BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Pengukuran Kebugaran Fisik
Kebugaran kardiorespirasi dapat dinilai dengan berbagai teknik, secara langsung ataupun tidak langsung. Kebugaran kardiorespirasi dapat diukur secara langsung di dalam laboratorium atau secara tidak langsung dengan diprediksi menggunakan banyak metode.18 Ada tiga jenis tes yang umum untuk menilai kebugaran kardiorespirasi, yaitu tes di lapangan (field test), tes dengan kekuatan submaksimal (submaximal exertion) dan tes dengan kekuatan maksimal (maximal exertion).18
Pada tes di lapangan, subjek melakukan suatu latihan dengan jarak tertentu atau melakukan latihan menurut waktu yang ditetapkan untuk memprediksi kebugaran kardiorespirasi. Tes ini umumnya menuntut upaya maksimal untuk memperoleh hasil terbaik dalam menentukan kebugaran kardiorespirasi. Metode pengujian meliputi berjalan, berjalan dan berlari, berlari, bersepeda, berenang dan lain-lain.18
Pada tes dengan beban kerja submaksimal (submaximal exertion) dapat menggunakan tes langkah (step test) atau tes dengan tahapan tunggal maupun multi-protokol untuk memprediksi kapasitas aerobik maksimal atau kebugaran kardiorespirasi. Variabel tertentu diukur dari test ini (biasanya denyut jantung), dari hasil tersebut dapat diestimasi nilai kebugaran kardiorespirasi. Metode pengujian mencakup tes langkah (step test), treadmill, bersepeda dan lain-lain.
Sebagian dari tes ini dilakukan di laboratorium.18
Tes dengan beban kerja maksimal (maximal exertion) menggunakan tes olahraga yang berjenjang dan progresif untuk mengukur kelelahan. Dengan demikian, tes ini menggunakan tenaga semaksimal mungkin. Tes ini menetukan nilai kebugaran kardiorespirasi bukan sekedar memprediksi nilai kebugaran kardiorespirasi. Tes ini dilakukan dengan atau tanpa pengumpulan gas metabolik dan dilakukan di laboratorium.18
Tes langkah telah ada selama lebih dari 50 tahun dalam pengujian kebugaran. Ada banyak protokol yang telah dikembangkan yang menggunakan tes langkah untuk memprediksi VO2max. Tes yang akan digunakan adalah Harvard Step Test.18
Pada tes ini, subjek akan melangkah ke atas dan ke bawah pada bangku dengan standar tinggi yang telah ditetapkan, selama jangka waktu tertentu dalam irama langkah yang telah ditetapkan. Setelah periode waktu tes selesai, denyut detak jantung pada masa pemulihan akan diukur dan digunakan dalam memprediksi kebugaran fisik seseorang. Semakin rendah detak jantung pada masa pemulihan, semakin bugar individu tersebut.18
Secara umum, tes langkah hanya menggunakan sedikit peralatan dan cukup sederhana. Yang diperlukan adalah sebuah arloji, metronom dan sebuah bangku dengan tinggi tertentu. Tindakan pencegahan khusus untuk keamanan diperlukan bagi mereka yang mungkin memiliki masalah keseimbangan atau kesulitan dengan melangkah. 18
Prosedur Harvard Step Test19
1. Subjek melangkah ke atas dan ke bawah pada bangku dengan ketinggian 20 inci atau sekitar 50 cm selama maksimal 5 menit atau sampai subjek merasa tidak mampu untuk melanjut prosedur.
2. Subjek melangkah sesuai dengan metronom yang sebelumnya sudah dicek ketelitiannya dengan irama 120 kali/menit
3. Selama prosedur, subjek diminta untuk tetap dalam posisi tegak dan untuk tetap mengikuti irama detikan metronom
4. Setelah selesai (setelah 5 menit atau setelah kelelahan) subjek diminta untuk tetap berdiri dan denyut nadi radialis dihitung dari 1 sampai 1,5 menit, 2 sampai 2.5 menit dan 3 sampai 3.5 menit (sejak masa pemulihan)
5. Lakukan perhitungan nilai indeks kebugaran fisik Perhitungan indeks kebugaran fisik
Pada perhitungan indeks kesanggupan, maka indeks kebugaran fisik (IKF) dihitung dengan rumus:
I.K.F = Lama naik turun (dalam detik) x 100
2 x jumlah ketiga nilai nadi tiap 30 detik Penilaian indeks kesanggupan fisik :
<54 : kesanggupan kurang 54-67 : kesanggupan sedang 68-82 : kesanggupan cukup 83-96 : kesanggupan baik
>96 : kesanggupan sangat baik
Untuk melakukan Harvard Step Test, ada persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu tidak berada pada keadaan yang kontraindikasi, baik relatif maupun absolut untuk melakukan tes ini. Yang menjadi kontraidikasi absolut adalah ada riwayat miokard infark, angina tidak stabil, aritmia jantung, stenosis aorta, gagal jantung, emboli paru akut, miokarditis atau perikarditis akut. Yang menjadi kontraidikasi relatif adalah stenosis arteri coroner, stenosis katup, hamil, ketidakseimbangan elektrolit, hipertensi, takiaritmia, bradiaritmia, kardiomiopati, AV blok, gangguan sistem muskuloskeletal, demensia atau kondisi psikiatri lainnya.18
2.6 Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran Fisik Ada banyak sekali faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan jaringan adiposa, salah satu yang dihipotesiskan adalah berkurangnya kebugaran kardiorespirasi. Kebugaran kardiorespirasi adalah salah satu faktor determinan kesehatan sepanjang hidup yang independen. Pada usia dewasa, tingginya kebugaran kardiorespirasi merupakan faktor proteksi terhadap penyakit kardiovaskuler dan semua penyebab mortalitas. Pada usia dewasa muda,kebugaran kardiorespirasi memiliki hubungan terbalik dengan tekanan darah, kolesterol total dan penanda inflamasi.20
Kelebihan berat badan memberikan pengaruh buruk hampir pada semua sistem di dalam tubuh manusia. Pada dasarnya pengaruh buruk tersebut berasal dari 2 faktor:
1. Peningkatan massa dari jaringan adiposa
2. Peningkatan sekresi produk patogenik dari sel-sel lemak yang membesar
Peningkatan jaringan adiposa, khususnya jaringan adiposa viseral, berhubungan dengan penurunan fungsi endotel pembuluh darah. Fungsi endotel mengacu pada kapasitas fungsional secara umum dari sel endotel pembuluh darah, terutama dalam menghasilkan dan melepaskan nitric oxide (NO). Berkurangnya sintesis dan ketersediaan NO berhubungan dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, inflamasi, adhesi, trombosis dan berkurangnya kemampuan vasodilatasi. Selain itu abnormalitas fungsi endotel berhubungan dengan sejumlah faktor penyakit kardiovaskuler.20
Terdapat hubungan antara ambilan oksigen maksimal dan denyut jantung dalam kebugaran kardiorespirasi. Konsumsi oksigen sangatlah dipengaruhi oleh denyut jantung, volume sekuncup, tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Hubungan tersebut dinyatakan melalui rumus : . Rumus ini secara kuantitatif menyatakan hubungan antara konsumsi oksigen yang dipengaruhi oleh denyut jantung, volume sekuncup dan perbedaan kandungan oksigen di arteriovenous. Peningkatan linear dari denyut jantung akan berbanding lurus dengan konsumsi maksimal dari oksigen tubuh.10
Jumlah lemak tubuh yang berlebihan juga akan menghambat fungsi jantung pada saat melakukan latihan. Hal ini terjadi karena otot-otot yang aktif bekerja pada saat latihan gagal untuk melakukan ekstraksi oksigen akibat deposisi jaringan lemak yang tidak proporsional. Pada individu yang kehilangan berat badan selama program penurunan berat badan, terjadi peningkatan VO2max karena terjadi pengurangan jumlah lemak yang dapat menghambat penggunaan oksigen oleh otot.21
Aktivitas fisik dan kebugaran kardiorespirasi adalah determinan yang penting dan bersifat dependen sebagai penentu kematian pada individu yang overweight dan obesitas. Rendahnya aktivitas fisik dan kebugaran kardiorespirasi juga berhubungan dengan meningkatnya tingkat mortalitas pada individu dengan
diabetes. Ada hubungan terbalik antara angka kematian dengan tingkat kebugaran pada orang dengan normoweight, overweight, maupun individu yang obesitas.22
Rendahnya kebugaran kardiorespirasi berhubungan kuat dengan tingginya risiko semua penyebab kematian pada pria dengan diabetes dan hubungan ini berlaku baik untuk normoweight, overweight dan obesitas. Kebugaran yang lebih tinggi berbanding terbalik dengan kematian akibat penyakit kardiovaskuler pada pria dengan diabetes pada IMT normoweight, overweight atau obesitas kelas I.
Walaupun kebugaran kardiorespirasi dipengaruhi oleh komponen genetik (25%
sampai 40%), cukup jelas jika latihan fisik yang regular adalah penentu kebugaran.23
Berdasarkan penelitian Ross dan Janiszewski, pada individu yang mengalami obesitas yang terkait dengan risiko penyakit kardiovaskuler sebaiknya disarankan untuk melakukan olahraga yang menurunkan berat badan karena akan memberikan efek yang besar dalam menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskuler. Hal ini dilakukan karena setelah berolahraga terjadi perbaikan dalam beberapa faktor risiko penyakit kardiometabolik, contohnya resistensi insulin akan membaik kurang lebih 20% setelah olahraga aerobik selama satu jam pada orang yang sehat, orang yang mengalami resistensi insulin maupun orang dengan diabetes. Perbaikan ini sebanding dengan intervensi farmakologi.24
Olahraga aerobik selama satu jam juga akan menurunkan trigliserida sampai 10% sampai 25% dan meningkatkan kolesterol HDL 7% sampai 15%
serta dapat menurunkan tekanan darah. Olahraga akan memengaruhi komposisi tubuh terutama mengurangi lemak viseral, selain itu akan memperbaiki fungsi glucose transporter 4 (GLUT 4) di otot rangka dan meningkatkan efisiensi metabolisme pada otot.24
BAB 3
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN
3.1 Kerangka Teori
Indeks Massa Tubuh
Kebugaran Fisik Komponen Kebugaran Kemampuan Atletis Kesehatan
Faktor yang mempengaruhi Berat
Badan (kg)
Tinggi Badan (m)
Gambar 3.1. Kerangka Teori
3.2 Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah
Variabel Bebas Variabel Terikat
Gambar 3.2. Kerangka Konsep
Variabel dalam penelitian ini adalah IMT dan kebugaran fisik. Karena penelitian ini merupakan penelitian analitik korelatif maka yang menjadi variabel bebas adalah IMT dan yang menjadi variabel terikat adalah kebugaran fisik.
Indeks Massa Tubuh Kebugaran Fisik
Denyut Jantung Dipengaruhi oleh Inervasi Saraf Otonom Hormon Refleks Atrial
Ambilan Oksigen Maksimum (VO2max)
Dipengaruhi oleh Volume Sekuncup Jumlah Otot
Jumlah Hemoglobin Tes pengukuran
Harvard Step Test
3.3 Hipotesis
Berdasarkan teori yang telah dijabarkan pada tinjauan pustaka, hipotesis dari penelitian ini adalah: Adanya hubungan antara IMT dengan kebugaran fisik dimana semakin tinggi IMT maka semakin rendah kebugaran fisik.
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik korelatif yang bertujuan menilai hubungan antara dua variabel, yaitu IMT dan kebugaran fisik (diwakili dari nilai Indeks Kebugaran Fisik), pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah potong lintang, dimana pengumpulan data atau pengukuran variabel yang akan diteliti dilakukan hanya satu kali tanpa dilakukan tindak lanjut atau pengulangan pengukuran.
4.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama bulan Oktober sampai November 2016 di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Pemilihan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara sebagai lokasi penelitian karena lokasi mudah dijangkau untuk mendapatkan subjek penelitian.
4.3 Populasi dan Subjek 4.3.1 Populasi Penilitian
Populasi penelitian pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013 dan 2014.
4.3.2 Subjek Penelitian
Subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013 dan 2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
4.3.3 Kriteria Inklusi a. Bersedia menjadi subjek.
b. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013- 2014.
c. Sehat, tidak berada pada kondisi yang kontraindikasi terhadap Harvard Step Test.
d. Memiliki nadi awal diantara 60-100 detak/menit.
4.3.4 Kriteria Eksklusi
a. Berolahraga secara teratur, yaitu frekuensi ≥3 kali/minggu dan durasi 20-30 menit.
b. Memiliki nadi awal diatas 100 detak/menit.
c. Wanita dalam keadaan hamil.
d. Wanita dalam keadaan menstruasi.
e. Memiliki penyakit jantung kronis.
Besar minimal subjek pada penelitian ini adalah 48 orang berdasarkan rumus berikut:
{
[( ) ( )]} Keterangan
n = besar subjek yang dibutuhkan
Zα = tingkat kemaknaan pada 0.05 yaitu 1.960 Zβ = kekuatan uji pada 0.1 yaitu 1.280
r = koefisien korelasi dari penelitian sebelumnya yaitu 0.45
4.3.5 Teknik Pengambilan Sampel
Dalam penelitian ini, subjek yang digunakan adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah dipilih secara consecutive sampling, yaitu setiap populasi yang memenuhi kriteria pemilihan (inklusi dan eksklusi) dimasukkan dalam penelitan sehingga jumlah subjek yang dibutuhkan terpenuhi.
4.4 Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer ini meliputi berat badan, tinggi badan dan denyut nadi setelah melakukan Harvard Step Test. Semua data ini diperoleh dengan melakukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur timbangan Camry Mechanical Personal Scale ISO 9001: 200 model BR 9015B buatan Cina, stadiometer Stature Meter 2 M buatan Cina. Nilai IKF ditentukan dengan rumus estimasi setelah diperoleh denyut nadi dari Harvard Step Test. Ada sejumlah alat yang digunakan dalam penelitian ini. Sejumlah peralatan yang dimaksud ada yang digunakan saat penyaringan subjek, pemeriksaan IMT maupun pemeriksaan kebugaran fisik.
Beberapa peralatan penting yang digunakan adalah:
Pengukuran IMT:
1. Timbangan Camry Mechanical Personal Scale ISO 9001: 200 model BR 9015B buatan Cina
2. Stadiometer Stature Meter 2 M buatan Cina Pengukuran IKF
1. Bangku setinggi 50 cm 2. Metronom
3. Stopwatch
4.5 Prosedur Kerja
Sebelum ditetapkan menjadi subjek penelitian, calon subjek penelitian yang merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mengisi informed consent dan kuisioner terlebih dahulu. Kuisioner berisi pertanyaan yang meliputi tentang data diri, IMT, kebiasaan berolahraga serta kebiasaan merokok.
Pertanyaan dalam kuisioner bertujuan untuk menyaring populasi sehingga memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Bila terpilih maka subjek akan diukur kembali lagi IMT-nya dan menjalani tes kebugaran fisik. Untuk menentukan IMT maka prosedur pengukuran berat badan dan tinggi badan akan dilakukan.
Prosedur pengukuran berat badan terdiri dari:
1. Jalannya prosedur diawasi oleh pengawas.
2. Berat badan diukur dengan menggunakan timbangan dewasa.
3. Sebelum dilakukan pengukuran, pasien diwajibkan berkemih terlebih dahulu.
4. Pada saat pengukuran berat badan, subjek tidak menggunakan aksesoris layaknya jam, topi dan aksesoris lainnya serta subjek diminta untuk mengosongkan kantong celana.
5. Subjek naik ke atas timbangan.
6. Subjek dalam keadaan diam, tegak lurus dan pandangan menghadap kedepan.
7. Melihat berapa berat badan subjek yang ditunjukkan jarum timbangan yang dilakukan oleh peneliti.
Prosedur pengukuran tinggi badan terdiri dari:
1. Jalannya prosedur diawasi oleh pengawas.
2. Tinggi badan diukur dengan menggunakan stadiometer yang dipasang di dinding.
3. Pada saat pengukuran tinggi badan, subjek tidak menggunakan topi atau peralatan apapun pada kepalanya dan tidak menggunakan alas kaki.
4. Subjek berdiri tegak lurus dengan pendangan menghadap ke depan 5. Tarik stadiometer, letakkan ujungnya tepat dipuncak kepala (verteks) 6. Melihat berapa tinggi badan subjek yang dilakukan oleh peneliti Prosedur Harvard Step Test19
1. Subjek melangkah ke atas dan ke bawah pada bangku dengan ketinggian 20 inci atau sekitar 50 cm selama maksimal 5 menit atau sampai subjek merasa tidak mampu untuk melanjut prosedur.
2. Subjek melangkah sesuai dengan metronom yang sebelumnya sudah dicek ketelitiannya dengan irama 120 kali/menit
3. Selama prosedur, subjek diminta untuk tetap dalam posisi tegak dan untuk tetap mengikuti irama detikan metronom
4. Setelah selesai (setelah 5 menit atau setelah kelelahan) subjek diminta untuk tetap berdiri dan denyut nadi radialis dihitung dari 1 sampai 1,5 menit, 2 sampai 2.5 menit dan 3 sampai 3.5 menit (sejak masa pemulihan). Denyut nadi radialis diukur oleh peneliti.
5. Lakukan perhitungan nilai indeks kebugaran fisik yang dilakukan oleh peneliti
4.6 Pengolahan dan Analisis Data
Setelah dikumpulkan, data diolah, disajikan dalam tabel distribusi frekuensi dan dianalisis secara bivariat. Dalam menganalisis data secara bivariat, pengujian data dilakukan dengan menggunakan uji statistik korelasi untuk mengetahui sejauh mana kekuatan hubungan Indeks Massa Tubuh dengan kebugaran fisik. Pengolahan data dengan menggunakan program komputer SPSS 23.0. Bila kedua variabel berdistribusi normal, dilakukan uji Pearson. Bila kedua variabel tersebut tidak terdistribusi normal maka dilakukan uji transformasi Fisher's untuk menormalkan distribusi kedua variabel tersebut. Bila hasil tetap tidak terdistribusi normal maka dipakai uji Spearman (nonparametrik).
4.7 Definisi Operasional
1. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah indikator berat seseorang yang ditentukan menggunakan rumus ( )( )
Cara pengukuran : Observasi
Alat Ukur : Timbangan dan stadiometer Hasil Ukur : IMT dalam kg/m2
Skala Ukur : Numerik
2. Kebugaran fisik adalah suatu parameter yang diukur dengan indeks kebugaran fisik yang akan dihitung menggunakan rumus
I.K.F = Lama naik turun (dalam detik) x 100 2 x jumlah ketiga nilai nadi tiap 30 detik Cara pengukuran : Harvard Step Test
Alat Ukur : Bangku 30 cm dan metronom Hasil Ukur : IKF
Skala Ukur : Numerik
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di salah satu ruangan kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang beralamat di Jalan Dr. Mansyur No 5. Luas tempat penelitian kira-kira 6 x 4 m, tersedia kursi, stopwatch, metronome, stadiometer, dan timbangan.
5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sampel
Sampel penelitian ini merupakan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2013-2014, dengan rentang usia 19-22 tahun. Responden terdiri dari 48 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Subjek yang berpartisipasi dalam penelitian ini telah menandatangani Informed Consent (persetujuan setelah penjelasan). Penelitian dilakukan selama Oktober – November 2016. Berikut ini adalah karakteristik dari subjek penelitian :
a. Angkatan, Umur, Jenis Kelamin, Kebiasaan Olahraga dan Merokok Tabel 5.1 Distribusi Subjek Berdasarkan Angkatan, Umur Jenis Kelamin,
Kebiasaan Berolahraga dan Merokok
2013 (n= 41) 2014 (n = 7)
21
Berikut merupakan data distribusi subjek berdasarkan IMT mahasiswa/i FK USU pada penelitian ini :
Tabel 5.2 Distribusi Subjek Berdasarkan IMT
IMT Jumlah (n=48) Persentasi (%)
Berdasarkan tabel diatas, subjek dengan IMT yang normal merupakan jumlah terbanyak (47.9%) dan subjek dengan IMT yang overweight menempati tempat kedua (35.4%).
c. Indeks Kebugaran Fisik
Berikut merupakan data distribusi subjek berdasarkan IKF mahasiswa/i FK USU pada penelitian ini :
Tabel 5.3 Distribusi Subjek Berdasarkan IKF
IKF Jumlah (n=48) Persentasi (%)
Berdasarkan tabel diatas, subjek dengan IKF cukup merupakan jumlah terbanyak (31.3%) dan subjek dengan IKF baik memiliki jumlah terbanyak kedua (27.1%)
d. Hubungan IMT dengan IKF
Penelitian ini bertujuan untuk menilai adanya hubungan IMT dengan IKF.
Melalui penelitian dapat ditemukan 22 subjek berberat badan normal dari 48 subjek penelitan dimana 6 subjek diantaranya memiliki kebugaran fisik yang baik dan 6 subjek memiliki kebugaran fisik yang sangat baik. Dari hasil penelitian juga ditemukan bahwa subjek yang memiliki kebugaran fisik yang kurang berasal dari subjek yang memiliki IMT overweight ataupun obesitas.
Tabel 5.4 Distribusi Subjek Menurut IMT dan IKF
IMT(n=48)
IKF
Kurang Sedang Cukup Baik Sangat Baik
n % n % n % n % n %
Underweight 0 0 0 0 1 100 0 0 0 0
Normoweight 0 0 3 13 8 34.8 6 26.1 6 26.1
Overweight 4 235 0 0 5 29.4 6 35.3 2 11.8
Obese 1 14.3 4 57.1 1 14.3 1 14.3 0 0
5.1.4. Hasil Analisis Statistik
Penelitian ini ingin menilai hubungan antara IMT dengan kebugaran fisik yang dapat dievaluasi berdasarkan nilai IKF. Untuk mengetahui kekuatan hubungan diantara kedua variabel tersebut dilakukan uji Pearson. Adapun hasil uji Korelasi Pearson dalam penelitian ini dapat ditanyakan dalam tabel berikut :
Tabel 5.5 Hubungan IMT dengan IKF
Variabel Penelitian Rerata(±SD) r p value
IMT 23.46(4.16) -0.416 0.03
IKF 77.76(19.0)
Tabel 5.6 Hubungan IMT dengan IKF sesuai Jenis Kelamin
Variabel Penelitian Rerata(±SD) r p value Laki-laki IMT
IKF
76.59(4.14) 24.74(22.28)
-0.483 0.006
Perempuan IMT IKF
79.89(3.43) 21.12(11.42)
-0.146 0.557
Penelitian ini menggunakan hipotesis dua arah (two-tailed) dengan tingkat kepercayaan 95%, yang berarti jika didapati nilai p < 0.05 berarti hipotesis nol penelitian ditolak. Setelah dianalisis, dalam penelitian ini didapati nilai p = 0.03 . Karena nilai p yang diperoleh lebih kecil dari 0.05, maka hipotesis nol dalam penelitian ini ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara Indeks Massa Tubuh dengan kebugaran fisik (p < 0.05). Untuk menentukan kekuatan hubungan antara kedua variabel tersebut, dilakukan interpretasi dari nilai koefisien korelasi Pearson penelitian ini r = -0.41 Tanda minus menyatakan arah hubungan, yakni semakin tinggi IMT maka semakin rendah nilai IKF. Sedangkan 0.41 menyatakan besarnya kekuatan hubungan antara IMT dan IKF. Besamya kekuatan hubungan antara IMT dengan kebugaran fisik dalam penelitian ini adalah sedang. Sedangkan pada tabel kedua menunjukkan perbandingan antara laki-laki dan perempuan dimana hanya pada laki-laki terdapat hubungan yang bermakna yang dapat kita lihat dari p value dan korelasi Pearson. Pola hubungan antara dua variabel numerik juga dapat dilihat dalam suatu diagram tebar (scatter plot). Data IMT ditampilkan pada sumbu X (aksis) sementara kebugaran fisik disajikan pada sumbu Y (ordinat), sedemikian sehingga semua data yang terkumpul dapat ditampilkan melalui
diagram tebar berikut:
Gambar 5.1 Diagram Tebar Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kebugaran Fisik
Keterangan
IMT : Indeks Massa Tubuh IKF : Indeks Kebugaran Fisik
Gambar 5.2a dan 5.2b Diagram Tebar Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan
Kebugaran Fisik pada Laki-laki dan Perempuan
Keterangan
IMT : Indeks Massa Tubuh IKF : Indeks Kebugaran Fisik
Gambar 5.1 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang linier antara IMT dengan kebugaran fisik. Selain itu, Gambar 5.1 juga menujukkan korelasi negatif antara IMT dengan kebugaran fisik. Dengan kata lain, semakin tinggi IMT maka semakin rendah kebugaran fisik. Gambar 5.2 dan 5.3 menunjukkan perbandingan hubungan antara laki laki dan perempuan dimana melalui diagram dapat kita lihat adanya hubungan linier pada diagram laki-laki yang menunjukkan signifikansi yang tidak dapat kita lihat pada diagram perempuan.
5.2. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 22 dari 48 subjek memiliki IMT dengan berat normal (47.9%) dan 17 dari 48 subjek memiliki IMT yang overweight (35.4%). Hal ini diikuti dengan mayoritas dari subjek yang meiliki kebugaran fisik yang cukup (31.3%) dan kebugaran fisik yang baik (27.1%). Hasil penelitian juga menunjukkan, bahwa sebagian besar dari subjek yang memiliki IMT obesitas dan overweight menunjukkan performa dari IKF yang cukup dan kurang , sedangkan subjek yang memiliki IMT normoweight memiliki hasil IKF yang dominan baik dan sangat baik melebihi kelompok IMT lainnya. Hal ini
sesuai dengan penelitian So dan Choi (2010) yang mengemukakan bahwa tingginya lemak tubuh pada orang obesitas akan menjadi penghalang dan memberikan beban tambahan terhadap fungsi kardiorespirasi selama latihan.
Berkurangnya fungsi ini akan berdampak pada rendahnya ambilan oksigen yang digunakan untuk metabolisme intrasel, terutama sel-sel muskuloskeletal. Karena deposisi lemak yang tidak proporsional, sistem muskuloskeletal gagal untuk memperoleh jumlah oksigen yang cukup selama melakukan latihan yang mengakibatkan menurunnya kebugaran fisik.26
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi IMT maka semakin rendah nilai dari IKF dengan kekuatan hubungan sedang (r = 0.41, p = 0.03) yang memiliki hasil yang sejalan dengan penelitian sejenis yang dilaksanakan oleh Laxmi (2008) yang mendapat hasil r = -0.45, p < 0.01.27 Selain dari itu, penelitian ini menunjukkan perbedaan jenis kelamin menunjukkan nilai dari korelasi yang berbeda, dimana hubungan IMT dengan IKF laki-laki memiliki nilai yang lebih signifikan dan hubungan yang sedang (r = -0.48, p = 0.006) dibanding hasil hubungan perempuan (r = 0.146, p = 0.557) yang menunjukkan tidak adanya signifikansi dan kekuatan hubungan yang rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian Yong Jun Lu di Taiwan pada tahun 2012 bahwa adanya pengaruh kuat oleh budaya sekitar, film maupun hiburan TV modern yang mengakibatkan perempuan menginginkan badan ideal melalui diet. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan dari massa otot, lemak dan mineral tulang
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi IMT maka semakin rendah nilai dari IKF dengan kekuatan hubungan sedang (r = 0.41, p = 0.03) yang memiliki hasil yang sejalan dengan penelitian sejenis yang dilaksanakan oleh Laxmi (2008) yang mendapat hasil r = -0.45, p < 0.01.27 Selain dari itu, penelitian ini menunjukkan perbedaan jenis kelamin menunjukkan nilai dari korelasi yang berbeda, dimana hubungan IMT dengan IKF laki-laki memiliki nilai yang lebih signifikan dan hubungan yang sedang (r = -0.48, p = 0.006) dibanding hasil hubungan perempuan (r = 0.146, p = 0.557) yang menunjukkan tidak adanya signifikansi dan kekuatan hubungan yang rendah. Hal ini sesuai dengan penelitian Yong Jun Lu di Taiwan pada tahun 2012 bahwa adanya pengaruh kuat oleh budaya sekitar, film maupun hiburan TV modern yang mengakibatkan perempuan menginginkan badan ideal melalui diet. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan dari massa otot, lemak dan mineral tulang