di akses tanggal 6 mei 2016]

13. Martini FH, Nath JL. Fundamentals of Anatomy and Physiology. Edisi 9.

San Francisco: Pearson, 2012. h: 697-9

14. Ganong. Review of Medical Physiology. Edisi 23. San Francisco:

McGraw-Hill, 2010. h: 556-8

15. Levine BD. VO2max: What Do We Know, and What Do We Still Need to Know?. J.Physiol 2007; 586: 25-34

16. Ganong. Review of Medical Physiology. Edisi 23. San Francisco:

McGraw-Hill, 2010. h: 556-8

17. Vander. Human Physiology: The Mechanism of Body Functions. Edisi 8.

New York: The Mc Graw Hill Company, 2011. h: 442-6

18. American College Of Sports Medicine. Dalam: ACSM's Health-Related Physical Fitness Manual. Edisi kedua. Philadelphia: Lippincott Williams

& Wilkins, 2008. h: 98

19. Gallagher J, Brouha L. Simple Method of Evaluating Fitness in Boys: The Step Test. Yale J Biol Med 1943; 15: 769–9

20. Ornelas R, Silva A, Minderico C, Sardinha L. Changes in Cardiorespiratory Fitness Predict Changes in Body Composition from Childhood to Adolescence: Findings from the European Youth Heart Study. The Physician and SportsMedicine. 2011; 39: 78-86

21. Davison K, Bircher S, Hill A, Coates A, Howe P, Buckley J. Relationships between Obesity, Cardiorespiratory Fitness and Cardiovascular Function.

Journal of Obesity 2010; 3 :1-7

22. Chatterjee S. Chatterjee P. Bandyopadhyay A. Cardiorespiratory Fitness of Obese Boy. Indian J. Physiol. Pharmacol 2005; 49:353-7

23. Church TS, LaMonte MJ, Barlow CE, Blair SN. Cardiorespiratory Fitness and Body Mass Index as Predictors of Cardiovascular Disease Mortility Among Men With Diabetes. Arch Intern Med 2005; 165: 2114-20

24. Ross R, Janiszewski PM. Is Weight Loss the Optimal Target Obesity-Related Cardiovascular Disease Risk Reduction?. Can. J. Cardiol 2007;

24: 25-31

25. Zulfikri M. Statistika Kedokteran dan Uji Hipotesis. Dalam: Zulfikri M.

Desain Penelitian Klinis dan Statistika Kedokteran. Edisi 1. Medan: USU Press, 2011. h: 124-5

26. So W, Choi D. Difference in Physical Fitness and Cardiovascular Function Depend on BMI in Korean Men. Journal of Sport Science and Medicine 2010; 9: 239-44.

27. Laxmi CC, Udaya IB, Vinutha S. Effect of Body Mass Index on Cardiorespiratory Fitness in Young Healthy Males. IJSRP 2014; 4: 2-4

Lampiran 2

LEMBAR PENJELASAN

Saya Zuriel Immanuel Natan, mahasiswa semester VII Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, saat ini sedang melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran Fisik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013 dan 2014”.

Saya mengharapkan kerjasama saudara/i untuk berpartisipasi sebagai responden penelitian dengan mengisi kuisioner data diri dan menjalani prosedur Harvard Step Test. Semua informasi yang saudara/i berikan akan dijaga kerahasiannya. Partisipasi dari saudara/i bersifat sukarela, bukan dengan beban maupun paksaan. Saudara/i berhak untuk menolak mengikuti jika tidak bersedia.

Jika saudara/i bersedia untuk diikutkan dalam penelitian saya ini, maka saudara/i diharapkan kesediannya untuk menandatangani lembar persetujuan setelah penjelasan. Apabila selama menjadi responden dari penelitian ini terdapat hal yang kurang dimengerti, maka saudara/i dapat bertanya langsung kepada peneliti.

Demikian informasi ini saya sampaikan, atas bantuan, partisipasi dan kesediaan waktu saudara/i sekalian, saya ucapkan terima kasih.

Medan, 2016 Peneliti,

(Zuriel Immanuel Natan)

Lampiran 3

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (Informed Consent)

Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama :

Jenis kelamin : Pekerjaan : Alamat :

Setelah mendapat keterangan dan penjelasan secara lengkap dari peneliti, maka saya menyatakan setuju menjadi responden dalam penelitian yang berjudul

“Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran Fisik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013 dan 2014 “. Demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan.

“Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran Fisik Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013 dan 2014 “. Demikian pernyataan persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan.