BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis .1 Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan dapat terjadi antar daerah, antar pulau maupun antar perorangan di dalam suatu negara maupun antar negara yang disebut perdagangan internasional. Salah satu perwujudan antar daerah yang dapat berwujud barang, uang maupun jasa. Beberapa pendekatan untuk melihat atau menilai hubungan antar daerah, yaitu pendekatan analisis kependudukan, analisis ekonomi, analisis masukan keluaran dan program linear (Limbong dan Sitorus, 1987).
Pada dasarnya faktor yang mendorong timbulnya perdagangan internasional dari suatu negara ke negara lain bersumber dari keunggulan kompetitif dalam memperluas pemasaran komoditi ekspor dan memperbesar penerimaan komoditi ekspor dan memperbesar penerimaan devisa dalam penyediaan dana pembangunan dari negara yang bersangkutan. Teori perdagangan internasional mengkaji dasar-dasar terjadinya perdagangan internasional serta keuntungan yang diperoleh dengan adanya perdagangan tersebut. Kebijakan perdagangan internasional membahas alasan-alasan dan pengaruh adanya hambatan-hambatan perdagangan serta hal-hal yang menyangkut proteksionisme baru (Salvatore, 1997).
Teori perdagangan internasional menjelaskan arah serta komposisi perdagangan antar beberapa negara, serta bagaimana efeknya terhadap struktur perekonomian suatu negara. Perdagangan internasional juga menunjukkan adanya profit yang timbul akibat adanya perdagangan internasional. Menurut Gonarsyah (1987) ada beberapa faktor yang mendorong timbulnya perdagangan
internasional suatu negara dengan negara lain, yaitu keinginan memperluas pemasaran komoditi ekspor, memperbesar penerimaan bagi kegiatan pembangunan, adanya perbedaan penawaran permintaan antar negara, adanya perbedaan biaya relatif serta tidak semua negara menyediakan kebutuhan masyarakatnya.
Kegiatan perdagangan internasional (ekspor-impor), suatu negara akan cenderung mengekspor barang-barang yang biaya produksi dalam negerinya relatif lebih rendah dibandingkan dengan barang yang sama di luar negeri dan dapat bersaing di pasar internasional (keumggulan komperatif). Namun sebaliknya, suatu negara akan mengimpor barang-barang yang biaya produksi dalam negerinya relatif lebih mahal dibandingkan dengan barang yang sama diluar negeri. Beberapa faktor pendukung suatu negara dapat bersaing di pasar internasional adalah sumberdaya manusia, sumberdaya alam, teknologi serta sosial budaya dimana faktor-faktor ini sebagai penentu harga dan mutu barang dan jasa yang dihasilkan.
Pada Gambar 1 terlihat bahwa tanpa adanya perdagangan internasional, negara 1 akan mengadakan produksi dan konsumsi di titik A berdasarkan harga relatif komoditi X sebesar P1, sedangkan negara 2 akan berproduksi dan berkonsumsi di titik A’ berdasarkan harga relatif P3. Setelah ada hubungan dagang antara negara 1 dan negara 2, harga relatif komoditi X akan berkisar antara P1 dan P3, jika harga yang berlaku diatas P1 maka negara 1 akan memasok komoditi lebih banyak dari tingkat permintaan domestik. Kelebihan produksi itu selanjutnya akan diekspor ke negara 2, sedangkan di pihak negara 2 menghadapi harga di bawah P3 akan mengalami peningkatan permintaan sehingga tingkatnya lebih tinggi dari produksi domestiknya serta kekurangan akan diimpor dari negara 1.
Gambar 1. Kurva Perdagangan Internasional Sumber : Salvatore, 1997
Pada harga relatif P2 kuantitas impor komoditi X yang diminta oleh negara 2 (B’E’) sama dengan kuantitas ekspor komoditi X yang ditawarkan negara 1 (BE). Hal tersebut diperlihatkan oleh perpotongan antara kurva D dan S setelah komoditi X diperdagangkan antara kedua negara. Dengan demikian P2 adalah harga relatif ekuilibrium untuk komoditi X setelah perdagangan internasional berlangsung. Apabila Px/PY lebih besar dari P2 maka kuantitas ekspor komoditi X yang ditawarkan akan melebihi tingkat permintaan impor sehingga lambat laun harga relatif komoditi X tersebut (Px/PY) akan mengalami penurunan sehingga pada akhirnya akan sama dengan P2.
Adanya biaya transportasi maka penawaran ekspor komoditi X akan berkurang sehingga kurva S menjadi St dengan tingkat harga relatif ekuilibrium berada diatas P2, yaitu P4 dengan pengurangan jumlah impor komoditi negara 2 dari titik X1 ke X2. Px/Py Px/Py Px/Py X X B E A D S E* A’ Dx E’ B’ Sx P3 0 0
Pasar di negara 1 Hubungan perdagangan Pasar di negara 2 untuk komoditi X internasional dalam untuk komoditi X komoditi X dengan
adanya biaya transportasi Sx Dx X1 X2 St P4 B* Et Bt X P2 P1 0
3.1.2 Teori Aliran Perdagangan Komoditi
Aliran perdagangan kertas pada penelitian ini dijelaskan dengan menggunakan gravity model. Model ini digunakan untuk menganalisis faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi perdagangan antara dua negara. Pertama kali gravity model digunakan dalam analisis perdagangan internasional oleh Tinberger (1962) dan Ponyohen (1963) untuk menganalisis aliran perdagangan antara negara-negara Eropa. Menurut model ini, barang ekspor dari negara i ke negara j diterangkan oleh ukuran ekonomi masing-masing negara (GDP), populasi masing-masing negara, jarak antar negara.
Gravity model menyajikan suatu analisa yang lebih empiris dari pola perdagangan dibandingkan model yang lebih teoritis. Model ini pada bentuk dasarnya, menjelaskan perdagangan berdasarkan jarak antar negara dan interaksi antar negara dalam ukuran ekonominya, seperti GDP dan populasi. Alasan yang melatarbelakangi penggunaan gravity model adalah bahwa negara yang lebih besar dan kaya banyak melakukan perdagangan luar negeri dibandingkan dengan negara yang lebih kecil dan miskin.
Menurut Bergstand dalam Oktaviani (2000) dalam Turnip (2002) menerapkan persamaan gravity model dari keseimbangan model perdagangan dunia. Variabel gravity yang digunakan dalam persamaannya meliputi jarak, harga dan nilai tukar. Pada kondisi dimana permintaan dan penawaran berada di posisi ekuilibrium menurut Koo, Karemera, dan Taylor dalam Oktaviani (2000) dalam Turnip (2002), bahwa komponen variabel yang terkandung dalam gravity model adalah faktor ekonomi yang mempengaruhi aliran perdagangan di negara tujuan dan hasil-hasil alam yang meningkatkan ataupun mempertahankan aliran perdagangan. Persamaan gravity model diperoleh adalah sebagai berikut :
Keterangan :
Xij = Volume komoditi dari negara i ke negara j Yi(Yj) = Pendapatan di negara i (j)
Cij = Biaya transportasi (cif/fob) antara negara i dan negara j Tij = Faktor lain yang mempengaruhi perdagangan antar negara Pi(Pj) = Harga komoditas pada negara eksportir dan negara importir Eij = Nilai tukar mata uang asing antar negara i dengan negara j eij = RandomError
Menurut Oktaviani (2000) dalam Turnip (2002), dalam makalahnya yang berjudul The Indonesian Import Demand and Trade of Cotton (Permintaan Impor dan Aliran Perdagangan Kapas ke Indonesia), variabel yang mempengaruhinya adalah pendapatan per kapita (Yj), jarak antar negara pengekspor dengan Indonesia (Dij), harga FOB kapas di negara eksportir (Pj), jumlah penduduk (Nj), dan nilai tukar mata uang asing (Ej). Dengan demikian, persamaan aliran perdagangannya adalah :
Xij = f(Yj, Dij, Pj, Nj, Ej)
Berdasarkan hasil tinjauan studi terdahulu dari beberapa penelitian sebelumnya yang telah dilakukan, maka variabel-variabel yang akan digunakan dalam model aliran perdagangan kertas Indonesia adalah GDP per kapita negara tujuan, populasi negara tujuan, jarak antara negara Indonesia dengan negara tujuan ekspor, harga kertas Indonesia di negara tujuan, nilai tukar mata uang negara tujuan terhadap Dollar Amerika Serikat dan tuduhan dumping terhadap produk kertas Indonesia (dummy).