• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Kerangka Pikir

Lingkup kajian meliputi 1 institusi yang trelibat dalam Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan dengan melibatkan Direktur

Rumah Sakit, Kepala Ruang Kebidanan, Bidan dan Ibu bersalin.

• Komunikasi

• Sumber daya

• Struktur Birokrasi

• Disposisi

Gambar 2.3 Kerangka Pikir

Implementasi Program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih berdasarkan pertimbangan, bahwa penelitian ini memerlukan data dan informasi secara lengkap, lebih mendalam dan bermakna serta dapat mendeskripsikan suatu situasi secara komprehensif dalam konteks yang sesungguhnya dan mampu menerangkan gejala atau fenomena secara lengkap dan menyeluruh.

Melalui metode ini dapat ditemukan data yang bersifat proses implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan, perkembangan program, masalah-masalah yang dihadapi dalam program tersebut serta hal lain yang memerlukan pendeskripsian dalam bentuk kata-kata bukan hanya angka.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan. Pemilihan lokasi ini didasarkan atas pertimbangan bahwa cakupan IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan yang sangat rendah dibandingkan dengan rumah sakit lainnya yang ada di Sumatera Utara dan Padangsidimpuan merupakan kota 5 terendah dalam kasus kematian ibu dan anak serta belum pernah dilakukan penelitian yang sama. Dengan penelitian ini, diharapkan program IMD yang sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 pada

Pasal 129 ayat (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 Bab III bagian kedua yaitu pasal 9 dan 10 untuk menurunkan angka kematian AKI dan AKB. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2016-April 2017.

3.3. Informan

Informan dalam penelitian ini adalah unsur yang sedang terlibat dan atau memiliki pengetahuan berkaitan dengan implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan. Pada penelitian kualitatif sampel lebih sering disebut sebagai narasumber, informan atau partisipan. Penentuan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan tertentu. Informan penelitian ini adalah terdiri dari tenaga kesehatan (Direktur Rumah Sakit, Kepala Ruang Kebidanan dan bidan) dan non kesehatan (ibu bersalin)

Pada penelitian ini bidan sebagai informan utama dengan kriteria :

a. Pernah mengikuti pelatihan mengenai pelaksanaan IMD yang diadakan oleh pihak RSUD Kota Padangsidimpuan.

b. Minimal pendidikan DIII Kebidanan

c. Masa kerja sebagai bidan minimal 1 tahun di RSUD Kota Padangsidimpuan.

d. Bidan yang bertugas di unit bersain.

Dari total populasi yang sesuai dengan dengan kriteria purposive sampling diketahui jumlah informan utama sebanyak 5 bidan, dan sebagai informan triangulasi yaitu Direktur Rumah Sakit, Kepala Ruang Kebidanan dan ibu bersalin yang dipilih secara accidental yaitu memilih ibu bersalin yang baru saja melakukan persalinan

yang masih berada di rumah sakit dengan persalinan normal yang memenuhi persyaratan IMD dan yang melakukan pemeriksaan kandungan di RSUD Kota Padangsidimpuan.

3.4 Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.

a. Sumber data primer

Merupakan sumber data yang langsung diberikan oleh informan mengenai fokus penelitian selama berada di lokasi penelitian. Sumber data primer ini merupakan unit alanisis utama yang digunakan dalam kegiatan analisis data. Dalam hal ini sumber data primer diperoleh peneliti selama proses pengumpulan data dnegan menggunakan teknik wawancara mendalam obeservasi terhadap implementasi program IMD di Kota Padangsidimpuan.

Informan yang diwawancara adalah aktor-aktor yang trelibat dalam implementasi program IMD di Kota Padangsidimpuan, yakni:

1. Bidan

2. Kepala Ruangan Kebidanan 3. Direktur Rumah Sakit 4. Ibu Bersalin

b. Sumber data sekunder

Merupakan sumber data tertulis yang digunakan sebagai informasi pendukung dalam analisis primer. Sumber data sekunder berfungsi sebagai penunjang data

primer. Dalam hal ini misalnya peneliti memperoleh melalui dokumen-dokumen tertulis terkait implementasi program IMD, buku-buku yang berkaitan dengan masalah penelitian, simber internet yang berkaitan dengan masalah penelitian dan lain sebagainya.

3.5. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Pada penelitian kualitatif, instrumen utama adalah peneliti sendiri dengan menggunakan alat bantu pedoman wawancara.

Wawancana mendalam (in-depth interview) adalah proses memperoleh keterangan wawancara untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti dengan informan, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana peneliti terlibat dalam kehidupan social yang relatif lama. Proses wawancara kemudian direkam dengan alat perekam suara/

recorder dan dilakukan foto sebagai dokumentasi dan bukti penelitian berlangsung yang tentunya dengan persetujuan dari informan.

3.6 Metode Pengumpulan Data

Adapun metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah : a. Metode Pengumpulan Data Primer yaitu :

1) Wawancara mendalam (in depth interview) yaitu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan tanya-jawab secara langsung kepada pihak-pihak yang terkait secara mendalam.

2) Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap sejumlah acuan yang berkenaan dengan topik di lokasi penelitian.

b. Metode pengumpulan data sekunder yaitu :

1) Dokumentasi yaitu metode pengumpulan data dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang ada di lokasi penelitian serta sumber-sumber lain yang relevan dengan obyek penelitian

2) Studi literatur yaitu metode pengumpulan data dengan menggunakan berbagai literatur seperti buku, majalah, jurnal dan laporan penelitian lainnya.

3.7. Definisi Konsep

Implementasi Program IMD di Kota Padangsidimpuan yaitu penerapan atau pelaksanaan IMD yang keberhasilannya dapat dilihat dari kepatuhan pelaksana kegiatan (implementor) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, yang diadopsi dari model kebijakan George Edward III, terdiri dari faktor-faktor sumber daya komunikasi, disposisi dan struktur birokrasi.

a) Faktor Sumber Daya, meliputi :

• Jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) dan kompetensinya

• Penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana

• Ketersediaan dana untuk implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan.

b) Faktor Komunikasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah proses komunikasi antara Tim Program IMD RSUD Kota Padansgidimpuan dengan bidan pelaksana

IMD, dengan fenomena yang akan diamati adalah :

• Bentuk komunikasi yang dilakukan Tim Pogram IMD Rumah Sakit kepada bidan pelaksana IMD, apakah ada dilakukan sosialisasi dan apakah ada petunjuk pelaksanaan maupun pedoman kerja.

c) Faktor Disposisi meliputi :

• Sikap Direktur Rumah Sakit dan Kepala Ruang Kebidanan dalam rangka implementasi program IMD, mendukung atau tidak.

• Sikap bidan pelaksana IMD di unit bersalin dalam rangka implementasi program IMD, mendukung atau tidak.

d) Faktor Struktur Birokrasi, meliputi :

• Koordinasi para Tim Pogram IMD dalam rangka implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan.

• Hubungan kerja antar bidan pelaksana IMD dengan Tim Program IMD dalam implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan

3.8. Metode Pengolahan Data

Data yang terkumpul dari hasil wawancara mendalam selanjutnya dibuat dalam bentuk transkrip. Transkrip kemudian disederhanakan dalam bentuk matriks.

Matriks ini kemudian dicari kata kuncinya. Uji keabsahan dilakukan dengan teknik triangulasi data (Bungin, 2010). Proses triangulasi yaitu dengan melakukan crosscheck. Crosscheck yang dilakukan terdiri dari crosscheck data, observasi dan telaah dokumen. Kemudian dilakukan triangulasi sumber yaitu crosscheck dengan

informan lain dengan melibatkan teman sejawat yang tidak ikut dalam penelitian ini untuk menelaah validitas data.

Proses triangulasi dilakukan secara terus-menerus sepanjang proses mengumpulkan data dan analisis data, sampai suatu saat peneliti yakin bahwa sudah tidak ada lagi perbedaan-perbedaan dan tidak ada lagi yang perlu dikonfirmasi kepada informan.

3.9. Metode Analisa Data

Menurut Miles dan Huberman, teknik analisis data kualitatif terdiri dari beberapa tahap yaitu:

1. Reduksi data dengan koding kategori.

Merupakan bentuk analisis yang menajamkan, mengorganisasikan data dengan cara yang baik. Cara yang ditempuh adalah dengan membaca semua transkrip kemudian dikoding yaitu dengan membuat simbol yang dibuat peneliti dan mempunyai arti berdasarkan topik pada setiap kelompok kata, kalimat atau paragraf dari transkrip yang selanjutnya dikelompokkan ke dalam kategori dan dicari hubungannya antara kategori tersebut.

2. Penyajian Data

Penyajian data adalah mengolah data setengah jadi yang sudah seragam dalam bentuk tulisan dan sudah memiliki alur tema yang jelas ke dalam matriks kategorisasi. Dalam penelitian ini data disajikan dalam bentuk uraian singkat (naratif) sesuai dengan variabel penelitian. Melalui penyajian data tersebut, maka

data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan, sehingga mudah dipahami.

3. Menarik Kesimpulan

Penelitian kualitatif menggunakan content analysis, peneliti akan membandingakan hasil wawancara dari informan utama yaitu bidan pelaksana IMD dengan hasil wawancara pihak informan triangulasi yaitu Direktur Rumah Sakit, Kepala Ruang Kebidanan, dan ibu bersalin yang melaksanakan IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

RSUD Kota Padangsidimpuan berada di Jalan FL Tobing, Kecamatan Padangsidimpuan Utara.Saat ini RSUD Kota Padangsidimpuan berdiri di atas lahan seluas 5. 242,5 meter persegi dengan unit RS Bersalin serta di depannya lahan kantor RSUD Kota Padangsidimpuan.

a. Letak Geografis

Secara geografis, Kota Padangsidimpuan secara keseluruhan dikelilingi oleh Kabupaten Tapanuli Selatan yang dulunya merupakan kabupaten induk. Kota ini merupakan persimpangan jalur darat untuk menuju kota Medan, Sibolga, dan Padang (Sumatera Utara) di jalur lintas barat Sumatera. Topografi wilayahnya yang berupa lembah yang dikelilingi oleh Bukit Barisan, sehingga jika dilihat dari jauh wilayah Kota Padangsidimpuan tak ubahnya seperti cekungan yang menyerupai danau.

Puncak tertinggi kota ini adalah Gunung Lubuk Raya dan Bukit (Tor) Sanggarudang yang terletak berdampingan disebelah kota. Salah satu puncak bukit yang terkenal di Kota Padangsidimpuan yaitu Bukit (Tor) Simarsayang dan juga terdapat banyak sungai yang melintasi kota ini, antara lain batang Ayumi, Aek Sangkumpal Bonang (yang sekarang menjadi nama pusat perbelanjaan di tengah kota), Aek Rukkare yang bergabung dengan Aek Siboantar dan Aek Batangbahal, serta Aek Batang Angkola yang mengalir di batas selatan/barat daya kota

Padangsidimpuan dan dimuarai oleh Aek Sibontar tepat didekat Stadion Naposo.

4.1.1. Sejarah Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan

RSUD Kota Padangsidimpuan merupakan salah satu rumah sakit milik Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara yang didirikan pada tahun 1937, dimana letak bangunannya berada di Jl. Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Kelurahan Wek IV Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Jakarta Tanggal 22 Pebruari 1979 No : 51/MENKES/SK/11/1979 dinyatakan bahwa Rumah Sakit Umum Padangsidimpuan ditetapkan sebagai Rumah Sakit Berstatus Kelas “C”, dan dengan struktur hirarki rumah sakit milik pemerintah daerah telah ditetapkan dalam Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara Tanggal 10 Maret 1983 No : 061-1-58/K/Tahun 1983 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Padangsidimpuan, selanjutnya dikembangkan dalam Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Utara tanggal 21 Juni 1996 No. 11 Tahun 1996.

Untuk memenuhi perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat yang terus menerus meningkat disertai dengan keberhasilan pengelolaan dan pembangunan yang dilaksanakan, Rumah Sakit Umum Padangsidimpuan dinaikkan kelasnya menjadi rumah sakit umum Kelas “B” Non Pendidikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No : 316/MENKES/SK/IV/1999 Tanggal 23 April 1999. Dengan Persetujuan Menteri Dalam Negeri No : 061/1732/SJ/1999 Tanggal 23 Juli 1999, kemudian dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah Provinsi Sumatera

Utara Tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Padangsidimpuan dengan nomor Surat Keputusan No : 8 Tahun 1999.

Dengan Undang-undang No. 4 Tahun 2001 tentang PembentukanKota Padangsidimpuan, maka Rumah Sakit Umum Padangsidimpuan menjadi Lembaga Tekhnis Daerah berbentuk Badan milik Pemerintah Kota Padangsidimpuan, sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Padangsidimpuan No. 05 Tahun 2003.

4.1.2. Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan a. Visi

“Rumah Sakit Umum yang diminati oleh masyarakat”.

b. Misi

1. Memberikan pelayanan kesehatan secara professional kepada masyarakat sesuai standar.

2. Mengelola administrasi dan keuangan Rumah Sakit Umum secara transparan dan akuntabel sesuai peraturan perundang-undangan sehingga mendukung pelayanan kesehatan yang berkualitas.

4.1.3. Fasilitas Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan RSUD Padangsidimpuan memiliki sarana Rawat Jalan dan Rawat Inap dengan jumlah tempat tidur 147 buah, terbagi atas : 1. Kelas-I, 2. Kelas-II, 3.

Kelas-III, 4. VIP, didukung instalasi : Instalasi Rawat Jalan, Instalasi Rawat Inap, Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Bedah Sentral, Instalasi Perawatan Intensif, Instalasi Radiologi, Instalasi Farmasi, Instalasi Gizi, Instalasi Rehabilitasi Medis dan Instalasi Laboratorium.

4.2 Karakteristik Informan

Informan dalam penelitian ini berjumlah 10terdiri dari informan yaitu informan utama adalah Bidan, informan triangulasi yaitu Kepala Ruangan Kebidanan, Direktur Rumah Sakit, dan ibu bersalin.Karakteristik dari masing-masing informan pada penelitian ini, dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.1 Karakteristik Informan Utama (Bidan)

No Informan Umur

(tahun)

Pendidikan Masa Kerja (Tahun)

Pemilihan 5 informan utama dari 36 bidan di RSUD Kota Padangsidimpuan berdasarkan pada kriteria inklusi yaitu pernah mengikuti pelatihan mengenai IMD, minimal pendidikan D3 kebidanan, masa kerja sebagai bidan minimal 1 tahun, dan bidan bertugas di ruang unit bersalin. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa karakteristik dari informan utama berumur antara 35-42 tahun, jadi informan masih berada pada usia produktif. Untuk pendidikan sendiri informan utama memiliki pendidikan minimal D3 Kebidanan dan hanya 1 informan utama yang memiliki pendidikan D4 Kebidanan.Masa kerja dari informan utama berkisar antara 3-10 tahun masa kerja, dimana dengan masa kerja tersebut berkaitian dengan pengalaman bidan itu sendiri.

Tabel 4.2 Karakteristik Informan Triangulasi No Informan Umur

(tahun)

Pendidikan Masa Kerja (Tahun)

Direktur Rumah Sakit

Kepala Ruang Kebidanan

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa karakteristik informan triangulasi yaitu Direktur Rumah Sakit yaitu berumur 60 tahun dan memiliki pendidikan terakhir S1, dan untuk Kepala Ruang Kebidanan yaitu berumur 37 tahun dan memiliki pendidikan D4 Kebidanan. Dapat dilihat bahwa umur dari informan triangulasi merupakan masih dalam usia produktif.

Tabel 4.3 Karakteristik Informan Triangulasi (Ibu Bersalin)

No Informan Umur Pemilihan 3 informan traingulasi tersebut dipilih secara accidental yaitu memilih ibu bersalin yang baru saja melakukan persalinan yang masih berada di rumah sakit dengan persalinan normal yang memenuhi persyaratan IMD dan yang melakukan pemeriksaan kandungan di RSUD Kota Padangsidimpuan.Dari data tersebut tersebut dapat dilihat bahwa karakteristik infroman triangulasi ibu bersalin yaitu berumur 23-27 tahun dan memiliki pendidikan SMA dan D3 Kebidanan dengan pekerjaan wiraswasta, ibu rumah tangga dan TKS (Tenaga Sukarela).

4.3 Wawancara tentang Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Paangsidimpuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap implementasi program IMD didalam penelitian adalah faktor komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Deskrpisi standar kejelasan dan konsistensi berdasarkan jawaban informan utama dan informan triangulasi dapat dilihat pada perbandingan ungkapan informan uatama dan informan triangulasi berikut ini:

4.3.1. Pernyataan Informan tentang Faktor Komunikasi terhadap Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini Di RSUD Kota Padangsidimpuan

Komunikasi merupakan sarana untuk menyebarkan atau menyampaikan informasi, baik dari atas ke bawah atau pun sebaliknya, antar bagian dalam organisasi maupun kepada pihak di luar organisasi. Tujuan dan sasaran kebijakan harus dapat ditransmisikan dan di terima dengan baik kepada kelompok sasaran (target group) agar dapat mengurangi distorsi implementasi.

Deskripsi komunikasi yang meliputi didalamnya dijelaskan sesuai dengan kejelasan dan konsistensi berdasarkan jawaban informan utama dan informan triangulasi dapat dilihat pada perbandingan jawaban irfoman utama dan informan triangulasi berikut ini:

a. Sosialiasi IMD

Bersadarkan hasil wawancara kepada informan utama diketahui bahwa seluruh bidan pelaksana IMD belum mendapatkan sosialisasi khusus dari pihak

rumah sakit mengenai IMD.IMD didapatkan melalui pelatihan APN yang yang didalamnya sudah termasuk IMD, seperti yang disampikan oleh informan utama:

“Kalo sosialisasi dari rumah sakit belum ada lah dek, kita pun tau IMD pas pelatihan lah, itupun pelatihan APN udah termasuk didalamnya IMD..”(

Informan Utama 2)

Hal ini didukung juga dengan pernyataan dari informan triangulasi yaitu direktur rumah sakit dan kepala ruang kebidanan. Menurut informan triangulasi, sosilasi IMD diberikan pada saat pelatihan APN yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan. Direktur rumah sakit menyatakan, pelatihan APN sudah terdapat perinatal dan neonatal yang didalamnya sudah termasuk IMD, sebagaimana yang diungkapkan oleh informan traingulasi sebagai berikut:

“Mengenai sosialisasi khusus IMD kita berikan melalui pelatihan yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan.Pelatihan ini sudah terdapat neonatal, perinatal dan juga IMD.”( Direktur Rumah Sakit)

“Kalo sosialisasi dari rumah sakit yah melalui pelatihan. Bidan pelaksana IMD ada SKnya dari direktur” ( Kepala Ruang Kebidanan)

Mengenai informasi mengenai IMD kepada ibu bersalin 2 dari informan utama mengatakan bahwa bidan memberikan informasi mengenai IMD pada saat pemeriksaan kandungan dan saat persalinan, sebagaimana ungkapan informan sebagai berikut:

“Kalo ibu yang bersalin pas periksa kandungan lah dek.” (Informan Utama 2)

“Kalo sama ibu bersalinnya kita kasih tau pas pemeriksaan kandungan lah, sama pas mau lahiran” ( Informan Utama 1)

Lain halnya dengan 3 bidan lainnya yaitu memberikan informasi IMD pada saat persalinan, yaitu menginfomasikan kepada pihak keluarga khususnya kepada suami bahwa bayi lahir akan diberikan tindakan IMD, sebagaiama ungkapan informan sebagai berikut:

“Kalo sama ibu bersalin pas mau melahirkanlah dibilang, sama suaminya juga.”( Informan Utama 4)

“Kalo sama ibu bersalin pas mau melahirkanlah dek.”( Informan Utama 3)

“Kalo sama ibu bersalin gak dibilang, pas udah lahirlah anaknya baru kita letakkan.”( Informan Utama 5)

Kepala Ruang Kebidanan sebagai monitoring program IMD juga menyatakan bahwa informasi mengenai IMD kepada ibu bersalin seharusnya diberikan pada saat pemeriksaan kandungan agar ibu malahirkan tidak terkejut saat bayi diletakkan di atas perut ibu untuk mendapatkan ASI pertama, sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Ruang Kebidanan sebagai informan trianguluasi:

“Kalo informasi IMD ke ibu bersalin harusnya pas periksa kandungan kita kasih tau, biar pas persalinan tidak terkejut.” ( Kepala Ruang Kebidanan)

Pada saat dilakukan wawancara kepada ibu bersalin, ibu bersalin menyatakan bahwa tidak mendapatkan informasi mengenai IMD pada saat pemeriksaan kandungan, informasi IMD diberikan pada saat persalinan dengan menginformasikan kepada pihak keluarga khususnya kepada suami sebagaimana ungkapan ibu bersalin sebagai berikut:

:Gak ada kak dikasih tau pas periksa kandungan, tapi pas lahiran dibilang bidan itu sama suami.” ( Ibu bersalin 1)

b. SOP IMD

Bersadarkan hasil wawancara kepada informan utama diketahui bahwa 4 bidan pelaksana menyatakan bahwa belum adanya peraturan khusus (SOP) mengenai program IMD dan belum mendapatkan informasi mengenai SOP IMD, sebagaimana yang diungkapkan sebagai berikut:

“Belum ada dek, belum ada informasinya” (Informan Utama 4)

Salah satu bidan pelaksana IMD menyatakan bahwa, sudah terdapat peraturan IMD, namun pihak rumah sakit belum memberikan informasi secara langsung sebagaiamana ungkapan bidan:

“Peraturan gitu kayaknya ada cuma gak pernah dikasih tau langsung.”

(Informan Utama 3)

Direktur rumah sakit sebagai pemegang kebijakan program dan Kepala Ruang Kebidanan sebagai monitoring program menyatakan bahwa untuk peraturannya sendiri (SOP) sudah ada namun pihak rumah sakit masih membutuhkan kajian ulang agar pelaksanaan program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan berjalan dengan baik, sebagaimana ungkapan direktur rumah sakit:

“Untuk Peraturan khusus masih kita kaji ulang untuk pertemuan selanjutnya, sebenarnya sudah ada tetapi ada hal-hal yang harus kita perbaiki agar IMD berjalan dengan benar” (Direktur Rumah Sakit)

“Peraturan ada, tapi belum dikasih nomor” (Kepala Ruang Kebidanan)

4.3.2. Pernyataan Informan Tentang Faktor Sumber Daya terhadap Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini Di RSUD Kota Padangsidimpuan

Salah satu faktor utama didalam penelitian ini dilihat dari aspek sumber daya yang terdiri dari jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) dan kulitasnya, penyediaan sarana dan prasarana, dan juga ketersediaan dana dalam program inisiasi menyusu dini di RSUD Kota Padangsidimpuan. Deskripsi standar sumber daya yang meliputi didalamnya dijelaskan sesuai dengan kejelasan dan konsistensi berdasarkan jawaban informan utama dan informan triangulasi dapat dilihat pada perbandingan jawaban

irfoman utama dan informan triangulasi berikut ini:

a. Sumber Daya Manusia (jumlah dan kualitas)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan utama yaitu bidan, seluruh bidan menyatakan jumah bidan pelaksana IMD sudah cukup terpenuhi begitu juga dengan pendidikan dimana bidan pelaksana IMD rata-rata D3 Kebidanan dan pelatihan sudah diberikan oleh RSUD Kota Padangsidimpuan, dan bidan pelaksana IMD mempunyai SK yang langsung diberikan oleh direktur rumah sakit, sebagaimana penjelasan bidan berikut ini:

“Kalo jumlah bidan di ruang bersalin sudah cukup dek, kalo pendidikan rata-rata D3 bidan kan, dan pernah ikut pelatihan ada SK dari direktur.” (Informan Utama 1)

Didukung juga dengan hasil wawancara dengan informan triangulasi yaitu Direktur Rumah Sakit dan Kepala Ruang Kebidanan jumlah bidan yang berada di

unit ruang bersalin sudah tercukupi dengan baik, untuk pendidikan sendiri tida ada pengkhususan seluruh bidan rata-rata D3 kebidanan dan sudah mendapatkan pelatihan IMD sebagaiaman ungkapan informan triangulasi berikut:

“Mengenai jumlah bidan pelaksana program sudah cukup baik, rata-rata D3 bidan dan sudah kita berikan pelatihan.” ( Direktur Rumah Sakit)

“Mengenai jumlah bidan sudah tercukupi dengan baik dek, untuk pendidikan tidak ada pengkhsusan karena rata-rata D3 Kebidanan, dan diberikan pelatihan.” ( Kepala Ruang Kebidanan)

b. Pendanaan

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan utama mengenai pendanaan 4 bidan menyatakan bahwa dana mengenai IMD sudah cukup, dan diatur oleh bidang keuangan rumah sakit, sebagaiama ungkapan bidan berikut ini:

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan utama mengenai pendanaan 4 bidan menyatakan bahwa dana mengenai IMD sudah cukup, dan diatur oleh bidang keuangan rumah sakit, sebagaiama ungkapan bidan berikut ini: