• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

E. Perilaku Setelah Pembelian

4. Faktor-faktor psikologis • Motivas

4.2. Kerangka Pemikiran Operasional

Daging sapi merupakan salah satu kebutuhan strategis masyarakat yang kebutuhannya saat ini banyak dipenuhi oleh pasokan dalam negeri dan impor. Hal

ini dikarenakan setiap tahun permintaan akan daging sapi ini terus meningkat, yaitu sebesar 5 persen per tahun, sementara kebutuhan daging dalam negeri masih belum bisa terpenuhi secara mandiri sehingga untuk memenuhi pemintaan tersebut pemerintah harus mengimpor5.

Fokus dari penelitian ini adalah konsumen daging sapi yang berada di DKI Jakarta, tepatnya di Kecamatan Setiabudi. Daging sapi sendiri dipilih karena selama ini 70 persen daging sapi yang dijual di Jakarta merupakan daging sapi impor6. Sementara itu pemerintah mencanangkan program swasembada daging 2014 dengan harapan 90 persen kebutuhan daging sapi dalam negeri dipenuhi oleh daging sapi lokal. Namun, jika melihat kondisi yang terjadi di Jakarta, secara tidak langsung menyatakan bahwa masyarakat di daerah ini lebih terbiasa mengkonsumsi daging sapi impor dibandingkan daging sapi, karena jumlahnya yang lebih banyak tadi sehingga ada kekhawatiran masyarakat yang sudah terbiasa memakan daging sapi impor enggan beralih ke daging sapi lokal. Oleh karena itu penelitian ini berusaha melihat bagaimana sikap masyarakat di daerah ini terhadap daging sapi lokal dengan daging sapi impor.

Untuk melihat sikap konsumen terhadap daging sapi dengan daging sapi impor, dilakukan penilaian terhadap tiga kategori, yaitu karakteristik konsumen daging sapi, atribut daging sapi, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian konsumen terhadap daging sapi lokal dengan daging sapi impor. Untuk mendapatkan hasil tersebut, maka masing-masing kategori tersebut dinilai dengan alat analisis yang sesuai.

Penilaian terhadap karakteristik konsumen daging sapi dilakukan dengan analisis deskriptif yang dapat menduga seperti apa karakteristik konsumen daging sapi di lokasi penelitian. Sementara untuk melihat atribut-atribut produk yang menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli daging sapi digunakan alat analisis multiatribut Fishbein. Adapun atribut-atribut daging sapi yang diteliti dalam penelitian ini adalah harga, kesegaran, sertifikasi, rasa, keempukan, lemak, kekenyalan, warna, dan tekstur daging. Sedangkan untuk melihat faktor-faktor       

5  

Setiadi A. Maret 2011. Pertaruhan Program Swasembada Daging Sapi 2014. Food Review 6 (3): hlm 22.

6  

Anonim. 2012. DKI Butuh Kuota Khusus Daging. http://www.wartakotalive.com/detil/berita/74016/DKI-Butuh-Kuota-Khusus-Daging.[27

yang mempengaruhi pembelian konsumen terhadap daging sapi yang dibelinya digunakan analisis regresi. Adapun variabel-variabel yang diteliti dalam penelitian ini umur, pendapatan, pengeluaran untuk kelompok daging, harga daging sapi, tingkat pendidikan, frekuensi konsumsi daging sapi dan jumlah anggota keluarga. Alur kerangka pemikiran ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Alur Kerangka Pemikiran Sikap dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembelian Daging Sapi Lokal dengan Daging Sapi Impor

Analisis deskriptif

Karakteristik konsumen daging sapi lokal dan impor

• Kebutuhan daging sapi nasional belum bisa terpenuhi secara mandiri.

• Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan kebijakan impor daging sapi.

• Sehingga ada dua jenis daging sapi di pasaran, yaitu daging sapi lokal dan impor

Konsumen Sosial ekonomi

konsumen daging sapi lokal dan impor

Atribut daging sapi lokal dan

impor

Proses pengambilan keputusan

Multiatribut Fishbein

Sikap konsumen terhadap daging sapi

lokal dan impor

Analisis regresi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian daging sapi tersebut

IV.

METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian mengenai sikap konsumen terhadap daging sapi lokal dan impor ini dilakukan di DKI Jakarta, tepatnya di Kecamatan Setiabudi, Kotamadya Jakarta Selatan. DKI Jakarta dipilih secara purposive karena selama ini 70 persen daging sapi yang ada di Jakarta merupakan daging impor7 dan Kecamatan Setiabudi sendiri dipilih dengan pertimbangan bahwa kecamatan ini merupakan daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat karena merupakan kawasan bisnis dan penduduk di wilayah ini merupakan orang-orang dengan tingkat ekonomi menengah hingga menengah ke bawah. Pengambilan data dilakukan dari bulan Maret sampai dengan April 2012

4.2. Metode Penentuan Sampel

Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah menentukan secara acak sederhana dua kelurahan yang akan dijadikan tempat pengambilan sampel. Kemudian dilanjutkan dengan tahap kedua, yaitu memilih responden dari masing-masing kelurahan tersebut. Setiap kelurahan terpilih akan diwakili oleh 25 responden sehingga total responden dalam penelitian ini adalah 50 orang.

Tabel 3. Jumlah Kelurahan, Kelurahan Terpilih dan Responden Terpilih Kecamatan Setiabudi, Kotamadya Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Kecamatan Kelurahan Kelurahan Terpilih Responden Terpilih Setiabudi 8 Menteng Atas 25 orang

Pasar Manggis 25 orang

Jumlah 50 orang

Responden dalam penelitian ini dipilih secara purposive sampling dimana responden dipilih secara sengaja berdasarkan tempat tinggal mereka, apakah di Kelurahan Pasar Manggis atau di Kelurahan Menteng Atas serta kesediaan mereka untuk diwawancarai dan mengisi kuesioner yang telah disediakan. Syarat- syarat pemilihan responden dalam penelitian ini diantaranya, dapat berkomunikasi dengan baik, dewasa dengan batasan umur minimal 17 tahun dan umur maksimal

      

7

65 tahun serta memiliki wewenang sendiri dalam menentukan pengeluarannya untuk berbelanja misalnya ayah/suami, ibu/istri, pelajar/mahasiswa.

4.3. Data dan Instrumentasi

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner dan wawancara dengan responden rumah tangga sebagai konsumen daging sapi. Sementara data sekunder yang digunakan merupakan data penunjang dan pelengkap penelitian yang diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Perpustakaan IPB dan sumber-sumber lain yang terkait dengan topik penelitian.

4.4. Metode Pengolahan Data 4.4.1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisa karakteristik responden, yaitu umur, jenis kelamin, status pernikahan, jumlah anggota keluarga, pekerjaan, pendapatan serta pendidikan. Analisis ini disajikan dalam bentuk tabulasi sederhana dengan mengelompokkan responden berdasarkan jawaban yang sama dan kemudian dipersentasekan berdasarkan jumlah responden.

4.4.2. Model Sikap Multiatribut Fishbein

Model sikap Multiatribut Fishbein digunakan untuk memperoleh konsistensi antara sikap dan perilaku konsumen. Berdasarkan model ini, sikap terhadap objek tertentu didasarkan pada peringkat kepercayaan yang diringkas mengenai atribut objek yang bersangkutan yang diberi bobot oleh evaluasi terhadap atribut produk.

Tujuan dilakukannya analisis atribut untuk daging sapi lokal dan daging sapi impor adalah untuk membandingkan sikap dari kedua jenis daging sapi tersebut. Dalam hal ini yang digunakan sebagai pembanding antara kedua jenis daging sapi adalah atribut produk. Secara simbolis, formulasi model Fishbein dapat dirumuskan sebagai berikut :

Keterangan :

Ao : Sikap terhadap objek

bi : Tingkat kepercayaan bahwa objek memiliki atribut i ei : Evaluasi kepentingan terhadap atribut i

n : Jumlah atribut yang dimiliki oleh objek

Langkah pertama yang dilakukan dalam menghitung sikap adalah menentukan atribut objek. Atribut yang digunakan dalam analisis ini berjumlah sembilan atribut yang terdiri dari harga, kesegaran, sertifikasi, rasa, keempukan, lemak, kekenyalan, warna, dan tekstur daging. Penentuan kesembilan atribut ini didasarkan pada hasil pengamatan yang dilakukan di wilayah penelitian serta berdasarkan artikel-artikel dan buku-buku yang terkait dengan penelitian.

Langkah kedua adalah menentukan pengukuran terhadap komponen kepercayaan (bi) dan komponen evaluasi (ei). Komponen bi menggambarkan seberapa kuat konsumen percaya bahwa objek memiliki atribut yang diberikan. Kekuatan kepercayaan biasanya diukur pada skala dengan 5 (lima) angka dari kemungkinan yang disadari yang berjajar dari sangat setuju (5), setuju (4), biasa (3), tidak setuju (2), sampai sangat tidak setuju (1). Sebagai contoh :

Harga daging sapi lokal murah

Sangat setuju 5 4 3 2 1 Sangat tidak setuju

Konsumen akan menganggap atribut produk memiliki tingkat kepentingan yang berbeda. Evaluasi atribut mengukur seberapa senang konsumen terhadap atribut dari suatu produk. Adapun komponen ei yaitu menggambarkan evaluasi (tingkat kepentingan) konsumen terhadap atribut daging sapi secara menyeluruh.

Evaluasi (tingkat kepentingan) ini dilakukan pada skala evaluasi 5 (lima) angka, dimana hal tersebut menunjukkan nilai sangat penting (5), penting (4), biasa (3), tidak penting (2) dan sangat tidak penting (1). Atribut yang digunakan untuk komponen bi harus sama dengan atribut yang digunakan untuk komponen ei. Sebagai contoh :

Apakah harga daging sapi penting bagi Anda

Langkah selanjutnya adalah menjumlahkan keseluruhan respon untuk bi dan ei. Setiap skor kepercayaan (bi) harus terlebih dahulu dikalikan dengan skor evaluasi (ei) yang sesuai. Kemudian seluruh hasil perkalian harus dijumlahkan sehingga dari hasil tabulasi dapat diketahui sikap konsumen (Ao) terhadap produk dengan membandingkannya dengan skala interval dengan rumus sebagai berikut.

Skala Interval = Keterangan :

m : Skor tertinggi yang mungkin terjadi n : Skor terendah yang mungkin terjadi b : Jumlah skala penilaian yangterbentuk

Maka besarnya range untuk tingkat kepercayaan dan tingkat evaluasi (kepentingan) adalah :

,8

Sehingga pembagian kelas berdasarkan tingkat kepercayaan dan tingkat kepentingan adalah :

Skor Interpretasi Tingkat

Kepercayaan

Interpretasi Tingkat Kepentingan

1-1,8 Sangat tidak baik Sangat tidak penting 1,8-2,6 Tidak baik Tidak penting

2,6-3,4 Biasa Biasa 3,4-4,2 Baik Penting

4,2-5 Sangat baik Sangat penting Sementara besarnya range untuk kategori sikap adalah :

x x

,8

Sehingga pembagian kelas berdasarkan nilai sikap (Ao) adalah :

Skor Interpretasi Sikap (Ao)

1-5,8 Sangat negatif 5,8-10,6 Negatif 10,6-15,4 Netral 15,5-20,2 Positif 20,3-25 Sangat positif

4.4.3. Analisis Regresi

Data yang telah dikumpulkan selanjutnya dianalisis dengan analisis regresi dengan menggunakan program komputer Minitab 14 untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi pembelian konsumen daging sapi lokal dan impor. Variabel untuk faktor-faktor tersebut bersumber dari penelitian terdahulu serta hasil pendugaan di lapangan.

Analisis regresi adalah suatu teknik statistika yang berguna untuk memeriksa dan memodelkan hubungan berbagai variabel yaitu bagaimana pengaruh variabel tidak bebas terhadap variabel bebas. Bentuk umum rumusan model regresi adalah :

β X ε

Dimana : Yi = peubah tidak bebas, dengan i = 1,2,…,n (sampel) = intersesp (konstantan)

β = parameter penduga bagi X (koefisien regresi dari variabel bebas) X = variabel bebas ke-n dengan n= 1,2,…., n

ε = error (galat)

Pendugaan model tersebut dilakukan dengan menggunakan metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square) yang didasarkan asumsi-asumsi sebagai berikut (Nasution 2009) :

1. Nilai rata-rata untuk kesalahan pengganggu sama dengan nol, yaitu Eε= 0, untuk i = 1,2,3,…,k.

2. Ragam ε σ2 sama untuk semua kesalahan pengganggu (asumsi homoscedasticity).

3. Tidak ada autikorelsi antara kesalahan pengganggu, berarti kovarian (ε,

ε) = 0, untuk i ≠ j. dengan demikian antara ε dan ε tidak saling bergantung.

4. Peubah bebas X saling bebas atau tidak ada kolinearitas ganda diantara peubah bebas X.

5. Peubah bebas X1,X2,X3,….,Xk konstan dalam pengambilan sampel terulang dan bebas terhadap kesalahan pengganggu.

6. Kesalahan pengganggu mengikuti distribusi normal dengan rata-rata nol dan varian σ2.

Apabila asumsi-asumsi di atas dapat terpenuhi, maka koefisien regresi (parameter) yang diperoleh merupakan penduga linear terbaik yang tidak bias (BLUE = Best Linear Unbiased Estimator).

Beberapa asumsi yang mendasari model tersebut adalah terjadinya multikolinearitas, memiliki ragam homogen atau disebut juga adanya masalah heteroskedastisitas, tidak adanya hubungan antar peubah atau autokorelasi (Nasution 2009). Oleh karena itu dilakukan uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji homoskedastisitas untuk melihat apakah asumsi-asumsi tersebut terpenuhi. Uji autokorelasi sendiri tidak dilakukan dalam penelitian ini karena menggunakan data cross section, yaitu data yang diambil pada satu satuan waktu. Asumsi tersebut jarang dilanggar untuk jenis data cross section.

1. Uji Normalitas

Asumsi normalitas mengharuskan nilai residual dalam model menyebar atau terdistribusi secara normal. Untuk mengetahuinya dilakukan uji Kolmogrov-Smirnov dengan memplotkan nilai standar residual dengan probabilitasnya pada tes normal. Jika pada grafik Kolmogrov-Smirnov titik-titik residual yang ada tergambar segaris dan nilai P value lebih besar atau sama dengan 0,05 (α = 5 persen), maka dapat disimpulkan bahwa model terdistribusi secara normal.

2. Uji Multikolinieritas

Multikolinieritas merupakan situasi adanya korelasi variabel-variabel bebas diantara satu dengan yang lainnya. Multikolinearitas dalam model dapat dilihat dari nilai Variance Factor (VIF) pada masing-masing variabel bebasnnya. Jika nilai VIF kurang dari sepuluh (10), maka menunjukkan bahwa persamaan tersebut tidak mengalami masalah multikolinieritas yang serius. Sebaliknya jika nilai VIF peubah bebasnya lebih besar dari sepuluh (10), maka menunjukkan persamaan tersebut mengalami masalah multikolinieritas yang serius.

3. Uji Homoskedastisitas

Uji homoskedastisitas ini pada dasarnya menyatakan bahwa nilai-nilai Y bervariasi dalam satuan yang sama. Untuk menguji asumsi ini dibuat plot antara standardized residual dengan faktor X. jika tidak terdapat suatu pola dalam plot tersebut maka dikatakan bahwa data tersebut homogeny (Nasution 2009). Untuk menguji ada tidaknya masalah heteroskedastisitas dalam model dilakukan dengan metode Bartlett. Apabila Bhitung < X2tabel maka terima H0, artinya data homogen. Sebaliknya apabila Bhitung > X2tabel maka tolak H0, artinya data tidak homogen.

Setelah data diuji dan terbukti memenuhi asumsi-asumsi tersebut, maka dilanjutkan dengan melakukan analisis regresi untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian daging sapi lokal dan impor. Berikut ini adalah model pendugaan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian daging sapi lokal dan impor :

Dimana : Yi = Permintaan daging sapi lokal dan impor X1 = Umur (tahun)

D2 = Dummy Pendapatan

D2 = 1, untuk pendapatan lebih besar atau sama dengan Rp 2.500.000 per bulan

D2 = 0, untuk pendapatan kurang dari Rp 2.500.000 per bulan X3 = Pengeluaran (rupiah/bulan)

X4 = Harga (rupiah/kg) D5 = Dummy Pendidikan

D5 = 1, untuk responden yang telah atau sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

D5 = 0, untuk responden yang tidak atau belum menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

D6 = Dummy frekuensi konsumsi

D6 = 1, untuk responden yang mengkonsumsi daging sapi lebih dari atau sama dengan 3 kali sebulan.

D6 = 0, untuk responden yang mengkonsumsi daging sapi kurang dari 3 kali sebulan.

X7 = Jumlah anggota keluarga (orang). = Intersep

= Koefisien regresi yang diduga (i=1,2,…,7) = unsur galat/error

Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini sebagai jawaban sementara terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian daging sapi lokal dan impor adalah :

1. Umur

Umur mempunyai pengaruh negatif terhadap jumlah pembelian daging sapi, dimana semakin lanjut usia orang akan mengurangi pembelian daging sapi karena alasan kesehatan.

2. Pendapatan

Pendapatan rumah tangga berpengaruh positif terhadap pembelian daging sapi, dimana semakin besar pendapatan rumah tangga, maka akan meningkatkan jumlah pembelian daging sapi pada setiap tingkat harga yang berlaku.

3. Pengeluaran untuk kelompok daging

Pengeluaran atau anggaran belanja untuk kelompok daging memiliki pengaruh positif terhadap pembelian daging sapi, dimana semakin tinggi pengeluaran untuk kelompok daging, maka jumlah pembelian daging sapi akan meningkat.

4. Harga daging sapi

Semakin rendah harga daging sapi, maka akan semakin tinggi jumlah pembelian daging sapi.

5. Pendidikan

Konsumen dengan tingkat pendidikan yang tinggi mengetahui manfaat dari daging sapi untuk pemenuhan gizi seimbang sehingga jumlah pembelian daging sapi juga akan semakin meningkat.

6. Frekuensi konsumsi daging sapi

Frekuensi konsumsi daging sapi berpengaruh positif dengan jumlah pembelian daging sapi, dimana semakin sering konsumen mengkonsumsi daging sapi maka jumlah pembelian daging sapi pun meningkat.

7. Jumlah anggota keluarga

Jumlah anggota keluarga berpengaruh positif terhadap pembelian daging sapi, dimana semakin banyak jumlah anggota keluarga maka jumlah pembelian daging sapi juga akan semakin meningkat.

Model yang dianalisis membutuhkan pengujian terhadap hipotesis- hipotesis yang dilakukan. Pengujian hipotesis secara statistic bertujjuan untuk melihat nyata atau tidaknya oengaruh peubah-peubah bebas yang dipilih terhadap peubah tidak bebas yang diteliti.

1. Koefisien Determinasi (Goodness of Fit)

Untuk menguji kemampuan (kebaikan) model untuk dugaan dilakukan dengan menghitung nilai R2 dan F-hitung. Nilai koefisien determinasi (nilai R2) digunakan untuk mengukur keragaman dari variabel tidak bebas yang dapat dijelaskan oleh variabel bebas. Nilai R2 berkisar antara nol sampai satu, semakin besar nilai R2 berarti model semakin baik.

2. Uji t statistik

Uji t statistik bertujuan untuk mengetahui apakah masing-masing peubah bebas yang terdapat dalam model berpengaruh nyata terhadap peubah tidak bebas yang diteliti. Nilai kritis dalam pengujiaan terhadap koefisien regresi ditentukan dengan menggunakan tabel distribusi normal serta memperhatikan tingkat signifikansi (taraf nyata).

4.5. Definisi Operasional

1. Rumah tangga adalah keluarga inti (suami, istri, dan anak-anak) ditambah kerabat atau lainnya yang tinggal dalam satu rumah dan makan dari satu dapur. Yang dimaksud dengan satu dapur adalah pembiayaan keperluan jika pengurusan kebutuhan sehari-hari dikelola secara bersama-sama.

2. Konsumen rumah tangga adalah satu keluarga yang mengkonsumsi daging sapi, baik lokal maupun impor untuk kebutuhan anggota keluarga.

3. Pendapatan rumah tangga meliputi pendapatan ayah, ibu dan anak (bila sudah bekerja) yang tinggal dalam satu keluarga/rumah tangga dan dinyatakan dalam satuan rupiah.

4. Jumlah anggota keluarga adalah semua orang yang menjadi tanggungan dalam keluarga yang tinggal salam satu rumah tangga.

5. Harga daging sapi adalah harga yang harus dibayar oleh konsumen terhadap daging sapi lokal maupun impor yang dibeli.

6. Sertifikasi daging sapi adalah penetapan dari pihak ketiga bahwa daging sapi telah memenuhi standar.

7. Kesegaran daging adalah daging yang belum diolah dan diberi bumbu.

8. Keempukan daging adalah tingkat kehalusan tekstur potongan daging sapi sehingga daging mudah dikunyah, contohnya : daging has dalam.

9. Kekenyalan daging adalah daging yang apabila ditekan dengan jari tangan bentuknya kembali seperti semula.

10.Tekstur daging adalah kandungan jaringan ikat serta ukuran berkas otot. Tekstur daging sapi dibagi menjadi tiga, yaitu halus, sedang, dan kasar.

V.

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Kecamatan Setiabudi merupakan salah satu kecamatan di Kotamadya Jakarta Selatan yang memiliki luas wilayah sebesar 8,85 km2. Secara geografis, kecamatan ini terletak pada 06 15’ 40,8” LS dan 106 45’ 00,0” BT dan merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 26,2 m di atas permukaan laut. Secara umum batas wilayah Kecamatan Setiabudi adalah :

Utara : Berbatasan dengan Kali Malang Kota Administrasi Jakarta Pusat. Timur : Berbatasan dengan Jl. Prof. Dr. Sahardjo Kecamatan Tebet. Selatan: Berbatasan dengan Jl. Jend Gatot Subroto Kecamatan Kebayoran

Baru.

Barat : Berbatasan dengan Jl. Jend Sudirman Kota Administrasi Jakarta Pusat.

Secara Administratif, Kecamatan Setiabudi terdiri dari 8 (delapan) kelurahan, 50 RW, dan 514 RT. Delapan kelurahan tersebut adalah Karet Semanggi, Kuningan Timur, Karet Kuningan, Karet, Guntur, Setiabudi, Menteng Atas, dan Pasar Manggis. Dari kedelapan kelurahan itu kelurahan yang paling banyak penduduknya adalah Kelurahan Menteng Atas dan Kelurahan Pasar Manggis. Hal ini dikarenakan kedua kelurahan tersebut merupakan daerah pemukiman padat penduduk, tidak seperti kelurahan lainnya yang didominasi oleh gedung-gedung perkantoran. Data mengenai penduduk dan ketenagakerjaan di Kecamatan Setiabudi, untuk lebih lengkapnya dapat dilihat di Tabel 4.

Berdasarkan data yang dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah, jumlah penduduk di Kecamatan Setiabudi adalah 128.882 jiwa atau 25.843 KK dengan kepadatan penduduk mencapai 14.653 jiwa/km2. Sementara, dilihat dari komposisi penduduk antara laki-laki dan perempuan, Kecamatan Setiabudi memiliki lebih banyak penduduk laki-laki dibandingkan penduduk perempuan dengan sex ratio 104.37 yang berarti rata-rata setiap 100 perempuan terdapat 104 laki-laki.

Tabel 4. Luas Wilayah, Jumlah Kepala Keluarga, Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kelurahan, 2010.

No Kelurahan Luas (km2) KK Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk 1 Karet Semanggi 0,90 1.227 3.119 4.153 2 Kuningan Timur 2,15 1..389 6.164 5.383 3 Karet Kuningan 1,79 4.902 29.760 14.305 4 Karet 0,94 1.665 16.620 14.567 5 Menteng Atas 0,90 7.318 33.607 39.984 6 Pasar Manggis 0,78 7.202 21.138 35.741 7 Guntur 0,65 1.336 4.361 7.483 8 Setiabudi 0,74 804 4.794 7.490 Jumlah 8,85 25.843 128.882 14.563 Sumber : BPS Kecamatan Setiabudi (2011)

Tabel 5 menunjukkan dengan jelas banyaknya penduduk menurut jenis kelamin di Kecamatan Setiabudi, yaitu sebanyak 65.819 jiwa dari total penduduk di Kecamatan Setiabudi merupakan penduduk laki-laki dan sisanya sebanyak 63.063 jiwa merupakan penduduk perempuan.

Tabel 5. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin, 1990-2010

Tahun Laki-Laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis Kelamin

2010 65.819 63.063 128.882 104.37 2000 54.628 52.107 106.735 104.84 1990 95.852 86.643 179.945 107.17 Sumber : BPS Kecamatan Setiabudi (2011)

Jumlah penduduk menurut pendidikan di Kecamatan Setiabudi menurut data yang tercatat terdiri dari lulusan/tamatan sarjana sebanyak 13.331 orang, lulusan SMA/sederajat sebanyak 46.034 orang, lulusan SMP/sederajat sebanyak 16.742 orang, lulusan SD/sederajat sebanyak 13.009 orang. Berdasarkan data tersebut dapat terlihat jelas bahwa penduduk di Kecamatan Setiabudi umumnya adalah tamatan SMA/sederajat yang berarti dapat dikatakan penduduk di wilayah ini memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pentingnya protein hewani bagi keluarga mereka.

Berdasarkan tabel di bawah dapat dilihat bahwa di Kecamatan Setiabudi terdapat tiga pasar inpres, empat pasar tradisional, sepuluh pasar swalayan, tujuh mal (mall), empat waserda, dan dua minimarket. Diantara pasar-pasar yang ada di Kecamatan Setiabudi, Pasar Rumput dan Pasar Menteng Pulo merupakan dua

pasar yang cukup terkenal di wilayah ini karena barang-barang yang di jual atau ditawarkan di kedua pasar ini cukup lengkap, mulai dari barang kebutuhan sehari- hari hingga jasa penyewaan dan harga yang ditawarkan juga terjangkau.

Tabel 6. Jumlah Pasar Menurut Kelurahan dan Jenis, 2010

No Kelurahan Pasar Inpres

Pasar Tradisional

Pasar

Swalayan Mall Waserda

Mini Market 1 Karet Semanggi - 1 2 1 - - 2 Kuningan Timur - - - - 1 - 3 Karet Kuningan - 1 2 6 1 - 4 Karet - 1 - - - - 5 Menteng Atas 2 1 5 - 1 - 6 Pasar Manggis 1 1 1 - 1 1 7 Guntur - - - 1 8 Setiabudi - - - - Jumlah 3 4 10 7 4 2

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1. Karakteristik Responden Daging Sapi Lokal dan Daging Sapi Impor

Karakteristik responden yang diamati meliputi usia, jenis kelamin, status pernikahan, pendidikan terakhir, pekerjaan, pendapatan (uang saku) per bulan, dan jumlah anggota keluarga. Responden dalam penelitian ini sebanyak 50 orang yang bertempat tinggal di dua kelurahan di Kecamatan Setiabudi, yaitu Kelurahan Pasar Manggis dan Kelurahan Menteng Atas. Responden yang dipilih adalah mereka yang telah membeli dan mengkonsumsi daging sapi lokal dan daging sapi impor dengan harapan responden dapat memberikan pendapat berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka mengenai kedua daging sapi tersebut.

6.1.1. Usia

Responden berdasarkan kelompok usia dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok usia 17-26 tahun, 27-36 tahun, 37-46 tahun, 47-56 tahun dan kelompok usia 57 tahun keatas. Dengan jumlah masing-masing kelompok berturut