• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4. HASIL PENELITIAN

4.3 Wawancara tentang Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini

4.3.4. Pernyataan Informan tentang Struktur Birokrasi terhadap

Padangsidimpuan

Aspek struktur birokrasi mencakup dua hal yaitu mekanisme dan struktur organisasi pelaksana sendiri.Stuktur organisasi yang bertugas menjalankan implementasi kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan.Mekanisme implementasi kebijakan biasanya telah tersusun dalam SOP (Standar Operating Procedure) yang menjadi pedoman setiap implentantor dalam bertindak.Deskripsi struktur birokrasi yang meliputi didalamnya dijelaskan sesuai dengan kejelasan dan konsistensi berdasarkan jawaban informan utama dan informan triangulasi dapat dilihat pada perbandingan jawaban irfoman utama dan informan triangulasi berikut ini:

a. Struktur Organisas

Bersadarkan hasil wawancara kepada informan utama diketahui bahwa seluruh bidan yang berada di unit bersalin sebagai pelaksana program dan tidak ada pembagian tugas secara khusus, semua dilaksanakan secara situasional dan kepala ruang kebidanan sebagai monitor yang memonitoring kegiatan IMD tetapi tidak terjadwaldan juga sebagai penanggung jawab pelaksanaan IMD di ruang unit bersalin yaitu jika ada kendala bidan meberitahukan kepada kepala ruang kebidanan dan direktur sebagai fasilitator, supervisi dan juga pemegang kebijakan, sebagaimana ungkapan bidan berikut:

“Kepala ruang sebagai monitor kak, tapi tidak terjadwal kapan mau memonitor. Kalo tugas tidak ada pembagian tugas, semua situasional. Dan direktur sebagai fasilitator dan supervisi lah.” (Informan Utama 1)

“Kami kan bidan sebagai pelaksana kan, tidak ada pembagian tugas semua dikerjakan sama-sama, kepala ruang kebidanan sebagai monitor aja, sebagai penyambung lidah lah kak ke direktur. Nah direktur kan pemegang kebijakan semua program termasuk IMD ini.” (Informan Utama 2)

“Bidan yang di ruang bersalin ini semua tugasnya sama kak, kepala ruang kebidanan lah sebagai penaggung jawab kalo ada masalah atau keperluan.Kalo direktur pemegang kebijakan.” (Informan Utama 3)

“Bidan pelaksana aja, kalo ketua yang mengurus keperluan itu kepala ruang kebidanan kak, penyambung lidah ke direktur.” (Informan Utama 5)

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan triangulasi yaitu Direktur Rumah Sakit dan Kepala Ruang Kebidanan menyatakan bidan sebagai pelaksana program IMD, dan Kepala Ruang Kebidanan sebagai monitor yaitu memonitoring kegiatan yang berada di unit ruang bersalin termasuk IMD, dan juga sebagai penanggungjawab program. Direktur Rumah Sakit sebagai pemegang kebijakan yaitu memfasilitasi seluruh kegiatan program termasuk IMD, seperti ungkapan informan triangulasi berikut:

“Untuk pelaksanaan kan dipegang oleh bidan dan diketuai kepala ruangan, kepala ruangan memonitoring berjalannya program, saya sebagai direktur memfasilitasi segala sesuatu yang berhubungan dengan program di rumah sakit.”

(Direktur Rumah Sakit)

“Saya sebagai monitor yang memonitoring kegiatan IMD, jika ada masalah atau yang kurang saya wajib tau, dan direktur sebagai supervisi dan fasilitator dan juga pemegang kebijakan.” (Kepala Ruang Kebidanan)

b. Koordinasi Berjenjang

Bersadarkan hasil wawancara kepada informan utama diketahui bahwa adanya pertemuan rutin yaitu pertemuan evaluasi program IMD dalam 6 bulan

sekali yaitu membahas mengenai permasalahan yang ada ataupun kendala pada pelaksanaan IMD dan kepala ruang kebidanan sebagai perwakilan dari unit bersalin, sebagaimana ungkapan bidan berikut:

“Untuk rapat ada 6 bulan sekali itu kepala ruanglah yang ikut rapat”

(Informan Utama 4)

Hal ini didukung juga dengan hasil wawancara dengan informan triangulasi yaitu Direktur Rumah Sakit dan Kepala Ruang Kebidanan menyatakan bahwa adanya pertemuan rutin yaitu 6 bulan sekali untuk membahas program IMD, sebagaimana ungkapan informan triangulasi berikut ini:

“Untuk pertemuan diadakan setiap 6 bulan sekali membahas seluruh program termasuk IMD dan rutin kita laksanakan” (Direktur Rumah Sakit)

“Untuk pertemuan kita laksanakan rutin yaitu setiap 6 bulan sekali”

(Kepala Ruang Kebidanan)

Pengawasan atau monitoring yang kurang baik dapat menghambat kegiatan pelayanan kesehatan sehingga supervisi perlu dilakukan secara berkala, bersifat objektif. Supervisi berarti atasan mengarahkan secara sederhana untuk membuat atau mendapatkan apa yang diinginkan, yang harus mereka lakukan dengan menggunakan kemampuan motivasi, komunikasi dan kepemimpinan yang mengarahkan karyawan mengerjakan sesuatu yang ditugaskan kepada bawahan .Untuk melihat apakah suatukegiatan ataupun kebijakan telah berjalan sesuai dengan arahan yang telah ditetapkan dapat dilakukan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi. Supervisi

sebagai suatu kegiatan pembinaan, bimbingan atau pengawasan oleh pengelola program terhadap pelaksanaan dalam rangka menetapkan kegiatan sesuai dengan

tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Supervisi adalah melakukan pengamatan secara langsung dan berkala oleh atasan terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh bawahan untuk kemudian apabila ditemukan masalah segera diberi petunuk atau bantuan bersifat langsung guna mengatasinya

Fenomena kurangnya monitoring yang terdapat pada RSUD Kota Padangsidimpuan disebabkan karena tidak adanya SOP (Standart Operating Procedures). SOP merupakan salah satu dari aspek-aspek struktural paling dasar dari suatu organisasi yang berupa prosedur-prosedur kerja. Prosedur-prosedur ini dalam menanggulangi keadaan-keadaan umum digunakan dalam organisasi. SOP juga menyeragamkan tindakan-tindakan dari para pejabat dalam organisasi-organisasi yang kompleks dan tersebar luas, yang pada gilirannya dapat menimbulkan fleksibilitas yang besar dalam penerapan peraturan-peraturan.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1 Inisiasi Menyusu Dini

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan salah satu intervensi yang dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan angka kematian bayi baru lahir akibat terjadinya berbagai penyakit. Inisiasi Menyusu Dini atau permulaan menyusu dini adalah proses alami mengembalikan bayi untuk menyusui, yaitu dengan memberikan kesempatan pada bayi untuk mencari dan menghisap air susu ibu sendiri, dalam satu jam pertama pada awal masa kehidupannya

Program IMD mempunyai manfaat yang sangat besar untuk bayi maupun ibu yang baru melahirkan karena dapat memberikan kehangatan saat menyusu dan menurunkan resiko kematian bayi karena hipotermia (kedinginan).Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan serta detak jantung bayi lebih stabil.Pada saat survey pendahuluan masih ada ibu bersalin yang belum mendapat pelaksanaan IMD pada waktu yang tepat setelah melahirkan, karena masih ada petugas kesehatan terutama penolong persalinan di unit bersalin tersebut belum memahami hal-hal terkait ketepatan waktu pelaksaan IMD.

Inisiasi Menyusu Dini adalah suatu rangkaian kegiatan dimana bayi segera setelah lahir yang sudah terpotong tali pusatnya secara naluri melakukan aktivitas-aktivitas yang diakhiri dengan menemukan puting susu ibu kemudian menyusu pada satu jam pertama kelahiran, sedangkan waktu menyusu pertama kali yaitu bayi tidak

langsung diberi kesempatan mencari puting susu ibunya segera setelah lahir pada satu jam pertama kelahiran. Beberapa faktor yang menghambat ketepatan waktu pelaksanaan IMD yaitu bayi dikhawatirkan merasa kedinginan, ibu kelelahan dan harus dijahit setelah proses pada episiotomi persalinan, kurangnya pengetahuan petugas kesehatan, ASI ibu yang kurang cukup dan kebiasaan atau tatanan budayanya berlaku dimasyarakat maupun prosedur yang di Rumah Sakit.

Dampak Inisiasi Menyusu Dini bagi bayi adalah sebagai makanan dengan kualitas dan kuantitas yang optimal agar ASI segera keluar yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi, memberikan kesehatan bayi dengan kekebalan pasif yang segera kepada bayi, meningkatkan kecerdasan, membantu bayi mengkoordinasikan hisap, telan dan nafas, meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi, mencegah kehilangan panas. Dampak IMD bagi Ibu adalah merangsang produksi oksitosin dan prolaktin, meningkatkan keberhasilan produksi ASI, meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi.Sentuhan, kuluman/emutan dan jilatan pada puting ibu akan merangsang oksitosin ibu yang penting dalam menyebabkan kontraksi rahim, sehingga membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan, merangsang hormon lain yang membuat ibu merasa tenang, rileks dan merangsang pengaliran ASI dari payudara (Maryunani, 2009)

Secara psikologis pemberian ASI pada satu jam pertama akan memberikan manfaat yaitu bayi akan mendapat terapi psikologis berupa ketenangan dan kepuasan (Maryunani, 2009). Sesuai dengan hasil wawancara dengan 3 ibu bersalin yang bayinya diberikan tindakan IMD, tiga ibu bersalin menyatakan bahwa ketika bayi

diletakkan di atas perut dan bayi menghisap puting pada satu jam pertama kelahiran, ibu merasakan lebih dekat dengan bayi dan ada rasa haru melihat bayi menyusu untuk pertama kalinya, dan rasa cinta kepada bayi semakin kuat, dan untuk persalinan berikutnya jika ibu melakukan persalinan normal, 3 ibu bersalin menyatakan akan melakukan tindakan IMD kepada bayinya nanti, dengan menemukan puting susu ibu,bayi mendapatkan ketenangan kembali dan ibu semakin cinta kepada bayi.

Pelukan ibu membuat bayi merasa aman dan nyaman seperti dalam rahim ibu.

Hal ini merupakan terapi bagi bayi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis, karena ia mendapat modal pertama membentuk kepercayaan diri terhadap lingkungan.Terpenuhinya rasa aman dan nyaman akibat kelelahan selama proses persalinan karena kepala bayi harus melewati pintu atas panggul, panggul dalam dan dasar panggul yang membuat bayi stress (Maryunani, 2009).

Manfaat kontak kulit antara ibu dan bayi adalah dada ibu mampu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara sehingga akan menurunkan kematian karena kedinginan (hypothermia), baik ibu maupun bayi akan merasa lebih tenang, pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil dan bayi akan jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energysaat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya melalui jilatan dan menelan bakteri menguntungkan dikulit ibu sehingga bakteri ini akan berkembang biak membentuk koloni disusu dan kulit bayi, menyaingi bakteri yang merugikan (Kodrat 2010).

Bonding (ikatan kasih sayang) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada

1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga dan setelah itu bayi akan tidur dalam waktu yang lama, makanan yang diperoleh bayi dari ASI sangat diperlukan bagi pertumbuhan bayi dan kemungkinan bayi menderita alergi dapat dihindari lebih awal, bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusu eksklusif dan lebih lama disusui, hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu ibu dan sekitarnya, emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin (Maryunani, 2009).

Bayi mendapat ASI/kolostrum yang pertama kali keluar, cairan ini kaya akan zat yang meningkatkan daya tahan tubuh, penting untuk ketahanan infeksi, penting untuk pertumbuhan, bahkan kelangsungan hidup bayi. Kolostrum akan membuat lapisan yang melindungi usus bayi yang masih belum matang sekaligus mematangkan dinding usus (Roesli, 2007).

RSUD Kota Padangsidimpuan telah melaksanakan program IMD, kebijakan tersebut dilaksanakan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat sesuai dengan program Safe Motherhood sebagai wujud dari upaya menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Bidan pelaksana IMD yang bertugas di unit bersalin RSUD Kota Padangsidimpuan diwajibkan untuk mengarahkan dan membantu para ibu pasca melahirkan untuk melakukan IMD dan meberikan ASI Eksklusif pada bayinya selama 6 bulan, dan program ini juga diharapkan diterapkan pada setiap pasien yang dirawat di unit bersalin tersebut.

5. 2 Implementasi Kebijakan

Pengertian implementasi kebijakan adalah tindakan-tindakan yang dilakukan

pejabat-pejabat pemerintah baik secara individu atau kelompok yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan sebagaimana yang telah dirumuskan dalam kebijakan (Van Meter dan Van Horn dalam Wahab, 2004). Proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan, kemudian program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap untuk proses pelaksanaannya dan telah disalurkan untuk mencapai sasaran atau tujuan kebijakan yang diinginkan.

Implementasi kebijakan pada prinsipnya adalah cara agar sebuah kebijakan dapat mencapi tujuannya, tidak lebih dan tidak kurang. Untuk mengimplementasikan kebijakan publik, ada dua pilihan langkah yang ada, yaitu langsung mengimplementasikan dalam bentuk program atau melalui formulasi kebijakan derivate atau turunan dari kebijakan publik tersebut.Rangkaian inplementasi kebijakan dapat diamati dengan jelas yaitu dimulai dari program, ke proyek dan ke kegiatan. Model tersebut mengadaptasi mekanisme yang lazim dalam manajemen, khususnya manajemen sektor publik. Kebijakan diturunkan berupa program-program yang kemudian diturunkan menjadi proyek-proyek, dan akhirnya berwujud pada kegiatan-kegiatan, baik yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat maupun kerjasama pemerintah dengan masyarakat

Kebijakan biasanya berisi suatu program untuk mencapai tujuan, nilai-nilai yang dilakukan melalui tindakan-tindakan yang terarah. Apabila program atau kebijakan sudah dibuat maka program tersebut harus dilakukan oleh para mobilisator atau para aparat yang berkepentingan. Pada penelitian ini menggunakan teori

implementasi kebijakan yang di adopsi dari teori implementasi oleh Geoarge Edward III yaitu implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variabel, yaitu:

5) Komunikasi yaitu keberhasilan implementasi kebijakan masyarakat agar implementator mengetahui apa yang harus dilakukan, dimana yang menjadi tujuan untuk dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group), sehingga akan mengurangi distorsi impelementasi.

6) Sumberdaya, meskipun isi kebijakan telah dikomunikasikan secara jelas dan

konsisten, tetapi apabila implementator kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, maka implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, misalnya kompetensi implementor dan sumber daya finansial.

7) Disposisi, adalah watak dan karakteristik yang dimilki oleh implementor, seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka implementor tersebut dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap dan perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan maka proses implementasi kebijakan juga menjadi efektif.

8) Struktur Birokrasi, struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan.

Aspek dari struktur organisasi adalah Standard Operatinal Procedure (SOP) dan fragmentasi. Struktur organisasi yang terlalu panjang dan cenderung melemahkan

KOMUNIKASI

STRUKTUR BIROKRASI

SUMBER DAYA

DISPOSISI

IMPLEMENTASI pangawasan dan menimbulkan re-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks, yang menjadikan aktivitas organiasi tidak fleksibel.

Gambar 5.1 Model Implementasi menurut Geoarge Edward III Sumber: Buku Analisis Kebijakan Publik Subarsono, 2009

Menurut Kerlinger, teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, defenisi, dan proporsi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara mengkonstruksi hubungan antar konsep dan proposisi dengan menggunakan asumsi dan logika tertentu. Sesuai dengan kerangka teori dalam penelitian yaitu diadaptasi dari model implementasi George Edward III, keempat faktor penelitian yaitu komunkasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi saling mempengaruhi dalam implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan. Komunikasi implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan mempengaruhi empat faktor lainnya begitu juga sebaliknya,

dimana pada komunikasi belum dilaksanakannya sosialiasi dan tidak terdapat SOP sebagai acuan kerja bidan. Hal ini berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan IMD pada faktor sumber daya yaitu pada aspek pemahaman bidan terhdap IMD, sehingga pelaksanaan IMD belum sesuai dengan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Pemahaman bidan yang kurang terhadap IMD berdampak juga kepada pemahaman ibu bersalin mengenai IMD, dimana bidan tidak mendapatkan informasi mengenai IMD pada saat kunjungan pemeriksaan kandungan.

SOP adalah salah satu bentuk informasi ataupun perintah dari atasan kepada bawahan yang bersifat efektif dalam kelangsungan program, dengan tidak tersedianya SOP IMD berpengaruh terhadap disposisi yaitu konsistensi pemegang kebijakan terhadap implementasi progam, begitu juga kaitannya dengan faktor struktur birokrasi yaitu komunikasi antar pelaksana dan pemegang kebijakan tidak berjalan karena tidak adanya monitoring secara terjadwal dan berkala, bidan hanya fokus pada kegiatan fungsional di unit bersalin. Secara tidak langsung setiap faktor pada penelitian ini saling berhubungan dan mempengaruhi, meskipun isi kebijakan telah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementator kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, maka implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, misalnya kompetensi implementor dan sumber daya finansial.

Pada penelitian ini jumlah sumber daya manusia sudah terpenuhi begitu juga dengan kompetensi dan kualitas, seluruh petugas IMD adalah bidan dengan pendidikan D3 Kebidanan dan sudah mendapatkan pelatihan APN, tidak ada

kendala dalam pendanaan IMD, karena disediakan setiap tahunnya dan diajukan kepada pemerintah, tetapi dana yang diajukan tidak sesuai dengan kebutuhan program, dimana seluruh fasilitas pendukung IMD belum terpenuhi. Kurangnya komitmen pihak rumah sakit terhadap program IMD adalah masalah terbesar dalam implementasi program IMD, sehingga komunikasi, pemahaman, fasilitas tidak berjalan dan monitoring sebagai akses komunikasi antar bidan kepada pemegang kebijakan tida terlaksana.

5.3 Komunikasi

Komunikasi adalah salah satu sarana untuk menyebarluaskan informasi atau perintah dari atasan kepada bawahan maupun dari bawahan kepada atasan. Informasi yang diberikan harus jelas, akurat dalam waktu penyampaian informasi dan informasi yang disampaikan harus konsisten atau tetap atau yang berarti tidak ditambah-tambahkan atau dikurangi.

Menurut Hovland, Janis & Kelley (1953) dalam Widodo (2007) komunikasi adalah suatu proses melalui seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya. Sedangkan Harold Laswell (1996) dalam Widodo (2007) menyebutkan komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan

“siapa” mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa, dan dengan akibat apa atau hasil apa. Paradigma Laswell menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur yaitu komunikator, pesan, media, komunikan dan efek.

Secara umum Edward membahas tiga hal penting dalam proses komunikasi kebijakan, yakni transmisi, konsistensi dan kejelasan. Persyaratan pertama bagi implementasi kebijakan yang efektif adalah bahwa mereka yang melaksanakan keputusan harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan.

a. Transmisi

Untuk menjalankan proses sosialisasi suatu kebijakan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti seremoni penandatanganan naskah kebijakan publik, pemberitaan di media massa, seminar, ceramah, dialog interaktif melalui media elektronik ataupun melalui sarana promosi lainnya seperti penyebaran booklet, spanduk,poster dan lain sebagainya.

b. Konsistensi

Konsistensi informasi juga merupakan hal penting pada proses komunikasi suatu kebijakan publik. Menurut Subarsono (2005), konsistensi informasi berarti informasi yang disampaikan harus jelas dan tidak berubah-ubah. Informasi yang berubah-ubah akanmeyebabkan kebingungan ataupun penafsiran berbeda dalam mengimplementasikan suatu kebijakan.

c. Kejelasan Informasi

Menurut Edward dalam Winarno (2012), kebijakan akan berjalan efektif apabila informasi yang disampaikan jelas. Ketidakjelasan pesan pada proses komunikasi dapat menyebabkan interpretasi yang salah bahkan bertentangan dengan makna pesan awal.

Pada pelakasanaan program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan komunikasi

belum optimal dilaksanakan, karena belum adanya sosialisasi IMD secara khusus yang diberikan oleh pihak rumah sakit kepada bidan pelaksana IMD. Informasi mengenai IMD hanya diperoleh pada saat pelatihan APN yang diselenggrakan oleh rumah sakit dan Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan. Menurut Widjaja (2000), unsur-unsur yang terdapat dalam setiap proses komunikasi terdiri dari :

1. Sumber Pesan

Adalah dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Dalam pelaksanaan Program IMD sumber pesan yang dimaksud adalah Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

450/MENKES/SK/VI/2004 tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi di Indonesia sejak lahir sampai bayi berumur 6 (enam) bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak usia 2 (dua) tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.

b. Komunikator

Adalah orang atau kelompok yang menyampaikan pesan kepada orang lain, yang meliputi penampilan, penguasaan masalah dan penguasaan bahasa. Dalam pelaksanaan IMD, seharusnya RSUD Kota Padangsidimpuan telah mempersiapkan anggotanya yang telah terlatih untuk menyampaikan sosialisasi perihal pelaksanaan IMD kepada seluruh bidan termasuk bidan yang bertugas di unit bersalin.

c. Komunikan

Adalah orang yang menerima pesan.Dalam mensosialisasikan pelaksanaan IMD yaitu seluruh bidan di RSUD Kota Padangsidimpuan dan para penanggung

jawab program, yaitu kepala ruang kebidanan dan direktur rumah sakit.

d. Pesan

Adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator, dimana pesan ini mempunyai pesan yang sebenarnya menjadi pengarah dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam pesan meliputi : cara penyampaian pesan, bentuk pesan (informatif, persuasif, koersif), merumuskan pesan yang mengena (umum, jelas, gamblang, bahasa jelas, positif, seimbang, sesuai dengan keinginan komunikan).

e. Media

Adalah sarana yang digunakan komunikator dalam penyampaian pesan agar dapat sampai pada komunikan, meliputi media umum dan media massa. Media audio visual merupakan media yang cukup efektif dan dapat dijadikan pilihan dalam pelaksanaan sosialisasi IMD.

f. Efek

Adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni apabila sikap dan tingkah laku orang lain itu sesuai, maka komunikasi dianggap berhasil dan demikian sebaliknya. Indikator keberhasilan sosialisasi pelaksanaan IMD salah satunya dapat dilihat dari banyaknya bayi yang dilakukan tindakan IMD oleh bidan pelaksana IMD.

Untuk Standar Pelayanan Prosedur (SOP) sendiri belum terdapat pada RSUD Kota Padangsidimpuan. SOP adalah pedomanan atau acuan untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis dan prosedural dengan tata kerja, prosedur

kerja dan sistem kerja pada unit yang bersangkutan. Adanya SOP dimaksud untuk untuk memberikan konsep yang jelas, bisa dipahami oleh semua orang dan dituangkan pada satu dokumen prosedural dalam setiap kegiatan. SOP merupakan salah satu struktur yang penting dan menjadi pedoman bagi implementer dalam implementasi kebijakan. Pelayanan program IMD seharusnya dipandu oleh pedoman dan prosedur tetap pelaksanaan yang sudah teruji. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh WHO setiap pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit berbasis

kerja dan sistem kerja pada unit yang bersangkutan. Adanya SOP dimaksud untuk untuk memberikan konsep yang jelas, bisa dipahami oleh semua orang dan dituangkan pada satu dokumen prosedural dalam setiap kegiatan. SOP merupakan salah satu struktur yang penting dan menjadi pedoman bagi implementer dalam implementasi kebijakan. Pelayanan program IMD seharusnya dipandu oleh pedoman dan prosedur tetap pelaksanaan yang sudah teruji. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh WHO setiap pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit berbasis