III. KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis .1 Supply Chain Management
Pada saat ini perusahaan-perusahaan tak terkecuali perusahaan agribisnis, dituntut untuk menghasilkan suatu produk dengan harga yang relatif murah tapi dengan kualitas produknya yang baik. Tuntutan ini merupakan bagian dari permintaan konsumen untuk mendapatkan produk yang aman dikonsumsi, nilai gizi dan nutrisi produk yang terjamin, serta jaminan akan mutu dan pengiriman produk yang tepat waktu. Tuntutan ini yang menyebabkan perusahaan-perusahaan berlomba-lomba untuk menciptakan produk yang diinginkan konsumen, maka timbulah persaingan di dalam usaha dalam berbagai hal.
Persaingan terjadi dalam berbagai bentuk, dimulai dari persaingan harga produk, persaingan kualitas produk, persaingan pelayanan terhadap kosumen, persaingan, hingga kepada persaingan dengan pesaing baru yang muncul di dalam usaha sejenis. Ketika persaingan terjadi, perusahaan dituntut untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya agar mampu bersaing dalam persaingan yang ada. Salah satu solusi untuk meningkatkan keunggulan kompetitif dalam persaingan usaha dengan menggunakan supply chain management (SCM) atau manajemen rantai pasokan, SCM berkonsentrasi dalam pengelolaan rantai pasokan. Dengan menerapkan SCM diharapkan perusahaan mampu menyediakan produk yang diinginkan konsumen tepat tempatnya, tepat waktunya, tepat harganya dan tepat kualitasnya.
Supply Chain Management (SCM) atau Manajemen Rantai Pasokan merupakan strategi alternatif yang memberikan solusi dalam menghadapi ketidakpastian lingkungan untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui pengurangan biaya operasi dan perbaikan palayanan konsumen dan kepuasan konsumen. Manajemen rantai pasokan menawarkan suatu mekanisme yang mengatur proses bisnis, peningkatan produktivitas, dan mengurangi biaya operasional perusahaan (Anatan & Ellitan, 2008).
Lee & whang (2000) dalam Anatan & Ellitan (2008) mendefiniskan manajemen rantai pasokan sebagai integrasi proses bisnis dari pengguna akhir
17 melalui pemasok yang memberikan produk, jasa, informasi dan bahkan peningkatan nilai untuk konsumen dan karyawan. Sederhananya, manajemen rantai pasokan adalah jaringan dari berbagai organisasi yang berhubungan dan saling terkait yang mempunyai tujuan sama, yaitu menyelenggarakan penyaluran barang dari pemasok hingga ke konsumen dengan efisien, jaringan ini dikelola menjadi satu kesatuan yang utuh. Melalui manajemen rantai pasokan, perusahaan dapat membangun kerjasama melalui penciptaan jaringan kerja (network) yang berhubungan agar kegiatan pengadaan dan penyaluran bahan baku dan produk akhir terintegrasi dengan baik dan benar.
Melalui definisi diatas didapat konsep dari SCM, konsep SCM menekankan lebih pada bagaimana perusahaan memenuhi permintaan konsumen tidak hanya sekedar menyediakan barang. Supply Chain Management merupakan proses penciptaan nilai tambah barang dan jasa yang berfokus pada efisiensi dan efektivitas dari persediaan, aliran kas dan aliran informasi. Aliran informasi merupakan aliran terpenting dalam pengelolaan rantai pasokan, karena dengan adanya aliran informasi maka pihak pemasok dapat menjamin tersedianya material lebih tepat waktu, memenuhi permintaan konsumen lebih cepat dengan kuantitas yang tepay sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan secara keseluruhan (Anatan & Ellitan, 2008).
Berdasarkan hal tersebut, menurut Said et al (2006) maka prinsip dasar SCM seharusnya meliputi 5 hal, yaitu :
1. Prinsip Integrasi. Artinya semua elemen yang terlibat dalam rangkaian SCM berada dalam satu kesatuan yang kompak dan menyadari adanya saling ketergantungan.
2. Prinsip Jejaring. Artinya semua elemen berada dalam hubungan kerja yang selaras.
3. Prinsip Ujung ke ujung. Artinya proses operasinya mencakup elemen pemasok yang paling hulu sampai konsumen paling hilir.
4. Prinsip Saling Tergantung. Setiap elemen dalam SCM menyadari bahwa untuk mencapai manfaat bersaing diperlukan kerja sama yang saling menguntungkan.
18 5. Prinsip Komunikasi. Artinya keakuratan data menjadi darah dalam
jaringan untuk menjadi ketepatan informasi dan material.
Melihat definisi dan prinsip tersebut, dapat dikatakan bahwa SCM merupakan jaringan kerja dalam pengadaan dan penyaluran bahan baku dari pemasok hingga ke konsumen akhir. Dalam hubungan ini, ada beberapa pemain utama yang merupakan perusahaan-perusahaan yang mempunyai kepentingan yang sama. Menurut Indrajit dan Djokopranoto (2002), pemain utama tersebut diantaranya suppliers, manufacture, distributor, retail outlets, dan customers. Penjelasannya sebagai berikut :
Rantai 1 : Suppliers
Jaringan bermula dari suppliers, yang merupakan sumber penyedia bahan pertama dimana rantai penyaluran barang akan dimulai. Bahan pertama ini bisa juga dalam bentuk bahan baku, bahan mentah, bahan penolong, bahan dagangan, sub suku cadang, suku cadang, dan sebagainya.
Rantai 1 – 2 : Suppliers ► Manufacturer
Rantai pertama dihubungkan dengan rantai kedua, yaitu manufaktur yang melakukan pekerjaan membuat, memfabrikasi, merakit, mengkonversikan, ataupun menyelesaikan barang (finishing). Hubungan dengan rantai pertama tersebut sudah mempunyai potensi untuk melakukan penghemetan.
Rantai 1 – 2 – 3 : Suppliers ► Manufacturer ► Distributor
Barang sudah jadi yang dihasilkan oleh pabrik sudah mulai disalurkan kepada pelanggan. Walaupun tersedia banyak cara untuk penyaluran barang ke pelanggan, yang umumnya adalah melalui distributor dan ini biasanya ditempuh oleh sebagian besar rantai pasokan. Barang dari pabrik melalui gudangnya disalurkan ke gudang distributor dalam jumlah besar, dan pada waktunya pedagang besar menyalurkan dalam jumlah yang lebih kecil kepada retailer.
Rantai 1 – 2 – 3 – 4 : Suppliers ► Manufacturer ► Distributor► Retail Outlets
Pedagang besar biasanya mempunyai fasilitas gudang sendiri atau juga dapat menyewa dari pihak lain. Gudang ini digunakan untuk menimbun barang sebelum disalurkan ke pihak pengecer. Sekali lagi di sini ada kesempatan untuk memperoleh penghematan dalam jumlah persediaan dan biaya gudang, dengan
19 cara melakukan desain kembali pola-pola pengiriman barang baik dari gudang pabrik maupun ke toko pengecer (retail outlets).
Rantai 1 – 2 – 3 – 4 – 5 : Suppliers ► Manufacturer ► Distributor► Retail Outlets ► Custumers
Retailers menawarkan barangnya langsung kepada pelanggan atau pembeli atau pengguna barang tersebut. Yang termasuk outlets adalah toko, warung, toko serba ada, pasar swalayan, toko koperasi, mal, club stores, dan sebagainya.
Aplikasi manajemen rantai pasokan pada dasarnya memiliki tiga tujuan utama, yaitu penurunan biaya, penurunan modal dan perbaikan pelayanan. Penurunan biaya bisa dicapai dengan meminimalkan biaya logistik, misalnya dengan memilih alat atau model transportasi, pergudangan, standar layanan yang meminimalkan biaya. Untuk mencapai penurunan modal yang diperlukan dalam aktivitas bisnis adalah perusahaan harus mampu meminimalkan tingkat investasi dalam dalam bidang logistik. Sedangkan perbaikan pelayanan sangat penting dilakukan secara proaktif karena pelayanan atau jasa logistik yang dilakukan perusahaan sangat mempengaruhi pendapatan dan profitabilitas perusahaan (Anatan & Ellitan, 2008).
Analisis rantai pasokan dapat dievaluasi dalam konteks jaringan rantai pasokan makanan yang kompleks, disebut juga sebagai Food Supply Chain Network (FSCN). Dalam FSCN, beberapa perusahaan yang berbeda berkolaborasi secara strategis dalam satu atau lebih area, sementara menjaga identitas dan otonominya sendiri (Lazzarini dalam Vorst, 2005). Ketika peneliti dan atau manajer mendiskusikan pengembangan jaringan dan rantai pasok yang potensial, dibutuhkan suatu kerangka kerja (framework) untuk mendeskripsikan rantai pasok, pelakunya, prosesnya, produk-produknya, sumberdaya dan manajemen, hubungan antara pelaku rantai pasokan dan jenis atribut terkait, dalam upaya untuk memungkinkan pelaku rantai pasokan saling mengerti perannya secara jelas (Vorst, 2005). Empat elemen yang dapat digunakan untuk menjelaskan, menganalisis dan atau mengembangkan secara spesifik rantai pasokan dalam FSCN antara lain struktur rantai, manajemen rantai, proses bisnis rantai dan sumberdaya rantai. Kerangka analisis manajemen rantai pasokan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.
20 Gambar 1. Kerangka Analisis Manajemen Rantai Pasokan (Van der Vorst, 2005) Empat elemen yang digunakan untuk menjelaskan, menganalisis dan atau mengembangkan secara spesifik rantai pasokan sayuran pada Frida Agro dengan FSCN ini nantinya akan menghasilkan gambaran mengenai kondisi nyata yang terjadi dalam rantai pasokan tersebut. Untuk menjamin penerapan SCM optimal, faktor kunci yang harus diperhatikan adalah dengan menciptakan alur informasi yang bergerak secara mudah dan akurat diantara jaringan atau mata rantai tersebut, dan pergerakan barang yang efektif dan efisien yang menghasilkan kepuasan maksimal pada para pelanggan (Indrajit dan Djokopranoto, 2002).
3.1.2 Kemitraan
Kemitraan merupakan bentuk kerjasama antara dua pihak yang memiliki tingkat kemampuan berbeda namun memiliki tujuan yang sama yakni dalam upaya memperoleh pendapatan yang lebih baik. Kemitraan juga dapat didefiniskan sebagai suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama, dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Keberhasilan dari strategi bisnis tersebut sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara pihak yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Kemitraan merupakan bentuk kerjasama antara perusahaan dengan pihak lain yang mendukung berkembangnya perusahaan.
Kemitraan telah banyak dilakukan oleh berbagai perusahaan, termasuk di dalam sektor agribisnis. Beberapa unsur penting dalam kemitraan agribisnis antara
Kinerja Rantai Proses Bisnis Rantai Manajemen Rantai Sumber Daya Rantai Sasaran Rantai Struktur Rantai Pasokan
Siapa saja anggota rantai dan apa perannya?
Konfigurasi peraturannya?
Manajemen struktur apa yang digunakan?
Bagaimana kontraknya?
Struktur Pengelolaanya?
Siapa pelaku bisnis dan proses apa dalam MRP?
Bagaimana tingkat integrasi dari setiap proses?
Sumberdaya apa saja yang digunakan di setiap proses dalam rantai?
21 lain adanya komitmen untuk menjadi mitra dan adanya transfer teknologi diantara kedua belah pihak, dimana hal ini ditujukan untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas produk yang dihasilkan. Kerjasama kemitraan dapat dilihat sebagai integrasi vertikal atau koordinasi vertikal antara dua atau lebih perusahaan berjalan pada tingkatan yang berbeda. Integrasi vertikal berarti kemitraan yang terjadi dalam proses produksi, pengolahan dan pemasaran yang masih bersatu di bawah satu manajemen atau kepemilikan, sedangkan dikatakan koordinasi vertikal jika kemitraan yang terjalin berupa kontrak produksi atau kontrak pemasaran dengan pihak di luar perusahaan.
Tujuan dari sebuah kemitraan adalah untuk meningkatkan pendapatan, kesinambungan usaha, adanya jaminan sumlah pasokan, peningkatan kualitas produksi, peningkatan kualitas kelompok mitra, peningkatan usaha serta penciptaan kemandirian kelompok mitra. Oleh karena itu, hubungan kemitraan yang dibangun antara kedua belah pihak haruslah saling menguntungkan, saling membutuhkan dan saling memperkuat. Saling menguntungkan bukan berarti partisipan dalam kemitraan tersebut harus memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama, tetapi yang lebih penting adalah adanya posisi tawar yang setara berdasarkan peran masing-masing. Hal tersebut sangat dibutuhkan untuk mendorong terciptanya integrasi yang lebih baik dalam suatu kerangka rantai pasokan.
Pelaksanaan kemitraan yang terjadi dalam rantai pasokan sayuran pada Frida Agro akan diukur kinerjanya dengan menggunakan analisis kesesuaian atribut. Analisis ini digunakan untuk menghitung tingkat kesesuaian kepentingan dengan kinerja kemitraan (Rangkuti, 2003). Tingkat kepentingan merupakan tingkat harapan pelaku rantai akan suatu pelaksanaan manajemen rantai pasokan yang diharapkan, sedangkan tingkat kinerja merupakan segala tindakan yang telah dilakukan untuk mengelola dan menjalankan rantai pasokan. Tujuan dari penggunaan analisis kesesuaian atribut adalah mengukur sejauh mana atribut dalam pelaksanaan kemitraan telah memuaskan pihak yang bermitra. Selain itu, analisis kesesuaian atribut digunakan untuk mengevaluasi keadaan rantai pasokan dalam persepsi pelaku rantai pasokan, serta menemukan atribut apa yang belum memuaskan pelaku rantai pasokan.
22 Keunggulan dari analisis ini adalah pelaku rantai dapat mengetahui tingkat kepuasan secara keseluruhan dari atribut-atribut kemitraan. Penilaian ini biasanya dijadikan acuan untuk evaluasi kinerja kemitraan dalam rantai pasokan, dengan melihat ini pihak yang bermitra dapat memantau bagaimana kinerja kemitraan dalam rantai pasokan setelah perbaikan. Kelemahan dari analisis ini yaitu hanya dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kepuasan secara keseluruhan dari kinerja kemitraan dalam rantai pasokan. Pelaku rantai tidak dapat membuat perumusan strategi yang tepat hanya dari nilai kesesuaian atribut, tapi dengan analisis ini dapat dilakukan evaluasi yang menyeluruh.
Sebagai pedoman pengambilan data dan sebagai fokus pembahasan penilaian kinerja kemitraan, ditentukan atribut-atribut yang secara langsung berpengaruh kepada pelaksanaan kemitraan. Atribut-atribut tersebut diperoleh berdasarkan kerangka kerja FSCN dan kondisi nyata terjadi di lapangan. Sebelum ditetapkan atributnya, penulis mendiskusikannya dengan pihak Frida Agro untuk menyempurnakan hasil penelitian. Atribut-atribut yang digunakan dalam pelaksanaan kemitraan dalam rantai pasokan sayuran pada Frida Agro dapat dilihat pada Tabel 2.